Disclaimer: Bungo Stray Dogs belongs to Asagiri Kafka

Warning: light Boys Love, typo, OOC, AU, no ability, flower shop au, etc

.

.

#MonthlyFFA #TokoKembangFFA

#3rdEveFFA

For: SeaglassNst

.

.

Promt: i'm a florist and you keep buying flowers from me and what do you mean it was my fault we didn't get together earlier you were buying flowers i assumed you had a lover...

.

.

.

.

...

Hibiscus dapat dikatakan merupakan toko bunga paling populer di Yokohama. Sama sekali tidak mewah dan besar tetapi dengan gedung toko yang lapang, dipenuhi pot-pot bunga dan tanaman hias lainnya yang ditata sedemikian rupa, dinding kaca yang memamerkan keindahan warna-warni kelopak bunga, hiasan-hiasan dengan berbagai nuansa dari yang artistik sampai yang imut menghiasi di sudut-sudut yang tepat, membuat siapapun akan tertarik untuk menyempatkan waktu mengagumi toko itu.

Dan pegawainya pun dikenal sangat akrab dengan warga Yokohama, salah satu keunggulan lainnya dari Hibiscus.

Bagi Atsushi, Hibiscus adalah rumahnya. Semenjak ditelantarkan oleh panti asuhan, ia beruntung bertemu dengan Fukuzawa-san yang memberikannya tempat tinggal dan pekerjaan di Hibiscus, bersama orang-orang lain yang juga ditolong oleh beliau. Mereka semua menjadi keluarga barunya.

Biasanya Atsushi bertugas sebagai kasir dan juga perangkai bunga. Ia senang menyapa siapapun yang lewat dari pintu toko lalu mengobrol ramah dengan mereka sembari tangannya sibuk merangkai buket bunga yang dipesan.

Atsushi sedang membaca sebuah light novel dikarenakan saat ini tidak ada pelanggan yang perlu ia layani, tapi begitu mendengar denting kecil lonceng pintu ia segera menoleh. Pemuda dengan rambut keperakan itu segera bangkit berdiri, memasang senyum riangnya.

Seorang pria masuk, mengenakan celana panjang dan kaus polo yang sama-sama berwarna hitam kemudian coat abu-abu. Atsushi merasa belum pernah melihatnya sebelum ini. Ia perhatikan bagaimana pria tersebut masuk dengan ragu-ragu. Memandang berkeliling dengan sikap sangsi. Diliriknya bunga-bunga dengan sikap tak suka, seolah kehadiran mereka menyinggung dirinya.

Mau tak mau, kening Atsushi berkerut samar. Memangnya apa salah tanaman-tanaman itu? Mereka tidak melakukan apapun selain membagikan warna-warni cemerlang yang enak dipandang mata. Dan Atsushi tau tidak ada satupun bunga di Hibiscus yang jelek, mereka merawatnya dengan maksimal, selalu memastikan para tanaman segar, sehat, dan indah.

Kemudian dengan langkah yang bergegas pria itu berjalan ke arah meja kasir. Wajahnya berkerut seolah-olah kesal. Atsushi jadi menegakkan tubuh, gugup akan skenario provokasi yang buruk.

Pria tersebut meletakkan uang ke meja dengan sedikit kasar, membuat Atsushi berjengit kecil. Dua ribu Yen terletak di atas meja.

"Bagaimana cara mengatakan fuck you secara pasif agresif dengan bunga?"

Atsushi mengedipkan mata dua kali. "Maaf?" Melongo atas permintaan aneh dan tak terduga begitu.

Atsushi sejenak berpikir kalau ia salah dengar. Atau itu hanya berupa candaan, tapi menilai betapa jengkelnya ia kleihatannya dan betapa serius ia kedengaran, Atsushi ragu kalau ia bercanda.

"Ugh..." Atsushi tidak tau harus bicara apa.

"Bisa atau tidak?" Tanya pria itu tak sabaran.

"Ah, mungkin aku bisa," sahut Atsushi ragu-ragu.

"Kalau begitu buatkan."

Atsushi berbalik untuk keluar dari konter kecil meja kasir, memutar bola mata. Setelah keterkejutannya berkurang, ia jadi sebal juga karena sifat pria itu yang tak ramah dan bossy.

Pemuda itu berjalan ke depan jajaran pot bunga. Bertopang dagu sembari berpikir keras. Kemudian ia mulai memetik bunga dengan gunting tanaman. Memetik beberapa tangkai dari lima jenis bunga berbeda.

Selesai memilih bunga, ia kembali ke mejanya. Mulai menyusun bunga menjadi bentuk buket yang sederhana. Menyelaraskan bentuk dan warnanya sehingga seimbang. Terakhir ia bungkus dengan plastik serta diberi ikatan pita putih.

"Nah, sudah selesai," ucap Atsushi menyodorkan buket bunganya.

Pria bermantel abu-abu itu menatap buket bunga dengan sangsi. Lalu ia beralih pada Atsushi.

"Kau yakin ini bisa mengatakan fuck you dengan sejelas-jelasnya? Bukankah buket ini terlalu semarak?" Tanyanya mengangkat sebelah alis, atau apa yang Atsushi asumsikan alis karena bagian rambut yang seharusnya ada di atas matanya itu tak ada atau terlalu tipis untuk disadari.

Atsushi mengangguk.

"Ini geranium," ia menunjuk sekumpulan bunga bertangkai pendek dan berkelopak kecil berwarma keunguan dan pink yang ia rangkai di tengah buket, "Artinya kebodohan."

"Ini foxglove," Atsushi menunjuk bunga berwarna ungu dengan kelopak berbentuk seperti lonceng dan berjejeran dalam satu tangkai yang tinggi. "Salah satu maknanya adalah ketidak tulusan."

"Yang ini meadowsweet," beralih pada bunga kecil-kecil berwarna putih. "Dan bisa mengartikan ketidak bergunaan."

Atsushi melirik pria di depannya, yang ternyata menyimak dengan serius ucapan Atsushi dan mengisyaratkannya untuk melanjutkan penjelasannya. Jadi Atsushi kembali menatap buketnya.

"Ini anyelir kuning, artinya bisa kekecewaan, seperti mengatakan, 'aku kecewa padamu'."

Terakhir Atsushi menunjuk dua tangkai bunga lili jingga. "Lili jingga artinya kebencian."

Pria itu mengangguk-angguk seolah paham dan Atsushi rasa ia cukup puas dengan bunga-bunga pilihan Atsushi. Pria itu mengambil buket dari tangan Atsushi dan pemuda tersebut anggap bahwa pria itu membeli bunganya. Ia segera mengambil lembar uang yang terletak di atas meja dan memasukkannya ke kotak kasir.

Atsushi baru saja mau memberikan uang kembalian saat suara yang familiar baginya menyerukan namanya dengan nada dilagukan yang khas.

"Atsushi-kun~"

Dan Atsushi, yang tidak sempat membalas sapaan itu, melongo melihat buket bunga yang dilempar telak mengenai wajah Dazai yang baru saja melewati pintu toko dengan langkah ringan.

"Apa-apaan?!" Pria berambut cokelat itu memekik terkejut. Menyingkirkan buket bunga dari wajahnya dengan ekspresi bingung sekaligus jengkel. Tapi ekspresinya berubah dengan cepat menjadi senyum jahil.

Atsushi mengenal sekali raut itu. Raut yang selalu akan berakhir dengan masalah.

"Oh ho, aku lihat kau jadi juga menerima saran ku, Akutagawa-kun~" ucapnya menyeringai lebar.

Pelanggannya itu mendengus mencemooh. Atsushi jadi tahu kalau mereka ternyata saling kenal. Dan pemuda itu jadi penasaran juga apa yang telah diperbuat Dazai sampai Akutagawa mau repot-repot membeli sebuket bunga yang bermakna 'fuck you' lalu melemparnya ke wajah Dazai untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi yang namanya Dazai, Atsushi tahu kalau pria itu memang punya hobi membuat kesal orang lain.

Kunikida, sang manajer Hibiscus, adalah korban favoritnya.

"Oh akuilah, Akutagawa. Kau sangat ingin bantuan ku."

"Saranmu tidak ada bagus-bagusnya."

"Tapi toh ternyata kau tetap melakukannya." Dazai tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Akutagawa mengabaikannya, sepertinya tidak bisa membantah.

"Terimakasih atas bunganya omong-omong, tapi bukan aku kan yang seharusnya kau beri bunga," ujar Dazai, alisnya bergoyang naik turun, menggoda Akutagawa dengan kalimat tersiratnya.

"Coba nanti kau tanya rekan kerja mu ini soal bunga yang sudah murah hati kuhadiahkan padamu Dazai-san," balas Akutagawa datar.

Atsushi diam di tempatnya. Agak canggung karena dia merasa sedikit terabaikan, tapi juga geli melihat interaksi mereka berdua.

Pria itu kemudian berbalik, raut wajahnya kembali berubah menjadi serius, namun juga menampilkan rasa ragu-ragu. Ia tampak bergelut degan harga dirinya terlebih dahulu sebelum bicara.

"Apa ada bunga yang bisa digunakan untuk memberi pujian? Spesifiknya, matamu indah?"

Atsushi mengangguk antusias. Ia tersenyum lebar dan dengan bergegas keluar dari meja kasir. Mengabaikan keheranan akan tawa Dazai yang tiba-tiba membahana. Pemuda berambut perak itu memetik beberapa tangkai bunga dan kembali. Masih tersenyum dengan begitu antusiasnya.

"Bunga kesukaan ku! Variagated tulip. Maknanya memang berarti matamu indah," jelas Atsushi memamerkan beberapa tangkai bunga tulip merah dengan corak putih pada kelopaknya.

Akutagawa mengangguk. "Aku ingin satu buket kecil bunga ini."

Atsushi tersenyum ceria dan segera pergi untuk memetik beberapa bunga lagi. Segera merangkainya menjadi buket yang sederhana namun apik dan rapi.

"Silahkan," ucap Atsushi menyodorkan buket yang telah selesai itu. Akutagawa menerimanya, Atsushi berharap pria itu menyukainya karena raut wajahnya tidak terlalu banyak menampilkan perasaannya sehingga Atsushi harus menebak-nebak.

Mereka melakukan transaksi pembayaran dan Akutagawa berbalik setelah memberikan anggukan.

"Kau tidak mau mengikuti saranku sampai selesai?" Tanya Dazai.

Akutagawa kembali mendengus, "Tidak akan." Lalu pria itu buru-buru pergi.

"Silahkan berkunjung kembali!" Seru Atsushi sebelum Akutagawa keluar dari pintu toko.

"Jadi?" Dazai menatap Atsushi dengan satu alis terangkat dan senyum samar yang membayang di bibir.

"Jadi apanya?" Balas Atsushi.

"Tentang pria tadi! Bagaimana pendapat mu?" Seru Dazai sedikit jengah dengan pandangan tak mengerti Atsushi.

"Untuk apa? Dazai-san sudah jelas-jelas kenal dengannya, apa gunanya lagi menanyakan pendapat ku?" jawab Atsushi ringan.

Dazai melempar tangan pasrah. Atsushi diam-diam tersenyum, biasanya ia yang dibuat lelah dengan tingkah Dazai.

Lagipula itu tidak penting, apakah menurut Atsushi ia tampan dan imut sekalipun. Tidak penting karena pria itu pasti punya kekasih.

Memangnya ada alasan lain apa yang membuat seorang pria membeli sebuket bunga dengan makna yang begitu romantis kalau bukan untuk diberikan pada kekasihnya?

Atsushi membatin sembari mengurus sebuah pot bunga Variagated tulip. Warna nila yang beradu dengan emas pada iris mata Atsushi berkilat, memantulkan bayangan sekuntum tulip.

.

.

.

Hari ini, Atsushi baru saja selesai membaca ulang buku floriografi yang dipunyai Hibiscus. Fukuzawa-san dan Kunikida-san berpendapat bahwa buku mengenai makna bunga itu penting untuk dipelajari, agar mereka tidak sengaja merangkai bunga yang salah untuk sebuah acara dan membuat orang tersinggung karenanya, atau juga bisa saja seseorang diminta buatkan buket sentimental, mereka biasanya akan minta saran bunga mana yang cocok dan memiliki arti yang pas.

Saat mengembalikan buku tersebut ke lemari yang ada di belakang konter kasir, denting kecil lonceng pintu toko berbunyi. Atsushi dengan refleks berbalik sembari tersenyum ramah, berseru "Selamat datang."

Kepala dengan rambut hitam berpotongan khas memasuki toko. Masih dengan sikap ragu-ragu seperti pertama kali ia datang. Mau tak mau, Atsushi jadi memperlebar senyumnya, geli.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Akutagawa berdiri di depan meja kasir dengan pandangan berpikir sebelum mengangguk.

"Apa kau punya bunga yang tepat untuk menyatakan cinta pada pandangan pertama?" Tanya Akutagawa canggung. Pipinya memerah hebat, begitu kontras dengan kulitnya yang pucat.

Atsushi mengangguk, tersenyum simpul. Akutagawa sepertinya bukan orang yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya. Ia pasti sedang berusaha keras menyampaikan perasaannya dengan memberikan bunga.

Atsushi tidak ingin mengakuinya, tapi ia sedikit iri pada orang yang menerima bunga Akutagawa nantinya. Perlakuan Akutagawa itu manis sekali.

Atsushi segera menuntun Akutagawa ke salah satu sudut toko. "Nah, bunga mawar berwarna lavender adalah bunga yang cocok untuk menyatakan cinta pada pandangan pertama," jelas pemuda tersebut pada Akutagawa. Pria berambut hitam itu tampaknya sangat berminat pada mawar unik tersebut.

"Aku belum pernah melihat mawar berwarna seperti ini," gumamnya.

Atsushi nyengir ramah. "Memang jarang sekali ada yang menjual dan memeliharanya. Kami beruntung bisa mendapatkan bibit bunga ini."

Kemudian Atsushi menggeser langkah sedikit. "Bunga lain yang mempunyai arti cinta pada pandangan pertama adalah gloxinia. Kau ingin bunga yang mana atau ingin keduanya sekaligus?"

"Keduanya, aku ingin dirangkai jadi satu buket kecil saja," jawab Akutagawa tanpa banyak pertimbangan.

Atsushi mengangguk dan kemudian segera memetik beberapa bunga mawar lavender itu dan memetik bunga gloxinia. Dipilihnya yang berwarna ungu pekat agar selaras dengan warna lavender lembut milik mawar. Disusunnya rapi, mawar berada di tengah dan kemudian gloxinia membingkai di luarnya. Sentuhan plastik bening dan pita putih di tambahkan di akhir seperti biasa.

"Ku harap rekomendasi ku cukup memuaskan," sahut Atsushi.

Akutagawa mengangguk kecil. "Ah... Tidak buruk. Kau punya selera yang bagus Jinko."

Atsushi mengedipkan mata terkejut. Akutagawa juga memasang wajah kaget, telinganya merah, sepertinya yang tadinitu tidak sengaja kelepasan.

"Jinko?" Ucap Atsushi bingung.

"Itu," Akutagawa menunjuk apron yang dikenakan Atsushi. Ada gambar kepala harimau putih lucu yang cukup besar di sana. "Gambarnya sama sekali tidak nyambung dengan toko bunga, jadi aku selalu kepikiran," sahut Akutagawa.

Atsushi tertawa kecil. Yah karena karyawan di Hibiscus tidak memakai papan nama jadi tak heran kalau Akutagawa tidak tau namanya. Lagipula Atsushi tidak keberatan dengan nama panggilan itu, terdengar lucu dan ramah.

"Tidak apa-apa, itu kata yang manis," sahut Atsushi jujur yang malah membuat Akutagawa semakin kikuk. Kemudian Atsushi menyerahkan buket bunga yang telah selesai tadi pada Akutagawa.

"Berapa harganya?" Tanya Akutagawa sambil menerima bunganya. Atsushi menyebutkan nominalnya dan Akutagawa segera mengambil dompet.

Tapi kemudian berhenti karena rentetan batuk yang serak. Atsushi langsung khawatir. Dengan panik pemuda itu segera mengambil segelas air putih dan menyodorkannya pada Akutagawa.

Tapi Akutagawa tidak menerimanya. Ia mendorong gelas itu kembali pada Atsushi. Namun, Atsushi tetap keras kepala agar Akutagawa menerima gelas tersebut.

Masih terbatuk-batuk, Akutagawa menyerah. Ia akhirnya menerima gelas tersebut dan meminum air yang ditawarkan Atsushi. Pemuda berambut keperakan itu menghela napas lega.

"Kau tidak apa-apa Akutagawa-san?" Tanya Atsushi cemas. Akutagawa mendelik padanya dan Atsushi langsung gagap. Baru sadar kalau dia memanggil nama Akutagawa padahal mereka belum bertukar nama secara formal.

"Tidak, aku tidak apa," jawab Akutagawa pendek.

"Tapi batukmu terdengar menyakitkan," bisik Atsushi.

"Ehm, kau tahu, bunga kenanga dan tumbuhan mint bisa membantu masalah pernapasan," ujar Atsushi. Terkejut begitu Akutagawa memberinya tatapan marah.

"Apa maksudmu berkata seperti itu?!" Tanyanya tajam. Atsushi mundur selangkah akan kemarahan yang tiba-tiba.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir kalau kau mungkin ingin sesuatu yang dapat membantu masalah batukmu," jelas Atsushi membela diri.

"Aku tidak butuh kasihan darimu," desis Akutagawa.

Kini Atsushi jadi kesal. "Aku tidak sedang mengkasihanimu Akutagawa-san, aku hanya berpikir kau mungkin akan senang dengan bunga yang bisa membuat bernapas menjadi lebih lega."

"Apa yang bukannya mengkasihani," cemooh Akutagawa.

"Aku hanya ingin membantu! Kau harus lebih toleransi dengan dirimu sendiri Akutagawa-san. Menerima bantuan orang lain berbeda dengan merasa lemah diri," ujar Atsushi tajam.

Wajah Akutagawa merah padam. Sepertinya ucapan Atsushi mengenai sasaran dengan telak.

"Kau!"

"Ada apa?" Suara seseorang yang kebingungan memotong seruan marah yang akan Akutagawa lontarkan. Keduanya menoleh melihat seorang pemuda berambut pirang dengan kaus kebesaran dan celana overall baru saja masuk lewat pintu belakang toko, menatap mereka dengan bingung.

Sebuah kepala lainnya melongok dari balik pintu ruang karyawan. Dazai dengan mata setengah mengantuk mengintip, terbangun dari tidur siangnya. Tapi dengan cepat mata mengantuk itu berubah menjadi tertarik saat tatapannya jatuh pada Akutagawa.

"Apa ada masalah Atsushi-san?" Tanya pemuda berambut pirang itu dengan raut cemas.

Atsushi menggeleng kaku. "Tidak apa-apa Kenji-kun, bukan masalah besar," sahutnya memaksakan senyum. Kenji jelas meragukan ucapannya.

Akutagawa mendengus, ia meletakkan selembar kertas sebesar harga buketnya lalu berjalan keluar toko tanpa berkata-kata lagi.

Atsushi menghela napas panjang.

"Kau bertengkar dengan orang tadi Atsushi-san?" Tanya Kenji mendekat padanya. Ia melepas sarung tangan yang selalu digunakannya saat merawat tanaman di rumah kaca yang ada di belakang toko. Pemuda itu juga merupakan karyawan Hibiscus yang tugas utamanya menanam dan melihara bunga-bunga di rumah kaca.

Atsushi memberikan senyum tipis pada Kenji. "Ah, begitulah. Aku rasa aku sudah agak lancang," ucap Atsushi kini setelah lebih tenang ia merasa gelisah akan rasa bersalah dan cemas. Bagaimanapun Atsushi tidak terbiasa bertengkar dengan seseorang. Ia khawatir kata-katanya telah menyinggung perasaan Akutagawa.

Kenji sepertinya menyadari kecemasan Atsushi. Pemuda itu tersenyum dan meletakkan tangan ke pundak Atsushi.

"Bertengkar dan salah paham itu biasa terjadi Atsushi-san, yang terpenting nanti berbaikanlah lagi," sahutnya dengan riang. "Selama kalian bicara baik-baik dan minta maaf, semua akan baik-baik saja."

Atsushi membalasnya dengan senyum simpul. Kenji adalah pemuda yang sederhana, penuh rasa hangat dan optimistis.

"Yah kalau dia masih mau bicara pada ku sih," gumam Atsushi.

"Oh, aku yakin dia mau kok," seru Dazai yang tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka. Pria itu tersenyum lebar. "Dia hanya sedikit sensitif, tapi dia pasti akan mengerti."

Atsushi mengangguk. Dia masih ragu tapi setidaknya kata-kata Dazai membuatnya sedikit lebih tenang, bagaimana juga Dazai mengenal Akutagawa.

.

.

.

Tiga hari Akutagawa tidak berkunjung ke Hibiscus. Tiga hari itu pula Atsushi merasa bersalah. Dia sudah hampir putus asa, berpikir kalau hubungan pertemanannya-kalau pertemuan singkat mereka bisa disebut pertemanan-dengan Akutagawa sudah berakhir.

Tapi tepat tiga hari setelah absennya, Akutagawa kembali datang ke Hibiscus. Ia masuk ke dalam toko dengan ragu, nyaris malu-malu. Atsushi harus mengatupkan bibir rapat agar tidak kelepasan berseru lega penuh syukur.

Ketika Akutagawa berdiri di depan konter kasir, kecanggungan meliputi keduanya.

"Uhm... Maafkan aku sudah kelewatan kemarin, Akutagawa-san," ujar Atsushi memecah kesunyian. Ia benar-benar tak tahan berlama-lama dalam diam yang tak nyaman itu.

Akutagawa tampak terkejut. Ia dengan kikuk menggelengkan kepala.

"Tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf. Kau hanya berusaha menolong," sahut Akutagawa, sesekali matanya beralih, menghindari kontak mata dengan Atsushi. Ia tampak benar-benar gelisah dan canggung.

"Ini..." Akutagawa meletakkan setangkai bunga hyacinth ke atas meja kasir. Atsushi sama sekali tidak menyadari kehadiran bunga itu sewaktu Akutagawa masuk.

Pemuda berambut perak itu tersenyum lembut. Ia berbalik keluar dari konter kasir, memetik setangkai tulip putih. Kembali dan meletakkannya di samping bunga hyacinth Akutagawa.

"Aku juga minta maaf," ucap Atsushi lalu mengambil setangkai hyacinth tersebut. Akutagawa tampak tersipu dan dengan kikuk mengambil tulip putih yang Atsushi letakkan.

"Nah kan, apa kubilang," seru seseorang. Atsushi dan Akutagawa menoleh pada Dazai yang entah muncul darimana. Pria itu nyengir lebar dan mengancungkan jempolnya. Atsushi terkekeh pelan dan Akutagawa terlihat semakin malu.

Diam-diam saling lirik dan melempar sebuah senyum.

.

.

.

Semenjak saat itu Atsushi merasa bahwa ia dan Akutagawa sudah pantas disebut teman. Pria berambut hitam tersebut teratur mengunjungi Hibiscus, membeli sebuket bunga seperti biasa, namun akan selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Atsushi. Mereka akan mendiskusikan banyak hal, berita terbaru, tempat-tempat di Yokohama, teman-teman mereka, atau buku yang mengejutkannya mereka memiliki selera yang sama akan bacaan.

Yah, walaupun sering juga waktu mereka diisi perdebatan. Tapi Atsushi menikmati waktu yang mereka habiskan bersama.

Denting lonceng pintu berbunyi. Akutagawa masuk ke Hibiscus. Dazai yang tengah tidur-tiduran di balik konter kasir mengangkat kepalanya dan melengos, kembali memasang wajah bosan. Awal-awal Akutagawa datang ke Hibiscus dan pria berambut cokelat itu kebetulan juga ada di Hibiscus, tidak melakukan pekerjaannya tentunya, Dazai akan menatap dengan penuh minat, seakan-akan menunggu sesuatu akan terjadi, namun seiring berjalannya waktu dan Akutagawa dan Atsushi selalu melangsungkan kebiasaan obrolan ringan mereka, pria itu kehilangan rasa tertarik. Atsushi tidak tau apa yang sebenarnya Dazai harapkan.

"Halo Akutagawa," sapa Atsushi, setelah beberapa lama Akutagawa memintanya untuk menghilangkan honorifik. Akutagawa menjawab sapaannya dengan sebuah anggukan.

"Apa bunga yang kau inginkan hari ini?" Lanjut Atsushi tersenyum ceria sembari mengurus sebuah pot berisi dafodil.

"Apa ada bunga yang bisa mengungkapkan bahwa kehadiran seseorang dapat mencerahkan hari ku?"

Atsushi mengangguk. "Dafodil, artinya matahari selalu bersinar saat aku dengan mu," jawab Atsushi sembari menunjuk pot bunga dafodil di tangannya.

"Kalau begitu aku ingin satu buket."

"Baiklah. Hm... Orang itu pasti sangat menyenangkan ya kalau kau merasa begitu," Atsushi berkomentar sembari meraih gunting tanamannya.

"Ah, ya... Akhir-akhir ini kami sering bicara dan aku menikmatinya jadi aku selalu menunggu pertemuan kami berikutnya."

"Apa yang kalian bicarakan?"

Akutagawa batuk kecil. "Bukan hal besar, hanya buku atau tempat-tempat yang pernah kami datangi."

Atsushi mengedipkan mata beberapa kali. "Oh, apa kau merekomendasikan novel Supernova juga padanya?"

Akutagawa mengangguk kaku.

"Sudah cukup!"

Tiba-tiba Dazai berseru kencang. Akutagawa dan Atsushi dibuat kaget. Pria itu bangkit dan melempar tangan ke udara dengan sikap jengah.

"Aku sudah tidak tahan lagi, menyaksikan kalian berdua jauh lebih menyiksa daripada mencari metode bunuh diri paling indah," ujarnya mencak-mencak. Pria itu berbalik pada sebuah pot, memetik bunga mawar merah setangkai begitu saja lalu meletakkannya di atas meja kasir.

"Cepat katakan saja kalau kau suka padanya dan berhenti membeli bunga yang mengingatkan mu pada dia," lanjut Dazai.

Akutagawa memerah wajahnya. Atsushi hanya melongo tak mengerti.

"Apa maksudmu Dazai-san?"

Dazai melirik padanya dan menghembuskan napas panjang dan berat. "Ini salahmu juga karena sangat tidak peka Atsushi."

Dazai mendorong bahu Akutagawa. "Pria ini suka padamu dan membeli bunga hanya untuk alasan bertemu dengan mu," jelas Dazai menahan Akutagawa yang sudah ingin melarikan diri dari situasi memalukan ini.

"Hah? Apa?"

"Sekarang kau bicara tanpa bertele-tele dan kode-kode lagi," sahut Dazai lalu kembali duduk ke tempatnya semula.

"Ugh, jadi..." Akutagawa memulai pembicaraan dengan gugup. Atsushi menunggu dengan diam.

"Kau menyukai ku?"

Pipi Akutagawa bersemu kemerahan. "Bukankah itu sudah jelas?" Sahutnya dengan suara tajam dan jengkel untuk menyembunyikan rasa malunya.

"Suka seperti ingin berkencan?"

Akutagawa mengangguk. Semakin merah. Atsushi tidak tau apakah normal bagi manusia untuk bisa sewarna dengan tomat.

Atsushi terdiam. Tampak masih mencoba mencerna kejadian yang terlalu cepat menurutnya. "Jadi... Kau mau menjadi pacarku?" Tanya Atsushi, kini ia yang mengintip Akutagawa malu-malu dari balik ujung poninya.

Dazai hampir merusak suasana dengan suara tercekiknya. Suasana ini sangat cheesy, penuh aura manis dan pastel ala shojo manga. Jelas terlalu fuwa untuk ukuran jiwanya yang hitam macam kopi pahit (walau patut juga dipertanyakan bagaimana dia bisa tau seperti apa aura shojo manga).

Akutagawa mengangguk malu. Menjawab pertanyaan Atsushi.

Keduanya tersenyum canggung lalu tertawa lepas.

"Uh, seandainya aku tau, mungkin sudah lebih awal kita bisa kencan," Atsushi terkekeh geli.

"Ini semua salahmu! Tidak peka-peka juga setiap aku menanyakan arti bunga," dengus Akutagawa.

"Hei! Apa maksud mu ini salahku?! Bagaimana aku bisa tahu!" balas Atsushi dengan tampang tersinggung. "Kau membeli bunga di toko ku, aku pikir kau punya kekasih!"

Akutagawa membuang muka. Mereka bisa mendengar suara Dazai yang menepuk keningnya sendiri.

"Yah... Menurut mu bagaimana lagi hah?! Aku kan tidak mungkin bilang menyukai mu begitu saja!" desis Akutagawa.

"Bisa saja, kau bisa bilang kalau kau ingin berkenalan dengan ku."

"Ugh.."

"Atau kau bisa saja beli bunga mawar dan memberikannya langsung pada Atsushi, seperti saranku," celetuk Dazai.

"Atau itu," tawa Atsushi.

Akutagawa menyembunyikan wajahnya.

"Jadi kapan kita akan pergi kencan?" Tanya Atsushi antusias.

"Jam lima sore hari ini sehabis toko tutup?"

"Boleh saja. Akan ku tunggu di depan toko," ujar Atsushi menyetujui.

"Dan Akutagawa," lanjutnya tersenyum jahil, dengan mata berbinar ia mengambil mawar yang diletakkan Dazai tadi. Menyodorkannya ke arah Akutagawa.

"Mawar merah artinya cinta."

.

Fin.

.

A/N:

Loha loha~ ini sebenarnya lebih pendek dari yang kurencanakan tapi... Nggak apa deh...

Untuk 3rdEveFFA ini aku cukup lucky karena walaupun aku belum nonton BSD aku cukup familiar dengan karakternya, salahkan semua anak fandom BSD di grup yang kalau bahas BSD notif chat bisa nyampe ratusan... Selain itu karena di notenya minta dibuatin gula ya jadi deh aku buat se-fluff mungkin, genre favorit ku gitu lho...

Semoga si Salsa aka SeaglassNst puas dengan hasilnya.

Untuk inspirasi, nah ini dari fanart yang ketemu di pinterest sama promt diatas. Untuk adegan pembuka aku dapet inspirasi dari promt lainnya: Person A owns a flower shop and Person B comes storming in one day, slaps 20 Bucks on the counter and says "How do i say passive-aggressively fuck you in flower?"

Uh, aku udahan ya A/N nya... Semoga suka dan terima kasih sudah membaca :)

Salam

Ai19