Fate: Annihilation


Disclaimer: Naruto Series by Masashi Kishimoto dan Fate Series by Type-Moon. Ditulis tanpa berniat mendapatkan keuntungan materil.

Rate:M

Genre: Fantasy, Romance, Action

Warning: Typo, MissTypo, Out of Character, Tidak Sesuai EYD, Alternate Universe, and Etc.


Summary


Dia adalah seorang pemuda berlumuran dosa yang ingin menebus dosa-dosa masa lalunya. Di lain pihak, ia adalah seorang gadis tersakiti dan kesepian yang terpaku dalam rantai kebencian. Melalui ikatan benang takdir yang terjalin karena sebuah kesalahan kecil, mereka seumpamanya benang dan jarum, yang akan saling bekerja sama untuk merajut kain yang disebut dengan impian.


Chapter 0. Prologue

Mari kita kisahkan seuntai kisah seorang pemuda.

Kisah seorang pemuda yang mempercayai impiannya jauh lebih dari siapapun. Tanpa peduli apapun yang menggerogoti diri, ia tetap mempertahankan tekad dan tujuannya.

Impian pemuda itu benar-benar sederhana.

Keinginan agar orang-orang tersenyum dan bahagia; hanya itu yang ingin ia lihat.

Impian yang nampak kekanak-kanakan. Meskipun ia tahu bahwa setiap kebahagiaan memerlukan pengorbanan. Impian yang semestinya akan sangat mustahil untuk di raih karena siapapun tahu bahwa realita dunia itu amat kejam.

Tetapi, pemuda ini berbeda.

Mungkin karena dia adalah pemuda yang paling bodoh diantara yang lainnya. Mungkin ada sesuatu yang aneh dengan kepalanya. Sesuatu yang memikul kehendak Tuhan, yang tidak mungkin dimengerti oleh orang biasa.

Namun takdirnya membuat ia akan sulit untuk meraih impiannya.

Hidup di dunianya adalah suatu kekejaman.

Demi melenyapkan kesedihan di dunia ini, tidak ada lagi cara yang lebih baik selain dari membunuh. Demi menyelamatkan nyawa satu orang, dia harus membunuh satu orang yang lainnya.

Ironi di atas ironi adalah kata yang sangat tepat untuk pemuda ini.

Sejak kecil ia sudah dilatih untuk membunuh. Dengan alibi untuk menyelamatkan orang-orang, lagi dan lagi pemuda itu harus membasahi tangannya dengan darah.

Tanpa diskriminasi pemuda itu menyelamatkan orang-orang dan tanpa diskriminasi ia telah membunuh orang-orang.

Ia terlambat menyadarinya. Oh, bahwa apa yang selama ini ia lakukan adalah sebuah kesalahan.

Membunuh tidak akan bisa menciptakan senyuman; itu adalah hal yang pemuda itu sadari.

Membunuh hanya akan melahirkan dendam, dan dendam hanya akan melahirkan kebencian; hal-hal yang terus berputar-putar dalam rantai keputusasaan yang disebut Neraka.

Tapi tidak ada waktu bagi pemuda itu untuk menyesal. Ia harus tetap berpegang teguh pada impiannya meski kerap kali takdir memaksa ia berlumur dosa. Oh, takdir yang kejam.

Bahkan sampai saat di mana dia telah mendapati kematiannya.

—Tanpa menyadari bahwa dengan kematiannya, impian untuk menciptakan senyum di wajah semua orang akhirnya terwujud.

Dengan cara mengorbankan dirinya sendiri dalam pertempuran dahsyat melawan sang Dewi.

Illyasviel von Einzbern telah bersedia. Dia telah menunggu hari ini jauh sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia tengah berada di kastil Einzbern yang akan menjadi markasnya dalam ritual Heaven's Feel yang akan datang. Bersembunyi di antara dedaunan dan pepohonan hutan yang dekat dengan Kota Fuyuki, tempat di mana ritual akan dilakukan.

Sekarang dia berlutut dengan penuh kehormatan, menempatkan artefaknya yang dengan susah payah dicari oleh orang-orang Einzbern untuk menawarkan kepadanya sebuah peluang terbesar untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Artefak inilah yang akan memanggil Servant terkuat di bawah kelas terkuat; asalkan dia mengucapkan mantra dengan benar.

Samar-samar dia mendengar suara dentingan jam yang memukul waktu di kejauhan. Sekarang sudah jam tiga pagi, waktu yang sangat tepat karena sirkuit sihirnya akan berada pada puncaknya.

Lalu ditutuplah mata merahnya dalam-dalam, mencoba untuk mengalirkan energi ke dalam sirkuit sihir yang bersembunyi di balik nadinya. Kemudian, ia merasakan sirkuitnya mulai bersenandung dengan energi yang menari-nari dalam tubuhnya. Sambil menarik napas panjang, kemudian dia memulai mantra pemanggilan.

"Wahai fondasi, batu dan kontrak Archduke. Wahai leluhur ... guruku, Schweinorg. Menutup gerbang arah mata angin. Datang dari puncak, mengikuti jalan bercabang menuju Kerajaan."

Illya mulai merasakan keajaiban dari mantra pemanggilan yang ia senandungkan. Bersama dengan sirkuit sihirnya yang mengaduk-aduk, lingkaran sihir yang ditaburi oleh merkuri itu nampak mulai bercahaya.

"Penuhilah, penuhilah, penuhilah, penuhilah, penuhilah. Ulangi sebanyak lima kali. Tapi masing-masing terpenuhi, hancurkan. Set. Dengarkan kata-kataku—"

Illya menahan raut wajah sakit ketika sirkuitnya mulai terasa terbakar dan meletup-letup. Bersama dengan hembusan angin yang semakin keras, dia menggertakkan giginya kuat untuk menahan rasa sakit.

"Aku akan menciptakan tubuhmu, dan pedangmu akan menciptakan takdirku. Jika kau mendengarkan panggilan Cawan itu dan mematuhi kehendak dan alasanku, jawablah aku —!

Dengan ini aku bersumpah ... Bahwa aku akan melakukan semua kebaikan di dunia ini. Bahwa aku akan mengalahkan semua kejahatan di dunia ini. Ketujuh Surgamu yang dibalut dalam kekuatan tiga ucapan, keluarlah dari lingkaran pengikat ini ... Sang Timbangan Pelindung!"

Gelombang energi meledak-ledak saat ini, sebenarnya Illya belumlah selesai. Namun karena sirkuit sihirnya yang mendadak tidak bekerja sebagai mana mestinya, ia tak sanggup untuk melanjutkan lagi mantra yang lain. Mantra yang akan menjanjikan kemenangannya.

Illya tidak bisa berhenti untuk menggertakkan gigi dan membuat kedua kakinya bergetar saat sirkuit sihirnya mencoba untuk memasok Mana yang diperlukan untuk mengikat Roh Pahlawan kembali ke dunia ini.

Sialan, kenapa ini? Padahal setelah lama menjalani neraka latihan selama bertahun-tahun lamanya. Illya hampir tidak pernah mengalami kegagalan sedikitpun dan dapat memastikan bahwa sirkuit sihir yang ia punya memiliki kapasitas yang sangat-sangat tinggi.

Tapi kenapa? Kenapa saat ini tubuhnya langsung melemas seketika? Seolah-olah Mana yang ia berikan hampir tidak cukup untuk mengikat Roh Pahlawan itu.

Dengan mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya yang terasa semakin memudar, Illya tetap berdiri sambil merentangkan tangannya ke depan. Ia harus kuat menahannya. Ia berjanji bahwa ia harus kuat karena rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya selama ini jauh lebih sakit dari apapun.

Setelah sekian lama berlalu, ledakan energi dan cahaya terjadi di pusat lingkaran pemanggil yang membuat ruangan menjadi berasap-asap kemudian.

Ketika asap-asap itu mulai menghilang seperkian detik, bentuk humanoid samar-samar nampak terlihat di sana dan Illya dapat merasakan kalau sirkuit sihirnya mulai stabil dengan napasnya yang terengah-engah. Merasa penasaran akan Roh Pahlawan yang ia panggil, Illya memfokuskan matanya ke arah pusat dari lingkaran pemanggil itu dan mengabaikan rasa sakit dan lelah yang mendera tubuh.

Dan apa yang dapat ia lihat adalah sepasang mata biru yang bersinar terang namun nampak menyiratkan kesedihan.

Kini asap itu telah hilang sepenuhnya. Mata merah Illya akhirnya bisa melihat bentuk sempurna dari seseorang yang tengah berdiri di sana, di atas lingkaran pemanggil. Sosok itu nampak cukup tinggi, mungkin sekitar enam kaki. Rambutnya berwarna pirang seperti kelopak bunga Matahari. Wajahnya yang agak kecoklatan itu terlihat masih sangatlah muda. Ada ikat kepala aneh dengan logam yang menyembunyikan keningnya. Pakaiannya adalah jaket oranye dan hitam yang bagian kancingnya sengaja dibuka untuk memperlihatkan baju bagian dalamnya yang menyerupai jala.

Sejenak Master dan Servant itu hanya saling menatap, saling memeriksa. Tetapi suara dari sosok pemuda pirang itu memecah keheningan.

"Kamu yang telah memanggilku. Sekarang, aku bertanya kepadamu, apakah kamu Master-ku?"


Prologue Done


A/N:

Fanfiksi ini terinspirasi The Lucid Berserker by RedhathackerSin

Harap maklumi kalau kalau ada sedikit kesamaan, senpai.

Fanfiksi ini juga pernah saya publish di akun saya yang lain. Sengaja saya publish ulang karena saya tidak ingin semua fanfiksi yang saya tulis menghilang.