Yugi Kiss

Fandom : Yu-Gi-Oh!

Story by :

Yuuri Uchiha-Namikaze. Terinspirasi dari komik berjudul 'Lilim Kiss'

Rate : T. ada adegan ciuman.

Disclaimer:

Yu-Gi-Oh! © Kazuki Takahashi

Summary:

AU. Yami Atem, menjalani kehidupannya seperti biasa, sampai datang makhluk cantik nan manis di kehidupannya.

Warning:

OOCness, GAJEness, GARINGness, SHOUNEN-AI! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!

Have a nice read and hope you enjoy it! (^u^)

0o0o0o0[Chap. 1 Munculnya Yugi!]0o0o0o0

SMA Putra Domino. Pagi hari.

Seorang lelaki berseragam pelajar SMA sedang berjalan dengan santainya. Rambut jabriknya yang memiliki tiga warna menari-nari ditiup angin lembut. Matanya yang tajam dan bermata merah ruby melihat-lihat sekelilingnya. Sepi, tentu saja. Dia datang ke sekolahnya kelewat pagi. Sambil menghirup udara pagi, dia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut angin sejuk yang menerpanya.

TAK. GUBRAK!

"AUUCH!"

Ternyata dia kurang hati-hati. Dia baru saja tersandung oleh sesuatu yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan terjerembab ke tanah. Sungguh malang nasibnya.

"Duh! Apaan sih ini!" serunya sambil mengambil sesuatu yang menjadi tersangka 'kecelakaan' tadi. "He? Kalung?" dilihatnya lagi benda itu. 'Indah. Ukirannya juga bagus. Sayang banget sih, tapi… gue buang aja! Nggak butuh!' dengan sekuat tenaga dia membuang kalung itu jauh-jauh, dan berjalan lagi seperti biasa. 'Untung nggak ada yang liat tadi. Mau ditaruh di mana muka gue kalau ada yang liat!'

Siang hari. Sepulang sekolah.

"Mati kau!"

BAK! BUK! BAK! DESH! GUBRAK!

"Uwaaah! Mamoru!" para preman itu segera menghampiri teman mereka yang sudah babak belur. Padahal temannya itu membawa pisau lipat. Tapi harus kalah dengan seorang anak SMA yang hanya menggunakan tangan kosong.

"Heh, makanya jangan berani-berani menantangku lagi! Dasar pengecut!" seru anak SMA itu. Mata merah rubynya menatap rendah orang-orang di hadapannya sambil tersenyum sinis. Para preman itu ketakutan dan langsung mengangkat teman mereka menjauh darinya.

"Che, payah." Anak SMA itu mendengus kesal, merasa tantangan yang didapat kurang memuaskan. Karena merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, dia mengambil tas dan pergi menuju rumahnya.

Ternyata perjalanan ke rumah pun mendapat gangguan. Seekor burung gagak yang kebetulan membawa sebuah kalung yang sempat dilempar oleh anak SMA itu dengan paruhnya terbang melintas di atasnya. Entah dengan sengaja atau tidak, tepat di atas anak itu, paruhnya terbuka dan mengakibatkan kalung itu jatuh tepat di atas kepala si rambut bintang.

"AUUCH!" pemuda itu memegang kepalanya yang menjadi korban kejatuhan. Dicarinya sesuatu yang menyebabkan benjol di kepalanya, dan dia melihat kalung itu lagi.

"Geeh! Dasar kalung aneh! Huh, lebih baik kubawa saja! Biar dia nggak nyakitin aku lagi!" serunya sambil memutar-mutar kalung itu pelan dan membawanya pulang.

Masuk ke rumah, ganti baju, bongkar tas, kerjakan PR. Hal yang sangat rutin dilakukan oleh pemuda rambut bintang ini, atau kita sebut saja Yami Atem. Seorang pemuda SMA kelas satu yang sudah banyak ditakuti orang—bahkan ada yang dengan berani (atau bodoh) menantangnya untuk berkelahi. Tetapi dia tidak hanya kuat dalam fisik, melainkan juga otaknya yang sangat encer. Wajahnyapun jangan ditanya. Tidak ada seorangpun yang berani melawan ketampanannya. Bahkan kalau dia mau, panggung hiburan pasti sudah dia kuasai. Sayangnya dia lebih memilih hidup sebagai pelajar yang normal saja. Dia tinggal sendiri di rumah peninggalan orangtuanya. Ya, ayah dan ibunya telah tiada. Yang mengurusi biaya hidupnya hanyalah sepupunya, Seto Kaiba. Meskipun biaya hidup bisa dengan mudah dipenuhi oleh sepupunya yang kaya raya itu, terkadang dia mengambil kerja sambilan. Dia tidak ingin terlalu merepotkan orang banyak, terutama sepupunya sendiri.

"Haah… saatnya kerjakan PR!" serunya. Kemudian dia mengambil pensil, buku tugas dan buku pelajaran, menaruhnya ke atas meja belajar, lalu segera menulis tugas-tugasnya. Dengan otak encernya, tugas itu bisa dia selesaikan dengan cepat dan rapi. Rapikan, siapkan buku untuk besok dan selesai sudah. Sekarangpun dia sudah bisa tidur walaupun hari masih sore.

'Oh ya, kalung itu…' segera dia ambil kalung unik itu dan diamatinya sebentar. 'Apa ini? Kok seperti ada tutupnya?' dengan sedikit tenaga, dia menarik tutup itu dan…

BUUSH!

Muncullah asap putih nan lebat dari sana. Betapa kagetnya Yami ketika melihat sesosok makhluk cantik di balik kepulan asap itu. Rambutnya yang hampir sama dengan rambut Yami, pakaiannya yang (ehem) minim—dia hanya memakai celana pendek hitam di atas lutut dan baju you-can-see yang juga berwarna hitam untuk membalut tubuh mungilnya. Wajahnya yang polos dan kulitnya yang terlihat halus benar-benar seperti malaikat. Mata Yami benar-benar terpana dengan pemandangan di depannya.

'Dia… cantik sekali… manis… imut… benar-benar… malaikat…' batin Yami kehabisan kata-kata. Makhluk di depannya benar-benar memukau. 'Tapi dia… cowok…? Bagaimana bisa cowok semanis ini…?'

KLAP.

Mata pemuda manis itu terbuka, menampilkan bola mata yang indah berwarna amethyst yang benar-benar memukau. Yami terlonjak kaget sampai termundur. Pemuda manis itu bangun, wajahnya pucat. Tangan mungilnya memegangi perutnya, wajahnya terlihat kesakitan.

"Aa… hei…" pemuda itu menoleh ke arah Yami dan sedikit bergumam. Walaupun suaranya kecil, Yami masih bisa mendengar suara yang sangat indah itu. Ragu-ragu Yami mendekati pemuda manis itu. Pemuda itu masih memegangi perutnya seraya menahan sakit.

"Ada apa? Kau terlihat sakit…" tanya Yami. Pemuda manis itu tersenyum lembut, membuat jantung Yami loncat-loncat tidak jelas.

"Aku… lapar…"

"Oh, sebentar kuambilkan makanan." Belum sempat Yami melangkah, tangannya ditahan oleh pemuda manis itu.

"Jangan… pergi…"

"Eeh… aku hanya—hmmph!" pemuda manis itu langsung loncat ke tubuh Yami dan mencium bibirnya. Yami terjatuh karena kaget. Pemuda manis itu berada tepat di atas tubuh Yami dan masih mencium bibir Yami dengan lembut. Entah kenapa, tubuh Yami tidak bisa bereaksi. Rasanya tenaganya menghilang perlahan-lahan.

"Aaaakh! Gawat! Aku memakan terlalu banyak!" seru pemuda itu. "Duuh… apa dia mati ya…? Jangan dong…" dia menepuk pipi Yami lembut. Kemudian dia memeriksa denyut nadi Yami. "Fiuuhh… syukurlah dia nggak mati…" gumamnya pelan. Takut membangunkan Yami yang kelihatannya sudah pingsan.

"Uuugh… apa yang… kau lakukan…?" ternyata Yami masih sadar. Dia memegangi kepalanya yang pusing dan berusaha bangun dengan susah payah. Pemuda manis itu sedikit kaget, kemudian tersenyum lembut, sukses membuat Yami hampir jatuh pingsan. "Kau pasti… melakukan sesuatu..."

"Ehehe, ya…" pemuda manis itu duduk bersimpuh di samping Yami yang masih kewalahan untuk bangun. "Aku menghisap sumber kehidupanmu." Jawabnya.

"Sumber… kehidupanku…?"

"Ya, dengan kata lain, tenagamu. Tapi kau hebat juga ya. Tenagamu kuat, kayak kecoa." Komentar pemuda itu. Kemudian dia berdiri sambil meregangkan badan. "Hyaaah~ senang sekali rasanya bisa bebas~! Terkurung di sana benar-benar membuatku lapar. Makanan kali ini pun belum cukup." Dia berjalan menghampiri meja belajar Yami, mengobrak-ngabrik sebentar dan tersenyum mendapati sebuah buku alamat dan telepon.

"Ma… mau apa kau… ugh…" Yami masih kelelahan. Tangannya tak sanggup lagi menopang badannya dan diapun terjatuh. "Juga… siapa kau sebenarnya…?"

"He? Aku mau mencari makan lagi. Sudah lama sekali aku tidak makan." Pemuda manis itu memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi, bersamaan dengan terbentangnya sayap kelelawar di punggungnya. Yami benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Pemuda manis itu membuka jendela dan bersiap terbang. "Oh ya, namaku Yugi, salam kenal." Kemudian dia terbang ke langit yang mulai gelap.

"Yugi… kuharap kita bisa bertemu lagi… dasar pencuri. Sudah mencuri first kiss-ku, hatiku juga diambil. Sial!" seru Yami sedikit kesal. Kemudian tanpa menutup jendela, dia tertidur pulas saking kelelahannya.

"Hmm… makanan tadi enak juga…"

Yami POV

Aneh sekali. Kenapa di lorong ini banyak bercak darah? Bahkan ada beberapa mayat yang bergelimpangan. Ada apa ini? Gawat! Kelasku!

Aku segera berlari melewati lorong berbau darah itu menuju kelasku. Firasatku benar-benar tidak enak. Dan apa yang sedang kulihat benar-benar di luar dugaanku. Di dalam kelas, bercak darah di mana-mana, Ryuuji di atas meja, dan pemuda manis bernama Yugi itu tepat berada di depan Ryuuji dengan wajah kaget melihatku. Kemudian dia pergi dan aku…

"Gaaah!" Hooh, thanks God. Hanya mimpi. Ya, mimpi yang mengerikan. Yugi… pemuda manis itu yang…

Tidak, tidak, tidak! Itu hanya mimpi! Jangan terlalu dianggap serius, ok. Just relax.

Bangun, rapikan tempat tidur, mandi, pakai baju dan selesai. Tinggal ambil tas dan segera pergi, tapi ada perasaan aneh mengganjal. Firasat buruk. Apa jangan-jangan menyangkut Yugi ya? Oh ya, kalungnya! Segera kuambil kalung Yugi itu. Hmm… mungkin inilah yang bisa mengurungnya. Aku harus menyimpannya. Tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengurungnya.

Walaupun harus membuat hatiku sangat sakit.

Aku masuk kelas yang… sangat sepi. Padahal ini sudah pukul 07.00. Seharusnya jam segini anak-anak lain sudah pada datang. Kok yang datang hanya aku dan Ryuuji si anak aneh saja?

Guru pun datang. Yaah, aku bisa menduga pasti guru itu kaget melihat kelas yang hanya memiliki dua orang murid..

"Kelas apa ini?! Kemana murid-murid yang lain?!" aku hanya bisa mengangkat bahu—toh aku memang tidak tahu. Tetapi si Ryuuji bilang semuanya izin. Heh? Izin secara bersamaan? Bagaimana bisa?

Jam istirahat pun sangat sepi di kelasku. Aku memakan bento yang kubeli di kantin. Enak juga sih kalau sepi begini. Tiba-tiba Ryuuji datang ke mejaku dengan raut wajah serius. Firasatku mengatakan bahwa apa yang akan dikatakan orang-aneh-suka-baca-buku-sihir tidak akan jauh-jauh dari mimpiku. Hei, apa hubungannya?

"Atem, ehm langsung saja ya, apa tadi malam kau bermimpi bertemu dengan pemuda manis bersayap kelelawar yang hampir mirip denganmu?" JLEB. Pertanyaan yang sangat kukhawatirkan ternyata justru malah dia tanyakan. Oke, Yami. Tenang, sepertinya dia mau ngomong lagi. "Tadi pagi, beberapa orang menelponku dan meminta izin tidak sekolah hari karena kelelahan. Begitu kutanyakan kenapa, jawaban mereka hampir sama, di dalam mimpi mereka melihat pemuda cantik dan manis tersenyum, kemudian menarik sesuatu dari dalam tubuh mereka, seketika itu juga mereka menjadi lemas."

"Memangnya kenapa kalau aku bilang tidak."

"Eerr… ya… hanya bertanya saja… soalnya aku juga bermimpi seperti itu, tetapi di dalam mimpiku kau muncul dan pemuda itu pergi begitu saja." Aku kaget mendengar penjelasannya. Bagus, sekarang malah tambah menjadi rumit. Lagipula di mana Yugi sekarang?

"Hei Atem, kau percaya tentang iblis? Mungkin saja pemuda itu adalah iblis yang menghisap tenaga dari korbannya!" Ryuuji mengatakannya dengan semangat membara. Aku sudah tahu kalau dia itu… apa? Iblis? Ehm, mungkin saja sih. Tapi kurasa dia tidak akan membunuh manusia. Sebagai gantinya dia malah akan menyusahkan manusia itu. Bagus sekali, Yugi.

"Hei! Ada apa itu? Kok ramai sekali di luar?" Aku melihat apa yang ditunjuk Ryuuji. Ada apa di bawah pohon sana? "Aku ingin lihat!" Ryuuji segera keluar kelas. Pasti dia melewati tangga. Cuma dari lantai dua sih loncat aja.

Aku benar-benar penasaran apa yang terjadi di sana. Aku loncat dari jendela kelasku dan mendarat dengan mulus. Tinggal berlari ke sana.

Normal POV

Yugi berdiri di sebuah pohon rindang sedang menunggu seseorang. Ternyata wajahnya yang cantik dan manis itu memikat banyak perhatian, tak terkecuali Hiroto Honda. Dia dengan berani mendekati Yugi yang sedang termenung.

"Hai imut. Kamu lagi nungguin siapa?" Honda mulai tebar pesona. Yugi hanya tersenyum mendengar ucapan Honda. Bukannya dia tidak mengerti, tapi dia lebih senang menunggu sambil istirahat ketimbang harus membalas ucapan Honda. "Duuh~ sombong banget sih nggak mau jawab. Daripada nunggu, mending sama aku aja yuk!" jari Honda mengangkat dagu mungil Yugi. Yugi merasa risih dan langsung melepaskan tangan Honda. Tapi cowok tanduk ini tidak menyerah. Digenggamnya tangan Yugi tanpa seizin pemiliknya. Yugi berusaha melepas, namun tenaga Honda jauh lebih kuat. "Ayolah~ sama aku aja ya? Nanti kita ke—"

BUAGH!

Pukulan Yami telak mengenai wajah Honda. Secara otomatis genggaman tangan Honda terlepas dari Yugi. Yami menunjukkan aura hitam di sekelilingnya, menandakan bahwa dia sangat marah. Yugi yang senang targetnya ketemu langsung memeluk Yami dari belakang.

"Waaay! Yami Atem yang duduk di kursi nomor 16! Akhirnya ketemu!" Yugi loncat-loncat sambil tetap memeluk Yami. Aura hitam di sekeliling Yami hilang seketika. Dengan cepat dia langsung menarik Yugi ke halaman belakang sekolah yang jauh dari kerumunan para siswa.

"Ngapain kamu ke sini?" Yami masih menggenggam tangan Yugi. Yugi kembali tersenyum lembut, dan jantung Yami otomatis harus olahraga extra.

"Ake mencarimu."

"Ya ya. Lalu, ada urusan apa kau mencariku?"

"Itu… apa ya…?" Gubrak! Hampir saja Yami terjatuh a la anime style.

"Ya sudah! Pulang sana! Kau di sini malah membuat orang-orang pada gila!" Yugi tertunduk lesu. Yami malah semakin cemas melihat malaikat—ehm, iblis manis itu menjadi lesu. Apa dia salah bicara ya?

"Aku… nggak punya tempat tinggal…"

"Ya sudah. Pulang aja ke kalungmu." Ups! Sepertinya Yami salah ngomong lagi. Mata amethyst Yugi langsung menatap Yami dengan tatapan 'Aku-ingat!'

"Oh ya! Aku datang mencarimu untuk meminta kalung itu! Cepat sini, berikan aku!" Yugi menadahkan tangannya tepat di depan wajah Yami. Tangan Yami segera mengambil kalung itu dari saku celananya dan menunjukannya pada Yugi yang matanya berbinar-binar. Tangan Yugi berusaha menggapai kalung itu, namun Yami yang kelewat tinggi sulit dijangkau.

"Hei! Berikan padaku! Cepat!" Yugi masih berusaha menggapainya, namun Yami malah mempertinggi tangannya sehingga semakin sulit dijangkau. Yugi yang sebal langsung menghentikan aksinya yang sia-sia itu. "Berikan padaku. Kalau tidak…"

"Kalau tidak apa, heh?" tanya Yami dengan nada menantang. Yugi cemberut—malah membuat wajahnya terlihat imut. Yami harus mati-matian menahan diri agar tidak langsung luluh dan menyerahkan kalung itu.

'Perutku sudah kenyang, tapi kalau nggak gitu… yah, nggak ada cara lain…' Yugi langsung loncat ke Yami dan dengan cepatmempertemukan bibir manisnya dengan bibir Yami. De javu, Yami terjatuh dengan Yugi di atasnya, yang masih mencium bibirnya. Tenaganya mulai menghilang perlahan-lahan.

"Gyaah! Aduh~ perutku sakit…" Yugi segera bangkit dengan kalung di tangannya. Yami masih tepar di tanah. Kemudian dengan susah payah, Yami menopang tubuhnya untuk sekadar duduk.

"Kau… lagi-lagi…" Yugi melirik Yami yang masih terduduk dengan wajah kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Huung~ biarpun enak, tapi kalau kebanyakan nggak enak juga ya…"

"Yugi…" Yugi menatap Yami lembut, tidak lupa dengan senyum manisnya. "Apa kau… makan lewat… ciuman…?" tanya Yami dengan sedikit lesu. Yah, siapa yang rela jika orang yang disayangi mencium banyak orang?

"Hng~? Tergantung. Kalau dia lagi tidur, aku hanya masuk ke dalam mimpinya saja." Yugi menjelaskannya dengan tenang. Tapi itu tidak membuat Yamu menjadi tenang.

"Jadi… sudah berapa orang yang kau cium….?"

"Entahlah… aku tidak ingat… aku tidak ingat apa-apa lagi setelah terlepas dari kurungan itu, kecuali namaku dan siapa sebenarnya aku. Itu saja."

Hening.

"Tapi sepertinya ciuman yang paling enak cuma dari Yami deh…" wajah Yugi berseri-seri. "Nanti aku datag lagi kalau sudah lapar. Daah…!" Yugi merebakkan sayapnya dan terbang ke langit biru. Yami benar-benar syok dengan pernyataan blak-blakan Yugi. Kemudian dia berusaha berdiri dan kembali ke kelasnya, dengan wajah memerah.

Di koridor sekolah.

Yami berjalan dengan gontai. Orang-orang melihatnya dengan aneh. Orang terkuat di sekolah jalannya kok seperti itu. Kalau saja mereka mengetahui penyebabnya, bisa mati tertawa mereka.

"Hei, Atem! Tadi kau ke mana saja?" tanya Ryuuji sambil mendorong pelan tubuh Yami dari belakang. Biasanya tubuh Yami tetap tegak walaupun didorong sekeras apapun. Tapi untuk kali ini, tubuhnya langsung oleng dan jatuh dengan suara yang amat memilukan.

GUBRAK!

Ryuuji kaget bukan main. Rasanya dia mendorong nggak terlalu keras kok. Orang-orang yang melihat juga langsung melongo dan langsung meneriaki Ryuuji.

"Waah! Ternyata Ryuuji bisa mengalahkan Yami hanya dengan sekali dorong! Hebat sekali!" teriak mereka.

"Hei, Atem! Kau tidak apa-apa? Jangan-jangan ulah iblis itu ya?" Ryuuji mendekati Yami yang pingsan dan meminta tolong beberapa murid untuk menggotongnya ke UKS.

TBC

Behind the scene

Yugi : *mata terbelalak* eh? Aku jadi iblis penghisap sumber kehidupan lewat ci-ci-ciuman? Dan aku pakai baju minim? 0(O/o/O)0

Yami : *muka pervert* hehehe… gue jadi anak yang sempurna di sini, n gue bakal dicium sama aibou! Asiiik! (*/u/*)

Ri : Ck, Yami keenakkan tuh.

Take 1, Yami jatoh!

Ri (merangkap menjadi sutradara) : *nyengir setan* Oke. Camera, rolling… action!

Koreografer : *nyalain kipas angin*

Yami : *jalan santai, liat kanan kiri bentar, mejamin mata*

TAK. GUBRAK!

Yami : *jatoh dengan kedua tangan terangkat* Auuch!

Ri : Cut! CUT!

Yami : *megangin pala pusing* nape Ri?

Ri : *nunjukin muka marah* Heh! Elo itu bukannya kesandung sama kalung, malah kesandung Millenium Puzzle tau! Noh kalungnya masih 2 meter lagi elonya malah jatoh! ULANGIN!

Yami : Yaah… jangan dong… sakit tau jatoh mulu… *muka melas*

Ri : Kagak ada! Cepat ulangin! Jatohnya juga jangan lebay sampe ngangkat tangan segala!

Yuu : *bisik-bisik* Ri… siapa yang naro Millenium Puzzle di situ sih…?

Ri : *nyengir setan, masih bisik-bisik* Gue yang naro. Jarang-jarang kan ada kesempatan ngerjain si mi ayam.

Yuu : *sweat drop*

Take 2, Yugi muncul!

Ri : *pasang muka masam* camera, rolling, action!

Koreografer : *ngasih asap di depan Yami*

Yugi : *masuk ke dalam asap, pura-pura tidur*

Yami : *ngeliat Yugi dengan mata terbelalak dan wajah horny nan mesum*

BAK!

Yami : ADOOOHH! Sapa sih yang ngelempar gue pake toa!

Ri : CUT! Yang ngelempar gue tau! Elo jangan nampang muka horny gitu dong! Gue cincang tau rasa lo!

Yuu : Udahlah Ri, mending kamu ngasah golok aja deh. Yang jadi sutradara aku aja…

Yami : *nelen ludah maksaly* golok…? Bu-buat apa?

Ri : Buat nyincang elo, DASAR SEME MESUUUUMM! SINI LO! *ngejar Yami sambil bawa-bawa golok*

Yami : AMPUUUUUNNN! *lari sekuat tenaga*

Yuu : *sweat drop* Yugi, kita ulangin lagi ya… tanpa Yami…

Yugi : I-iya… *ikutan sweatdrop*

Terima kasih untuk minna karena masih menyempatkan waktu untuk membaca fic gaje ini! Arigatou gozaimasu! Kritik dan saran akan sangat membantu saya dalam memperbaiki fic ini dan fic lainnya. Maaf karena fic ini kurang memuaskan Anda. Dan sekali lagi, terima kasih!