A/N: Bacalah pelan-pelan, senpai. Ku harap kalian dapat meresapi tulisan-tulisan ini.


Chapter 1

Pada awalnya Uzumaki Naruto menjadi sedikit bingung ketika mendapati bahwa ia telah hidup kembali. Gejolak Mana yang mengalir-ngalir di dalam tubuhnya merupakan bukti nyata bahwa ia benar-benar hidup.

Berkat Grail dia mengetahui informasi mengenai dunia modern yang dimasukkan ke dalam kepalanya. Ia juga sadar bahwa gadis kecil di hadapannya ini merupakan seorang magus; sebutan lain untuk penyihir. Dia tahu bahwa dia telah dipanggil sebagai Servant, yang adalah salah satu dari tujuh Roh Pahlawan yang dihidupkan kembali untuk menjalankan sebuah ritual.

Ritual yang disebut sebagai Heaven's Feel. Dalam ritual ini dia ditujukan untuk bertarung dengan keenam Servant lain hingga puncaknya hanya ada satu Servant yang tersisa untuk berdiri di puncak dan menerima kemenangan. Apa yang didapatkan sebagai imbalan kemenangan adalah sesuatu yang disebut sebagai 'perangkat pengabul segala kehendak'.

Perangkat itu bernama Cawan Suci, yang telah direbut-rebut selama ratusan tahun ini oleh para magus-magus terpilih yang dinamai Master; sebutan untuk magus yang telah mengikat salah satu dari tujuh Servant sebagai familiarnya.

Bicara tentang Master, gadis yang berada di hadapannya ini sudah pasti salah satunya.

Naruto kemudian melakukan kontak mata dengan gadis kecil itu. Matanya yang seperti langit biru bertemu dengan crimson merah darah. Ia mengambil waktu sejenak untuk mengevaluasi gadis tersebut.

Rambutnya seumpama salju putih yang membingkai wajahnya hingga berhenti di punggung kecilnya. Kulitnya seperti porselen yang nampak lembut dan putih merona-rona. Dia mengenakan rok putih sederhana dengan sepatu bot ungu yang begitu serasi dengan jaketnya yang ungu pula. Ansambelnya diakhiri dengan pita ungu muda yang diikat pada kerahnya.

Tak enak dengan kesunyian juga keheningan yang telah membentang lebih dari satu menit; tersenyum, sebelum kemudian bersuaralah ia.

"Kamu yang telah memanggilku. Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kamu Master-ku?"

Gadis itu hanya menatapnya sejenak seolah-olah tengah mencoba untuk memahami situasi ini. Sejumlah emosi nampak bermain-main pada wajahnya seolah-olah berbagai perasaan seperti kebingungan, kemarahan, kesedihan, ketakutan, kesepian, sedang menyelimuti gadis kecil itu.

Namun, emosi itu hanya berlangsung dengan cepat sebelum kemudian hilang dalam sekejap, terkunci di balik sangkar beku pada wajahnya yang begitu dingin. Sikap acuh tak acuh tampaknya menggantikan emosi-emosi itu ketika ia menjawab pertanyaan tersebut.

"Kurasa begitu." Suaranya begitu ringan dan terdengar seolah-olah ada sedikit es di sana. "Aku ingin bertanya. Apa kau adalah Heracles? Kau tidak terlihat seperti apa yang ku harapkan, kau juga sepertinya bukan seorang Berserker."

Pertanyaan ini memberi Naruto jeda kecil, sebelum berbagai hal mulai masuk ke dalam proses pemikirannya. Berkat Grail ia memiliki pengetahuan tentang bagaimana Roh Pahlawan itu bisa termaterialisasi dan ia tahu kalau gadis kecil itu pasti menetapkan standar yang tinggi. Naruto juga sadar kalau gadis kecil itu pasti berniat untuk memanggil salah satu pahlawan terhebat dari Yunani dan lalu berada di bawah kelas Berserker.

Naruto sejujurnya tidak merasa heran kalau gadis itu tengah kebingungan.

Sepertinya, mendapati pemuda di depannya yang seolah sedang merenungkan sesuatu membuat gadis kecil itu menjadi sedikit risih, itu terlihat dari kerutan jengkel yang terbesit pada wajah gadis kecil itu.

"Maaf karena telah mengecewakan mu, Master, tapi aku bukanlah seorang pahlawan terhebat dari mitologi Yunani."

Mata merah itu tampak langsung menunjukkan kekecewaannya pada pernyataan itu, tapi Naruto belumlah selesai. Masih ada beberapa hal yang perlu ia sampaikan.

"Aku juga tidak begitu yakin dengan kelasku, tapi aku berjanji tidak akan mengecewakan mu. Aku akan menjanjikan kemenangan untukmu, bahkan bila harus meremukkan tulang-tulangku."

Mata tajam gadis itu sekarang menangkap segala hal tentang dirinya, seolah-olah berusaha memutuskan apakah dia hanya membual atau tidak. Namun apa yang gadis kecil itu lihat adalah sesuatu yang disebut 'kesungguhan', sesuatu yang begitu sulit untuk ia lihat dari orang-orang lain yang pernah ia temui.

Illya menghela napas lelah. "Terserah padamu, aku tak begitu peduli dengan prosesnya. Yang aku nantikan adalah hasil akhirnya."

Naruto tidak bisa menahan sedikit senyum pada komentar tersebut.

"Sekarang, aku adalah milikmu, Master. Aku berjanji akan melakukan hal apapun yang kau inginkan, tapi aku tidak bisa apabila hal itu berkaitan dengan nyawa orang banyak."

Illya mengangguk acuh tak acuh sebelum bertanya. "Lalu bagaimana aku memanggilmu?"

Tersenyum, Naruto lalu melangkah lebih dekat pada gadis kecil itu. Gadis kecil itu menjadi kebingungan ketika mendapati pemuda pirang di depannya menunduk-merendah sesaat untuk mensejajarkan tinggi mereka.

"Kau bisa memanggilku Naruto, Master."

"..."

Illya hanya dapat terdiam dan termenung ketika mendapati sesuatu yang hangat di kepalanya. Itu nampak bergerak-gerak lembut, seolah-olah setiap gerakan kecil yang meninggalkan kesan hangat itu merupakan ibu dari segala kehangatan itu sendiri.

Kehangatan yang selalu ia inginkan selama sepuluh tahun ini.

Kehangatan yang selalu ia rindukan selama ini.

Untuk beberapa alasan, Illya membiarkan pemuda pirang bernama Naruto itu mengelus-elus pucuk kepalanya beberapa saat. Itu benar-benar terasa hangat dan juga nyaman. Mengingatkan Illya kepada ayah yang sangat ia benci.

Setelah beberapa detik gadis kecil itu mengambil gerakan tiba-tiba untuk menepis lengan itu dengan kasar.

"Jangan lakukan itu lagi, atau aku akan memberikan hukuman yang sangat menyakitkan untukmu."

Dengan suaranya yang rendah dan dingin, Illya menatap mata biru Naruto tajam seolah menjanjikan kematian. Bukannya apa, tapi gadis kecil itu tak ingin mendapati sesuatu yang mengingatkannya pada Kiritsugu; ayah brengsek yang telah meninggalkannya sendirian.

Naruto pada awalnya tersentak karena perlakuan itu. Tetapi setelah beberapa saat, setelah ia meniti dan menyelami mata merah itu; kesan yang ia dapatkan adalah sesosok gadis kecil yang amat kesepian. Gadis kecil yang merasa dikhianati dan dibuang dalam lembah dingin yang bernama kesendirian.

Naruto tersenyum sedih. Apa yang gadis ini perlihatkan nampak sama dengan sahabatnya dahulu. Dan juga sama dengan apa yang telah ia lalui.

"Pasti menyakitkan bukan?"

"Huh?"

Illya merasa terheran-heran. Apa yang sebenarnya pemuda ini katakan?

"Kesendirian itu. Kesendirian yang membuatmu merasa terasingkan dan dikhianati. Yang kau lihat, yang kau dapat, dan yang kau temui hanyalah lorong hitam yang begitu dingin dan senyap. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dibandingkan kesendirian."

Untuk beberapa saat gadis kecil itu berpikir. Untuk apa pemuda itu menceramahinya?

Kemudian Illya menatap diam sejenak pada mata biru di depannya. Mencoba menyelami samudera itu. Samudera biru yang menyiratkan kesedihan dan kenangan yang begitu dalam; seolah-olah ketika ia mencoba menyelam lebih jauh, hal yang ia dapati adalah ombak yang disebut keputusasaan.

Mata biru yang menyiratkan keputusasaan itu membuat bagian terkecil yang menyimpan segala perasaan dalam tubuh Illya menjadi tergerak. Entah kenapa apa yang telah pemuda itu ucapkan begitu mengenai dan menyentil hatinya yang telah beku sejak lama.

Setelah itu, gadis kecil pemilik nama Illyasviel von Einzbern tersebut telah mendapati satu hal. Sebuah fakta bahwa pemuda di depannya itu jauh lebih tersakiti kalau dibanding dengan dirinya.

"Baiklah, terima kasih untuk ceramahnya—" Wajah Illya menjadi agak melembut sebelum ia berbalik dan membelakangi Servant pirang itu. "—Naruto."

Senyum sedih yang pemuda pirang itu perlihatkan sebelumnya dengan segera berganti menjadi senyuman tipis dan hangat.

'Dia tersenyum.'

Batin Naruto bersyukur dengan bahagia ketika mendapati kalau gadis yang tidak ia ketahui namanya dan gadis kecil yang telah menjadi Masternya itu menyunggingkan satu ukiran senyum tulus sebelum dia berbalik membelakanginya.

"Aku menjadi sangat lelah sekarang, aku ingin pergi tidur untuk beristirahat. Tugas utama yang akan ku berikan padamu adalah awasi kastil ini dengan sebaik mungkin."

"Aku tidak akan mengecewakan mu, Master."

"Aku mengandalkan mu, Naruto."

Kemudian dini hari yang bertempat di sebuah ruangan luas dengan altar itu menjadi saksi akan takdir yang telah mengikat keduanya. Takdir yang akan terus terajut bersama dengan keinginan sang Homonculus dan impian sang Shinobi pirang.

Keinginan untuk balas dendam.

Impian untuk menciptakan senyum pada wajah semua orang.


Illyasviel von Einzbern telah sampai di dalam kamar tidurnya. Di sana terdapat sebuah kasur besar berlapis kain hangat dan tebal berwarna putih. Interior yang diperlihatkan oleh kamar itu adalah interior Eropa yang sangat-sangat elegan dan mewah.

Lampu-lampunya yang terang menampilkan lanskap penuh nuansa keemasan. Tak hanya itu, terkadang dekorasi berlian juga terselip dimana-dimana, memantulkan cahaya lampu dan berkerlap-kerlip.

Sekarang Illya langsung merebahkan tubuhnya ke tumpukan bulu-bulu unggas yang telah ditutupi dan dibalut oleh kain tebal dijahit dan dibuat sedemikian rupa yang disebut kasur. Ia lalu menghela napas sesaat.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mana dalam tubuhku langsung terkuras seketika ketika melakukan ritual pemanggilan?"

Gadis kecil itu bertanya-tanya dalam kesendiriannya. Ia nampak begitu terheran-heran dengan fakta ini mengingat kalau dia adalah salah satu pemilik sirkuit sihir terbesar dari siapapun yang sedang hidup sekarang.

Tidak hanya itu, tubuhnya yang seharusnya sudah kebal akan rasa sakit dan dipastikan tidak akan bisa merasa kelelahan juga membuat ia terheran-heran. Karena jujur, ia sangat-sangat kelelahan sekarang. Bahkan Illya yakin kalau ia menutup matanya sekarang, maka dalam satu menit kedepannya ia langsung tertidur.

Sebenarnya, ia sangat tidak memahami hal ini.

Apa ini juga dirasakan oleh Master lain?

Illya rasa tidak karena ketika seorang Master sedang melakukan ritual pemanggilan, maka Mana yang diterima oleh Roh Pahlawan tidak hanya dari Master itu. Tetapi langsung dari Cawan Suci sebagai salah satu bentuk atau bukti akan keajaiban yang Cawan itu bawa.

"Mungkinkah ini terjadi karena aku telah memanggil seorang Servant lebih cepat dua bulan dari yang seharusnya?"

Sekali lagi Illya bertanya-tanya pada dirinya.

Dan menurut gadis kecil itu, ini adalah alasan yang cukup akal karena ketika seorang Master melakukan ritual pemanggilan lebih cepat beberapa bulan sebelum ritual itu ditentukan, maka Mana yang akan membawa kehidupan Servant sepenuhnya milik Master itu sendiri.

Itu artinya kalau yang melakukannya adalah seorang magus kelas rendah dan tidak memiliki sirkuit sihir yang sangat kuat, maka memanggil Servant sebelum waktu yang ditentukan adalah tindakan bunuh diri.

Tapi Illya adalah permasalahan yang berbeda. Gadis kecil ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan magus di dunia. Yakni ketiadaan akan rasa sakit dan ketidakterbatasan jumlah Mana yang mengalir deras di bawah nadinya. Sehingga untuk Illya, berbulan-bulan sebelum ditentukannya ritual pemanggilan bukan merupakan masalah baginya untuk dapat melakukan ritual tersebut.

Tapi apa yang ia dapati dini hari ini adalah sesuatu yang berbeda. Tidak hanya rasa sakit dan lelah dari ritual pemanggilan, tetapi juga sesosok Servant yang bahkan tidak bisa mengetahui dengan jelas akan kelas yang dinaungi olehnya.

Huh, memikirkan hal tersebut membuat pikiran dan tubuh Illya terasa semakin lelah. Mungkin ia harus segera tidur sekarang.

Setelah merilekskan tubuhnya beberapa saat, gadis kecil itu menguap dengan pose imut sebelum memejamkan mata untuk berselancar di dalam ombak yang bernama mimpi.

Memasuki akhir di bulan Februari, tak terasa dua bulan telah terlewati begitu saja. Hari-hari yang diisi oleh kegiatan-kegiatan yang tak jauh dari praktik sihir; seperti latihan atau terkadang hanya sekedar berjaga-jaga untuk memantau kegiatan Master lain yang tersebar di penjuru kota Fuyuki.

Bicara tentang sihir, jujur Naruto sangat-sangat kagum saat kali pertama melihatnya ketika Illya sedang memperbaiki jendela yang pecah akibat ketidaksengajaan Shella; salah satu dari dua Homonculus yang merupakan pelayan pribadi Illya.

Sedangkan Illya sendiri yang sebelumnya sangat tertutup dan dingin seperti es, sedikit demi sedikit mulai mencair seumpama sumbu lilin yang bakar oleh api; yang ada untuk hangat ketika didekati dan terang untuk dilihat.

Sama seperti Illya, gadis itu tidak lagi dingin tutur katanya, tidak lagi gelap sorot matanya. Tutur kata Illya menjadi cukup baik dalam dua bulan ini dan juga sorot mata merah yang sebelumnya begitu gelap tanpa cahaya menjadi cerah; membuat dua pelayan Illya menjadi terkejut-kejut sendiri karenanya.

Di lain pihak, Naruto yang merupakan Servant dari gadis kecil itu juga senang akan perubahan Masternya. Meskipun Naruto tahu kalau menghilangkan perasaan balas dendam yang dimiliki oleh Illya agak sedikit kesulitan tampaknya.

Karena sampai saat ini, Illya terlihat masih sangat membenci seseorang. Seseorang yang tidak Naruto ketahui, tetapi ia yakin kalau orang tersebut sebenarnya sangat berarti bagi Illya.

Cinta akan melahirkan pengorbanan yang kemudian akan melahirkan kebencian.

Sepertinya kata-kata yang diucapkan oleh Nagato melalui Pain Tendou disaat bertarung melawan Naruto ada benarnya.

"Naruto, aku ingin kau meluangkan waktu untuk keluar dan membiasakan diri dengan perkotaan mengingat dalam dua bulan ini kau hanya pergi ke sana dua kali," Illya yang sedang berada di perpustakaan pribadi di kastilnya berbicara kepada Naruto yang sedang membawa nampan berisi satu cangkir putih dan satu teko berisi teh hangat yang ia minta beberapa menit yang lalu. "Apa kau tak masalah dengan itu?" lanjut gadis kecil yang tengah membalik-balik halaman kertas tua.

Tersenyum, Naruto hanya menggeleng pelan dengan artian tidak masalah dengan itu. Ia lalu menempatkan nampan yang ia bawa di atas meja di sebelah Illya kemudian menuangkan teh hangat yang telah ia buat ke dalam cangkir elegan putih di sana.

Sejenak, aroma teh wangi yang semerbak tercium menyelusup ke dalam sukma.

"Bagus. Kau harus terbiasa mengingat kota adalah medan tempur kita yang sesungguhnya," Illya berkata dengan nada serius dan dengan mata yang masih nampak fokus pada lembaran-lembaran kertas menyebalkan di depannya. "Kalau bisa kau harus menghindari pertarungan, cukup awasi saja. Mengingat kemampuan mu, ku rasa kau bisa melakukannya dengan mudah."

Naruto menyeringai pada ini. Dia memutuskan bahwa dia menyukai perintah yang diberikan oleh putri kecil itu dan memberi busur sebagai penanda bahwa ia sangat menghormati perintah itu.

"Keinginanmu adalah perintah bagiku, Illya-hime. Aku akan kembali setelah aku memeriksa kota dan melihat berapa banyak Servant yang aktif saat ini."

"..."

Illya tidak bisa menghentikan sedikit debu rona-rona merah yang tertabur pada pipinya saat ini. Dengan menoleh ia berniat akan menegur Servantnya atas nama panggilan yang konyol itu, tetapi sebelum tegurannya keluar, pemuda pirang itu telah menghilang dari tempatnya berdiri. Untuk ke sekian kalinya senyum kecil bermain di bibir Illya. Pemuda pirang yang mengaku sebagai Shinobi atau ninja itu benar-benar memiliki cara tersendiri untuk dapat membuatnya tersenyum.

Kemudian Illya meraih cangkir yang telah diisi oleh Naruto. Meniup pelan sebelum menyesap cairan yang seringkali digunakan sebagai media relaksasi tersebut.

"Teh buatan mu begitu enak seperti biasanya, Naruto."


Pada detik ini, Naruto sedang berdiri di atas menara tertinggi di kota Fuyuki. Ikat kepala hitam dengan pelat perak berukirkan lambang Konoha yang menyembunyikan keningnya tengah tertiup-tiup angin malam. Sekarang sudah dua jam semenjak ia diminta untuk berjalan-jalan di kota oleh Masternya; yang mana ia harus menggunakan Henge beberapa saat untuk berpenampilan layaknya manusia modern.

Karena tidak mungkin kalau ia harus berjalan-jalan menggunakan pakaian sehari-harinya yang berfungsi langsung sebagai zirah sihir yang melekat pada tubuhnya. Itu akan terlihat sangat-sangat menonjol dan aneh bagi manusia modern.

Naruto menghirup udara segar kemudian. Mencoba merasakan dinginnya oksigen yang melesat cepat dan bertukar dengan karbon dioksida di paru-parunya. Setelah beberapa saat dengan dirinya yang hanya diam sembari menutup kedua kelopak-kelopak matanya; ia mengalirkan Mana ke dalam tubuhnya. Dalam hitungan lima detik, ia lalu membuka kembali kelopak matanya; menampilkan bola mata biru yang memancarkan cahaya harapan meski tersirat sedikit kesedihan di sana.

Inilah saat dimana ia merasakan kalau kota ini benar-benar penuh dengan kehidupan. Sensor adalah salah satu kemampuan khusus Shinobi miliknya yang telah ia latih bahkan sebelum memasuki akademi. Dia bisa merasakan setiap makhluk hidup di kota dan itu hampir cukup untuk membanjiri indranya.

Ada ratusan ribu orang di sini dan agak sulit untuk merasakan semuanya sekaligus. Namun, ia juga dapat merasakan beberapa eksitensi dengan peningkatan Mana yang agaknya jauh lebih intensif daripada yang lain. Dia lalu memusatkan sensornya pada mereka untuk mencoba dan menentukan apakah ada sesuatu yang sedang terjadi atau tidak?

Dan tampaknya dia sangat beruntung. Dia merasakan dua intensitas Mana yang menyeruak meluap-luap sehingga ia dapat menebak kalau mungkin ada dua Servant sedang bertarung saat ini. Dan itu bertempat di area yang Naruto ketahui bernama Homurahara Akademi. Betapa menariknya, heh?

Naruto juga mampu mendeteksi setidaknya enam Servant lain selain dirinya yang sedang berkeliaran di sekitaran kota. Ini sangat aneh mengingat Illya sebelumnya mengatakan kalau sejauh ini hanya ada enam Servant yang telah dipanggil. Ada satu servant yang Naruto rasakan amat sangat kuat sekali tekanan Mananya dan ia merasa kalau itu terasa sangat kotor.

Naruto berpikir kalau ia harus melaporkan hal ini kepada Illya. Untuk saat ini ia rasa ia akan memberi salam kepada Servant yang sedang bertarung dan menganalisa seperti apa gaya bertarung mereka nantinya.

Tersenyum dalam seringai, Naruto lalu menghilang dengan Shunshin yang telah ia perkuat.


"Huh, gerakan kalian benar-benar menyenangkan untuk ditonton."

Menyembunyikan keberadaan dengan sebaik mungkin dan menunggu situasi yang tepat untuk bertindak adalah definisi Shinobi dari seorang Uzumaki Naruto. Sejak dulu, ia selalu menjadi petarung yang pasif; yang tidak begitu gegabah dan sangat tenang dalam mengambil keputusan. Ini merupakan salah satu alasan mengapa Uzumaki Naruto menjadi salah satu Shinobi yang paling ditakuti di Elemental Nation.

Ketenangannya, wibawanya dan pola pikirnya yang tajam sebenarnya merupakan hal yang membahayakan dari pemuda ini.

"Pria berbaju biru itu sudah pasti merupakan seorang Lancer, sedangkan pria berbaju merah itu agaknya sedikit meragukan," Naruto bergumam sembari melihat pertarungan yang sedang terjadi dari dahan pohon tempatnya duduk. "Dilihat dari tingkat akurasi yang dimiliki olehnya saat melempar bilah itu, aku bertaruh kalau dia adalah Archer."

Sementara di sebelah sana, Lancer benar-benar kesal pada bajingan yang dia lawan. Mereka telah beradu serangan satu sama lain, meskipun dia telah menghancurkan pedang bajingan itu sebanyak empat belas kali. Itu tetap tidak ada habis-habisnya dan membuat dia jengkel setengah mati.

Sialan, itu sangatlah konyol!

Tidak peduli apa yang dia lakukan, dia sepertinya tidak akan bisa menang melawan bajingan ini tanpa menggunakan Noble Phantasm miliknya.

Angin menderu.

Sekali lagi Lancer beradu mengaunkan tombaknya pada bajingan berambut putih berpakaian merah itu dan kemudian tiba-tiba bajingan melemparkan salah satu bilah pedang ke arahnya. Lancer tentu tak memiliki masalah untuk menghindar tetapi yang paling menjengkelkan adalah bajingan itu bisa mematerialisasikan pedang lainnya dengan sangat cepat.

Setelah beberapa pertarungan yang menyebalkan, mereka lalu melompat saling menjauh satu sama lain, mengambil waktu untuk sedikit bernapas.

Lancer menjadi semakin kesal. Archer macam apa yang menggunakan pedang dan bertarung dalam pertempuran jarak dekat? Menghela nafas Lancer dengan malas memutar tombaknya di lengan. Ia berpikir bahwa ia harus segera menyelesaikan ini mengingat Masternya merupakan seorang bajingan yang merepotkan.

Namun, sebelum hal lain bisa terjadi, ada sebuah peristiwa tak terduga. Lancer berkedip ketika dia melihat ke arah lain, dan melihat seorang siswa dengan rambut merah cerah berdiri di bawah sinar bulan mengamati mereka. Meskipun Lancer sebenarnya tak enak hati, tapi perintah dari Masternya adalah untuk segera membunuh setiap orang biasa yang menyaksikan mereka, dan ia akui kalau ia tak bisa untuk membantah.

Lancer dengan segera bersiap-siap untuk mengejar anak itu, tapi instingnya berteriak kalau ada bahaya yang mendekat ke arahnya.

Sesuatu sedang melesat cepat ke arahnya!

"Huh!?"

Lancer hampir tak punya waktu untuk terkejut ketika mendapati sebuah tendangan berputar yang mengarah ke kepalanya. Dengan segera ia memblokir tendangan itu menggunakan tombaknya dan itu membuatnya mundur ke belakang beberapa langkah.

"Sialan! Apa-apaan ini?!"

Lancer berteriak kesal. Ia memfokuskan visualnya untuk melihat siapa yang telah menyerangnya tersebut dan yang ia temukan adalah seorang pemuda pirang yang menggunakan ikat kepala aneh dengan pakaiannya yang terdiri atas jaket oranye dan hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka. Sosok itu mengenakan celana oranye panjang dengan berbagai lilitan yang asing di bagian pahanya.

Pemuda pirang itu hanya diam dengan wajahnya yang tenang.

"Kalau kau tetap ingin membunuhnya, kau harus melewati ku."

Meski nampak tenang namun terdapat penekanan di kata-kata itu. Setelah mengucapkannya, pemuda pirang itu mengeluarkan semacam dua bilah pisau kecil yang unik dari balik kantung celananya.

Lancer tidak bisa menahan untuk tersenyum haus darah ketika dia mendengar pernyataan itu. Dengan bilah kecil seperti itu melawan tombak kebanggannya, huh? Bajingan pirang itu sedang mencari mati nampaknya.


Naruto mulai menyesali keputusannya karena harus menghadapi Lancer secara langsung. Agak menyebalkan bertarung melawan tombak yang panjang dengan menggunakan senjata kecil seperti kunai.

Ia harus tetap memperhatikan poros dari tombak itu yang agaknya cukup menakutkan. Andaikata bilah kunainya meleset, tombak sialan itu akan langsung menusuk tubuhnya; dan dia tidak menginginkan hal tersebut.

Dalam satu menit, mereka telah beradu serangan dan saling mencari dan mengincar titik lemah lawannya. Namun yang terjadi adalah pertarungan setara yang membuat suara besi berdenting-denting bersama kembang api yang menyala-nyala.

Naruto menahan lesatan tombak menggunakan kunai yang berada di tangan kanannya, lalu melemparkan kunai yang ada di tangan kiri mengarah ke kepala Lancer. Tentu saja Lancer dengan segera memiringkan kepala, Servant biru itu tidak ingin kalah dengan konyol di sini.

Naruto menyeringai kecil, dia sudah memperkirakan hal ini. Dia lalu menggeserkan kunai yang ia gunakan untuk menahan tombak milik Lancer, kemudian masuk ke dalam pertahanan Lancer yang agaknya sedikit menurun. Selepas itu ia lalu mengeluarkan kunai yang lain yang ia sembunyikan di balik bajunya; bergerak dengan gerakan tiba-tiba untuk menusuk leher lawannya.

Melihat gerakan tiba-tiba itu agaknya tidak sama sekali membuat seorang Lancer untuk terkejut, dia tersenyum, senyum yang haus darah sembari hanya mengikuti arus yang diberikan oleh lawannya. Setelah beberapa detik yang dilakukan dengan tebasan, lesatan, hujaman dan tendangan; kedua Servant itu lalu masing-masing melompat menjauh mengambil jarak dari lawannya.

Keduanya masih bernafas dengan normal, terlepas dari upaya fisik yang dilakukan oleh mereka, mereka sama sekali tidak merasa kelelahan. Saling menatap, saling mengobservasi adalah hal yang dilakukan oleh mereka; seolah-olah sedang mencari titik lemah dan sedikit celah dari pertahanan masing-masing.

Menyeringai, lalu Lancer memecahkan keheningan.

"Tidak buruk. Tidak buruk sama sekali, Boy. Kau agaknya cukup tahu jalan tombak ku dan berani beradu duel dengan ku. Kebanyakan yang orang-orang lakukan adalah mencoba untuk keluar dari jangkauan ku, kau tahu? Tapi kau sepertinya lebih memilih untuk melawanku dengan jarak dekat, butuh nyali yang besar untuk itu, Boy."

Naruto tersenyum tipis ketika menjawabnya.

"Terima kasih untuk pujiannya, Lancer. Sikapmu yang tidak meremehkan lawanmu agaknya memang menampilkan sikap seorang Kesatria," Kemudian Naruto memejamkan matanya dan melanjutkan. "Tapi kau cukup lengah sehingga aku bisa terebih dahulu mengambil darah pertama."

Pada awanya Lancer tampak bingung pada pernyataan itu, tapi itu terjawab ketika setetes darah mengalir di pipi kirinya. Ia sedikit kaget ketika sadar ada luka goresan di pipinya. Masih dalam rasa terkejut yang menyelubunginya, Lancer menarik tangan kiri untuk menyentuh luka itu.

Beberapa detik kemudian. Lancer menyeringai setan yang kemudian diikuti oleh hawa mematikan yang haus akan darah; agaknya itu berasal dari tombak yang dipegang oleh Lancer.

"Sialan! Aku bahkan tidak merasakan kalau pisau kecilmu telah mengiris kulitku, huh? Aku rasa kau cukup pantas untuk menerima serangan sesungguhnya dariku, Boy. "

Mengernyit, Naruto tampak penasaran dengan apa yang Lancer rencanakan, dan ia dipaksa untuk merasa cukup terkejut ketika Lancer mengambil gesture yang aneh yang begitu haus akan darah meningkat berkali-kali lipat.

Seperti perasaan Naruto ketika bertemu dengan iblis saat sedang menjalankan misi mengawali seorang Miko bernama Shion dahulu.

Tidak ada keraguan lagi, ini adalah perasaan yang dia miliki ketika berhadapan dengan iblis Moryuu, meskipun hawanya agak lebih kecil tetapi hawa itu sangat cukup untuk mencekik pernapasan manusia-manusia normal.

Naruto melirik ke arah Archer yang berada cukup jauh dari tempatnya; ia melihat kalau pria dewasa berambut putih dan berpakaian merah itu langsung melindungi gadis cantik berambut hitam diikat kembar yang Naruto asumsikan sebagai Master of Archer.

Dari hawa membunuh ini. Dari sikap siaga yang diperlihatkan oleh Archer; sembari kembali menatap Lancer, Naruto menyadari sesuatu. Apa pun yang akan dilakukan Lancer, itu tidak akan menyenangkan.

Setelah hanya beberapa detik, Lancer menanam kakinya dengan kuat dan berteriak kuat-kuat.

"Gáe—"

Mata Naruto langsung menajam kemudian. Lalu jemari-jemarinya dengan segera untuk membentuk beberapa segel tangan sembari meningkatkan intensitas Mana pada sirkuit sihir yang bersembunyi dibalik nadinya.

"—Bolg!"

Dengan itu Lancer melompat tinggi sembari melemparkan tombaknya kuat-kuat. Itu begitu jelas kalau ia sedang menggunakan Noble Phantasm-nya.

Di lain sisi, Naruto yang telah selesai dengan segel tangannya langsung menghentakan kedua tangannya ke tanah; menyebabkan satu tembok tanah yang tinggi dan tebal dengan ukiran-ukiran kepala anjing nampak terbentuk untuk melindunginya.

Namun Gáe Bolg bisa membalikkan sifat kausalitas; yang mana jantung Naruto bisa langsung ditusuk sesaat setelah nama Gáe Bolg disebutkan. Jadi itu bukan kejutan bagi Lancer kalau Naruto harusnya telah tertusuk dan terbatuk-batuk darah meski telah dilindungi oleh tembok aneh itu.

Tapi apa-apaan ini, huh?

Apa yang terlihat bukanlah darah yang memuncrat-muncrat atau sesosok pemuda yang tengah tertusuk oleh merah darah, tetapi hanya sekumpulan asap dan debu karena tombak tadi telah menembus dinding tanah itu.

Lancer sebenarnya agak bingung, ia yakin kalau tombaknya benar-benar telah mengenai Servant yang tidak ia ketahui kelasnya tersebut. Meskipun sangat aneh menurutnya ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. Hal yang ia yakini adalah bahwa ia telah membunuh satu Servant malam ini, dan juga dia harus cepat-cepat untuk mengejar bocah berambut merah yang melarikan diri itu.

Dia harus segera membunuhnya sekarang atau ia akan melanggar perintah Masternya.

Dengan itu, Lancer menghilang dalam partikel-partikel energi biru yang berkedip-kedip.


Naruto sedikit tersentak ketika dia mendapatkan ingatan dari klon yang ia kirim untuk menyaksikan pertempuran antara dua Servant. Rupanya seorang siswa telah menemukan mereka dan Lancer yang memutuskan untuk membunuh bocah itu.

Raut wajah Naruto sedikit mengeras, karena kelalaiannya nyawa seorang yang tidak bersalah telah terbunuh karenanya. Ia tahu karena saat ini ia tidak dapat merasakan energi kehidupan yang khas milik siswa itu di kota ini. Mungkin, Lancer dapat langsung mengejarnya mengingat ia adalah sosok Servant.

Jujur, Naruto menyesal karena salah dalam bertindak. Pada awalnya ia mengirim satu klon untuk mengamati dua Servant untuk mendapati gaya bertarung mereka, tetapi dia tidak menyangka kalau klon tersebut akan bertarung akhirnya dan yang paling menyebalkan adalah dia sama sekali mengharapkan Lancer untuk menggunakan Noble Phantasm-nya begitu cepat.

Di pertarungan berikutnya, Naruto akan memastikan kalau ia akan sangat berhati-hati terhadap Lancer.

"Wah, makan mu banyak sekali anak muda! Ini kali pertamanya aku melihat bekas mangkuk ramen yang menggunung-gunung seperti itu."

Naruto tersenyum ketika menoleh. Dapat dilihat oleh matanya kalau pak tua yang sedang mengenakan pakaian koki putih-putih sedang memandang dengan tatapan tidak percaya; tatapan tidak percaya pak tua itu juga diikuti oleh orang-orang lain yang juga sedang berada di kedai ini, kedai ramen kecil yang berada di tengah-tengah kota.

"Aku hanya sedang merindukan makanan ini, ossan. Sudah lama aku tidak memakannya."

Pak tua pemilik kedai itu hanya tertawa lepas.

"Ahahaha, jadi begitu! Apa kau telah lama berada di luar negeri atau semacamnya, huh?"

Naruto masih tetap tersenyum, lalu ia mengangguk kecil sesaat untuk membenarkan ucapan pak tua tersebut. "Itu benar, ossan. Aku lama tinggal di Munich, Jerman, lihatlah rambutku sudah berubah menjadi pirang karena saking lamanya." Kata Naruto yang nampak natural dengan kebohongannya.

Mendengar jawaban itu pak tua tersebut tersenyum dan menggeleng-menggeleng. Ah, mungkin ia harus memberikan diskon kepada pemuda ini. Dilihat dari sebelas mangkuk kotor yang telah tersusun di samping pemuda itu, agaknya pemuda itu sedang kelaparan, huh?

"Yosh, baiklah anak muda. Kalau kau mampu memakan sampai lima belas mangkuk ramen, aku akan memberikan kepadamu sebuah kupon ramen gratis selama lima belas hari penuh!"

Naruto menyeringai kecil pada tantangan itu. Lima belas hari penuh katanya? Baiklah, Naruto akan menerimanya. Lagipula lima belas mangkuk ramen sebenarnya masih belum cukup bagi pemuda pirang itu. Meskipun ia sebagai Servant yang sama sekali tidak bisa untuk merasakan lapar, tetapi mengingat kecintaannya pada ramen maka nafsu makannya tidaklah berkurang sama sekali.

"Hooh, baiklah ossan. Akan ku buat kau terkesan dengan cara ku memakan ramen ini."

Selepas itu Naruto dapat menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh pak tua pemilik kedai dengan sangat cepat. Melihat seorang pelanggan yang memiliki nafsu makan tinggi terhadap ramen buatannya membuat pak tua itu merasa senang.

Seperti perjanjiannya, Naruto diberikan satu kupon kertas berukuran kecil dengan huruf merah yang bertuliskan [Selamat, kamu diperbolehkan untuk memesan ramen dikedai ini tanpa membayar dalam lima belas hari ke depan!] Tak hanya itu, lima belas porsi yang telah ia makan sebelumnya diberikan secara gratis oleh pak tua tersebut yang membuat Naruto yang awalnya menolak untuk menerima pada akhirnya harus menyerah.

Setidaknya, ini merupakan keberuntungan untuknya. Ia tidak perlu untuk menggunakan beberapa uang yang telah disuguhkan oleh Illya kepadanya beberapa jam yang lalu. Hmm, mungkin dia akan menggunakan uang ini untuk membelikan sesuatu kepada Masternya. Sesuatu yang pasti akan selalu digunakan oleh Illya.

Naruto berpikir kemudian, sesuatu seperti apa yang pasti akan selalu dikenakan oleh gadis kecil itu?

Gelombang rasa kejut yang dingin dan menusuk ke tengkuk dapat langsung dirasakan oleh Naruto ketika angin musim dingin tengah bertiup melalui bagian depan kedai yang dibiarkan terbuka. Tunggu, musim dingin?

Tersenyum, Naruto tahu apa yang akan ia beli sekarang sebagai kado oleh-oleh yang akan ia berikan kepada Masternya.

Setelah berpamit dengan pak tua pemilik kedai sambil melambai-lambaikan tangannya, ia lalu berterima kasih dan berjalan keluar melalui pintu besar kedai tersebut. Kemudian, ia memacu langkahnya menuju suatu tempat dimana ia bisa menemukan benda itu, benda yang ingin dibeli olehnya.

Namun, ia tiba-tiba tercekat ketika kemampuan Sensornya dapat merasakan intensitas Mana yang meluap-luap. Seketika ia sadar, ia sadar kalau perang yang sesungguhnya telah dimulai. Perang yang amat tidak ia sukai, tetapi tetap harus ia ikuti.

Bersama dengan hadirnya Servant terakhir yang telah berhasil dipanggil ke dunia, Heaven's Feel yang sebenarnya baru saja dimulai.


A/N:

Disclaimer: Naruto Series by Masashi Kishimoto dan Fate Series by Type-Moon.

Ditulis tanpa berniat mendapatkan keuntungan materil.