Disclaimer: All characters are not mine.

Naruto [Masashi Kishimoto] High School DxD [Ichiei Ishibumi] Mobile Legends: Bang Bang [Moonton] Amagi Brilliant Park [Shoji Gatoh] Date a Live [Koshi Tachibana] Akame ga Kill [Takahiro]

Warning or Note: Ini FanFiksi Multi-Crossover!


~Opening: Clattanoia by OxT~


Chapter: Perjanjian dengan sang Gubernur Malaikat Jatuh dan Tiga Penguasa Jepang.

# Kota Kuoh

Tampak seorang pria sedang duduk dengan tubuh gemetaran di tepi sungai. Tangan pria itu bergetar sambil memegang alat pancingannya. Pria berambut hitam dan berponi kuning yang memiliki nama Azazel itu menengadahkan kepalanya ke langit, "Ada apa dengan hari ini?" renungnya lalu berpaling ke belakangnya.

Ada empat sosok beraura tenang, tapi mengerikan berdiri di sana. DI BELAKANGNYA! Aura mereka mengerikan membuat tubuhnya merinding. Siapa mereka? Sepertinya mereka ada urusan dengannya. Namun, Azazel tidak ingat memiliki masalah dengan makhluk supranatural belakangan ini. Terlebih Azazel tidak pernah bertemu dengan mereka berempat.

"Malangnya nasibku. Ayah, apa ini hari ajalku. Iyakan? Ayah pasti membenciku dan menyuruh empat Pencabut Nyawa-Nya ntuk mencabut nyawaku," batin Azazel berderai air mata.

"Ufufufu~ apa kamu yang bernama Azazel?" tanya seseorang bersuara feminim yang Azazel yakini milik dari salah satu empat sosok itu.

"Benarkan! Mereka datang ke sini untuk menjemput nyawanya," Azazel lalu menghembus napasnya. Ia bangun dari tempat duduk dan membalikan tubuhnya. Azazel menyapa keempat sosok mengerikan itu.

"Iyaaaa~ ada tamu ternyata," sapa Azazel diselingi dengan tawa paksaan, "Hai, namaku Azazel. Ada apa kalian menemuiku ya? Ah sebelum menjawab pertanyaan itu, boleh kalian memperkenalkan diri masing-masing?"

Azazel mencoba untuk mengorek informasi. Mencari jawaban dirinya yang terjebak di situasi yang mengerikan ini.

Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan Azazel tadi. Keempat sosok itu hanya diam dengan aura gelap masing-masing. Membuat Azazel semakin meyakini bahwa hari ini adalah hari di mana namanya akan dikenang di batu nisan. Tapi tunggu, dia bukan manusia!

Salah satu dari empat sosok di depannya, yakni seorang gadis bertubuh pendek, berambut hitam, mengenakan seragam pelaut berwarna hitam maju beberapa langkah ke depan. Ke arah Azazel!

Azazel sendiri memandang lugu gadis itu yang kini menarik pedang katana di pingggangnya. Gadis hitam itu mulai mengangkat pedang hitam itu ke atas. Azazel dibuat tersentak kejut saat melihat aura-aura gelap tampak mulai menguar keluar dari katana itu.

[Kekkai no Abyys]

Gadis itu bergumam, bersamaan dengan itu -aura-aura gelap dari pedang hitam tadi meledak dan ledakannya meluncur ke atas dan meledak seperti kembang api. Azazel mendongak ke atas langit, langit mulai menggelap. Tidak! Langit ditutupi oleh sesuatu berwarna gelap.

"Kekkai ..." gumam Azazel.


# Namikaze Mansion

Naruto saat ini berada di balkon, duduk di kursi kecil dan sebuah meja bundar di depannya. Naruto mengangkat cangkir minumannya dan meneguk minumannya. Setelah meminumnya, Naruto lalu memandang langit sore. Suasananya sore hari ini tenang dan damai. Mansionnya juga sepi, karena dua pelayannya sedang tidak di sini.

"Berlebihan," ucap Naruto menghela napas, "kurasa aku agak berlebihan memasukan Akame dan Kurome di misi ini. Dilhat dari kekuatan dari Roger dan Ruby, mereka sudah cukup sebanding melawan Raja Da-Tenshi itu. Jelas, mengikutkan Akame dan Kurome adalah tindakan berlebihan dan juga aku sesali. Nyatanya, aku kesepian di sini. Akame, Kurome cepatlah kembali."

"Huft,"

Naruto menengadah kepalanya untuk memandang langit sore. Naruto lalu tersenyum kecil begitu melihat pemandangan yang cukup menarik di iris Blue Shappire-nya. Di kaki langit, ada tiga titik cahaya putih bersinar cukup terang. Padahal hari masih sore, ada bintangnya?

"Begitu ya," gumam Naruto lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pinggir balkon. Belakangan ini, Naruto merasa mansion-nya sedang diawasi oleh beberapa orang. Naruto paham auranya akan menarik beberapa makhluk supranatural. Namun, Naruto tidak menyangka akan secepat ini, "Kalian tertarik dengan auraku ya? Kalian mewaspadaiku seakan mencari tahu apakah aku akan ancaman bagi kalian."

Naruto tersenyum kecil sembari memandang lurus ke langit.

"Tidak lama lagi, aku pasti akan bertemu dengan kalian. Dan tentunya aku akan menyambut kalian dengan baik ...Para Dewa-Dewi Shinto."


# Azazel in Kekkai no Abyys

"Kekkai?" gumam Azazel sambil memandangi langit di atasnya. Kini langit dilingkupi oleh penghalang super besar dengan warna hitam. Memang penghalangnya berwarna hitam, tapi tepat di puncak ada cahaya putih dengan urat-urat merah di sekelilingnya.

"Pertama kali aku melihat kekkai indah ini," Lamunan Azazel dibuyarkan gerakan cepat sebuah sabit yang ingin memenggal kepalanya. Azazel melompat ke belakang menghindari mata sabit itu. Namun, pemegang sabit itu, gadis berkerudung merah, tidak membiarkan Azazel lari. Dia dengan entengnya, mengayunkan sabitnya ke Azazel.

Gubernur Da-Tenshi itu bisa menghindari gerakan tadi, tapi lagi setelah ia menghindarinya, gadis di depannya menyerangnya lagi. "Sial, gerakannya merepotkanku. Apa-apaan dengan ayunannya ini, dia mengerakkannya dengan mudah. Apa sabit besar ini ringan?"

Slash ... Slash ...

"Hahaha!"

"Terus! Ayo terus menari! Hahaha!" Gadis berkerudung merah itu tampak tertawa senang. Dia mengayunkan sabitnya. Azazel mampu menghidarinya. Gadis itu menyeringai senang, mengayunkan sabitnya lagi dan lagi yang membuat lawannya kerepotannya.

Pria berjas coklat terang yang menyaksikan rekannya kesenangan dari jauh, geleng-geleng kepala. "Yare, yare, Ruby senang sekali."

Slash ...

Satu sabetan berhasil Azazel hindari dengan cara merendahkan tubuhnya ke belakang. Tapi, gadis itu kembali menyerangnya.

"Sial," Azazel berdecak kesal. Yang merepotkan dari gadis itu bukanlah sabitannya karena Azazel memiliki reflek yang bagus menghindarinya. Yang merepotkannya adalah kecepatannya. Seakan tidak kelelahan, gadis itu terus mengayunkan sabit itu.

"Auuuuuuuuuuuuu!"

Azazel tersentak kecil, mengalihkan perhatian pada lolongan serigala. Dirinya langsung diserang oleh sesuatu yang bergerak sangat cepat.

Jrass ...

Azazel mampu menghindari cakaran hewan buas tadi. "Grrrr ..."

Mata Azazel seketika membulat begitu melihat sosok yang menyerangnya tadi. "A-apa?! Werewolf? Kenapa bisa ada makhluk ini di sini? Suara lolongan tadi miliknya kah? Sial, sebenarnya apa yang aku lawan?!" Azazel berhenti membatin begitu manusia jadi-jadian itu menyerangnya lagi. Tak hanya itu, Azazel semakin direpotkan dengan gadis berkerudung merah yang kini ikut menyerangnya.

"Sial!" Dua lawan satu. Bukanlah pertarungan yang seimbang. Azazel pun dibuat kelelahan menghadapi dua serangan cepat dari dua makhluk berbeda yang menjadi lawannya saat ini. Azazel tersenggal-senggal. Mereka berdua tidak segan-segan membunuhnya. Di tengah-tengah pertarungannya, suara feminim yang ia dengar pertama kali masuk ke gendang telinganya.

Gadis berambut hitam tadi, kini mengangkat pedang katana-nya tinggi-tinggi dengan aura awan-awan hitam yang menguar dan mulai menyelimutinya, "[... Bangkitlah. Roh, roh dari masa lalu. Jiwa yang sudah terkubur di dalam Yatsufusa. Kalian yang mati dan bersumpah setia padanya. Aku panggil ke dunia ini ...]." Di sekeliling gadis itu muncul kabut-kabut hitam yang dari kabut itu muncul sekelompok orang dengan aura-aura gelap di sekitar tubuh mereka. Apa itu? Mayat hidup?

Mayat-mayat hidup itu, baik yang membawa senjata ataupun yang tidak berlari ke arah Azazel dengan aura kebencian yang terpancar kuat dari mereka dan mata merah menyala itu. Wajah Azazel berubah masam melihat itu. Dirinnya akan dikeroyok sebentar lagi.

"Aku akan mati."

Azazel mulai mengeluarkan sepuluh sayap hitamnya. Gadis berkerudung mengayunkan sabitnya dari kiri berniat menebas badannya. Azazel melompat, mendaratkan kakinya di atas tanah, lalu melompat agak jauh ke belakang. Seperti biasa, tidak ada jeda, gadis itu kembali menyerangnya. Dia berlari, melompat, dan mengayunkan sabithya dari atas.

Azazel mengepakkan sepuluh sayapnya dan terbang menghindari sabit yang kini berbenturan dengan tanah pijakannya. Pria werewolf berubah menjadi manusia, dia mengeluarkan pistal besarnya dan menembaki Azazel. Azazel meliak-liuk di udara, menghindari semua serangan. Beberapa mayat hidup juga ada yang menyerangnya dengan melempar senjata yang mereka bawa.

Di tengah Azazel menghindari berbagai macam senjata yang siap membunuhnya, Azazel menciptakan satu Light Speardi tangannya. Azazel langsung melemparnya ke bawah dan meledakkan sebagian dari sekumpulan mayat hidup di bawahnya. Namun, mayat-mayat hidup lain bermunculan. Gadis berambut hitam tadi kembali memanggil mayat-mayat hidup baru. Namun, kali ini gadis itu memanggil lebih banyak mayat hidup yang saking banyaknya menjadi satu pasukan mayat hidup.

"Baiklah," gumam Azazel, "aku akan lihat, seberapa banyak kalian akan menahan seranganku." Azazel mulai mengangkat satu tangannya ke atas seraya fokus menutup mata, menguapkan mana sihir di dalam tubuhnya. Mana kuning menyelimuti tubuhnya, bersamaan dengan itu sekumpulan Light Spear muncul di sekelilingnya. Puluhan, ribuan ... Tombak Cahaya mulai melayang di udara. Azazel membuka matanya dan menatap pasukan mayat hidup di bawahnya. Azazel menggerakan tangannya ke bawah dan Light Spear-nya mulai menghujani musuhnya di bawahnya

[Light Spear Rain]

Ribuan Light Spear mulai berjatuhan.

Swus ... Swusss ... Swuuus

DUAAAAAAAAAR ...

Ribuan Light Spear meledak begitu mencapai permukaan. Memusnahkan pasukan mayat hidup di bawahnya. Debu-debu mengepul di permukaan, tak lama diembus oleh udara bergerak yang disebut dengan angin. Azazel mulai melihat kondisi di bawahnya. Sebuah cekungan raksasa terlihat di atas tanah. Azazel melayang di udara dengan sepuluh sayap hitamnya yang terbentang sambil menatap diam di bawahnya sampai penglihatannya melihat siluet-siluet sosok yang menyerangnya tadi.

"Mereka selamat," batin Azazel diam.

Gadis berambut hitam tersenyum lalu tertawa, "Ara, ara, itu tadi serangan yang mengerikan, Azazel-chan. Aku sendiri akan lenyap jika menerima hujan proyektil Light Spear tadi andai tidak menahannya dengan kekkai."

"Hmn," dengus pria di samping gadis berambut hitam itu yang sedang menahan bahu gadis berkerudung merah yang meronta-ronta.

"Lepaskan aku, Roger! Kau ingin kutebas, ha?!" ancam gadis itu, tapi diabaikan oleh sang pria. Gadia berkerudung merah yang bernama Ruby itu lalu menunjuj ke arah Azazel, "Oi, kau, Gagak! Cepat turun ke sini! Ayo bertarung! Aku ingin kau menari dengan sabitku ini,"

Azazel sendiri mengabaikan gadis berkerudung merah itu yang membuat si empu kesal, "Oi!" Azazel diam saja. Ketiga orang itu tidak menyerang membuat Azazel diam menganalisa sampai Azazel terpikirkan dengan hal yang mengganggunya sejak tadi, "Sebenarnya siapa kalian?"

Gadis berambut hitam yang memiliki kemampuan seperti Necromancer itu tertawa, "Ufufufu, kau ingin tahu? Sayang sekali aku tidak akan menjawabnya. Karena tujuan kami datang ke sini adalah membawamu ke Tuan kami," ucapnya yang membuat Azazel menaikan sebelah alisnya.

Tuan?

Jadi mereka memiliki seorang Tuan?

Siapa Tuan mereka? Untuk apa Tuan mereka menyuruh mereka menyerangnya?

"Apa aku mengenal Tuanmu?" tanya Azazel.

Gadis itu tersenyum manis, "Tidak,"

"Tapi, sesudah kami membawamu ke Mansion, kau akan bertemu dengan Tuan kami,"

Azazel ingin bertanya lagi,

"Lalu apa tujuanmu me-"

"Ekkh!" Tapi, Azazel dibuat tersentak dengan hawa tipis di belakangnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang tipis, tapi tajam. Azazel dengan gerakan slow motion menengok ke belakang. Dia lantas menangkap seorang perempuan berambut hitam, wajah datar dengan tatapan menusuk sedang bersiap akan mengayunkan pedang hitam -katana- di pinggangnya.

Iris hitam Azazel mengecil. Kelopak matanya terbuka lebar lantaran terkejut. Azazel lupa. Ia lupa kalau ada empat sosok. Tiga sosok sudah menyerangnya dan sosok keempat kini mulai melancarkan serangannya di tengah Azazel menghilangkan kesiagaannya.

Perempuan itu mulai menarik pedangnya dari sarungnya ...

Dan ...

Slash ...

Pandangan Azazel menggelap.


# Namikaze Mansion

Azazel mulai membuka matanya. Kelopaknya mengerjap-erjap. Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pemuda duduk di sebuah sofa besar emas. Azazel memegang kepalanya, mencoba mengingat sesuatu. Kepalanya agak pening. Azazel melirik pemuda di depannya yang kini tersenyum menawan di hadapannya.

"Yo, Raja Da-Tenshi,"

"Siapa kau?"

Sring ...

Bersamaan dengan Azazel menyuarakan kata pertama dari mulutnya, sebuah sabit merah membuat Azazel bergidik ngeri dan menjerit di dalam hati, "Hiiii, a-apa-apaan ini?!"

"Sopan dikit pada, Yang Mulia," Suara itu membuat Azazel menoleh ke samping dan melihat seorang gadis berkerudung merah menatap dirinya ganas. Azazel sepertinya mengenal gadis ini. Seketika sebuah ingatan menyembul di pikirannya. Bukannya dia orang yang menyerangku? Tidak hanya gadis ini, pria setengah serigala juga ada, di samping gadis itu.

"Tolong tarik sabitmu kembali, Ruby," ucap pemuda di depan Azazel, "Azazel adalah tamuku."

Gadis yang dipanggil Ruby berubah ekspresi. Dia bergerak dengan gugup sambil menarik kembali senjatanya, "Ha-hai, ma-maafkan saya, Yang Mulia," ucapnya sambil menunduk.

Azazel menatap tidak percaya perubahan kepribadian dari gadis berkerudung itu. Apa-apaan itu?! Azazel pikir gadis itu memiliki sifat yang keras, dalam artian buruk; Brutal, kasar, maniak bertarung dan sadis. Azazel lalu mengalihkan pandangannya ke depan, ke pemuda yang duduk di hadapannya.

Azazel menatap secara detail pemuda di depannya. Dia adalah seorang pemuda, memiliki rambut emas dengan model berantakan acak-acakan, mata Blue Shapire, dia memakai baju halus berwarna putih dan ukiran berwarna emas di kerahnya dan di lengannya. Azazel tidak tahu pasti, pemuda di depannya ini memiliki aura yang unik, menenangkan, dan ... menguasai?

"Hai, silakan dinikmati," ucap seorang gadis berpakaian maid menaruh minuman di atas meja. G itu lalu berdiri agak jauh dari meja. Bersama dengan Perempuan maid yang memiliki tubuh lebih tinggi dari gadis maid tadi. Eh tunggu, kenapa ia baru menyadari perempuan maid itu? Dan juga, mereka kan salah satu dari empat orang yang menyerangnya di sungai.

"Raja dari Da-Tenshi, Azazel benar?" Sosok pemuda di depannya bertanya.

Entah kenapa, Azazel hanya menganggukkan kepalanya, "H-hai ..."

"Baiklah, kurasa aku akan memperkenalkan diriku. Namaku, Namikaze Naruto. Aku adalah Raja dari Sanctuary," ucap pemuda yang kini Azazel tahu namanya Namikaze Naruto itu tersenyum, "Kamu bisa memanggilku Naruto,"

"H-hai, Namikaze-sama," Azazel mengangguk. Azazel tidak berani memanggilnya 'Naruto' karena kalau tidak ia akan dihadapkan dengan seorang Malaikat Pencabut Nyawa di belakangnya, "Ja-jadi, ada hal apa, Namikaze-sama menemui saya?" Oh, sial. Azazel bisa merasakan aura menusuk di belakangnya.

"Ah, ya, benar juga, pada akhirnya kau akan bertanya soal itu," ucap Naruto, "begini, Azazel-san ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menjaga saudariku, Naruko namannya. Kau mungkin tidak mengenalnya, karena di dunia ini namanya bukan Naruto melainkan bernama Asia Argento,"

Azazel tersentak karena terkejut, "A-adik Anda?!"

"Ya. Gadis pirang yang kau temui dulu adalah salah satu keluargaku," sahut Naruto, "selain aku mengucapkan terima kasih, aku juga ingin bekerja sama denganmu, Azazel-san. Aku ingin kau memberikan informasi beberapa hal tentang dunia ini. Aku juga ingin kau menyembunyikan keberadaanku. Sebagai imbalan, aku akan memberikan pengetahuan kepadamu."

Azazel hanya mengangguk gugup, "H-hai ..."

"A-ada apa ini? Aku tidak bisa menahan getaran tubuhku. D-dia memiliki aura karisma yang kuat," batin Azazel di dalam hatinya.

"Bagus kalau begitu," ucap pemuda itu tersenyum lalu menambil minuman yang tersaji di atas meja. Pemuda itu meminum minumannya.

"Jadi ... dia adalah Tuan dari keempat orang ini? Dia memiliki aura yang unik, dan entah kenapa aku bisa mengatakan kalau dia kuat. Auranya juga cukup menenangkan, unik. Hampir sama dengan gadis yang aku temui beberapa tahun lalu. Terlihat orang ini juga bukan orang sembarangan, dilihat dari keempat sosok ini seperti sangat menghormatinya," batin Azazel menganalisa pemuda di depannya.

"Aku harus hati-hati dengannya ..."

Azazel kini berjalan menuju ke pintu depan. Setelah melakukan pembicaraan tadi, Azazel memutuskan untuk balik ke Grigori dan membicarakan hal ini dengan beberapa Petinggi Grigori yang lain.

"Terima kasih atas jamuan Anda, Namikaze-san," Kini Azazel mencoba untuk memanggil Naruto agak sedikit formal. Azazel merendahkan tubuhnya. Azazel tidak mengerti, aura karisma yang dimiliki pemuda di depannya itu begitu kuat sampai membuat orang sekelas Azazel yang tidak suka dengan keformalan dan kehormatan harus dibuat tidak berdaya.

"Tentu," ujar Naruto tersenyum ramah. Di belakangnya, ada empat sosok yang ditemuinya menemaninya.

Azazel lalu sedikit memandangi rumah atau mansion di hadapannya. Mansion yang besar dan megah. Bernuansa agak emas. Baru pertama kali ini Azazel berada di tempat ini. Azazel lalu berbalik, berjalan mengikuti jalan setapak sebelum setelahnya ia berhenti ketika merasakan tanahnya agak bergetar.

Dan tak lama kemudian ...

Prank ...

Azazel menengadah ke langit.

Langit di atasnya retak dan hancur.

Tidak bukan langitnya, melainkan kekkai yang ada di atas Mansion-nya. Azazel baru menyadari kalau di sekitar mansion dikelilingi oleh sebuah Kekkai atau Barrier tak kasat mata. Dan kini Kekkai itu dihancurkan oleh tiga sosok makhluk yang membuat Azazel membulatkan matanya karena mengetahui eksistensi yang sekarang sedang melayang di udara.

"Me-mereka ..." ucap Azazel agak terbata-bata. Pasalnya ketiga figur itu adalah tiga sosok Surgawi yang menguasai tanah Jepang. Tiga dewa-dewi utama dalam Mitologi Shinto; Dewi Tsukuyomi, Dewa Susano'o, dan Dewi Amaterasu. Apa yang mereka lakukan di sini? Azazel memikirkan segala kemungkinan sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.

"Selamat datang di Mansion-ku para Dewa-Dewi Shinto,"

Sapa ramah pemuda berambut kuning yang berdiri tak jauh di dekatnya yang kini menatap tersenyum tiga sosok dewa yang menatapnya tajam di langit. Azazel melihat itu dengan diam, sampai sebuah kesimpulan terbentuk di pikirannya.

Dia ...

To Be Continued.


~Ending: L.L.L by Roid and Myth~


Author Note:

Halo, sudah lama aku enggak melanjutkan FanFiksi pertamaku ini. Mungkin enggak banyak yang membaca ini FanFiksi karena memang kualitasnya yang enggak seberapa, tapi sangat aku senang ada juga yang membaca ini. Hehe, arigatou gozaimasu! Hm, apa yang ingin kubahas ya? Ah, soal scene fight. Lagi, lagi ini, aku enggak akan berkata apa-apa selain "maaf" karena aku tahu adegan pertarungannya membosankan. Kelemahanku memang membuat scene fight, aku enggak berusaha untuk membuat yang wah gitu, hanya sesuai kemampuan saja dan aku bisa menyampaikan imajinasiku ke dalamnya.

Oh, ya sebelum aku pergi, aku akan menyampaikan kalau aku akan merubah FanFiksi ini ke versi semula. Enggak tahu, rasanya aku agak menyesalinya karena merubahnya. Dan oleh karena itu, aku ingin kembali menyatukan 2 chapter yang terpisah. Jumlah chapter udah pasti akan berkurang.

Ok, gitu aja yang ingin kusampaikan. Enggak ingin banyak-banyak. Buat yang membaca, me-review, berkomentar. Arigatou, karena aku merasa tidak sendirian di FanFiksi ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Review?