DISCLAIMER

Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate

LIFE AT KARASUNO

©Longlive Author

Cerita-cerita ringan klub-klub voli di sekolah yang terinspirasi dari spin off Haikyuu Bu! Tidak menutup kemungkinan teman-teman pembaca akan menemukan beberapa istilah atau karakter dari series/ manga lainnya. Happy Reading 😊

Chapter 3 : Mimpi seorang senior

Tim Karasuno keluar dari Sendai Gymnasium sore itu setelah permainan terakhir. Mereka berjalan keluar dengan lemas setelah kalah dari Aoba Johsai dengan score 33-31. Semuanya tampak sedih, namun tidak ada yang lebih terpukul dari Hinata dan Kageyama. Keduanya terlihat kesal dan juga sedih. Tentu saja mereka mengerti apalagi para kelas tiga. Berkali-kali Sugawara menepuk-nepuk punggung Hinata. Lelaki bertampang lembut itu tahu, jika ia tidak menepuk punggung Hinata dengan cukup keras, Hinata mungkin saja tidak bisa menahan air matanya. Ia tahu, bagi Hinata kekalahan ini cukup menyakitkan mengingat untuk pertama kalinya ia bertanding di kejuaraan Perfektur. Sugawara menoleh pada Kageyama. Kageyama tampak kesal sekali. Ia pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri, pikir Suga.

"Ayo kita makan! Aku yang bayar." Ujar Pelatih Ukai tiba-tiba. Mereka semua berhenti.

"Eh? Makan?" Tanya Daichi bingung.

"Sudahlah, diam saja dan makan." Ujar Ukai.

Mereka sampai di sebuah kedai sederhana yang sebenarnya masih tutup. Namun Ukai-san mengetuk kedai itu dan bertanya apakah mereka bisa memesan. Bibi pemilik kedai itu tersenyum dan membuka pintunya. Mereka semua masuk kedalam kedai duduk bersama dalam keheningan. Mereka tidak banyak berbicara selama sang bibi menyiapkan makanan. Sesekali Ukai-san dan Takeda Sensei berbicara, dan kadang mereka bertanya sesuatu pada Shimizu. Semuanya sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Semuanya sedang menyesali hal-hal yang mereka tidak lakukan maupun hal-hal yang mereka lakukan di pertandingan tadi. Bahkan Tsukishima yang selalu mengaku kalau dia tidak begitu berambisi dalam voli pun terlihat diam dan tenggelam dalam pikirannya.

Semua makanan telah di hidangkan. Asahi menatap jajaran makanan lezat yang masih hangat itu. Pastinya Ukai-san membuat makan malam mereka ini begitu spesial karena kekalahan mereka. Asahi merasa bersalah karena sebagai karasuno no Ace ia tidak berusaha lebih keras lagi agar mereka bisa menang. Begitupun dengan Daichi, sang kapten yang bisanya paling bijak masih terdiam. Ia bukannya tidak mau menyemangati yang lainnya. Namun jujur saja ia masih bersusah payah mengumpulkan tenaga untuk bisa menyemangati dirinya sendiri. Daichi, Sugawara, Asahi, dan Shimizu. Saat ini memang masih semester pertama tahun ajaran baru, tapi tetap saja mereka sudah kelas tiga. Waktu mereka tinggal sedikit, semakin sering mereka kalah, semakin mereka membuang waktu. Hal itulah yang sebenarnya paling menyesakkan di pikiran Daichi.

"Berlari, melompat, dan yang lainnya, menyebabkan ototmu tegang dan membuat seratnya rusak. Setelah pertandingan, seperti Sekarang ini, otot kalian sudah pada batasnya, jadi kalian harus perbaiki dengan makan, dan jadilah lebih kuat lagi." Ukai-san duduk di sebelah Takeda Sensei.

"Maka dari itu, makanlah, makan yang benar!" Ujarnya.

Daichi menoleh pada Suga dan mengangguk. Ia telah salah, ia seharusnya tidak boleh bersedih. Daichi menatap teman-teman satu timnya. Mereka semua perlahan mengangkat mangkuk nasi mereka dan melahap lauk yang masih panas.

"Itadakimasu!" Katanya.

Tanaka dan Nishinoya adalah yang pertama meneteskan air mata. Duo pelawak Karasuno yang selalu ceria, menangis paling deras hari ini. Hinata dan Kageyama juga sudah mulai menangis dan berusaha menutup wajah mereka dengan mangkok nasi. Begitupun dengan Suga dan Asahi. Daichi mengerti apa yang mereka rasakan. Namun setelah mendengar apa kata pelatih, Daichi sadar, bahwa mereka saat ini sedang kelelahan setelah mereka bertanding. Kau dengar itu? Mereka baru saja bertanding. Melawan Seijoh! Dua tahun yang lalu ketika ia masih anak baru, mereka bahkan tidak bisa mendekati untuk bertanding dengan Seijoh. Tahun ini adalah tahun yang baru bagi mereka, dan mereka sudah bisa bertanding sejauh ini. Bukan tanpa alasan mereka bertanding hingga skor 33-31. Itu adalah tanda bahwa mereka telah berusaha dengan maksimal hingga Seijoh bersusah payah menghadapi mereka.

Air mata sudah terlanjur jatuh dari mata Daichi sekalipun. Namun hatinya terasa lebih ringan sekarang. Ia tahu kalau Suga, Asahi, dan Shimizu juga merasakan hal yang sama dengannya. Hari ini, mereka tahu jika semua yang ada di dalam tim sudah berusaha dengan keras dan hal ini patut dirayakan. Junior-junior mereka yang berharga, membawa angin baru pada Karasuno dan mereka pun harus berjuang seakan jalan mereka masih panjang. Tidak ada jalan kembali, tidak boleh berhenti berlari. Kerena mereka akan tertinggal jika mereka membuang waktu dengan bersedih atau berputus asa. Daichi yakin kemenangan-kemenangan yang lain menunggu mereka, jika tidak pada angkatannya, ia yakin Karasuno akan menuruskan warisan juang mereka. Dari tahun ke tahun sampai mereka kembali terbang dan dihormati sebagai salah satu tim terbaik.

-Fin-