Page 1 – Before The War…

Peperangan.

Apa yang terlintas di pikiranmu tatkala mendengar kata itu?

Darah, air mata, kesedihan, kematian…

Sayangnya itulah yang terjadi diantara dua klan ini. Klan Sakaguchi dan klan Takashima. Ini adalah perang yang diwariskan leluhur mereka masing-masing. Tak ada yang tahu awal dari bencana ini. Namun mereka tahu akhir dari bencana ini.

Kehancuran Terakhir.

Itulah ramalan yang dijadikan dua bangsa ini sebagai takdir. Mereka percaya, suatu hari nanti akan terjadi peperangan terbesar yang akan mengakhiri perseteruan ini.

Pertanyaannya, kapan?

Sakaguchi Takahiro, Sakito.

Usianya baru 16 tahun saat seluruh keluarganya tewas dalam peperangan ke-4 melawan klan Takashima. Tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi pemimpin klan itu dengan alasan kekosongan pemerintahan.

Dendam. Itulah satu-satunya alasan mengapa Sakito setuju diangkat sebagai pemimpin. Demi membalas kematian keluarganya, ia rela melakukan apapun.

Apapun.

Takashima Kouyou, Uruha.

Hidupnya hanya ia habiskan untuk mencari cara mengakhiri perang ini, walaupun harus dengan menghancurkan seluruh peradaban disekitarnya sekalipun. Ia adalah sosok yang penuh dengan ideologi yang mengatasnamakan keadilan. Ia tak peduli meski harus dicap sebagai orang jahat sekalipun. Yang terpenting baginya adalah, semua berakhir dengan caranya.

A few days before the war…

Sebuah pagi yang cerah.

Sakito baru saja terbangun dari tidur lelapnya saat tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Haruskah ia diganggu sepagi ini? batinnya menggerutu.

"Sakito-sama." Kini namanya yang dipanggil. Sepertinya ada hal yang sangat penting, pikir Sakito.

"Ya," jawab Sakito datar. Digesernya pintu kamarnya yang kecoklatan itu, dan muncullah sosok Ruka, bawahannya.

"Maaf mengganggumu pagi-pagi begini," Ruka membungkukkan badannya. "Aku harus mengingatkanmu, nanti ada rapat untuk membahas strategi perang."

"Perang, eh?" Sakito terdiam sejenak. "Kenapa kita begitu senang berperang? Padahal kupikir lebih baik kalau kita berdamai."

"Yah, itu juga yang kuinginkan. Tapi klan Takashima tak pernah berhenti melancarkan serangan."

"Hmm, kau benar. Ya sudah, aku mau mandi dulu. Kuharap nanti kau juga ikut."

Ruka membungkuk lagi. "Baik, Sakito-sama."

"Satu lagi. Tak perlu pakai '-sama'. Cukup 'Sakito' saja," tutur Sakito singkat sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat ia dan Ruka berdiri.

Ruka hanya terdiam. Panggilan seperti itu sepertinya tak cocok, batin Ruka.

"Aku tak setuju jika kita menyerang langsung!"

"Kita harus memprioritaskan pertahanan!"

"Tapi penyerangan juga penting!"

Braakk!

Sakito menggebrak meja rapat. Wajahnya terlihat kesal. "Bisakah kalian diam!?"

"Sakito-sama…"

"Percuma kalau kita hanya berdebat!"

"Tapi, Sakito-sama, kita memang harus mulai melancarkan serangan balik," ujar Hitsugi, salah satu bawahan Sakito––bisa dibilang, setingkat Ruka.

"Hitsugi benar. Bertahan terus pun percuma," tambah Yomi.

"Bagaimana keputusanmu, Sakito-sama?" tanya Ni~ya.

"Heeh, kalian! Biarkan Sakito-sama berpikir dulu!" ucap Ruka tatkala ia melihat Sakito memegangi keningnya lantaran pria itu terlihat mulai tertekan.

"Tak apa, Ruka. Aku baik-baik saja."

"Jadi bagaimana?" Ni~ya bertanya lagi.

"Bagiku yang terpenting adalah, kita harus mengirim seseorang untuk mengawasi daerah perbatasan. Untuk memata-matai mereka," jelas Sakito.

Semuanya terdiam. Mereka terlihat sedang berpikir keras. Beberapa diantara mereka sudah terlihat saling mengangguk satu sama lain, pertanda mereka setuju. Termasuk Yomi, Hitsugi, Ruka, dan Ni~ya.

"Tapi siapa yang mau melakukan tugas berbahaya ini?" tanya salah seorang peserta rapat.

"Aku. Biar aku dan Ruka." Sakito mempertegak posisi berdirinya.

"K-Kau yakin?"

"Tentu. Iya kan, Ruka?"

Ruka hanya mengangguk. "Apapun untuk mengakhiri perang ini."

"Tapi kalian butuh satu orang lagi yang memiliki kemampuan medis untuk berjaga-jaga," tutur Hitsugi.

"Tenang saja. Kekasihku bisa diandalkan," Sakito tersenyum santai.

Sudah sejak tadi mereka berempat mengendap-endap ditengah hutan belantara pemisah wilayah Sakaguchi dan wilayah Takashima. Sebenarnya wilayah perbatasan ini adalah tempat yang berbahaya. Hutan itu dihuni oleh banyak sekali binatang buas. Bukan hanya itu, kadangkala pada musim-musim tertentu kebut tebal yang menyesatkan akan muncul. Jika tidak berhati-hati, kabut itu justru malah akan membuat orang yang berjalan melaluinya terperosok kedalam jurang.

"Sakito, sebenarnya untuk apa kita masuk ke wilayah berbahaya seperti ini?" tanya salah seorang diantara mereka.

"Maaf melibatkanmu, Neeyu. Tapi ini adalah tugas pengintaian yang penting."

Gadis yang dipanggil 'Neeyu' itu pun menoleh kebelakang. "Lalu kenapa membawa adikku?"

"Ayu kan bisa menggunakan pedang, sementara kau sangat mahir dalam kemampuan medis."

"Oh, begitu." Neeyu tertawa kecil. "Yah, karena Sakito yang memintanya."

Mereka pun terus menuju wilayah perbatasan terdepan. Sakito dan Neeyu berlari didepan, sementara Ruka dan Ayu––adik perempuan Neeyu––mengikuti dibelakang.

Dua kakak-beradik itu memang hampir tidak pernah berada jauh dari sisi Sakito dan Ruka. Neeyu, sang kakak, ia memang lebih memilih bekerja didalam ruangan untuk meracik penawar racun dan menyembuhkan prajurit yang terluka ketimbang harus berlatih pedang di lapangan. Ia juga selalu memberikan persediaan obat dan penawar racun khusus untuk Sakito disetiap tugasnya.

Sementara Ayu, sang adik, seperti kebalikan dari sang kakak. Ia lebih suka menjemur dirinya di arena latihan. Berlatih pedang, panah, tombak, atau apapun yang bisa digunakan sebagai alat bertarung bersama orang yang paling disayanginya, Ruka.

Tiba-tiba Sakito menghentikan langkahnya. "Berhenti disini."

"Ada apa?"

"Aku mendengar suara seseorang… ah, tidak, sepertinya ada lebih dari satu orang."

"Klan Takashima-kah?" Ayu menempatkan tangannya di gagang pedangnya, bersiap menariknya.

Sakito pun melakukan hal yang sama. "Sepertinya begitu," jawabnya tatkala ia melihat dua sosok gadis dari klan Takashima.

"Kyon! Jangan jauh-jauh!" sahut salah satu diantara mereka. "Ingat, kita cuma akan mengambil daun beracun yang dibilang Ruki."

"Iya, aku tahu, Yuu! Paling-paling kalau kita telat, dia cuma akan mengoceh."

"Ah, kau ini!"

"Eh! Eh! Coba lihat…" Gadis yang bernama Kyon itu memetik sebuah bunga. "Ini bunga untuk pernikahanku dengan Reita-chan nanti! Hahaha."

"Ah, enak saja. Yang bagus itu untukku dan Kai! Hahaha."

Dari kejauhan, Sakito mengintai mereka. Ia memicingkan matanya. "Lihat itu. Seenaknya saja mereka bisa tertawa selepas itu!"

"Tenangkan dirimu, Sakito," ucap Neeyu.

"Akan kuhabisi mereka." Sakito menarik pedangnya. "Biar mereka tahu apa yang dulu kurasakan!"

"Sakito!"

Sakito melompat dari balik semak-semak tempatnya bersembunyi. Ia pun muncul tepat didepan tempat Kyon dan Yuu berdiri. Ditatapnya dua gadis itu dengan tatapan penuh amarah. "Suatu kebetulan bisa bertemu dua gadis cantik dari Takashima."

"Sakaguchi!?" Yuu begitu terkejut tatkala ia melihat sosok Sakito.

"Terkejut, ya!?" Sakito terkekeh sebelum akhirnya ia berlari menuju Yuu, menghunuskan pedangnya yang keperakan itu. "Hyaaahh!"

Ptaaang!

Sebuah pedang lainnya menahan laju pedang Sakito. Pedang yang tak lain adalah milik Ruka.

"Ruka!?" Sakito tersentak. "Apa yang kaulakukan!?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu!" Ruka terlihta marah. "Mereka tidak bersalah! Tidak bersenjata! Tanpa pertahanan! Dan kau ingin menghabisi mereka begitu saja, hah!?"

"Mereka TAKASHIMA!"

"Aku tahu! Tapi kau melakukan ini semata-mata hanya karena dendam!"

Sakito terdiam. Sementara itu Neeyu mengalihkan pandangannya pada Kyon dan Yuu yang masih terlihat ngos-ngosan. "Sebaiknya kalian pergi sekarang," ucap Neeyu.

Entah karena menuruti perkataan Neeyu atau bukan, mereka berdua pun lantas pergi meninggalkan tempat itu menuju kediaman mereka, kediaman Takashima.

"Bagus! Berkat kau aku tak jadi menghabisi mereka! Dan setelah ini Takashima pasti akan segera melancarkan serangan lagi!" ucap Sakito kesal. Ia pun melangkahkan kaki-kakinya, mencoba meninggalkan tempat itu.

"Kau egois, Sakito!"

Perkataan Ruka barusan sukses membuat Sakito bertambah murka. Sakito pun membalikkan badannya. "Coba ulangi kata-katamu tadi!?"

"EGOIS! Kau mementingkan dendammu diatas segala-galanya!"

"Ruka! Sudahlah! Hentikan!" Ayu terlihat mulai panik.

Sakito pun menarik keluar kembali pedangnya, menantang Ruka untuk bertarung. Dan Ruka pun seakan mengerti maksud dari gerak-gerik Sakito. Ia lantas menarik pedangnya. Tatapannya pada Sakito pun seketika berubah.

Sampai akhirnya…

"COBA SAJA KAURASAKAN PENDERITAANKU!" Sakito berlari menuju Ruka. Dihunuskannya pedangnya itu tanpa ragu-ragu.

Ptaaang!

Pedang mereka beradu lagi.

"SAKITO!" Neeyu yang panik berusaha berlari kearah dua pria yang tengah bertarung itu. Sementara Ayu hanya tertegun menyaksikan yang terjadi.

Sakito berlari lagi menuju Ruka. Kali ini lebih cepat dan bersungguh-sungguh. Ruka yang hampir kehabisan serangan pun mengeluarkan serangan terakhirnya. Ia berlari, bersiap menyambut Sakito. Diangkatnya tinggi-tinggi pedangnya itu, dan akhirnya pedang itu ia hempaskan ke tanah, dan…

DHUUAAARRR!

Disaat pedang itu membentur tanah, seketika tempat mereka berdiri langsung hancur, membuat Sakito, Ruka, bahkan Neeyu terpental jauh. Kepala Neeyu terantuk batu dan ia pingsan. Sementara Sakito dan Ruka terlempar ke tepi jurang.

Sesaat pertarungan mereka terhenti, namun akhirnya Sakito bangkit kembali, dan disusul dengan Ruka. Dan tanpa pikir panjang lagi, Sakito kembali menyerang Ruka.

Ptaaang!

Pedang mereka beradu untuk yang ketiga kalinya. Suara desisan pedang mereka yang bergesek pun terdengar begitu jelas, dan seiring itu juga mereka––khususnya Ruka––makin terdorong kearah jurang.

"Hah, hah, hah." Nafas Ruka mulai terengah-engah, sementara tangannya masih mempertahankan pedang yang melindunginya dari terjangan pedang Sakito.

"Aku tak peduli apa posisimu dalam klan Sakaguchi, tapi melindungi orang-orang Takashima… adalah tindakan yang sangat kubenci!"

Sakito melompat menjauhi Ruka, mengatur nafasnya. Dan setelah sedikit dari kekuatannya kembali, ia berlari lagi menuju Ruka dengan sisa-sisa tenaganya, melancarkan serangannya untuk yang terakhir kalinya.

"HIYAAAHH!"

Braakk!

Tepi jurang yang terjal itupun runtuh ke sungai yang ada dibawah jurang itu, membawa serta Ruka yang berdiri diatasnya. Sakito dan Ruka sama-sama terkejut. Terlebih lagi Ayu yang menyaksikan pemandangan mengerikan itu dari kejauhan. Lidahnya tak mampu berkata-kata tatkala ia melihat Ruka terjatuh kedalam jurang itu.

Ia berlari sekuat tenaga, secepat yang ia bisa menuju tepi jurang yang runtuh itu. Dan ketika ia sampai…

"RUKAAAAAAAAA!"

Sosok Ruka yang tengah menjulurkan tangannya menghilang dibalik kabut yang menutupi jurang itu. Dan sosoknya pun menghilang seutuhnya. Terjatuh kedalam jurang. Sakito yang masih terengah-engah pun tak kalah terkejutnya.

"Ru-Ruka!?"

Seketika Ayu dan Sakito saling menatap. Pikiran mereka sama-sama melayang, sampai akhirnya Ayu yang lebih dulu tersadar mulai berteriak histeris. Ia menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Sementara Sakito hanya bisa tertegun dengan sejuta perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya.

"Maafkan aku… Aku tidak tahu kalau…"

"DIAM! Kau pembunuh!" umpatnya. "Kau! Kau bahkan tak lebih dari mereka! Klan Takashima!"

"Tunggu, a-aku benar-benar menyesal."

"Tidak…!" Ayu terisak. "Tidak akan kumaafkan! TIDAK AKAN PERNAH KUMAAFKAN!"

Gadis itupun langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu. Air matanya masih terus berlinangan. Entah kemana ia akan pergi, tapi Sakito tahu pasti Ayu takkan pergi menuju wilayah Sakaguchi. Sakito berniat mengejarnya, namun kakinya yang terluka tak memungkinkannya untuk berlari. Akhirnya ia hanya bisa terduduk lemas diatas kedua lututnya.

Sayup-sayup suara kesedihan terucap dari mulut para hadirin pemakaman. Foto Ruka terpampang jelas dihadapan mereka semua. Langit pun seolah ikut meneteskan air mata tatkala hujan turun ditengah prosesi pemberian hormat terakhir untuk sang prajurit, Ruka.

"Aku benar-benar bodoh," ujar Sakito lirih.

Yomi tertunduk. "Kacau."

"Parahnya, Ayu justru melarikan diri," ujar Hitsugi. Ia mengalihkan pandangannya pada Neeyu yang berdiri di sudut lapangan. "Kasihan dia."

"Kita harus menangkapnya sebelum ia mencapai wilayah Takashima," usul Ni~ya.

Yomi yang mendengarnya pun spontan menjadi marah. "Bisa-bisanya kau berkata begitu!"

"Bagaimanapun, ia bisa saja membocorkan informasi tentang kita pada Takashima!"

"Sudahlah! Jangan berdebat lagi! Setelah ini klan Takashima mungkin akan menyerang kita lagi! Yang terpenting kita harus berjaga-jaga dengan pasukan!" ujar Hitsugi.

Tiba-tiba Sakito menoleh kearah mereka berempat. "Bisakah kalian barsikap hormat pada Ruka!?" Sebuah tatapan sinis pun terlukis dimatanya.

Ayu baru saja terbangun dari tidurnya saat ia tersadar kalau ia tak sedang berada didalam kastil kediaman Sakaguchi, melainkan kediaman Takashima. Ia baru teringat akan kejadian kemarin, saat ia bertemu kembali dengan Kyon setelah ia melarikan diri dari Sakito.

"Kau? Kau temannya yang tadi menyerangku dan Yuu kan?"

Ayu hanya terdiam. Tertunduk.

"Hei! Jawablah!"

"Aku ingin menjadi bagian dari Takashima," jawab gadis itu dengan raut wajah memelas.

"Apa!?"

"Aku telah terlanjur membenci bangsaku."

Lalu tiba-tiba Ruki dan Reita, bawahan Uruha dari klan Takashima datang.

"Kyon, sedang apa kau disini?"

"Reita? Oh, aku hanya sedang melintas di hutan."

Lalu pria yang satunya lagi––Ruki––menoleh kearah Ayu. "Siapa dia? Temanmu?"

"Dia Sakaguchi."

"Apa!?" Reita bersiap menarik keluar pedangnya.

"Tunggu. Dia ingin bergabung dengan kita."

"Cih. Aku tak sebodoh itu untuk percaya," ucap Reita.

"Aku bersungguh-sungguh. Aku akan sepenuhnya berpihak pada Takashima."

"Oh ya? Apa buktinya?"

"Silakan bunuh aku jika menurutmu gerak-gerikku mulai mencurigakan." Tatapan gadis itu seolah menunjukkan sebuah kesungguhan. Dan tak dapat dipungkiri lagi, Reita dan Ruki pun akhirnya mempercayai Ayu untuk bergabung dengan Takashima.

"Kami pegang kata-katamu." Reita memasukkan kembali pedangnya.

Yah, ternyata dunia ini sempit, batin Ayu.

Satu lagi malam yang dingin di wilayah Takashima. Seluruh pemukiman memang sudah gelap karena kegiatan para penduduk sipil biasanya terhenti pada malam hari. Kecuali Uruha, Reita, Ruki, Kai, dan Aoi yang memang sedang melakukan rapat strategi rahasia.

"Sepertinya kau harus mempertimbangkan kembali rencana gilamu itu, Uruha-sama," ujar Kai, sang pemanah terbaik klan Takashima.

"Kenapa? Memangnya ini meragukan?"

"Bukan begitu." Kini Aoi yang berpendapat. "Hanya saja rencanamu untuk meledakkan bendungan itu…"

"…bisa memusnahkan peradaban seluruh klan kan?" sela Ruki.

"Memang itu rencananya. Kalian tahu, terkadang untuk menciptakan dunia yang baru itu diperlukan pengorbanan," jawab Uruha. Dan jawaban itu sukses membuat keempat partnernya terdiam.

"Kurasa kau benar," tutur Kai.

"Ya. Kalau dipikir-pikir, toh nanti hanya akan tersisa prajurit-prajurit yang terkuat kan?" Reita menambahkan.

"Tentu. Kurasa aku setuju denganmu, Reita," ucap Aoi.

"Tapi bukankah itu hal yang kejam? Mengorbankan rakyat sendiri?" Ruki terlihat bimbang.

"Ah, Sobat… Kau ini berlebihan." Uruha menepuk pundak Ruki.

"Sudahlah, Ruki. Coba pikir. Nantinya juga Uruha akan memberikan kemenangan pada kita, klan Takashima," ucap Kai.

"Kai benar. Akan kuberikan kemenangan pada Takashima. Disaat seluruh klan Sakaguchi tenggelam dalam banjir dari bendungan itu, maka kita… klan Takashima yang tersisa, akan menjadi satu-satunya yang bertahan! Yang terkuat!"

"Tentu saja!" Aoi bersemangat. "Jadi bagaimana, Ruki? Katakan kalau kau setuju."

Ruki pun terdiam. Berpikir sejenak. Memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi. Hingga akhirnya, tak lama kemudian ia menemukan sebuah jawaban…

"Baiklah, kalau begitu. Seperti rencana Uruha tadi. Kita serang Sakaguchi besok fajar."

Senyum pun terkembang di wajah Uruha.

Hari penyerangan pun tiba. Uruha mengerahkan seluruh prajurit terkuatnya dibawah pimpinan Aoi. Kai dan Reita berturut-turut berada digaris depan, sementara Ruki menjaga kastil kediaman Takashima. Dan Uruha menunggu untuk memberi komando pada pasukan perbatasan untuk meledakkan bendungan pada tengah hari nanti.

"Semuanya! Bergerak menuju wilayah Sakaguchi!" Aoi pun menggerakan pasukannya yang terdiri dari ribuan samurai dan pemanah itu.

Kembali, sebuah senyuman pun terukir di wajah Uruha tatkala ia melihat pasukan terkuatnya itu bergerak menuju perbatasan.

"Kehancuran Terakhir… ditakdirkan hanya untuk klan Sakaguchi…"

To Be Continued…