Title : Die, Decay and Vanish
Author : Ulqui Schiffer / Seiran Akari / Cielo Vespertilio
DoC : Friday, August 28th, 2009
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rating : 13+
Characters :
1. Zeno © Ulqui Schiffer
Author's Note : The last but not the least~ Yak, ini chapter terakhir.. Dijamin jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya~ Syalalalala... Dengerin lagu RIP = RELEASE by Megurine Luka sambil baca omake ini juga enak =]]

Final Chapter.

When the sun lose its radiance, when the sky lose its shade, when a master lose his power. What can I do? The sun turn into a dark black ball, the sky tun into a blazing shelter, a master turn into a weak ant. What can I do? Nothing at all. What do I have to do? Nothing at all. What shall I do? Sit properly and waste my time uselessly.. Is it just those things? Yes, and at the end... My world will crumble into zero.. At the same time, my existence will be meaningless..

Zeno, seorang murid kelas 11 yang telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya karena sebuah kecelakaan yang sangat tragis. Kini duduk sendiri di pinggir jendela melihat pemandangan sekitar. Matahari yang berada di puncak, langit yang sangat luas tanpa awan. Hal biasa, semuanya biasa, tak ada yang spesial sedikit pun.. Hal ini berulang-ulang setiap hari seumur hidup sampai akhirnya masuk ke liang kubur.

Sebenarnya, hal yang diperhatikan Zeno hanyalah sekuntum bunga yang sedang mekar di pinggir jendela. Tentu saja bunga tersebut ia yang tanam. Siapa juga yang rajin untuk mengurus, merawat dan memperhatikan sekuntum bunga yang malang itu selain dirinya? Tak mungkin ada, mereka semua sibuk dengan masalah mereka masing-masing dan terlalu membesar-besarkan masalah mereka ataupun merumitkan masalah mereka. Haah... Menyusahkan...

Lebih baik aku tak pernah ada, lahir, bernafas, menapakan kaki di dunia yang kejam ini. Jika hidup di dunia ini begitu menyakitkan, mengapa aku harus berada di bawah langit dan di atas tanah yang sama dengan yang lainnya? Jika hanya aku dapat menemukan secercah harapan.. Mungkin tak masalah...

Zeno selalu berpikir bahwa dirinya adalah orang termenyedihkan, tersengsara, terburuk di muka bumi ini. Memang di atahu banyak orang tyang tak seberuntung dirinya yang memiliki kejeniusan, kecukupan, ketampanan dan sebagainya. Namun, hatinya selalu merendahkan dirinya sendiri, apa yang harusnya ia perbuat? Mengapa harus berbuat itu? Melelahkan..

Dunia itu indah. Bohong.. Hidup adalah sebuah anugrah. Pembohong.. Masih dapat bernafas merupakan kebahagiaan. Palsu.. Sebenarnya apa yang benar? Mengapa apa yang dikatakan orang-orang mengenai dunia ini begitu meyakinkan, dan juga berkebalikan dengan apa yang kurasakan? Mereka pasti berbohong, semuanya itu adalah palsu. Aku tak percaya akan hal itu.

Setiap orang hanya yang lewat pasti menyapa Zeno dengan senyum teramah mereka. Namun apa yang dirasakan Zeno tak seperti apa yang ia tampilkan. Di luar yang terlihat hanyalah senyum palsu yang mengatakan bahwa ia merupakan manusia terbahagia sejagat alam raya. Palsu tetap saja akan selalu menjadi palsu, tak mungkin menjadi asli selamanya.

Padang rumput hijau tampak seperti gurun pasir coklat. Samudra biru tampak seperti kolam darah merah. Manusia adalah mayat hidup berjalan. Begitulah cara Zeno memandang kehidupan di buminya ini. Tak ada yang indah, tak ada yang mengesankan, sekelilingnya hanyalah daging bernyawa yang mampu berinteraksi dan bergerak. Tentu saja... Kata-kata itu berlaku bagi dirinya sendiri.

Saat bercermin.. Sosok yang terlihat adalah tengkorak yang berdiri dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari daging dan berhiaskan jubah yang terbuat dari tangis dan darah. Itulah sosoknya, semuanya palsu... Lagi-lagi perkataan hatinya bertolak belakang dengan orang lain. Apa yang dikatakan mereka? Zeno memliki anugrah wajah yang tampan dan tubuh yang atletis.

Bagaimana pun kehidupannya, itulah takdir hidup Zeno. Pahit memang, tapi ia harus bertahan bagaimana pun caranya, apa pun alasannya..

What will happen tomorrow? When will an incident happen again? Where will it be? How will it pass? Which will be the ending? I can only ask, no more, no less. When others desire truth the most, I desire fake the most. When others desire life the most, I desire dead the most. I will continue this endless race called life, this non-exit forest called life. Until I die, decay and vanish.

The End

The final of the story...