Nyaaaaaaahhhhhh... akhirnya bisa apdet juga!

Habis gmn lage, Bby agy kena demam WB tingkat akut sih! =_=a

Chapie kale ini bener2 super pendek, maklum Bby aja ngerjainnya dengan sekuat tenaga dan pikiran tertumpah! *lebay mode on*

Sebenarnya mo lgsg aja dibikin tamat, tapi setelah Bby pikir2 aneh klo awalny alur lambat tau2 di akhirnya dibikin alur cepet, ntr kesanny mo cepet2 dibikin tamat aja, makanya Bby bikin jadi 2 chapie! *ngeles*

Oia sankyuu buwat Light, Dani, Vi, Yuuya ma Nate yg dah mo repot2 ngeripiu fic Bby di chapie 4 kemaren!

Ya udah, daripada banyak cingcong mending lgsg aja di 'back to story' wokeh, mari! R&R yah!

.

.

Lihat Aku

Chapie 5. Cemburu

Pairing: SasuNaru

Genre: General / Romance

Rated: T

Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Lihat Aku by Chubby Chu

Warning: SA, AU, OOC, Alur Lambat

.

.

Suasana di kelas saat ini begitu hening. Murid-murid Konoha High School tampak mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru mereka dengan sungguh-sungguh.

Tapi siapa yang tahu, jika sebenarnya ada segelintir dari murid-murid itu yang tidak memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung. Hal itulah yang saat ini sedang terjadi pada Sasuke. Semenjak tadi si bungsu Uchiha ini sama sekali tidak terkonsentrasi pada pelajaran.

Bukannya menyepelekan mata pelajaran Matematika yang diampu oleh Hatake Kakashi itu. Tapi karena saat ini hati Sasuke sedang sangat kesal.

Dan semua ini terjadi karena ulah Sai, sepupu Sasuke sendiri.

Bagaimana Sasuke tidak kesal? Jika sedari tadi pagi, Sai terus-menerus menempel dan memonopoli waktu Naruto. Sai terus berusaha mengalihkan perhatian Naruto dari Sasuke. Bahkan Sai sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Sasuke untuk mendekat, apalagi untuk bicara pada Naruto. Kalau kejadiannya begini, bagaimana cara Sasuke mengajak Naruto untuk jalan dengannya nanti? Bisa-bisa rencana yang sudah disusunnya semalam akan gagal, bahkan sebelum Sasuke bisa menjalankan rencana tersebut!

Sai sengaja melakukannya, dan Sasuke menyadari hal itu.

Kejadian yang membuat Sasuke semakin geram adalah ketika jam istirahat siang tadi.

Saat itu Naruto sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Karena begitu bel tanda istirahat didentangkan, Sai langsung menyeret Naruto keluar dari kelas.

Padahal Sasuke sudah mencoba mencari keberadaan mereka berdua. Ke kantin, ke atap, bahkan ke perpustakaan, namun Sasuke tidak dapat menemukan Naruto.

Sasuke juga telah menanyai setiap orang yang ditemuinya, namun tetap saja hasilnya adalah nihil.

Padahal dulu sebelum Sai datang di antara Sasuke dan Naruto, waktu istirahat siang selalu mereka habiskan berdua dengan tiduran di atap sekolah, setelah menghabiskan jatah makan siang mereka di kantin tentu saja.

Meskipun setiap kali bersama, Sasuke dan Naruto selalu berselisih dan saling melempar ejekan, tetapi mereka bagai tidak terpisahkan, dimana ada Sasuke disana pasti ada Naruto, begitu juga sebaliknya. Karena sebenarnya justru perdebatan itulah yang menunjukkan seberapa besar perhatian mereka terhadap satu sama lain.

Teman sekelas Sasuke dan Naruto hanya nisa menggelengkan kepala saja, setiap kali melihat kelakuan mereka yang seperti 'anjing dan kucing' itu.

Jadi, salahkan saja kedatangan Sai yang membuat semua kebiasaan itu langsung berubah detik itu juga.

Hingga pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk menyerah saja, dia tidak tahu mau mencari keberadaan Dobe-nya kemana lagi. Sampai-sampai Sasuke tidak sempat, bahkan tidak ingat kalau dirinya belum makan apapun siang ini. Jangan tanyakan kenapa? Karena bagi Sasuke akan terasa ada yang kurang tanpa canda ria si Dobe itu. Jadi bagaimana Sasuke bisa makan, jika tidak ada Naruto yang menemaninya.

Ketika bel tanda istirahat siang telah usai didentangkan, barulah orang yang dicari-cari oleh Sasuke muncul. Naruto tampak senang sekali saat itu dengan Sai disampingnya, membuat api cemburu di hati Sasuke semakin membara. Naruto begitu sumringah, dengan senyum secerah mentari menghiasi wajah manisnya itu, senyum yang selama ini selalu menjadi mimpi indah di kala Sasuke tidur.

Tadinya Sasuke berniat untuk bertanya kepada Naruto, kemana saja dia pergi selama istirahat siang tadi. Tapi Sasuke mengurungkannya, saat disadarinya Naruto tidak mengarahkan pandangan matanya ke arah Sasuke sekalipun.

Dan kekesalan itu masih berlanjut sampai sekarang.

Sasuke berusaha untuk tidak terlalu mempersoalkan hal ini, dibuangnya jauh-jauh pikiran-pikiran buruk mengenai Naruto dan ditanamkan dalam hatinya bahwa Naruto hanya sedang terlalu senang saja karena baru saja mendapatkan teman baru.

Baru saja Sasuke hendak meyakinkan dirinya sendiri, namun keyakinannya tersebut langsung hancur berkeping-keping, darahnya bergolak, jantungnya memompa dengan cepat, dan nafasnya memburu. Rasa marah, iri dan cemburu seketika melebur menjadi satu. Mata Sasuke menyala penuh amarah karena dilihat dengan kedua matanya sendiri saat ini 'tangan kotor' milik Sai, begitu anggapan Sasuke, menyentuh bibir Naruto.

Oh ayolah... hal ini sudah tidak dapat Sasuke tolerir lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran Naruto, hingga dia membiarkan begitu saja Sai melakukan hal tersebut padanya.

Bukan karena Sasuke terlampau posesif terhadap Dobenya itu, tapi Sasuke masih ingat betul, dulu Sasuke juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang Sai lakukan saat ini. Waktu itu Sasuke hanya menyentuh tepi bibir Naruto, itupun hanya untuk menyingkirkan sisa remah-remah nasi yang masih menempel di tepi bibir Naruto, tidak ada pikiran kotor apapun. Okelah memang Sasuke melakukannya dengan tampang yang agak mesum, oops... ralat! Sangat mesum! Hingga akhirnya Naruto dengan senang hati menghadiahi Sasuke dengan bogem mentah dan tatapan horor.

Dan karena kejadian itu, Naruto terus-menerus mendiamkan dan menjauhi Sasuke, hingga sukses membuat Sasuke kalang kabut karenanya.

Saat itu butuh waktu berminggu-minggu untuk Sasuke berusaha meyakinkan Naruto, hingga akhirnya Naruto mau kembali bersikap biasa lagi terhadap Sasuke, itupun setelah diiming-imingi dengan 'ramen gratis sebulan'.

Tiba-tiba pikiran buruk mulai menyerang akal sehat Sasuke, di otaknya mulai bermunculan dugaan-dugaan yang sangat ingin disangkalnya.

'Jangan-jangan Dobe...,' batin Sasuke, 'Jangan-jangan dia juga suka pada Sai!' tebaknya.

Sasuke berusaha keras menyangkal dugaan itu, 'Tidak mungkin!' sangkal Sasuke dalam hatinya, 'Tidak mungkin!' teriaknya tetap dalam hati, ditundukkan kepalanya seraya meremas-remas rambut hitam kebiru-biruannya dengan penuh putus asa.

'Tidak mungkin!' Sasuke terus-menerus merapalkan dua kalimat tersebut dalam hatinya, seakan-akan itu adalah sebuah doa yang manjur.

'Aargh... sial!' erang Sasuke frustasi, hingga tiba-tiba tanpa disadari Sasuke, tangannya telah menggebrak mejanya dengan keras, hingga sukses membuat seluruh penghuni kelas memalingkan wajah mereka ke arah Sasuke dengan tatapan terkejut bercampur heran.

Sasuke langsung merutuki tindakannya barusan setelah menyadari seluruh pasang mata di ruang kelasnya itu sedang mengarah padanya.

"Ada apa, Sasuke?" tiba-tiba Kakashi angkat bicara.

Sasuke segera menatap kepada Kakashi namun belum juga menjawab pertanyaan yang barusan telah dilontarkan Kakashi pada dirinya saking syoknya.

"Ehm..., Sasuke?!" panggil Kakashi.

Panggilan Kakashi menyadarkan Sasuke, "Maaf, Kakashi sensei, saya sedang tidak berkonsentrasi pada pelajaran!" akunya.

Kakashi langsung sweatdrop mendengar pengakuan murid kebanggaan Konoha High School yang satu ini, 'Apa cara mengajarku sebegitu membosankannya, hingga Sasuke saja sampai tidak berkonsentrasi pada pelajaran?' batin Kakashi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit jengkel, 'Meski sudah bertahun-tahun mengajar, sepertinya aku belum pantas disebut sebagai Guru Terbaik,' batinnya lagi.

Kakashi langsung pundung di pojokan kelas dan tangannya mencorat-coret di lantai, seraya menangis lebay dalam hatinya, Sasuke merasa bersalah karenanya, "Maafkan saya, Kakashi sensei! Saya tidak akan mengulanginya lagi!" kata Sasuke kemudian.

"Ya, sudah!" kata Kakashi yang telah kembali seperti semula, membuat murid-muridnya cengok melihat kelakuan guru mereka yang agak ajaib itu, "Kalau begitu, sebagai hakumannya, tolong kamu kerjakan soal yang tertulis di white board ini sekarang juga, Sasuke!" perintah Kakashi pada Sasuke.

Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke langsung berdiri dari tempatnya duduk, dan berjalan ke depan kelas tanpa ekspresi mencoba menutupi kekesalan dan kegelisahan hatinya saat ini. Kemudian segera mengerjakan soal yang dimaksud oleh Kakashi. Tidak butuh waktu yang lama bagi Sasuke untuk menyelesaikan soal tersebut.

Kakashi kembali menggaruk kepalanya ketika menyadari kekeliruannya dalam menentukan hukuman untuk Sasuke. Sasuke termasuk murid pintar dan jenius di Konoha High School ini. Jangankan hanya sekedar tidak memperhatikan pelajaran, bolos sekolah berhari-hari sekalipun Sasuke pasti masih bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal dengan baik.

"Sudah selesai, Kakashi sensei!" ujar Sasuke setelah menutup dan meletakkan spidol yang digunakannya untuk menjawab soal yang diberikan.

Kakashi segera bangkit dari lamunannya, mengkoreksi pekerjaan Sasuke, kemudian berbalik menatap Sasuke setelahnya dan meminta Sasuke untuk kembali ke tempat duduknya, "Bagus, Sasuke! Kalau begitu, kembalilah ke tempat dudukmu, dan lain kali jangan kau ulangi lagi!" kata Kakashi sambil tersenyum dibalik maskernya.

Dan lagi-lagi dengan tetap memasang tampang stoic kebanggaannya, Sasuke kembali ke tempatnya semula di tengah berbagai macam tatapan yang dilemparkan seluruh penghuni kelas terhadapnya.

Sasuke berusaha untuk tidak melayangkan pandangannya ke satu arah dimana ada Naruto yang terus-menerus menatap ke arahnya, Sasuke tidak sanggup meski sebenarnya dia menyadari hal tersebut.

Namun sepertinya tubuh Sasuke mengingkari dan menolak perintah yang dikirimkan oleh otaknya. Hati Sasuke berdesir saat dirinya mendapati bola mata biru langit itu benar-bnear tengah menatapnya dengan... cemas.

Sesungguhnya Sasuke tidak suka melihat mendung itu bergelayutan disana, namun lagi-lagi ingatan tentang kejadian dan segala pikiran buruk yang sedari tadi membuatnya pusing kembali menari di pelupuk mata Sasuke, hingga sifat angkuh Sasuke kembali berkuasa dan membuatnya membuang muka ke arah lain.

Namun yang didapatinya meskipun hanya sekilas saja, ternyata Sai juga tengah meliriknya dengan bola mata onyx yang sama dengan milik Sasuke dan seringaian puas yang nampak di wajah Sai saat ini membuat hati Sasuke semakin sakit.

'Kamu berhasil, Sai!' batin Sasuke.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Sasuke kembali berbalik ke depan kelas, membuat kelas itu menjadi gaduh tidak terkendali.

Kakashi langsung berusaha untuk menenangkan murid-muridnya

"Ada apa lagi, Sasuke?" tanya Kakashi ketika Sasuke telah berdiri di hadapannya, dalam hatinya sedikit bingung dengan kelakuan muridnya yang tidak biasa ini.

"Saya mohon ijin untuk beristirahat di Ruang Kesehatan, Kakashi sensei!" jawab Sasuke.

Kakashi mengamati Sasuke sejenak, hingga akhirnya, "Sepertinya memang lebih baik kalau kamu beristirahat saja di sana, Sasuke! Kamu tampak tidak sehat." kata Kakashi yang mulai sedikit khawatir.

"Terima kasih, Kakashi sensei!"

Sasuke sedikit membungkukkan badannya, sebelum akhinya dia berlalu dari hadapan Kakashi menuju ke arah pintu kelas tanpa menoleh lagi pada Naruto yang sedari tadi terus menatapnya dengan cemas.

.

.

Bersambung

.

.

Peace en Love

CHUBBY CHU