Pagi ini, adalah pagi yang sangat cerah

Pagi ini, adalah pagi yang sangat cerah. Burung burung berkicau ria di atas pohon, awan yang sangat indah, jadi Shikamaru bisa menikmati keindahan awan hari ini (ga nyambung tuh), mamihnya Naruto udah bikin ramen spesial buat anak kesayangannya, papihnya udah nyuciin motornya Naruto… (gitulah pokoknya! Males ngetiknya!) Pokoknya, benar-benar pagi yang amat cerah deh!

Tapi, wajah Naruto tidak secerah hari ini. Saat sarapan, ia hanya memakan satu porsi ramen. Biasanya sih, minimal tiga. Naruto hanya memainkan garpunya, menatap ke arah ramennya, tetapi pikirannya kemana-mana.

"Kamu kenapa, darling?" tanya Minato pada Naruto.

Naruto hanya menatao ayahnya saja, lalu berkata dengan lesunya, "Ga papa kok, Pih…" maksa senyum. "Naru cuma ngga laper aja…"

"Bener, nih? Papih belum pernah denger, tuh. Pernyataan 'Aku ngga laper'… Abis kamu laper mulu, sih…"

Naruto cuma ngangguk. Lalu ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07.45, ngga tau kenapa, Naruto langsung melototin jam itu, baru nyadar, kalo dia udah hampir telat.

"Hwaah! Mami, Papi! Naru pergi dulu, ya! Udah kesiangan, nih!" Naruto minum susunya cepet-cepet sampe keselek, comot roti yang lagi dipegang papinya, lalu lari ke garasi, menaiki motor kesayangannya, tancap gas!

Naruto tidak memperdulikan teriakan ibunya yang (sepertinya) mengatakan 'mau kemana!?'. Yang ia pikirkan hanyalah : harus-tiba-di-Gedung-Serba-Guna-Konoha-tepat-waktu.

Yup. Naruto sedang terburu buru. Ia mengendarai motornya sekencang kencangnya, sampai ia menabrak sebuah becak yang teryata si pengendaranya adalah Sai.

"Hoi! Naruto! Lo harus tanggung jawab neh! Ntar majikan gua marah!" Sai ngambek, untung aja becaknya kaga jatoh, nyaris keserempet gitu lah… Dan ekspresinya itu lho…

"Duli! Lagian masa elo marah-marah tanpa ada ekspresinya sih! Datar banget muka lo! Nyahaha! Ntu tanda seru ato tanda tanya ngga berlaku untuk lo, ya? Nyahaha! Udah dulu yah! Gue buru buru!"

Eh, belum tau, yah? Naruto mau ke mana? Hehe, simak saja deh…

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Flashback…

Naruto yang baru aja gosok gigi, bersiap mau have a nice dream, tiba-tiba mendapat telepon dari Neji.

"Haloh? Neji, ya?"

'Iyes, Nar. Gue mau ngasih tau tentang challenge yang harus elo jalanin…' begitulah suara di seberang sana.

"Oh, Iya iya! Apaan! Gue mah selalu siap!"

'Heh, jangan nganggep enteng yah! Emang lo kira gue rela adik gue musti nikah sama cowo kayak lo? Huh, jangan beharap lo bisa nyelesein tantangan dari gue!'

"Lho? Apa salahnya gue optimis?"

'Huh! Yasud! Besok gue tunggu di Gedung Serba Guna Konoha! Jam 8.30! Tantangan pertama tuh!'

"Oke! Siapa takut!"

'Dan satu lagi… Selama lo belum nyelesein tantangan lo, lo ngga boleh ketemu Hinata dulu!'

"Lho? Lho? Kok gitu sih?"

'Iya! Hinata gue sandra!'

"Nyet, nyet… Masa' lo sandra adek lo sendiri, sih? Nyahaha! Tapi, ngga papa sih, gue ngga ketemu Hinata, kan masih bisa smsan… Hahaha!"

'Iya, kalo hape lo selamat.'

"Maksud lo?"

Tut tut tut…

Tiba-tiba sambungan terputus. Naruto kebingungan. Ni orang kenapa sih? Aneh banget… Tiba-tiba di layar haoe Naruto muncul angka 10 yang lama-lama ngitung mundur… 9 … 8… Kenapa, nih? 6… Nyaa! Kok hape gue jadi panas! 4… 3… Ooooh! Ada apa denganmu? Wahai satu-sarunya hapeku! 2… 1… 0… BOOM! Hape Naruto jadi ancur berkeping keeping.

"Naru! Ada apa?" Mami-papinya Naruto langsung menggebrak pintu kamar Naruto. Namun yag mereka lihat hanyalah sesosok anak mereka yang jatuh terduduk sambil bengong, meratapi nasib hapenya yang sekarang udah hancur berkeping-keping.

"Na, Naruto?" Maminya Naruto mendekati anaknya. "Ko,kok bisa ancur gini, sih?" Maminya menepuk pelan pundak Naruto.

Naruto masih memandang hapenya yang sekarang telah menjadi serpihan, Minato masih diam di pintu sambil menggenggam spatula. "Hwaa! Kentananya gosong!" Jadi deh balik lagi ke dapur. (ga penting tauu!)

"Mih…" Naruto udah berkaca-kaca. "Hwaaaahhhhh!" Naruto langsug meluk maminya, (watdepakk!?) maminya balik meluk,

"Cup cup cup… Naruto sayang, jangan nangis dong…" Kushia mengelus kepala Naruto,

Kushina bingung mau berbuat apa agar Naruto berhenti menangis. Ah, aku ada ide!

"Duh, Naru-chan… Jangan nangis lagi, ya… Nih nih, ini kyubi, boneka kesayangan kamu…" Kushina menyodorkan boneka kyubi kesayangan Naruto itu, tetapi Naruto tetap menangis.

"Hiks, hiks… mamiih… Hape Naru ancur… Si, Si Neji masang bom di hape Naru… Hiks, hiks… Gimana, dong?" suara Naruto yang biasanya ngebass jadi childish gitu deh! Mana bibirnya itu lho, manyun banget.

"Cup cup… Ngga papa kok sayang… Taun depan mami beliin hape baru lagi, ya… Kalo sekarang-sekarang kayanya ga bisa, habis uangnya dipake buat ngasih makan rubah-rubah peliharaan kamu… Lagian masih mending, kan? Bukan kamunya yang meledak… Kalo mami kehilangan kamu, ntar siapa yang pelukin mami? Terus, ntar siapa yang mami suruh ke pasar? Siapa yang pijetin mami? Siapa yang suka mami elus elus sebelum bobo? Siapa yang minta ditemenin kalo lagi mati lampu? Siapa yang—"

"Ih! Mami… Udah ah! Naru malu sama readers!" Naruto langsung blushing gitu deh…

"Hahaha! Yaudah. Nanti mami marahin Neji deh!"

Naruto diem. "Yaelah mamih! Kayak Naru masih es de ajah! Sekarang Naruto udah gede, tau!" Naruto beranjak berdiri, suaranya sudah kembali seperti semula, ngebass.

"Udah ah! Naru beneran malu nih! Udah gih! Mamih pergi ajah sana!" Naruto mengibas ngibaskan tangannya tertanda nyuruh maminya pergi.

"Yaelah, si Naru-chan…" sekarang gentian maminya yang manyun, lalu mami manis itu pergi menuju pintu.

"Oh iya. Inget ya, Naruto." Maminya berenti sebentar. Lalu menatap naruto dengan tajam. "Kamu ngga usah ketemu sama Hinata dulu. Kamu masih belum pantes sama Hinata. Kamu masih terlalu bego!"

Nyaa!? Naruto tambah stress.

Nah, ini dia, kerjaannya si Neji. Mantra! Kutukan! Mantra mami-papinya belum ilang bo! Padahal, dulu mami-papinya setuju banget kalo Naruto nikah sama Hinata. Cocok sih. Tapi, gara-gara si geblek Neji, mami-papinya jadi kena mantra apalah gitu, yang Neji dapet dari Harry Potter. Nah, untuk menghancurkan mantra itu, Naruto harus menyelesaikan beberapa tantangan dari Neji. Kalo Naruto udah nyelesein semua tantangan, maka Naruto boleh menikah dengan Hinata.

"Huh. Dasar Neji sialan! Ikut campur urusan gue ajah! Tapi, Hinata! Demi kamu, akan kulakukan semuanya untukmu! Tunggulah aku!" Naruto berpose sedang berdiri di ujung tebing, mengepalkan tangannya, dan berekspresi semangat. Lalu ada ombak setinggi tsunami yang menjadi latar belakangnya, plus sunset yang indah. (itu lho, kayak Lee dan Gai kalo lagi pelukan + nangis… XP)

End of flashback

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sesampainya di GSG Konoha…

"Wah ceile. Penuh banget!" Naruto bengong menatap para penonton yang duduk di pinggiran. Ada yang membawa spanduk bertuliskan 'Go! Naruto!' ada juga yang : 'Naruto BAKA' macem-macem lah, pokoknya…

"Naruto!" Seseorang men-sliding tackle kaki Naruto sampai ia jatuh dengan tidak wajar, jatuh ala Choji yang berusaha merebut 'snack' terakhirnya gitu deh. Pantat dibawah (yaiyalah…), kaki teracung ke atas, kepala kejeduk tembok, tangan muringkel… (bayangin ndiri!)

"Eee bujugbuneng kempret kacrut kancing copot! Ino! Lo ngapain sih! Ngagetin gua segalaa!" Naruto tereak tereak pake toa nya.

"Nyahaha! Hehe, lo gapapa Nar?" seru Ino watados.

"Ngga papa gimanah…" Ino mengulurkan tangannya dan membantu naruto berdiri. Naruto ngusep ngusep pantatnya yang kayaknya sakit.

"Ko pada rame gini, sih? Si Neji mana? Eh, iya. Ko pada bawa bawa spanduk yang tulisannya nama gue?" Tanya Naruto pada Ino.

"Iya, kita-kita mau pada dukung elo, Nar. Kita semua udah tau ko' masalah lo ama Neji…" Ino mengacungkan jempolnya.

"Lho? Tau dari mana, emang?" Naruto masih ngusep-ngusep pantatnya.

"Tenten. Tenten tau dari Neji, biasalah, tiada rahasia diantara sepasang kekasih…"

"Terus, kok ampir sekonoha tau tentang kejadian ini? Ada yang ember ya?" Naruto teteup ngusep-ngusep pantatnya.

"Hhehehe, iya, siapa lagi kalo bukan gue!" Ino berkata dengan bangganya.

"Nyet,nyet. Gitu doang bangga! Dasar ember!" Naruto masih masih masih dan masih ngusep-ngusep pantatnya.

Ino yang bingung karena perbuatan aneh Naruto itu bertanya, "Pantat lo kenapa, Nar?"

"Bisul gua pecah!"

Iiiy, jijay bawang bombay! Ino langsung mundu-mundur, orang-orang yang ada di sekitar mereka pada melotoin pantat Naru yang terbentang pulau alias nanah (yuck!) dari bisul yang pecah (yuck! Yuck!).

"Yuck! Jijay! Elo sih mandinya di kubangan! Kaya gue dong, tiap malem jum'at mandi kembang tujuh rupa!"

"Ooh, gitu toh. Pantes aja wangi lo kaya kunti, jadi si Sai kaga mau deket deket ma lo! Hahaha!"

"Udah ah! Gua jadi MC nya nih!"

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

"Yo! Met dateng semuanya," Ino ada di tengah tengah lapangan tertutup itu dan sedang mengerjakan tugasnya sebagai MC.

"Hari ini, seperti yang kalian tau, akan diadakan semacam pertandingan gitu deh! Pertandingan ini diadakan oleh Neji Hyuuga…" Semua orang pendukung Neji tepuk tangan. Neji sendiri juga duduk di singgasana, eh, kursi paling depan dengan wajah super coolnya.

"Dalam rangka… Ada deeh! Mau tauu, ajah! Yang pasti ini bukan pertandingan iseng isengan… Dan Naruto Uzumaki sebagai peserta tunggal!" gantian, sekarang pendukung Naruto yang emang lebih banyak tepuk tangan, yang di antaranya; Sakura, Sasuke, Kiba, Shino, Shikamaru, Chouji, Iruka, Shizune, dll.

"Seluruhnya ada sepuluh tantangan. Dan satu per satu harus Naruto jalani." Naruto udah pucet waktu Ino mengumumkan itu. Pertandingan seperti apa, ya? Melawan binatang buas kah? Melawan ular kah? Melawan Voldemort kah?

"Dan… Pertndingan pertama adalah…" sfx : jeng jerejeng jejeng!

"Lomba… Makan! Eh, salah… lomba minuum!" Yeeee! Supporter Naruto loncat-loncat kegirangan, udah yakin, kalo Naruto bakal menang lomba ini. Secara, Naruto…

"Hweehh, kirain pertandingan apaan…" Naruto sedikit lega, ia maju ke tengah lapangan yang disana telah disediakan beberapa gelas yang berisi air bening. "Airnya rasa apa, ya? Ngga beracun, kan?"

"Dan yang menjadi lawan Naruto adalah… Pendatang dari Seishun Gakuen, ia sangat manis, ah ah ah… Dan juga baik hati, ah ah ah… Eh, sori soda-sodara, saya tau suara saya jelek, hehehe. Yasud, mari kita sambut, Syusuke Fujii!"

TBC…

Hahaha! Makasih bagi yang udah baca fic aneh ini! Maaf kalo masih jelek!

I'll try my best…!

Maka dari itu… REVIEW!