"Odasaku, jadi pemilik toko bunga itu ... kayaknya asik?"

Ketika Dazai berkata demikian, Oda mengerjap. Seketika ia menoleh.

"Maksudmu?"

Dazai justru mengangkat bahu. "Tiba-tiba aja kepikiran," ucapnya sekenanya.

Ini sore yang biasa, ketika Dazai yang sedang kabur dari tugas membuat laporannya bertemu dengan Oda yang baru selesai menjalankan misi. Oda tahu Dazai sudah absurd dari sananya—mari kita abaikan sejenak kecerdasannya yang ada di atas rata-rata remaja tujuh belas tahun—akan tetapi dari semuanya, ini yang paling aneh.

"Kenapa pemilik toko bunga?" Oda bertanya lagi.

"Hmm ..." Dazai mengetuk-ngetuk dagunya sebentar. "Soalnya tadi kita ngelewatin toko bunga, 'kan? Makanya aku kepikiran."

Jawabannya benar-benar tak terduga, kalau kita membicarakan Dazai. Oda sebenarnya masih tak habis pikir. Namun, selama sudah dapat jawaban, sepertinya ia tidak perlu bertanya lagi.

"Tapi, tapi." Tahu-tahu Dazai memanggil lagi. "Odasaku pernah kepikiran, nggak? Misalnya gitu, kalau aku jadi pemilik toko bunga, terus suatu hari aku berhasil bunuh diri ganda sama cewek cantik, pasti bunga-bunga dari tokoku dijadiin buat makam kami! Bakal banyak banget! Keren, kan?"

Oda diam sebentar.

Ah, benar juga, yang di sebelahnya ini Dazai. Oda sudah tidak terkejut lagi mendengar ocehannya.

.

.

.

Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango

.

.

.

Ini singkat (banget), tapi gapapa soalnya buatku doang wkwk

Habede aku