DISCLAIMER
Fruits Basket is belongs to Natsuki Takaya

Playing Fate
©Longlive Author

An Alternative Canon

Kehidupan Honda Tohru berubah semenjak bertemu dengan satu persatu keluarga Soma, namun semakin ia ditarik semakin sakit rasanya. Tidak ada yang memberitahunya jika peduli pada seseorang begitu menyakitkan. Semua orang di keluarga Soma mengikat Akito sebagai pusat dari perputaran mereka. Namun tanpa mereka sadari bahwa seluruh keluarga soma juga terikat dengan Honda Tohru.

Bagaimana jika Tohru memutuskan untuk berhenti peduli?

Chapter 1

Lovely

Sore itu, sore hari yang indah dan dingin itu tampaknya akan menjadi lebih dingin daripada yang Tohru Kira. Burung-burung gereja yang ia hampiri tiba-tiba saja beterbangan menyadarkan Tohru jika ada yang berjalan mendekatinya.

Ia menegadah, mendapati sesosok pria tinggi berambut cokelat madu menghampirinya. Ia menatap Tohru dengan pandangan sedih dan juga kusut. Seolah-olah dia dilanda gelisah sepanjang malam hingga tidak tidur.

"Kureno-san…" Ujar Tohru takut-takut. Mengingat pertemuan pertamanya dengan Kureno meninggalkan kesan buruk, karena Akito melabraknya hingga terluka musim panas lalu.

Pria yang merupakan anggota Shio Ayam Jantan itu membungkuk memberikan tangannya untuk menolong Tohru. Ia masih terkejut bagaimana bisa perjalanannya membeli kertas untuk Shigure-san bisa menjadi pertemuan tidak terduga dengan Kureno. Padahal sudah berapa kali Tohru mempertaruhkan nyawanya untuk masuk secara diam-diam ke kediaman keluarga Soma hanya untuk mencari tahu keberadaan Kureno.

"Burungnya…menjauhi Kureno-san. Kureno-san merupakan simbol shio ayam jantan…" Tohru tidak mengerti, burung-burung gereja itu diam saja ketika Tohru hampiri, kenapa ketikan Kureno-san mendekati mereka, burung-burung itu terbang? Seharusnya justru mereka mendekati Kureno.

"E-eh…" Gadis itu bingung melihat Kureno yang masih memegangi tangannya setelah ia membantu Tohru.

Brukk!

Tiba-tiba saja Kureno memeluk ringan Tohru. Gadis itu melebarkan matanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang Kureno lakukan. Namun sedetik kemudian ia berkedip menyadari bahwa Kureno-san tidak berubah menjadi ayam jantan—bagaimana bisa?

"Aku berbeda sekarang," ujar Kureno.

"Aku sudah tidak berubah. Kutukan milik ku sudah terpatahkan." Kata-kata ajaib itu terlontar dari bibir Kureno. Sebuah kalimat yang Tohru impikan bahwa suatu saat akan menjadi nyata.

"Kutukan milik ku sudah terpatahkan, itu terjadi ketika aku sedikit lebih muda darimu." Jelasnya masih memeluk Tohru.

"Jadi aku bukan lagi salah satu anggota Shio."

Darah hangat yang mengalir di tubuh Honda Tohru serasa berhenti mengalir. Ia merasa tangan dan kakinya dingin seketika mendengar kalimat itu. Namun wajahnya begitu panas dengan begitu banyak pertanyaan dikepalanya saat ini.

"Bagaimana? Bagaimana kau mematahkan kutukannya?" Tohru melepaskan pelukan Kureno dan menatapnya seperti anak anjing yang meminta makan.

"Aku tidak tahu." Jawab Kureno. "Kutukan itu patah begitu saja. Kutukan itu hilang tanpa memberikan tanda apapun. Aku merasa mataku mulai terbuka. Di dalam diriku, aku hanya melihat diriku sendiri. Tidak ada hal yang perlu dihilangkan lagi." Ia menatap Tohru dengan sangat dalam, karena bagi Kureno pun ini kedua kalinya ia bercerita tentang kutukannya yang sudah hilang selain kepada Shigure.

"Lahit terlihat sangat biru. Aku merasa sangat sedih mengingat aku nantinya tidak akan bisa terbang lagi. Tapi aku juga merasa sangat senang akhirnya aku menjadi manusia seutuhnya. Aku sangat senang." Kureno mendorong tubuh Tohru perlahan agar berhadapan dengannya.

"Tapi anggota Shio yang lain masih menganggapu ayam jantan. Kau tetap berada disampign Akito-san. Apa ada sesuatu yang membuatmu masih terkekang?" Tanya Tohru tidak mengerti. Semua ini tidak masuk di nalar lugu Tohru. Setahu gadis itu seluruh anggota shio tersiksa berada dalam ikatan Akito. Namun mengapa Kureno masih tetap berada disana meskipun sudah lepas dari kutukan itu.

Kureno berbalik kemudian merogoh sesuatu didalm sakunya. Lalu ia mengeluarkan sebuah DVD dan memberikannya kepada Tohru. Gadis itu melihatnya, itu adalah DVD berisi rekaman drama kelasnya yang diberikan Momiji untuk Kureno—kenapa?

"Maaf hadiahmu jadi sia-sia. Maaf aku hanya ingin memberitahumu tentang ini." Ujar Kureno dingin.

Tohru mengambil DVD itu. Bagian belakang kepalanya terasa lebih dingin. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau katakan.

"Aku tidak akan menemui Arisa, dan akan tetap berada disisi Akito." Jelas ada nada kesedihan di dalam kalimat Kureno.

"Dua kali, aku hanya melihat dan berbicara dengan Arisa dua kali. Pertemuan yang tidak begitu berarti. Jika aku tidak bisa menemuinya lagi, pertemuan itu hanya akan menjadi ingatan semu dan menghilang begitu saja. Itulah yang akan terjadi. Jadi, kau tidak perlu khawatir…" sejenak kata-kata itu berhenti keluar dari mulu Kureno. Tohru mengulurkan tangannya menyentuh pipi pemuda yang beberapa tahun lebih tua dari dirinya itu. Mata Kureno sudah menahan mati-matian agar bulir-bulir air tidak jatuh ke pipinya.

Kureno tidak bisa bereaksi apapun. Seolah turut berduka, Tohru pun menahan air mata yang sama. Dalam hatinya ia tidak mengerti, kenapa gadis itu turut menahan tangis untuknya. Kilasan-kilasan ingatan yang singkat Bersama Arisa berputar Kembali di otaknya—Sial! Sialan sekali!

"Aku ingin menemuinya. Aku ingin bertemu dengannya! Aku hanya melihatnya dua kali, tapi dia adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta dan merasakan mejadi orang seutuhnya." Akhirnya pertahanan itu runtuh, Kureno mengungkapkan isi hatinya kepada Tohru sambil berlinang air mata.

"Aku bisa memeluknya selama yang aku mau. Tidak ada lagi semangat dalam diriku. Aku terbebas dari kutukan yang masih menghantui anggota shio lain. Padahal hanya aku yang bisa pergi kemanapun aku mau, mencintai siapapun yang aku inginkan, tapi untuk itu, untuk alasan itu, aku harus tetap berada di sisi Akito."

"Bagi Akito, ikatan kami adalah segalanya. Dewa tidak akan pernah muncul tanpa bantuan para Shio. Jadi semenjak kutukanku hilang, aku bersumpah akan selalu bersama Akito. Aku tetap berpura-pura menjadi salah satu anggota Shio, aku piker itu akan menghilangkan kesedihannya. Sampai Akito tidak membutuhkan ku lagi aku akan terus bersama Akito."

"…Demi anak yang selalu menangis hingga tubuhnya kesakitan."

"…Demi…anak perempuan yang selalu merasa sedih…"

Lutut Tohru melemas, bertahan sekuat tenaga agar tetap bisa berdiri tegak di tengan-tengah keterkejutannya.

"…wanita? Akito-san adalah Wanita?" Tanya Tohru lirih. Ia menghela napas tidak percaya.

"Kau tidak bohong kan?" Tanya Tohru sekali lagi.

"Itu benar, keluarga Soma menyimpan banyak rahasia, namun ini adalah salah satu yang terbesar." Jawab Kureno.

"Tapi Akito-san terlihat seperti laki-laki, dia pun bersikap seperti laki-laki. Anggota lain juga tidak memperlakukannya seperti lelaki." Kata Tohru mencoba logis.

"Akito dirawat sebagai lelaki sejak ia lahir. Itulah yang diputuskan oleh orang itu." Jelas Akito, Tohru menatapnya tidak mengerti.

"Dia yang hampir menangkapmu pada saat kau datang kerumah kami." Tohru teringat sesosok Wanita paruh baya tinggi yang hampir saja menangkapnya saat berusaha menyelinap memberikan nomor telepon Arisa, namun tertolong karena Kureno ada disana.

"Dia adalah ibu Akito. Ibunya yang memutuskan untuk merawat putrinya sebagai lelaki. Akito dan ibunya tak pernah mengatakan alasannya. Tapi satu hal yang ku tahu pasti, adalah bahwa kedua orang itu saling membenci." Jelas Kureno lagi. Tohru masih terdiam mendengarkan penjelasan Kureno.

"Ibunya, Ren-san mengatakan bahwa ikatan Akito dan para shio adalah hal yang keliru. Dia bilant itu tak alami dan tidak nyata. Jadi, dia selalu bertengkar dengan Akito." Ujar Kureno lagi.

"Aku, Shigure-niisan, Hatori-niisan, dan Ayame-niisan telah mengetahui keberadaan Akito bahkan sebelum Akito lahir. Kami tahu bahwa perasaan asing yang menggebu-gebu itu bukanlah persaan ku, tapi berasal dari binatang yang ada didalam diriku. Meskipun aku tidak tahu, tapi sesuatu mengatakan bahwa kami tidak bisa mengkhianati Akito." Kata Kureno.

Tohru teringat perkataan Rin, kalau mereka tidak bisa lepas dari Akito, tidak bisa kabur, tidak bisa menmbantah Akito meskipun mereka sangat membencinya.

"Setelah kutukan ku hilang, aku sadar bahwa ikatan ini memanglah tidak alami. Ren-san benar. Namun setelah ku piker lagi, aku tetap tidak bisa meninggalkan Akito, karena yang kulihat hanyalah Wanita yang menangis." Jelas Kureno untuk terakhir kalinya.

Tohru menunduk. Tubuh dan lidah nya kelu tidak bisa bergerak.

"Maaf aku cerita banyak hal. Aku membuatmu bingung. Tapi, meski Akito mudah menyakiti orang lain, aku ingin kau tahu, bahwa Akito juga penuh dengan luka." Kata Kureno.

Gadis itu mulai tidak bisa menahan air matanya. Tetes demi tetes jatuh tanpa suara ke tanah dingin. Ia bingung dan hanya merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Tidak jelas apakah itu perasaan sedih, marah, atau kecewa.

"Aku ingin kau tahu alasanku mengapa aku tidak bisa mengabaikan Akito."

Seharusnya ada yang ku katakan…Ada yang harus aku katakan…Tapi tak bisa ku katakan.

Tohru mencengkram sisi-sisi jaket nya tidak tahan dengan perasaan frustasi yang ia alami saat ini. Namun tiba-tiba saja ia merasakan tangan dingin menyentuh kedua sisi pipinya. Kureno mendekat setengah berbisik.

"Maaf, aku selalu menyakiti orang lain. Meski begitu inilah jalan yang ku pilih." Tohru menatap Kureno masih berlinang air mata.

"Maaf, dan terima kasih."

Kekuatan gadis itu benar-benar menghilang seiring dengan kepergian Kureno dari pandangannya. Kaset DVD yang ia pegang jatuh menggelinding di tanah disusul denga tubuhnya yang ikut ambruk. Angin dingin berhembus menerbangkan syalnya. Ia sudah tidak bisa, tidak tahan lagi.

"Tidak bisa, sudah tidak bisa diubah lagi. Semuanya terhubung seperti lingkaran. Tidak ada yang bisa ku lakukan lagi, bagaimanapun aku berusaha. Mereka akan tetap terikat dengan Akito." Jerit Tohru dalam hati.

Sakit, sakit sekali dadanya. Selama ini ia selalu berpegang pada harapan bahwa ada sesuatu yang bisa mematahkan kutukan shio. Apalagi dengan Rin disisinya, ia merasa mendapatkan teman untuk mematahkan kutukan shio. Namun setelah mendengar penjelasan Kureno. Harapannya pupus. Ia tidak bisa berbuat apapun lagi.

Ia tidak bisa menyelamatkan Yuki, Kyo, Momiji, dan yang lainnya. Ia tidak bisa membantu Arisa mendekati orang yang ia sukai. Ia tidak bisa melakukan apapun. Membayangkan apa yang akan terjadi kepada anggota shio kedepannya membuatnya bergidik ngeri. Hidup di dalam ikatan yang menyiksa hingga membuatmu gila. Hidup dalam ketakutan hingga kau tidak bisa bergerak. Apa yang akan terjadi kepada Kyo setelah ia lulus? Apakah ia akan dikurung juga seperti kakek Shihou-san?

Tohru menangis tanpa suara, ditemani dengan matahari yang menghilang dicakrawala.

"Tohru-kun…" Sebuah suara lembut memanggilnya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Hana-chan dan adiknya tengah menghampirinya.

"Aku datang setelah engkau panggil." Ujar Hana ia tersenyum.

-tbc-