DISCLAIMER

Jujutsu Kaisen is belong to Gege Akutami

MISSING PIECE

©Longlive Author

One Shot Cannon

September, 2009

Siswi kelas satu SMA Jujutsu itu berdiri di jalanan Shinjuku, masih menggunakan seragam sekolahnya. Ia menarik sesuatu dari dalam saku roknya. Sebuah bungkus rokok yang sudah lecek, ia membukanya dan masih tersisa satu batang rokok lagi disana. Ia mengambil rokok itu dan membuang bungkusnya ke ke tong sampah. Jemari lentiknya meletakan rokok di antara bibirnya yang mungil. Beberapa orang karyawan yang juga sedang merokok disana menatap gadis Bernama Ieiri Shoko itu dengan padangan heran. Karena mereka melihat seorang perempuan dengan seragam SMA hendak merokok di ruang publik seperti itu.

"Butuh korek?" Tiba-tiba seorang lelaki tinggi dengan rambut diikat menghampiri Shoko. Sudah beberapa lama Shoko tidak melihatnya dan ia juga tidak menyangka akan bertemu dengannya di Shinjuku.

"Ini dia, si kriminal." Sapa Shoko dengan nada biasa seolah tidak ada insiden yang terjadi.

"Ada yang kau butukan dariku?" Tanya Shoko. Ia mungkin cuek, namun ia adalah perempuan yang pintar. Geto Suguru adalah orang yang hampir sama kuatnya dengan Gojo Satoru. Ia tidak akan menampakan diri jika dia memang tidak mau ditemukan. Jika ia menampilkan diri dihadapan Shoko, itu tandanya ia memang mau bertemu dengan Shoko.

"Coba ku tanya sesuatu, siapa tahu aku beruntung." Shoko menyodorkan rokok di mulutnya dan membiarkan Geto menyalakan korek untuknya.

"Apa semua tuduhan itu benar?" Tanya Shoko. Geto sudah tahu yang Shoko bicarakan adalah semua tuduhan tentang ia membunuh seluruh penduduk desa termasuk orang tuanya, ketika ia menjalankan salah satu misi sendirian.

"Sayangnya, semua itu benar." Jawab Geto santai. Shoko tidak bergeming dan menghisap rokoknya.

"Sekali lagi, untuk memastikan. Kenapa?" tanyanya.

"Aku akan menciptakan dunia dimana hanya ada Shaman." Jawab Geto. Shoko tertawa.

"Itu lucu!" Shoko mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

"Aku bukan anak kecil! Aku tidak perlu semua orang mengerti." Kata Geto.

"Anggap saja tidak ada yang mengerti kau, hal itu tetap saja terdengar kekanak-kanakan bagiku." Jelas Shoko.

Perempuan itu mengangkat teleponnya dan berbicara dengan seseorang lewat telepon.

"Ah, Gojo! Aku bertemu dengan Geto di Shinjuku…"

"Tentu saja tidak, aku tidak mau mati…"

Shoko telah menelepon Gojo dan mengatakan padanya apa yang baru saja Geto katakan. Dalam hitungan menit Gojo telah sampai di Shinjuku. Perempuan itu berpisah dari Geto. Ia tidak mau melihat kedua teman baik nya bertengkar di hadapannya. Meskipun tidak mungkin, tapi hanya ada satu hal yang bisa dipastikan jika Gojo dan Geto bertarung di tengah keramaian jalanan Shinjuku. Mereka akan meluluh lantakan seluruh distrik.

Tapi bukan hanya itu, sebeneranya ia tidak mau percaya bahwa persahabatan Gojo dan Geto detik ini juga telah hancur. Selama ini, Shoko selalu berada di belakang mereka berdua. Dua murid Jujutsu yang paling brilian kini telah mengambil jalan yang berbeda.

Shoko berdiri di atap Gedung tak jauh dari trotoar tempat Gojo dan Geto bertemu. Ia tentu saja tidak mendengar apapun. Namun di tengah keramaian itu, ia bisa melihat Gojo dan Geto berhadapan satu sama lain sambil berbicara. Ia bisa melihat Gojo murka, sejak pertama kali bertemu dengan Gojo, ia tidak pernah melihatnya murka seperti itu. Seharusnya dengan satu jentikan jari, Gojo bisa menangkap dan mengeksekusi Geto saat itu juga.

Namun Shoko melihat Geto memalingkan badannya, dan berjalan menghilang ditengah keramaian jalan Shinjuku. Gojo tidak bergeming, tidak berbicara apapun, tidak berekspresi apapun. Sudah ia duga, Gojo tidak akan bisa membunuh Geto. Yaga-sensei seharusnya tahu kalau sekuat apapun Gojo, ia tidak akan pernah bisa mengeksekusi Geto.

Sejak saat itu kehidupan Shoko di SMA Jujutsu berubah total. Ia kehilangan salah satu rekan se-tim nya. Gojo lebih sering menjalankan misi sendiri, dan ia sudah memantapkan diri untuk tidak menerima misi lapangan lagi, bahkan setelah mejadi alumni. Dia mengabdikan dirinya untuk bekerjadi di Rumah Sakit sekolah Jujutsu.

Selama berbulan-bulan, hingga bertahun tahun mereka mencari jejak Geto Suguru si Pembelot namun hasilnya nihil. Ia berpindah tempat dari waktu ke waktu dan hanya menyisakan jejak-jejak darah dan pembunuhan setiap kali ia meninggalkan suatu tempat ke tempat lainnya. Shoko, perempuan itu masih tidak mengerti apa yang ada dipikiran Geto, dan kenapa ia melakukan semua pembunuhan ini. Mungkin saja ada sesuatu yang Shoko lewatkan. Hal buruk yang mungkin saja dilihat Geto dan ia tidak tahu.

November, 2016

Udara Tokyo semakin lama semakin dingin mejelang musim dingin. Shoko, Yaga-sensei, dan yang lainnya berada di sebuah bar setelah mereka rapat dengan para pimpinan. Hal itu sudah menjadi tradisi di antara para guru generasi mereka, mengingat mereka tidak menyukai para pimpinan dan rapat selalu berlangsung alot. Sebenarnya Nanami, menyarankan agar mereka bersantai di restoran saja. Bukanya Nanami inisiatif untuk menyarankan restoran. Namun begitu rapat selesai mereka bahkan tidak bisa berpikir akan kemana mereka pergi setelah itu.

Tapi seperti biasa Shoko selalu menolak dan mengasingkan diri ke bar setiap mereka mengajak mereka makan. Maka dari itu meski Nanami sudah menyarankan restoran, kepala sekolah, Yaga-sensei berniat untuk bergabung dengan Shoko ke bar. Jadilah mereka pergi ke bar, dan hal itu jujur saja membuat Nanami kesal.

Yaga-sensei menantang Shoko dalam pertandingan minum bir, karena kesal dengan sikap Shoko yang selalu menyendiri.

"Jika aku menang, maka kau harus selalu bergabung jika kita mengajakmu makan malam bersama." Ujar Yaga-sensei.

"Baiklah." Jawab Shoko singkat sambil merokok.

Nitta, Nanami, dan Ijichi menatap ngeri dari meja tempat mereka duduk. Sudah menjadi rahasia umum diantara guru-guru muda kalau alkohol tidak berpengaruh apapun pada Ieiri Shoko. Menatang Shoko dalam lomba minum adalah kekalahan telak.

Akhirnya mantan guru dan murid itu minum bir bersama sambil sesekali mengobrol dan menyauti obrolon Nanami dan kawan-kawan. Seperti yang diharapkan Yaga-sensei tumbang di gelas ke empat. Sedangkan Shoko telah menghabiskan sembilan gelas.

"Dimana Gojo-sensei? Dia melewatkan bagian paling menariknya!" Ujar Nitta. Melihat Yaga-sesei meracau tidak jelas.

"Dia bilang dia akan menyusul." Jawab Nanami.

"Yo!" Belum sampai semenit kemudian Gojo berjalan masuk kedalam bar dengan kacamata hitamnya.

"Kau melewatkan bagian serunya Gojo-sensei!" Ujar Nitta.

"Wah wah, Yaga-sesei benar-benar habis." Gojo tertawa tengil.

"Aku mau cari angin!" Ujar Shoko setelah ia menghabiskan gelas kesepuluhnya.

Shoko berjalan keluar bar dan berdiri tak jauh dari pintu masuk. Langit Tokyo malam itu tidak begitu bagus. Selain itu udaranya dingin sekali. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku jas nya dan menyimpan sebatang rokok di bibirnya.

"Butuh korek?" Ujar sebuah suara. Shoko menoleh dan mendapati Gojo berada disampingnya sudah menyalakan sebuah korek.

"Kau membawa korek?" Tanya Shoko mengingat Gojo bukan seorang perokok. Ia menghisap rokoknya.

"Aku selalu membawa korek, karena dulu kau selalu lupa membawa korek. Hal itu menjadi kebiasaan sampai sekarang." Jawab Gojo.

"Hn.." Balas Shoko singkat.

"Kau tidak perlu sejahat itu pada Yaga-sensei. Kau tahu dia tidak tahan minum." Ujar Gojo.

"Yeah." Shoko bergumam tanpa repot-repot menoleh.

"Kau dingin sekali. Ayolah aku sudah lama tidak melihatmu, padahal kita bekerja di sekolah yang sama." Keluh Gojo.

"Aku selalu ada di ruang Kesehatan jika kau mau menemui ku. Kau tahu tempatnya." Jawab Shoko malas.

Ada jeda yang cukup lama ditengah-tengah pembicaraan mereka.

"Kau tahu, kau berubah Shoko. Meskipun Sebagian besar sikap dan kebiasaanmu tidak, tapi kau sudah berubah sekarang." Ujar Gojo. Ia tentu saja tahu, kalau Shoko banyak menhabiskan waktu di bar, merokok lebih dari dua bungkus sehari, matanya yang menghitam karena insomnia berkepanjangan.

"Kau harus lebih menjaga kesehatanmu sendiri Shoko." Kata Gojo pelan.

Shoko tak bergeming.

"Kau tidak perlu mengucapkan itu. Sudah terlambat jika kau mengatakannya sekarang." Jawab Shoko melempar rokoknya. Kemudian dia berbalik hendak masuk kedalam, namun setelah beberapa langkah ia berhenti.

"Bukan cuma aku yang berubah. Kau juga," katanya, "…dan bukan cuma kau yang ditinggalkan Geto." Shoko meninggalkan Gojo diluar dalam keheningan.

"Kau benar," Gojo bergumam sendiri. "Kau dengar itu, Suguru? Bukan cuma aku yang kau tinggalkan."

-fin-