Seharusnya

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC parah, typo, beast!AU spoiler, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Nakajima Atsushi (05/05/2021).


Seulas hati yang permukaannya terbuat dari es, sementara dalamnya hanyalah kebekuan yang abadi, tampak mengetuk pintu paling menjulang di bangunan ini. Tanpa perlu sejurus kemudian, Nakajima Atsushi pun dipersilakan masuk oleh suara di balik ruangan. Tubuh lumayan jangkung itu dengan sigap memasang pose beristirahat di depan. Tiada peduli walaupun yang iris segmental-heterochromianya tangkap, masihlah sebuah punggung yang tak sekali pun menoleh.

"Selamat siang, Atsushi-kun. Boleh aku tahu bagaimanakah posisimu sekarang ini?" Dazai Osamu belum juga melupakan jendela raksasa di hadapannya. Mulut Atsushi yang sekilas terbuka kini terkatup lagi. Padahal ia ingin bertanya duluan, ada perlu apa bos Port Mafia memanggilnya kemari?

"Beristirahat di tempat. Lalu … maaf. Boleh saya tahu ke–", "Beristirahat di tempat, ya. Baiklah. Majulah sampai kamu menyentuh meja, paham?" potong Dazai begitu saja. Langkah yang terdengar kecil itu dapat Dazai ketahui bahwa Atsushi menurutinya. Hening masih mengetuai suasana sampai akhirnya, kursi yang Dazai duduki bergerak cepat. Berputar sekali sebelum warna-warni konfeti berlarian sambil tertawa bisu.

"… Dazai-san?"

"Pfttt … ahahaha …! Wajahmu datar banget kayak panci penggorengan, Atsushi-kun. Kupikir kamu bakalan kaget, lho, terus tiba-tiba panik sendiri."

Berbagai hal yang serba mendadak ini kian membekukan Atsushi, tatkala Dazai berdiri sekadar untuk menyingkirkan konfeti yang menempeli rambut perak Atsushi. Jadilah matanya mengerjap-ngerjap. Berkedip-kedip yang sebanyak apa pun Atsushi menutup atau membuka cahaya, masih saja senyuman Dazai yang terjaring. Lembut yang lama-kelamaan teduh sekali, sehingga kebingungan setengah mampus pun, Atsushi tiada kuasa meremas lengannya untuk menyangkal.

"Omong-omong, sekarang ini pun sudah pukul dua belas siang. Pergi makan siang, yuk. Atau mungkin Atsushi-kun mau makan di sini saja? Kita bisa memesan apa pun yang kamu sukai."be

"Di sini saja itu maksudnya di ruangan Anda?"

"Iya, dong. Di mana lagi memangnya kalau bukan di sini? Atsushi-kun mau memesan apa, nih? Setahuku kamu suka chazuke, ya. Menu-nya itu saja, ya, berarti."

Sesaat tangan Atsushi terangkat. Mengambang di udara sebelum akhirnya, berguguran tanpa setitik pun makna, padahal Atsushi belum meraih Dazai. Suara bosnya itu terdengar riang, ketika mengobrol dengan restoran yang ia hubungi. Lantas Atsushi mencubit pipinya sendiri. Hanyalah rasa sakit yang tertinggal, serta Atsushi ketahui secara nyata yang menunjukkan, kejanggalan yang terlalu banyak ini adalah realitas.

"Jangan berdiri terus. Duduklah di sana, dan nanti kita makan chazuke bareng-bareng." Telunjuk Dazai mengarah pada sofa yang empuknya mahal. Punggung Atsushi bahkan jadi didorongnya gara-gara pemuda canggung ini, masih saja mematung di depan meja kerja Dazai.

"Dazai-san. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"

"Apa yang terjadi di sini …? Pertanyaanmu bikin aku bingung, deh."

"Maksud saya, kenapa tiba-tiba Anda meletuskan konfeti? Lalu juga Dazai-san mengajakku makan siang, dan memesankan chazuke untuk saya." Bahwa bukan ini yang seharusnya bos Port Mafia perbuat. Semestinya Dazai duduk di kursi pemimpin, mengerahkan beraneka perintah yang cemerlang, kemudian Atsushi sekadar menurut, menurut, menurut, sampai

"Oh, itu … sekarang ini tanggal lima Mei soalnya. Ulang tahunmu, Atsushi-kun. Jangan bilang kamu lupa."

Tidak seperti yang Dazai bilang juga, untungnya? Atau mungkin sayangnya? Entahlah kata apa yang harus Atsushi gunakan, tetapi yang pasti ia memang ingat fakta tersebut. Bahkan Izumi Kyouka memberikan kado. Orang-orang di Black Lizard turut berbasa-basi menyelamati Atsushi, dan itu mana mungkin ganjil. Namun, Dazai yang bisa-bisanya ikut menyiapkan kejutan … aneh sekali Dazai mau repot-repot, demi keroco macam Atsushi.

"Anda tahu dari mana?"

"Data para anggota Port Mafia. Aku, kan, memegang semuanya."

"Bagaimana kalau saya mengisi lima Mei secara asal-asalan?" Pertanyaan seperti itu pasti lancang. Atsushi pun berniat menyambungnya dengan permintaan maaf, tetapi urung karena lagi-lagi; Dazai memasang senyuman. Seulas garis lengkung yang rasa-rasanya ia merindu. Kenapa rindu? Ia sekadar menjawab, karena aku dapat menyapa rahasiaku lagi. Entah apa maksudnya.

"Asal-asalan pun, aku enggak keberatan. Mau itu benar-benar lima Mei, atau Atsushi-kun tidak tahu yang sebenarnya, yang terpenting bagiku adalah Atsushi-kun di sini. Kemudian aku akan berbahagia atas lahirnya dirimu."

Hanya helaan napas yang ujung-ujungnya lolos dari Atsushi. Chazuke mereka sudah datang yang sebelum Atsushi mengorek satu per satu kain milik Dazai, setidaknya ia akan menikmati buah kebaikan Dazai yang terlalu mekar silaunya ini.

Membutakan Atsushi menyebabkan ia sedikit takut.


Mereka dan hening memakan chazuke yang uapnya mengepul hangat. Atsushi lantas menghela napas lagi, setelah merasa perutnya kenyang dan sulit dipungkiri, Atsushi dibahagiakan kejanggalan.

Tawaran Dazai agar Atsushi menambah chazuke lagi, ditolak secara halus. Awalnya ia agak yakin, melihat Dazai tampak merengek bahwa Atsushi makan terlalu sedikit, tetapi segera ditepisnya agar tak semakin melebar ke mana-mana. Belum sempat menata diri, kemudian Atsushi ditunjukkan kepada pemandangan, di mana Dazai tampak kecewa. Mendadak remaja delapan tahun tersebut menelan ludah. Akhirnya pula Atsushi berhasil meremas lengannya sendiri.

"Lenganmu kenapa? Sakit, kah, gara-gara terlalu senang?" Gelengan diberi sebagai jawaban. Alasan yang tidak masuk akal itu kian memusingkan Atsushi.

"Bukan begitu, Dazai-san. Justru seharusnya saya-lah yang bertanya, apa Anda sakit atau bagaimana?"

"Orang sakit enggak akan sanggup menghabiskan semangkuk chazuke, harusnya. Untuk sekarang ini jadilah lebih jujur, Atsushi-kun. Kamu tahu, kan, apa yang aneh di sini?"

"Ya. Maaf jika saya lancang, tetapi sikap Anda … sangatlah aneh. Dazai-san bertindak ramah. Bahkan rasa-rasanya Dazai -san agak kekanak-kenakan, sewaktu menyuruh saya makan lagi. Salahkah kalau saya bilang, ini bukan Dazai-san yang saya kenal? Makanya saya khawatir karena siapa tahu, Anda sakit atau terjadi sesuatu."

"Kalau sesuatu memang terjadi, maka itu adalah ulang tahunmu, Atsushi-kun. Anggaplah karena hari ini adalah ulang tahunmu, aku jadi begini."

Ulang tahun yang mengubah perawakan seseorang menjadi 180 derajat … apakah kasus seperti itu pernah terlihat? Atsushi belum mengerti sepenuhnya. Sudah jelas ia harus membuang batasan yang setiap harinya, berbicara mengenai hormat terhadap bos dan kepatuhan sebagai anggota. Kalau tidak begitu, Atsushi akan terus tersangkut di tempat yang sama. Atau mungkin daripada Atsushi melewati garisnya, ia berpura-pura bodoh saja terhadap–?

"Tenang, Atsushi-kun. Yang memang perlu kamu lakukan hanyalah itu, karena aku juga sadar tingkahku aneh."

"Terus kenapa Dazai-san tetap melakukannya? Sejujurnya pula, dan karena katamu saya harus lebih terbuka, Anda yang mendadak baik begini membuat saya takut … Anda … Anda mau ke mana?"

Dari lengan yang diam-diam bergetar, kini jari-jarinya beralih dan meremas celana hitam yang Atsushi kenakan, sebagai seragam sehari-hari. Pikirannya sungguh-sungguh pucat sejak Dazai sedemikian berhati cerah. Padahal selama menjadikan Dazai sebagai naungannya jua, Atsushi telah diajarkan ia tak boleh menerima kebaikan. Ia dilarang mencoba; melakukannya atau suatu hari nanti, Atsushi sekadar hangus dibakar oleh yang baik tersebut.

Port Mafia adalah sebuah tempat yang hanya membesarkan kegelapan, kejahatan; sinonim apa pun dari dua kata tersebut.

Yang Dazai lakukan tiada pernah berada di Port Mafia.

Yang Dazai perbuat ini pun, bukanlah sesuatu yang cocok untuk tempat semacam Port Mafia.

Makanya ketika Dazai berbuat setulus ini, serta-merta Atsushi pun merasa ia bakal kehilangan Dazai. Berpikir bahwa Dazai mau pergi entahlah ke mana, sehingga Dazai mengubah tindak tanduknya yang biasanya dingin, bengis, tanpa ampun maupun ingin berbasa-basi mengenali kemanusiaan. Walaupun dia … walaupun Atsushi tak keberatan,

"Menurutmu aku mau ke mana memangnya?" tanya Dazai yang mau berapa kali lagi, tersenyum untuk Atsushi? Kepalanya yang terus menunduk akhirnya pula bangkit. Menatap Dazai lurus-lurus yang mana Atsushi mau percaya, ia takkan digoyahkan oleh Dazai yang super aneh ini.

"Entahlah. Saya juga tidak memiliki ide, Dazai-san mau ke mana. Namun, tolong jangan begini lagi. Bertindaklah seperti biasanya saja, lalu saya tinggal melupakan hari ini."

"Sebenarnya bagaimanapun itu, aku pasti pergi."

"Pergi ke mana? Biarkan saya mengikuti Anda kalau begitu, daripada menghapusku dengan membuatku menerima kebaikan." Giliran netra Dazai yang mengerjap-ngerjap. Ingin berkelakar dengan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya hendak Atsushi bicarakan pun, kata-kata selalu mengkhianati Dazai. Sepertinya rahasia ini hanya sampai di sini.

"Baiklah. Karena Atsushi-kun sedemikian risi, setelah kita mengobrolkan ini aku akan membiarkanmu pergi."

"Mengobrolkan … ini?"

"Singkatnya, menurutmu bagaimana jika seharusnya kita bukan begini? Bahwa sebenarnya semua ini salah, dan seharusnya kita melakukan hal lain?"

Kalimat itu mengetuk-ngetuk kening Atsushi sebagai benang yang kusut masai. Sejenak ia meminta waktu berpikir, karena mungkin Atsushi dapat mencernanya seorang diri, daripada menyusahkan Dazai lagi. Menyusahkan Dazai yang entah mengapa Atsushi merasa demikian, sesudah ia menolak kebaikan Dazai menikmati Dazai, di masa lalu maupun mendatang–bahwa gara-gara Atsushi-lah, Dazai dipaksa melontarkan topik tersebut, padahal ia pun sudah menyukai hatinya yang lebih utuh.

"Artinya Anda mau bilang, kita itu bukan seperti bos Port Mafia dan anak buah?"

"Kira-kira begitulah intinya. Menurutmu bagaimana, Atsushi-kun?" Teh yang tersisa di gelasnya Dazai teguk. Atsushi kembali pada diam untuk mematangkan ucapannya. Bibirnya sampai ia gigit-gigit juga agar Atsushu lebih cepat.

"Bingung, ya? Kuceritakan dulu, deh, sedikit. Walau sebenarnya ini bisa banyak, sih."

Seharusnya kita bukanlah Port Mafia adalah prolog yang Dazai ambil yang menyebabkan, napas Atsushi seolah-olah dipecahkan. Matanya pun membeliak yang mungkin saja, Atsushi akan buta gara-gara terlampau enggan melihat hal tersebut.

Sebelum Atsushi berspekulasi macam-macam lagi, Dazai langsung menjelaskan bahwa seharusnya, mereka adalah anggota Agensi Detektif Bersenjata. Dazai menyelamatkan Atsushi yang tengah kelaparan, juga ketakutan terhadap harimau putih yang ternyata merupakan kemampuan supernaturalnya. Dazai pun membawanya ke tempat, di mana Atsushi dapat menolong orang lain seperti yang Dazai perbuat untuk dia–memperbolehkan Atsushi melihat yang Dazai lihat.

"Berarti dunia ini …?"

Ada pula hal-hal lainnya, seperti sikap Dazai yang sebetulnya konyol, bercanda di dalam 24 jam, riang–makanya Atsushi jangan kaget lagi mengenai kelakuan Dazai di awal cerita–hingga diakhiri oleh epilog yang hanya tahu, dunia tempat Dazai membawa Atsushi ke agensi telah kandas. Musuh menang dan menghancurkan kehidupan.

"Dunia paralel, Atsushi-kun. Hal ini tidak mau kuceritakan ke siapa pun, sebenarnya. Namun, Chuuya memaksaku karena katanya, aku seperti memiliki wajah yang tidak bisa diselamatkan lagi. Ditambah Chuuya bahkan ragu, apakah ia bisa menolongku seperti biasanya atau gagal total."

"Kata-kata Nakahara-san bukannya aneh?" Nama sang eksekutif Port Mafia turut Atsushi sebut. Bertubuh mungil pun Chuuya itu yang terkuat. Chuuya adalah yang bisa mereka percaya, untuk selalu lebih dekat dengan Dazai sehingga seharusnya, Chuuya tak sepesimis itu. Lagi pula Atsushi serta Kyouka pasti membantu Chuuya melindungi Dazai.

"Justru Chuuya baru bisa mengatakannya, karena ia merasa terhubung denganku. Kamu harus memercayai dia meskipun membenci perasaannya, Atsushi-kun."

"Jadi benar Anda akan pergi?"

"Seharusnya juga Atsushi-kun adalah orang yang baik, dan kamu tidak pernah membunuh siapa pun. Dibandingkan berkata, seharusnya juga aku menyelamatkanmu dan bukannya menjerembapkanmu, aku lebih suka bilang bahwa seharusnya, sangat baik apabila aku tidak menjadi apa pun sehingga tak berada di mana pun."

Ini bukanlah melankolis ataupun Dazai depresi. Senyumannya saja belum kehilangan apa-apa. Bertahan, karena tidak seorang pun dapat merenggut Dazai–bahkan air mata tak pernah sampai–ketika yang tinggal, dan tertinggal di dalam Dazai hanyalah entahlah apa yang memutari kekosongan.

Tidak ada yang pernah yang Dazai miliki, termasuk pula dirinya sendiri yang karena itulah, ia hanya selalu mendapatkan harap untuk bunuh diri. Pengelihatannya yang membuatnya menemui Atsushi. Pendengarannya yang memintal kenang-kenangan dari suara-suara Atsushi. Indra perabanya yang mengambil, lantas menuliskan perasaan Atsushi pada sekujur hati Dazai … semua itu semakin menunjukkan Dazai tak pantas untuk kehidupan di hari mana pun, sebab …

Dazai ini tidak dapat diisi oleh kebahagiaan apa pun. Semakin banyak seseorang menaruh sesuatu pada Dazai, kian bolonglah ia yang mempercepatnya menuju kematiannya.

Bahkan Oda Sakunosuke yang merupakan sahabat terbaiknya, seharusnya tidak pernah mengenali Dazai dengan cara seperti itu. Oleh karenanya, garis dunia ini sudah benar, di mana Oda bergabung dengan Agensi Detektif Bersenjata. Mengingat Dazai sebagai musuh yang harus ditumbangkan. Makanya Dazai takkan berkomentar apa-apa lagi, atau ia merusak.

Akutagawa Ryuunosuke yang di garis dunia lain itu selalu mengejar-ngejar Dazai, seharusnya pun tak perlu menjadi demikian. Setidaknya Dazai telah memperbaiki kesalahan tersebut di sini. Membuat Akutagawa bergabung dengan Oda, dan sama-sama percaya Dazai merupakan ayah segala kekejian. Dazai adalah yang terkejam ketika ia sampai tega hati, untuk menculik seorang perempuan kecil bernama Gin yang merupakan adik Akutagawa.

Kemudian tentang Chuuya … padahal garis dunia yang lain itu sudah benar untuknya, tetapi dia malah tolol dengan mengikuti Dazai. Lalu Atsushi …

"Tolong jangan berkata seperti itu, Dazai-san. Bukankah semuanya berhak hidup, baik itu hitam maupun putih?"

"Sayangnya aku berbeda dengan hitam ataupun putih, Atsushi-kun. Sebelum kamu pergi, ingatlah bahwa aku mengatakan ini, bukan serta-merta karena Chuuya berujar demikian. Aku menitipkan cerita mengenai dunia paralel, sebab percaya Atsushi-kun yang sekarang jauh lebih kuat untuk menerima apa pun."

Atsushi yang mengikuti punggung Dazai, dan mengenakan choker berduri untuk mengendalikan byakko di dalam dirinya, tentu saja menjadi kesalahan Dazai yang paling fatal. Seharusnya tidak begini, dan Dazai tak akan mengizinkannya lagi.

"Karena kau memiliki ingatan mengenai garis dunia yang lain, berarti Dazai-kun tentunya mengingat rasa sayangmu terhadap Atsushi-kun. Kalau menurutmu kau harus mati, maka ceritakanlah sedikit mengenai dunia paralel tersebut. Setidaknya Atsushi-kun yang di sini akan mengingat, bahwa kau selalu menyayangi dia."

Bukan pula suara Chuuya yang terekam, melainkan seorang detektif bernama Edogawa Ranpo. Memang benar Dazai itu membohongi Atsushi. Lagi pula kejujuran hanya merumitkan segalanya, karena hal tersebut pasti semata-mata membuat cemas Atsushi. Kenapa bisa-bisanya Dazai santai-santai saja mengobrol dengan anggota Agensi Detektif Bersenjata yang berstatus musuh?

"Sekarang pergilah. Pertemuan pertama ketika Atsushi-kun kelaparan, tes masuk agensi, kamu yang ditangkap Akutagawa-kun untuk dijual, menyelamatkan Kyouka-chan dari Port Mafia, mengenai Guild, Decay of Angel, Hunting Dogs … semuanya telah kuceritakan tanpa satu pun yang terlewat. Siapa sangka aku menahanmu sampai dua jam. Maaf."

"Apa itu perintah?" Karena di akhir Dazai justru mengatakan maaf. Menyadari bahwa yang dilakukannya sedikit melakukan kesalahan, Dazai langsung memasang ekspresi serius.

"Ya. Itu adalah perintah dan satu hal lagi, ingatlah bahwa aku selalu menyayangi Atsushi-kun. Inilah kadomu yang bisa kuberikan untuk lima Mei ini."

Pintu ruang kerja Dazai terdengar ditutup. Dengan begini ia pun bisa menghampiri jendela tanpa khawatir. Menikmati biru langit yang sesegera mungkin, menjadi tempatnya berakhir.

"Semoga nanti langitnya pun sebagus ini. Jangan sampai hujan, karena seolah-olah aku ditangisi."

Tidak memiliki tempat untuk dirinya sendiri pun, dan setiap kali Dazai menciptakannya hanya terlihat seperti neraka, setidaknya pula kekosongan; kematiannya ini, akan Dazai buat menjadi sedikit bermakna. Berapa kali pun Dazai harus pergi, sebab ia menerima perasaan dari rekan-rekannya, atau Atsushi yang selalu memercayai Dazai, seharusnya ini bukan apa-apa, asalkan Dazai bisa membawa mereka; Atsushi yang mana pun ke kehidupan yang benar.

Kehidupan yang benar, di mana Dazai selalu menunjukkan rasa sayangnya untuk Atsushi. Sampai akhirnya Atsushi tiba di sebuah tempat tanpa Dazai, dan Atsushi bahagia tanpa perlu mengenal Dazai–hal paling betul yang mesti Dazai tuju, bagi Dazai yang sebenarnya tak pantas hidup, makanya kematiannya harus mengubah; walau itu adalah cara paling menyakitkan untuk mengubah.

"Dazai-san …"

Sementara di luar ruang kerjanya, tanpa Dazai ketahui jua diam-diam Atsushi menangis dalam bisu. Ia tidak sanggup memberitahu Dazai, seharusnya jangan begini. Bahwa sebenar-benarnya jua Atsushi tidak peduli, mengenai seharusnya Atsushi, Dazai, tak begitu atau tak begini, karena yang terpenting untuk Atsushi ialah mereka yang sekarang–hanya sesederhana itu.


Tamat.

A/N: Balik-balik pas atsu ultah seenggaknya, daripada bener2 ngelupain fandom ini. Sebenernya juga ini malah lebih ke feel-nya si dazai ya, dibandingkan atsu itu sendiri. Tapi ya anggap aja, ini perasaan dazai buat atsu juga sih. Aku gak tau mau ngomong apa lagi. Yang pasti aku rindu sekali sama fandom BSD.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Lain waktu aku bakal kemari lagi kok.