Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 1

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre :Romance, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Itsuki

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Silahkan membaca dengan santuy~
.

.

.

.

.

"Kau sangat payah! Ini pertemuan penting dengan temanku, bagaimana bisa kau melakukan hal seceroboh itu? Mereka itu kolega penting untuk perusahaanku! Kau ingat? kau makan makanan kelas atas seperti babi di hadapan mereka! Kau membuatku malu..!" Ucap seorang pria dengan perawakan rapih memakai setelan jas, dengan kejamnya dia memarahi seorang gadis yang tengah membereskan barang-barangnya di sebuah koper besar.

Gadis bersurai jingga kemerahan yang akan berumur 28 tahun itu hanya menunduk dalam hingga wajahnya tertutupi poni rambutnya seraya memasukan barang-barang penting ke dalam koper besarnya. Malam ini, tunangannya mengajaknya ke sebuah acara makan malam yang mewah dengan teman-teman elitnya.

Pria yang ditunangkannya ini berasal dari keluarga terpandang yaitu Uchiha, bekerja sebagai pengusaha handal yang berdedikasi tinggi. Terkenal sangat tegas akan segala hal. Bahkan, termasuk mengatur tingkah laku calon istrinya. Begitulah yang dikenal dari Uchiha Shisui.

Tapi, berbeda dengan si gadis yang mulai tertekan dengan hubungan yang tidak membahagiakannya, menguntungkan pun tidak. Saat berpacaran hubungan mereka cukup baik, Shisui tidak pernah memarahinya dan bersikap seperti pria bertanggung jawab. Pria impian para kaum hawa.

Berasal dari keluarga terpandang, tampan, dan pintar. Namun semua berubah ketika dia mulai bertunangan, Shisui mulai suka mengatur tingkah lakunya, caranya berpenampilan, caranya berbicara, bahkan memaksanya dengan membentak dan mengejeknya. Itulah yang dipikirkan perempuan yang tengah memeras baju yang dia masukan ke dalam koper besar.

"Kau harus memperbaiki tingkah lakumu, bukankah kau seorang guru? Bagaimana bisa kau mengajari muridmu bertingkah seperti babi? Ayolah~" ucap Shisui yang sudah membuat gadis dengan status tunangannya kesal, bahkan sejak datang ke rumah gadis itu tidak bicara dia langsung ke kamar mengambil koper dan pakaiannya.

Disebut Babi tidaklah membuat gadis tersebut senang, tentu saja dia manusia bukan babi. Rasanya dia ingin merobek mulut pria di hadapannya, dia kesal kenapa dia menerima tawaran untuk bertunangan dengan pria kurang ajar di balik topeng sandiwaranya. Ternyata pesan dari Ibunya dulu ada benarnya, untuk berhati-hati ketika memilih laki-laki. Lagipula Itsuki menerima pertunangan tersebut atas dasar saran dari ayahnya, karena keluarga Uchiha merupakan teman baik dari Ayah angkatnya, Nakano Maruo.

"Dan sekarang kau mengambil kopermu? Kau ingin pergi dari sini? Yang benar saja Itsuki, kau membatalkan pertunangan kita hanya karena masalah kecil, bahkan itu semua juga salahmu-"

Brak!

Gadis tersebut menutup keras kopernya lalu berbalik menatap tajam tunangannya dengan bola mata birunya, "Seterah kau mau bilang apa! Aku bukan babi! Ataupun makhluk hina lainnya, kau selalu mengaturku bahkan aku tidak melawannya. Aku terus bersabar karena aku yakin kau melakukannya untuk kebaikanku!" Itsuki menatap tajam pria di hadapannya sampai Shisui memandang aneh pada Itsuki yang baru kali ini melawannya.

"Mou ii, aku sudah tidak bisa menahannya lagi! Aku berhenti!"

.

.

.

.

.

Dan begitulah, sekarang perempuan dewasa yang sebentar lagi berumur 30 tahun itu menumpang di restaurant milik kedua saudari kembarnya. Setelah berpisah dengan tunangannya sebulan lebih, dia sama sekali tidak menyesal. Kini kedua pipi tembemnya mengembung karena mengunyah nasi sebagai sarapan pagi bersama kedua saudarinya.

"..Padahal kau baru saja berpisah dari tunanganmu, tapi kau kelihatan baik-baik saja.." ucap Nakano Nino yang merupakan saudari kembar dan kakak kedua Itsuki karena lahir lebih dulu.

"Aku ingin tambah!" Tanpa mendengarkan saudarinya Itsuki menengadahkan tangan meminta tambah pada Nakano Miku, saudari kembar dan juga kakak ketiganya yang hanya tersenyum lembut mengambil cawan nasi milik Itsuki.

"Kau bahkan masih kuat untuk tambah.." gumam Nino tersenyum sarkas pada Itsuki si bungsu.

"Kalian tidak tahu, betapa aku sangat stress menghadapi pria sombong itu.." jelas Itsuki yang mengambil cawan yang diberikan Miku dan sudah berisi nasi, "..daripada memikirkan cinta-cintaan, menikmati sarapan pagi jauh lebih baik. Aku hanya mencoba menyayangi diri sendiri! Bukankah kalian juga pernah berkata begitu?" Tanya Itsuki pada kedua saudari kembarnya yang pernah merelakan pria yang mereka cintai untuk adik kembar mereka.

Wajah Nino memerah mengingatnya lalu memukul meja dengan pelan, "Jangan mengingatnya! Itu sudah lama sekali. Dan lagi aku dan Miku sudah menikah, jangan buat suamiku menatap tajam di pojok sana.." Jelas Nino untuk menyembunyikan rasa malunya dengan menunjuk suaminya yang terlihat menatap dengan aura dingin di pojokan saat sedang mengupas wortel.

Itsuki hanya tertawa canggung, "Ehehe~ gomen nee, tapi aku serius. Shisui-kun sangat menyebalkan, dia selalu mengatakan hal yang kejam seperti porsi makanku yang seperti babi. Dan memarahiku jika melakukan hal yang sedikit mengganggunya. Perempuan manapun, akan sakit hati." Jelas Itsuki kembali memakan salad kentang bagiannya.

"Bukannya porsi makanmu memang banyak seperti babi?" Sindir Nino yang membuat wajah Itsuki memerah.

"Aku makan banyak karena semua itu enak!" Jelas Itsuki yang mengembungkan kedua pipinya kesal.

"Tapi, aku setuju dengan Itsuki, pria seperti itu tidak baik. Habisnya setiap orang punya keinginannya sendiri." Jelas Miku tersenyum lembut, membuatnya terlihat berkilauan.

"Miku.." Itsuki memandang Miku dengan terharu.

"Daripada itu, Itsuki, bukankah hari ini kau pindahan? Apa kau butuh bantuan?" Tanya Nino pada Itsuki yang memandang tepat di depannya.

"Un, aku sudah mengepak barang-barangku, tapi rencananya di kirim besok. Soalnya sekarang pria itu sedang libur, aku tidak ingin melihatnya." jelas Itsuki dengan wajah jengkel.

"Oh, begitu ya? Kalau begitu, menginap saja untuk malam ini.." jelas Nino menawarkan Itsuki untuk menginap semalam lagi, tapi Si Bungsu menggeleng.

"Uun, aku akan ke apartement baruku saja. Aku sudah banyak merepotkan kalian. Lagipula, aku tidak enak pada suami kalian jika terus menahan kalian di sini untuk menemaniku.." Jelas Itsuki memalingkan wajahnya dari kedua saudarinya yang sudah menjadi istri juga dengan pria yang mereka cintai, dari kelima saudara kembar ini hanya Ichika dan Itsuki yang masih melajang.

"Tapi, bukankah barangmu dikirim besok? Lebih baik kau menginap di sini, kau bisa kedinginan.." tanya Miku khawatir dengan Itsuki yang semalaman tidur di apartement kosong sendiri, lebih baik dia menumpang di restaurant milik Miku dan Nino tersebut.

"Tidak apa-apa, aku akan meminjam selimut pada teman kerjaku. Kalian sendiri tahu kan, aku bisa mengurus diriku ini dengan baik.." jelas Itsuki yang kembali melahap makanannya dengan bahagia, dia baru saja akan memulai kehidupannya sebagai perempuan kuat tanpa bantuan pria, belum lagi dia mendapatkan pekerjaan baru.

Setelah beberapa saat, selesai dengan sarapan paginya Itsuki pergi bekerja di sebuah universitas sebagai dosen Fakultas Sains dan Teknologi, dia baru bekerja sebagai dosen 6 bulan setelah mendapat sertifikasinya.

Tepat di hari pertamanya mengajar Itsuki langsung populer karena dianggap cantik dan awet muda oleh mahasiswanya. Terutama karena belum menikah di usianya tahun ini, dia cukup terkenal di kalangan murid pria. Meskipun Itsuki sangat tegas dan galak bagi mereka semua terelakkan karena kecantikan Itsuki, entah mengapa Itsuki semakin mirip dengan mendiang Ibunya.

"Nakamura Yuko-san.."

"Hai.."

"Namikawa Kou-kun.."

"Hai.."

"Namikaze Naruto-kun.."

"..."

Itsuki terdiam menatap seluruh mahasiswanya, dia menghela nafas ketika menyadari kalau nama yang dia sebut tidak ada di kelasnya hari ini. Dia sangat kesal dengan mahasiswa yang satu ini karena tidak pernah muncul di kelasnya. Dia menulis tanda silang pada absennya dan mencoret nama Naruto. Itsuki lagi-lagi dibuat penasaran dan kesal di saat bersamaan.

Kemudian waktu menunjukkan jam 5 sore ketika semua pekerjaannya selesai, Itsuki membawa belanjaan sambil bersenandung. Dia telah menyewa apartement yang tidak terlalu besar, namun dekat dengan Universitas Konoha dan hanya membutuhkan waktu 7 menit berjalan kaki, itulah mengapa Itsuki tidak ingin menginap di rumah kedua saudarinya. Dengan jarak yang dekat dengan tempatnya bekerja, dia akan memiliki lebih banyak waktu dibandingkan menginap di rumah saudarinya yang membutuhkan waktu satu jam naik kereta.

Langkahnya telah memasuki halaman apartement, kamar bernomorkan 205 adalah tempat tinggalnya sekarang. Langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua hingga sampai di lorongnya. Melewati 4 ruang apartement, dia sampai di depan ruangannya yang berada di pojok dengan bersiap mengambil kunci di tasnya.

Itsuki memasukan kuncinya ke lubang kunci dan memutar pintunya. Lalu membuka pintu apartementnya yang ternyata lampunya menyala membuatnya terkejut. Dia berpikir mungkin sebelumnya pemilik apartement mengecek kamar itu, dan lupa mematikan lampunya. Tapi ketika memasuki ruang teras, Itsuki melihat jelas ada sepatu tali milik laki-laki di terasnya dengan posisi berantakan dan terpisah.

Ini terasa aneh, dia tadi dapat membuka pintu yang dikunci jadi tidak mungkin dia salah ruangan. Dan dia kembali memeriksa nomor ruangannya di luar, tidak salah angkanya tercantum di pintu 205. Pikiran Itsuki mulai kalang kabut ke hal negatif, apa mungkin ada orang yang gantung diri di dalam?! Tidak ingin menerka hal yang mustahil, Itsuki dengan kaki bergetar melangkah ke dalam. Tangannya memegang erat tali tasnya.

Langkahnya mulai mendengar remang-remang suara ketika memasuki ruang tengah, memberanikan diri Itsuki melangkah demi langkah. Itsuki merasa ada sesuatu di ruang tengah, dia meneguk air liurnya sendiri, lalu tangannya menggeser pintu pelan untuk memastikan tak mengejutkan orang di dalam.

"Ojamashimasu~ apa ada orang?" Tanya Itsuki yang tak mendapat jawaban apapun.

Lalu telingahnya mendengar suara yang terkesan erotis dan membuatnya terdiam, matanya melihat pemandangan dimana terdapat remaja bersurai pirang yang tengah duduk di tengah ruangan, hanya saja dia menurunkan celananya hingga betis dan di sekelilingnya terdapat tisu kotor yang berserakan.

Remaja itu yang mendengar suara pintu bergeser dan seseorang bertanya perlahan menengok dengan wajah terkejut nan polos, sambil kedua tangannya memegang kejantanannya yang tegang dan mengeluarkan cairan penetrasi. Pandangannya bertemu langsung dengan Itsuki yang merasa terkejut juga. Mereka terdiam untuk beberapa saat, mencerna situasi yang terjadi.

"Ah! Ah~! Sugoi hageshi! Mmn.. ah! Kimochii! Ahn~"

Wajah Itsuki langsung merona melihat ke layar laptop di depan remaja, menunjukkan wanita cantik dengan payudara yang besar hanya menggunakan apron tengah bermain kuda-kudaan dengan seorang pria yang telanjang di atas meja makan.

Remaja pirang tanpa sadar juga membeku ketahuan onani oleh seorang perempuan yang tidak dikenal. Wajahnya si pemuda kini mulai pucat dan berkeringat, sedangkan si wanita sudah merona hingga seluruh wajahnya menjadi semerah rambutnya.

Apa ini? Siapa orang ini? Orang mesum yang menyusup?! jelas Itsuki bermonolog di dalam hati.

Si remaja pirang tersebut langsung bangkit lalu membuang muka penuh penyesalan dari perempuan yang berdiri di bibir pintu ruang tengah, "M-mengejutkan sekali.." jelasnya lalu perlahan mulai menaikan celananya, memasang kembali kancing dan menaikan resletingnya, "..tiba-tiba ada orang yang masuk, perasaan aku sudah mengunci pintunya.. ahahaha.." Naruto tertawa garing lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya dia juga merasa aneh dengan kemunculan Itsuki ke dalam apartementnya.

"Ahn! Ah! Aku akan sampai! Ahn! Ah~ Iku! Iku! Iku-" Naruto langsung memencet icon kotak untuk mematikan video di laptopnya lalu menutup layar laptop, "Sumimasen.." bisiknya pelan dengan menunduk dalam, tak berani menatap wajah wanita yang seperti sedang ketakutan menatapnya.

Pluk! Sebuah tas yang ada di pundak Itsuki terjatuh dengan sendirinya, langkahnya agak mundur ke belakang, lalu tak berapa lama kemudian..

"K-kya..KYAAAAAAA!" Itsuki berteriak dengan histeris hingga terdengar sampai luar apartementnya, selama 28 tahun hidupnya untuk pertama kalinya Itsuki melihat kemaluan laki-laki yang sedang tegang.

.

.

.

.

.

"Apa?! Ada kesalahan pada kontraknya?" Tanya Itsuki pada seorang nenek yang terus menunduk meminta maaf, dia baru saja mengetahui bahwa ada kesalahan dari kantor yang mempromosikan apartementnya, yaitu iklannya belum dicabut, dan membuat data penyewa menjadi double.

"Saya sungguh minta maaf, sepertinya kantor cabang telah membuat kesalahan pada iklan.." jelas nenek tersebut, raut wajahnya yang keriput membuat siapapun tak tega.

Nenek tersebut mengatakan memiliki 2 kunci kamar tersebut, nenek berkata sudah menerima permintaan Itsuki untuk pindah. Namun, cucunya yang menangani permintaan untuk Naruto karena mengira kamar tersebut masih kosong. Ternyata cucu nenek tersebut merupakan senpai dari Naruto.

Seorang nenek tua bernama Chiyo tersebut benar-benar merasa bersalah, belum lagi barang kiriman Itsuki sudah dibayar dan akan dikirim besok. Sementara ruang tersebut sudah dipenuhi beberapa barang Naruto, meskipun hanya sederhana. Seperti rak buku, meja kecil, TV dengan playstation, dan futon.

"Maaf, saat ini ruangan lain masih penuh. Tapi, ruang 103 sedang direnovasi karena mengalami beberapa kerusakan, mungkin butuh waktu sekitar 3 minggu. Jika boleh, apakah kalian bisa berbagi ruangan sampai ruang itu kosong?" Tanya nenek Chiyo memandang kedua orang di depannya yaitu Itsuki dan Pemuda yang duduk berdampingan.

Itsuki tentu kebingungan untuk berbagi kamar dengan pemuda yang tidak dikenalnya. Ini masalah untuknya. Namun, dia tidak tega pada wanita tua di hadapannya, dia ingat baru saja terjadi kejadian besar dengan orang di sebelahnya. Dan hal itu membuatnya tidak nyaman. Lebih baik, dia menumpang di restaurant saudarinya.

Itsuki mulai membuka pembicaraan, "Ah, soal itu-"

"Kita tidak punya pilihan. Kalau hanya untuk 3 minggu, aku tidak masalah.." potong pemuda dengan senyuman polos pada Nenek Chiyo yang senang akan responnya.

Tapi itu masalah untukku! Itsuki berteriak dalam hati.

"Syukurlah, aku tidak enak pada kalian jika sampai kalian menumpang di rumah oranglain atau tidur di motel.." jelas Nenek Chiyo merasa lega.

Itsuki kemudian melotot tak percaya pada pemuda kuning yang mengangguk, Itsuki kembali terdiam ketika melihat wajah lega dari mimik wajah Nenek Chiyo. Entah bagaimana, dia jadi sulit menolak jika sudah seperti ini. Itsuki hanya meremas rok yang dia pakai sembari menggigit bibirnya. Dari dulu Itsuki memang tidak bisa jujur untuk masalah yang rumit.

"Baiklah, aku tidak keberatan. Hanya untuk 3 minggu.." jelas Itsuki mencoba sabar dan tersenyum palsu di hadapan Nenek Chiyo.

Beberapa saat kemudian nenek Chiyo pergi, Itsuki hanya terdiam sampai pemuda tersebut mengajaknya bicara. Pemuda itu mengangkat tangannya lalu memperkenalkan dirinya.

"Namaku Namikaze Naruto, Yoroshiku nee, Nakano-san.." jelas pemuda tersebut yang membuat Itsuki terkejut dengan nama yang disebutkan.

"Tunggu, namamu.."

"Eh, Kenapa?"

Itsuki hanya terdiam, lalu mulai berpikir.

Souka? Jadi dia selama ini.. batin Itsuki dalam hati.

Kenyataan begitu kejam padanya. Setelah terbebas dari tunangan menyebalkannya dia harus berurusan dengan tipe mahasiswa yang dibencinya.

Itsuki kemudian menepis tangan pemuda di depannya, "Jangan salah paham, aku tinggal bukan berarti aku bersikap baik denganmu..!" Jelas Itsuki yang membuat Naruto terkejut karena wanita itu sangat tidak ramah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam haripun tiba, terlihat Naruto tengah bermain konsol game dengan serunya. Sementara Itsuki meletakkan masakan yang dibuatnya di meja, mencium harum masakan yang dibuat Itsuki membuat Naruto mendekat ke meja kecil di tengah ruangan. Naruto takjub karena banyak masakan yang dibuat oleh Itsuki. Tangan Naruto kemudian melesat ingin mengambil ebi furai, namun-

Plak!

"Ittai!" Teriak Naruto langsung mengusap tangannya.

..tangannya baru saja ditepis Itsuki dengan sumpit.

"Aku tidak bilang kau boleh memakannya.." Jelas Itsuki menatap jutek pada Naruto, "Asal kau tahu, aku tidak bisa tinggal dengan pemuda aneh sepertimu. Aku akan pergi bahkan jika aku harus mencari tempat tinggal yang lain.." lanjut Itsuki menyuap nasinya dengan garang di hadapan Naruto.

"Menyebutku aneh itu sangat kejam~ Lagipula kita sedang berbagi ruangan, bukankah sebaiknya kau sedikit lebih lembut?" Jelas Naruto mencibir wanita tidak ramah di depannya yang langsung ditatap tajam Itsuki yang moodnya jadi jelek, Itsuki langsung meletakkan sumpit di meja dengan kencang, membuat Naruto bergidik ngeri.

"Namikaze-kun, Kau mahasiswa, 'bukan? Kenapa kau tinggal sendirian di tempat seperti ini?" Balas Itsuki menuntut sebuah pertanyaan pada Naruto.

"Tidak ada alasan khusus, kupikir aku ingin coba hidup sendiri. Lagian aturan keluargaku sangat ketat, itu sangat merepotkan. Tunggu, kenapa kau tahu kalau aku mahasiswa?" jelas Naruto yang menyenderkan kepalanya pada tumpuan tangan.

Begitu ya? Hal yang wajar jika dia ingin hidup sendiri, tapi kalau sedekat ini kenapa dia malah membolos berkali-kali?

Itsuki berkata di dalam hati sambil memperhatikan Naruto di depannya. Beberapa saat kemudian perut Naruto berbunyi, dia kelaparan karena belum makan apapun sejak pulang dari pekerjaan paruh waktunya. Naruto kemudian menyender lemah di meja sambil mengeluh bahwa dia lapar.

"Sebenarnya aku belum makan apapun sejak siang tadi." jelasnya yang mengelus perutnya sendiri, "Kurasa aku akan merebus cup ramen lagi.." jelasnya yang kemudian mendengar ketukan mangkuk di depannya.

Tuk..

Naruto menatap ke depannya dan melihat Itsuki meletakkan semangkuk nasi di depannya, "Makanlah, aku merasa buruk makan di depan orang kelaparan.." Jelas Itsuki yang mendapat pandangan berbinar dari Naruto yang tersenyum lebar.

"Benarkah? Aku tidak tahu kau begitu baik!" Jelas Naruto yang langsung mengambil sumpit bersiap melahap lauk di depannya, dengan mata berbinar-binar menatap Itsuki.

Pujian Naruto membuat Itsuki malu, "I-ini hanya hal yang normal.." Ucap Itsuki yang diabaikan oleh Naruto yang mengangkat mangkuk nasinya.

"Ittadakimasu!" Ucap Naruto sebelum melahap ebi furai di depannya, "Sugoi! Rasanya enak!" Puji Naruto yang membuat Itsuki terkejut melihat wajah polos pemuda di depannya yang terlihat bahagia hanya dengan memakan udang goreng.

"Tapi kau yang harus cuci piringnya" Perintah Itsuki menyuruh pemuda di depannya untuk mencuci piring bekas makannya sendiri.

"Okay!" Jelas Naruto mengacungkan jempolnya.

Kemudian Naruto menatap Itsuki dengan cukup lama, memperhatikan penampilan Itsuki yang hanya memakai jaket bertudung dan celana pendek, rambutnya juga diikat ekor kuda. Wanita yang tampak cantik baginya.

Hal itu membuat yang ditatap merasa tak nyaman, "Apa?" Tanya Itsuki dengan ketus.

Naruto hanya tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya, "Ah tidak, aku hanya sedang berpikir. Kau ini manis juga ya.." jelas Naruto yang membuat Itsuki malu ketika Naruto memujinya manis.

"Asal kau tahu, umurku tidak muda lagi. Pujian seperti itu, tidak akan membuatku senang.." Itsuki menjawab Naruto dengan ketus meskipun sebenarnya dalam hati dia sangat senang dipuji.

"Begitu ya? Berapa? 21 atau 22? Paling masih berdekatan denganku. Omong-omong, umurku 20 tahun. Tapi, Oktober nanti usiaku bertambah.." Tanya Naruto sambil menebak-nebak umur Itsuki, bagi wanita menanyakan umur itu sangat tidak sopan dan membuatnya tersinggung. Karena Itsuki merasa sudah terlalu tua dan belum menikah, sementara umurnya sudah melewati usia 25 tahun. Sehingga julukan bunga yang layu melekat padanya.

Plek!

Itsuki meletakkan kartu namanya di depan Naruto yang melihatnya, Itsuki menatap tajam Naruto.

"Tahun ini aku akan berumur 28 tahun.." tekan Itsuki pada Naruto yang tercengang melihat tahun kelahiran pada kartu nama Itsuki yang dipegangnya.

"Eeeeh! Kau lebih tua dari yang kuduga! Padahal kupikir umur kita masih berdekatan, berarti kau ini sudah jadi tante-tante ya?" Komentar Naruto yang terkejut karena berbeda 7 tahun dari Itsuki, namun komentarnya yang terdengar sarkas entah mengapa menyakitkan, Itsuki langsung merebut kembali KTPnya.

"Ini bukan urusanmu! Lagipula, menanyakan umur perempuan sangat tidak sopan. Kau ini sangat menyebalkan!"

"Su-sumimasen.."

"Berhenti mengoceh, dan makan saja!" Tegas Itsuki yang langsung membuat Naruto merinding, Itsuki sama menakutkannya dengan ibunya saat marah.

"Hai!" Naruto langsung kembali melahap makanannya.

.

.

Kemudian tepat pukul 10 malam, Naruto dan Itsuki menatap satu futon di depan mereka. Sebenarnya futon tersebut adalah milik Naruto yang beberapa saat lalu baru digelarnya di pojok tembok. Naruto menatap ke samping agak menunduk karena Itsuki lebih pendek darinya. Pemuda pirang tersebut melihatnya tak enak, karena sepertinya Itsuki tidak memiliki tempat nyaman untuk tidur.

"Jangan katakan padaku, kau tidak membawa futonmu sendiri?" Tanya Naruto pada Itsuki yang tersenyum hambar.

"Tadinya aku pikir akan membeli kasur yang baru besok.." jelas Itsuki yang ingat jelas bahwa dia tidak ingin mengangkut kasur lamanya yang berada di rumah mantan tunangannya.

"Begitu ya?" Gumam Naruto yang merasa tidak enak membiarkan wanita tidur di lantai, terlebih lagi dia adalah laki-laki, rasanya sangat kejam membiarkan perempuan di sampingnya tidur di lantai dan kedinginan sedangkan Itsuki sudah membagi masakannya tadi.

"Baiklah, kurasa sebaiknya Nakano-san saja yang menggunakannya. Lagipula, kau tadi membagi makan malammu." Jelas Naruto yang membuat Itsuki langsung menengok terkejut padanya, "Aku akan tidur di dapur.." lanjut Naruto yang berbalik dan hendak berjalan ke arah dapur.

Itsuki menatap Naruto yang berjalan ke dapur sambil meremas selimut yang digenggamnya. Selama ini dia berpikir Naruto mahasiswa bodoh yang menyebalkan. Rasanya sangat aneh ketika dia mendapati kebaikan dari murid yang sering membolos di kelasnya dan baru saja ditemuinya. Sebagai orang yang lebih tua 8 tahun dari muridnya tersebut, Itsuki merasa tidak terima. Dia lebih tua harusnya dia yang diandalkan. Itsuki kemudian duduk di atas futon.

"Hey.." panggil Itsuki pada Naruto yang berhenti tepat di depan pintu lorong dan menengok pada Itsuki yang terlihat duduk di sisi pojok futon, lalu dia menepuk sisi kosong di sebelahnya, "Futon ini cukup besar, tidak masalah, kita bisa membaginya.." lanjut Itsuki menatap Naruto yang agak terkejut karena Itsuki masih memiliki hati untuk berbagi.

"Kau yakin?" Tanya Naruto kembali berjalan mendekat pada Itsuki.

"Kau ingin menolak kebaikanku?" Tanya Itsuki dengan ketus.

"Aku hanya tidak menyangka, kau mau berbagi.."

"Berisik, kau hanya mendapat seperempatnya!"

"Eh? Bagianku sempit sekali.."

Naruto kemudian mulai bersiap tidur dengan selimutnya, namun Itsuki meletakan guling kecil di tengah mereka.

"Ini sebagai pembatas.." jelas Itsuki pada Naruto.

"Eh? Kenapa pakai pembatas segala, tempatku jadi lebih sempit.."

"Tentu saja, sejak hal tak senonoh yang kau lakukan tadi sore, mana mungkin aku ingin berdekatan denganmu!" Omel Itsuki yang membuat Naruto tertawa hambar.

Naruto mengalihkan pandangannya, "Mau bagaimana lagi~ Aku ini laki-laki yang sudah dewasa.." ungkap Naruto tersenyum canggung.

Itsuki kemudian menunjukkan ponselnya yang tertera nomor polisi, "Kalau kau melewati garisnya, aku akan telpon polisi. Mengerti?"

"Kau terlihat menakutkan, aku tidak tertarik.." jelas Naruto yang langsung membelakangi Itsuki dan menutup matanya, melihat hal itu Itsuki memutuskan untuk mematikan lampu apartemennya hingga menjadi gelap.

2 jam berlalu dengan suasana sepi, hanya suara detik jarum jam yang terdengar. Naruto dan Itsuki tidur dengan saling membelakangi. Sebenarnya Itsuki masih gelisah untuk tidur dengan orang asing baginya. Hal itu membuatnya sulit untuk tidur, sejak tadi dia mencoba menutup matanya tapi tetap saja dia sulit untuk tidur. Sebelumnya dia melihat Naruto yang Onani sambil melihat video dewasa juga membuatnya merasa tidak aman.

Apa yang kupikirkan? Dia masih bocah, memangnya apa yang bisa dia lakukan? Tinggal anggap saja sedang tidur dengan anak kecil.. Itsuki mulai bermonolog dalam hatinya, dia tanpa sadar meremas selimut di depannya.

Ketika sibuk dengan pikirannya Itsuki kemudian menyadari suara aneh yang di dengarnya. Seperti suara hentakan yang tidak biasa, rasanya suara itu menembus dari tembok di depannya. Itsuki menyadari bahwa temboknya tipis, maka dia harus berhati-hati ketika melakukan kebisingan agar tidak mengganggu seperti tetangganya saat ini. Suara hentakannya semakin keras membuat Itsuki tidak nyaman, dia terbangun sedikit ingin menegor tetangganya, namun-

"Mnn.. ah! Ahn! Hn! Ah~"

Itsuki melotot tidak percaya lalu kembali jatuh ke bantal dan menutupi wajahnya dengan selimut, wajahnya memerah karena dia tahu betul kebisingan apa yang sedang tetangganya lakukan. Itsuki menutup telingahnya namun jantungnya berdegub kencang karena gugup dan syok. Seketika tubuhnya merasa merinding mendengar desahan erotis dan suara hentakan dari sebelahnya.

Mereka sedang begituan?! Ungkap Itsuki dalam hati, rasanya dia jadi tidak berani protes pada tetangganya.

"Ahn.. Ah~ Uhnm.. Lakukan lebih keras.. Ah! Ah! Aahn!"

Desahannya semakin keras terutama suara hentakan yang terdengar, membuat Itsuki semakin merona malu.

Suaranya sangat kencang, apakah senikmat itu? Itsuki malah bertanya sendiri.

Selama bertunangan dengan Shisui, dia tak pernah disentuh sedikitpun oleh pria bermartabat tersebut, karena pria itu hanya memikirkan pekerjaan dan reputasi. Satu hal yang diingatnya ketika Shisui menciumnya di acara pertunangan mereka. Kemudian selanjutnya, Itsuki hanya bisa membayangkan sambil menyentuh dirinya sendiri selama ini, hal mengejutkan dia masih perawan sampai saat ini.

Itsuki selalu penasaran apa berhubungan intim itu menyenangkan atau tidak, kebisingan tetangganya membuat tubuhnya terasa panas karena membayangkan hal kotor. Bokongnya bergerak tidak nyaman, dia meraba bibir basahnya sendiri, sedangkan tangan yang satunya mulai bergerak masuk ke dalam celana pendek yang digunakannya. Sebelumnya dia melihat ke belakang pada punggung Naruto yang terbaring.

Dia sudah tidur, 'bukan? Tanyanya dalam hati.

Itsuki mulai meraba kemaluannya sendiri, membelah lipatan kulit di kemaluannya yang seketika mengenai benda menonjol yang dimilikinya dan membuatnya seperti kesetrum. Dia menggigit bantal untuk meredam suaranya, wajahnya sudah memerah karena terangsang. Kali ini kedua tangannya beraksi, jari dari tangan kirinya membuka liang senggamanya sedangkan tangan kanannya mulai mengaduk ke dalam lubangnya perlahan namun tak begitu dalam.

"Mnn.. uh.." dia mulai melenguh sambil menutup matanya.

Rasanya pikiranku menjadi kosong.. Itsuki merasa celananya mengganggu, lalu dia perlahan menurunkan celananya hingga lolos dari kakinya, memperlihatkan bagian bawahnya yang polos, setelah itu dia mulai melanjutkan onaninya.

Dia berguling tengkurap lalu menungging merasakan jari telunjuk dan tengahnya yang menggesek kemaluannya, tubuhnya mulai berkeringat. Pandangannya berubah sayu sembari menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.

Aku tidak bisa berhenti, itu mulai terasa mengetat.. Itsuki mulai menikmati rangsangannya sendiri dan mempercepat gesekan jarinya, liang senggamanya mulai semakin basah hingga suara geseknya terdengar seperti decak-decak erotis.

Dia menggenggam erat bantal di bawahnya dengan kepalanya yang bersender pasrah di sana, bokongnya menungging ke atas. Wajahnya mulai berekspresi erotis dengan rona merah di kedua pipinya. Tubuhnya mulai gusar seraya mempercepat gerakannya dia terbangun sedikit menatap langit-langit kamarnya. Itsuki mulai merasakan sesuatu yang aneh dari perutnya, dia tahu dia akan segera sampai puncak kenikmatannya.

Tidak, aku akan datang.. iku! Jelas Itsuki dalam hati bersamaan dengan klimaksnya.

"MNNH!" Itsuki menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

"Ah! Ahn! Kimochii~ Ah~"

Itsuki terengah-engah dan mendengar tetangganya masih berhubungan intim, hal tersebut kembali merangsangnya dan membuatnya merasa belum cukup. Dia kembali meraba kemaluannya dan menggeseknya pelan sembari menutup mata menikmati sentuhannya sendiri.

Ini masih belum cukup, aku ingin lebih.. ungkapnya dalam hati.

Namun, dia merasakan selimut di atasnya guna menutupi aibnya tersingkap tiba-tiba. Matanya melebar seketika dan membuatnya berhenti. Dia terbangun dari posisi menunggingnya dan menutupi tubuh bagian bawahnya. Matanya bertemu dengan Naruto yang memandang tak percaya, tentu saja sebenarnya Naruto tidak bisa tertidur karena tetangganya berisik ditambah Itsuki yang terus bergerak bak cacing kepanasan di belakangnya.

"Oi, apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto memandang tajam Itsuki yang mati kutu, Itsuki mengubah posisi duduknya dengan kaki terkatup untuk menutupi kemaluannya.

Dia menangkap basah diriku.. jelas Itsuki mulai ketakutan hingga sulit bicara, dia membuang muka dari hadapan Naruto.

"I-ini.." pikirannya menjadi kacau hingga dia sulit mencari alasan.

Sebenarnya Naruto juga tidak bisa tidur karena tetangganya sangat berisik, ditambah dia sejak awal menyadari Itsuki sedang onani di sampingnya karena mengintip bokong polos Itsuki menyembul dari balik selimut. Naruto berencana untuk pura-pura tidak tahu, tapi bagaimanapun dia laki-laki normal yang tidak akan tahan berada di situasi yang menggoda imannya.

Naruto kemudian menarik tangan kanan Itsuki untuk melihat lumuran cairan klimaksnya, "Kau mulai Onani karena mendengar tetangga melakukan seks, 'bukan?" Tanya Naruto yang membuat Itsuki terdiam.

"Se-sejak kapan kau bangun?" Itsuki malah balas bertanya, dia pikir Naruto sudah tertidur pulas.

"Tetangga sangat berisik, tentu saja aku tidak bisa tidur.." alasan Naruto masuk akal juga.

Itsuki menunduk, "Be-begitu ya?"

"Aku juga tidak bisa tenang sekarang. Nakano-san, bisa kau membantuku?" Tanya Naruto sampai akhirnya membawa tangan Itsuki untuk menyentuh kejantanannya yang menonjol di balik celananya dan wajah Itsuki langsung memerah ketika tangannya menyentuh kejantanan Naruto yang sudah tegang, "Aku tidak bisa tidur seperti ini sekarang.." jelas Naruto yang wajahnya ikutan merona.

"Eh?!" Itsuki sangat terkejut ketika pemuda di depannya langsung menurunkan resleting jaketnya sehingga memperlihatkan Itsuki yang hanya menggunakan tank-top putih tanpa bra, terlihat dari putingnya yang mencuat terbentuk dari tanktopnya, jaketnya langsung terlepas dari tubuh Itsuki karena dilucuti oleh Naruto.

"Tu-tunggu.. Apa yang kau-mnn..!" perkataan Itsuki terhenti ketika Naruto tiba-tiba melesat mencium bibir ranumnya hingga dia terdorong ke pojok, Itsuki terkejut meski itu bukan ciuman pertamanya, bibir Naruto bergerak melumat bibir Itsuki sembari kedua tangannya menyingkap tank-top Itsuki ke atas. Naruto melepaskan ciuman tersebut membuat Itsuki mengambil oksigen setelahnya, Naruto memandang dada Itsuki yang terbilang cukup besar.

I-ini besar.. ungkapnya dalam hati takjub melihat bentuk dada Itsuki yang besar dan berbeda dengan perempuan seumurannya, itu terlihat menggiurkan baginya.

"Mmnn~" Itsuki mendesah tertahan ketika mulut Naruto melahap puncak dari dada besar sebelah kanannya, dan meremas dada sebelah kirinya dengan tangannya.

Naruto memilin puting tersebut dengan jarinya terkadang dia menjepitnya di sela jarinya untuk menggoda gadis di depannya, Naruto mengemut kuat puncak dada Itsuki yang dia tarik hingga lepas dari bibirnya lalu melanjutkan dengan menjilat kecil puncak dada Itsuki yang sudah mengeras.

Itsuki hanya menutup matanya malu melihat dadanya sedang dimainkan pria yang baru ditemuinya dengan mesum. Rasanya dia ingin memukul pemuda tersebut atas pelecehan tapi entah mengapa Itsuki juga menikmatinya. Sentuhan Naruto membuat tubuhnya semakin terangsang. Naruto melepaskan kulumannya pada dada besar Itsuki lalu menatap wajah Itsuki yang memerah.

Sekarang Itsuki terlihat manis dengan wajah merona tak berdayanya, bahkan Naruto tidak menyangka Itsuki jauh lebih tua darinya. Tanpa sadar jantung Naruto berdetak cepat dan membuatnya ikut merona karena terpesona. Naruto tersenyum karena semakin tergoda untuk menggerayangi wanita di depannya.

"Nakano-san, kau sangat cantik.." rayu Naruto yang seketika membuat perempuan di depannya jadi salah tingkah.

"B-baka! Jangan menggombaliku!" Itsuki mengomel pada Naruto.

"Aku bersungguh-sungguh.."

Naruto kemudian membiarkan Itsuki terbaring di futon, Itsuki melihat pemuda di depannya bersiap menurunkan celananya langsung merona. Akal sehatnya mengatakan untuk menghentikan semua ini, atau dia akan menyesal nantinya. Bagaimanapun Naruto adalah muridnya, hubungan seks guru dan murid itu dianggap tabu.

"Tunggu, aku berpikir ini salah. Lebih baik kita berhenti.." jelas Itsuki yang tidak disetujui oleh Naruto.

"Kau mengatakan itu sekarang?" Tanya Naruto yang kemudian menurunkan celananya hingga memperlihatkan kejantanannya yang berdiri tegak, "Aku sudah sekeras ini.." jelas Naruto yang membuat Itsuki menatap aneh kejantanannya yang lumayan besar untuk pemuda sepertinya.

Perempuan bersurai jingga-kemerahan tersebut mulai membayangkan benda sebesar itu memasuki tubuhnya, karena masih perawan dia sering ditakuti Nino saat pertama kali melakukan seks itu akan sangat menyakitkan dan akan membuat semua perempuan menitikan air matanya.

"Aku tidak ingin melakukannya dengan pria yang lebih muda! Hal itu terlihat tidak normal!"

Benda sebesar itu tidak akan muat, 'bukan? Jelas Itsuki dalam hati meskipun dia penasaran seperti apa rasanya berhubungan intim, karena sebelumnya dia tidak pernah disentuh oleh Shisui atau mantannya yang lain untuk melakukan hubungan badan. Itsuki selalu menolak karena takut jika dia berakhir seperti ibunya.

"Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya. Ini tidak ada hubungannya dengan umur, kau dengar tetangga, 'kan? Mereka sangat menikmatinya.." bujuk Naruto yang mendekatkan kejantanannya pada wajah Itsuki yang terbaring terlentang, sebenarnya Itsuki juga penasaran rasa dari kejantanan pria, "Kau tahu hal yang harus dilakukan, 'bukan?" Tanya Naruto yang membuat Itsuki yang dewasa namun belum berpengalaman tersinggung.

"Berisik, tentu saja aku tahu.." Naruto mendapati Itsuki membuka mulutnya dan mulai menjilat kepala kejantanannya, Itsuki terkejut dia telah menjilat batang pria untuk pertama kalinya.

Lalu Itsuki berinisiatif memasukan batang tersebut ke dalam rongga mulutnya, Naruto langsung menutup matanya menikmati kejantanannya di kulum oleh mulut hangat Itsuki yang bergerak keluar-masuk dengan tempo sedang dan masih terasa kaku.

Itsuki akhirnya tahu bagaimana rasanya mengulum kejantanan, baunya aneh dan mulutnya terasa dipenuhi cairan penetrasi Naruto. Suara decapan terdengar jelas setiap dia bergerak maju-mundur menyamai posisi pinggang Naruto yang bertekuk lutut di sampingnya.

Apa ini? Aku melakukan hal kotor seperti ini.. terlebih lagi, aku mengulum ochinchinnya di dalam mulutku.. Itsuki mulai bermonolog betapa hinanya dia sebagai guru yang bercinta dengan muridnya untuk memuaskan gairahnya, bahkan mereka belum memiliki hubungan apapun, hanya sebatas teman sekamar untuk sebulan.

"Mnn!" Itsuki terkejut karena jari tengah Naruto menekan sedikit pada permukaan liang senggamanya dan bergerak keluar masuk dengan perlahan, terkadang pemuda tersebut memutar jarinya membuat Itsuki bergelinjang menahan rangsangan, Naruto hanya tersenyum melihat reaksi Itsuki yang menarik baginya.

Naruto kemudian menahan kepala Itsuki untuk memasukan kejantanannya lebih dalam hingga membuat Itsuki kewalahan, setelah itu Naruto melepaskan kejantanannya hingga tercipta benang saliva dari bibir Itsuki dengan ujung kejantanannya.

"Fuah~" Itsuki langsung bernapas lega setelah Naruto melepaskan kejantanannya, matanya menjadi sedikit mengeluarkan air mata karena dipaksa menelan seluruh kejantanan Naruto yang terbilang besar.

Naruto kemudian melepas celana panjang berwarna hitam yang dipakainya lalu berpindah tepat di depan Itsuki yang terbaring, tangan Naruto menuntun lutut Itsuki untuk melebarkan kakinya. Itsuki seketika sedikit terbangun dengan wajah memerah menatap kejantanan Naruto yang diposisikan tepat di liang senggamanya. Itsuki langsung mendorong pelan dada bidang Naruto, menatap khawatir pemuda di depannya.

"Tunggu, apa kau yakin ingin memasukannya?" Tanya Itsuki yang masih sedikit takut karena melepaskan keperawanan itu berat bagi harga diri dan perasaannya, apalagi dia melakukannya dengan pria yang baru dikenalnya, dan kemungkinan rasanya akan sangat menyakitkan. Bagaimana jika dia sampai hamil? Sama sekali tidak menguntungkan baginya.

"Ah sumimasen, aku tidak punya pengaman. Tapi, aku janji padamu akan keluar di luar, tidak masalah bukan?" Naruto memandang wajah Itsuki dengan penuh keyakinan agar perempuan tersebut mau mempercayainya, sedangkan Itsuki langsung salah tingkah ketika tahu bahwa pemuda di depannya sedang berjanji tidak akan membuatnya hamil.

Sedetik kemudian Itsuki langsung mendongak dengan mata melebar, "AHH!" Dia berteriak kesakitan ketika merasakan seluruh kejantanan Naruto langsung memaksa masuk ke dalam liang senggamanya, tubuh Itsuki langsung menegang dan memegang erat bantal di kepalanya sebagai pelampiasan dari rasa sakit ketika keperawanannya mulai terenggut.

Naruto terkejut ketika melihat darah mengalir dari sela penyatuannya dengan Itsuki, "Nakano-san, kau masih.." Naruto menggantungkan perkataannya lalu dia lanjut bertanya, "Apa ini pertama kalinya untukmu?"

Itsuki mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Naruto terutama ketika pria itu tahu bahwa orang dewasa sepertinya masih belum meluluskan status perawannya, "A-apa itu masalah?" Itsuki balas bertanya.

"Apa kau tidak pernah pacaran? Maaf aku tidak tahu.." Naruto masih tidak mempercayainya, tentu saja dia merasa bersalah karena merebut keperawanan seorang gadis dengan absurd, sebelumnya dia berpikir bahwa dia bisa melakukan seks tanpa bertanggung jawab karena Itsuki seorang wanita dewasa. Yang dia pikir Itsuki bukanlah gadis perawan lagi. Dan hanya sebatas saling memuaskan nafsu saja.

Itsuki menatap wajah Naruto di depannya, "Aku pernah bertunangan dan tinggal bersama untuk waktu yang lama tapi dia tidak pernah menyentuhku. Tentu saja, kau pasti terkejut. Perempuan setua ini masih perawan. Pasti terlihat menyedihkan. Karena hubungan percintaanku tidak berjalan lancar, 'bukan?" Lanjut Itsuki sedikit sedih menceritakan pengalaman pahitnya, Itsuki sebenarnya sudah menyerah untuk mencari pendamping hidup apalagi untuk menikah.

"Aneh sekali.." jelas Naruto menunduk hingga membuat Itsuki bertanya-tanya.

"Eh?"

Naruto kemudian menatap wajah Itsuki langsung hanya berjarak beberapa senti, "Aneh sekali dia tidak ingin menyentuhmu! Padahal kau cantik dan dadamu besar. Bahkan, mendengarmu onani saja sudah membuatku gelisah!" Itsuki terkejut ketika mendengar pujian Naruto mengenai dirinya.

"Itu karena aku selalu menolak untuk melakukannya, dan sekarang kau memaksaku.."

Naruto kemudian tersenyum garing sambil menggaruk pipinya yang merona dengan jari telunjuk, "Itu berarti aku pertama kalinya untukmu, bukan? aku jadi gugup saking senangnya.." lanjut Naruto dengan wajah yang ikutan merona setelah mengetahui Itsuki masih perawan, karena sebenarnya Naruto belum pernah menyentuh gadis perawan. Tapi hal itu justru membuat Itsuki malu hingga seluruh wajahnya semerah tomat.

Itsuki memalingkan wajahnya, "Ba-baka! Diamlah, dan bergerak saja!" Omelnya yang malah terlihat lucu karena bertingkah tsundere, sebenarnya dia juga merasa lega bahwa Naruto tidak mengoloknya.

"Baiklah, aku akan mengajarimu sedikit.." jelas Naruto yang kemudian menahan pinggang Itsuki dengan tangannya lalu mulai menggerakkan kejantanannya masuk untuk satu hentakan keras.

"NGAH!" Itsuki langsung menegang hingga tubuhnya agak melengking.

Kemudian Itsuki merasakan hujaman Naruto di detik berikutnya dengan gerakan pinggang yang dipercepat, dada besar Itsuki langsung bergerak ke atas-bawah dengan erotis, Naruto mulai terpedaya yang terlihat dari ekspresi wajahnya yang menikmati betapa ketatnya liang senggama Itsuki yang memeras kejantanannya.

Sugoi! Perawan memang berbeda, ketat sekali! Pinggangku tak bisa berhenti.. Naruto menggambarkan hal yang dia rasakan setelah merasakan betapa sempitnya liang senggama seorang perawan.

Ini adalah pengalaman pertama Naruto yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan. Bercinta dengan wanita yang baru dikenalnya, terutama dia yang merenggut keperawanannya.

"Nakano-san, kau sangat ketat karena ini pertama kalinya untukmu.. uuh.. Rasanya enak~ Ssst.." Naruto menahan suaranya hingga mendesis, dia sudah ketagihan untuk menghujam wanita di bawahnya.

"Ah! Ahn! Ah..! Uhn! Aahm! Ah!" Itsuki hanya mendesah tanpa membalas pernyataan Naruto tentang betapa nikmatnya melakukan seks, tubuhnya masih terasa kaku menerima hujaman Naruto.

Naruto mungkin merasakan kenikmatan yang luar biasa, namun berbeda dengan Itsuki. Dia menggenggam erat bantal di kepalanya sebagai pelampiasan rasa sakit, sangat sulit untuk mengatakan bagaimana rasanya karena terlalu menyakitkan. Hanya desahan keras yang keluar melalui bibirnya. Matanya sedikit mengeluarkan air mata menahan rasa sakit di awal.

Ini sakit..! Dia memasukannya sangat dalam, aku tidak bisa menahan suaraku.. ugh.. Itsuki mulai menggambarkan sendiri apa yang dia rasakan.

Naruto terus bergerak sambil menahan paha Itsuki ke atas agar melebar, kemudian dia menahan paha Itsuki dengan lengannya ketika telapak tangannya mulai menapak di permukaan futon agar lebih leluasa, dia menghujam liang senggama Itsuki keluar-masuk dengan lebih cepat dan membuat Itsuki mendesah lebih keras. Itsuki mulai merasa Naruto bertindak seenaknya karena gerakannya lebih cepat hingga terkesan kasar.

"Ah.. ahn! Tunggu..!" Itsuki memegang pundak Naruto yang masih menghujamnya, "Tidak..! Tunggu, kau kasar..! Ahn~!" Itsuki semakin mendesah lebih keras karena sepertinya Naruto sama sekali tidak mendengarnya.

Naruto mendorong Itsuki lebih dalam hingga bokong wanita tersebut ikut terdorong ke atas, hujaman Naruto sangat kencang hingga membuatnya beberapa kali kewalahan dan membuatnya menggenggam erat lengan Naruto.

Setelah cukup lama dalam posisi tersebut, Itsuki mulai merasa aneh karena rasa sakitnya tidak begitu menyakitkan dari sebelumnya, wanita itu melebarkan kakinya membuka akses bagi Naruto untuk menghujamnya lebih keras. Terlihat jelas Itsuki mulai menikmati gerakan Naruto yang jauh lebih berpengalaman.

"Ah~ Ah..Ahn~! Oh Itu sangat dalam, Ah! Aahn~ Ah! Ah!" Itsuki memegang erat kain futon di sampingnya, liang senggamanya mulai terbiasa untuk menerima hujaman kejantanan Naruto hentakan demi hentakan.

Aku benar-benar melakukan seks dengannya. Mendesah dan membuka kakiku seperti tak tahu malu. Aku bisa merasakan kekuatannya di dalam tubuhku. Ah itu besar, terasa memenuhi semua bagiannya. Aneh, aku semakin terangsang.. Itsuki mulai berkilah dalam hati, dia dapat melihat Naruto di depannya memejamkan matanya seraya menahan geramannya.

Pemuda pirang di depannya tampak menikmati seks mereka hingga nafasnya terengah setiap kali dia bergerak. Ketika memandangi wajah Naruto di depannya, Itsuki menyadari pemuda tersebut sebenarnya terlihat tampan. Kulit tan-nya membuatnya tampak eksotik, tiga garis dipipinya, dan rambut pirangnya yang lepek karena berkeringat. Itsuki tidak menyangka bahwa orang yang merenggut status gadisnya adalah orang yang jauh lebih muda darinya.

Itsuki mengangkat tangannya menyentuh kedua pipi Naruto dan membuat pemuda di depannya membuka matanya, seketika mereka saling memandang dengan wajah memerah. Naruto menatap mata Itsuki yang sedikit berair karena menahan rasa sakit sebelumnya, tapi sekarang dia menunjukkan ekspresi tak berdaya di hadapan Naruto. Dan desahannya yang lolos dari bibir mungilnya. Dari wajahnya Itsuki terlihat mulai menikmatinya.

"Kau terlihat mulai menikmatinya.." jelas Naruto tersenyum.

"Eh? Ah!" Itsuki terkejut ketika tangan Naruto menyelip ke belakang tubuhnya dan menarik pinggang Itsuki untuk mengubah posisinya menjadi duduk, sehingga Itsuki seperti berada di pangkuan Naruto.

Itsuki langsung dapat menatap wajah Naruto dengan jarak yang sangat dekat, wajah Itsuki langsung merona ketika pemuda di depannya tersenyum lembut. Naruto terkejut ketika Itsuki malah memeluknya seakan menyembunyikan wajahnya dengan bersandar di salah satu pundak Naruto. Itsuki tidak menyangka ternyata Naruto tipe pria yang bersikap gentle saat melakukan seks, membuat jantungnya berdebar tidak karuan karena jeda waktu tersebut. Karena itu, Itsuki tidak ingin menatap langsung mata pemuda di depannya.

Disisi lain, pelukan Itsuki malah membuat jantung Naruto berdetak lebih cepat. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya untuk Naruto dipeluk wanita saat bercinta tapi cukup membuatnya bergeming. Terutama Naruto bisa merasakan dada besar Itsuki yang berdempetan dengan tubuhnya, juga aroma tubuh Itsuki yang wangi dapat dia hirup dengan jelas, nafas terengah Itsuki juga tepat berada di dekat telinganya. Naruto malah menarik Itsuki ke dalam pelukannya dan menghirup aroma dari perpotongan leher Itsuki yang tersentak.

"Kyah!" Itsuki kemudian mendongak merasakan Naruto yang menghisap kuat bagian lehernya hingga menimbulkan bekas kemerahan yang dijilat pemuda tersebut, Naruto bergerak naik-turun kembali menghujam Itsuki yang kembali mendesah dengan erotis.

"Nakano-san, wangimu enak.." Naruto melirik ke bawah pada dada besar Itsuki yang kembali bergoyang dengan erotis mengikuti gerakan Naruto yang semakin lama semakin cepat, "Oppaimu juga terlihat indah, itu besar dan bulat sempurna. Aku menyukainya." Ucap Naruto yang meremas dada Itsuki dengan gerakan berputar.

"A-apa yang kau katakan? Itu memalukan.. Ahn!" Itsuki langsung terjengit hingga meremas kencang pundak Naruto.

Dia melihat buah dada sebelah kanannya yang dijilat oleh lidah Naruto yang bergerak memutari puncak dadanya, kemudian melahap dan menghisapnya dengan kuat, sedangkan tangan Naruto meremas dada sebelah kiri Itsuki dengan gemas. Pemuda kuning ini menggigit kecil tonjolan kecil pada dada sebelah kanan Itsuki.

"Ahn! Ah! Ammn~ Tidak, jika kau melakukan itu aku..Ah! Ah.. ah.. ah~" Itsuki tidak bisa menahan suaranya, dia terus menatap Naruto yang menghisap buah dadanya seperti bayi.

Kesadaranku jadi kabur.. Hebat, ochinchinnya sangat besar.. Aku tidak bisa berkutik.. Itsuki berkata dalam hati, dia merasakan kedua tangan Naruto yang mulai meremas bongkahan bokongnya, lalu menuntunnya bergerak naik-turun dengan lebih cepat untuk mendapatkan kenikmatan lebih.

Itsuki bergerak mengikuti instruksi dari tangan Naruto pada bokongnya hingga gerakan mereka menjadi sinkron dan teratur. Suara hentakan dari selangkangan mereka yang bertabrakan terdengar jelas. Naruto menatap dada besar Itsuki yang bergerak naik-turun di depannya, nampak begitu menggairahkan untuknya, kemudian mata Naruto naik ke atas menatap wajah cantik Itsuki yang nampak erotis baginya. Terutama pada bibir basahnya yang terus mendesah keras tanpa henti.

"Nakano-san!" Naruto langsung mendorong Itsuki hingga kembali terbaring di futon.

"Kyaa! Mnhmm~" Naruto kembali mengajak bibir manis Itsuki untuk berciuman, terutama Itsuki terkejut ketika lidah Naruto mulai melesak masuk ke dalam mulutnya.

Itsuki tidak bisa menolak dan pasrah saja untuk membuka mulutnya. Sekarang ini kedua pergelangan tangannya tengah digenggam erat oleh Naruto bersamaan dengan hentakan kejantanan Naruto yang seakan membajaknya. Beberapa kali matanya mengerjap karena rambut Naruto yang mengganggu penglihatannya. Lidah Naruto mengabsen seluruh bagian dari dalam mulutnya, dan mengajak lidah Itsuki untuk bergulat.

Naruto dan Itsuki membuka mulutnya dan menjulurkan lidah untuk saling melilit, kadang kala saling menghisap bibir, dan kembali melumat. Naruto sedikit tersentak karena Itsuki membalas ciumannya, dia tidak menyangka wanita ini tidak melawan, malah mengikuti alur permainan Naruto dengan sangat sexy. Tanpa sadar air liur meluber dari sudut bibir mereka ketika asyik bercumbu, namun diabaikan oleh keduanya. Yang sudah mabuk kepayang dalam hubungan badan. Bahkan, mereka sudah melupakan harga diri ataupun status hubungan.

Tangan Itsuki bergerak melingkari tubuh Naruto dan menggenggam erat punggung Naruto yang masih berbalut kaosnya, dia terus membalas cumbuan Naruto yang memabukkan baginya dengan mata tertutup. Selang beberapa detik Naruto melepas bibir Itsuki yang sudah basah dan membengkak karena mereka saling menghisap dan menggigit kecil.

Oh sial, wanita ini.. gerakan kami sangat sinkron.. dia sangat tahu bagaimana untuk menggodaku.. takjub Naruto dalam hati.

Naruto merasakan liang senggama Itsuki yang semakin basah dan licin, dia langsung menghujam dengan kencang. Naruto kemudian iseng ketika melihat tonjolan kecil yang mengeras pada kemaluan Itsuki.

Tangan Naruto kemudian menggesek tonjolan itu dengan jempolnya, "Nakano-san, kelihatannya bagian ini juga mengeras.." jelas Naruto tersenyum mesum.

Itsuki meremas kaos yang Naruto kenakan untuk menahan sengatan aneh ketika Naruto menyentuh tonjolan kecil pada kemaluannya, wajahnya memerah melihat jempol pemuda tersebut bergesek untuk merangsangnya. Kaki Itsuki bergerak tidak nyaman dengan hal itu. Ditambah hujaman Naruto yang kencang membuatnya semakin tidak bisa menahan gairahnya.

"Jangan menyentuhnya! Ahn! Aku masih sensitif di bawah sana~! Ah! Ahn~ Ahmn!" Naruto tidak peduli dan terus merangsang Itsuki, dia turun ke bawah kembali menghisap tonjolan pink dari puncak dada Itsuki yang bergoyang erotis di depannya.

Naruto merasa liang senggama Itsuki mulai mengetat seakan tidak membiarkannya lepas, Itsuki hanya meremas kepala Naruto dengan tangannya. Di dalam tubuhnya mulai terasa bergejolak, Itsuki akan segera mencapai puncak klimaksnya. Naruto mengetahuinya lalu menghujam Itsuki semakin kencang seraya memeluk erat wanita yang tengah digagahinya.

"Hebat, itu serasa menghisapku ke dalam.. agh, Nakano-san!" Jelas Naruto ketika mengetatnya liang senggama Itsuki membuat kejantanannya serasa dihisap ke dalam, membuatnya tidak tahan untuk menghujam semakin dalam wanita cantik di bawahnya.

"Ah! Ahn! Ah! Tidak! Namikaze-kun, hentikan.. Ahn~ Aku mulai merasa aneh..Mmn.. Uh! Ah.. Ahm!" Itsuki menutup matanya seraya menggigit bibirnya menahan desahan erotisnya, terutama ketika tangan Naruto mulai menahan pahanya ke atas dan melakukan gerakan in-out tanpa henti, Itsuki dapat merasakan kejantanan Naruto yang membesar di dalam liang senggamanya.

Tubuh mereka sama-sama berkeringat karena kegiatan menggairahkan di malam pertama mereka melakukan hubungan intim, Naruto semakin terlena dengan betapa lentur dan licinnya liang senggama itsuki yang memanjakan kejantanannya. Desahan mereka memenuhi ruangan dan tentu saja dapat didengar tetangga mereka karena dinding yang tipis. Sepertinya mereka sudah lupa dengan hal tersebut.

Oh, apa ini? Aku ingin dia mendorongnya dengan lebih keras.. Itsuki berkata dalam hati seraya mengikuti gerakan pinggang Naruto yang bergerak naik-turun, mereka mendesah bersama ketika merasakan puncak mereka akan sampai.

"Ah! Ahn~ ah! Namikaze-kun, aku merasa aneh.. sesuatu akan keluar~Ah! Ahn.. Apa ini?"

"Itu artinya kau akan ejakulasi.." Jelas Naruto yang membuat Itsuki merona dan melebarkan matanya.

"Huh?!"

"Bertahanlah sebentar lagi.." Jelas Naruto sementara tangannya menuntun salah satu pergelangan kaki Itsuki agar terangkat tepat pada pundaknya, "..Kita akan keluar bersama.." jelas Naruto menatap wajah Itsuki lalu dia membungkuk ketika posisi kaki sebelah kiri Itsuki yang ditahan pada pundaknya sehingga bokong Itsuki terangkat ke atas, posisi yang terkesan mesum dan tidak biasa membuat Itsuki merona.

"Apa-apaan posisi ini-Ahn! Ah! Namikaze-kun, Ahn.. hentikan! Ahnm.. Ahn!" Itsuki terkejut ketika Naruto bergerak hingga mencapai titik paling sensitif, bokongnya terus terpaksa terangkat setiap kali Naruto menarik kejantanannya.

Tangan Itsuki terangkat meremas erat bantal yang dia gunakan di kepalanya, wajah merona dengan matanya yang sayu menatap ke bawah pada liang senggamanya yang terus dihujam semakin dalam oleh Naruto. Itsuki merasa kejantanan Naruto yang berkedut di dalamnya, Naruto sendiri merasa liang senggama Itsuki juga mengetat. Naruto bergerak semakin cepat hingga suara hentakan selangkangan mereka saling beradu. Dada besar Itsuki bergoyang dengan sangat menggoda.

"Ahn! Ah! Namikaze-kun, tunggu.. Kau terlalu cepat! Ahn~ ahm! Oh!"

"Sumimasen! Ini sangat enak, aku tidak bisa berhenti.. ugh..!"

"Tidak! Ah! Ah~ Kau bisa membuatnya rusak, Ahn.. Ah~ anehnya itu tidak terasa sakit lagi, Ahn~ Ah! Kenapa bisa begitu? Mnn~" Tanya Itsuki disela desahannya.

"Apa itu terasa nikmat?" Tanya Naruto yang senang mendengar ucapan Itsuki yang seakan menikmati hujamannya.

"Tidak! Ahn~ bukan berarti aku menikmatinya, Aaahn! Uh~ ah!"

"Padahal kau tinggal jujur saja.. Aah! Kimochii!" Naruto bergerak semakin cepat ketika membiarkan kaki Itsuki melebar, lalu menahan pangkal paha Itsuki ke atas, dengan perlahan menghentakkan ke dalam dan menekan-menekannya.

"Ahn! Iku! Iku! Itchauuu~! AAAHN!" Itsuki mendesah keras merasakan klimaksnya.

"Agh Nakano-san, iku!" Naruto langsung melepaskan kejantanannya lalu menyemburkan spermanya pada perut dan dada Itsuki, Naruto menatap Itsuki yang terlumuri spermanya dengan terengah-engah.

.

.

.

.

.

"Ah mou, tubuhku jadi kotor nih.." jelas Itsuki mengeluh dengan sperma Naruto yang mengotori bagian perut dan dadanya sambil mengelapnya dengan tisu.

Naruto melihat Itsuki yang memakai celana dalamnya, bokong berkeringatnya masih terlihat menggairahkan bagi Naruto. Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya yang memerah, dia sedang mencoba menahan dirinya agar tidak kembali menyentuh Itsuki. Dia menekan kejantanannya yang sepertinya kembali menonjol di balik celananya.

"Itu jauh lebih baik daripada keluar di dalam, 'bukan?" Jelas Naruto sambil mengingat bagaimana dia mencapai puncak tadi.

"Ah omong-omong, gomen nee.. aku membuat futonmu kotor.." Jelas Itsuki yang mengelap noda bercak darah perawannya di futon Naruto, tapi tidak hilang.

Naruto ikut melihat bercak darah yang di maksud Itsuki, matanya melirik Itsuki di depannya. Dia tersenyum tipis mengingat bagaimana Itsuki menahan rasa sakit ketika melepas keperawanannya, dan itu merupakan sisi manisnya. Kemudian Naruto mengelus kepala Itsuki dengan tatapan lembut, membuat Itsuki tersentak menatapnya.

"Itu tidak apa, kau tidak perlu memikirkannya. Lagipula, itu karena aku yang memaksamu. Lain kali, aku akan coba melakukannya dengan lebih lembut.." mendengar ucapan Naruto yang tersenyum padanya membuat Itsuki bersemu merah pada wajahnya, jantungnya ikut berdetak kencang dengan perlakuan Naruto yang tidak diduganya.

Belum lagi dia menyadari kalau Naruto ingin melakukan itu lagi padanya, Itsuki menggembungkan pipinya dengan tatapan tajam, dan langsung menepis tangan Naruto yang mengelus kepalanya.

"Kau memang pria terburuk..!"

"Huh?!"

.

.

.

.

.

TBC

Yeah, akhirnya sempet juga~ btw, erocc penganut slow update, jdi jgn ngarap gw cepet update..