Ok... fanfic pertamaku dalam cerita Naruto. Silakan menikmatinya...

Disclaimer : Cerita Naruto bukan milikku, karena kalau cerita ini milikku maka dua karakter yang aku tidak suka pasti sudah mati sekarang. Yeah... pergi kau Danzou... Madara...

The Hidden Techniques

Ditulis oleh sakuraaimier

-0-

-0-

Chapter 1 : Prolog

Merah...

Tangis...

Darah...

Begitu banyak mayat yang berserakan. Mereka... mereka adalah pahlawan. Ninja yang berkorban demi desanya. Perang yang melanda lima besar desa tersembunyi yang merenggut ratusan nyawa ninja-ninja itu. Perang yang membuat banyak orang-orang menangis kehilangan orang yang disayangi. Perang yang membuat desa-desa dalam keadaan kacau.

Benci...

Benci sekali pada perang itu.

Perang itu telah merenggut harapan banyak orang. Membuat mereka hidup dalam ketakutan sehingga mereka tak bisa tidur dengan nyenyak.

-0-

Seorang wanita legendaris berdada besar memandang pemandangan desanya yang terlihat hidup dengan nyaman. Orang-orang biasa terlihat gembira dalam menghadapi cuaca yang cerah saat itu padahal baru saja kejadian tragis melanda desa mereka. Ya... 4 bulan tidaklah lama apabila kita melihat apa peristiwa yang terjadi. Penyerangan Otogakure dan Sunagakure yang menyebabkan jatuhnya banyak korban termasuk Hokage yang tengah memimpin saat itu, Sandaime Hogake yang terbunuh oleh tangan bekas muridnya sendiri. Tsunade tersenyum miris mengingat kenangan indah yang dimiliki timnya saat ia, Jiraiya dan Orochimaru masih dibawah pimpinan Sarutobi, sang Hokage ketiga. Ya... waktu itu Orochimaru masih merupakan murid genius kesayangan Sarutobi dan tentu saja rival ninja paling mesum senegeri api, begitu yang diakui ninja tersebut. Namun nyatanya, murid genius itulah yang mengkhianati desa konoha dan juga membunuh guru yang dulu sangat membanggakannya.

Ngomong-ngomong tentang Orochimaru, Tsunade juga teringat tentang salah satu orang dari klan Uchiha yang masih hidup, Uchiha Sasuke. Ia baru saja terdaftar sebagai C-Class Missing Nin dengan tingkahnya yang kabur menuju tempat Orochimaru. Tim yang dikirim untuk membawanya kembali gagal menjalankan misi. Ia masih teringat laporan dari Kakashi yang menyatakan bahwa ia menemukan Naruto pingsan di Valley of The End. Setelah semua anggota tim dirawat di rumah sakit, ia mendapatkan murid baru yang ironisnya merupakan anggota terakhir dari tim yang bermasalah itu. Tsunade tersenyum tipis membayangkan sejarah yang terulang kembali. Tim Kakashi mempunyai nasib yang mirip dengan nasib timnya. Ia hanya berharap agar masalah mereka tidak lebih parah dari masalah timnya.

Tsunade bergerak menuju pintu dari tempatnya semula. Ia hampir saja melupakan murid barunya itu. Saat ini dia telah menjadwalkan dirinya untuk melatih Sakura agar ia bisa menjadi medic-nin sesuai yang ia inginkan agar ia dapat membantu dan melindungi orang-orang yang ia sayangi. Ia yakin Sakura pasti mendapatkan gelar itu karena ia adalah berlian yang masih belum diasah. Dengan latihan yang super duper keras pasti akan membuat Sakura menjadi kunoichi yang kuat dan mungkin ia dapat melebihi Sannin tersebut.

Tsunade tersenyum ketika ia melihat Sakura yang sedang membaca buku tentang pengobatan. Kesungguhan gadis berambut sesuai dengan nama itu tersebut terpancar dari matanya yang bagaikan emerald. Dia pasti akan menjadi berlian yang sangat indah, pikir Tsunade sambil tersebyum kecil. Menyadari adanya orang yang mengamatinya, Sakura menengadahkan kepalanya melihat senyum kecil yang menghiasi wajah awet muda wanita legendaris itu. Malu karena tidak menyadari kehadirannya, Sakura segera berdiri dari sofa empuk sambil menutup bukunya setelah membatasi halaman yang ia baca.

"sh-Shishou, konnichiwa," sapa Kunoichi muda tersebut.

"Konnichiwa. Kau begitu semangat ingin berlatih ya, Sakura," ucap Tsunade.

"Iya, Shishou."

"Baiklah... ikuti aku, Sakura," perintahnya.

"Baik, Shishou."

Sakura bergegas berjalan tepat dibelakang gurunya. Mereka berjalan melewati koridor dan beberapa anak tangga hingga sampai pada sebuah ruangan di mana di dalamnya penuh dengan berbagai macam tanaman. Di dekat sana terdapat dua ruangan yang hanya dibatasi oleh kaca. Satu ruangan merupakan sebuah laboratorium (A/N: apa penulisannya benar? Aku sudah lama tidak menggunakan kata itu) dan ruangan yang lain mempunyai dua buah rak besar berisi penuh dengan buku dan gulungan kertas dan juga terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang digunakan untuk membaca. Sakura tahu... sesuai janji masternya, mereka akan mempelajari mengenai pengobatan racun.

"Pertama-tama kau harus membaca buku-buku tersebut yang mengenai racun di ruang membaca. Selanjutnya nanti kita akan melihat tanaman tersebut dan mempelajari secara langsung," perintah Tsunade sambil menatap saksama wajah semangat Sakura.

"Baik, Shishou," ucap Sakura sambil bergegas menuju ruang membaca dengan Tsunade yang mengikuti muridnya. Ia memandang Sakura yang sedang menyapu pandangannya ke judul-judul buku yang ada, mencari buku yang kira-kira menarik baginya. Akhirnya, kunoichi muda tersebut mengambil salah satu buku tua bersampul coklat dan membacanya di tempat yang telah tersediakan. Tsunade melirik judul buku tersebut dan membaca tulisannya "Tumbuhan di Negeri Api". Tsunade tersenyum mengingat itu adalah salah satu buku favoritnya. Ia melirik ke rak buku, kemudian mencari buku atau gulungan kertas yang ia anggap menarik, hingga ia melihat seebuah gulungan kertas bewarna kelabu kecoklatan seperti pasir dengan kanji 'pohon' dan 'air' yang berdampingan. Tsunade mengambil gulungan kertas itu dan memandangnya sambil bernostalgia. Di pikirannya, terdapat bayangan seorang gadis berambut hitam pekat dan bermata biru bagaikan es.

-0-

Perang...

Tumpahan darah yang membasahi tanah coklat. Ninja-ninja dari berbagai macam desa bertarung demi kehormatan desa asalnya sendiri. Demi melindungi desanya, tanah airnya dari keegoisan negeri lain yang ingin merebut tanah kesayangan mereka. Mereka bertempur di perbatasan Amegakure. Banyak yang menjadi korban, entah itu dari Konoha, Kiri, ataupun dari penduduk Ame itu sendiri.

Perang...

Rasa darah yang tak sengaja jatuh ke lidah begitu tidak mengenakkan. Baunya yang pekat dan lengket membuat orang yang menciumnya menjadi mual.

Seorang pemuda bermuka pucat memandang kedua anggota timnya dengan wajah sedikit panik.

"Kita harus mundur ke Konoha. Berpencar agar musuh kesulitan mengejar kita," teriaknya.

"Bagaimana dengan yang lain?" teriak salah satu teman setimnya.

"Mereka juga sama seperti kita. Mundur ke Konoha. Kita terlalu banyak kehilangan ninja. Kita sudah kehabisan chakra. Musuh juga terlihat sudah kelelahan, mungkin mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kau pasti tau itu, Jiraiya." teriak pemuda pucat itu. Jiraiya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan rivalnya itu.

Jiraiya melirik ke anggota terakhir timnya, satu-satunya wanita yang ada. Pakaiannya sedikit compang-camping, tubuhnya banyak terdapat luka, darah di sana-sini terutama pada baju bagian perut dan celananya, wajahnya terlihat sangat lelah. Namun satu yang membuat Jiraiya meringis dalam hati adalah wajah Tsunade yang penuh dengan linangan air mata, dan jiwanya itu seakan-akan telah mati dari dalam. Ia tahu bagaimana pedihnya perasaan Tsunade saat ini, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di dalam dadanya itu.

"Kau tidak apa-apa, kan Tsunade?" tanyanya dengan khawatir. Tsunade hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya dan seketika Jiraiya tahu kalau senyum itu adalah palsu.

"Mari kita berpencar," ucap Orochimaru. Tiga orang itu langsung berlari berpencar. Namun,satu tujuan mereka telah pasti, Konoha.

Konoha... tujuannya... rumahnya..

Namun, di dalam hati gadis itu, rumahnya tersebut telah hancur.

Tsunade berlari dengan kencang melewati pohon-pohon tinggi yang menjunjung tinggi. Setelah beberapa lama, ia berhenti di sebuah pohon yang sangat besar untuk beristirahat. Ia masuk ke dalam lubang pada pangkal akar-akar pohon yang begitu besar sehingga menyerupai gua. Tubuhnya begitu lelah, darah yang berasal dari luka telah mengering. Ia merasa sangat ngantuk.

Tsunade memanggil sedikit chakranya untuk menutup luka yang agak dalam pada lengan kirinya. Tapi, ia merasa sulit melakukannya. Aliran chakra dalam tubuhnya terasa kacau balau. Ia mengutuk dirinya akan kebodohannya yang tidak segera menyadari kalau dirinya terkena racun. Tapi... kapan ia terkena racun. Seingatnya, ia tidak terkena racun sama sekali. Pertama kali Tsunade menyadari lingkungan di sekelilingnya. Ia merasa asing dengan tempat itu. Ia tidak merasa mengenal tempat di mana ia berada.

Dimana aku? Pikir Tsunade. Ia menghela napasnya, sepertinya ia tidak akan pernah sampai ke Konoha. Ia tersesat tanpa ia sadari. Ia kelelahan, chakranya kacau, dan juga terkena racun. Ia merasa kalau batas waktunya datang begitu cepat. Namun, Tsunade hanya tersenyum kecil. Mungkin baginya mati itu tidak apa-apa. Dengan kematian itu, mungkin ia bisa bertemu dengan Dan. Ia merindukan wajah tampannya yang sedang tersenyum, ia juga merindukan tawa Nawaki yang dengan penuh percaya diri berkata kalau dia akan menjadi Hokage seperti kakeknya.

Dan... Nawaki... tunggu aku... kita pasti bertemu, pikirnya sebelum ia kehilangan kesadaran.

-0-

-0-

"Shishou..."

"SHISHOU!"

Tsunade tersentak kaget mendengar teriakan Sakura. Ia mendapati dirinya di ruang membaca di greenhouse. Ia juga melihat wajah Sakura yang terlihat khawatir.

"Shishou... ada apa? Kau terlihat kelelahan, mungkin sebaiknya Shishou istirahat," ucap Sakura dengan nada cemas. Tsunade tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tenang.

"Aku tidak apa-apa, Sakura. Mungkin benar kalau aku sedikit kelelahan. Yah... gara-gara kertas-kertas yang tak ada habisnya," jawab Tsunade sambil membisikkan komentarnya dengan sebal. Sakura hanya tertawa geli mendengar gumaman Tsunade akan pekerjaannya. Siapa bilang pekerjaan menjadi Hokage itu mudah, pikir Sakura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia heran, kenapa Naruto begitu sangat menginginkan status menjadi Hokage. Ia hanya bisa membayangkan dengan geli wajah Naruto yang sangat stress melihat kertas-kertas bertumpuk di meja kerjanya menunggu untuk segera dibaca, atau Naruto yang diam-diam menyembunyikan stok ramennya, seperti halnya Tsunade yang sering menyembunyikan sakenya. Tapi Sakura yakin, di masa mendatang Naruto pasti dapat menjadi Hokage yang baik yang dipandang dan dihormati oleh masyarakat.

Tsunade melirik ke arah jam dinding yang ada di sana, lalu ia menatap Sakura yang perhatiannya kini beralih kembali ke buku yang ia sedang baca.

"Sakura... sudah sore. Kau boleh pinjam buku itu dan membawanya ke rumah. Besok mungkin akan aku ajarkan sesuatu yang lebih menarik daripada membaca buku tebal seperti itu," ucap Tsunade dengan lembut. Ia berdiri dari kursinya dan segera menaruh scroll-nya pada tempat semula. Sakura hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mendengar ucapan gurunya itu. Ia berdiri dari tempat duduknya yang lumayan nyaman dan segera menghampiri rak sambil memberikan suatu tatapan pada gurunya itu. Tsunade yang sedikit mengerti bahasa tubuh muridnya itu hanya menganggukkan kepalanya.

Tsunade segera bergerak keluar dari ruangan membaca meninggalkan muridnya yang sedang asyik memilih buku yang akan ia bawa pulang ke rumah untuk dibaca. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kecintaan muridnya terhadap buku. Sesaat sebelum ia keluar dari greenhouse, ia mendapati beberapa orang di dalamnya. Ia mengenal semua orang yang sedang merawat tumbuhan yang ada di sana, mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan dirinya ke dalam dunia racun dan pengobatan. Ia kemudian memfokuskan perhatiannya pada orang termuda yang ada di sana. Gadis yang ia perkirakan umurnya satu tahun dibawah Sakura sedang asyik memperhatikan tumbuhan yang ada di depannya sambil menulis pengamatannya pada buku catatan kecilnya. Gadis itu berambut coklat muda yang disanggul dengan rapi menggunakan senbon, matanya yang kini bewarna emas memperhatikan dengan lekat struktur daun di depannya.

"Hanatsu..." panggil Tsunade. Gadis itu menoleh ke arah Tsunade. Mata emasnya kini mulai menggelap digantikan oleh sepasang mata bewarna biru seperti laut yang dalam.

"Hai, Hokage-sama," jawabnya.

"Sekarang sudah sore, pulanglah. Kau bisa lanjutkan pengamatanmu besok," perintah Tsunade.

"Hai"

Tsunade kemudian bergerak keluar dari ruangan. Hanatsu segera membereskan pekerjaannya dan segera memasuki ruangan membaca. Sakura yang kini telah memilih beberapa buku mendapati gadis yang lebih muda darinya sedang mengambil sebuah buku tulis dari salah satu rak dan menulis sesuatu di dalamnya. Gadis itu menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan segera menoleh ke arah Sakura. Sakura segera tersenyum pada gadis itu setelah tertangkap basah menatap lama gadis itu. Ia segera keluar setelah mendapat balasan senyuman dari gadis tersebut. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, mencerca kebodohannya yang tidak menyadari bahwa di greenhouse tersebut terdapat orang selain dia dan Tsunade. Ia menahan kantuknya yang tiba-tiba datang menyerang. Mungkin berendam di air panas akan menghilangkan letih ini, pikirnya sambil berjalan.

-0-

-0-

End of Chapter.