Chapter: Tetanggaku yang Aneh.


9 : 13... Menit - menit yang lalu, suara bel berbunyi. Suaranya kuat dan nyaring, mungkin terdengar sampai ke seluruh area sekolah. Suara bel itu adalah pertanda bahwa waktu belajar dihentikan sementara. Secara sederhananya sih...

Ini waktunya istirahat.

"Huh..."

Saat ini aku berada di dalam kelas. Kelas sedang sepi, tapi tidak sepi - sepi amat, soalnya masih ada dua, empat orang di sini. Sisanya yang lain sudah pergi ke kantin.

Di hari pertama di sekolah baru, aku akan menghabiskan waktu di dalam kelas. Beberapa teman sekelas menyapa dan mengajakku, tapi aku tolak Alasannya, karena aku masih belum nyaman. Aku ingin membiasakan diri di kelas dulu dan barulah besok - besoknya, aku akan beradaptasi di lingkungan sekolah.

Aku saat ini duduk di bangku, sambil menopang dagu dan memandangi anak - anak di kelas yang sedang melakukan kegiatan masing - masing. Dimulai dari yang sedang membaca buku, sarapan, dan juga ada yang tidur di kelas.

Aku kemudian menatap ke depan kelas.

—Atau lebih tepatnya, ke pajangan jam dinding di depan kelas. Sekarang pukul 9 lebih 15 menit. Bel tadi berbunyi pukul 9 tepat. Aku tidak tahu berapa lama waktu istirahat, tapi biasanya kisaran antara 15 menit atau yang lebih lama adalah 30 menit. Jika waktu lima belas menit waktunya belajar, harusnya bel masuk berbunyi, tapi ini tidak? Kemungkinan, waktu istirahat sekitar 30 menit.

Sekarang pukul 9 lebih 17 menit.

Itu berarti...

"Masih ada 13 menit lagi, ya," ucapku ringan.

Masih cukup lama.

Aku menatap kelas lagi. Tidak ada yang spesial untuk dilihat.

Membosankan.

Aku menghela napas kecil.

'Apa yang harus kulakukan saat ini?'

Hm... apa ya?

Melihat ke luar jendela?

Oke, kurasa itu boleh juga. Aku juga membutuhkan sesuatu untuk kupandang agar rasa bosanku ini hilang. Melihat pohon - pohon hijau dan langit biasanya menarik untuk dilihat.

Setelah membuat keputusan itu, aku pun memutar kepalaku menuju ke arah jendela di dekatku untuk melihat pandangan luar. Harap - harap rasa bosanku hilang.

Tapi...

"!"

Ketika aku menoleh, aku langsung tersentak. Pasalnya aku melihat ada seseorang di sebelahku.

Aku kaget!

Bagaimana bisa ada orang di sini? Di sebelahku lagi...

Jantungku berdetak cukup kencang karena terkejut barusan. Sontak, aku pun mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menenangkan diri.

Setelah tenang, aku coba melirik - lirik ke samping, untuk memastikan yang kulihat asli apa tidak. Dan ternyata apa yang kulihat barusan itu asli. Memang ada orang di sebelahku, dia duduk di bangku yang berada di pojok belakang kelas—Tepat, di sebelah bangkuku!

Kali ini, aku menoleh ke samping untuk melihatnya.

Orang yang duduk di sampingku adalah seorang gadis.

Dia memiliki ciri - ciri berambut ungu abu - abu. Dari yang kulihat, dia kelihatan agak pendek. Jika kuperkirakan, mungkin tinggi badannya di bawah rata - rata tinggi badan perempuan SMA pada umumnya.

Gadis itu sedang duduk di atas bangku. Hanya diam sambil menatap isi buku di pegangannya. Dia sedang membaca buku. Aku terus melihatnya dari samping. Aku tidak tahu menapa, tapi aku tidak ingin berpaling darinya.

Hah...

Ya, sudahlah.

Setidaknya aku bisa menghilangkan rasa bosanku. Lagipula, ini sedikit menyenangkan, kan? Aku pun meneruskan kegiatanku. Hatiku mulai menghangat ketika menatap wajahnya, meski hanya separuhnya saja. Dia gadis yang tenang dan juga... Cantik.

Entah sudah berapa lama aku menatapnya.

Inginnya, sih, terus begitu.

Tapi...

"Bukankah tidak sopan memandangi wajah seseorang tanpa izin?"

"Eh?"

Aku terhenyak.

Dan mengerjap beberapa kali.

Apa dia... berbicara?

Dia menurunkan bukunya lalu beralih ke arahku. Menatapku! He! Aku langsung saja melihat ke arah lain untuk melarikan diri. Ce-ceroboh! Aku ketahuan! Ya, ampun. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus kulakukan?

Aku melihat - lihat ke arah lain sambil menggaruk pipiku. A-aku bingung harus bilang apa pada saat ini. Perasaanku juga tidak menentu. "E-etto, anu..." Aku berusaha untuk mengatakan sesuatu, "...Itu, emm... go-gomen," kataku kemudian.

"Hem..."

Aku mendengar suara dengusan.

Apa dia baru saja menertawaiku?

Kalau benar, ini memalukan!

Tapi...

Kata - kata berikutnya darinya...

"Baiklah..."

Hah?

Aku langsung menoleh ke arahnya.

"Terserah kamu kalau ingin menatapku terus. Silakan saja. Aku tidak keberatan."

Dia sedang menutup bukunya.

"Ap—"

Aku ingin menanyakan maksudnya tadi, tapi beberapa detik kemudian, suara bel berbunyi pertanda berakhirnya waktu istirahat, membuat niatku untuk bertanya menjadi hilang. Tapi, sejak hari itu, ketika pelajaran sedang berlangsung, aku terus memikirkan kata - katanya itu.


Next Chapter: Tali Dalam Kegiatan Berhitung.