Warning: OOC, Gaje, Garing, Shounen-ai. Jika tidak suka, dianjurkan untuk tidak membaca.

Disclaimer: Yu-Gi-Oh! © Kazuki Takahashi

Terinspirasi dari komik 'Lilim Kiss' © (saya lupa. Yang pasti bukan saya)

Hope you enjoy it! ^u^

0o0o0o0[Chap. 2 Ada Apa nih?]0o0o0o0

Yami POV

Pulang sekolah. Di rumah.

"Aku pulang!" seruku begitu aku membuka pintu. Aku menyangka pasti tidak ada yang membalasnya, tapi ternyata…

"Selamat datang!" Yugi! Dia menjawab salamku sambil tersenyum manis tepat di depanku! Dan dia tambah manis dengan celemek berwarna lavender yang terpasang di tubuh mungilnya. Oh Ra, kalau saja Engkau tidak memberiku akal sehat, mungkin aku sudah menerkamnya dari tadi.

"Kau… kenapa memakai celemek itu? Dan darimana kau mendapatkannya?" tanyaku sedikit gusar. Aku khawatir tidak bisa mengontrol tubuhku jika terus melihatnya semanis ini. Yugi memiringkan kepalanya dengan lugu. Kemudian tersenyum lagi.

"Aku habis masak tadi. Celemek ini kutemukan di laci dapur." Kemudian dia berlari kecil menuju ke dapur dan aku mengikutinya. Samar-samar tercium aroma sedap dari dapur. Dan benar saja, ketika aku masuk ke dalam, banyak sekali hidangan yang tertata rapi di meja.

"Ka-kau… ini buat sendiri…?" tanyaku tidak percaya. Yugi hanya mengangguk pelan. Waow! Banyak sekali dia buat. Aku tidak yakin perutku bisa menampung semua makanan ini. Sop miso, ikan salmon goreng utuh, ayam panggang utuh (lagi!), udang bakar, dan aku bisa mencium bau harum dari oven. Baunya seperti… blueberry pie! Waaw! Ini benar-benar mewah!

Tunggu dulu. Dari mana dia mendapatkan semua bahan ini?

Segera kuperiksa uang yang kusimpan di belakang kalenderku. Ya, jangan tertawakan aku! Aku memang biasa menyimpannya di situ! Dan isinya… berkurang… sedikit.

APA! Hanya SEDIKIT? Bagaimana bisa membeli bahan sebanyak itu dengan jumlah uang SEDIKIT? Fiuh~ memang seharusnya aku bersyukur uangku tidak terlalu berkurang, tapi bagaimana bisa?

Kulihat Yugi yang masih berdiri di depan oven. Hmm… wajah manis itu, tingkah polos itu, tubuh mungil itu, mungkin saja bisa mengecoh pedagang. Bahkan aku percaya kalau ada yang memberikannya secara cuma-cuma. Lagipula dia pasti keluar dengan bajunya yang kurang tertutup itu. Hhh… memikirkannya saja sudah membuatku muak. Awas saja yang berani menyentuhnya dengan tidak senonoh!

"Yami, ada apa?" Yugi bertanya tepat di depanku wajahku dengan wajah innocent-nya—tentu dengan berjinjit, mengingat tingginya hanya dadaku.

"Ti-tidak ada apa-apa…" jawabku gugup.

"Hn~ kenapa nggak dimakan?" tanyanya sambil menunjuk meja makan. "Dicobain ya?"

"I-i-iya…" Hmm… makanan ini memang terlihat normal, tapi rasanya gimana ya? Aku coba mengambil paha ayam dan…

HAP!

"Gimana? Enak nggak?"

"E-enak banget! Kok bisa?" wajar aku menanyakan hal itu mengingat dia hilang ingatan.

"Waaah! Syukurlah kau suka! Aku hanya melihat-lihat orang masak tadi sambil jalan-jalan. Trus, ada ide membuatnya untukmu. Manusia cepat lapar bukan? Makannya saja tiga kali sehari." dia tersenyum sambil mengangkat blueberry pie yang baru saja masak. Hmm… harumnya benar-benar menggugah! "Oh ya, karena aku tidak bisa makan makanan manusia, habiskan semuanya ya?"

"APAA?"

XxXxX

Normal POV

Yami benar-benar kekenyangan sekarang. Memang tidak dia habiskan semuanya, tapi tetap saja banyak sekali yang dia makan. Dengan gontai dia masuk ke kamarnya. Ternyata Yugi sudah menunggunya sambil duduk di ranjang.

"Yami~ aku lapar…" katanya dengan wajah innocent.

"Ke-kenapa cepat sekali sih?" seru Yami.

"Habisnya~ tadi aku kan jalan-jalan keliling kota. Makanya cepet laper deh." Yugi mengeluarkan cengiran lebar. Yami benar-benar mengerti apa yang harus dia lakukan untuk memberi makan Yugi. Menciumnya. "Boleh…?"

"Yugi, kau tahu apa artinya ciuman bagi manusia?" Yugi menggeleng polos. Yami menghela napas. "Ciuman itu hanya diberikan untuk seseorang yang dicintai, orang yang special bagi kita." Berhenti sebentar. "Jadi, manusia jarang memberikan ciuman kepada orang yang biasa-biasa saja." Entah apa yang mendorong Yami untuk mengatakan hal itu. Yugi terlihat sedih dan terpukul.

"Begitukah…?" Yugi mulai sesenggukan. Perasaan bersalah datang menghampirinya. "Ma… maafkan aku, Yami… a-aku tidak tahu…"

'Waduuh! Kenapa tadi aku bilang kayak gitu ya? Begooo! Dia jadi ngerasa bersalah kaan!' pikir Yami.

"Ka-kalau begitu… aku menunggumu tidur saja ya…? Tidak ada ciuman kok…" Yugi tersenyum dipaksakan, membuat hati Yami serasa disayat-sayat.

"Baiklah… tapi aku tidurnya masih lama lho. Banyak tugas yang harus kukerjakan." Yugi mengangguk pelan sambil memegangi perutnya. Terlihat sekali bahwa sekarang dia sangat kelaparan.

Kemudian Yami mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang bejibun itu. Sesekali dia melirik ke arah Yugi yang kelaparan. Baru setengah tugasnya selesai, Yami menghampiri Yugi.

"Hng~? Kenapa Yam—hmmph!" tanpa diduga, Yami langsung membungkam bibir Yugi dengan bibirnya sendiri. Secara otomatis, tenaga Yami berangsur-angsur hilang. Kemudian Yami melepaskan ciumannya. "Yami… kenapa…" Yugi menatap Yami tak percaya. Dia bingung dengan apa maksud perlakuan Yami terhadapnya.

"A-aku hanya… err… tidak tega melihatmu kelaparan."

"Hng… tapi, bukankah ciuman itu tidak boleh diberikan ke sembarang orang?" tanya Yugi polos.

Yami bingung sendiri menjelaskannya. "Sudahlah. Tidak usah dibahas, aku ngantuk. Kau tidur di ranjang. Aku akan memakai futon." Kemudian dia menyiapkan futonnya dan langsung tertidur pulas.

XxXxX

Yami POV

Cip cip cip.

Ngh… sudah pagi ya?

Eh? Kenapa ada harum vanili? Guling yang kupeluk juga jadi hangat dan lembut. Tunggu! Aku kan nggak punya guling!

Kubuka mataku perlahan-lahan. Penasaran dengan apa yang sedang kupeluk ini. Dan ternyata…

YUGI! Dan dia tertidur pulas dipelukanku! Oh Ra… cobaan apa lagi yang Kau datangkan kepada hambamu ini! Cepat-cepat aku melepas pelukanku. Tetapi dia malah terbangun. Mengerang sedikit, kemudian menarik lenganku agar kembali memeluknya.

Biarlah. Akan kunikmati pelukan ini. Andai saja waktu bisa berhenti sebentar.

Normal POV

Tiga puluh menit kemudian.

Mereka masih tertidur dalam posisi berpelukan. Tak menghiraukan waktu yang terus berjalan. Tetapi mereka harus bangun sekarang.

KRIIIING!

"Gaaah!" Yami langsung membanting alarm di dekatnya hingga hancur lebur.

"Nghh… Yami, kau hari ini libur?" tanya Yugi polos sambil tersenyum. Yami hanya mendengar sayup-sayup, kembali memeluk Yugi dan mencium kepalanya, masih berniat untuk tidur. Yugi membenamkan kepalanya di dada Yami. Mereka kembali menikmati kehangatan yang ada.

Dan akhirnya otak Yami kembali bekerja.

"Waaaakh! Aku telat kerja!" Yami langsung bangun dan loncat ke kamar mandi. Sementara Yugi tertawa kecil melihat 'sumber makanannya' kacau seperti itu. Kemudian dia pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan Yami.

XxXxX

Selesai mandi, Yami cepat-cepat membawa pakaian kerjanya kemudian berlari ke depan pintu, mencari-cari sepatunya. Dia sudah siap berlari ke tempat kerjanya. Namun, Yugi langsung menghalangi Yami sambil membawa sepiring sandwich dan segelas air putih.

"Makan dulu! Nanti kau malah lapar!" seru Yugi dengan nada khawatir.

"Tapi… aku buru-buru, Yug—"

"Yami… kumohon…" Yugi memasang wajah memelas. Mau tidak mau, Yami terkena serangan itu mentah-mentah.

"…Baiklah." Yami langsung melahap semua sandwich sampai habis. Mengunyahnya cepat-cepat dan menelannya bulat-bulat. Yugi tersenyum senang dan memberikan Yami minum. Kemudian Yami memeluk Yugi sebentar dan mencium keningnya. "Aku pergi dulu. jaga diri baik-baik, ya!"

"Tentu, Yami. Hati-hati di jalan ya! Cepat pulang! Supaya aku bisa dipeluk Yami lagi!" tentu saja wajah Yami memerah mendengarnya. Dan dia langsung berlari meninggalkan Yugi.

XxXxX

"Hosh… hosh… hosh…" akhirnya Yami sampai di tempat kerjanya. Dia kerja sambilan di Pirza Hat, menjadi pengantar pizza. Tentu dia tidak sendiriran.

"Oi Yami! Elo lambat banget! Orderan udah pada nunggu, tahu!" seru pria berambut putih berantakan, sebut saja Bakura.

"Please deh, Kura! Hosh… gue cape' banget…! Elo aja dulu gih yang nganterin…" Yami duduk di lantai saking lelahnya berlari. Bakura menggelengkan kepala tanda tak setuju.

"Nggak mau! Gue udah nganterin dua orderan yang mayan jauh, trus elo minta gue nganter orderan lagi? Ogah gue! Pergi lo sono!" Bakura menendang punggung Yami pelan. Sekasar-kasarnya Bakura, dia tidak akan melukai sahabat sendiri tanpa sebab yang kuat. "Lagian gue bakalan ada tamu. Mending elo pergi aja. Jangan ganggu kami!"

"Hah? Sapa yang mau ketemu ama kakek bangkotan kayak elu! Lagian Marik ke mana sih! Kok belum dateng?" Yami mulai bangkit untuk mengganti pakaiannya.

"Ck ck. Marik lagi nganter orderannya yang ketiga. Habis itu dia pingin ketemu ama tamunya juga."

"Haaah… tamu macam apa sih yang mau datengin elo berdua? Gue curiga, jangan-jangan yang dateng tukang penagih utang yang minta bayaran togel, lagi?" dan Yami langsung ngacir dengan motornya sebelum ditendang Bakura.

"Dasar Yami illegal! Belum ngerasain tendangan maut gue ya?" Bakura mengarahkan jari tengahnya ke arah Yami yang pergi dengan motornya.

"Kura, jangan kasar begitu dong sama teman sendiri." Seseorang berambut putih, berperawakan mungil dan manis menghampiri Bakura sambil tersenyum riang. Dia datang bersama temannya yang berambut bronze sebahu yang sedang mencari-cari sesuatu.

"Biarkan saja. Aku kan nggak kasar-kasar amat, Ryou-chan." Kemudian Bakura melihat teman Ryou yang masih celingak-celinguk. "Oi, Malik! Si Marik masih belum datang! Bentar lagi paling nyampe! Tunggu aja dulu."

"Baiklah." Jawab Malik pelan.

"Kura~ aku lapar~" kata Ryou memelas. Bakura langsung mencium bibir mungil Ryou dengan lembut. Bibir mereka berpagutan beberapa lama. Kemudian Bakura melepas ciuman mereka.

"Udah kenyang?" tanyanya pada Ryou.

"Ya! Makasih, Bakura! Rasanya tetap enak seperti biasa!" jawab Ryou sambil tersenyum riang. Bakura membalas senyuman itu dengan mengecup pelan kening Ryou. "Ehehe… tinggal Malik yang kelaparan." Katanya sambil melirik Malik yang memegangi perutnya.

XxXxX

"Akhirnya sampe juga!" seru Yami ketika selesai mengantarkan orderan yang ke lima belas. Tentu dia akan beristirahat beberapa jam karena terlalu lelah.

"Oi Yami!" panggil Marik sambil melambaikan tangan, menyuruh Yami bergabung dengan mereka. Terdiri dari Bakura, Ryou, Marik dan Malik. Ryou sedang tertidur di pangkuan Bakura yang mengelus lembut kepala Ryou. Sedangkan Malik sedang membaca buku sejarah Mesir.

"Ooh, jadi ini tamu kalian?" tanya Yami sambil melihat Malik dan Ryou bergantian.

"Yo'i! yang ini namanya Malik, pacarku. Dan yang di sana namanya Ryou, pacarnya Bakura." Jelas Marik sambil melingkari pinggang Malik dengan mesra, membuat wajah Malik merah padam tanpa memalingkan pandangannya dari buku. "Sayang, ini namanya Yami. sahabatku dan Bakura." Kemudian Malik melihat Yami. Terlihat jelas expresi Malik yang sangat terkejut melihat Yami. Tetapi, perlahan wajahnya kembali datar.

"Salam kenal, Yami." kata Malik sambil tersenyum formal. Dibalas dengan anggukan Yami.

"Pacar? Sejak kapan kalian punya pacar?" tanya Yami. Malik dan Bakura mulai menunjukkan seringaiannya.

"Udah sekitar tiga bulan yang lalu, kok. Elonya aja yang nggak tahu!" jawab Bakura.

"Heran juga ya. Ada yang mau ama kalian berdua." Sindir Yami. Malik tersenyum sinis.

"Daripada elo? Kagak punya! Mwahahaha!" tawa Malik dan Bakura menggelegar. Membuat Ryou terbangun.

"Hng~ berisik…" Ryou mengucek matanya.

"Oh, maaf membangunkanmu, Ryou. Tidurlah lagi." Kata Marik. Ryou hanya melihat sekelilingnya. Lalu matanya tertohok kepada Yami. sama halnya dengan Malik, dia pun terkejut.

"Kenapa pada kaget semua waktu melihatku?" tanya Yami.

"Mungkin kaget dengan model rambut lo kali! Kayak kesetrum geto! Wakakakak!" balas Marik.

"Heh! Jangan belagu lo! Elo juga jabrik tahu! Maka kayak duren lagi!"

"APA?"

Dan merekapun bertengkar.

Tanpa memperhatikan Malik dan Ryou yang saling bertatapan dengan curiga.

XxXxX

Sore harinya, Yami pulang dengan babak belur, hasil dari pertengkarannya dengan Marik—yang akhirnya dilerai Bakura. Memang, yang bisa menandingi Yami kalau soal berkelahi hanya sahabat-sahabatnya, yakni Bakura dan Marik.

"Sial! Padahal sedikit lagi!" gumam Yami kesal.

"Toloooong!" teriak seorang gadis karena tasnya dicuri (dimalingin). Si maling berlari ke arah Yami. Berniat menolong (sekaligus pelampiasan kekesalan), Yami langsung menendang maling itu sekuat tenaga sampai si korban tersungkur di jalan, mengambil tas yang dicuri, kemudian menyerahkannya ke gadis itu.

"Nih. Lain kali hati-hati." Kata Yami. Gadis itu sangat terpesona melihat wajah tampan Yami (padahal babak belur—nggak terlalu kentara sih). Kemudian dia teringat sesuatu.

"Akh! Aku ingat! Kau Yami Atem dari Sekolah Putra Domino kan?" tanya gadis itu. Yami mengangguk pelan. Kemudian wajah gadis itu memerah padam. 'Te-ternyata kalau dilihat langsung tampan sekali! Udah gitu baik lagi! Padahal kudengar dia itu kasar dan sukanya berantem. Apa karena kecantikanku ya?' batin gadis itu—atau sebut saja Anzu dengan pedenya.

"Nggak ada urusan lagi, kan? Aku pergi dulu." Yami langsung pergi. Sementara Anzu masih berada di dunia khayalnya.

XxXxX

"Aku pulang!"

"Selamat datang! Lho, Yami? Kok luka-luka?" tanya Yugi lembut.

"Nggak apa-apa kok. Ini—" tiba-tiba tangan Yami langsung ditarik Yugi.

"Sini, biar kuobati!" Yugi membawa Yami ke kamar. Lalu dia mengambil kotak P3K, menyuruh Yami berbaring, dan mulai melaksanakan ritualnya.

Mungkin bagi Yugi, ini adalah cara biasa. Tapi menurut Yami, ini adalah cara yang lebih dari kata biasa.

Yugi mulai duduk di perut Yami, lalu mengobati luka-luka Yami dengan hati-hati. Posisi mereka seperti Yugi menindih tubuh Yami. Jantung Yami berdegup kencang. Rasa sakit sudah terlupakan. Bisa dirasakan hembusan napas Yugi dan gerak-gerik tubuh mungilnya di atas Yami.

'Oh Ra! Kenapa cobaan-Mu bertambah berat? Apa salah hamba?' batin Yami berteriak.

"Yami~ udah selesai." Yugi bangkit dari posisinya dan membereskan semuanya. Yami masih berbaring, berusaha menormalkan detak jantungnya. "Aku buatkan makan malam dulu ya?" Yugi langsung pergi ke dapur.

'Gawat! Sepertinya aku harus terbiasa dengan semua ini.' Pikir Yami.

XxXxX

"Yami, malam ini aku buat buridaikon*." Yugi tersenyum lembut dan menarik Yami ke meja makan. Yami tersenyum kemudian duduk dan mengambil nasi. Acara makan malam mereka (sebenarnya Yami aja) berjalan dengan tenang, sampai Yugi tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak Yami.

"Hm? Kau kenapa, Yugi?" tanya Yami dengan tatapan khawatir.

"Yami, boleh aku bertanya sesuatu?" Yugi menatap Yami lekat-lekat. Yami mengangguk pelan. "Kenapa tadi pagi kau memeluk dan menciumku? Dan lagi kenapa kau tidak marah ketika aku tidur satu futon denganmu?" tanyanya polos. Mata Yami terbelalak kaget.

'Mampus kau, Yamiii! Bagaimana menjelaskannya sedangkan kamu sendiri tidak mengerti?' pikir Yami.

"Yami…?"

"Eerrr… a-aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, Yugi… mungkin lain kali saja ya?" Yami langsung ngacir ke kamarnya, meninggalkan Yugi yang terheran-heran.

"Ara~ kok dia tidak memberitahuku?" Yugi segera membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan. Kegiatan itu berlangsung sampai terdengar suara kepak sayap dari luar. Yugi segera melihat ke luar jendela. Hanya angin malam yang menyambutnya.

"Mungkin hanya pendengaranku saja." Gumam Yugi sambil melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

Sementara di luar terlihat sesosok figure dengan rambut pirang keemasan yang indah, bermata cokelat madu dan bersayap kelelawar.

"Akhirnya ketemu juga." Gumamnya sebelum terbang melintasi langit malam.

XxXxX

Di kamar Yami.

'Hhh… bagaimana cara menjelaskannya ya? Dia terlalu polos sih! Tunggu dulu, kenapa waktu itu dia tidur satu futon denganku?' pikir Yami sambil menatap langit-langit kamarnya. Sampai gangguan datang.

"Yami~!" Yugi masuk ke kamar dan meloncat ke tubuh Yami yang terbaring di ranjang, membuat Yami kaget seperempat hidup. "Yami~ aku lapar! Ah, aku lupa kalau tidak ada ciuman! Cepatlah tidur, Yami! Aku lapar sekali!"

"Oh ya, Yugi, kenapa tadi malam kamu tidur satu futon denganku?" tanya Yami dengan wajah memerah, karena Yugi belum beranjak dari atas tubuhnya.

"Ahaha! Karena aku kedinginan! Tidur bersama Yami lebih hangat! Apalagi waktu dipeluk Yami, hangat dan nyaman sekali!" Yugi justru semakin naik ke atas tubuh Yami, lalu memejamkan matanya. "Tubuh manusia hangat sekali, ya."

'Gawat! Bisa-bisa aku terangsang!' batin Yami berteriak histeris.

"Ne~ Yami, boleh aku tidur denganmu lagi? Di ranjang saja, jadi tidak perlu menggunakan futon lagi! Boleh kan, Yami?" Yami mengangguk pelan. Wajahnya menjadi merah padam. Yugi tersenyum girang.

"Yugi… bisa turun sebentar…? Aku mau banti baju." Yugi segera turun dari tubuh Yami. "Oh ya, Yugi, apa ada iblis lain sejenis sepertimu?"

"Aku tidak tau pasti. Aku hanya bisa menjawab mungkin." Jawab Yugi. Yami mengobrak-abrik lemarinya, sampai dia menemukan sebuah piyama kecil bergaris biru. Kemudian melemparkannya ke Yugi.

"Pakai itu. Besok kita pergi keluar membeli bajumu."

"Benarkah? Besok kita kencan?" wajah Yugi berbinar, sedangkan wajah Yami memerah padam.

"Da-darimana kau dapatkan kata-kata itu?"

"Dari benda berbentuk kotak itu. Yang berwarna hitam." Jawab Yugi polos.

'Sebaiknya dia kujauhkan dari televisi…' pikir Yami. "Kau tau artinya kencan?" tanya Yami.

"Kencan itu adalah suatu peristiwa ketika dua orang berjalan bersama, kan?"

'Hahaha… dia tidak mengerti kalau kencan itu untuk sepasang kekasih.' Batin Yami tertawa miris. "Terserah sajalah kau mau menyebutnya apa." Yami langsung naik ke ranjangnya dan segera tidur. Diikuti Yugi yang sudah selesai mengganati baju. Dia langsung masuk ke dalam pelukan Yami. Kemudian mulai memakan energi Yami. Tidur sambil makan tidak buruk juga.

XxXxX

Keesokan harinya.

"Yami! ayo cepat!" seru Yugi dari luar kamar. Dia sudah siap pergi dengan bajunya yang biasa.

"Sebentar! Aku mencari bajumu dulu!" balas yami yang masih sibuk mengubrak-abrik lemarinya.

"Baju apa sih? Aku nggak keberatan kok pakai baju ini!"

"Aku yang keberatan, tau! Sabar sedikit!" Akhirnya Yami berhasil menemukan baju miliknya ketika berumur 10 tahun. Baju itu berwarna biru cerah berlengan panjang. Dia juga menemukan celana panjang berwarna hitam—yang tentu saja kecil untuk ukurannya. "untung saja masih ada." Gumamnya.

"Yami! kau lambat sekali! Ngapain aja sih?" seru Yugi tak sabar.

"Masuk, Yugi! Pakai baju ini!" Yugi segera masuk dan disambut dua pakaian yang dipilih Yami. Yugi mulai membuka bajunya. Wajah Yami memerah dan dia langsung keluar kamar sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

XxXxX

"Lalu, kita ke mana, Yami?"

"Ke toko pakaian." Jawab Yami singkat.

"Toko pakaian itu di mana?" tanya Yugi lagi.

"Nanti kau akan tau sendiri." Yami menarik tangan Yugi agar berjalan lebih cepat. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena kemanisan dan kecantikan Yugi. Lagi pula, di samping itu ada alasan lain yang lebih mendalam.

XxXxX

"Kau boleh mengambil berbagai baju atau celana yang kau sukai. Tetapi dengan syarat, baju harus berlengan panjang dan menutupi sampai paha, celana juga harus panjang, dan yang terpenting, tidak tembus pandang dan tidak ketat! Mengerti?" jelas Yami panjang lebar. Yugi mengangguk dan langsung berhambur mencari pakaian yang disukainya. Yami duduk di kursi dekat ruang ganti sambil menjaga Yugi dari jauh. Terkadang jika ada yang memandang Yugi melebihi batas, Yami langsung melemparkan deathglare-nya ke orang tersebut sampai si korban lari terbirit-birit.

15 menit kemudian.

"Yami! Ini baju-bajunya!" Yugi memperlihatkan banyak pakaian pada Yami. Yami menyeleksinya satu-persatu. Yang tidak layak, buang. Yang layak, dicoba dulu. Dari 18 pakaian yang dipilih Yugi, tersisa 11 pakaian yang layak dicoba.

"Kamu coba di ruang ganti." Suruh Yami. Yugi mengangguk pelan dan segera menuju ruang ganti. Ternyata ruang gantinya masih penuh. Terpaksa Yugi berdiri sambil menunggu salah satu pintu terbuka.

Ketika ada pintu yang terbuka, Yugi bersiap-siap masuk. Tetapi, si pengguna sebelumnya (cowok) langsung menutup pintunya lagi, membuat Yugi kecewa. Kemudian si cowok itu keluar dengan tampang sok polos dan mempersilahkan Yugi masuk. Melihat gelagatnya yang mencurigakan, Yami menahan pintu itu sebelum Yugi menutupnya.

"Kenapa, Yami? Kau mau menemaniku?" tanya Yugi polos, membuat wajah Yami memerah karena pikirannya yang iya-iya.

"Tidak. Aku hanya ingin memeriksa tempat ini. Kau keluar dulu!" Yami mendorong Yugi keluar. Kemudian dia mulai mencari-cari sesuatu di ruang kecil itu. Dan…

Yami menemukan dua buah kamera mini di sudut ruang dengan posisi yang sangat baik untuk melihat keseluruhan tubuh orang yang berada di dalam ruangan. Bagus sekali kerjamu, Yami.

Yami tersenyum bangga sambil membawa kamera itu keluar dari ruangan dan menyuruh Yugi masuk. Kemudian dengan tampang tak berdosa, dia menginjak kedua kamera itu dengan ganas, sampai menghasilkan suara yang memilukan hati si empunya kamera—yang menunggu di luar ruang ganti.

XxXxX

"Yamiii~ kita langsung pulang…?" tanya Yugi sedikit tidak rela kalau mereka harus pulang sekarang.

"Ya." Jawab Yami singkat.

"Tapi Yamiii~ ini kan masih siang! Masih ada waktu buat jalan-jalan!" balas Yugi tidak mau kalah.

"Kita harus pulang, Yugi! Mengertilah sedikit!"

"Aku tidak mengerti, Yami! Bukankah kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang? Kenapa harus pulang sekarang?"

"Karena berbahaya kalau kita di luar terus!"

"Kenapa berbahaya, Yami? Memangnya ada yang mau membunuh kita?" nada Yugi mulai sedikit dramatis.

'Dia benar-benar harus kujauhkan dari TV.' Pikir Yami membuat mental note. "Berbahaya bukan berarti ada yang mau membunuh kita kan?"

"Jawab dulu kenapa, Yamiii!" seru Yugi kesal.

"Baiklah. Begini, aku dari tadi merasa ada yang mengawasi kita." Jawab Yami sambil berbisik di telinga Yugi.

"Siapa?" Yugi kembali bertanya.

"Mana aku tau! Yang pasti lebih dari satu orang sedang mengawasi kita."

"Tapi, dari tadi kurasa banyak yang memperhatikan kita, Yami."

"Bukan yang seperti itu! Yang ini berbeda! Sepertinya mereka mempunyai suatu rencana terhadap kita." Nada bicara yami semakin keras, membuat Yugi bergidik ngeri.

"Ba-baiklah kalau begitu. Yami, ce-cepat kita pulang! Dari nada bicaramu, sepertinya ini hal yang serius." Yugi segera menarik tangan Yami. Sementara, Yami melihat ke sekelilingnya, mencari orang yang sekiranya mencurigakan.

Mereka sama sekali tidak melihat tiga pasang mata yang mengawasi mereka. Dari arah yang tidak terpikirkan oleh mereka.

Tbc.

A/N :

Pertama akan saya tegaskan, SIAPA BILANG NGGAK ADA PAIR LAEEEN! Disini udah ada tender ama bronze dikit. Tidak menutup kemungkinan ada puppy, tapi cuma sedikit lhoooo… lagian, selama pair itu tidak mengganggu puzzle, saya sih suka-suka aja. Kalau puppy saya lebih menyukainya dibandingkan pair lain, tetapi masih di bawah puzzle.

Cerita di chap ini tidak sama dengan yang ada di komik aslinya. Di komik aslinya, Lilim (si iblis) itu cewek, trus lebih terkesan nakal. Yang cowoknya (lupa namanya) itu emang lumayan sempurna, tapi dia masih punya orang tua.

Trus, yang merhatiin Yugi di malam hari itu pasti tau kaaan? Kalau nggak tau namanya keterlaluan banget! Ada beberapa sih yang sama, kemunculan Anzu juga hampir mirip tuh! Tapi si cowok nggak babak belur kayak Yami. Yaaa, intinya ada juga yang diubah, ditambahi, maupun dikurangi. Semoga minna-san nggak bosan ya!^^ (btw, ada yang tau komik 'Lilim Kiss'?)

Balasan review :

Din-chan :

Makasih reviewnya, Din-chan! Ehehehe… fandom YGO makin ramai? Menurut saya sih masih kurang ramai. Ayo, Din-chan! Ikut serta meramaikan fandom YGO! Soal peran Yami… itu terpaksa. Coba kalau saya pecinta rivalship, pasti yang dapet peran itu ya si Seto. Saya juga pingin ngeliat Yugi dengan sayap kelelawar. Adanya malah sayap burung… tapi pasti sama manisnya! Yosh! Makasih reviewnya ya!

Vi ChaN91312 :

Makasih reviewnya, Vi-chan! Ehehe, menurut komiknya sih, mimpi mereka jadi tergabung, nggak tau sebabnya apaan. Pertama pinginnya sih jangan Honda, tapi yang kepikiran cuma dia, yaudah deh… terpaksa, Honda. Yami emang mesum kok! Liat aja di animenya! Dia suka meluk n megang tangan Yugi! Cih, nyari kesempatan dianya! Sekali lagi, makasih reviewnya!

Sweet lollipop :

Makasih reviewnya, lolli-chan! (nggak keberatan kan kalau saya panggil begitu?) puppyship akan ada kok! Udah saya rencanain sebelumnya bakalan ada empat pair. Menurut survey saya, pair yang paling dominan di fandom ini adalah puzzle dan puppy. Yaa, selama pair itu tidak mengganggu puzzle, kenapa enggak? Makasih reviewnya ya!

Messiah Hikari :

Makasih reviewnya…mama! Ehehe, panggilnya 'mama' atau 'Rossy-senpai' ya? Saya mau buat fic lagi. Udah ada 4 fic yang masing2 masih sangat sedikit. Puzzle semua (mungkin). Saya juga setuju kalau Yami jadi cowok cool. Kalau dianya jadi manis terus tercium bau pride kan nggak lucu! (kalau dia jadi cewek sih… wajar aja!) Mau ama Yugi, atau mau ama Yami? sekali lagi, makasih reviewnya!

Light-Sapphire-Chan :

Kyaaaa! Ternyata Light juga ke fandom YGO! Selamat datang, Light! Mudahan kamu betah di sini! Soal Yugi yang tebar pesona… masa' sih? O.o OOC sih, iya. Tapi saya sedang berusaha memunculkan kepolosan Yugi. Eh? Light berharap apaan? Sampai nunjukin evil smile gitu? Light ngarep apaan nih! Belum tentu sudah jadi plot lho! Oh ya, ampe lupa saking senengnya, makasih reviewnya, Light!

Dika the Reborned Kuriboh :

Makasih reviewnya, Dika-san! Yami nggak pantes jadi 'perfect'? Kalau 'pervert' baru pantes kali ya? Yugi nggak usil kok! Dia kan melihat buku telepon Yami, dan semuanya teman sekelas Yami, so… salahkan Yami! makasih reviewnya, dan maaf jika anda menunggu lama… (_ _)

Ka Hime Shiseiten :

Makasih reviewnya, Ka-neechan! Yami emang musti, wajib, kudu, harus jatoh! Yugi emang imut dari sononya kan? Thanks for Kazuki yg buat Yugi jadi imyuuuut bgt! Yugi, kau mau jadi bonekanya neechan?

(Yugi : …

Yami : Nggak boleh! Aibou itu milikku mutlak pribadi! o)

Mimimifeyfeyfey :

Makasih reviewnya, mifey-san! He? Suka cara Yugi ya? Apa jangan2 mifey-san pingin juga? *tatapan horor* oh ya, btw, kapan Yugirella-nya diapdet! Saya kangen banget nih! Cepetan apdet duonks! Jangan lupa ya! Makasih (lagi)!

Selesai sudah! Maaf kalau cerita dan balasan reviewnya kurang memuaskan. Btw, saya udah nyiapin sebuah fic yang akan diluncurkan dalam waktu dekat (mungkin). Judulnya Rebirth. Terinspirasi dari komik 'Rebirth' karya Lee Gang Woo.

Di sana Yami bakalan jadi pemeran utama, pair nggak terlalu banyak. Ada OC juga, tapi bakalan lama munculnya. Bersyukur kao, Yam. Elo bakalan muncul habis-habisan di setiap chap! Kalau Yugi mah munculnya dikit. Mungkin bakal Anzu, Rebecca dan Bakura yang lebih banyak muncul ketimbang Yugi. Bagi yang mau (ingat! YANG MAU SAJA!) silahkan menunggu. Bagi yang nggak mau, nggak masalah bagi saya. Mungkin ketika ulang tahun Yugi baru bisa dirilis?

Overall, thank you, minna!