Akhirnya... aku dapat meng-update chapter ini...

Berhasil dalam mencuri waktu untuk mengetik chapter ini di antara kesibukan-kesibukan dan tugas menumpuk. Tak terasa aku tidak meng-update begitu lama... mungkin karena aku sedang fokus ke ceritaku yang lain, membuat translate cerita ini yang ketinggalan saaangaat jauh dengan versi Indonesianya(dan sangat butuh perbaikan sana sini).

Kita lanjutkan saja ke ceritanya,'Tlah Kutemukan' (judul chapternya baru kepikiran sekarang).

Catatan: Mohon dibaca author note pada akhir chapter… onegaishimasu x

Disclaimer : I don't own Gakuen Alice

Tanpa Kusadari

oleh : aimiera...

summary :

Mi, adalah sahabat Natsume yang sangat ia sayangi. Namun, Mi pindah dari kehidupannya dan membuatnya menjadi orang yang dingin. 4 tahun berlalu, sudah dua tahun Natsume tinggal di Alice Academy dikarenakan ia memiliki fire alice. Di sana datanglah seorang murid baru bernama Mikan yang sikapnya tak kalah dingin dengan Natsume. Awalnya ia ragu akan identitas Mikan. Dan pada saat Minami datang ke kehidupan mereka, ia menjadi sangat bingung. Apalagi setelah kedatangan Kazu yang membuatnya ingin mengungkapkan identitas Mikan dan Minami yang ternyata begitu misterius.

chapter sebelumnya

"Dengar... kalau kau seperti itu, kau tidak seperti polkadot yang kukenal," ucapnya. Mikan terdiam dan menatap Natsume penuh arti.

Sial... kenapa dia mempunyai tatapan seperti itu? pikir Natsume. Ia berusaha menghalau pemikiran bahwa Mikan yang berada di depan wajahnya itu terlihat ehm... sangat manis. Dia menghela napas dan kemudian berkata,

"Jadi, kenapa kau menangis?" tanya Natsume.

"a... aku..."

"Ayo katakan," ucap Natsume tidak sabar.

Mikan terdiam dan tiba tiba saja, ia menghamburkan dirinya ke dada Natsume.

Chapter 13 Tlah Kutemukan

Natsume's POV

"Huaa..." tangis gadis es itu memenuhi gendang telingaku. Aku benar-benar tidak menyangka akan sikapnya yang seperti ini. Yah... bisa dibilang sangat kekanak-kanakan. Aku heran, kenapa jantungku berdegub kencang saat dia memelukku. Kenapa?

"Hiks...hiks. Nat..." isaknya

"Hn.."

"Nat..."

"..."

"Nat... jangan acuhkan aku," rengeknya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.

"Iya... iya..."ucapku tidak sabar.

Tunggu... ngomong-ngomong, tadi polka tidak memanggilku Hyuuga. Aku melirik ke arahnya dan mendapati polka sedang menatapku. Dan... ternyata aku menambah tangisannya. Aduh... aku tidak menyangka kalau Polka benar-benar gadis yang cengeng.

"Kenapa, sih?" tanyaku.

Dia menatapku dengan wajah yang berurai air mata dan menjawab dengan terisak-isak," Kau... k.. kau membentakku."

Aku terpaku. Aku benar-benar tidak menyangka bila dia termasuk orang yang tidak tahan apabila ia dibentak. Kalau kupikir-pikir, selama ini dia yang selalu membentak orang duluan. Tapi... aneh. Entah kenapa, ini semua terasa familiar bagiku.

Flashback

Aku sedang tidur dimana pohon tersebut dikelilingi oleh semak-semak.

"Nat..." panggil suara yang familiar. Aku langsung terbangun sambil memasang wajah kesal. Aku menoleh dan mendapati Mi sedang berlari ke arahku. Sejujurnya, aku adalah tipe orang yang mudah marah apabila aku baru bangun tidur.

Mi tiba di depanku dan langsung memeluk erat diriku sambil menangis. Aku terdiam karena sekarang moodku sedang jelek.

"hiks...hiks...hiks... Nat," isaknya. Aku terdiam.

"Nat..." panggilnya lagi dan aku tetap terdiam.

"Nat... jangan hiraukan aku," rengeknya sambil mengguncang-guncangkan badanku. Aku agak sedikit kesal. Aku tidak suka diganggu kalau aku baru bangun tidur seperti ini.

"Iya...iya... ada apa sih," ucapku dengan nada sedikit membentak.

Tiba-tiba saja Mi menangis dengan lebih kencang dari pada sebelumnya. Aku hanya bisa diam dalam panik dan juga terheran-heran akan tangisannya yang tiba-tiba mengencang. Entah kenapa, melihatnya seperti ini membuatku merasa sangat bersalah. Dan tiba-tiba saja Mi terisak-isak sambil mengucapkan kata-kata yang tidak ingin kudengar dari mulutnya.

"A...aku be.. kamu, n..Nat,"

Aku terdiam. Sekujur tubuhku terasa membeku mendengar dia mengucapkan kata benci padaku. Kata-kata tersebut terngiang-ngiang terus menerus dalam kepalaku ini. Lalu, semuanya kosong... dan entah kenapa semuanya menjadi berhenti.

Tiba-tiba Mi berdiri dan membalikkan badannya. Gerakannya itu pun langsung tertangkap oleh mataku. Karenanya, aku seakan-akan kembali lagi ke dunia nyata..jauh meninggalkan pikiran kosongku itu. Saat ia hendak berlari, tanganku ini, secara tidak sadar, langsung bergerak menangkap tubuhnya yang kecil. Aku menariknya sampai ia terjatuh ke dalam pelukanku. Mi berusaha melepaskan dirinya dari cengkramanku. Tapi sayangnya, dalam urusan tenaga, ia jauh lebih lemah daripadaku.

"Kenapa kau bilang begitu padaku," bisikku di dekat telinganya dengan sedih. Mi terdiam dan kini ia tidak meronta-ronta lagi untuk terlepas dariku. Secara perlahan ia (akhirnya) menoleh dan menatap iris mataku yang berwarna merah.

"K..kau marah pa..daku, n..Nat. d..Dan kau... membentakku."

Aku terdiam dan perasaan lega mulai menyelimutiku. Akhirnya, aku pun membalas tatapannya dengan tatapan yang lembut (dan tak lupa senyum dengan senyuman, yang orang-orang bilang, sangat menawan).

"Maaf," bisikku,"Aku tak bermaksud untuk membentakmu."

Aku ucapkan satu kata ajaib tersebut berulang-ulang, sampai isakannya tersebut mereda dan dirinya yang kemudian menjadi sangat tenang dalam genggamanku ini. Dan mulai dari saat ini, aku berjanji... ya aku berjanji untuk tidak membentak dirinya yang berhati rapuh tersebut.

End of Flashback

Aku terdiam mengingat kenangan yang tiba-tiba lewat di dalam pikiranku. Aku benar-benar tidak menyangka akan kemiripan keduanya..

Polka dan Mi

Apakah mereka adalah orang yang sama?

Aku ragu... sangat ragu. Kalau memang Polka itu sebenarnya adalah Mi, kenapa sikapnya seperti itu? Kenapa ia bersikap dingin padaku? Salahku kah sehingga ia bersikap seperti itu?

Kalau dia memang Mi... kenapa aku tidak mengenalnya saat ia memperkenalkan dirinya di depan kelas?

Aku memandang wajah Polka. Entah mengapa, saat ini wajahnya sangat memperlihatkan kemiripan antara Polka dan Mi.

"Maaf..." ucapku tiba-tiba. Polka menatapku dengan heran...dan kemudia, dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan padaku setelah kita bertemu di akademi ini... senyuman itu...senyuman yang cerah yang dapat membuat masalahmu seakan-akan hilang dalam sekejap. Senyum yang berbeda dengan senyuman yang terpasang pada wajah gadis kecil itu (Minami). Ya... walau terlihat mirip, entah kenapa senyum yang terpasang pada wajah gadis kecil itu seperti senyum palsu yang terpampang pada wajah aktris hebat yang sedang berakting.

Satu hal lagi mengenai senyum yang kini terpasang pada wajah Polka... senyuman itu, membuatku yakin bahwa ia adalah Mi.

End of Natsume's POV

Mikan's POV

Aku tersenyum. Tersenyum padanya. Senyum yang dulu pernah kuberikan padanya... lalu, dia membalasku dengan sebuah senyum. Senyum yang sangat kurindukan. Entah mengapa ia terdiam, matanya yang merah bagaikan rubi itu terlihat sedang melihat sesuatu. Dan wajahnya tersebut, menampakkan sebuah keterkejutan, entah apa itu. Lalu, tangannya menyentuh leherku.

Tunggu... bukan leherku yang ia sentuh... tapi rantai kalung yang terpasang pada leherku selama empat tahun ini. Dia tiba-tiba meraih dan mencoba untuk menarik keluar rantai tersebut dari dalam bajuku.

Aku terdiam... mungkin karena pikiranku seperti ada yang menekan tombol freeze. Lalu, aku tersadar... tersadar atas apa yang seharusnya kulakukan. Aku sudah memutuskan hal itu...dan aku harus tetap menjauhinya dari hal tersebut...

Ia tidak boleh tahu... ia tidak boleh tahu...

Sebelum aku bertindak, dia sudah terlebih dahulu mengeluarkan kalung tersebut dari dalam bajuku. Aku segera menampar tangannya dan kemudian memasukkan kalung tersebut dalam bajuku sebelum aku berlari kencang... menghilang dari hadapannya.

Aku berhenti di tengah-tengah pepohonan yang lebat, sambil menyenderkan tubuhku pada salah satu batang pohon yang ada di sekitarku. Tubuhku bergetar dengan hebat... aku menangis.

Aku sudah tidak tahan lagi... aku harus bagaimana lagi?

Saat ini tidak ada Kaa-san sehingga aku tidak bisa membuatnya lupa. Aku tidak mau dia tahu.. aku tidak mau ia tahu...

Aku tidak mau ia tahu bahwa aku adalah teman masa kecilnya. Aku tidak mau ia tahu bahwa aku adalah Mi... orang yang telah ia janjikan untuk selalu ia lindungi selamanya.

End of Mikan's POV

Di lain tempat...

"Akhirnya dia melihat itu," ucap Minami.

"Ya... ia memang berhak untuk mengetahui hal itu," ucap Hotaru dengan nada sedikit tertarik.

"Kau benar, Hotaru-sama," balas Minami menyetujui ucapan Hotaru.

"Hanya saja, Mikan-sama terlalu takut kalau hal itu terjadi," timpal Kazu.

"Ya...hime terlalu takut untuk kehilangan lagi," bisik Persona dengan suaranya yang berat.

"Lebih tepatnya, terlalu takut untuk kehilangan si Hyuuga itu," timpal sang inventor sambil memasang seringai (agak) lebar di wajahnya.

End of Chapter 13

Benar-benar meringis saat aku membaca tulisanku yang entah kenapa gaya penulisannya agak asing dalam mataku. Mungkin karena itu tulisan yang sudah ada jauh sebelum mengetik beberapa chapter sebelumnya(entah kapan). Ya... saat mengetiknya tiba-tiba saja sangat tertarik melakukan perubahan sana sini. Apa yang kuketik merupakan apa yang sudah pernah kutulis dengan sedikit tambalan.

Karena penceritaan Gakuen Alicenya Tachibana-sensei sudah sangat jauh berkembang, aku jadi bingung saat aku sedang mengetik cerita ini...

Oh iya, kemungkinan saya ingin mengedit chapter-chapter awal yang setelah saya baca ulang ternyata membuat saya menjadi sedikit pusing. Karena itu, sebelum saya tutup 'author note'nya, saya ingin bertanya beberapa hal...

yang mana yang benar penulisannya, apakah dimana atau di mana.

lalu, berwarna atau bewarna.

apa perbedaan antara liontin dan kalung... tiba-tiba saja saya bingung saat menulisnya.

apakah penulisan menyia-nyiakan merupakan penulisan yang benar atau tidak... jika tidak, apa penulisan yang lebih benar.

apakah kalian merasa nyaman membaca kalimat 'agak' baku dalam kalimat percakapan biasa. Ataukah saya membiarkannya seperti yang sudah ditulis? Karena bagi saya, percakapan yang digunakan 'agak' baku dari yang seharusnya (jujur, pada saat menulis/mengetik, agak susah kalau tidak menggunakan kalimat yang 'agak' baku)..

Terima kasih kepada para pembaca yang tetap setia membaca fanfic saja.. juga mau membaca celotehan saya yang agak berputar-putar, dan yang mau bersedia menjawab pertanyaan saya, karena bagi saya pelajaran Bahasa Indonesia itu merupakan pelajaran yang sulit...(kemungkinan saya mendapatkan nilai sempurna itu kurang dari 25%)

Doumo Arigatou Gozaimasu

Aimiera