Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 9

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Erocc tidak tahu apa yang harus dikatakan, baca sajalah.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Itsuki terbangun dari tidurnya ketika merasakan tangan pemuda di belakang yang meremas dadanya, dia menyadari hari ini sudah pagi dari cahaya di jendela kamar. Dia hendak terbangun dengan tergesah-gesah.

"Ah, jam berapa ini?! Hari ini aku harus berkemas..!" Ucapnya yang ditahan oleh pemuda di belakangnya.

"Ini masih jam 5, kau kan masuk jam 8.." ucap pemuda kuning yang ada di belakangnya, pemuda yang merupakan pacarnya itu malah menyelipkan tangannya ke dalam piyama yang Itsuki kenakan.

"Naruto, apa kau masih tidur?"

"Aku sudah bangun dari tadi.."

Itsuki merasakan tangan Naruto bergerak lebih agresif pada dadanya, Itsuki menggigit bibirnya sendiri ketika hal itu merangsangnya. Tangan Itsuki mencoba menarik tangan Naruto untuk berhenti.

"Ja-jangan menyentuhku seperti itu.." wajah Itsuki kian memerah ketika menyadari kaki Naruto terangkat di antara kakinya.

"Tak apa, 'kan? Lagipula kita masih punya waktu.." Naruto mencium sela leher Itsuki yang makin terangsang dengan perbuatannya.

"Tapi sekarang masih pagi.. ah.. mnn~" Itsuki menahan suaranya ketika Naruto mulai memilin tonjolan dari dadanya.

"Kau tidak pakai bra.." ucapnya yang membuat Itsuki malu.

"A-aku pikir semalam kau akan melakukannya seperti biasa.."

"Kau ingin aku melakukannya?" Bersamaan dengan pertanyaan itu Itsuki bisa merasakan batang Naruto sudah menonjol saat berdempetan dengan bokongnya.

"Apa yang kau katakan.."

"Kau terlihat menggoda karena tidak pakai bra, ditambah kau tidur di sampingku hanya pakai celana dalam. Kau semalam menungguku ya?" Goda Naruto menjahili kekasihnya, Itsuki makin terkejut ketika tangan Naruto menyelip masuk ke celana dalamnya, Itsuki merasakan gesekan pelan pada area sensitifnya hingga dia menahan rangsangan tersebut dengan menutup mulutnya yang kapan saja akan menyuarakan alunan erotis.

"Mnn~ Ah..!" Pada akhirnya dia tak bisa menahannya ketika Naruto mempercepat gesekan jarinya.

"Apa ini enak?" Itsuki sadar dua jari Naruto mulai masuk ke dalam dan bergerak keluar-masuk.

"Ngnm.. kenapa kau harus bertanya? Ah.. uhn~"

"Ini mulai basah.."

Liang Itsuki semakin basah dengan perlakuan Naruto, sampai dia tak bisa lagi menahan diri saat akan mencapai puncaknya.

"Ah, tidak.. tunggu dulu.. Ah~ ah.. nng..! Jangan.. hh.." Itsuki menggenggam erat seprai ranjangnya ketika sebentar lagi dia akan mencapai hasratnya, perasaan kecewa muncul ketika Naruto malah berhenti sebelum itu tercapai.

"Mau melanjutkannya? Kalau tidak, aku akan berhenti.." bisik Naruto yang masih berada di belakangnya.

Itsuki ingin berhenti, tapi rangsangan tadi membuatnya tidak puas, Itsuki merasakan tonjolan dibokongnya sangat keras. Wajahnya memerah mengetahui benda apa yang menyentuh bokongnya. Itsuki turun ke bawah hingga tertutup oleh selimut, Naruto bergumam seperti kecewa karena harus melepaskan Itsuki, lagipula dia tidak mau memaksa kalau Itsuki sedang tidak memiliki mood. Mata Naruto melebar terkejut ketika Itsuki menarik celananya ke bawah dan mejilat batangnya yang tegak.

"Hanya sekali ini saja.." ucap Itsuki sebelum akhirnya melanjutkan mengulum batang tegak Naruto.

Naruto terlihat terduduk sebelum akhirnya dia membuka selimutnya ke atas memperlihatkan Itsuki yang tengah mengulum batangnya seperti wanita nakal. Hal itu sebenarnya sangat memalukan bagi Itsuki karena Naruto terus melihatnya tanpa berkedip, Itsuki langsung menarik selimut itu untuk menutupi dirinya agar dia tidak dilihat oleh Naruto.

"Kau tidak boleh mengintip, dasar mesum..!" ucapnya pada Naruto sambil menggenggam selimut itu agar tidak dibuka oleh Naruto, dia kembali menjilat dari bawah ke atas beberapa kali, lalu dilanjutkan dengan mengulum lebih kencang batang kekasihnya yang mulai terpedaya.

Naruto bisa merasakan batangnya di dalam terasa hangat dan lembut, Itsuki sudah lebih mahir mengulum batangnya.

"Ah.. Itu enak, Itsuki.." Naruto mulai menyentuh kepala Itsuki dengan kedua tangannya.

Matanya terpejam menikmati batangnya dikulum semakin kencang oleh Itsuki seperti disedot, itu terasa lebih merangsang, seakan-akan Naruto bisa saja langsung mencapai klimaks hanya dengan itu. Suara decapan juga dapat didengar oleh Naruto meskipun dia tak bisa melihat Itsuki karena tertutupi selimut, dengan pergerakan kepala Itsuki yang naik-nurun, Naruto langsung mengkhayal bagaimana ekspresi Itsuki.

Itsuki mengemut pada ujung batangnya, meskipun hanya sedikit yang masuk, kuluman Itsuki cukup kuat dan pergerakan tangannya yang mengocok batang Naruto cukup lihai. Naruto mendesis karena menahan dirinya orgasme di saat itu. Tangannya meremas kepala Itsuki yang masih tertutupi selimut.

"Sst.. Itsuki, boleh aku melihatmu? Agh.."

Naruto kian merunduk memperhatikan siluet selimut dimana memperlihat pergerakan Itsuki. Naruto tidak menyangka Itsuki yang awalnya malu-malu untuk oral, sekarang menjadi lebih agresif dan mahir. Walaupun oral itu permintaan Naruto sendiri setiap Itsuki sedang datang bulan. Naruto tidak bisa menghentikan bahwa hal itu membuatnya merasakan kenikmatan ketika benda lunak itu bergerak pada bagian sensitifnya.

"Ufufu~ Kau mendesah karena ini, menyedihkan.. Mnn~ hh.."

"Uh.. Akh.. Kalau tidak salah sebelumnya kau bilang itu jorok.."

"Mnn.. Bodoh, kau sendiri yang selalu memintanya, kau yang mengemut jariku dan memberi contoh bagaimana untuk melakukannya dengan benar, 'bukan?"

"Ah, Itsuki.. Ngh!"

Biasanya Naruto akan mengatakannya kalau dia akan segera mencapai klimaks, tapi itu bahkan belum menghabiskan waktu dua menit. Akan jadi suatu hal yang buruk jika dia klimaks terlalu cepat. Itu tidak bagus karena batangnya mulai berdenyut-denyut ketika Itsuki bergerak melahap seluruh batangnya.

"Itsuki, aku tidak bisa menahannya lagi.. Agh..!"

"Ngmnn~!"

Splurt!

Naruto menekan kepala Itsuki untuk memperdalam kulumannya bersamaan dia mencapai klimaksnya, Itsuki terpaksa menelan benih yang Naruto keluarkan karena mulutnya masih mengulum batang Naruto. Benih itu terus-menerus keluar hingga yang tak kuat tertampung meluber dari mulutnya. Naruto seketika sadar kalau Itsuki baru saja menelan benihnya jadi merasa bersalah.

"M-maaf, aku melakukan hal yang sangat kasar..!" Ucap Naruto langsung membuka selimut yang menutupi Itsuki.

Dan dia kini melihat Itsuki yang terengah, berkeringat, dan wajahnya memerah pasrah dengan bibirnya yang basah akibat klimaks Naruto. Melihat wanita di depannya tidak berdaya, bukannya tenang dengan klimaks pertamanya, Naruto malah makin terangsang karena Itsuki malah terkesan makin mengundang hasratnya. Wajah Naruto ikut merona lalu melesat mencium bibir Itsuki dan memaksa memasukan lidahnya ke dalam mulut wanitanya yang terbuka.

"Hnnn~ mnnn.." ketika berciuman Itsuki langsung pasrah menjatuhkan dirinya sehingga berada dalam kungkungan Naruto yang menindihnya, selama bersilat lidah tangan Naruto mulai membuka satu-per-satu kancing piyama Itsuki.

"Mnn~ Ah.." benang saliva terputus dari tautan bibir mereka.

Naruto mengangkat kepalanya dan memandangi tubuh polos Itsuki yang memperlihatkan gundukan besarnya dengan ujung pink yang mengeras. Itsuki nampak begitu sexy dengan rona di wajah dan bibirnya yang lembut menjadi basah, matanya dia alihkan ke arah lain dari tatapan Naruto. Tanpa sadar itu membuat Naruto ikut merona.

"Aku tidak bisa menahannya lagi, kau bisa melakukannya sekarang..." Ucap Itsuki yang melebarkan kakinya, pandangan Naruto langsung beralih ke bawah dimana Itsuki menarik ke samping celana dalamnya dan memperlihatkan liangnya yang basah, Itsuki mulai berani memperagakan sesuatu yang erotis dan sangat menggoda untuknya.

Apa dia benar-benar serius menggodaku? Itu membuatku tidak bisa tenang meskipun aku sudah klimaks! Batin Naruto yang gusar sendiri, dia jadi ternganga mengetahui sisi lain Itsuki.

"Jangan melihatnya terus, itu memalukan..!" Itsuki yang malu langsung kembali mengatupkan kakinya.

Syukurlah, ternyata dia masih Itsuki yang sama.. lanjut isi hati Naruto merasa lega.

"Maaf, hanya saja semakin lama kau semakin agresif padaku. Aku senang sampai bingung harus bagaimana? Kau jadi terkesan lebih sexy~" ucap Naruto malu-malu.

"I-ini..!" Itsuki menatap langsung mata Naruto, "..hal seperti ini aku perlihatkan hanya padamu, sejujurnya itu pertama kalinya aku menggoda laki-laki.." lanjut Itsuki yang malah membuat Naruto makin bersemangat.

Naruto langsung menempelkan ujung batangnya pada liang Itsuki, "Kalau begitu, tanpa sungkan aku akan menerimanya.." jelas Naruto yang tersenyum senang.

"K-kenapa kau menjadi semangat begitu?!" Ucap Itsuki karena tidak menyangka dengan reaksi Naruto yang berlebihan.

"Tentu saja, tingkahmu manis begitu, aku jadi makin menyukaimu~" rayu Naruto yang membuat Itsuki jengkel.

"Berhenti mengatakan hal-hal bodoh, dan cepat masukan.."

Naruto menempatkan batang kokohnya pada liang Itsuki, lalu perlahan masuk dengan pelan. Ekspresi wajah Itsuki langsung berubah, matanya terpejam menikmati batang prianya memasuki liangnya. Dinding liang Itsuki mulai terbuka dan terasa sangat lembut, apalagi itu karena mereka berhenti memakai pengaman.

Kemungkinan saat ini berlanjut mereka akan melupakan segalanya dan tidak bisa kembali lagi, mereka mencari kenikmatan yang melebihi apapun. Itsuki menahan kedua pahanya seakan bersiap ketika batang Naruto terdorong ke dalam, dan benar saja dalam satu hentakan Naruto melesak masuk hingga keseluruhannya.

"AHN..!" Itsuki mendongak dengan mata terpejam, kedua tangannya berpindah menggenggam lengan Naruto yang berada pada posisi duduk dan menggenggam pinggangnya.

Tidak menunggu lama Naruto langsung bergerak maju-mundur dalam posisi tersebut, "Ah! Ah! Mnh~ Uh.. Ahn..! Ah!" Desah Itsuki merasakan batang Naruto keluar-masuk pada liang Itsuki yang basah dengan tempo pelan.

Naruto merasakan di dalam sana sangat ketat sampai terasa memijit batangnya, rasa nikmat yang sudah lama tidak dia rasakan selama beberapa hari ini. Sebenarnya itu terasa sedikit sakit untuk Itsuki karena ukuran Naruto yang menggagahinya cukup besar. Meskipun rasa sakit itu tergantikan dengan rasa nikmat karena dia mencintai sosok pemuda di depannya. Dia suka memandang ekspresi dari wajah Naruto saat sedang menggagahinya.

Mata Itsuki menatap ke bawah melihat batang Naruto yang memasukinya, "Ahn! Itu terasa sedikit keras, tapi itu enak~ah! Ahmn..!" Ucap Itsuki yang menampakkan senyum nakalnya tanda dia menikmati dorongan Naruto pada tubuhnya.

Naruto menggenggam kedua paha Itsuki dengan kedua tangannya, lalu menekan pahanya ke atas sehingga bokong Itsuki sedikit terangkat, dia melesakkan batangnya dengan keras dalam sekali hentakan.

"Aahmn!" Desah Itsuki cukup keras ketika dia merasakan Naruto mencapai titik G-spotnya.

"Desahanmu sangat keras, apa ini seenak itu?" Tanya Naruto tersenyum senang dengan reaksi Itsuki yang nampak kenikmatan dengan guncangannya, hal itu membuat Itsuki malu ditanyai hal semacam itu.

"Ah..! Tidak, itu salah..! Itu karena kau melakukannya terlalu keras..Ah! Ah! Ah!" Itsuki berbohong, sebenarnya gerakan Naruto yang ahli membuatnya ketagihan.

Itsuki menjadi lebih bersemangat karena kesibukan Naruto beberapa hari yang lalu membuatnya hanya bermain sendiri dengan jari, karena Naruto menambah pekerjaan paruh waktunya di restaurant cepat saji, Naruto juga tidak pulang karena katanya kondisi neneknya sedang tak sehat, jadi dia pulang ke rumahnya agar neneknya lebih bersemangat. Hari ini akhirnya Naruto berhenti bekerja ganda atau menginap di rumah keluarganya sehingga Itsuki bisa mendapat perhatiannya.

"Aku harap tetangga sedang tidak di rumahnya dan mendengar desahanmu.." Naruto tertawa kecil, "Ahaha, tapi sudah sangat terlambat untuk memikirkannya ya? Mungkin sekarang mereka memikirkan hal-hal kotor tentang kita.." Lanjut Naruto melesat melumat Itsuki untuk meredam desahannya.

"Mnnn.. Ngnm~" Itsuki langsung memeluk Naruto dengan posesif tanpa pikir panjang, kedua kakinya bahkan melilit agar Naruto tidak bisa lepas darinya.

Itsuki mulai menyadari dia tidak bisa melupakan dekapan pemuda di depannya. Begitupun dengan Naruto, dia sudah tidak bisa menahan diri menggagahi wanita di bawahnya. Matanya beralih kepada dada besar Itsuki yang bergoyang nampak menggoda, Naruto langsung turun menciumi leher jenjang Itsuki sampai berakhir melahap salah satu puncak pink mencuat dari dada wanita di bawahnya. Sedangkan tangannya meremas bagian dadanya yang lain.

"Ahn..! Kau tidak seharusnya.. Mng..!" Tangan Itsuki meremas lembut kepala Naruto, menatap pemuda yang sedang mengulum puncak dadanya seperti bayi yang tengah menyusui ibunya.

Itsuki makin terlena, terlihat dari wajah pasrahnya yang merona dan tak henti-hentinya dia mendesah. Puncak dadanya merasakan sengatan hangat di dalam mulut Naruto dan membuatnya makin terangsang. Tubuh Itsuki menggeliat sembari Naruto mempercepat gerakan pinggangnya. Itsuki makin kewalahan saat batang Naruto terasa membesar dan berdenyut di dalamnya, kedua kakinya menjadi menegang.

"Ah! Ah! Ahn! Tunggu.. Ngh! Naruto, di bawah sana jadi lebih besar dan keras..! Ah~ Ahmn..!" Desahan Itsuki ketika Naruto semakin kuat memperdalam batangnya, derit ranjang terdengar cukup keras di ruangan tersebut, Naruto semakin gencar ketika batangnya merasakan jepitan liang Itsuki yang mengencang.

"Ah.. Itsuki, di bawah kau mencengkramku dengan erat.. Selain itu, ini sangat basah dan licin.. agh.. Ini terasa enak, aku sudah tidak bisa.." Ucap Naruto yang nafasnya mulai memburu karena dia yang memimpin penyatuannya dengan Itsuki.

"Ah! Ah! Auh! Ng.. N-Naruto.. Ahn! Ah! Ah! Naruto..!" Itsuki hanya bisa mendesah menyebut nama pemuda kuning di depannya, wajahnya sudah nampak tak berdaya dan hanya fokus menikmati penyatuan diantara pergumulan mereka yang temponya dipercepat oleh Naruto.

Naruto menindih Itsuki untuk mendekap wanita di bawahnya sambil terus menghujam liangnya, "Ah! Ah..! Aku sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, Naruto~! Aku akan keluar, ahn! Ah..!" Itsuki mencengkeram punggung Naruto yang masih memakai kaos hitam.

"Aku juga sudah mencapai batasku, sedikit lagi.." Naruto mencium pipi Itsuki dengan mata terpejam.

"Ahn! Ah! Aku cinta kamu! Ah..!" Tanpa sadar Itsuki menyatakan cinta dan membuat Naruto semakin bersemangat.

"Aku keluar, aaagh!"

"Hyaaah!"

Splurt~

Dalam sekali hentakan Naruto membenamkan kejantanannya, Itsuki bisa merasakan benih keluar dari batang Naruto yang ada di dalam liang senggamanya. Dia bisa merasakan sesuatu memenuhi perutnya. Itsuki tahu apa yang mereka lakukan ini sudah terlalu jauh. Naruto ambruk menindih Itsuki, mereka sama-sama terengah karena kelelahan.

"Hah.. hah.. Itu enak sekali.. Hah.." gumam Itsuki yang membuat Naruto menatapnya dengan senyuman meledek.

"He~ kau merasa seperti itu?" Tanya Naruto yang langsung membuat Itsuki salah tingkah.

"Tentu saja tidak, dasar mesum..!" ucap Itsuki mendorong Naruto untuk menjauhinya lalu mengambil tisu di meja dekat ranjang untuk membersihkan noda dari benih Naruto pada area sensitifnya.

"Begitu ya?" Naruto hanya tersenyum maklum akan reaksi Itsuki, "Padahal aku sudah siap kalau kau ingin lebih serius, membuat keluarga bersama Itsuki.." ucap Naruto tertawa garing.

"Sudah kubilang, kau harus sele-"

"Selesaikan studyku, itu jauh lebih penting untukku saat ini. Kau selalu bilang begitu, memang yang diharapkan dari seorang pendidik.." lanjut Naruto yang kembali tiduran santai di kasur.

Sebenarnya Itsuki tersentuh dengan keseriusan Naruto, tapi bagaimanapun dia tahu bahwa menjadi orangtua tidak mudah. Itsuki hanya kembali teringat bagaimana Ibunya kesulitan mengurusnya dan keempat saudari kembarnya. Bagaimana jika Naruto meninggalkannya ketika harus mengurus banyak anak? Apalagi Naruto masih tergolong muda untuk umurnya. Berkeluarga itu sangat mudah untuk diucapkan tapi tidak akan tahu bagaimana akhirnya nanti.

"M-misalnya aku melahirkan lima anak kembar, apa kau akan benar-benar menyayanginya?" Pertanyaan itu membuat Naruto menatap Itsuki yang mengalihkan pandangannya.

"Maksudmu seperti kau dan saudaramu yang lainnya?"

"Tidak, lupakan saja yang aku ucapkan.."

Naruto jadi penasaran karena pacarnya menanyakan hal seperti itu, "Selama bersamamu, aku tidak akan memikirkannya.." ucap Naruto yang membuat Itsuki tersinggung.

"Kau tahu kalau kau serius padaku, kau akan kehilangan banyak hal yang kau sukai untuk dilakukan. Kau harus bekerja, lalu membeli rumah, bisa saja aku akan melahirkan banyak anak dan kau akan kesulitan mengurus semuanya. Kau tidak bisa lagi bebas seperti sekarang. Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Itsuki yang membuat Naruto bingung.

"Maaf, sebenarnya aku belum pernah berpikir sampai sejauh itu.." Jawab Naruto.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Itsuki pov*

Pertengahan Agustus ini adalah puncak musim panas, aku mendapatkan tawaran untuk membantu salah satu dari profesor di kampus ini. Dia seseorang yang cukup bertalenta jadi aku ingin membantu orang hebat itu. Kalau tidak salah Yugito-san bilang profesor orang yang agak nyentrik, namanya Deidara-san? Dia orang jenius yang lulus dari Stanford dan mengabdi pada negaranya, tentu saja aku penasaran. Terutama dia suka muncul di TV. Sebenarnya aku agak gugup karena dia lebih tua lima tahun dariku, kuharap dia bukan tipe orang yang kubenci.

Aku memasukan semua barang-barang di meja kerjaku ke dalam kardus karena harus pindah ruangan bersama profesor tersebut. Aku membuka pintu ruangan dosen dengan kewalahan karena membawa dua kotak dan menjatuhkan barang-barangku, aku menghela nafas lalu berjongkok untuk memasukan barangku ke kotak.

Aku menatap cincin yang kupakai. Ini bukan berarti aku terlalu mengharapkan jawaban yang bagus darinya tentang tadi pagi. Dia bilang kalau belum memikirkannya, tapi kenapa? Jika begitu dia harusnya bersikap lebih dewasa dan memikirkannya lebih serius. Aku tidak ingin menghabiskan masa krusialku dengan bermain-main.

Aku kembali mengangkat kotak yang kubawa lalu berjalan menuju lift. Begitu sampai di lantai 2 aku melewati lorong dan menemukan ruangan yang ditempati profesor, aku mengetuknya sebelum masuk.

"Permisi, maaf mengganggu. Saya Nakano Itsuki dari departement Kimia.."

Hening tak ada jawaban, apa dia sedang tidak ada di ruangannya?

"Kurasa sebaiknya aku masuk dulu untuk meletakkan barang-barangku.." ucapku pada diri sendiri, ketika hendak membuka pintu aku mendengar suara yang cukup memekak dari dalam.

DUAAAR!

Apa itu?! Suara boom?

Aku langsung membuka pintu itu yang langsung mengeluar asap ungu yang aneh dan bau-bau zat kimia yang cukup pekat. Terdapat seseorang di dalamnya bersurai pirang panjang yang diikat kuda. Dia berdiri di dekat meja dengan jas labnya, tidak lupa alat-alat kimia dan zat-zat yang sepertinya sedang dia buat. Dia termenung di sana untuk beberapa saat.

"Keren! Ledakan tadi yang paling hebat..! Kombinasi yang sempurna..!" Ucapnya bicara sendiri dan cukup heboh membicarakan ledakan asap aneh yang dia buat, "Aku harus mendokumentasinya dulu!" Ucapnya yang melompat dan duduk di depan komputer lalu mengetik sesuatu di sana.

"Ah, maaf. Etto.. Saya Nakano Itsuki yang akan menjadi pendamping anda mulai hari ini.." mendengarku pria bersurai pirang hingga menutupi sebelah matanya itu menengok ke arahku.

"Oh, rupanya kau sudah tiba. Masuk saja, meja mu ada di sana.." ucapnya menunjuk meja tanpa menatapku, fokus pada layar komputernya.

Mejaku berada di pojok dekat jendela dengan rak buku di sampingnya, aku menaruh kardus yang kubawa pada meja, aku merapihkan dan meletakkan barang-barangku di atas meja.

Pria ini memang cukup nyentrik tapi sebenarnya dia memang orang yang jenius, setelah lulus dari Stanford dia banyak mendapat tawaran di organisasi pengembangan teknologi yang ternama. Bahkan, itu merupakan tawaran dari PBB. Hebatnya, dia menolak semua itu.

Aku sedikit tidak nyaman dengan ruangan yang cukup berantakan ini, aku mengambil buku-buku yang berserakan di lantai lalu menyusunnya pada rak-rak yang kosong. Kurasa ini bagian dari pekerjaan pertamaku sebagai pendampingnya. Ketika melihat buku rumit yang dibacanya aku yakin dia memang orang yang jenius, bahkan ada yang menggunakan bahasa China atau Perancis. Naruto juga suka membaca buku-buku rumit seperti ini.

"Hey, kau.." Deidara-san menatapku yang sedang menata bukunya, aku melihatnya sedang bersandar di meja sambil mengemut lolipop coklat.

"Kau 'ini'nya Naruto, 'kan?" Tanya Deidara menunjukkan jari kelingkingnya padaku, aku yang mengerti maksudnya langsung bersemu merah.

"A-aapa maksud anda?" Tanyaku yang takut ketahuan memiliki hubungan dengan mahasiswaku sendiri.

"Tenang saja, aku tidak akan beritahu siapa pun.." jelasnya yang tertawa jahil, "Dahimu mengkerut, itu tidak bagus untuk wanita.." dia menunjukkan dahinya sendiri ketika mengomentari raut wajahku.

Siapa dia? Apa dia mengenal Naruto?

"Kenapa kau bisa tahu? Apa kau mengenal Namikaze-kun?"

"Hm, kau tidak tahu aku?" Tanyanya yang membuatku bingung.

"Eh?"

Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yaitu sebuah kartu nama, "Kupikir kau sudah mengenalku dari Naruto.." aku yang melihat kartu nama itu langsung melotot.

Karena nama yang tertulis pada kartu nama itu adalah..

Namikaze Deidara

Mataku langsung terfokus pada kata Namikaze.

"Aku kakak sepupunya.."

Dari pernyataannya sudah jelas kalau orang ini punya hubungan yang dekat dengan Naruto, "Kau tidak pernah menyatakan nama belakangmu pada publik, aku jadi cukup terkejut.." jelasku padanya yang tertawa.

"Soalnya aku kurang suka diekspos.."

Dilihat bagaimana kacaunya ruangan ini, wajar saja kalau dia punya hubungan darah dengan Naruto.

"Pantas saja dia jenius, bahkan profesor ternama adalah kakak sepupunya.." pujiku padanya.

"Itu karena seseorang yang menyandang nama Namikaze orang yang jenius, dulu Ibuku juga seorang peneliti yang bekerja di CERN. Sementara Ayahnya Naruto seniman berbakat, sayangnya dia meninggal sebelum melihat anaknya lahir.."

Aku tidak pernah mendengar bagaimana masa lalu Naruto, tapi sepertinya orang ini tahu banyak hal tentangnya.

"Tapi, aku terkejut kau memintaku menjadi asistantmu.."

"Naruto menunjukkan dokumentasi yang kau buat padaku, itu cukup menarik. Jadi aku putuskan untuk bekerja denganmu. Walaupun aku cuma penasaran seperti apa pacar adik sepupuku karena kelihatannya dia suka sekali padamu.."

Wajahku memerah begitu mendengar ucapannya, "Apa ini baik-baik saja?" Tanyaku padanya.

"Tentang apa?"

"Kau tahu kalau adik sepupumu berkencan dengan wanita yang lebih tua darinya, kau pasti berpikir aku menipunya atau menggodanya.." tanyaku padanya.

"Tidak, aku cukup senang, Naruto suka didekati banyak wanita dan dia tak pernah menolaknya. Jadi aku khawatir padanya jika dia terus bersikap seperti anak-anak, tapi saat bersamamu dia terlihat berubah. Dia tidak bermain-main dengan sembarangan wanita atau bolos kelas lagi. Bahkan, dia mengikuti program study kilat, karena tidak ingin membuatmu mengkhawatirkan hal semacam itu.." Aku terkejut mendengar hal seperti itu tentang Naruto.

Kurasa aku benar-benar belum mengerti apapun tentangnya.

"Lihat, kau terdiam. Pasti kau senang kan mendengarnya.." Deidara-san tersenyum jahil padaku, "Memangnya kenapa? Kalian sudah sama-sama dewasa untuk memutuskan, kau ini cukup peduli dengan pandangan moral rupanya.." jelasnya ketika hal itu sedikit menggangguku.

"Ah, daripada itu, ini pekerjaan pertamamu.." ucapnya menyerahkan sebuah kertas soal padaku, "Bisa kau copy-kan soal ini untukku? Hari ini aku akan memberikan ujian neraka pada mahasiswa manisku~"

.

.

.

.

.

Normal pov*

Seorang pria bersurai jingga menekan tombol pada mesin kopi di depannya, tentu saja pria ini adalah Yahiko.

Yahiko merenggangkan tubuhnya yang letih, "Hah~ capeknya, pak kepala manager orangnya keras sekali.." jelasnya mengingat pekerjaannya yang begitu sulit, dia membawa kopinya ke meja dan duduk di kursi lobby kantornya.

Beruntung dia sedang istirahat dia memainkan smartphonenya melihat Instagram, pandangannya merengut ketika melihat postingan foto mantan pacarnya Itsuki. Postingan itu cuma memperlihatkan foto Itsuki yang menggenggam tangan seorang pria walaupun pria itu tidak memperlihatkan sosoknya, tetap saja Yahiko tahu siapa orang itu. Yahiko menjadi kesal melihat mantannya terlihat jauh lebih bahagia ketimbang bersama dirinya di masa kuliah.

Yahiko jadi mengingat terakhir kali dirinya bertemu Itsuki di pesta pernikahan Ichika. Saat itu, perkataan Naruto benar-benar menohoknya. Sebenarnya dia cuma merasa cemburu dan bukannya ingin merendahkan Itsuki dan memojokkannya. Yahiko mulai mengingat kenangan masa lalunya.

Saat kuliah dia berpikir untuk serius pada Itsuki. Mereka saling suka bahkan sangat mesra pada masanya hingga membuat teman-teman mereka iri. Dulu Itsuki suka memeluknya, bersikap manja, dan berkali-kali bilang suka padanya. Mereka cukup akur dan tidak pernah bertengkar. Hanya saja ketika dia ingin melamar Itsuki, saat itulah Itsuki menolaknya karena ingin sekolah di luar negeri. Yahiko hanya merasa kecewa karena Itsuki lebih memilih cita-citanya daripada dirinya, jadi dia mempertanyakan keseriusan Itsuki padanya. Belum lagi, Itsuki terlihat tidak nyaman ketika Yahiko membicarakan tentang pernikahan.

Kemudian Yahiko mulai menyukai gadis lain disaat Itsuki berada di luar negeri, dia pikir hubungan jarak jauh tidak memungkinkan untuknya. Jadi dia pikir menikah dengan seseorang yang ada di dekatnya jauh lebih baik daripada menunggu jawaban Itsuki, pada akhirnya dia dikhianati oleh istrinya. Alasan mantan istrinya merasa Yahiko tidak benar-benar mencintainya.

Yahiko memenuhi kebutuhannya tapi sikapnya yang terlalu baik terasa abu-abu, sampai akhirnya istrinya menemukan fotonya bersama Itsuki yang diam-diam dia sembunyikan di mobilnya. Mantan istrinya merasa sakit hati, ketika membahasnya Yahiko selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan.

Sejak saat itu istrinya diam-diam memulai hubungan dengan pria lain, puncaknya ketika Yahiko memergoki istrinya berbohong soal liburan ke Okinawa dengan temannya melalui sebuah foto di ponsel istrinya. Mereka bertengkar cukup hebat sampai akhirnya istrinya meminta bercerai darinya. Satu hal yang Yahiko ingat adalah perkataan terakhir mantan istrinya.

Sekarang, kau mengerti bagaimana perasaanku melihat foto itu bukan?

Yahiko mulai menyadari dari pertengkaran rumah tangganya bahwa dia masih mencintai Itsuki. Saat itu Itsuki sudah bertunangan jadi dia memutuskan untuk menyerah saja. Sampai saat dia bertemu teman semasa kuliahnya dan mendengar Itsuki membatalkan pertunangannya, satu harapan muncul untuknya rujuk dengan Itsuki. Akhirnya dia mulai mencari tahu keberadaan Itsuki dan dia terkejut begitu melihat Itsuki tinggal dengan pria yang lebih muda.

"Padahal sebelumnya kau sangat menyukaiku, jadi cuma aku yang belum berubah ya?" gumamnya yang kemudian langsung menutup layar ponselnya.

"Yahiko-kun.." mendengar namanya terpanggil membuat Yahiko menoleh pada rekan kerja di depannya yaitu seorang wanita yang sudah di kenalnya sejak bekerja di sana.

"Kebetulan sekali, kau sedang istirahat?" Tanya wanita bersurai coklat di hadapannya.

"Oh, Ameno ya?"

Ameno meletakkan kopinya di meja dan duduk di depannya, "Ah, boleh aku duduk di sini?" Tanya Ameno.

"Oh, silahkan.."

Ameno memperhatikan wajah Yahiko dalam diam hingga membuat Yahiko tidak nyaman, "Ada apa?" Tanya Yahiko yang langsung membuat Ameno.

"Ah, tidak kok! Hanya saja auramu terasa berbeda dari ketika pertama kali bertemu.."

"Memang dulu aku bagaimana?"

"Dulu kau lebih garang dan menyebalkan, apakah ini mungkin ada hubungannya dengan masalah pribadi? Kudengar kau single lagi.." Tanya Ameno membuat Yahiko sedikit tersinggung.

"Yah, setiap orang punya masalahnya sendiri.." jawab Yahiko tetap mempertahankan raut wajah staycool.

"Omong-omong, seseorang dari divisiku ada yang tertarik padamu.." ucap Ameno yang membuat Yahiko berhenti bergerak ketika dia akan meminum kopinya, dia langsung tersenyum mendengar bahwa ada wanita yang tertarik padanya.

Kepercayaan dirinya sebagai seorang pria meningkat ketika dia mendengar ada seseorang yang menyukainya, dia merasa bangga akan itu.

"Eh, yang benar?"

"Benar kok, dia diam-diam suka memperhatikanmu. Sebenarnya dia memintaku untuk mengenalkannya padamu, bagaimana?" Tanya Ameno yang membuat Yahiko berpikir sejenak.

"Dia tipe wanita yang cantik atau imut?" Tanya Yahiko yang mendapat respon aneh dari Ameno.

"Ah soal itu, bagaimana jika kau bertemu dengannya dulu?" Tanya Ameno pada Yahiko yang sebenarnya masih ragu, hanya saja sayang menolak kesempatan seperti ini.

Lagipula, ini langkah yang bisa dia lakukan untuk move on dari Itsuki.

"Baiklah, aku akan coba lihat dulu.." Yahiko menerima tawaran Ameno yang tersenyum.

"Kalau begitu, setelah jam kantor selesai. Kita bertemu lagi di caffe depan kantor, aku akan mengenalkannya padamu.." ucap Ameno yang kemudian berdiri dengan membawa kopinya, "Sampai jumpa nanti malam.." ucap Ameno yang berlalu dari Yahiko.

.

.

.

.

.

Pukul 5 sore Itsuki keluar dari kampus, pekerjaannya sudah selesai dan dia berniat untuk pulang lebih awal. Ketika dia mencapai gerbang dia melihat seorang pria dengan jas hitam yang rapih keluar dari mobil, lalu menghampirinya. Itsuki yang mendapati dirinya dicegat memandang pria di depannya.

"Apa anda Nakano Itsuki-san?" Tanya pria itu padanya.

"I-iya, ada apa ya?"

"Saya selaku sekretaris direktur utama dari Uzumaki Steel, direktur meminta saya untuk menjemput anda.." mendengar itu tentu saja Itsuki langsung tahu bahwa itu ada hubungannya dengan Naruto.

"A-apa ada masalah yang penting?" Tanya Itsuki.

Pria berjas itu hanya termenung, "Maaf, direktur hanya menyuruh saya untuk menjemput anda tanpa mengatakan apa alasannya.." ucap pria itu.

Di saat bersamaan Deidara melihat dari jendela atas gedung Itsuki yang tengah berbicara dan memasuki mobil pria berjas tadi. Deidara sudah tahu identitas pria berjas tadi yang membawa Itsuki.

"Hah~ rupanya orang itu sudah memulai bergerak, jadi apa yang akan kau lakukan?" Ucap Deidara berkata pada dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf yee lama, author sedang sibuk skripsian dan buntu ide, tapi setelah mencari banyak referensi akhirnya selesai juga ini chapter 9.