DISCLAIMER
Berserk is belong to Kentarou Miura

THE WAR, LOVE, & FATE
©Longlive Author

An Alternative Canon

Chapter 1 : The Appearance of Morrigan

Dalam hitungan menit Elfhem, pulau para Magi dan para Peri itu diselimuti gelombang lumpur yang dahsyat. Seluruh daratannya yang hijau kini menghitam karena para iblis telah menodai pulau mereka yang suci. Danann, Peri tertinggi di Elfhelm telah memberi tahu Schierke sebelumnya kalau aura gelap telah menyelimuti seluruh Elfhem.

Schierke menahan tangis setelah mereka berlayar meninggalkan Elfhelm. Kini, negeri para peri itu hilang seperti tidak pernah ada disana sebelumnya. Begitupun dengan ribuan peri yang ada di pulau itu mereka menghilang menjadi debu keemasan dan terbawa angin. Mereka pun kehilangan Isma, teman mereka yang berharga karena ia juga merupakan mahluk magis.

"Dimana Guts?" Tanya Schierke.

"Dia…dia berada di dalam." Farnese. Wanita berambut pirang itu menoleh ke arah pintu tempat penyimpanan barang. "Aku rasa ini bukanlah saat yang tepat untuk mendatanginya. Dia terlihat sangat terpukul, setelah apa yang terjadi. Maaf ini semua salahku, aku tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi Casca." Ujar Farnese merasa bersalah.

"Farnese, obatilah mereka yang terluka. Gunakan kemampuan penyembuhanmu, aku harus mendatangi Guts." Ujar Magi muda bernama Schierke itu.

"Serahkan padaku."

Ia tahu jika Guts kini berada di balik pintu. Namun ia bahkan tidak perlu kekuatan magi untuk mengetahui jika saat ini tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menjangkau Guts. Setelah bertahun-tahun bersusah payah untuk berdiri dengan kokoh. Kini pertahanannya hancur dan ia jatuh ke lubang yang sangat dalam.

Angin bertiup kencang, dan gelombang laut mengamuk diluar sana. Schierke duduk di depan pintu yang memisahkannya dengan Guts, kemudian ia memejamkan matanya. Seiring dengan itu dia mengirimkan tubuh astralnya untuk menjangkau Guts yang saat ini sedang dalam keadaan depresi luar biasa. Tubuh astral itu melayang, masuk melewati pintu di antara kerumunan kru yang selamat. Guts kini tengah bersimpuh, pedang besarnya tergeletak tak jauh dari nya. Tangan Guts yang besar berusaha meraih pedang dan mencoba mengangkatnya.

"KLANGGG!"

Pedang itu terjatuh. Pedang yang bertahun-tahun menyelamatkannya kini terlalu berat untuk ia angkat.

"ARRRRGGGGHHHHHHH!" Guts berteriak. Farnese, Serpico, dan semua orang yang berada dibalik pintu itu menoleh mendengar auman keras yang begitu lirih.

Tubuh astral Schierke bisa melihat apa yang kini sedang dialami jiwa Guts. Guts saat ini merasa sangat putus asa. Semua yang ia lakukan beberapa tahun ini untuk menyembuhkan Casca, dan mencari pengampunan atas dirinya berujung sia-sia. Kilas balik peristiwa-peristiwa yang terjadi hingga membawanya saat ini berputar seperti badai di kepala Guts, Schierke bisa melihatnya. Seorang pria dengan baju zirah dan berambut panjang bak dewa-dewa dalam lukisan muncul dalam ingatan Guts. Wajahnya yang pucat sepucat porselen itu menatap Guts dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Shierke mengerti sesuatu sekarang, pria itu, Griffith, The Hawk of the Light. Sejak pertama kali Guts bertemu dengan Griffith, dunia Guts berputar hanya di sekeliling Griffith seorang. Kebahagiaannya, kesedihannya, penyesalannya, dendamnya, dan cintanya. Semua berpusat pada Griffith, dan dia hidup, entah apapun alasannya, hanya untuk satu tujuan yaitu Griffith.

"Guts! Guts! Bertahanlah Guts! Kau jangan masuk lebih dalam lagi! Kembalilah Guts!" Tubuh astral Schierke berusaha untuk menjangkau alam bawah sadar Guts yang kini semakin menjauh. Ia tidak bisa menjangkau nya. Guts yang putus asa, lebih sulit dijangkau ketimbang Guts yang di rundung amarah.

"GUTS! GUTS!"

BRUAGGHH

"GUTS!"

Guts terjerembab di lantai kayu kapal mereka. Tidak sadarkan diri, tidak berdaya, tidak terjangkau.

"SCHIERKE! SCHIERKE KEMBALI! KITA DISERANG!" Suara Farnese mengaum dari balik pintu di ikuti dengan suara berdebam kencang. Belasan langkah berat memasuki dek kapal diiringi dengan teriakan dari para kru dan penyintas. Mereka tidak sempat memproses, darimana pasukan ini datang dan apa yang mereka inginkan.

"GUTS!" Teriak Serpico.

Serpico menghunuskan pedangnya begitu juga denga Farnese. Namun kini mereka tidak sedang melawan roh jahat. Pasukan ini sudah siap dengan baju zirah dan pedang mereka yang tajam. Mereka kalah jumlah, dan Schierke belum Kembali dari dunia astral.

"Tidak, tidak, kami akan habis!" Pikir Farnese.

GLAARRGGHHH!

Tiba-tiba saja petir menyambar bergitu kencang diikuti suara dentuman dahsyat dari luar. Badai semakin liar dan gelombang laut semakin tinggi. Farnese membuka matanya, sebuah Cahaya menerbos masuk melalui jendela kapal.

"A-api! Ada api!" Ujar Fanese melihat ke jendela sambil masih memeluk tubuh Schierke.

"Kapal mereka terbakar!" Teriak Isidro.

Para prajurit itu berhenti seketika. Melihat kapal mereka terbakar di tengah badai, hampir tidak dapat dipercaya. Petir menyambar ke arah kapal mereka dan mengenai tiang kapal hingga terbakar. Tidak hanya itu, layar utama mereka telah rubuh dan jatuh ke dek kapal menyisakan retakan besar. Tinggal tunggu waktu hingga kapal mereka terbelah menjadi dua.

"SERANG MEREKA, TUNGGU APA LAGI!? AMBIL ALIH KAPAN INI!" Teriak salah seorang prajurit.

"Oh tidak mereka berusaha mengambil kapal ini, setelah kapal mereka tersambar!" Puck, peri itu melayang-layang tak jauh di atas mereka tidak bisa melakukan apapun.

BYUUURRR…CLASHHHHHHH!

Kapal mereka terombang-ambing terbawa gelombang tinggi. Roderick, sang kapten kapal, yang kini telah di Sandra oleh prajurit tidak dikena ini khawatir melihat keadaan kapal. Badai yang semakin besar, dan kapal mereka yang terombang-ambil akan membawa mereka menuju kematian. Saat ini tidak ada orang yang berada di kemudi. Mereka akan mati.

Benar saja, beberapa detik kemudian sebuah gelombang besar muncul dan menabrak kapal mereka.

"SEMUANYA PEGANGAN!" Teriak Roderick.

Gelombang air memenuhi geladak macam air bah yang bisa menyapu mereka kapan saja. Serpico dan Farnese saling berpegangan sambil melindungi Schierke agar dia tidak terbawa arus. Isidro berpegangan sebuah tiang.

"Lady Farnese! Serpico! Aku akan melafalkan mantra. Kalian berepeganganlah! Aku tidak akan bisa bertahan lama, tidak ditengah badai seperti ini!" Teriak Morda, penyihir Elfhelm yang kini ikut dengan mereka. Ia berdiri berada dari tak jauh dari ruangan tempat Guts berada.

Kalypsó, árchontas ton nerón, árchontas tis vathiás thálassas.

Dóse mou to kaló sou!

Férte aftoús pou échoun kakés prothéseis stis ydátines dynámeis sas.

Prosféro tin tapeiní tous kardiá ston thymó sas!

Seiring dengan rafalan mantra yang Morda ucapkan. Air yang menggenangi seluruh geladak tiba-tiba saja seolah menjadi jinak dan mengikuti ucapan Morda. Mereka membawa prajurit-prajurit itu menjauh, dan menyingkirkan pedang-pedang mereka. Satu persatu para prajurit itu jatuh ke laut dan terbawa badai. Menyisakan hanya beberapa orang saja. Serpico dan Farnese bergabung dengan Roderick serta kru kapal lainnya untuk menyingkirkan sisa-sisa prajurit itu. Hingga akhirnya mereka semua bisa selamat.

Tak lama kemudian badai berhenti, laut menjadi tenang seolah-olah ia telah selesai mengamuk. Tubuh para prajurit yang menyerang mereka telah lenyap tertinggal di belakang. Begitupun dengan kapal musuh yang telah habis terbakar. Mereka kini hanya bisa melihat asapnya dari kejauhan.

UEGHHHHKKK!

Farnes memuntahkan isi perutnya yang hanya tinggal air itu. Sebuah reaksi yang wajar mengingat mereka telah melalui malam yang panjang. Mereka lapar, lelah, dan kedinginan. Semua kru selamat meskipun beberapa orang terluka.

ARRKK! ARRKK!

Seekor gagak terbang diatas kapal mereka ke arah timur. Dari balik awan gelap, angin berhembus pelan menerbangkan awan-awan itu menjauh. Secercah cahaya keemasan menerobos celah-celah awan. Tidak terasa, ternyata malam telah berakhir, dan matahari pagi telah terbit. Mereka benar-benar menghabiskan malam tanpa beristirahat.

"Bangunlah anak muda! Aku sudah menunggu berabad-abad untuk berbicara denganmu!"

Guts merasa seluruh tubuh nya dingin. Ia tidak bisa merasakan apapun selain dingin. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Hal terakhir yang Ia ingat adalah wajah Griffith dan suara Schierke yang memanggilnya. Namun suara ini, suara siapa ini yang baru saja ia dengar. Suara seorang wanita, tapi ia tahu betul kalau suara itu bukan suara Schierke. Suaranya lembut dan sensual. Jika di surga sana benar-benar ada yang namanya bidadari, ia yakin pasti suaranya seperti ini. Guts tidak bisa membuka matanya, tidak bisa bergerak. Ia tidak tahu sama sekali dimana dia berada.

"Guts, Guts, anakku, anak favorit ku… Jika kau pikir hidup matimu karena Griffith, kau salah."

Suara itu berbicara lagi. Apa maksudnya? Guts tidak mengerti. Siapa orang ini yang membicarakannya dan Griffith. Ia sangat ingin melihatnya, namun ia tidak bisa.

"Aku tahu apa yang baru saja terjadi padamu sangat menyedihkan. Tapi ini terlalu cepat, aku tidak bisa membiarkanmu jatuh begitu saja. Perjalananmu masih panjang. Aku tidak akan membiarkan kau merusak kesenanganku. Maka dari itu aku akan menyingkirkan kesedihanmu. Mengamuklah Guts! Mengamuklah!"

"Guts! Guts!"

Guts membuka matanya, waktu sudah menunjukan tengah hari Ketika Guts sadar dari tidurnya. Ia menemukan dirinya bertelanjang dada dan di balut oleh selimut beruang yang hangat.

"Ada apa ini?" Tanya Guts, suaranya sedikit serak karena tidur terlalu lama.

"Kau terkena hipotermia Guts! Kau menggigil selama beberapa jam." Jawab Schierke.

"Kau melewatkan bagian yang paling menyenangkan Guts. Kami diserang prajurit tidak di kenal, hampir tebunuh, dan hampir tenggelam terbawa badai. Sedangkan kau terkunci di ruang penyimpanan dengan air setinggi lutut didalam nya. Aku heran, kau benar-benar tidak bisa mati, ya?" Ujar Farnese ketus.

"Prajurit? Prajurit apa?" Tanya Guts ia berusaha untuk duduk.

"Kami belum tahu, kami tidak sempat menanyai mereka karena badai dan gelombang sudah membawa mereka pergi." Jelas Serpico.

"Bagaimana keadaan yang lain?" Tanya Guts

"Semuanya aman. Syukurlah Morda berada ikut dengan kita. Dia melafalkan mantra dan memanfaatkan badai dan gelombang untuk menyapu bersih para prajurit itu. Jika tidak ada dia, aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Jawab Schierke.

"Memangnya kau ada dimana, Schierke? Apa kau tidak membantu yang lain?" Tanya Guts. Schierke tampak merasa bersalah.

"Aku, aku tidak ada disini. Saat itu aku sedang meninggalkan untuk menjangkaumu Guts. Kau mengalami malam yang berat sejak Casca di bawa pergi. Kami tidak bisa memanggilmu atau mendekatimu. Kau bisa saja membabi buta menyerang kami. Jadi aku berusaha untuk menjangkau alam bawah sadarmu ketika penyerangan itu terjadi." Jelas Schierke.

Ah, Guts ingat, dia benar-benar terpuruk semalam. Dia merasa bersalah karena malah tidak sadarkan diri Ketika teman-temannya dalam bahaya. Namun di banding dengan perasaannya jauh lebih baik hari ini. Ia bisa berpikir jernih, padahal semalam rasanya ia hampir tidak bernapas karena begitu depresi.

"Schierke, aku ingin bertanya sesuatu. Apa yang membuatmu begitu lama di dunia astral? Bukankah seharusnya kau bisa merasakan bahaya?" Tanya Serpico.

"Untuk itu, sebenarnya ada hal yang tidak aku mengerti. Aku berusaha Kembali ke tubuh ku, namun ada sesuatu yang besar yang menghalangiku masuk. Ada sebuah energi asing yang menyelimuti kapal ini yang menghalangi jalanku. Seolah energi ini tidak mau diganggu sebelum dia pergi." Ujar Schierke.

"Apakah itu efek dari mantranya Morda?" Tanya Farnese.

"Kurasa bukan, aku akan tahu jika itu mantra milik Morda, dan sebuah mantra seharusnya tidak menghalangiku kembali ke tubuhku. Energi ini adalah energi yang sangat besar dan terus mengelilingi kapal ini hingga badai pergi. Saking besarnya seperti energi berasal dari seorang dewa."

"Apa itu mungkin? Aku juga merasakan hal yan sama tapi aku tidak tahu apa itu" Tanya Puck.

"Entahlah, terlalu banyak yang terjadi akhir-akhir ini, dan semua yang terjadi membuat kita semua hampir gila. Apapun itu, selama itu tidak menyakiti kita, aku tidak akan mempersalahkannya." Kata Schierke.

Matahari menurun dengan bijaksana memberi tahu semesta jika hari akan berakhir dan berganti malam yang dingin, dimana semua binatang akan kembali ke peraduannya masing-masing, Menyisakan rasa waspada akan predator di menjelang malam hari. Namun senja, bagi Midland Resistance Force atau mereka yang disebut The Band of the Hawk yang dipimpin oleh Griffith the Hawk of Light adalah pertanda bahwa kemenangan sudah ada di tangan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir Band of the Hawk,tidak pernah terkalahkan sekalipun apalagi setelah bergabungnya war demons di pasukan mereka. Di bawah Komandan Griffith dan Puteri Charlotte Midland telah memiliki ibukota baru yaitu Falconia. Sebuah kota besar yang berdiri tak jauh dari World Tree.

Satu pertempuran lagi telah di menangkan oleh Pasukan Pertahanan Midland. Pertanda bahwa ekspansi kekuasaan mereka kini semakin besar. Para pasukan kini tengah beristirahat sambil mempersiapkan perjalanan pulang mereka ke Falconia. Komandan Griffith keluar dari tendannya masih dengan baju zirah lengkap tanpa helmnya. Ia berusaha menghirup udara segar setelah berjam-jam dalam pertempuran. Dari atas bukit ia melihat lembah itu penuh dengan tubuh dingin yang berserakan. Banyak dari mereka yang hanya tinggal bagian tubuh karena di serang oleh Zodd the Immortal.

ARRRKK! ARRRKK!

Seekor gagak hitam terbang tinggi diatas kepalanya, kemudian mengelilingi lembah bekas mendan pertempuran mereka. Griffith sedikit memicingkan mata. Seekor gagak terbang setinggi elang dengan puluhan mayat dibawahnya tanpa keinginan sedikit pun memakan bangkai mereka. Orang-orang akan bilang kalau ini…

"—pertanda buruk!" Sebuah suara terdengar bercampur dengan hembusan angin. Griffith menoleh.

"Biasanya orang-orang akan mengatakan jika gagak adalah pertanda buruk. Apa menurutmu begitu, Komandan Griffith?" Tanya wanita itu.

Wanita itu memakai baju zirah pasukannya. Namun ia tahu betul tidak ada wanita lain dalam pasukan selain Sonia, seperti hal nya dulu tidak ada wanita lain di dalam pasukan selain Casca. Wanita itu berambut hitam panjang dan bergelombang. Wajahnya hampir sama pucatnya seperti wajah Griffith hanya saja wajah ini mencerminkan kegembiraan yang tidak biasa. Mirip seperti anak kecil Ketika ia merencanakan suatu hal yang nakal.

"Aku tidak percaya pada hal semacam pertanda buruk. Namun jika ada orang yang tidak aku kenal berada di pasukanku aku percaya bahwa itu adalah pertanda buruk." Ujar Griffith dengan tenang.

"Oh Komandan Griffith, kau tidak akan mengetahuinya. Namun, tujuan ku kemari hanya untuk menyapamu. Kau benar-benar seperti yang diceritakan orang-orang. Di masa lalu, maupun di masa kini, kau memang komandan yang mereka hormati." Ujar wanita itu. Ia berdiri berhadapan dengan Griffith. Tingginya hampir sama dengan Griffith, dan matanya yang hitam mengingatkan Griffith pada gelapnya penjara bawah tanah tempat ia dikurung bertahun-tahun lalu.

"Aku mengerti. Apakah kau orang yang harus aku waspadai di masa depan?" Tanya Griffith tanpa basa-basi.

"Oh Komandan, bukan aku. Kau memang telah terlahir kembali, dan kau sangat brilian. Tapi kau terlalu muda. Aku bukanlah orang yang harus kau waspadai. Aku hanya memastikan semuanya berjalan dengan semestinya." Jawab wanita itu.

Griffith memperhatikan wanita itu, kemudian berkata, "The Phantom Queen. Gagak itu adalah pertanda darimu kan?"

"Kau sekarang banyak tahu, Komandan. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa dilakukan seorang dewa, iya kan?" ia berhenti sejenak "—iya kan, Femto?"