Hai, para pembaca semua, selamat datang kembali di The Hidden Techniques, dengan saya, sang penulis yang telah menghilang tanpa jejak... :-( Dan kini saya berusaha kembali untuk melanjutkan cerita ini. Ini mungkin agak sedikit susah, mengingat cerita ini sudah ada setelah beberapa tahun yang lalu, dan dalam selang waktu tersebut pun muncul karakter-karakter yang kemungkinan bentrok dengan jalan cerita, yah apa boleh buat plot ceritaku ini yang sudah ada, mungkin akan saya ubah seperlunya. Selamat menikmati...

Disclaimer: I don't own or make the manga known as Naruto. I don't have the book too, can only read and watch the series...-;

The Hidden Techniques

by aimiera

Chapter 9 Sebelum Angin, Mempererat Tali

Sakura segera berlari menuju rumahnya. Kebetulan pada minggu tersebut, ia sedang menginap di rumah keluarganya. Ia terlalu rindu pada rumah tempat ia tinggal sebelum ia mengikuti ujian chuunin pertama. Saat Sakura mulai berlatih dibawah bimbingan sang Hokage, ia memutuskan untuk menyewa kamar apartemen yang murah agar dirinya bisa merasa hidup lebih mandiri-walaupun beberapa waktu saat ia senggang ia akan pulang untuk menginap di rumah keluarganya...terlebih lagi saat ayahnya sedang berada diluar konoha melakukan misi. Ia tidak ingin ibunya merasa sepi karena berada di rumah sendirian.

Setibanya di rumah tempat ia dibesarkan, tanpa basa-basi ia hanya menyapa sang ibu yang kebetulan sedang memasak menyiapkan makan malam. Haruno Mebuki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuan satu-satunya. Jika melihat dari gelagat gadis berambut pink itu, dan juga suara berisik dari kamarnya, sang ibu tahu bahwa sebentar lagi anaknya akan pergi untuk melakukan misi.

"Sakura, kapan nanti kau berangkat?" tanya sang ibu dengan suara yang keras.

"Besok, Bu."

"Pulangnya?"

"Kira-kira seminggu lagi, Bu."

Mebuki hanya menghela napas. Rumahnya kini akan menjadi sepi lagi. Memang biasanya rumah tempat tinggal keluarganya tidak selalu ramai, paling tidak rasanya tidak sehampa dengan kondisi rumah beberapa hari ke depan. Wanita berambut pirang itu tidak sabar menunggu kepulangan sang suami -yang statusnya sedang dalam misi juga, beserta kepulangan anaknya nanti.

Sakura muncul dari mulut lorong menuju kamarnya dan mendapati ibunya yang sedang memasang wajah melankolis.

"Kenapa, Bu?" tanya Sakura yang khawatir melihat kondisi ibunya. Mebuki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, Sakura. Ibu hanya merasa sepi saja."

Sakura hanya menampakkan senyum sedih, iba dengan apa yang dirasakan wanita berambut pirang. Ia kemudian teringat dengan satu kabar -yang sebelumnya ia terima namun sedikit terlupakan karena adanya tugas misi yang akan ia lakukan.

"Tenang saja, Bu. Besok Ibu tidak akan merasa kesepian," ucap Sakura sambil tersenyum lembut.

"Kenapa, Nak?"

"Aku baru dapat kabar kalau besok sore, paman Shirogane akan datang pulang ke Konoha."

Shirogane, sesuai dengan embel-embelnya, ia adalah paman dari Sakura. Ia merupakan kakak laki-laki dari Mebuki, yang dulunya merupakan Jounin dan kini menjalankan masa pensiunnya dengan berpetualang. Walau statusnya pensiun, ia sebenarnya masih berumur 40-an dan terlihat sangat segar bugar layaknya orang yang masih berusia 20-an. Sakura sangat dekat dengan Shirogane, dan Nami, istri dari Shirogane, karena kebetulan keduanya masih belum dikaruniai anak sehingga mereka selalu menganggap Sakura sebagai anak mereka sendiri. Ia ingat bagaimana saat ia masih kecil, ia selalu diajak pergi jalan-jalan ke luar desa, piknik bersama atau pergi ke taman bermain. Namun, saat ia masuk ke akademi, frekuensi kebersamaan dengan keluarga pamannya itu menjadi sedikit berkurang karena ia mulai disibukkan dengan tugas-tugas sekolah dan pada saat yang bersamaan Shirogane dan Nami mulai aktif melakukan kisah 'petualangan' mereka.

"Mereka sudah pulang rupanya," gumam Mebuki dengan lega, "Syukurlah dengan begitu, Ibu jadi punya teman ngobrol. Jadi penasaran...cerita apa yang akan mereka bawa, hm..." Sakura menarik napas dengan cepat mendengar gumaman tersebut, "Ibu... jangan membuatku iri. Aku juga mau mendengar cerita mereka."

Mebuki hanya tertawa pelan mendengar ucapan gadis berambut pink tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tenang saja, mungkin kau akan dengar cerita mereka setelah pulang dari misimu itu."

"Ibu hanya membuatku lebih tidak sabar saja," gumam Sakura membuat Mebuki mengacak-acak rambutnya.

"Sakura...pastikan kau pulang dengan selamat, ya," bisik wanita berambut pirang tersebut. Sakura memegang tangan hangat sang ibu sambil memberikan senyuman yang menenangkan.

"Tenang, Bu. Aku janji aku akan pulang dengan selamat," balas Sakura sebelum ia menarik tangan ibunya dan berjalan menuju dapur.

"Ayo, Bu. Sakura akan bantu Ibu."

...

Tepatilah janjimu, Nak.

Ibu... ibu tidak mau kehilangan anak ibu satu-satunya...

-o-

"Tumben kau datang menemuiku sendirian. Apalagi sebelum kau pergi menjalankan misi."

Funsui Hiiro menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan pemuda, yang memunggungi dirinya, di depannya. Ia menghela napas. Harga dirinya sebagai jounin tergores bila semudah itu ia terdeteksi oleh genin. Nah, tapi siapa sih orang yang bisa mengendap-endap atau bersembunyi dari genin itu- oke kalau bersembunyi sih...pernah berhasil, tapi itu tetap saja merupakan hal yang sangat langka. Bagi Hiiro, untuk seorang genin, pemuda itu terlalu waspada.

Dan...dari mana dia tahu kalau ia akan pergi menjalankan misi?

"Aku hanya ingin tahu kondisi Suna."

Pemuda di depan Hiiro memutar dan kini mereka berdiri berhadap-hadapan. Suasana hening menyapu training ground tempat mereka berada sebelum pemuda berambut pucat itu memberikan seringai tipis.

"Dan kau bertanya padaku yang hanya seorang genin?" tanya pemuda itu. Matanya yang hijau kini mengeluarkan kilatan yang sangat dikenal Hiiro. Pemuda berambut hitam pekat itu hanya menghela napas. Jemari tangan kanannya bergerak untuk memijat dahinya. Ia sedang tidak mood menghadapi masalah yang biasanya selalu terjadi.

"Aku tidak tahu kenapa statusmu masih genin," gumam Hiiro sebelum ia sedikit mengeraskan suaranya, "Tentu saja aku tanya karena kau orang yang menurutku paling telaten dalam mengumpulkan informasi. Lagipula, baru-baru ini kau ada misi di daerah sana, kan."

"Baiklah...jadi yang kau ingin tanyakan itu kondisi Sunagakure atau Kaze no Kuni secara umum?"

"Hm... Misiku itu mengantarkan pedagang ke Sunagakure, tapi kurasa lebih baik aku ingin mengetahui kondisi keseluruhan Kaze no Kuni," jawab Hiiro. Genin itu pun mulai terdiam sebelum ia menghela napas. Dengan nada yang tak kalah datarnya dengan yang biasa digunakan Hiiro, ia menjawab apa yang ia ketahui pada pemuda berambut bagaikan arang tersebut.

"Mungkin kau sudah tau kalau Kaze no Kuni itu..."

-o-

Kaze no Kuni saat ini memiliki ekonomi yang perlahan-lahan mulai meningkat. Tapi adanya peningkatan ekonomi ini bukan berarti tingkat keamanan di sini semakin baik. Menurut pengamatanku, suasana di sana sama seperti sebelumnya. Bahkan bisa lebih buruk.

Kenapa, katamu? Di Kaze no Kuni baru-baru ini ditemukan tambang batu alam yang menjadi batu favorit para bangsawan. Sehingga banyak pedagang yang ingin mendapatkan batu ini untuk dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi pada bangsawan yang tinggalnya jauh dari sana. Dan kau tahu sendiri kalau tenaga keamanan disana masih belum pulih,kan...

Dengan banyaknya pedagang yang berlalu lalang... bukankah hal itu menggiurkan bagi para perampok? Jadi itulah mengapa kau harus mengantisipasi bahwa kau akan menemui banyak perampok saat menjalankan misi.

Hmm... Hokage-sama memperingatkanmu mengenai ninja lain... tentu saja, kau kira pedagang lain tidak mempunyai pikiran yang sama dengan klien misimu kali ini? Mereka tentu tahu akan resiko melakukan perjalanan ke sana. Kurasa untuk ninja lain kau tidak perlu khawatir... hanya saja, kau lebih baik mengantisipasi adanya missing nin.

-o-

Adanya kemungkinan missing nin...pikir Hiiro sambil memikirkan informasi yang baru ia terima. Ia kemungkinan melirik secarik kertas yang ia terima sebelumnya. Di dalam sana berisi sekumpulan informasi 'menarik' yang kemungkinan akan ia perlukan. Pemuda berambut hitam itu pun kemudian menghelas napas.

Orang itu... bagaimana ia bisa mendapatkan informasi sedetil itu? Padahal ia hanya seorang genin. Dan kenapa juga ia masih berstatus genin, pikir Hiiro sebelum ia mengingat pembicaraan yang terjadi sebelumnya.

flashback

"Ah iya, Hiiro-san"

"Hm?"

"Pertanyaanmu sebelumnya... Statusku masih genin karena aku sama sekali tidak pernah ikut ujian chuunin."

"...tidak pernah...aku yakin itu bukan karena ia tidak punya kesempatan..."gumam Hiiro datar sebelum ia berkata pada sang informan, "Aku yakin jika kau ikut ujian chuunin kau pasti bisa lolos dengan baik."

Pemuda bermata hijau itu tersenyum tipis, "Tentu saja... "

"Tapi aku sedikit merasa kasihan dengan orang yang menjadi timmu," komentar Hiiro dengan sedikit iba. Pemuda itu menatap Hiiro dan menunjukkan senyuman lebih lebar dibandingkan sebelumnya. Entah mengapa Hiiro merasa seperti melihat suatu pertanda yang 'kurang baik'.

"Tentu saja, Hiiro-san... tentu saja..."

end of flashback

Perasaan itu kembali muncul lagi. Ia cepat-cepat menghapus perasaan tersebut, ia masih ada misi yang harus ia jalani. Jadi ia harus fokus terhadap misi yang akan ia hadapi nanti, bukan berpikir akan maksud senyuman dari pemuda bermata hijau tua itu.

"Hii-kun, kau sudah selesai beres-beres?" tanya adik kembarnya tiba-tiba dari belakang Hiiro. Hiiro menoleh, menatap sang adik yang sudah terlihat siap dengan pakaian ninjanya yang sudah terlipat rapi-mungkin yang akan dipakai gadis itu besok. Ia juga terlihat menenteng tas punggung hijaunya yang tentunya berisi perlengkapan yang telah disegel dalam scroll penyimpanan. Di lengan kecil miliknya tergantung jubah yang nantinya akan ia kenakan untuk melindungi tubuhnya dari cuaca dalam perjalanan.

"Hampir, Hikari," jawab Hiiro sambil menghela napas. Gadis itu hanya menaikkan sebelah alis matanya melihat respon sang kakak. Ia memiringkan kepalanya sambil menatap kakaknya dengan pandangan penuh tanya. Hal itu diacuhkan oleh Hiiro yang lebih memilih untuk menyelesaikan persiapan yang ia lakukan. Melihatnya, Hikari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sebelum ia bergerak untuk menaruh barang-barangnya di ruang tengah, meninggalkan kakaknya yang berada di dalam kamar.

"Aku keluar dulu, Hii-kun," ucap Hikari sambil menengokkan kepalanya ke dalam kamar Hiiro. Hiiro hanya melambaikan tangannya tanda ia mendengar ucapan Hikari. Hikari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak tahu kenapa ia bisa bersaudara kembar dengan Hiiro. Menurutnya Hiiro itu kurang terbuka. Ia tidak tau, bagaimana keadaan Hiiro bila dirinya tidak ada. Mungkin, pemuda berambut hitam itu akan menjadi ninja yang anti sosial, yang sering melakukan misi sendirian dan hanya berada di rumah untuk membaca bila sedang senggang.

Gadis berambut arang tersebut menghela napas. Ia kemudian menatap ke sekelilingnya. Ia pun merekam suasana di sekitarnya ke dalam memorinya dalam-dalam. Pemandangan yang tidak akan ia lihat mulai besok selama seminggu ke depan. Tanpa sadar, kakinya pun melangkah menuju gerbang raksasa desa Konoha. Dalam perjalanan ke sana, ia menangkap sosok gadis yang mulai ia kenal yang kini sedang duduk di salah satu bangku yang menghiasi jalan menuju gerbang Konoha.

"Sakura-chan~" panggil gadis tersebut dengan riang.

Sakura mendelik dan menatap sang ninja medis berlari kecil menghampirinya. Sang senior terlihat begitu bersemangat berbeda dengan sikapnya yang malas-malasan saat berjalan menuju kantor Hokage sebelumnya.

"Hikari-senpai" sapa gadis berambut pink tersebut. Hikari menghentikan larinya saat ia telah berada di depan Sakura. Ia tersebyum lebar sedikit memamerkan giginya yang putih sebelum bertanya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Sakura-chan?"

"Duduk..."

*siinggg...

"Eh... tentu aku tahu kau sedang duduk, Sakura-chan..."

Sakura hanya tertawa pelan. Sebelum menundukkan kepalanya malu-malu.

"Aku sedang menikmati diriku..." bisiknya pelan namun tetap terdengar oleh gadis berambut arang tersebut, "Aku merasa...aku harus menikmati semua ini sebelum aku merindukannya saat misi nanti. Bagiku, satu minggu merupakan waktu yang cukup lama, mengingat akhir-akhir ini aku jarang melakukan misi di luar Hi no Kuni."

Mendengar jawaban dari sang junior, Hikari membelalakkan mata kucingnya yang hitam berkilau. Ia tidak menyangka bahwa Sakura melakukan hal yang sama dengan dirinya. Dengan senyum lebar, Hikari segera memegang erat lengan Sakura. Ia baru saja mendapatkan ide yang bagus. Ia akan mengajak juniornya jalan-jalan untuk terakhir kalinya sebelum mereka melakukan misi mereka.

"Ayo kita pergi, Sakura-chan~"

"A..ah...tunggu, Senpai... Jangan terlalu keras menarik tanganku..."

"^v^"

-o-

"Aa... Lihat, Sakura-chan...lihat... itu teman misi kita nanti,"

Gadis berambut coklat yang diikat dikedua sisi kepala seperti model telinga panda tersebut, berhenti sejenak dari cuci mata melihat senjata-senjata berkilau yang biasa ia lakukan. Ia menoleh dan mendapati dua kunouichi yang sebelumnya ia temui di kantor Hokage. Sang ninja medis berambut hitam itu terlihat sedang berjalan cepat menuju dirinya sambil mengayun-ayun tangan gadis berambut pink yang terlihat kewalahan menyamai langkah gadis hyper active tersebut.

"Sore, Sakura-san...Funsui-san," sapa gadis berambut coklat tersebut.

"Sore, Tenten-san," balas Sakura. Walaupun gadis dengan model rambut panda juga menyapanya, gadis hyper active yang kadang sedikit pemalas itu hanya cembetut mendengar sapaan Tenten. Lebih tepatnya nama yang Tenten gunakan saat menyapanya.

"Mou... Tenten-chan... kenapa Sakura-chan dipanggil Sakura-san, sedangkan aku Funsui-san. Itu tidak adil...panggil aku Hikari. Hi-ka-ri."

Tenten memandang Hikari dengan sedikit bingung. Apa ini sikap seorang chuunin yang juga seorang ninja medis? Di hadapannya, ia seperti tidak melihat ninja, melainkan seekor kucing yang mengeong meminta ikan. Sangat serasi, apalagi dengan bentuk mata gadis itu yang begitu mirip dengan mata seekor kucing. Gadis berambut seperti panda itu melirik sebentar ke arah gadis yang terperangkap juga dengan gadis kucing tersebut. Sakura yang merasakan lirikan dari Tenten hanya membalas dengan tatapan 'Turuti saja kata-katanya'.

"Hm... baiklah, Hikari...senpai?" ucap Tenten dengan ragu-ragu. Hikari tersenyum lebar mendengarnya, walaupun ia lebih memilih dipanggil Hikari-chan... nama itu terdengar lebih imut dibandingkan Hikari-senpai. Mendengar dirinya dipanggil senpai membuatnya merasa sedikit menjadi tua.

"Hikari-senpai...hm...masih lebih bagus daripada Funsui-san," gumam Hikari sebelum ia memberikan senyuman terang pada dua genin bersamanya.

"Oke...mari kita jalan-jalan," seru seorang Funsui Hikari sebelum ia menarik lengan kedua juniornya. Sakura dan Tenten pun mau tak mau menghela napas, pasrah dengan nasib mereka. Paling tidak, mereka akan menikmati saat-saat mereka berada di Konoha sebelum berangkat ke Suna keesokan harinya.

-o-

Waktu kini sudah mulai gelap. Seorang genin berambut pink tersenyum sambil melangkah pulang menuju rumah keluarganya. Walaupun ia 'dipaksa' pergi berkeliling dengan 'korban' satunya lagi, ia merasa bahwa sore itu merupakan sore yang menyenangkan. Apalagi dengan komentar yang diucapkan sang chuunin tersebut.

Nikmati saja, sebelum kau menghadapi bagaimana sunyinya misi berada ditangan Hii-kun...dan merasakan dinginnya tatapannya saat kita melakukan hal yang 'tak pantas' dilakukan saat misi...

Dari sana juga ia mendapat kabar bahwa misi yang akan mereka lakukan merupakan misi terakhir bagi Tenten dan Neji yang akan mengikuti ujian chuunin yang dilaksanakan di Suna pada dua minggu mendatang. Rencananya, sepulang mereka ke Konoha, tim mereka akan berkumpul untuk melakukan latihan yang suuuper duper intensif dibawah bimbingan Gai-sensei. Saat ditanya keberadaan Gai-sensei dan Lee. Tenten menjawab bahwa keduanya sedang naik gunung dan berlatih agar tubuh Lee dapat kembali pada kondisi semula pasca operasi yang ia jalani. Awalnya Neji dan Tenten juga diajak untuk pergi bersama mereka, namun ia menolak dengan halus mengatakan bahwa Gai-sensei harus lebih fokus pada kondisi Lee agar ia bisa kembali berada dalam kondisi prima dengan lebih cepat, sebelum mereka melakukan latihan sebagai tim dan kemungkinan mereka menjadi chuunin akan menjadi lebih besar. Namun, Sakura tahu bahwa itu sebenarnya hanyalah alasan karena Tenten sudah terlalu stres menghadapi duo pengguna taijutsu berspandeks hijau tersebut.

Ya...bisa dibilang begitu, sih... tapi, aku tidak ingin perhatian Gai-sensei terpecah...lagipula saat ini Lee lebih membutuhkan perhatian penuh dari Gai-sensei. Oleh karena itu aku dan Neji-kun sepakat untuk menolak ajakan mereka. Ini demi kebaikan Lee dan juga untuk kebaikan tim kami.

Neji yang itu, katamu... haha sekarang dia sudah mulai berubah...tidak seperti yang kau lihat saat ujian chuunin dulu. Aku sangat berterima kasih pada teman se-timmu yang sudah menyadarkannya. Kini, dia sudah menjadi lebih tenang..tidak sedingin dulu...walaupun kemampuan bersosialnya masih perlu ditingkatkan sih...

Kudengar, banyak dari teman angkatanmu juga ikut pada ujian chuunin berikutnya. Benarkah itu?

Hm... jadi kondisi Hyuuga-chan masih belum sepenuhnya membaik. Kau tahu, Neji-kun merasa sangat bersalah atas kejadian itu. Dia berusaha dengan keras memperbaiki kesalahannya itu..

Aku juga senang mendengar bahwa mereka menjadi lebih akrab... Sebagai saudara, mereka harusnya seperti itu, bukan menunjukkan seperti ada perang dunia saja...

Sakura tersenyum mengingat obrolan yang ia lakukan bersama dengan gadis yang lebih tua satu tahun darinya. Hikari juga ikut nimbrung bercerita tentang ujian chuunin yang ia telah lakukan. Betapa sulitnya ia ketika ia tak hanya satu tim dengan kembarannya yang pendiam, juga dengan orang, yang menurut sang chuunin, sama es batunya dengan Hiiro bahkan lebih. Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya berada pada posisi Hikari. Mungkin ia bisa stress karena ia seakan-akan tidak mendengar tanda kehidupan di sekitarnya. Tenten yang mendengar cerita itu, hanya menimpali bahwa ia tidak tahu kondisi mana yang lebih buruk, kondisi timnya atau tim Hikari saat tersebut sebelum ia mengingat bahwa timnya kini lebih baik daripada sebelumnya.

Melihat sang gadis bersurai pink yang masuk ke dalam rumah dengan tersenyum memberikan sedikit kebahagiaan pada sang ibu yang menyambutnya. Sinar mata sang anak perlahan-lahan mulai kembali setelah kehilangan cahayanya pada saat anggota timnya tersebut pergi meninggalkan Konoha. Mebuki sama sekali tidak mau lagi melihat cahaya tersebut memudar dari mata anaknya. Ia berjanji bahwa ia akan berusaha agar hal itu tidak terulang kembali.

Yang terpenting sekarang...Sakura telah kembali seperti dulu, pikirnya sebelum ia mengajak sang anak untuk makan malam bersama-sama.

-o-

Kita berdiri pada saat ini. Melangkah menuju masa depan, dengan dorongan dari masa lalu.

Aku berdiri di sini, dengan hati yang hampa... Tak kuasa untuk melangkah lagi menuju masa depan, dimana masa lalu bersamamu mengikatku dengan erat.

Aku hanya terpaksa berjalan ke depan. Tidak ingin aku meninggalkanmu yang terkubur pada masa lalu.

Maafkan aku yang telah meninggalkanmu, tapi aku mempunyai seseorang yang bergantung padaku...

Keponakanmu...satu-satunya yang tersisa dari keluargamu.

Melihatnya seperti melihat diriku yang tak memiliki keluarga lagi.

Ia masih sangatlah muda namun telah kehilangan...

...

...

Dan-kun...maafkan aku... kau harus menunggu lebih lama lagi. Kini, banyak yang bergantung padaku.

Kini, akulah Hokage...posisi yang dulu kau...dan Nawaki inginkan.

Kuharap, kau dan Nawaki mau memberikan kekuatan pada wanita lemah sepertiku.

Masa laluku bersama kalian berdua dengan harapan-harapan akan masa mendatang menjadi penopangku untuk terus berjalan.

...

- Suara hati Tsunade sebelum dan sesudah menjadi Hokage.

-o-

End of Chapter 9

Author's note

Selesai sudah chapter 9 ini. Sebelumnya, aku berencana agar chapter ini berisi mengenai misi mereka ke Suna. Dengan diperkenalkannya keluarga Sakura, walau hanya pada movie dan anime saja, membuatku ingin memperdalam hubungan yang ada di sekitar Sakura.

Pada chapter ini, aku mengeluarkan sedikit adegan Sakura dengan keluarganya, terlihat dari judul chapter "Sebelum Angin, Mempererat Tali". Jujur, tadinya aku tidak berencana memberikan judul chapter. Tapi setelah melihat bahwa aku memberi judul pada chapter sebelumnya, membuatku memeras otak mencari judul untuk chapter ini. Jadi, muncullah judul tersebut.

Sebelum Angin - Angin= Kaze=Kaze no Kuni..

Pada bagian terakhir, aku menyelipkan suara hati Tsunade. Isinya itu tercetus saat aku sedang iseng menggambar (setelah sekian lama) Sakura yang memunggungi Naruto dan Sasuke. Aku menganggap bahwa saat ini Sakura mencoba untuk keluar dari bayang-bayang timnya tersebut untuk menjadi ninja yang kuat. Ini bukan berarti ia akan melupakan kedua teman setimnya, melainkan untuk fokus maju ke depan dengan memori mereka bertiga sebagai penyemangatnya...

Terima kasih sudah membaca chapter ini. Maaf jika ada kesalahan dalam tata bahasa, penceritaan dsb. Silakan tulis pada review bila ingin memberikan komentar. Semoga dapat bertemu lagi secepatnya di masa mendatang..

-aimiera