DISCLAIMER
Berserk is belong to Kentarou Miura

THE WAR, LOVE, & FATE
©Longlive Author

An Alternative Canon

Chapter 2 : Tortuga

"DARATAAANNNN!" Teriak seorang kru kapal.

Rombongan kapal Roderick yang membawa Guts dan teman-temannya sampai di sebuah kota Pelabuhan setelah melakukan perjalanan selama dua hari.

"Dimana kita Roderick?" Tanya Farnese mendatangi Roderick di anjungan.

"Tortuga. Kota para kriminal dan bajak laut. Lebih baik kita tidak menunjukan bendera Vandimion atau apapun yang berhubungan dengan pemerintah maupun kerajaan. Kita tidak bisa menebak apa yang akan mereka lakukan." Jawab Roderick.

"Aku mengerti ke khawatiranmu, tapi dengan monster buas seperti Guts, kurasa tidak ada yang mau macam-macam dengan kapal ini." Ujar Farnese yang menoleh ke arah geladak. Semua orang tampaknya sudah tidak sabar menginjakan kaki di daratan, setelah semua kekacauan beberapa waktu yang lalu.

"Semuanya! Kita akan beristirahat selama dua hari di Tortuga. Kita akan mengisi ulang suplai, dan memperbaiki beberapa bagian kapal. Tortuga adalah kota yang sering dilewati bajak laut, aku tidak ingin kalian berpencar terlalu jauh!" Roderick memberikan pengumuman tepat sebelum mereka berlabuh.

Rombongan mereka turun dari kapal menuju pub terdekat untuk mencari makan. Roderick akan bergabung dengan mereka belakangan karena ia harus mengurus kapal terlebih dahulu. Schierke melihat sekeliling mereka. Tempat ini benar-benar menjijikan. Itu hal pertama yang terbesit dibenaknya. Pelabuhan itu berbau amis bercampur aroma rum berkualitas rendah yang menyengat. Puluhan drum berisi rum selundupan sedang dipindahkan dari satu kapal ke kapal lain. Belum lagi banyak sekali orang berteriak dan berkelahi di jalanan. Hal itu sangat membuatnya tak nyaman. Seolah mereka telah memasuki pulau yang dipenuhi orang mabuk.

Akhirnya mereka memasuki sebuah pub tanpa nama. Mereka duduk tak jauh dari pintu masuk karena di dalam sangat sesak. Orang-orang menari, bernyanyi, berkelahi, bahkan bersetubuh sembari di iringi musik riang.

"Lihat orang itu!" Ketika mereka masuk hampir mata semua orang tertuju pada Guts. Tentu saja dengan pedang sebesar itu akan mencuri perhatian semua orang. Namun beruntung tampang Guts yang sangar membuat tidak ada orang yang mau mencari masalah dengan mereka.

"Ekhem, apa yang kalian inginkan anak muda?" Tanya seorang bibi berdada besar mendatangi meja mereka.

"Makanan apa yang kalian punya?" Tanya Guts.

"Ikan? Wanita?" Kata bibi itu.

"Kalau begitu ikan, dan berikan kami beberapa gelas rum dan air." Balas Serpico.

Bibi itu berlalu dari hadapan mereka. Mereka diam di dalam keramaian itu. Mereka benar-benar butuh makanan dan istirahat yang layak. Schierke menoleh ke arah Guts. Dua hari yang lalu ia benar-benar seperti orang yang kehilangan akal karena Casca telah di culik oleh Griffith. Namun melihatnya saat ini seolah dia telah melupakan itu. Schierke penasaran apa yang sedang dirasakan Guts.

"Guts, kau tidak apa-apa?" Tanya Schierke.

"Ah, aku tidak apa-apa." Jawab Guts.

"Kau yakin? Dua hari yang lalu kau sangat depresi hingga kau tidak sadar jika ada penyerangan, badai, dan kau hampir mati tenggelam." Jelas Farnese, ia terlihat masih kesal karena Guts sama sekali tidak membantu mereka dalam keadaan genting kemarin.

"Maafkan aku, aku berhutang pada kalian untuk yang satu itu. Tapi, entahlah, aku merasa telah melewati fase itu." Jawab Guts. Mereka semua menatap Guts heran. Melihatnya setenang air saat ini merupakan pemandangan yang langka.

"Sebenarnya, aku bermimpi sesuatu saat aku tidak sadarkan diri. Aku tidak ingat tentang mimpi itu, namun aku mendengar suara wanita mengucapkan sesuatu." Kata Guts tiba-tiba.

"Mengucapkan sesuatu? Apa itu?" Tanya Schierke.

"Ya, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Namun setelah aku sadar, aku merasa jauh lebih baik." Ujar Guts. Schierke dan Morda saling bertatapan. Schierke melihat alam bawah sadar Guts sebelum ia pingsan, ia yakin sekali Guts benar-benar selangkah dari kehilangan kewarasannya. Ia sendiri tidak bisa menjangkau Guts pada saat itu, dan bagaimana sebuah mimpi bisa membuat kesadaran Guts menjadi stabil kembali.

"Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan energi besar yang kau rasakan pada saati itu, Schierke?" Tanya Morda.

"Entahlah, energi itu aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Terlalu dini untuk menyimpulkan kalau mereka berasal dari satu sumber yang sama." Jawa Schierke.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Makanan dan rum mereka sama buruknya dengan tempat itu. Namun jauh lebih baik daripada mereka tidak makan sama sekali. Semakin malam musik yang mereka mainkan semakin keras. Semakin banyak orang yang datang, Guts melihat beberapa rombongan kru bajak laut, pencuri, dan penyelundup kelas teri. Mereka harus segera mencari penginapan yang lebih layak, mereka tidak akan bisa istirahat dengan tenang di tempat itu. Namun menjelang tengah malam, Roderick baru menyusul mereka dengan membawa berita yang kurang menyenangkan.

"Kompas kita tidak bekerja." Ujar Roderick memberi tahu semuanya.

"Apa maksudnya itu?" Tanya Serpico.

"Kompas kita tidak bekerja, aku sudah bertanya pada nelayan dan tidak ada satupun Kompas yang bekerja di pulau ini. Nelayan bilang selama beberapa bulan kebelakang Kompas sering tidak bekerja di pulau ini. Seolah-olah magnet bumi bergeser hingga menyebabkan Kompas tidak bekerja." Jelas Roderick.

"Jika begini kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan ke ibukota Midland." Ujar Farnese.

"Belasan tahun aku berlayar, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini. Kami tidak tahu apa yang menyabab kan hal ini." Ujar Roderick.

—"Itu karena pengaruh World Tree!" Mereka semua menoleh. Ternyata yang berbicara adalah wanita yang duduk di belakang Guts. Karena badan Guts besar, mereka tidak sadar jika ada seorang wanita yang duduk di meja belakang Guts.

"World Tree?" Puck dan Ivalera, terbang mendekati wanita itu.

"Ah, maaf aku mendengar pembicaraan kalian. Namaku Morgan, aku sudah tiga hari berada di Tortuga. Aku juga dengar kalau kalian akan pergi ke Ibukota baru Midland." Ujar wanita itu.

Wanita itu berambut hitam dengan mata obsidian yang kontras dengan warna kulitnya. Ia memakai pakaian wanita biasa tak jauh berbeda dari pada para pelayan yang ada di pub ini, hanya saja pakaiannya jauh lebih bersih. Guts mungkin tidak sering melayangkan pandangannya pada wanita, namun ia tahu jika wanita bernama Morgan ini memiliki tubuh yang tinggi dan rahang yang tegas. Ia berparas cantik meski tak ada sedikitpun riasan yang menempel di wajahnya, seolah seluruh warna kulitnya memang telah diwarnai dengan apik sejak ia lahir. Alisnya tebal dan tinggi seperti ia telah menggambarnya dengan bubuk arang. Bagian kulitnya yang terbuka tidak sedikitpun Guts melihat bekas luka. Jelas jika wanita ini bukanlah seorang pejuang atau semacamnya.

"Kebetulan aku juga akan pergi ke Falconia. Ibukota Midland saat ini." Ujar wanita itu lagi.

"Tunggu, yang kau katakan sebelumya? Apa itu World Tree?" Tanya Farnese.

"Apa kau kalian melihat sebuah cabang-cabang di langit?" Tanya Morgan. Semuanya terdiam kecuali Schierke.

"Ya aku melihatnya, saat aku tubuhku menyebrangi dunia astral." Jawab Schierke.

"Yeah, memang tidak semua orang bisa melihatnya. Aku tebak, kau seorang penyihir?" Tanya Morgan.

"Ya, ada dua orang penyihir di grup kami. Bisakah kau menceritakan kami lebih lanjut tentang World Tree ini?" Tanya Schierke. Morgan menoleh ke sekitar, suasanya di pub semakin ramai.

"Lebih baik kita tidak membicarakannya disini. Aku tahu tempat yang lebih sepi." Ujar Morgan.

Akhirnya mereka semua keluar dari pub mengikut wanita yang di panggil Morgan itu. Mereka berjalan sedikit menjauh dari pub dan pelabuhan. Menanjaki jalanan yang sedikit lebih tinggi. Sejauh mata memandang mereka nya melihat laut hitam, tidak ada cahaya bulan menerangi mereka malam ini. Hanya kerlap-kerlip lampu dari pelabuhan dan pub, serta gudang-gudang rum di bawah sana.

Mereka menuju sebuah rumah kecil dengan lambang gagak di atas pintu masuknya.

"Ini adalah tempatku menginap selama dua hari kebelakang." Kata Morgan memimpin mereka memasuki penginapan tua itu. Di dalamnya cukup terang dari beberapa lilin yang di taruh di dinding. Aroma kayu usang menguar kuat ketika mereka masuk kedalam sana, namun jauh lebih baik daripada di pub kotor sebelumnya. Hanya ada satu orang, yaitu wanita baya penjaga penginapan yang kini setengah tertidur di balik meja bar.

"Saranku kalian menginaplah disini, tidak ada pengunjung lain selain aku disini, mereka punya beberapa kamar kosong." Ujar Morgan. Schierke menatap Farnese sedikit memicingkan mata, mengisyaratkan agar mereka tetap tidak boleh menurunkan kewaspadaan mereka.

"Jadi apa itu World Tree?" Tanya Serpico. Akhirnya mereka semua duduk di meja kayu untuk menanyai Morgan lebih lanjut.

"Beberapa waktu lalu, apakah kalian merasakan angin aneh yang berhembus kencang. Angin itu membawa aura tidak menyenangkan keseluruh negeri. Bahkan anjing liar pun tahu jika angin itu membawa sesuatu yang buruk. Orang-orang bilang mereka merasa sesak saat itu terjadi." Jelas Morgan.

Ya mereka ingat, saat dalam perjalan menuju Elfhelm beberapa bulan lalu, sebuah gelombang angin bertiup melewati kapal mereka membawa perasaan buruk pada Schierke dan yang lainnya.

"Hari itu adalah hari dimana, pasukan pertahanan Midland yang dipimpin oleh Griffith, the Hawk of Light bertempur dengan, Ganishka, pemimpin kekaisaran Kushan." Pupil mata Guts melebar mendengar nama Griffith disebut.

"World Tree adalah hasil perwujudan astral reinkarnasi dari Ganishka setelah ia dikalahkan oleh Komandan Griffith. Bagi orang-orang yang dapat melihatnya, mereka percaya bahwa World Tree tumbuh dari dunia bawah hingga kayangan, menghubungkan ketiga dunia. Lalu Falconia dibangun dengan megah tak jauh dari kaki World Tree dibawah kepemimpinan Puteri Charlotte dan Komandan Griffith. Pengungsi dari seluruh dunia datang untuk berlindung di kota baru Falconia. Mereka percaya bahwa Griffith the Hawk adalah utusan Tuhan yang akan melindungi mereka."

DUG!

"Guts?!" Guts tiba-tiba saja berdiri dari kursinya.

"Aku akan istirahat duluan. Kalian saja lanjutkan." Tanpa menunggu lama, pria berbadan besar itu berjalan meninggalkan mereka mencari kamar kosong.

"Apa dia tak apa?" Tanya Morgan

"Dia tak apa." Jawab Schierke.

"Lalu apa hubungan World Tree ini dengan rusaknya Kompas-kompas?" Tanya Farnese.

"Sejak berdirinya World Tree, banyak hal aneh yang terjadi. Iblis yang berkeliaran dimana-mana, tanah menjadi kering, Kompas tidak menujukan arah yang benar. Seolah pusat bumi menjadi kacau karena adanya World Tree ini. Hal ini telah terjadi selama beberapa bulan dalam periode waktu yang berbeda-beda." Jawa Morgan.

"Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana cara kita berangkat ke Falconia?" Tanya Serpico.

"Kita bisa membaca peta bintang. Namun jika malam gelap seperti ini, hal itu tidak akan ada gunanya. Kita bisa tersesat." Ujar Roderick.

"Mungkin aku coba untuk mencari jalan dengan tubuh astralku, ada Morda dan Farnese yang bisa membantuku dalam hal ini." Ujar Schierke.

"Ya mungkin kita bisa coba itu untuk mencari jalan menuju Falconia." Sambung Farnese.

"Cabang World Tree berasal dari satu akar yang sama. Kita harus mengikuti dari mana arah cabangnya. Itulah caraku bisa sampai kesini." Ujar Morgan.

"Baiklah, lebih baik kita semua beristirahat malam ini."

Entah mengapa sejak kemunculan wanita itu di padang rumput ketika mereka selesai bertempur. Tidak ada bulan yang muncul sama sekali. Seluruh Midland di selimuti kabut dingin, membuat para penjaga kuda harus bersusah payah membuat kuda mereka tetap hangat. Para prajurit pun tidak tahan memakai baju zirah lama-lama karena angin yang begitu menusuk.

"Tuan Puteri, apa kau akan menemui Lord Griffith malam ini?" Tanya seorang pelayan. Sudah satu jam sejak Puteri Charlotte mengenakan gaun tidur terbaiknya, namun pewaris tahta Midland itu tidak kunjung berdiri dari tempat tidurnya. Ia diselimuti kegundahan meskipun parasnya telah di rias dengan cantik, tidak kalah dengan para dewi kayangan sendiri.

"Entahlah Leila. Tuanku Griffith seperti tidak dapat di ganggu akhir-akhir ini. Sejak ia pulang dari pertempuran, ia jarang menampakkan diri." Ujar Puteri Charlotte.

Memang betul, pada kenyataannya, setelah kehadiran wanita misterius di padang rumput tempo hari, Lord Griffith tidak pernah menunjukan dirinya seperti biasanya. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Semua orang tahu jika Lord Griffith membawa seorang wanita entah dari mana. Sebuah rumor menyebar seperti api, jika Lord Griffith sebelumnya pergi untuk membawa mantan wakilnya dari pasukan Hawk yang lama. Casca. Saat ini wanita itu di kurung di salah satu kamar di istana megah Falconia. Tidak ada yang tahu betul apa tujuan dari Lord Griffith, dan apa yang dilakukan oleh wanita itu disini. Mungkin hal itu juga yang membuat Puteri Charlotte merasa gundah. Ia pernah menanyakan kepada pelayan, apa yang dilakukan oleh wanita bernama Casca itu. Para pelayan bilang, ia hanya tertidur, kadang ia bangun dan makan, kemudian di waktu yang lain ia berteriak seperti orang gila, tak lama kemudian menangis, dan tertidur lagi.

Puteri Charlotte tahu wanita bernama Casca itu. Beberapa tahun kebelakang, ketika pasukan Hawk melayani ayahnya, ia sadar bahwa ada satu-satunya wanita di pasukan itu, dan dia adalah Casca, satu-satunya wakil dari Lord Griffith. Tentu saja Casca dan Lord Griffith mempunyai semacam kedekatan. Namun dengan kenyataan bawah Lord Griffith membawa wanita itu setelah bertahun-tahun lamanya Puteri Charlotte tidak bisa berhenti gelisah. Ketika semua anggota pasukan Hawk yang lama telah menghilang, Lord Griffith mencari wanita itu.

Meski begitu Lord Griffith rupanya tidak pernah mengujungi Casca di kamarnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya, entah apa, bahkan Dewa pun tidak mengetahuinya. Griffith akhir-akhir ini sering menghabiskan waktunya di depan perapian. Menatapnya berjam-jam sambil tertegun. Ia seperti mencari sebuah jawaban di sisa-sisa arang yang masih sedikit terbakar.

"Slan…"ucapnya.

Tetiba saja sebuah wajah muncul dari bara api. Meliuk-liuk diantara arang hitam, sebuah wajah wanita dengan mata yang tajam menyembul memenuhi panggilan Griffith.

"Kurasa sesuatu telah membebani pikiranmu saat ini Hawk of Light?" tanya wajah itu.

"Beritahu aku, siapa dia yang di sebut Queen of Phantom?" Titah Griffith.

Wajah itu tersenyum nakal.

"Dia adalah yang disebut Dewi Perang, Takdir, dan Kematian. Kau ingin mengetahuinya lebih banyak?" wajah itu menggodanya. Griffitih tak bergeming. Wajah diperapian itu meyeringai lebar.

"Queen of Phantom, adalah dia yang dianugerahi untuk menyaksikan pertempuran pertama dan terakhir umat manusia di muka bumi ini. Dia adalah sosok yang ditakuti oleh semua prajurit di medan perang bagi mereka yang memusuhinya." Jelas wajah itu.

"Ku tebak dia telah menampakkan dirinya dihadapanmu?" Tanya wajah itu.

"Dia datang padaku untuk menyapa." Jawab Griffith dingin.

"Sayang sekali…" Ujar sang wajah.

"Apakah itu sebuah masalah?" tanya Griffith.

"Dia adalah salah satu yang diciptakan berbarengan dengan penciptaan umat manusia. Keberadaan dan kemusnahannya telah dituliskan untuk mengiringi umat manusia. Apa yang telah terjadi, kemenangan dan kekalahan mu adalah kehendaknya. Tidak ada yang mengetahui nama aslinya, bahkan dewa sekalipun. Dia hanya memberitahu namanya aslinya pada orang yang ia kehendaki. Dia berjalan di atas permukan bumi membawa takdir yang sudah dititipkan padanya dan tidak ada yang bisa menghentikannya jika ia telah berkendak, dan untuk pertanyaanmu, kau sudah tahu jawabannya."

Griffith tak bergeming.

Langit Tortuga hari ini tidak cerah, tidak juga mendung. Sang langit hanya ada diatasnya. Ya, hanya ada, dan merefleksikan sinar matahari melewati lapisan-lapisan awan. Pulau itu nampak tertidur di siang hari. Tortuga memeliki ketertarikan sendiri ketika hari gelap. Sinar-sinar lampu menawan dan tarian-tarian panas dari para pelacur yang menghangatkan pelaut yang kelelahan. Hal-hal itulah yang dicari di Tortuga. Sebuah kenyamanan dan perlindungan sementara. Dari kejaran kapal pemerintah, maupun dari kejaran iblis-iblis neraka.

Ya, tidak heran selama dua hari kebelakang Guts sering melamun. Ia tidak bisa tertidur nyenyak meskipun sejak kedatangan mereka dua hari yang lalu ke Tortuga, sama sekali tidak ada gangguan dari iblis maupun sosok dunia bawah. Tanda di lehernya pun sama sekali tidak merasakan apapun. Memang betul Schierke telah membuat gambar mantra di sekeliling tanda kutukannya itu, namun bukan itu. Guts merasa mahkluk-mahkluk itu berhenti membuntuti Guts, perasaan tenang inilah yang menurutnya aneh. Seperti ketenangan sebelum badai melanda.

"Hei Guts, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Schierke. Ia duduk di samping Guts yang tengah meminum segelas rum.

"Sudah dua hari, dan tidak ada satu monster pun yang muncul. Aku sedikit khawatir." Kata Guts.

"Kau benar, aku juga tidak bisa tidur di malam hari, karena aku takut ada sesuatu yang aku lewatkan." Jawab Schierke mengiyakan. "Bagaimana tanda di lehermu?" Tanya Schierke.

"Biasa saja, ini tidak sakit sama sekali." Jawab Guts.

"Guts," panggil Schierke. Guts menoleh. "Aku tahu perjalanan menuju Falconia masih panjang. Tapi jika kita sampai kesana, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Schierke. Guts tertegun sebentar.

"Aku akan membunuh Griffith." Jawabnya pendek. Schierke merasakan sesuatu menyengat di hatinya. Konon katanya, jika elf merupakan makhluk yang murni, maka para Magi yang memiliki hubungan dekat dengan Elf memiliki kemurnian yang mirip dengan mereka. Jadi jika mereka teralu dekat dengan sesuatu yang jahat, bahkan jika itu hanya sebuah pemikiran, para Magi ini dapat merasakannya.

"Guts, kau tahu dulu Master-ku, Flora merupakan pendamping dari Lady Maiden dari Elfhelm. Kau melihatnya dan kita baru tahu jika Lady Maiden adalah kekasih dari Skull Knight. Suatu hari aku pernah diberitahu jika suatu saat aku akan mendampingi seorang ksatria hitam dari negeri yang jauh. Di hari Ketika kau datang ke hutan kami, Master-ku bilang bahwa cepat atau lambat aku akan pergi bersamamu." Jelas Schierke. Guts mendengarkan dengan seksama.

"Tapi Master-ku tidak bilang jika kau akan selalu di ikuti kematian. Kematian Master jujur saja membuatku sangat sedih dan membencimu untuk sesaat." Lanjut Schierke, terlihat masih ada sisa kesedihan di wajah penyihir muda itu.

"Maafkan aku." Balas Guts dengan air muka lembut.

"Tapi, semuanya masuk akal sekarang. Aku harus terus bersamamu Guts. Apapun keadaannya, jangan pernah menyingkirkanku dari sampingmu." Kata Schierke tiba-tiba.

"Aku tidak janji. Pertempuran yang ku kejar bukanlah tempat untukmu." Ucap Guts.

"Kau mungkin belum mengerti Guts, dan aku tidak akan memaksamu untuk mengerti sekarang. Tapi, ramalan Master-ku tentangmu, baju zirah yang sudah menantimu, semua itu tidak terjadi secara kebetulan. Takdir membawaku padamu Guts, mungkin aku memang ditakdirkan untuk mendampingi si Ksatria Hitam dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan. " Jawab Schierke.

Guts tersenyum sedih.

"Jika takdir memang membawaku, takdir membawaku seperti gelombang air laut. Seberapa kerasnya aku mencoba, aku tidak bisa melawan gelombang itu." Pria besar itu seketika diliputi kesedihan. Karena pada kenyataannya selama bertahun-tahun berbagai cara ia lakukan untuk melindungi dan mengembalikan ingatakan Casca, hanya berakhir dengan Casca diambil lagi oleh Griffith.

"Kau tahu, ketika aku bayi, aku ditemukan oleh sebuah pasukan di tanah berlumpur di sebuah medan peperangan. Aku bisa hidup hingga hari ini karena saat itu, istri dari ayah angkatku yang tidak waras mengambilku dari lumpur dan merawatku. Sejak kecil yang aku tahu adalah peperangan, dan ayahku selalu membawaku ke medan perang. Hingga suatu hari di menjualku pada pria menjijikan. Karena hal itu, aku membunuh ayah angkatku. Sejak saat itu aku hidup merantau dari satu pasukan ke pasukan yang lain. Sampai aku bertemu dengan Griffith. Pertemuan ku dengan Griffith, membawaku hingga kemari." Jelas Guts. Sedikit banyak Schierke sudah mengetahui latar belakang kehidupan Guts, karena ia sudah berkali-kali masuk ke alam bawah sadar Guts Ketika berusaha menariknya.

"Guts, sebenarnya apa masalahmu dengan Griffith? Kalian dulu adalah kesatuan yang paling di takuti di Midland." Tanya Schierke.

"Tentu saja karena dia mengorbankan seluruh pasukannya, termasuk aku dan casca yang di jadikan persembahan kepada para iblis untuk mendapatkan kerajaannya sendiri." Jawab Guts cepat.

"Aku tahu itu, tapi Master-ku bilang, kemarahan hanya emosi yang terlihat dari seseorang. Selalu ada sesuatu di balik itu. Sebenarnya apa yang kau rasakan pada Griffith? Apa kau kecewa padanya karena telah berubah menjadi orang yang jahat? Atau kau sedih karena itu?" Tanya Schierke.

Guts menatap Schierke dalam diam, ia tidak ingin mengakui apa yang dikatakan oleh Schierke. Tidak dapat dipungkiri, 3 tahun bersama pasukan Griffith adalah periode paling menyenangkan di dalam hidupnya. Perasaan apa yang ada di balik kemarahan dan setiap amukannya, Guts tidak pernah menyadarinya.

"Aku tidak tahu, dan dari pada kau mendengarkan cerita membosankan dari pria tua ini kenapa kau tidak bergabung dengan gadis-gadis disana. Mereka sepertinya sedang berada dalam obrolan yang seru." Guts menunjuk kearah jendela. Terlihat Morda, Farnese, dan perempuan beranama Morgan itu sedang mengobrol sambil sesekali menujuk ke arah pelabuhan.

"Kau menghindari pembicaraan!" Ujar Schierke.

"Yeah." Jawab Guts jujur.

Schierke berjalan menuju perbukitan bergabung dengan Morda, Farnese, dan juga Morgan. Meninggalkan Guts sedirian di dalam bar.

"Hey, hey, ada apa dengan tampang itu? Apa kau bertengkar dengan Guts?" Tanya Farnese melihat Schierke cemberut.

"Tidak, aku tidak bertengkar." Jawab Schierke cepat.

"Kau yakin?" Schierke memicingkan mata masih sebal.

"Dari pada itu, apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Schierke mengalihkan topik.

"Kami sedang main tebak-tebakan tentang yang mana istri dari pria itu?" Jawab Farnese.

Mereka menunjuk seorang pria bertopi yang sedang menggoda seorang wanita pub di dekat gudang rum. Mereka sedang menggoda satu sama lain dan tak jauh dari sana ada wanita lain yang sedang membawa gelas-gelas kosong mendekati mereka. Hanya saja terhalang drum-drum kosong tertutup kain.

"Kami sedang bertaruh yang mana istri dari si pria itu." Ujar Farnese.

"Tentu saja wanita yang membawa gelas itu!" Ujar Morda.

"Kita tidak tahu, kan?" Tanya Farnese yang merasa bahwa wanita satu lagi lah yang merupakan istrinya.

"Bisa saja keduanya kan? Maksudku laki-laki disini tidur dengan wanita. Mereka tidur bergiliran. Ini Tortuga!" Balas Morgan.

Schierke tidak mengerti dimana letak asyiknya tebak-tebakan seperti ini. Apakah mereka benar-benar putus asa untuk mencari hiburan di tengah perjalanan ini.

"Lihat si wanita pembawa gelas itu mendekat! Aku bertaruh kalau dia akan menampar pria itu." Ujar Farnese semangat.

Benar saja, si wanita pembawa gelas melewati tumpukan drum kosong itu dan begitu ia melihat mereka berdua, mereka bisa melihat jika ekspresi wanita itu kaget sekaligus kesal. Ia membanting gelas-gelas kosong itu dan menghampiri mereka berdua.

"Oh Lord! Lihat lelaki itu panik!" Morda berteriak kegirangan.

PLAKKK

Benar saja, wanita tadi menampar pria itu dengan keras, bahkan tidak hanya itu ia juga memukul dan menendang si pria. Mereka tertawa menyaksikan drama kecil di pelabuhan itu.

"Ngomong-ngomong Morgan, kau pergi ke Falconia juga kan? Kau ada keperluan disana, apa kau mau menemui seseorang?" Tanya Farnese. Wanita berambut hitam itu menoleh.

"Hmm, anggap saja ada sesuatu yang perlu kupastikan." Jawab Morgan.

"Begitu, bagaimana kau bisa sampai Tortuga?" Tanya Farnese lagi.

"Aku ikut kapal penyelundup." Jawab Morgan. "Aku menawarkan diri menjadi navigator, sejak Kompas para pelaut tidak bekerja." Kata Morgan.

"Bagaimana kau melakukan itu? Apa kau bisa membaca peta bintang?" Tanya Farnese.

"Aku bisa, namun lebih dari itu, aku bisa melihat cabang-cabang dari World Tree." Jawab Morgan lagi.

"Dengan mata telanjang?" Tanya Schierke.

"Yeah begitulah, sejak aku tahu bahwa Falconia, tepat berada di bawah World Tree, aku tinggal mengikuti cabang nya."

"Kalau begitu, kau ikutlah ke kapal kami. Itu akan lebih aman dari pada kau ikut kapal penyelendup. Aku yakin Roderick akan mengizinkannya." Ajak Farnese.

"Bolehkah?" Tanya Morgan.

"Tentu saja, kau juga bisa membantu kami untuk menunujukan jalan." Ujar Farnese.

"Tapi…" Kata Schierke tiba-tiba. Mereka semua menoleh. "Sesampainya kita sampai di Falconia, kau harus segera berpisah dengan kami, dan pastikan jika urusanmu sudah selesai menjauhlah dari Falconia. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, namun mungkin apa yang akan terjadi disana tidak berlangsung baik." Kata Schierke memperingatkan. Morgan menatap Schierke dengan seksama.

"Aku mengerti." Jawab Morgan.