Disclaimer: I don't own Gakuen Alice

Chapter 1: Prolog (Takkan terlupakan)

Natsume's POV

Satu hari… tanpa senyum yang seharusnya mengembang pada wajahnya itu, membuatku cemas. Mengapa? Mengapa aku peduli pada hal seperti itu? Pada gadis kecil yang lemot seperti dia? Dia kan tak berarti apa-apa bagiku.

Tapi… apa benar dia tak berarti apa apa?

Argh… ayolah Natsume… kenapa kau bingung? Yang harus kau lakukan adalah membuatnya tersenyum. Hanya itu saja…

Aku berjalan menghampiri gadis sebaya denganku (umur mereka saat itu 6 tahun) yang sedang duduk memandang langit biru tak berawan di bawah sebatang pohon sakura, tempat favoritku.

"Hei, Mi. Kenapa kau memasang tampang seperti itu?" tanyaku. Gadis kecil itu hanya memandangku dengan matanya yang seperti lelehan coklat, lalu dia menggelengkan kepalanya sambil melirik sesuatu di sampingnya.

"Bohong"

Aku tahu kalau dia berbohong. Setiap kali dia berbohong, dia pasti melirik ke samping seakan-akan dia tidak berani menatap lawan bicaranya.

"Katakan padaku… kenapa kau seperti ini?"

Dia hanya terdiam dan tiba-tiba saja dia memelukku dengan erat. Aku kaget melihatnya yang tiba-tiba datang menghampiriku dan langsung memelukku seperti itu.. maksudku… terlalu tiba tiba. Yah.. dia bisa saja membuat jantungku langsung melompat keluar,kan. Eng…karena… kau tahukan maksudku.

Tiba-tiba saja, aku merasakan adanya sesuatu yang basah dan menetes pada bajuku. Kemudian, aku sadar bahwa yang menetes pada bajuku itu adalah air matanya.

"Hei anak cengeng… Kenapa kau menangis?" tanyaku lagi.

Aku benar benar tidak tahan melihat dirinya menangis. Itu membuatku merasa… tidak berguna. Yah… hebat, kan. Aku yang SEMPURNA ini merasa tidak berguna jika berhadapan dengan gadis kecil seperti dia, yang cengeng, tolol, lemot dan harus kuakui sangat menarik perhatianku.

"A... aku.." isaknya.

"…"

"Aku…"

"…"

"Nat, aku…"

Guratan-guratan kecil mulai menghiasi wajahku. Aku bukanlah orang yang sesabar itu dalam menghadapi gadis kecil seperti dia (tidak sadar bahwa dia sebaya dengan gadis itu). Dan… sampai kapan sih, kesabaranku harus diuji?

"Nat, aku…"

"…"

"Aku akan pergi," huh? Pergi? Tunggu…PERGI?

"A... apa maksudmu?" tanyaku. Dia menatapku dengan mata coklatnya yang berair itu dan wajahnya yang memerah karena habis menguras air mata (dia memang anak yang cengeng).

"Aku…" ucapnya sambil terisak isak," A.. aku akan pindah dari sini…"

Aku terdiam.

Pindah?

Dia akan pindah?

Dari desa ini?

Kenapa? kenapa? kenapa dia bisa pindah dari sini?

KENAPA HAL INI BISA TERJADI PADAKU? KENAPA AKU HARUS KEHILANGAN ORANG YANG kusayangi?

End of Chapter 1 (Prolog)