PROLOG


Di sebuah jalanan yang ramai.

Terlihat seorang remaja bersurai kuning cerah berjalan sambil membawa sebuah tas. "Hehe, setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku dapat membeli Project Fantasy Edisi terbaru," ucapnya tersenyum.

Remaja kuning tersebut tiba — tiba menghentikan jalannya saat melihat seorang gadis tengah menyebrangi jalan. Gadis itu berjalan sambil memainkan Handphone di tangannya. Remaja itu merenggut, "Bukannya berbahaya kalau dia main Handphonesaat menyebrang?"

Dan pada saat itu, remaja itu melihat dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil hitam. Matanya membulat dan berteriak, "Hei, kau! Awas!" Namun sayang, teriakannya tidak terdengar oleh si gadis.

Tinnnn ...

"Kyaaaaaaa!"

"Tidak ada pilihan lain."

Remaja bersurai kuning itu mulai meletakan belanjaannya dan bergegas menuju gadis itu. Dia berlari dan sampai disana, remaja laki — laki tersebut langsung mendorong kuat gadis itu dan menyelamatkannya. Sesaat remaja itu tersenyum melihat usahanya berhasil.

Tinnnnn ...

Remaja laki — laki itu melihat mobil hitam mulai mendekat ke arahnya dengan suara klakson panjangmemperingati.

"Obaa-san." Remaja itu berujar.

"Naruto-kun, saat kamu ingin menolong seseorang, ingatlah dua pesan nenekmu ini. Pesan pertama, tolonglah seseorang dengan iklas dan sungguh-sungguh."

"Hai, aku sudah melakukannya, Obaa-san," ujar remaja itu mulai mengeluarkan air mata.

"Lalu pesan nenek yang kedua. Pastikan dirimu baik — baik saja ketika menolong seseorang."

Mobil hitam yang bergerak lambat itu sudah semakin dekat. Remaja laki — laki bersurai kuning mulai menutup kedua bola Blue Sapphire-nya seraya menunggu pasrah dirinya akan tertabrak. Bibirnya mulai berucap,

"Tapi, maaf, Obaa-san. Aku melupakan pesan terakhirmu." Remaja itu membuka matanya. Dia melihat sosok neneknya yang berada di alam sana sedang berdiri menatapnya tersenyum.

"Obaa-san."

Tinnnnn

Brak!

"Kyaaaaaaa!"

"Ada yang tertabrak!"

"Cepat! Panggil ambulan!"

Berbagai macam suara masuk ke kepalanya. Namun, ia tidak bisa berpikir dengan jernih, ia pusing. Sekujur tubuhnya terasa begitu sakit, pandangannya pun mengabur perlahan. Perlahan — lahan kesadarannya mulai menghilang ...

... Hingga.

Menggelap!


REINKARNASI


Aku mengerjap beberapa kali ...

"Dimana aku?" tanyaku saat melihat pemandangan disekitar cukup gelap.

"Tempat apa ini?"

Tidak lama kemudian, tiba — tiba sebuah cahaya bersinar sangat terang di depanku. "Cahaya apa ini?" tanyaku sambil menghalau sinarnya dengan telapak tangan.

"Selamat datang di alam suri," sambut sebuah suara feminim di telingaku.

Aku mulai membuka mata dan melihat seorang gadis asing berupawan cantik berdiri di depanku. Satu pertanyaan muncul dibenakku.

"Siapa kamu?" tanyaku sedikit sopan.

Gadis itu tersenyum manis, "Aku adalah seorang dewi. Dewi yang bertugas untuk mengatur kehidupan seseorang. Dan, ini saatnya aku menentukan apakah kamu akan mati atau hidup kembali," jelasnya.

"Maksudmu?" tanyaku belum mengerti.

"Kamu tahu, kamu sudah mati, bukan?" tanyanya tersenyum.

Aku terdiam beberapa saat. Aku lalu mengangguk dan menjawabnya dengan ragu, "I-iya."

"Namun, kamu belum bisa dikatakan mati, karena saat ini kamu sedang berada diambang kondisi dimana kamu berada diantara kehidupan dan kematian ..."

"Hah?" Aku bersuara linglung, tidak mengerti arah pembicaraannya.

"Nah, sekarang kamu kuberi dua pilihan. Kamu ingin langsung mati dan pergi ke alam selanjutnya atau hidup kembali ke dunia yang baru," tawar gadis itu.

"Eh?" Memang bisa begitu? Aku boleh memilih pergi ke surga — neraka atau bereinkarnasi ke dunia baru? Kalau begitu, bukannya sudah pasti pilihanku yang mana ...

"Jadi, aku boleh memilih? Apa ada konsekuensinya?" tanyaku masih kurang yakin dengan apa yang kudapat. Kulihat dia tersenyum.

"Tidak ada konsekuensinya. Dan juga, ya kamu bisa memilih antara mati atau hidup kembali," jawab Dewi cantik itu. "Jadi kamu ingin memilih yang mana?"

"Aku akan memilih yang hidup kembali saja. Aku masih ingin menikmati yang namanya kehidupan duniawi," jawabku dan mendapat senyum lebar oleh sang Dewi.

"Jaa, kalo begitu aku akan mengirimmu sekarang," ucapnya semangat.

Aku hanya mengangguk saja. Dia pun mulai merapal sesuatu. Dan saat itulah aku merasa tubuhku seperti dirasuki sesuatu. Aura — aura gelap mulai mengelilingi tubuhku. A-apa ini? Tubuhku melayang dan kulirik Dewi tadi, dia masih tersenyum kepadaku.

Namun, aku melihat sedikit ekspresi aneh di wajah cantiknya. "Aku tidak menyangka kamu yang akan dipilih olehnya."

Ha? Aku tidak mengerti maksud perkataannya.

"Apa maksud—"

Ucapanku terpotong saat sebuah portal putih menarik tubuhku ke atas. Sepertinya itu adalah portal reinkarnasi ke dunia lain. Sesaat, aku mengalihkan pandangan kembali ke Dewi tadi. Dan yang kulihat adalah wajahnya yang mengeluarkan bening air mata.

Apa dia menangis?

Tapi ...

Kenapa?

Dan, setelahnya pandanganku pun menggelap seperti saat mati.


Beberapa saat kemudian ...

(setelah proses reinkarnasi)

"Aku tidak menyangka itu sosoknya di dunia itu."

"Itu sudah pasti, Kakak. Dia merupakan salah satu dari orang yang terpilih. Jadi, wajar saja bukan kalau dia mendapat peran itu. Terlebih lagi, hanya itu satu — satunya yang tersisa."

"Ta-tapi, itu bukanlah peran yang bagus."

"Kau terlalu mengkhawatirkannya, Kak."

"Mau bagaimana lagi, Adik. Memang beginilah sifatku."

"..."

"Aku harap ...

... Dia baik — baik saja disana."


Author Note:

Ini hanya FanFiksi sampingan saja yang tidak akan mempengaruhi FanFiksi-ku yang lain. FanFiksi ini aku kerjakan di tempat lain, tetapi masih di dunia yang sama. Dan FanFiksi ini bisa kukatakan sebagai rival dari FanFiksi pertamaku yang berjudul Yyang memiliki ide berbeda, tetapi dengan konsep yang sama.