Black Clover © Yuki Tabata

(AU—Latar tempat, waktu, dan suasana tidak akan sesuai dengan 'sumber' aslinya. Cerita ini murni dari imajinasi saya. Out of Characters—Mungkin? Asta & Mimosa—Dua tokoh yang menjadi sorotan di cerita ini. Cinta Yang Tak Terbalaskan—Sebuah cerita yang secara tidak sengaja diangkat dari sebuah mimpi).

.


Wilayah Luar Kerajaan Clover.

Di sebuah jalanan setapak, dengan bentang alam hijau yang sangat luas di sekitarnya. Terlihat sepasang orang berbeda gender sedang berjalan bersama. Mereka adalah seorang laki-laki berambut putih dan seorang perempuan cantik berambut blonde bergelombang.

Mereka berdua adalah Ksatria Sihir, pelindung Kerajaan Clover—Asta dan Mimosa Vermillion dari Banteng Hitam dan Fajar Keemasan.

Asta dan Mimosa baru saja menjalankan misi bersama—Melawan para bandit yang menyerang desa-desa kecil di luar wilayah Kerajaan Clover. Setelah misi selesai, sekarang mereka menuju kembali ke Kerajaan Clover.

"Hiya~ Hari yang sangat menyenangkan. Akhirnya aku bisa menjalankan misi setelah sekian lama. Sankyu~ Mimosa, kau mau mememaniku," ujar Asta pada Mimosa.

"I-iie, tidak masalah. Aku juga lagi senggang di Markas Fajar Keemaaan."

"Hehe, tapi serius. Bandit-bandit itu banyak sekali. Mereka sangat merepotkan. Mereka menembak-nembak sihirnya ke arahku 'piuw~' 'piuw~' tanpa henti."

Mimosa tertawa geli. "Tapi, kamu bisa mengalahkan bandit-bandit itu, Asta-san."

"Iya sih, dengan Pedang Anti-Sihir. Aku melenyapkan semua sihir-sihir mereka. Tetapi, meskipun aku bisa menghilangkan semua serangan mereka. Beberapa serangan berhasil mengenai tubuhku. Untung ada kau, Mimosa. Sihir Penyembuhanmu itu sangat luar biasa. Aku terbantu. Sekali lagi, Sankyu~ Mimosa."

Mimosa memegang pipinya malu. "I-iie, kekuatan sihirku bukan apa-apa, Asta-san. Kamu terlalu memujiku. Kekuatanmu jauh lebih hebat dariku."

"Tidak, tidak. Kekuatanmu itu benar-benar luar biasa, Mimosa. Kamu bisa menyembuhkan luka secepat itu, ano ... itu ... Aaah, pokoknya hebat sekali," ujar Asta.

Mimosa semakin tersipu mendengar pujian dari orang yang disukainya. "Te-Terima kasih."

"Aku juga, berterima kasih padamu, Mimosa," ujar Asta dengan senyuman lebar.

"Sama-sama, Asta-san," Mimosa menunduk.

Beberapa saat kemudian. Pembicaraan Asta dengan Mimosa pun terhenti. Mereka hanyut dalam kegiatan masing-masing. Mimosa menundukkan kepalanya sambil berjalan. Di sebelahnya, Asta sedang bersenandung ria.

Mimosa mencoba memanggil Asta.

"Ano, Asta-san, aku—"

"HO! LIHAT, MIMOSA. KERAJAAN CLOVER SUDAH DEKAT! AYO KITA CEPAT KE SANA!" Mimosa ingin berbicara, tapi Asta langsung memotong ucapannya. "AYO, MIMOSA!" Asta kemudian berlari pelan meninggalkan Mimosa yang mendesah kesal bercampur kecewa.

"Tu-Tunggu, Asta-san."

Asta dan Mimosa pun sampai di Kerajaan Clover. Sekarang mereka pergi ke Markas masing-masing untuk melaporkan misi mereka. Asta dan Mimosa berjalan bersama karena markas mereka memiliki jalan yang sama. Hanya di sebuah persimpangan, mereka akan berpisah karena letak Markas mereka berlawanan.

Hari sudah sore. Matahari mulai terbenam dengan cahaya oranyenya menyelimuti langit. Tanpa terasa, Asta dan Mimosa sudah berjalan beberapa menit. Mereka sampai di jalan yang menjadi tempat perpisahan mereka berdua. Jalanan di sekitarnya cukup sedikit ada orang. Asta dan Mimosa pun memutuskan berpisah, untuk pergi ke Markas masing-masing.

Asta mengangkat tangannya ke arah Mimosa.

"Jaa, sampai jumpa lagi, Mimosa," ucapnya lalu berbalik menuju Markas Banteng Hitam.

Mimosa mengangguk, dia juga harua kembali ke Markasnya. Namun, sesuatu di hatinya menghentikan langkah kaki Mimosa.

Mimosa melihat Asta yang masih belum jauh darinya.

"A-Asta-san!" panggil Mimosa.

"Uu? Ada apa, Mimosa?" tanya Asta. Dia menatap balik gadis bangsawan itu.

"A-aku," Mimosa mendudukkan kepalanya. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Asta. "Aku, aku menyukaimu!" ucapnya penuh lantang. Wajahnya memerah karena apa yang ia katakan adalah sesuatu yang memalukan. Mimosa menunduk terus sampai suara Asta menarik wajahnya. Namun ... apa yang Asta ucapkan bukan yang Mimosa harapkan.

"Maaf."

"E-eh?" Mimosa mendongak. Dia menatap Asta yang saat ini menunduk ke arahnya.

"Aku ... tidak bisa menerimamu."

"E-eh ... ta-tapi ... kenapa?" Suara Mimosa terdengar parau. Mimosa merasakan sesuatu meretakkan hatinya.

"..." Asta diam.

"Asta-san, kenapa?" Mimosa menatap mata Asta dalam-dalam. Air mata mengalir turun dari matanya. Mimosa kebingungan, dia tidak mengerti.

"Aku menyukaimu, Asta-san. Aku sungguh-sungguh menyukaimu!"

"Ta-tapi ... kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menerimaku, Asta-san? Kenapa?" Mimosa tidak bisa berpikir tenang. Dia penuh dengan kebingungan.

"Apa yang membuatmu tidak bisa menerimaku? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa menerimaku? Apa karena aku tidak cantik?" Tidak, Mimosa merasa dirinya cukup cantik untuk Asta-san. Lalu, apa?

"Atau mungkin ada orang yang kamu sukai? Siapa dia? Apa orang yang kamu sukai itu Noelle?" Mimosa tidak bisa berhenti bertanya. Dia gundah. Jiwanya rapuh.

"Jawab aku Asta-san! Jawab aku!" Mimosa memaksa.

"JIKA AKU MELAKUKANNYA! MAKA YUNO AKAN KESEPIAN! AKU TIDAK INGIN MEREBUT KEBAHAGIAANNYA!" Asta berteriak, dia akhirnya membuka suaranya setelah ditekan terus oleh Mimosa dengan banyaknya pertanyaan.

"He-heh?" Mimosa berhenti menangis setelah mendengar bentakkan Asta. Dia menatap Asta dengan mata berair.

Asta tampak menghindari tatapan Mimosa. Dia tetap menundukkan kepalanya. "Selama ini, Yuno tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia hanya terus terpaku pada janji kami dulu. Dia sama sekali tidak memikirkan apakah dia bahagia atau tidak." Asta termenung sesaat.

"Namun ... aku melihatnya."

Asta lalu menatap Mimosa.

"Saat dia bersamamu, aku bisa melihat Yuno tersenyum. Dia tampak senang dan bahagia. Aku tidak pernah melihatnya senang seperti itu. Maka dari itu, aku tidak ingin mengambil sesuatu yang membuat Yuno senang."

Asta mengatakan itu sembari tersenyum, seakan apa yang diucapkannya adalah sesuatu yang benar.

Akan tetapi,

Tidak bagi Mimosa.

"Mimosa ..." Asta melihat Mimosa mulai kembali menangis.

Gadis blonde itu memasang wajah hancur. Hatinya retak, Mimosa memegang dadanya sakit. Air mata semakin deras mengalir turun di wajah cantiknya. Mimosa ingin menangis. Namun dia tahan. "Be-begitu. Baiklah, jika itu maumu, Asta-san. Sampai jumpa," Mimosa berbalik dengan wajah tidak tertahankan. Dia berlari dan menangis.

"Tu-Tunggu! Mimosa!"

Asta berusaha memanggil, tetapi Mimosa mengabaikannya dan terus berlari.

Asta menatap kepergian Mimosa sedih.

"Maaf, Mimosa."


Catatan Penulis:

... Saya tidak tahu mengapa ide ini tiba-tiba muncul - dari mimpi lagi. Karena dirasa cukup menarik, jadi aku buat ke dalam cerita saja. Apalagi Asta dan Mimosa pasangan favoritku. Meskipun aku tidak punya keahlian membuat cerita seperti ini.

Cerita ini akan aku selesaikan di chapter dua. Semoga aja terealisasikan.

Oke gitu aja. Maaf, karena masih banyak kekurangan di cerita ini...

Terima kasih sudah membaca.