DISCLAIMER
Fruits Basket is belongs to Natsuki Takaya

Playing Fate
©Longlive Author

An Alternative Canon

Bagaimana jika Tohru memutuskan untuk berhenti peduli?

Chapter 3

People

"Cause you see people...people...people...the don't really know you"

Beberapa hari setelah pertemuan menyakitkan antara Tohru dan Kureno. Gadis itu mencoba menjalani hari-harinya dengan biasa. Pergi sekolah, belajar, bekerja paruh waktu, pulang menyiapkan makan malam, tidur dan terkadang kembali ke mimpi buruk tentang pembicaraan panjangnya dengan Kureno. Malam itu ia sedang duduk di ruang tamu sambil membuat bunga kertas sendirian, tiba -tiba saja Shigure-san keluar dari ruang kerjanya.

"Tohru-kun, kau sedang membua bunga kertas ya? Ah bikin nostalgia saja. Apa tugas dari sekolah?" Tanya Shigure. Ia duduk disebelah Tohru.

"Iya, bunga-bunga ini untuk upacara kelulusan. Kelas kami mendapat tugas untuk membuat bunga kertas." Jawab Tohru, masih memberikan perhatiannya pada bunga-bungan kertas.

"Ah untuk kelas tiga ya, tidak terasa sebentar lagi kalian juga akan naik kelas. Waktu berlalu begitu cepat." Shigure mengambil satu gulungan kertar yang belum dibentuk. "Boleh ku buka satu?"

"Ya tentu saja." Jawa Tohru.

"Ngomong-ngomong, kau jadi cukup sibuk diluar Tohru-kun." Ujar Shigure, mulai merangkai bunga kertas untuknya sendiri. Tohru berhenti menggerakan jarinya. Benar juga, ia baru sadar kalau iya cukup sibuk. Terkadang ia pulang lebih sore dari sekolah atau tempat kerjanya lebih lama. Entah mengapa itu membuatnya lebih nyaman. Tidak berada dirumah. Tidak terlalu sering berpapasan dengan Yuki, Kyo, maupun Shigure-san.

"Ya, aku cukup sibuk akhir-akhir ini Shigure-san. Aku sedang menabung lebih banyak uang." Jawab Tohru setengah jujur.

"Hee…apakah ada sesuatu yang ingin kau beli Tohru-kun?" Tanya Shigure lagi.

"Tidak Shigure-san, aku merasa tidak bisa bermalas-malasan. Aku harus membalas kebaikan kalian." Balas Tohru.

Shigure menatap Tohru dari sudut matanya. Ada sedikit aura dingin dari kata-katanya. Shigure adalah jelmaan shio anjing. Dia adalah yang paling peka dengan aura orang-orang disekitarnya disbanding jelmaan shio lainnya. Aura Tohru menjadi sedikit dingin sejak ia pulang dari pesta piyama dadakan yang diadakan Hanajima. Tapi bukan Shigure Namanya kalau ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tahu kalau Kureno dan Tohru sudah saling bicara. Tohru kini menjadi salah satu dari sedikit orang yang mengetahui identitas asli Akito adalah Wanita.

"Shigure-san…." Shigure tersadar dari lamunannya ketika Tohru memanggilnya.

"Hai'..?"

Shigure mendapati beberapa detik keheningan yang dingin. Ia penasaran dengan apa yang mau dikatakan Tohru.

"…ano—" Shigure masih mendengarkan. Sementara lidah Tohru tiba-tiba beku.

"uh..kau mau teh? Biar ku buatkan teh." Kata Tohru tiba-tiba.

"Ya tentu saja."

Tohru beranjak dari meja ke dapur untuk membuat teh. Si penulis novel itu menatap punggung mungil Tohru yang berlalu.

"Sepertinya menanyakan tentang Akito sulit sekali untuknya."

Di dapur Tohru membuat teh dengan frustasi. Tidak ia sangka jika menanyakan tentang Akito kepada Shigure-san sesulit itu. Selain itu juga ia masih ragu. Apakah ia benar-benar akan menemukan jawabannyang inginkan dari Shigure. Apa yang ingin iya tanyakan pun belum pasti. Apakah itu tentang Shigure yang benar-benar tahu kalau Akito adalah seorang wanita, atau apakah ia tahu bahwa Kureno bukan lagi jelmaan shio, atau mungkin cara untuk mematahkan kutukan shio. Jika Shigure tidak tahu dan kemungkinan besar memang tidak tahu. Percuma saja. Tohru tetap tidak akan mendapatkan apapun dan tetap tidak ada yang bisa dia lakukan. Hal ini membuatnya merasa terjatuh ke sumur yang amat dalam dan tidak bisa memanjat keluar.

Keesokan harinya ketika jam pelajaran telah selesai. Tohru dan teman-teman sekelasnya yang lain masih meneruskan tugas untuk bunga kertas untuk upacara kelulusan kelas tiga. Namun tampaknya persiapan mereka tidak berjalan begitu mulus, karena Bunga-bunga kertas yang mereka buat banyak diambil oleh siswi-siswi yang terobesei dengan Yuki. Lelaki yang sering dijuluki pangeran sekolah itu pada akhirnya menyerah dan lebih memilih mengerjakan yang lain daripada membuat bunga.

Kyo memasuki kelas ketika disana hanya ada Tohru sendiri karena yang lainnya sedang berusaha merebut bunga-bunga kertas itu dari para penguntit Yuki.

"Mereka masih belum Kembali dari merebut bunga-bunga itu?" Tanya Kyo berjalan kearah Tohru.

"Yah, banyak sekali bunga yang dicuri, jadi mereka cukup lama." Jawab Tohru. Ia berdiri di jendela melihat beberapa teman mereka di lapangan masih berjalan-jalan mencari orang yang mengambil Bungan kertas mereka. Namun tak lama padangannya kosong. Ia masih terbayang dengan pembicaraannya tempo hari dengan Kureno seperti bayangan gelap yang mengikuti dirinya.

"Kyo-kun…" Kyo mendongak. "Jika—jika ada anggota shio yang kutukannya patah, bagaimana menurut mu?" Tanya Tohru. Ia tidak tahu kenapa ia menanyakan hal itu.

"Bagaimana? Aku tidak tahu. Hentikan menanyakan pengandaian seperti itu kepadaku." Lelaki itu memalingkan wajahnya sedikit murung.

Melihat itu air muka Tohru pun ikut murung. Ironis sekali—pikirnya. Bahkan untuk berandai-andai seprti itu saja Kyo sudah putus asa seperti itu. Tohru yakin di dalam diri mereka sangat ingin untuk lepas dari Akito. Namun membayangkan kutukan itu patah dengan sendirinya adalah kemungkinan 1 dari satu juta. Kureno sendiri tidak tahu menahu bagaimana ia bisa terlepas dari kutukannya. Padahal ia masih sangat muda dan juga salah satu shio yang paling dekat dengan Akito.

"Jangan murung begitu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu murung." Melihat Tohru yang tertunduk karenanya ia merasa tidak enak.

"Maaf jika ucapanku sangat buruk ya.." Kyo menyodorkan bunga kertas buatannya kepada Tohru.

Akhirnya Tohru mengangkat kepalanya. Melihat Kyo memberinya bunga kertas itu, hatinya terasa tersengat. Kyo adalah orang yang baik, Tohru bertanya-tanya dosa apa yang dilakukan Kyo hingga ia dikucilkan dan diikat dengan menyakitkan seperti ini? Para Shio ini membuat dosa apa hingga banyak dari mereka yang mengalami hal-hal yang harusnya tidak mereka alami. Dadanya sesak, dan tenggorokannya tercekat.

"Tohru, apa kau tidak apa-apa? Kau tidak tampak baik-baik saja?" Tanya Kyo. Tiba-tiba Tohru merasakan sebuah tangan kasar menyentuh dahinya. Kyo memeriksa suhu tubuh Tohru kalau-kalau ia demam.

"Aku tidak apa-apa Kyo-kun. Jangan khawatir." Jawab Tohru. Kyo seharusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Entah apa yang akan dilakukan Akito ketika ia lulus nanti—pikir Tohru.

"Ayo kita pulang. Sepertinya pencarian bunga-bunga kertas nya akan dilanjutkan besok." Ajak Kyo.

"Tidak, lebih baik Kyo-kun pulang duluan. Aku akan pergi kerja paruh waktu. Akhir-akhir ini aku agak sibuk. Tolong beritahu Shigure-san aku sudah membuat makanan di kulkas, tinggal menghangatkannya saja." Tohru menolak secara halus.

"Baiklah kalau begitu."

Malam harinya di kediaman Shigure, mereka hanya makan malam bertiga. Hanya ada Shigure, Kyo, Yuki. Mereka telah selesai makan malam dalam keheningan.

"Kenapa ya rasanya canggung sekali? Kurasa bukan pertama kalinya kita makan tanpa Tohru-kun." Ujar Shigure berusaha mencairkan suasana.

"Akhir-akhir ini Honda-san jadi lebih sering mengambil pekerjaan paruh waktu dari biasanya." Ucap Yuki.

"Yaa, Tohru-kun memang penuh dengan semangat." Balas Shigure.

Ia menatap kedua sepupunya itu. Ia tahu bahwa yang merasakan perubahan Tohru tidak hanya ia. Yuki dan Kyo pun merasakannya, dan ternyata pembicaraan Kureno dan Tohru sangat berdampak besar pada mental Tohru. Ketika seseorang sedang kalut dan stress sudah sewajarnya jika ia menghidari hal yang membuatnya seperti itu, dan dalam kasus Tohru sepertinya yang membuatnya stress hingga menghindar terus menerus adalah mereka. Singkatnya, seluruh keluarga Soma. Ia sudah jatuh terlalu dalam urusan pribadi keluarga Soma dan juga rahasia shio. Shigure sendiri tidak bisa menyalahkan Honda Tohru sepenuhnya. Ialah yang menyeret Tohru ke dalam urusan keluarga Soma. Ia tidak menyangka bahwa ternyata kehadiran Tohru pun juga berdampak sangat besar di kehidupan mereka.

Ruangan itu diselimuti oleh rasa bingung dan takut yang tidak jelas dari Yuki dan Kyo, dan perasaan bersalah dari Shigure.

Sementara itu malam semakin larut, namun Tohru masih membenamkan dirinya dalam pekerjaan bahkan ketika semua karyawan sudah pulang. Ia masih bolak-balik membersihkan kaca yang sudah mengkilat sejak tadi, membersihkannya lagi dan lagi. Yang mana sebenarnya dia hanya mencari-cari alasan agar tidak pulang. Setidaknya ia ingin pulang ketika semua orang dirumah sudah tertidur. Ia tidak mau melihat apapun. Ia tidak ingin bertemu dengan siapapun.

"Sampai kapan kau mau mengelap kaca itu, ne, Tohru?" Sebuah suara halus terdengar dari belakang punggungnya. Ia berbalik dan mendapati Momiji sedang berdiri dibelakangnya.

"Momiji-kun. Kau ada disini?" Tanya Tohru.

"Ini perusahaan Papa, apa kau lupa?" Tanya Momiji tersenyum.

"Ah ya.." Jawab Tohru kikuk.

"Hanya tinggal kita dan petugas jaga, semua orang sudah pulang Tohru, kau bahkan tidak menyadari sejak tadi aku ada dibelakangmu. Ada apa Tohru?" Tanya Momiji.

"Tidak apa-apa, aku hanya terlalu tenggelam dalam pikiranku sendiri." Jawab Tohru tersenyum. Namun bagi Momiji yang begitu peka, ia merasa ada yang berbeda di senyuman Tohru. Ini pertama kalinya mereka berbicara lagi sejak Tohru memberikan kaset berisi video drama kelas mereka.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Momiji lagi.

"Ne, Momiji-kun, bagaimana kau menjauh dari keluargamu? Bagaimana bisa kau tahan Momiji-kun? Hal itu sangat menyakitkan." Ujar Tohru tiba-tiba.

"Eh, k-kenapa Tohru? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Momiji tidak mengerti.

"Aku sudah berusaha, aku sudah berusaha sebisaku, tapi tidak ada jalan lagi, aku tidak menemukan jalannya Momiji-kun. Bagaimana dengan kalian? Aku tidak bisa melakukan apapun Momiji-kun." Tohru terisak.

"Tohru-kun?" Momiji menggenggam kedua tangan Tohru.

-tbc-