Story : Demi kamu... (c) Karupin69
Disclaimer : Naruto (c) Masashi kishimoto

Halo! Lama tak jumpa, ini FanFic kedua Karupin69 nih! Kali ini ceritanya tentang Naruto yang berjuang untuk mempertahankan cintanya. Selamat membaca dan semoga menghibur!

Chapter I

"Hmm…" Hiashi Hyuga menggumam sambil manggut-manggut. Tampaknya ia sedang berpikir keras. "Oom, udah belom mikirnya? Udah ampir setengah jam neh!" Naruto Uzumaki udah ngga sabar. "Iya ayah… Jadi gimana? Setuju ngga?" Hinata juga ikut-ikutan ngga sabar. Muka Naruto dan Hinata udah pasang tampang memelas.

"Hmm… Kalo' saya', sih… Terserah Tuwan Namikazze sama' Nyionya Uzumaki sajjha…" Gitu kek dari tadi! En kayaknya gak usah pake logat Jowo deh!

"Oooh, jadi, kalo mami papi nya saya setuju, jadi Oom juga bakal nyetujuin, gitu?" Kata Naruto mulai semangat.

"Hmm… Iya deh. Jhadi, gimana', Tuwan Namikazze, Nyionya Uzhumaki'?" Hiashi berpaling pada mami papinya Naruto itu.

"Wah, kalu kami sih, setuju banget! Soalnya, kita penggemar berat ramen! Iya kan, darling?" kata Minato yang (selalu) riang gembira itu.

"Iya," Kushina sekarang menyerahkan secarik kertas yang isinya nama-nama makanan. Lagi apa, sih? Ngajarin Oom Hiashi menghafal nama makanan ya? "ini, saya sudah buat daftar makanan untuk cateringnya…"

Ooh… Gini lho jeng… Mereka lagi nentuin apa-apanya untuk persiapan pernikahan Hinata dan Naruto. Apa?! Hinata ma Naruto mo nikah? Iya, bener… Mereka memutuskan untuk segera nikah setelah 3 tahun pacaran…

"Hmm, kalo boleh, ditambah ghudeg khas Jhoggja, bolehh? Saya ndak bisa tahan kalau ndak makan ghudeg… Biar ta' masakin sajha, saya inni pembuat ghudegg propesionnal khok." Pinta Hiashi.

"Boleh banget! Kita juga penggemar berat gudek jokja! Ya kan darling?"

"Kitta? Lo aza kale! Gue engga!" Kushina melototin Minato. Minato emang paling takut kalo udah dipelototin Kushina, abis, biasanya setelah dipelototin, bisa-bisa ada pemandangan piring terbang.

"I-Iya, darling… Hehe, gue aja, elo engga, hehe, jangan melototin gue dong, ka- kan malu diliatin sama Tuan Hiashi…" Minato ngomong gitu sambil mndur-mundur. "Oh iya! I have an idea!" Akhirnya, Minato memutuskan untuk mengeluarkan jurus andalannya: Senyuman Maut ala Minato. Kushina membeku tak bisa berkutik. Terlalu takjub sama pesona yang ditebarkan suaminya itu.

"… (Can't say any words)"

"Duh, mami, papi! Jangan candaan terus dong! Kan malu! Ntar ngga selesei selesei lagi!" Protes Naruto sambil cemberut.

"Ndak papa… Saiia jugha laghi nyantei khok… Ya kan, Nejhi?"

Yup. Disitu juga ada Neji. Cuman dia terlalu ja'im, jadi jarang buka mulut. Harusnya sih, si Neji nyontek mottonya Naruto tuh. 'Lebih baik narsis daripada ja'im' hehehe…

"…" Neji diem aja.

"Teu diwaro… Teu ngeunah hate… Ceulina bo—" belum selesei Minato nyanyi, pelototan Kushina sudah siap menikamnya.

"I-iya darling… Ampun ampun…" Minato sampai sujud sujud sama Kushina biar ngga nerbangin piring.

"Kalo saya boleh pendapat…" Akhirnya, sang Neji buka mulut. "…sebenernya saya ngga setuju kalo Naruto sama Hinata menikah."

Siing. Semua diem. Minato yang tadinya sujud sujud sekarang udah duduk manis lagi. Sudah siap pasang kuping untung denger alasan Neji.

"Ke-kenapa?" Kata Hinata dan Naruto berbarengan.

Tiba-tiba muncul bapak-bapak dengan rambut botak. Bawa kertas sama stempel. Terus… "Taanyaknapa tanyaknapa!" Jleb! Abis ngecap ntu kertas, pergi lagi deh. Kok kaya iklan apa tuh, yang di tv?

Hehehe… Nggak ding!

"Ehem!" Tanpa merubah air muka—tetep ja'im—"Soalnya, Naruto itu… BEGO!" Jlebb. Tepat sasaran baget. Di jantung si Naruto tuh mendaratnya.

"Ta-tapi gue ngga bego-bego amat kok!"

"Huh. Duli! Sekali bego tetep belegug!" Lalu Neji mengambil bubuk hitam dari dalam sakunya, lalu komat-kamit baca mantra. Gak tau mantra apa. Entah ninjutsu, genjutsu, apa taijutsu ya? Yondaime yang mantan Hokage aja ngga tau. Apalagi Naruto yang (katanya) bego bin belegug itu.

Pokoknya, semua jadi pusing spuluh keliling deh, yang udah ngirup bubuk itu. Hiashi langsung mual-mual terus lari ke kamar mandi, Kushina mati suri, dari mulut Minato keluar buih pertanda ajal sudah menjemput.

Naruto yang ngga kena pengaruh dari mantra tersebut, berusaha membangunkan mami papinya. Ia guncangkan tubuh maminya, "Mami! Mami! Bangun dong!" Kushina tetep ngga bangun. Terus ke papinya. "Papi!" udah diguncangin, udah ditereakin, udah ditamparin, tetep kaga bangkit.

Begitu juga Hinata. Dia panik setengah mati. "Ayah, bangun! Ayah! Ini deh! Aku buatin gudek sebaskom! Aah! Ayah!" Ternyata jurus gudeg udah ngga mempan buat Hiashi. "Ko ayah jadi budek gini seh!"

Hinata dan Naruto yang kecapean ngebangunin mami papinya, pingsan barengan.

Sedangkan Neji sendiri malah ketawa ketawa ampe ludahnya muncrat kemana-meni. (Bayangin. Seorang Neji!)

"Wakakakakakakakakak! Wekekekekekekekek! Waka—ohok ohok! Gila, kebesekan nih. Terusin lagi ah… Wakakakakakakakak! Wekekekekekek!" Saking semangatnya Neji ngakak, dan semakin banyak percikan hujan lokal, semua orang pada bangun lagi gara-gara—Ya, itu, kena hujan lokal—Neji.

"Huh. Akhirnya kalian bangun juga. Kalian ngga papa, kan?" Sekarangm Neji malah bersikap (so') baik kepada semuanya.

"Hoahmm!" Naruto nguap. Hampir aja ada lalat yang masuk. Tapi ngga jadi. Keburu dijilat sama Gamakichi yang ikut nimbrung. "Gue kenapa, sih? Gue pingsan ya? Tadi kayaknya gue ada di kayangan… Ko jadi disini lagi sih? Oh iya… Bidadarinya juga seksi abis lho… Hehehe…"

Tiba-tiba Jiraiya datang begitu dengar kata-kata 'seksi' "Mana mana! Katanya ada yang seksi!" Jiraiya clingak clinguk siapa tau ada cewek telanjang. "Yo! Halo sensei!" Minato denga cerianya dadah ke Jiraiya.

"Gak ada woi! Sennin Mesum! Tadi gue cuma mimpi doank!"

"Yaelah, Naruto. Ck ck ck… Sayang sekali… Eh, ada Gamakichi! Ikut yuk! Sekarang kita berburu ke onsen! Bwahaha!"

"Ayo! Siapa tau gue bisa dapet jodoh juga!" Lalu Gamakichi berlalu bersama Jiraiya.

"Dadah senseii!" Minato dadah lagi sama Jiraiya.

"Oh iya. Ngomong-ngomong, jadi gimana? Naruto dan Hinata ngga jadi menikah kan?" Kata Neji dengan nada kemenangan.

"Tentu saja dibatalkan!" Kata Minato, Kushina, dan Hiashi berbarengan.

Kok?

"Lho!?" Hinata dan Naruto baru ciuman, eh—siuman sekarang pingsan lagi karena kaget. Nggak ding.

"Iya, kalian ga usah nikah segala deeh… Hidup kan masih lamaa, udah, pacaran aja terus sana! Lagian Naruto yang bego juga ngga cocok ma Hinata yang anggun, ya kan darling?"

"Iya tuh! Naruto kebegoan untuk mendampingi hidup Hinata…"

"Iya, bhener ntu, katha Nyionya Uzhumakhi sama Tuwan Namikazze… Kamu ndak pantes sama buah hati saiia…"

Hinata udah berkaca-kaca, Naruto udah bercermin-cermin.

Emang gue sebego apa, ya? Naruto membatin. Gue kan lulusan SMA, emang sih, ngga ngelanjutin kuliah, abis sibuk ikut ujian jonin sih, ga lulus lulus gue! Gimana mo jadi hokage, ya? Iya sih, gue emang ngga pantes ma Hinata. Dia yang begitu sempurna, dimataku dia begitu indah, dia membuat diriku akan slalu memujanya… Lho? Ko gue malah nyanyi sih?

"…" Naruto tampak sedih seraya berkata pada Hinata. "Hinata-chan… Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Neji. Aku ini memang bodoh. Aku ini memang tidak pantas untukmu…"

"Na-Naruto-kun… Kenapa kau bicara seperti itu? Padahal aku mencintaimu apa adanya, tidak peduli kau bego, bodoh atau apalah! Pokoknya katiku hanya untukmu!" Hinata nangis, dia menatap kakaknya dengan tatapan marah.

Yang ditatap cuma diem, senyum puas, dan kembali ja'im.

Akhirnya, pertemuan kedua calon besan selesai juga. Mami dan papi papi telah pulang—lebih tepatnya main lagi ke bar—untuk bersenang-senang ala orang tua, tentunya. Kini yang berada disitu tinggal Hinata, Naruto, dan Neji.

"Kakak! Apa maksudmu menghipnotis mereka?"

"Huh. Aku tidak berbuat apa-apa, Cuma meyakinkan mereka agar kau dan Naruto tidak bersatu. Hoho, ternyata manjur toh…"

"Ka-kakak! Kakak jahat sekali! Menghipnotis ayah dan orangtuanya Naruto-kun!"

"Sudahlah, Hinata…"

"Tidak bisa! Naruto-kun! Aku tak ingin berpisah denganmu, aku ingin terus bersamamu!"

"Hinata-chan, tidak menikah tidak berarti kita tidak boleh bertemu, kan?"

"Ta-tapi…" Sekarang Hinata mulai beraksi. Ia berdiri dan mendekati Neji. Wah wah, ngga biasanya, padahal, yang bisanya nantangin duluan kan Naruto, kok sekarang malah Hinata, ya? Biasalah, Naruto lagi pundung abis!

Neji pun berdiri. Mereka berdua saling melotot sampe mata mereka merah dan berair.

"Aduh, kalian berdua ini! Adik-kakak jangan bertengkar dong!"

"Diam, Naruto-kun!" Baru kali ini Naruto dibentak Hinata. Sebenernya Hinata juga deg-degan banget waktu maju buat nantangin Neji. Eh, nantangin apa ya?

"Hinata. Aku ngga mau urusan sama kamu." Neji berpaling pada Naruto. "Kau!"

Naruto tersentak dan maju ke arah Neji. "Apa!"

"Jika kau masih ingin menikah dengan Hinata, kau harus menghadapi aku dulu!"

"Okeh! Siapa takut!" Hm, Naruto banget, ya?

"Na-naruto-kun!"

"Tenang, Hinata! Akan kulakukan apapun untukmu, demi cinta kita…" Cie cie! Lalu keduanya berpelukan dengan dilatarbelakangi ombak yang tinggi ampir setinggi tsunami.

"Hoi! Udah dong! Jangan cuekin gue!" Neji merasa dicuekin ternyata.

"Sirik aja lo! Ngga pernah pelukan, ya? Kasian banget seh!"

"Heh heh! Siapa bilang! Gue sering ko ama si Tenten!"

"Yey! Si Kakak bo'ong tuh, Naruto-kun! Gandengan aja belom pernah!"

"Oooh, jadi lo sirik ya? Makannya lo nentang pernikahan gue ma Hinata! Ya kan? Hahaha! Kasian lo! Ganteng-ganteng ngga laku!"

"Weh! Enak aja lo! Tapi, setidaknya gue masih 'berotak' kan?"

"Cih. Sialan lo."

"Nah, Naruto! Kalo lo masih kepengen kawin sama adek gue, lo harus nyelesein beberapa ujian dari gue!"

"Iya, iya. Lo kan udah bilang tuh dari tadi. Apaan emang tantangannya?"

"Ada deh! Ga cuma satu. Tapi nyaris sepuluh. Besok gue kasih tau apaan, kapan, dan dimananya. Kalo lo berhasil nyelesein 3 tantangan, maka gue akan cabut mantra ibu lo. 5 tantangan, ayah lo, 8 tantangan, baru deh lo boleh nikah ma Hinata."

"Oke! Siapa takut! Eh, ngomong-ngomong jurus—eh, mantra apaan tuh tadi? Yang lo pake buat ngipnotis ortu gue? Lo tau dari mana?"

"Oh, itu ya? Itu sih bukan jurus. Mantra, bisa dibilang mantra sih… Tapi tepatnya, kutukan…"

"Ku-ku-kutuanl!?" Hinata kagetnya setengah mati. "Kok kutu sih?"

"Bukan kutu Hinata-chan… Tapi Ku-Tu-Kan."

"Apaan tuh?" Tumben banget Hinata o'on.

"Kutukan adalah bla bla bla…" Jelas Naruto.

"Oooh, gitu ya? Tuh kan, Kak Neji! Naruto ngga bego-bego amat!"

"Huh!"

"Ngomong-ngomong lo dapet tu serbuk dari mana? Masa lo nyusup ke laboraturiumnya Orochimaru?"

"Engga lah! Masa gue berani nyusup ke Lab nya Orochimaru! Ntar gue bisa dicincang duluan sama si Kabuto. Gini, gue dapetnya dari Harry Potter. Kemaren gue chatting sama dia. Terus yah, kita bisnisan gitu deh. Ya terus dikirimin deh ntu serbuk."

"Masa? Jauh amat ya? Dari Hogwarts ke konoha?"

"Hehehe, ah udah ah! Kita kan sekarang musuh. Hush hush sana pergi! Eh ngga deng. Gue aja yang pergi. Udah kebelet nih… Bubay Hinata!" Neji dadah ma Hinata dengan lebaynya. Hohoho.

To Be Continued…

Kira-kira apa ya tantangan yang akan diberikan Neji? Nantikan dalam chapter 2. Hwahaha!

Neji : Kok akunya jadi gila sih?

Karu-chan : Iya! Karena kamu emang gila! Hahaha!

Naruto : Eh! Nanti kita jadi kawin ga?

Karu-chan : Kita? Lo aja kale, gue engga…

Naruto : Ah iyalah! Gue ma Hinata, maksudnya…

Hinata : Naruto-kun, berjuang yaa!

Naruto : Tentu, oh kasihku…

Karu-chan : Hoi hoi! Kalo mo mesra-mesraan sana pergi! Jangan disini!

Hiashi : Ko saya jadi orang jowo ya?

Karu-chan : Duh, ga tau nih! Langsung kepikiran aja gitu. Padahal sayanya juga asli orang bandung kok…

Minato : Hai! Makasih ya, aku dibuat periang!

Kushina : Iya nih, kok aku jadi ber imej galak sih?

Karu-chan : Maaf, ya kushina, abis aku ngga tau sih kamu orangnya kayak gimana…

Karu-chan : Ya sudah yaa! Sampai ketemu lagi di chapter 2! Dan maaf kalo aku ngebojeg ngga jelas, hehehe…

O I A !

Jangan lupa reviewnya, ya!