Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : Extra Chapter

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre :Romance, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll .

Pairing : Naruto x Itsuki

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Silahkan membaca dengan santuy~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Namaku Namikaze Naruto. Tahun ini aku akan berumur 21 tahun. Mahasiswa jurusan kimia Universitas Konoha. Sekarang ini aku sedang mengikuti kelas malam di semester pendek. Aku bisa mengambil kelas itu sendirian berkat Deidara dan profesor Jiraiya yang bekerja sebagai dekan di kampus ini, walaupun peran Ibuku cukup besar, makanya tidak ada yang berani macam-macam.

"Seperti biasa, nilai tesmu selalu bagus, Namikaze-kun.." ucap seorang dosen pria padaku, "Kau memang mirip dengan Ayah dan bibimu saat dia kuliah, terutama Ayahmu. Bahkan lulus lebih cepat dari teman-teman seangkatannya dulu.." lanjutnya mengingat tentang Ayahku.

"Begitu, ya? Aku hanya sekedar menulis yang kubaca di buku.."

Saat lahir Ayahku sudah meninggal karena kecelakaan, jadi aku tidak begitu mengenalnya. Namun, beberapa orang sepertinya cukup dekat dengannya.

"Omong-omong, ada profesor dari yang tertarik padamu. Apa kau mau mencoba menemuinya? Dia orang Jepang, tapi dia sangat berpengaruh di CERN, kurasa dia mengenalmu.."

"Eh?"

"Kau harus memikirkannya, dia orang yang cukup berpengaruh.."

"Baiklah, saya akan memikirkannya.."

Setelah berbincang dengannya, aku keluar dari kelas. Seharusnya di pertengahan Agustus, saat ini adalah liburan musim panas, tapi karena sering bolos masuk kelas, jadilah aku disibukkan dengan kegiatan seperti ini setiap hari. Aku tahu tidak seharusnya aku malas-malasan setelah banyak orang gagal masuk ke universitas ini, tapi bukankah orang-orang itu gagal karena kurang berusaha?

Lagipula, alasan aku berada di sini karena aku tidak bisa menolak perintah Ibuku. Pada kenyataannya aku juga memikirkan sesuatu yang sama seperti kebanyakan orang gagal. Ditambah harapan besar dari banyak orang yang membuatnya semakin terasa berat. Hidup itu seharusnya bisa bersama orang yang kucintai dan mendapatkan pekerjaan yang kusuka, bukankah hidup akan terasa lebih baik jika seperti itu?

Dan kupikir aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai dan pekerjaan yang aku sukai, seperti saat ini langkahku hanya tertuju untuk pulang, tentu saja karena ada orang yang sedang menungguku. Bicara soal orang yang menungguku, dia sebenarnya adalah pacarku. Dan kami sudah tinggal bersama sejak bulan April lalu. Dia dosenku di kampus, lebih tua dariku, dia cukup galak tapi sangat manis. Dan orang itu bernama Nakano Itsuki.

"Tadaima.." Aku membuka pintu apartement dan mencium aroma wangi dari masakannya.

Aku tidak mendapat jawaban, namun perutku yang lapar dan rasa rinduku membuatku langsung melangkah ke dapur. Aku melihat sosoknya dari belakang yang sibuk mengaduk sup miso sambil melihat sebuah brosur dengan serius.

Sejujurnya aku sedikit khawatir bagaimana untuk bersikap padanya karena aku memaksanya untuk berhubungan badan saat kami baru mengenal, tapi sejak tinggal bersama aku sadar dia perhatian dengan memarahi semua kelakuanku dan sering kali melirik padaku. Semakin lama itu malah terlihat menggemaskan karena aku sadar dia punya rasa padaku.

Aku mendekat tepat di belakangnya tanpa dia sadari, aku melihatnya menatap brosur tersebut yang menunjukkan acara festival musim panas yang diadakan di dekat sini. Dia bahkan mengabaikan salamku tadi, hanya karena melihat brosur itu. Aku tersenyum jahil lalu mengendap-ngendap untuk mengagetkannya.

"Ha..!" Aku menyentuh perutnya secara mendadak yang langsung membuatnya bergidik.

"Kyaaa!" Dia berteriak dan langsung menengok ke belakang menatapku, "Kau sudah pulang? Kau seharusnya katakan sesuatu!"

"Aku sudah mengucapkan tadaima saat masuk ke dalam, kau saja yang sedang melamun.." jelasku yang beralih untuk membuka kulkas dan mengambil air mineral, "Kau menatap brosur itu dengan serius, apa kau ingin datang ke festival musim panas?" tanyaku sebelum akhirnya aku meminum air dari botol.

"Ah, tidak. Saat berbelanja untuk makan malam seseorang membagikan brosur ini di depan super market, dan menawariku untuk datang besok. Aku jadi teringat saat masih kecil Ibuku suka pergi ke festival musim panas, dan entah bagaimana aku dan saudariku selalu pergi ke sana bersama. Tapi, semakin dewasa kita sibuk dengan pekerjaan, bahkan sekarang Ichika sedang sibuk mempersiapkan hari pernikahannya. Kita tidak punya banyak kesempatan untuk pergi bersama lagi, aku juga merasa tidak enak jika bergabung dengan keluarga kecil mereka, rasanya jadi agak sedih.." Itsuki menceritakan pengalaman masa lalunya, meskipun tersenyum aku tahu dia ingin datang ke sana.

"Yah, bagaimanapun ketika dewasa, semuanya akan berpisah untuk kehidupannya masing-masing.." mendengarnya mengatakan hal itu sambil tersenyum jadi terkesan menyedihkan.

Aku benar-benar tidak menyukai senyuman palsunya, Itsuki tidak pandai berbohong.

"Kalau begitu, kenapa kita tidak pergi saja?" Aku bertanya padanya yang langsung terkejut.

"He?!"

Aku mengambil brosur yang ada ditangannya, "Oh, festival musim panas di Sumidagawa memang paling meriah. Temanku bilang kembang apinya terlihat dari pantulan permukaan sungai. Aku belum pernah coba ke sana, sih.." ucapku menatap brosur yang bergambar kembang api yang cukup meriah, beberapa temanku memang bilang pertunjukkan kembang api di sana sangat bagus.

Aku menatapnya yang ada di sampingku dan tersenyum, "Aku juga sudah lama tidak ke festival musim panas. Terakhir kali, aku pergi saat kelas satu SD dengan bibi dan sepupuku, itu juga di dekat rumah. Bagaimana? Mau datang?" aku agak menunduk karena tingginya lebih pendek dariku, wajahnya terlihat merona dengan mata berbinar, lalu dia menutupinya dengan mematikan kompor.

"Bukankah kau ada kelas di hari itu..?" Tanyanya mengalihkan pandangannya dariku, pertanyaan seperti itu hanya kamuflase ketika dia merasa senang.

Aku tahu dia mengharapkan jawaban yang bagus dariku. Aku mulai mengenal bagaimana tingkah lakunya sejak beberapa bulan lalu kami mulai pacaran. Itsuki tidak pernah ingin menunjukkan kemauannya secara terang-terangan padaku, aku mulai menyadarinya sejak kami bertengkar untuk pertama kalinya.

"Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat, lagipula aku ingin melihat cewek yang kusuka memakai yukata dan menungguku di sekitar gerbang masuk festival.."

"Kita kan tinggal bersama, kenapa aku harus menunggumu di sana?!"

Aku tersenyum dan mengelus puncak kepala Itsuki dengan bahagia, "Dasar kau ini, tentu saja itulah yang membuat kencan menjadi menyenangkan~" lanjutku.

"Memangnya kau ini anak SMA?"

"Berangkat bersama dari rumah kesannya tidak seperti kencan.."

"Baiklah, jika maumu begitu.." ucapnya yang malu-malu sambil menuangkan sup miso ke mangkuk.

Dari reaksinya, dia terlihat senang. Awalnya, kupikir dia tipe yang tidak suka jika seorang pacar terlalu mengusiknya, tapi kupikir dia punya sikap yang ingin dimanja dan butuh perhatian.

Sejujurnya aku sempat khawatir kalau dia akan menjauh karena memikirkan hubungan kami yang nampak tidak realistis. Meskipun, kami bertemu setiap hari, aku merasa ada kalanya dia sibuk dan kami tidak punya banyak waktu untuk bicara.

"Besok jam 7, tunggu aku di depan gerbangnya.." Ucapku sembari membantunya membawa makanan.

"Tunggu, kenapa kau jadi bersemangat begitu?"

Namun, kesempatan seperti ini membuatku bahagia. Setidaknya aku ingin membuatnya merasa nyaman di sampingku, menghilangkan rasa kesepiannya akan keluarga, agar dia tahu bahwa dia bisa bergantung padaku sekarang.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah kencanku dengan Itsuki ke festival musim panas, aku benar-benar tidak sabar melihatnya. Aku langsung melangkah keluar kampus dengan terburu-buru, ketika aku membuka ponselku dan terdapat pesan dari Itsuki yang sudah menunggu di dekat gerbang festival. Aku langsung menuju lokasi dari festival musim panas yang diadakan. Sebelum menemuinya aku menyewa yukata di toko terdekat dan menitip barang-barang yang tidak perlu kubawa, setidaknya aku kenal cukup dekat dengan pemilik toko tersebut.

Ketika sampai di sana, aku melihat Itsuki yang sudah menungguku. Dia nampak lebih cantik dengan yukata yang dia kenakan, dan rambutnya ditata rapih dengan hiasan rambut berbentuk bunga. Aku tersenyum, sebelum mendekatinya aku memotretnya dengan smartphoneku dari kejauhan. Setelah puas, aku mendekatinya yang menungguku tepat di samping gerbang masuk.

"Hey, lihat! Pria itu sangat tampan..!" Ucap beberapa gadis muda di sana.

Oh sial, sepertinya aku menarik perhatian banyak orang lagi. Mendengar hal itu, Itsuki langsung menatap ke arahku. Tentu saja, aku langsung menyapanya dengan senyuman lebar.

"Itsuki, maaf lama menunggu.." ujarku yang langsung berhenti ketika Itsuki menatapku dengan garang.

"Aku sudah menunggumu sejak jam 7, dan kau datang 40 menit setelahnya.." ucapnya yang terlihat sangat marah karena menunggu lama.

"Kelihatannya itu membuatmu berada dalam mood yang cukup buruk, maaf.."

"Aku tidak percaya, aku harus menunggu seseorang yang tinggal bersamaku, aku sudah bilang untuk pergi bersama saja.." Itsuki membuang muka dariku, "Kau habis darimana bisa selama itu?" Tanyanya penuh selidik.

"Maaf, sepertinya aku terlalu lama memilih yukatanya, Ahaha..!" Aku hanya tertawa canggung di depannya sambil mengusap kepalaku, "Omong-omong, kau ingin kemana dulu? Mau main, atau makan dulu? Aku sudah tidak sabar..!"

"Kau terlihat lebih antuasias, sebenarnya kau yang ingin datang, 'kan?"

"Muntung kita di sini, kita harus bersenang-senang!"

Setelah itu, kami masuk ke dalam festival. Dia terlihat senang dan senyumnya mengembang, bagaimanapun dia tetap seorang wanita biasa. Kami bermain banyak permainan, meskipun Itsuki lebih terlihat antusias mencicipi banyak makanan.

"Ah, lihat. Di sana ada atraksi, ayo ke sana!" Ucapnya yang berlari ke arah kerumunan orang di depannya, keadaan yang cukup ramai sulit untuk di lewati, Itsuki terbawa kerumunan tersebut dan aku dengan sigap melaju untuk menangkap tangannya.

Aku menariknya agar mendekat kembali padaku dan membuatnya menabrakku sehingga dia jatuh ke pelukanku, "Tidak perlu buru-buru, kita masih punya banyak waktu.." ucapku padanya yang tiba-tiba menjadi gugup.

"A..A-aku tahu..!" tegasnya yang langsung berdiri dan mendorongku, dari telinganya dia terlihat merona.

Dia manis sekali. Ini aneh bukan? Bahkan berpikir di tempat seramai ini, menghabiskan waktu dengannya membuatku berdebar. Yah, ini pertama kalinya kami berkencan seperti pasangan pada umumnya. Aku langsung berinisiatif menggenggam tangannya, menautkan jariku di sela jarinya yang membuatnya terperanjat.

"A-apa yang-"

"Kita harus berpegangan lebih erat, supaya aku tidak perlu khawatir jika kau hilang.."

"Aku bukan anak kecil, kau tidak perlu memegang tanganku seperti itu!" dia mengalihkan matanya dariku.

"Biasanya, di situasi seperti ini seorang pria yang menjadi pemimpin, jadi aku tidak akan melepaskannya.."

"Mungkin akan ada seseorang dari kampus atau orang yang mengenali kita melihatnya.."

"Tidak masalah, 'kan? Kau ini kan memang pacarku, hari ini kau tidak bekerja dan aku bukan mahasiswamu. Jadi nikmati saja waktunya, lagipula aku ingin punya kenangan dimana aku bisa bebas memegang tanganmu di hadapan banyak orang. Apa itu tidak boleh?" Aku menatap lebih dalam padanya yang terdiam, dia menunduk dan membalas genggaman tanganku dengan lebih erat.

"Tentu saja, aku tidak melarangnya. Aku juga senang dengan ini sekarang.." Wajahnya merona dan dia benar-benar manis saat ini.

"Percaya padaku, ini hanya sebentar saja. Kali ini aku akan membuatmu merasa lebih baik.." ujarku menatap ke dalam mata birunya, meyakinkannya bahwa perasaan cintaku bisa melindunginya.

Aku menarik tangannya sehingga kami berjalan beriringan menelusuri ramainya festival musim panas dalam diam, ini adalah pertama kalinya kami berkencan secara terbuka. Tangannya lebih kecil dariku, tapi hanya bergandengan tangan itu sudah membuatku sangat bahagia.

Aku yakin hubungan kami berjalan lancar. Aku tidak ingin melakukan hal yang memperburuk posisinya atau membuatnya merasa telah melakukan kesalahan, sebab aku benar-benar menyukainya. Dan setiap kali aku menyentuhnya, itu sudah membuatku gugup seperti orang bodoh.

Kami melihat kepada kerumunan orang yang melihat atraksi tarian, kami terpukau dengan atraksi itu sambil berpegangan tangan. Aku melihatnya yang terlihat sangat tertarik dengan tarian itu. Senyumannya merekah, apa dia sesuka itu pada festival musim panas?

"Itsuki, tahun depan ayo kita datang lagi ke festival musim panas.."

"Eh?"

"Tahun depannya lagi, dan tahun -tahun setelahnya. Aku memang seorang pria yang payah, tapi aku berjanji tidak akan membuatmu kesepian. Jika hal ini membuatmu bahagia, aku ingin menemanimu setiap tahun."

Aku tidak menatapnya, entah bagaimana dari ucapanku itu seperti sebuah pernyataan. Aku merasa gugup tapi aku tidak ingin terlihat bodoh di hadapannya.

"Kau mengatakan sesuatu yang memalukan lagi.." dia mengomel sebelum akhirnya tersenyum, "Itu beberapa hal yang harus kau tepati padaku.." Ujarnya yang membuatku menatapnya, dia menunjukkan kasih sayangnya dan senyuman tulus yang selalu dia sembunyikan dariku.

Rasanya seperti aku berada dibawah pengaruh sihirnya. Aku merasakan kenangan ini langsung terukir dalam hatiku, yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Bahkan sebelum aku jatuh cinta padanya, aku sudah tahu resiko tersebut jika aku tetap bersamanya. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa yang aku harus kukatakan tentang sihir berbahaya yang manis ini? Sial, dia sangat manis. Aku ingin menyentuhnya.

"Itsuki, ikut aku.."

"Eh, kemana?"

Aku menariknya untuk menjauh dari keramaian festival, aku membawanya menaiki tangga menuju kuil di dekat sana, hingga kami memasuki taman di dekat kuil. Dia terlihat bingung dengan apa yang aku lakukan. Aku berhenti di belakang kuil yang menutupi kami dari keramaian festival.

"Apa kau ingin istirahat? Kau tiba-tiba menarikku kemari, padahal kita bisa membeli sesuatu dulu untuk dimakan..." Ucapnya merajuk ketika aku menariknya menjauh dari kawasan festival.

"Itsuki, Yukata itu sangat cocok untukmu.."

"Eh? Benarkah? Terima kasih.."

"Kau sangat cantik, dan aku cemburu ketika pria di sekitar kita melihatmu mengenakannya.."

"Itu sangat kekanak-kanakan.."

"Begitu ya?"

Aku mendekatinya dan menyentuh rambutnya. Aku menatap langsung matanya dengan intens. Entah bagaimana dia menjadi gugup dan mengalihkan pandangannya dariku. Dari rambutnya kemudian tanganku menyentuh pipinya yang merona hingga ke telinga. Reaksinya sangat manis.

Aku tahu di saat seperti ini, tidak seharusnya aku menyentuhnya, tapi aku tidak bisa menahan diriku setiap saat dia menunjukkan wajah seperti itu. Bahkan, di saat aku hanya menyentuh telinganya, dia terlihat malu-malu. Kenapa dia begitu manis?

"Jangan menatapku terus, itu menakutiku.."

"Itu salahmu, kau menunjukkan wajah seperti itu lagi.." aku mendekat lalu membungkuk hingga kepalaku bersandar pada bahunya, "Kau adalah orang yang pertama kali membuatku segugup ini.." aku menutup mataku menikmati saat tersebut.

"Naruto.."

"Kau sangat manis, perasaan aneh mulai muncul dan aku tidak bisa menahan diri untuk menggodamu. Apa itu mengganggumu?"

"Aku senang kau peduli padaku, baru kali ini ada pria yang mengatakan hal seperti itu.."

Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya yang jauh lebih pendek dariku, kami berpandangan dalam diam. Itsuki terlihat memberanikan dirinya menatapku, dia terlihat berjinjit dan mengalungkan tangannya pada leherku. Di detik berikutnya dia menutup matanya saat bibir kami bertemu, aku cukup terkejut dengan itu. Itsuki yang mendekat dan menciumku.

Walaupun hanya sebatas menempel, aku langsung melingkari tanganku pada pinggangnya. Tanganku meraba lekukan punggungnya dan menjalar pada tengkuk leher. Menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman kami. Bibirnya terasa lembut dan manis seperti gula, mungkin karena beberapa saat yang lalu dia memakan permen kapas.

Bibirnya mulai bergerak seakan dia memintaku untuk melumatnya, aku membuka mulutku dan melesakkan lidahku untuk memasuki rongga mulutnya. Aku bisa merasakan mulutnya menghisap lidahku, deru nafasnya terdengar begitu erotis, bahkan mungkin aku sudah horny karena ciuman yang dia lakukan. Rasa nikmatnya membuatku ingin menghentikan waktu agar aku bisa merasakan kehangatannya.

Dia kelihatan kehabisan nafas dan melepas ciuman panas yang dia lakukan padaku, menciptakan benang saliva diantara lidah kami. Dia terengah dan menunjukkan wajah meronanya, aku tersenyum mengingat dia sangat pemalu.

"Apa ini? Ciumanmu sangat fokus.." tanggapku yang membuatnya membuang muka dariku, "Katakan padaku apa yang sedang kau rasakan?" Tanyaku padanya yang melepaskan dirinya dariku dan berbalik melangkah menjauh dariku dengan terburu-buru.

"Kau ini sangat pintar mengatakan hal yang membuatku sangat senang, itu sangat menyebalkan. Dasar perayu wanita, tukang gombal!" Ungkapnya entah dia serius sedang memakiku atau tidak.

Aku mendekat padanya dan berhenti tepat di belakangnya dan mendengarnya kembali bicara, "Tiba-tiba kau jadi sangat manis, makanya aku mulai mengambil tindakan untuk menciummu. Tapi, sekali aku mengambil tindakan seperti itu, aku tidak mampu menghentikan diriku. Aku lebih tua jadi seharusnya aku bisa menahan diri.." lanjutnya meskipun aku hanya melihat punggungnya saja, aku mencoba mengintip dengan menunduk ke samping kanan tapi dia langsung menghadap ke arah yang berlawanan, dia seperti sedang menutupi rasa malunya.

Jadi itu yang dia pikirkan, mendengarnya mengatakan itu membuatku terperangah, aku penasaran bagaimana ekspresinya saat ini. Aku
mencoba mengintipnya dengan menunduk ke arah kiri, dan aku melihat wajahnya yang merona malu. Itu nampak sangat manis, bahkan untuk pertama kalinya aku terkejut melihatnya seperti itu.

Aku langsung memeluknya dari belakang, dia menegang dengan tindakanku. Dia bilang bahwa dia tidak bisa menahan dirinya, walaupun sebenarnya saat ini seseorang yang tidak bisa menghentikan dirinya adalah aku.

"Tapi Aku suka Itsuki yang seperti itu. Kau tidak perlu menahan diri lagi, aku juga ingin menyentuhmu setiap waktu. Aku tidak ingin memperburuk situasimu, jadi di depan banyak orang aku mencoba untuk menahan diri. Kau juga menjaga jarak dariku, 'bukan? Kau juga menahan dirimu selama ini.." ucapku mencium aroma rambutnya dari belakang.

Dia memegang tanganku yang memeluknya dari belakang, "Kau tahu? Kau punya selera yang buruk, kau bisa saja memilih orang lain. Dan kau tidak perlu menahan dirimu.." ujarnya.

"Meskipun begitu, aku tetap ingin membuatmu bahagia. Jadi aku tidak peduli seberapa jauh jarak kita. Aku ingin bersamamu. Kau tahu, Itsuki? Kurasa aku mungkin memang serius jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.."

Dia terlihat panik dari gestur tubuhnya, "D-da..dasar bodoh, sekarang aku jadi bingung apa yang harus dilakukan jika kau mengatakan itu..!" ujarnya yang merajuk.

Dia benar-benar sangat manis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan sekarang kami duduk di teras belakang kuil. Itsuki duduk di depanku, aku memeluk perutnya dari belakang untuk mendekatkan jarak di antara kami. Kepalanya agak menengok ke belakang untuk bercumbu denganku yang sedikit merunduk. Kami sudah berciuman sejak dua menit yang lalu.

Bibir kami saling melumat satu sama lain, suara decapan dan desahannya yang tertahan menjadi pengiring suasana yang sepi. Bahkan, lidah kami sudah saling melilit di dalam mulut kami. Aku mulai mencoba menangkup dadanya lalu meremas pelan, dia menggeliat karena hal itu dan menjauhkan wajahnya saat kami bercumbu.

Aku berpindah menghirup aroma dari samping lehernya, "Tunggu..mnnh~" kedua tangannya mencoba menghentikan tanganku yang berusaha untuk menarik kebawah yukata bagian atas yang dia kenakan.

"Mungkin kita seharusnya tidak melakukan ini di sini.." aku tidak mendengarkan pendapatnya dan menarik yukata bagian atasnya ke bawah dan langsung memperlihatkan dada polosnya tanpa penghalang apapun, "Seseorang akan melihat kita.." ujarnya yang panik.

"Mereka terlalu sibuk bermain di festival, dan sekarang dibandingkan festival aku ingin berduaan denganmu.." ucapku untuk menggodanya yang langsung menegang ketika aku mulai menjilat telinganya.

"Ah~! Tapi..Ahn! Ngh.. uh.." Itsuki mengeluarkan alunan erotisnya ketika aku mencubit puncak dadanya dan menekannya dengan jari-jariku, terkadang aku melakukan gerakan berputar pada dadanya.

"Itsuki terasa lembut dimana pun aku menyentuhmu, tapi kurasa ini sudah mulai mengeras.." ucapku memilin puncak dadanya yang mengeras.

"Ah..! T-tidak, itu karena kau terus menggodaku.. Nghm~" dia masih tidak ingin jujur, kemudian tangan kananku menjalar ke bawah, aku menyingkap belahan pada yukata bagian bawahnya sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya.

"Tunggu, kubilang jangan.."

Tepat pada area sensitifnya yang masih terhalangi celana dalam, tanganku masuk ke dalamnya. Aku mulai menggesekkan jari tengahku di sana, kakinya mulai bergerak tak nyaman. Area sensitifnya semakin basah sehingga aku mulai memasukan dua jari pada liang senggamanya lalu bergerak keluar masuk secara perlahan.

"Ah~ mnh.. ah! Ngmm.." dia menggigit bibirnya seakan menahan desahannya.

"Kau lemah di sini, 'bukan? Kau makin basah.." Tanyaku padanya yang sudah pasrah dengan rangsangan yang kulakukan.

"Ahm.. meski kau bilang begitu..mngh~ kau tidak bisa melakukan ini.. hyah.." ucapnya yang terputus-putus karena desahannya.

Aku tidak peduli dengan tanggapannya dan mempercepat gesekan jari pada liang senggamanya, "Ahn! Ah! Ah.. Tunggu.. Ngh~ Ahn! Ahh.. Jika kau terlalu kuat, aku akan.. Ah.." dia menegang sementara aku terus menggesekkan jari dan mencubit puncak dadanya dengan lebih keras.

"AAAHN!" Tubuhnya langsung menegang bahkan kakinya berjinjit ketika dia mencapai klimaksnya, dia terengah dengan wajah meronanya.

Aku melepaskan tanganku dari liang senggamanya. Aku melihat tanganku yang menjadi basah karena merangsang wanita di depanku. Itsuki nampak merunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Entah bagaimana aku merasa bersalah karena sebenarnya dia tidak menginginkan ini.

"M-maaf, aku terlalu berlebihan.."

Aku hanya memikirkan kepuasanku sendiri tanpa memikirkan perasaannya, aku yang membuatnya berada di situasi ini dan memaksa melakukannya di tempat umum. Aku tahu aku memang pria yang payah. Dibandingkan diriku yang menginginkannya bergantung padaku, ini lebih seperti aku yang bergantung padanya. Namun, ketika memikirkan hal seperti itu. Tiba-tiba Itsuki berbalik dan bersandar pada tubuhku. Dia menunduk sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.

"Bahkan, meskipun aku bilang tidak ingin melakukannya di tempat seperti ini. Aku memang orang dewasa yang payah, sentuhanmu malah membuatku menginginkan hal lebih.." ucapnya yang membuatku terkejut, padahal kupikir dia menolak karena dia membencinya.

Kenapa dia malah menunjukkan reaksi yang membuatku semakin bersemangat?

Aku tersenyum, "Jadi apa yang kau inginkan, Itsuki?" Tanyaku padanya yang terdiam.

Aku masih menunggu jawabannya sementara dia menunduk menyembunyikan wajahnya, "Aku menginginkanmu, aku ingin kau melakukan apapun yang kau suka padaku.." jawabannya membuatku tertegun, tapi aku sangat senang.

"Baiklah, kalau begitu kemarilah.." ucapku yang berdiri lalu menariknya untuk memasuki semak-semak di depan kami agar tidak terlihat oleh orang lain, aku memandunya untuk berpegangan pada pohon di depannya.

"Seperti ini?" Tanyanya padaku yang melihatnya menungging dengan berpegangan pada pohon di depannya.

"Eh? Oh, I-iya.." entah bagaimana aku juga menjadi gugup, karena posisi ini membuat pikiran kotor menyelimuti kepala kuningku.

Aku menarik yukatanya ke atas lalu menggesernya hingga melihat bokongnya dengan celana dalamnya yang sudah basah, aku menarik celana dalam itu hingga mencapai atas lututnya. Ini sangat mendebarkan karena kami melakukannya di tempat umum. Aku juga membelah yukata bagian bawahku, aku mulai bersiap untuk menerobos liang senggama Itsuki dengan batangku yang sudah menegak.

"Aku akan mulai.." ucapku memposisikan batangku lalu dengan perlahan aku mulai memasuki liang senggamanya, tanganku menahan pinggangnya dan aku sedikit meringis karena entah bagaimana liang senggamanya terasa lebih ketat dari biasanya.

"AH..!" Itsuki mendesah begitu aku masuk dengan sekali hentakan.

"Ugh.. di dalammu terasa lebih ketat dari biasanya, apa melakukannya di tempat ini membuatmu gugup?" Tanyaku yang kemudian membungkuk agar kedua tanganku dapat menangkup buah dadanya dan seketika aku bisa merasakan Itsuki tengah berdebar, "Itsuki.. hatimu berdebar juga?" Lanjutku yang memijit pelan dada besarnya seraya mulai bergerak maju-mundur dengan tempo pelan.

"Ahn! Aahn..! Tapi, melakukannya di tempat seperti ini sangat memalukan..Ah~ Ah.." aku menahan pinggangnya dan bergerak lebih cepat, suara dari penyatuan kami terdengar bersamaan dengan desahan Itsuki yang semakin keras.

"Kau harus rendahkan suaramu, seseorang bisa tahu.."

"Ahn! Kalau begitu, lakukan lebih pelan, mnhh~" Itsuki menahan dirinya dengan bertumpu pada pohon, salah satu tangannya membungkam sendiri mulutnya untuk meredamkan desahannya.

Aku menunduk dan menjilat belakang telinganya. Salah satu tanganku menyentuh dadanya dan memainkannya pelan, sedangkan tanganku yang satunya lagi turun ke bawah pada area sensitifnya yang sudah sangat basah lalu menekannya yang membuatnya semakin terangsang. Itsuki menggigit bibirnya untuk menyembunyikan desahannya yang kapan saja bisa terucap.

Wajahnya sudah memerah dengan ekspresi yang begitu erotis, aku agak merendah dan menggigit belakang lehernya. Dia tersentak karena perlakuanku tersebut, aku menahan pinggangnya dengan kedua tanganku dan bergerak lebih cepat. Rasanya sebentar lagi aku sudah akan mencapai klimaksku, tubuhnya berguncang karena aku terus mencoba melesak masuk kejantananku lebih dalam.

"Mnn..! Ah.. Ahn! mnn~" Itsuki terlihat kewalahan, dari ekspresinya dia juga menikmati setiap hentakan yang kami lakukan.

Sedikit lagi, aku hampir sampai..

"Pengumuman untuk para pengunjung, pertunjukkan kembang api akan segera di adakan tepat 10 menit lagi..."

Entah mengapa ekspresi wajahnya berubah antusias dan penuh senyuman, "Pertunjukkan kembang apinya akan dimulai!" Ucapnya.

Pengumuman itu secara spontan membuat Itsuki yang menungging tiba-tiba berdiri, dan daguku terpentok kepalanya.

"Agh!"

"Ouch..!"

Dia memegang kepalanya yang sakit, sementara aku meringis. Entah bagaimana saat itu dia lebih antusias dengan pertunjukkan kembang api, dia tak peduli dengan hal yang sedang kami lakukan.

"Bukan saatnya melakukan ini, Naruto.. pertunjukkan kembang apinya akan di mulai, ucapnya yang tengah mengenakan celana dalamnya.

"Eh?" Aku sedikit bingung, karena kepalang nanggung.

Aku hanya mengikuti kemauannya untuk melihat kembang api. Kami pergi mencari tempat yang lebih leluasa melihat kelap-kelip kembang api di langit dan berakhir melihatnya dari . Malam itu, aku melihat wajahnya yang lebih rileks dari biasanya.

Kami pulang setelah pertunjukkan kembang api berakhir. Setelah keluar dari stasiun aku dan Itsuki pulang berjalan kaki. Itsuki berhenti berjalan ketika kami sudah berada di komplek perumahan, dia terlihat meringis memandang kakinya.

"Kenapa?"

"Kelihatannya kakiku sedikit tergores.."

"Coba kulihat.."

"Ah, maaf.." aku berjongkok lalu menatap pada sela jempol kaki Itsuki yang memang lecet, sepertinya dia terluka karena terlalu lama berjalan.

"Sepertinya itu karena sendal yang kau pakai.."

"Sudah kuduga.."

"Lepaskan sendalmu.."

"Eh?"

Aku berjongkok lalu menunjuk punggungku, "Lagipula sudah cukup dekat, aku akan menggendongmu.." ucapku yang membuatnya ragu.

"Eh?! Ta-tapi-" Itsuki sedikit merenung, "Aku mungkin cukup berat, meskipun aku sudah diet.."

"Tidak apa, staminaku ini cukup kuat!" Ucapku yang tetap bersikeras untuk menggendongnya.

"Ba-baiklah.." Itsuki mulai turun dan memegang pundak ku dari belakang, aku memegang kedua kaki dan mengangkat tubuhnya ketika berdiri, "A-aku berat, 'kan?!" Dia terlihat tidak nyaman dengan berat badannya.

"Tidak juga, justru itu membuatku bisa merasakan dada besarmu~" Aku mengatakan itu karena aku bisa merasakan dada besarnya dipunggungku.

"Ba-baka!" Dia merajuk dengan wajah merona.

Aku kemudian berjalan dalam diam, aku terkejut ketika merasakan Itsuki merapat dengan kedua tangannya memelukku dari belakang. Aku merasakannya yang mengendus di belakang leher, itu sedikit membuatku salah tingkah.

"Tu-tunggu, apa yang kau lakukan..?!"

"Baumu enak.."

"Goda aku saat kita sudah sampai rumah saja.."

Kami terdiam beberapa saat sampai Itsuki kembali bicara, "Terima kasih, karena sudah menemaniku melihat kembang api. Aku sudah lama tidak melihatnya.." ucap Itsuki yang membuatku teralihkan padanya, "Sebelumnya aku hanya melihat dari kejauhan melalui jendela apartement, aku sibuk bekerja dan melupakan hal-hal paling menyenangkan. Setelah mengalami kegagalan, kupikir mencintai seorang pria adalah hal yang bodoh, dan hubungan hanya sebuah kontrak.." Itsuki terlihat mengeratkan pelukannya padaku.

"Hm, begitu?"

"Un, tapi sejak bertemu denganmu, aku bisa merasakan cinta yang tulus. Kau menerimaku yang seperti ini, setelah memikirkannya, aku bersyukur karena bertemu denganmu. Aku dicintai oleh pria yang paling baik, aku tidak tahu bagaimana untuk membalasnya. Naruto, apa yang harus kulakukan? Sepertinya aku semakin mencintaimu.." Itsuki mengatakan sesuatu yang luar biasa membuatku senang.

Oh sialan, aku sangat senang mendengarnya. Tanpa sadar aku tersenyum, perasaan kami terhubung meskipun dari hal-hal yang terkecil sekalipun. Mendengar suara yang tepat ada di dekatku saja, sudah membuat dadaku berdebar tak karuan. Aku ingin menyentuhnya, membuatnya menjadi milikku.

"Itsuki, setelah sampai di rumah. Ayo lanjutkan yang tadi.."

"B-baka! Apa yang ku pikirkan?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

End

Ini bukan chapter main story..