Baby Birth

Warning : SasuHina, OOC, AU, Marriage Life.

Disclaimer : Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sensei, tapi cerita ini sepenuhnya milik Author.

Summary :

Baby breath itu masih dia simpan di antara halaman bukunya. Bunga itu bahkan tumbuh dengan cantik di hatinya. Menjadi benang merah di tengah-tengah ikatan pernikahan antara Hinata dan Sasuke. Menunjukkan bahwa di dunia ini ada yang sering mereka sebut sebagai cinta, sesuatu yang tidak Hinata percayai.

.

.

.

PROLOG

.

"Hati-hati,"

Untuk pertama kalinya Sasuke mengucapkan kata-kata yang menunjukkan sedikit perhatian terhadap Hinata. Dengan suara yang lembut, Hinata tahu pasti bahwa kalimat dari laki-laki yang menyandang gelar sebagai suaminya itu begitu tulus.

Tangan kekarnya turun mengelus satu sisi wajah Hinata yang tirus. Sasuke menatap dalam-dalam. Seperti berat hati melepasnya pergi walaupun hanya untuk keperluan pekerjaan.

"Sepertinya saya harus mengantarmu. Saya tidak yakin membiarkanmu sendirian di mana-mana?"

Tanpa Sasuke sadari, perlakuannya sendiri lah yang justru bahaya di mata Hinata. Wanita itu tergagap, kehilangan kata-kata untuk dikatakan. Sentuhan kecil dari tangan Sasuke seperti sengatan berdaya kuat yang membuat tubuhnya kaku dalam sekejap. Apa yang harus ia lakukan?

"Ti-tidak perlu repot-repot."

"Hinata?"

"Gomen, aku berangkat dulu."

Baru saja Hinata akan beranjak pergi, dua tangan Sasuke menangkup tubuhnya. Merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan yang erat. Cukup erat untuk membuat Hinata kehilangan cara bernapas. Mendadak dadanya sesak.

"Tidak bisakah kita memperbaiki pernikahan ini? Lupakan perjanjian perceraian atau keinginanmu tentang sampai mana Hinami memerlukan peran seorang ibu? Saya hanya ingin kita memulainya kembali, hanya kamu dan Saya, juga Hinami. Kita bisa membangun sebuah keluarga."

Hinata menggeleng. "Sasuke-san. Kumohon. Tugasku di sini hanya mengurus Hinami." Hinata menepis tangan Sasuke sedikit kasar. Menatap pria itu dengan pandangan yang sama setiap kali dirinya melihat semua pria di dunia. Hinata tidak membencinya, hanya membenci pria. Tak ada yang salah dengan semua cara yang dilakukan Sasuke selama ini. Tak ada yang salah dari perkataan maupun permintaan suaminya. Semua itu normal, untuk orang-orang yang normal. Namun tidak bagi Hinata. Kesalahan yang sebenarnya murni ada dalam diri Hinata. Memang hanya karena Hinata tidak bisa berinteraksi dengan makhluk bernama laki-laki. Sasuke lebih dari tahu tentang semua itu.

"Aku berangkat." Hinata memaksa diri tersenyum. Sebisa mungkin bersikap normal. Meskipun ia yakin wajahnya sudah pucat pasi saat ini.

Setelah taksi yang ia pesan telah sampai, Hinata langsung pergi meninggalkan Sasuke yang masih menatapnya dalam kesendirian. Tatapan yang tidak bisa ia artikan.

Di dalam mobil wanita dua puluh tujuh tahun itu mencari sapu tangan untuk menyeka keringat yang tidak mau berhenti. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup hebat.

"Anda tidak apa-apa?" Supir taksi menengok dari kaca spion. Merasa Khawatir melihat pelanggannya seperti habis dikejar-kejar anjing.

"Kantor ARV Wedding Planner di jalan Chidoya."

Saat itu sebuah pesan masuk ke ponsel Hinata,

Dari : Sasuke

Sore kujemput,

Tak butuh waktu lama untuk mobil taksi sampai di depan kantor. Hinata mulai kesulitan bernapas. Ia menyerahkan beberapa lembar uang dan langsung keluar. Namun langkahnya oleng dan ia pun terjatuh. Supir taksi spontan turun mendekat hendak membantu.

"Jangan Pak!" Hinata berteriak panik. Tangannya masih sibuk menepuk-nepuk dada yang bertambah sesak. "Tidak apa-apa, tolong jangan mendekat!" Saat itu matanya berkunang-kunang. Udara di sekitarnya lenyap. Dadanya semakin sesak. Hinata tidak begitu menyadari apa-apa lagi sampai ia mendengar suara teriakan yang memanggil namanya,

"Hinata-chan! Hei!"

Setelah itu ia kehilangan kesadaran.

.

.

.

.

Note :

Hai haii, berapa lama Author Hiatus dari dunia penulisan? Rasanya sudah sangat lama. Saat buka-buka kembali berkas cerita, tanpa sengaja Author menemukan cerita ini. Awalnya ini cerita original yang tidak Author lanjutkan di wp. Daripada terbengkalai bagaimana kalau kita ubah ke Fanfict dan selesaikan?

Semoga bisa menghibur reader semua. Jangan lupa untuk memberikan review agar bisa membangun Author jadi lebih baik.

Jangan lupa follow Author juga di wp untuk baca cerita originalnya.

Wattpad : Shargadiva

Innovel/Dreame : Shargadiva

Fizzo : Shargadiva

RnR?