He's Not Only the One

Chapter 5

"Ino… Sudah sampai nih…" Sai memanggil Ino, tetapi tak ada jawaban. Ditatapnya Ino yang ternyata telah memejamkan matanya. Ia teridur.

"Dasar… Sudah capek menangis, ya?" dengan refleknya Sai mendekatkan dirinya pada Ino.

Kau… Cantik sekali… Aroma rambutmu wangi sekali, hmh, wangi cemara, shamponya pakai karbol yah?

Sai menyentuh rambut Ino yang dikucir kuda itu.

Lembut selembut sapu ijuk…

Kini Sai mendekatkan wajahnya pada Ino. 20 senti, 10 senti…

"Sai?" Tiba-tiba Ino membuka matanya dan mendapati wajahnya dan Sai berdekatan.

Sai buru-buru menjauh. "Ah, I, In, Ino! Haha… Euh… Umm, udah bangun, udah bangun ya? Heheh…"

Ino mengernyitkan dahinya. Perasaan tadi Sai… Ah! Ngga mungkin!

"Engg, Ino… Udah nyampe nih…"

"Udah nyampe? Tadi aku ketiduran, ya?"

"Iya, tadi kau ketiduran… Tenang, sekarang masih jam setengah delapan kok…"

Tadi aku ketiduran? Jadi… Sai tadi melihat wajahku saat tidur, dong? Duh, aku ngiler ga yah? Ino cepat-cepat meraba di sekitar bibirnya. Kering. Huff… Untung, saja…

Ino membuka kaca jendelanya, dilihatnya pemandangan yang sangat indah—yang paling indah—yang pernah ia lihat. Lampu lampu kota yang terlihat seperti kunang-kunang saking kecilnya, tampak serasi dengan langit malam yang penuh dengan bintang dan terang bulan. Meskipun di daerah itu sangat minim bangunan, dan agak sepi, setidaknya ada warung warung kecil yang menjual jagung bakar atau sate…

Di sini juga udaranya dingin-dingin empuk. Wajib bawa jaket kalo ngga mau masuk angin. Udaranya dingin karena daerah itu sudah masuk di kaki gunung.

"Waah! Sai! Indah sekali! Aku saja belum pernah ke tempat ini! Ternyata ada tempat seindah ini di Konoha…!" kata Ino sambil sumringah.

"Hihihi…" (bukan ketawa ala kunti, tapi ketawa imut ala Sai. Terlalu memabukkan untuk dideskripsikan.) "Akhirnya kamu bisa ketawa juga…Ini memang agak jauh dari Kota, sih… Tapi ini masih di Konoha, di daerah Kodago…"

"Tempat ini…" tiba-tiba sorot mata Sai berubah menjadi sedih. "Tempat yang sering kukunjungi bersama kakakku… Kami sering sekali kemari. Tapi… Itu dulu."

"Oh ya? Lalu sekarang kakakmu di mana?" Tanya Ino penasaran.

Sai hanya senyum. Ia mengagkat jari telunjuknya ke atas. "Di atas sana…!"

Ino sedikit tercekat, "ma, maaf… Aku tidak bermaksud untuk…"

"Sudahlah… Itu kan memang kenyataannya…"

Hening.

"Umm—"

Lai lai lai lai lai lai, panggil aku si jablay!

Abang jarang pulang, nananananananana…

Buset dah, terdengar ringtone 'jablay' dari ponsel Ino dengan volume maksimum. Sai dan Ino sama sama kaget. Mata sai yang biasanya sipit sekarang melotot dan hampir keluar. "I,Ino, itu hape kamu, kan?"

"I,iya!" Ino buru-buru mengambil ponselnya dari tas. "SMS nih…"

"Dari?" Sai menaikkan sebelah alisnya.

Ino tampak ragu-ragu untuk mengatakannya. "Engg, dari… dari… dari Dei-kun… Kayaknya, kamu aja deh yang baca sendiri!" lalu Ino menyerahkan ponselnya pada Sai. Nggak tau kenapa, muka Ino memerah.

Sender : Baka Aniki

Inooo! Kamu ada dimanaa, un! Kamu udah dijemput sama Sai, un? Kalo gitu, bilangin ke Sai, un! Jangan lupa ngajak makan, un! Nanti maag kamu kambuh lagi, un! Ya ya ya? Oh iya, kata ayah, pulangnya jangan lebih dari jam sepuluh! Ntar ga cuma gua aja yang dicincang, un! Si Sai juga digiling! Okeh! Oiya… Maap cuma esemes. Pulsa gua kaga cukup buat nelpon, un! Abis dipake si Kisame YM-an, euy, un! Dadahh! Mmuach!

"Hwahahah! Dei-senpai, Dei-senpai… Dia overprotektif banget sama kamu, ya? Dia itu…"

"Sister complex." Kata mereka berbarengan. Diem bentar, lalu tawa riang memecah suasana.

"Yasud. Kita makan, ya? Kamu suka sate kan?"

Ino mengangguk cepat. "Iya! Aku suka banget sate. Apa lagi sate kelinci!" katanya sambil sumringah.

Merekapun turun dari mobil dan pergi ke warung terdekat yang plangnya bertuliskan Redcloud café. Sedia : Nasi, Sate Kambing, Sate ayam, Sate Kelinci, Pecel Lele, Pecel Hiu, Jagung Bakar, Nasi Merah, Ubi bakar, Bandrek. (Author udah ngiler).

"Kumplit banget, ya?" mereka memasuki warung yang sederhana tetapi bersih dan nyaman. Serasa makan di kampung halaman deh…

Suasananya nyaman, meski penerangan diset remang-remang, biar lebih romantis gitu… Dan pengunjunnya juga ngga terlalu ramai.

Lalu Ino dan Sai duduk di meja yang menghadap jendela. "Malam ini terang bulan, ya?" kata Ino riang.

"Iya, bintangnya juga banyak…"

"Malem neng, jang… Mau pesen apa?" kata mas-mas penjual dengan logat sundanya ramah.

Ino agak kaget melihat yang berjualan yang tak lain dan tak bukan adalah Tobi.

"To, Tobi-chan?" wajarlah, Ino kenal dengan Tobi… Dia suka main ke rumahnya dengan geng Akatsuki lainnya. Apalagi Sai, Tobi juga termasuk senpainya di sekolah asrama.

"Halo, Tobi-senpai…" kata Sai sopan. "Ino, aku belum bilang, ya? Warung ini kan punyanya Tobi-senpai, Hidan-senpai, dan Kakuzu-senpai, dan Konan-senpai."

Ino ber-ooh ria. "Yasud. Aku lagi kepengen sate ayam. Tobi-chan! Aku mau sate ayaam sepuluh tusuk, eh, lima belas tusuk aja deeh! Nasinya satu, sama bandreknya juga yaa!"

"Okey!" kata Tobi sambil mengacungkan jempolnya. "Hidaan! Tangkepin ayam satu ekor buat disatee!"

"Kalo gitu, aku pesen nasi merah sama pecel lele, ada?" kata Sai.

"Ada, ada! Meskipun udah malem, meskipun tinggal sedikit lagi, masih tetep ada buat Sai-chan! Hahaha!" sekarang Tobi manggil Kakuzu. "Kakuzuu! Tangkepin ikan lele di kolam tetanggaa!"

Buest dah si Tobi nereakin pesenan langsung dari meja pelanggan. Ck ck ck… Batin Ino.

"Anything else?" kata Tobi dengan riang.

"No. Tengkyu…"

Tobi pun ngelewer meninggalkan meja mereka.

"Halo Ino-chan, Sai… ini bandreknya…" kata Konan selaku pelayan (kejamnya diriku. Maafkan aku, Konan!)

"Makasih, Konan-san…" kata Ino dan Sai berbarengan.

"Kencan, ya?" muka Ino dan Sai memerah.

"Eng, engga kok!" kata Ino dan Sai berbarengan (lagi).

"Hohoho… Kompak bener, kalian…" kata Konan sambil naik-turunkan alisnya dengan ganjen.

"Ino-chan baru pertama ke sini, ya? Sering-sering doong datengnya…!'

"Hehehe, iya nih, Konan-san… Memang aniki pernah bilang kalo geng akatsuki punya usaha keci-kecilan. Ternyata café toh…"

"Iya… Meski baru berdiri, alhamdulillah banyak pelanggan! Ah, sudah ya, aku sibuk!"

Suasana di Redcloud café malah tambah ramai padahal sudah malam. Maklumlah, malam minggu. Banyak pasangan bahagia yang makan dan nongkrong di sini. Contohnya, NaruHina yang lagi makan, NejiTen hanya nongkrong, diem-dieman sambil minum bandrek, SasuSaku yang mesra, dan AsumaKurenai juga yang ngga mau kalah mesra sama , Tsunade dan Jiraiya juga ada... Ada juga pasangan gay (wtf! Engga ding.) yaitu IzumoKotetsu yang meratapi nasib mereka yang masih berstatus jojoba.

Nah, mari kita intip NaruHina…

"Kenyaang!" teriak seseorang sambil mengelus perutnya.

"Naruto-kun! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Maluu!"

"Sud—eeeuuurgh!" Naruto sendawa dengan-seenakudel.

"Iiih, Naruto-kun, jijay bawang bombay!"

"Hehehe… Sori, Hinata-chan… Pecel hiunya enak sih…" terus naruto sendawa lagi dan sukses membuat Hinata pingsan di tempat…

Sekarang mari kita lihat suasana NejiTen.

"Neji…"

"Tenten…"

"Neji… Aku sayang kamu…"

"Oh, Tenten, aku tidak sayang padamu…"

"Kenapa Neji!"

"Karena aku mencintaimu…"

"Oh Neji…" kata Tenten yang matanya udah berkaca-kaca karena terharu.

"Tenten…" dengan lebaynya Neji mengambil setangkai bunga dari kantongnya dan menggigitnya. Lalu ia berlutut di hadapan tenten.

"Tenten…"

Tenten yang ke-GR-an udah angguk-angguk dengan semangat. "Bersedia! Aku bersedia!"

"Hoi! Shiapha bilang ghuwa mhau nglamhar elho!" kata Neji yang masih menggigit setangkai bunga.

Tentn langsung sweatdropped dan jongkok di pojok sambil memutar jari telunjuknya di lantai. Hiks… Gua salting banget, hiks… hiks…

"Hoih, Thenthen!" Neji pun melepas bunganya. "Jangan ngambek atuh… Iya deh! Aku ngelamar kamu…" Neji menghela nafasnya. "will you marry me?" Neji menyodorkan bunga itu pada Tenten. Tetapi tenten malah nolak dan nangis-nangis.

"Te, Tenten darling? Kenapa kamu nangiis? Aku kan udah ngelamar kamuu!" kata Neji sambil riweuh sendiri untuk menenangkan Tenten.

"Aku ngga suka cara kamu ngelamar aku!"

"Lhoo? Kan romantiis! Gigit bunga, berlutut, gua kan udah cape-cape dandan pake tuksedoo! Kok malah ditolakk?"

"Iyalah! Orang kamu ngga bawa cincin! Malah bawa bunga!"

"Cincinnya entar deh, nyusul… Aku lagi bokek niih… Ya? Pliisss…" Neji ber-puppy eyes-ria.

"Ogah!" Tenten menyilangkan tangannya di atas.

"Kan udah dikasih bunga…"

"Hhh…" Tenten menarik nafasnya, buang lagi, "EMANG ADA ORANG YANG MAU DILAMAR PAKE BUNGA BANGKE!"

Hehehe… Udah ah… Sekarang kita intip SasuSaku yang mesra.

Mereka berdua tatap-tatapan, pegang-pegangan tangan, cup-cupan, gitu-gituan, eh engga ding!

Yang bener sih, mereka lagi bertengkar…

"sasuke! Kenapa, sih, kamu ngga pernah bilang sama aku! Kalaupun bilang, pasti ngga tulus!"

"Hn…" kata Sasuke singkat padat dan tidak jelas sambil mengocek-ngocek bandreknya.

"Sascakes… Kenapa sih? Apa ada yang kurang dari aku?"

"Hn.." lagi-lagi singkat padat dan tidak jelas.

"Sas, kenapa sih kamu ngga pernah ngajak aku kencan? Ini juga aku yang ngajak..."

"Hn.."

"Sa-Su-Kee! Kamu ngga ada romantis-romantisnya ih!"

"Hn.."

"Hn, hn! Heh Sasuke! Kamu ngga bisa ngomong kata-kata lain selain 'hn' ya?"

"Sas-key! Ayo dong, ngomong sesuatu…"

"Sesuatu…"

"Grr…" Sakura sudah mengepalkan tangannya. "SHANNAROOOO!"

Dengan adanya insiden itu, Kakuzu selaku seksi keuangan langsung menagih tagihan senilai Rp .000 kepada Sakura (dan Sasuke) atas jebolnya lantai.

Terus, Kurenai dan Asuma : Adem ayem aja...

Tsunade dan jiraiya : Situasi dan kondisinya aman...

Izumo dan Kotetsu? Hmm, jangan diintip deh... Lagi serius berebutan Anko, sih... Kalo nguping ntar saianya dibacot ma mereka. Hahaha!

"Wah, enak sekali makanan di situ. Jadi pengen sering-sering makan disitu..." kata Ino sambil berjalan menuju mobilnya Sai.

"Boleh, boleh... Nanti kuantar lagi, ya?"

Eeh? Enak aja si Sai ngomong gitu! Aku kan ngga minta dia nganter aku lagii! Tapi.. Boleh juga, sih. Heheh..

"Makasih." Ino tersenyum, sai juga membalasnya.

"Emm, makasih ya, udah mendengarkan curhatan aku..."

"Iya, sama-sama..."

"Ino!" seseorang berambut nanas memanggilnya. Ya, Shikamaru.

Cape deeh. Kenapa mesti ketemu dia di sini?

"Hai Shikamaru!" Ino memaksakan dirinya untuk tersenyum. Dilihatnya Shikamaru dengan tatapan 'I'll kill you right now!'.

"Halo Temari-san..." Ino maksa senyum lagi. Ya, sekarang temari sedang bergelayutan pada Shikamaru. Wah, ternyata Shikamaru sukses...

"Habis dari mana, nih?" kata Shikamaru sambil mengangkat sebelah alisnya dan melirik Sai.

"Makan. Di Redcloud. Ah, kenalin. Shikamaru, ini Sai. Sai, ini Shikamaru." Shikamaru dan Sai pun berjabat tangan, tetapi Shikamaru 'jiga teu niat'. "Shikamaru." "Sai"

"Ooh, Ino. Jadi dia pacarmu yang tadi kau ceritakan?"

Buset. Gua mesti ngomong apa? Sai kan bukan pacarku!

"Eeuh, dia..." dengan kesigapan seorang Sai, ia merangkul Ino. "Iya, gue cowoknya Ino."

"Sa, Sai?"

TBC...

Akhirnya, bisa deiedit juga... Kemarin pas aku add chapter, chap yang ini masih berantakan. Belum sepet kuedit, abis ngetiknya di warnet sih.. Hiks..

Gimana? Gimana?

Apa yang akan terjadi pada Sai dan Ino selanjutnya?
Apakah mereka akan jadian?
Atau masih ada orang lain di hati Sai?

Hwahahahh.. Aio RIPIU!

RIPIU yya! RIPIU!