Disclaimer © Naruto dan High School DxD dimiliki oleh pengarang masing-masing


Sebenarnya,

Naruto sudah menduga akan hal ini. Setelah mengantar mereka ke alamat yang sering ia kunjungi. Tidak lama lagi, atau suatu saat nanti, ia pasti akan bertemu dengan Irina dan Xenovia—Dua gadis Vatikan yang ditemuinya tadi sore.

Hanya saja ...

Kenapa secepat ini?!

"Xenovia, Irina-san," ucap Naruto dengan wajah datar, bak papan cucian 'milik' Sona.

"Uzumaki-san?"

"HEEEEE!" Xenovia tampak biasa saja, meski sedikit ekspresi kaget tercetak di wajahnya. Beda dengan temannya, Irina, gadis berambut coklat terang itu menjerit histeris dengan mulut menganga. "Kenapa kamu ada disini?!"

Itu pertanyaan aneh, pikir Naruto. Pasalnya rasanya agak bagaimana gitu, saat ada orang yang bertanya; Kenapa kau ada disini? Di tempat yang kau tinggali. Maa, untuk saat iniNaruto bisa memakluminya;

Mereka hanya tidak tahu.

"Aku ... tinggal disini," jawab Naruto.

Setelah mengatakannya, Irina dan Xenovia langsung cengo beberapa saat. "Eh? N-nani?"

"Aku tinggal disini," jawab Naruto lagi.

Tik ...

Tik ...

Tik ...

"Aku tinggal disini."

Suasananya masih sunyi,

Tik ...

Tik ...

Tik ...

TING!

Irina dan Xenovia tersentak. Otak mereka tiba-tiba kembali berfungsi bersamaan dengan suara dentingan barusan.

Irina tersenyum kikuk. "I-iya ~ Be-begitu, ya. Jadi, Naru-kun tinggal disini ternyata Hehehe," ucapnya sambil mengusap-usap belakang kepalanya.

Sedangkan, Xenovia, ia menghela napas,

"Maaf, kami hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu, Uzumaki-san."

Naruto mengangguk saja, pandangannya kemudian teralih ke pria yang berdiri disamping Irina. Pria dengan setelan jas hitam, berambut coklat, dan ada sayatan di wajahnya. Naruto mengenal pria itu. Namanya,

Umino Iruka.

"Jadi, ada apa?" tanya Naruto.

Pria itu membungkuk ala pelayan.

"Maaf, karena sudah menganggu anda malam-malam begini, Tuan Muda," ucap Iruka. Naruto mengangguk paham, sembari menunggu Iruka melanjutkan ucapannya.

"Alasan saya datang kemari adalah untuk mengantar dua gadis ini yang ingin bertemu dengan anda. Mereka berasal dari Negara Vatikan. Mereka, ehem. Tapi, saya rasa ada baiknya, jika kita membicarakannya di dalam. Karena pembicaraannya akan sedikit panjang," saran Iruka pada Naruto.

Naruto mengangguk setuju; Tidak baik membicarakan sesuatu di depan pintu. Terlebih lagi, malam-malam begini,

"Masuklah,"

Naruto kemudian mempersilakan tiga tamunya untuk masuk ke dalam apartemennya.

Change scene-!

Sekarang, di apartemen Naruto, terdapat lima orang berada disana. Mereka duduk di dua sofa yang saling berhadapan satu sama lain. Lima orang tersebut adalah; Naruto, Iruka, Xenovia, Irina, dan ...

—Tunggu dulu, lima orang?

Yap! Semuanya ada lima orang ~

Oang kelima adalah seorang gadis kecil. Seorang gadis berambut hitam, mengenakan pakaian Loli Gothic yang tengah duduk di sebelah Naruto sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.

Dua orang disana, tampak memandang bingung gadis itu. Siapa lagi, kalau bukan. Irina dan Xenovia. Mereka tampak penasaran dengan batin bertanya; Siapa gadis kecil di sebelah Naru-kun / Uzumaki-san? Hanya Iruka yang tampak biasa-biasa saja. Pria berusia 26 tahun itu sebenarnya sudah tahu siapa gadis di sebelah Naruto.

Dan juga,

Hubungan yang dimiliki oleh gadis itu dengan Tuan Muda nya, Uzumaki Naruto.

"A-ano." Irina berinisiatif bertanya.

"Ada apa, Irina?"

Naruto menatapnya.

"Dia siapa?" ucap Irina menunjuk objek di samping Naruto. Naruto kemudian menoleh ke arah jari telunjuk Irina. Kelopak matanya berkedip beberapa kali.

"Oh, dia."

Irina dan Xenovia mengangguk.

"Dia adalah Ka

"Umm." Naruto bergumam, memandang diam meja di depannya. Ucapannya tadi terhenti saat Naruto menyadari sesuatu. "Tidak mungkin, 'kan aku mengatakan bahwa gadis di sampingku ini adalah ibuku. Mereka tidak akan percaya."

"Etto, Naru-kun?" Irina memiringkan wajahnya. Ia bingung. Tidak hanya dia dan Xenovia. Iruka juga menanti jawaban dari Tuan Muda. Bahkan, gadis di sebelah Naruto juga menatap Naruto sebentar, ia lalu memandang kembali ke depan.

Bibir gadis itu mulai bergerak,

"Aku adalah ib—

"Hyahyahyahya!" Ucapan gadis itu terpotong saat Naruto menutup bibirnya sambil tertawa kusut. Irina dan Xenovia menatapnya bingung,

"Ib?" beo mereka.

Naruto berdehem. "Ekhem"

"Sebenarnya, dia, dia ..." Naruto menggantungkan kalimatnya. Keringat dingin turun di pelipisnya. Ia tidak tahu harus jawab apa. Irina dan Xenovia tampak menunggu lanjutan dari ucapannya.

"Dia ...

"Dia siapa, Naru-kun?" tanya Irina penasaran.

"D-dia, dia ... dia adalah ...

Naruto tersentak. "Ah, dia adalah adikku!"

"Adikmu?" ucap Irina dan Xenovia bersamaan. Mereka mulai memandang gadis di samping Naruto. Mereka lalu memandang ke arah Naruto, lalu kembali ke si gadis;

Mata biru dan mata hitam,

Rambut kuning dan rambut hitam.

Entah mengapa ...

... Irina dan Xenovia meragukan ucapan Naruto.

"Hmmm ..."

"E-Etto." Naruto merasa tidak nyaman. "Bisa kita langsung mulai saja pembicaraannya?" pintanya. Iruka yang sedari tadi diam, mengangguk dan mulai angkat bicara,

"Hai, akan saya jelaskan."

Dan suasananya pun mulai serius.


"Hai, akan saya jelaskan."

Iruka mulai menjelaskan,

"Mereka adalah Exorcist, orang-orang yang diutus oleh pihak gereja dari Negara Vatikan. Kedatangan mereka ke Kota Kuoh adalah untuk melakukan sebuah perkerjaan supranatural. Dikarenakan mereka tidak memiliki tempat tinggal, mereka meminta izin untuk tinggal di Mansion Uzumaki untuk beberapa hari."

Naruto terdiam, dia mendengarkan seksama penjelasan sedikit panjang dari Iruka. Naruto mangut-mangut paham. Jadi, Irina dan Xenovia adalah Exorcist? Setahunya, Exorcist adalah para pembasmi makhluk-makhluk jahat seperti hantu. Kalau tidak salah, sih

Berbicara soal hantu, Naruto tiba-tiba jadi merinding.

"La-lalu, kenapa mereka tinggal di rumahku?"

"Itu karena Tuan Besar memiliki hubungan baik dengan pihak gereja,"

"Sebenarnya kami sudah berencana akan menginap di tempat lain. Tapi, karena sebuah 'ke-ce-la-ka-an' yang tidak diduga, kami terpaksa tidak memiliki tempat tinggal," timpal Xenovia sambil menatap tajam Irina yang kini tengah membuang muka.

"Oh, begitu ya?" Naruto kemudian teringat dengan kejadian tadi sore. Saat dirinya bertemu dengan dua gadis asing yang tengah kelaparan karena kehilangan uang.


Di suatu restoran,

"Yo, Azazel."

"Hm? Oh, Baraqiel. Ada apa?"

"Sepertinya kau makan besar, ya?"

"Hahahaha, iya aku kemarin sedang beruntung. Aku menemukan dompet di pinggiran jalan."

"Ooo, begitu."

"Kau mau pesan makanan? Aku yang traktir."

"Tidak, aku tidak mau pesan. Tapi ...

... aku mau kau kembali ke Grigori, Brengsek!"

"Urus tugasmu sebagai pemimpin!"


Kembali ke apartemen Naruto-!

"Ah, aku ada soal lagi. Kenapa meminta izinku? Kenapa tidak ayahku saja?" tanya Naruto lagi.

"Sebenarnya, saya sudah menelpon Tuan Besar, Tuan Muda. Dan beliau berpesan agar Tuan Muda sendiri yang memutuskan," terang Iruka pada Naruto.

Mendengar hal itu, Naruto mendesah.

Dasar Tou-san!

"Baiklah ... aku izinkan."

Irina dan Xenovia senang mendengarnya.

"Arigatou, Naru-kun / Uzumaki-san."


TBC.