"Anak kecil suka permen, kan?"

"Aku bukan anak kecil." Jawabnya sambil mengambil sebungkus permen di tanganku.


Candy

By KunikidaDerai

Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa

Prompt by ViraDAce

Happy Birthday my lovely sister (ViraDAce). I hope you like this.


Namaku- ah, mungkin kalian sudah tahu namaku. Apa aku harus menjelaskannya lagi?

Baiklah, baik.

Namaku Kunikida Doppo, seorang idealis pragmatis yang berjalan di muka bumi ini. Deja vu? Ya, aku juga.

Umurku 22 tahun, ya, tak lebih dan tak kurang. Orang lain sering mengira aku lebih tua dari itu karena sifatku yang terlalu kaku dan dewasa.

Baiklah, hanya itu saja. Tak ada yang lain, memangnya kalian mengharapkan apa?

Di hari yang tampak cerah ini, kakiku berjalan santai ke arah sebuah pelabuhan. Tangan kananku menenteng sebuah plastik kresek besar, sedangkan tangan kiriku diam di dalam saku celana.

Aku masuk ke sebuah ruangan bawah tanah, kuturuni tangganya yang membawaku ke sebuah ruangan gelap. Hanya ada satu cahaya, yaitu dari layar komputer yang di hadapannya.

"Sudah kubilang untuk menghidupkan lampu, bukan? Matamu akan rusak jika-"

"Jika kau datang hanya untuk mengomel, maka pergilah."

Perkataanku dipotong begitu saja pada bocah yang duduk di hadapan komputer itu, Rokuzo Taguchi namanya, seorang pemuda berumur 16 tahun yang aku rawat selama ini.

Aku bukan ayahnya-tentu saja, tapi karena kesalahanku lah ia kehilangan ayahnya. Maka dari itu aku membiayai segala kebutuhannya untuk membantunya.

Namun, tentu saja ia membenciku. Entahlah, aku tak tahu ia menganggapku apa. Penganggu? Tapi ia pernah datang ke rumahku sekali.

Sudahlah, toh aku paham mengapa ia bersikap kasar padaku.

Aku pun langsung pergi ke arah dapurnya, membuka lemari es yang sudah pasti kosong, lalu memasukkan bahan makanan yang kubeli untuk persediaannya.

Setelah semua tertata rapi, mataku tertuju pada sebuah bungkusan besar yang didalamnya berisi puluhan permen. Kubenarkan kacamataku lalu mengambil bungkusan itu, aku ingat betul aku tak membeli ini.

Lantas mengapa ada disini?

Aku pun mengangkat bahu acuh, lalu kembali ke tempat Rokuzo dimana ia masih duduk di hadapan komputernya. Aku pun menghela napas, lalu duduk disebelah bocah itu yang membuatnya melirikku heran.

"Masih kerja?" tanyaku sambil membuka bungkusan besar yang menampilkan banyak permen itu.

"Tidak. Hanya bosan." jawabnya yang membuatku sedikit mengangguk.

Aku tau sedari tadi manik cokelat Rokuzo melirik permen yang kupegang, aku pun menatapnya lalu menyodorkan bungkusan itu.

"Anak kecil suka permen, kan?" tanyaku sedikit menggodanya, tampak wajahnya menatapku kesal.

"Aku bukan anak kecil." Jawabnya sambil mengambil sebungkus permen di tanganku. Aku pun mendengus geli karena itu, lalu ikut mengambil sebungkus permen.

Padahal jelas-jelas dia itu anak dibawah umur, namun selalu mengaku bukan anak kecil.

Saat rasa manis terasa di mulutnya, aku pun sedikit mengernyit, aku sendiri tak terlalu suka manis, "manis ..." gumamku yang mungkin masih dapat didengar Rokuzo.

"Aku dapat asam." sahut Rokuzo yang membuatku menatap bocah itu.

Aku pun langsung membaca nama permen yang ada dibungkusan besar yang kupegang, ternyata ini permen yang isinya memiliki berbagai rasa, "oh ... sekarang aku paham." ucapku refleks.

"Kau membeli permen tanpa tahu itu permen apa?" tanya Rokuzo yang membuatku menoleh menatapnya.

"Aku tak membelinya, tiba-tiba ada didalam kantung belanjaku." pembelaan diriku tentu saja keluar, membuat bocah itu langsung mendecih.

"Yasudah, nikmati saja." ujarnya sambil lagi-lagi mengambil permen dan memakannya santai.

Jariku ku angkat guna membenarkan kacamata yang sama sekali tak melorot, manik hijauku melirik ke arah bocah yang tampak santai-santai saja.

Tanpa sadar, atau mungkin sadar, tanganku terangkat lalu menepuk pelan kepalanya. Biasanya, aku akan langsung mendapat tatapan sinis dan tepisan di tanganku.

Namun sekarang tidak ... Rokuzo hanya diam membiarkanku.

"Tum-"

"Kali ini aja. Hari ini aku lagi jadi anak kecil." Rokuzo menjawab seakan tahu apa yang ingin kukatakan.

Lagi-lagi aku mendengus, tersenyum tipis, lalu kembali mengusap surai coklat itu.

Kami berdua pun menikmati permen itu, dan mengobrol sedikit walau memang keadaan masih begitu canggung. Namun, aku senang. Setidaknya ia terasa seperti anak-anak sekarang.

End

GA TAU NGETIK APA, ANEH BANGET.

MAAF YAH VIRAAA

DAN SELAMAT ULANG TAHUN, POKOKNYA SELALU YANG TERBAIK BUATMU

Ini nih karena lama WB, tulisan jadi acak acakan.