Yugi's Final Destination

Disclaimer: YugiOh! Is belongs Kazuki Takahashi…not my own :D

Genre : Horror/Tragedy-two shot

Rated: T

Terinspirasi dari film final destination..

Note: Hampir tidak ada romance di sini (atau mungkin bagi pembaca malahan tidak ada yang bisa disebut romance). Dan mohon maaf, event-event kematiannya mungkin akan kurang memuaskan dan tidak sadis-_-;

Summary: Setelah kejadian itu, sekolah Domino hancur, semua tewas, hanya segelintir orang yang selamat atas tragedy tersebut, hanya saja, sepertinya tkdir kematian terus menghantui mereka. Satu per satu dari mereka mulai mengalami kejadian tragis yang tidak akan mereka lupakan atau mungkin meninggal di tempat. Hanya ada dua kemungkinan. Kau hidup? Atau mati?

Kaiba masih tidak menerima kenyataan bahwa dirinyalah berikutnya yang akan tertimpa kemalangan. Mungkin itu baik-baik saja jika mati dalam keadaan normal. Tapi yang tidak bisa ia terima, Ryou dan Otogi memang berhasil kabur dari bencana itu, tapi mereka malah mati dengan cara yang sama mngenaskannya dengan teman-teman yang lain. Ia sangat frustasi sekarang. Sesaat setelah Yugi memberitahukan urutan kematian berikutnya adalah dirinya, ia langsung keluar dan berlari dari café tadi. Sekarang ia sedang berjalan tak menentu arah, di otaknya berputar kemungkinan-kemungkinan cara ia akan meninggal nantinya.

"Oi!" dari arah belakang, ada sebuah suara yang sangat familiar bagi pria itu.

"Ada apa, Mutt?" tanyanya dingin.

"Heh….masih sempat kau menghinaku, sudah, lebih baik kita bersama-sama, dan mencari jalan keluar." Balas Jou

"huh… apa dengan bersama kalian aku akan aman? Tidak ada jaminan'kan?" katanya dengan nada sinis…tapi terdengar putus asa.

"Ayolah! Paling tidak kita berusaha! Lagipula kalau kau mati, berikutnya aku!" Jou panik dengan perkataannya sendiri. Memang benar, Yugi telah menceritakan seluruh mimpinya saat itu.

"Lalu memang apa yang mau kau lakukan, hah?" Kaiba yang mulai kesal sedikit membentak, tapi di tanggapi dengan biasa oleh Jou, dia sudah biasa menghadapi Kaiba yang naik darah seperti ini. Dan dia tau, Kaiba pasti sangat ketakutan sekarang.

"Kata Yugi, mungkin jika kita memutuskan rantai urutan kematian kita, itu bisa dihentikan! Jadi jika kau aman, kita semua akan selamat!" Jou berusaha untuk meyakinkan Kaiba.

"Heh…kalian bodoh! Meski aku selamat, takdir akan terus mengejarku! mengejar kita! Lalu semua tetap akan berakhir dengan kematian!"

Jou ternganga dengan perkataan Kaiba, mereka tidak berpikir sampai sejauh itu. Apakah itu berarti mereka harus menerima nasib mereka? Lari hanya menambah penderitaan karena takdir akan tetap mengejar mereka. Meski bertahun-tahun….apakah takdir itu akan tetap mengejar? Jou kehilangan kata-kata untuk meyakinkan Kaiba. Karena keyakinan dirinya sendiri juga mulai goyah…

Akhirnya Jou mulai meninggalkan Kaiba. Wajahnya tertunduk. Ia berpikir. Cepat atau lambat ia akan menerima takdirnya. Mereka berdua terlihat sangat pasrah.

xXx

'putaran air? …koin? …merah?…kalung?…'

"A…Akan ada apa lagi?" Yugi terlihat panik, di otaknya berputar beberapa hal yang tidak bisa ia mengerti. Wajahnya mengisyaratkan ketakutan….karena mimpi itu mungkin pertanda…satu lagi orang akan mati.

"Aku Harus memberi tahu Kaiba!" dengan segera bangkit dari sofa di mana ia duduk tadi, dan bergegas menuju telepon.

Berkali-kali Yugi berusaha menelepon Kaiba, tapi tidak di angkat. Dia sudah berusaha beberapa kali dan akhirnya menyerah. Yugi mulai menghubungi yang lain, mungkin saja kaiba sedang berada bersama mereka. Tapi telepon Jou juga tidak kunjung di angkat, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Anzu.

"Halo?"

"Halo, Anzu? Apa Kaiba ada di sekitar situ?"

"Tidak…."

"Gawat nih!"

"Ada apa?"

"Aku sudah melihat petunjuk…kematiaannya…"

"APA? AYO CARI DIA, YUGI!"

"I…IYA!"

Dengan cepat, Yugi menutup teleponnya, dan bergegas memanggil Yami. Setelah itu, mereka berdua mulai keluar rumah dan mencari Kaiba.

xXx

Saat ini, Kaiba sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Tentu saja. Dia terus berjalan, berputar-putar di kota Domino. Tanpa mobil limo mewahnya, bahkan, beberapa telepon dari rekan kerja bisnisnya tidak ia gubris. Ia benar-benar tidak mau memikirkan apapun kali ini.

Tiba-tiba ada seorang wanita yang sepertinya tergesa-gesa membawa tumpukan baju di keranjang berlari. Sepertinya ia akan mencuci dan tidak memiliki banyak waktu. Tapi ia tidak sengaja menabrak Kaiba, Kaiba yang saat itu sedang memegang kalung yang berisi foto Mokuba, terjatuh ke cucian tersebut. Wanita itu hanya meminta maaf dan terus menuju ke laundry. Kaiba hanya tercengang sedikit, tapi kemudian ia tersadar dan segera menyusul wanita tersebut. Ia masuk ke dalam laundry tersebut, dan mencari-cari wanita itu. Ia melihat bahwa seluruh pakaian (beserta kalungnya) sudah masuk dalam mesin cuci dan wanita tersebut sedang akan memasukan Koin untuk menyalakan mesinnya. Tapi Kaiba terlalu panic, dan membuka mesin itu, lalu memasukan tangannya serta mencari-cari kalung tersebut. Sayangnya. Akibat kepanikannya sendiri, ia menyenggol wanita tersebut dan koinnya terlanjur masuk. Mesin cuci itu sangat besar, karena putarannya kuat, Kaiba terdorong masuk dan pintunya otomatis tertutup. Wanita itu berteriak histeris, darah mulai menodai air dan cuciannya, tapi bukan karena itu ia berteriak. Karena ada gumpalan-gumpalan daging yang menempel di kaca.

Beberapa hari kemudian, berita ini disiarkan di televise, Yugi menegang, tapi bukan dia yang paling pucat saat ini. Melainkan Jou. Kematian Kaiba adalah tanda mulai untuk dirinya menghadapi kenyataan mengerikan. Jou sungguh tidak kuat untuk membayangkannya, ingin sekali ia mati saat itu juga, mati bunuh diri. Bukan mati karena tragedi sadis yang dihadapi teman satu takdir dengannya. Kematian mereka semua mengenaskan. Jou berpikir, kalau ia mengakhiri hidupnya dengan cara biasa, ia tidak perlu merasakan kengerian dari kejadian-kejadian yang amat mengenaskan itu.

Kemudian Jou berlari ke kamarnya, ia mulai mencari-cari obat. Dan ia menemukannya….obat dengan dosis tinggi yang dapat mematikan. Ia segera mengambil air, dan duduk. Tapi…raganya tidak mau menurutinya, ia telah berusaha, tapi tidak berani meminumnya. Karena tidak kuat meminumnya, ia memutuskan untuk gantung diri saja. Ia memasang tali, dan mulai naik ke atas kursi, menggantung lehernya, dan mendorong kursi di kakinya hingga ia tercekik

xXx

Yugi sangat Khawatir kepada Jou, ia meminta Yami untuk menemaninya ke rumah Jou. Perasaan tidak enak terus menghantuinya, apalagi berikutnya adalah giliran Jou. Tapi ia blum dapat petunjuk-petunjuk kematian Jou. Maka ia ingin cepat-cepat bersamanya dan berusaha melindunginya sebelum sesuatu terjadi. Sesampainya di rumah Jou. Yugi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jou. Rumahnya gelap, tapi tidak terkunci! Mereka berdua cepat-cepat masuk, dan memeriksa seluruh ruangan satu persatu, mereka melihat obat-obatan yang tadi hendak digunakan oleh Jou.

Betapa terkejutnya, ketika mereka melihat Jou sedang berusaha merilekskan tubuh di tiang gantungan (?). cepat-cepat mereka hendak menolong Jou, tapi tali penyangganya putus.

"JOU! APA SIH YANG KAU LAKUKAN?" Yugi marah-marah

"habis….aku takut mati tragis. Tapi, kenapa aku selalu gagal bunuh diri?...apa takdir kita memang harus mati mengenaskan?" jawab Jou yang sudah pasrah akan hidupnya itu. Yugi jadi tidak tega melihat temannya itu

"Jou…pasti ada jalan keluar…" kata Yami berusaha meyakinkan.

"Tapi…TAPI! Takdir kita memang tidak bisa di ubah, Yugi! Yami! Harusnya kita mati saat itu juga! Dan takdir menghantui kita yang hidup! Kita takkan bisa lari!" Jou berteriak frustasi. Kata-kata almarhum Kaiba terus saja menjatuhkan mentalnya. Yugi hanya terdiam…..tidak bisa menjawab, karena kata-kata Jou mungkin ada benarnya.

"…sepatu…batu besar…kereta api"

'I…tu…' batin Yugi lagi-lagi merasa sesak. Petunjuk kematian sahabat karibnya sudah terbuka. Waktunya sebentar lagi habis.

"Yugi….apa kau melihatnya lagi?" Tanya Yami berbisik. Yugi hanya mengangguk. Yami terdiam, dia memang sering kali tidak menunjukan ekspresinya. Tapi dalam hati, ia juga sedih. Sebentar lagi mereka akan kehilangan teman mereka ini. Jou mulai mengerti akan hal yang mereka bicarakan. Ia mulai merasa sesak. Secepat kilat ia lari keluar. Tidak menggubris kata-kata dan panggilan kedua sahabatnya itu. Air matanya mulai jatuh. Ia bukanlah lelaki cengeng yang mudah menangis, tapi ia tak tahan lagi, membayangkan dirinya akan mati.

Saat dir el kereta api, ia tidak mendengar peringatan dan suara lampu penghalang rel, ia terus berlari, hingga sepatunya trsangkut. Ia mencoba menariknya, tapi gagal. Ia terus berusaha, kini kakinya terjepit! Tiba-tiba, batu besar menghantam perutnya hingga tersungkur di tanah, kereta datang dengan kecepatan penuh. Jou terlindas begitu saja. Darahnya tercecer ke mana-mana. Sisa-sisa tubuhnya menempel di rel. Yugi pingsan seketika melihat hal itu. Yami hanya bisa memandang ngeri. Hilanglah satu orang lagi.

xXx

beberapa lama, mereka terus mencari cara yang mungkin akan merubah takdir mereka. Dan akhirnya, Yami menemukan suatu cara. Entah berhasil atau tidak.

"salah seorang dari kita harus mati sebelum Anzu, maka urutannya akan salah dan takdir berubah." Katanya Singkat membuat orang yang tersisa. Yakni Bakura, Anzu dan Yugi terbelalak shock.

"Tapi….." Yugi tidak mampu meneruskan kata-katanya, ia tidak ingin mati, tapi ia tidak ingin membunuh seseorang untuk menebus takdir mereka. Apa harus dirinya? Sang petunjuk?

Tapi, sebelum jawaban datang, sebuah kekacauan.

Gempa bumi meruntuhkan bangunan tempat mereka berada. Tubuh Anzu tertembus oleh baja-baja bangunan yang terlihat akibat runtuhnya tembok yang di sebabkan gempa, dan meninggal seketika. Kepala Bakura terlindas Truk nyasar dan hancur. Yami dan Yugi yang hendak melarikan diri. Mati di escalator turun. Eskalatornya rusak dan menyeret mereka sehingga mereka tergilas hingga habis di dalamnya….

xXx Fin xXx

Maaf akhirnya ga jelas dan kurang memuaskan…..meski kadang-kadang terlintas adegan-adegan yang ingin ditulis…tapi ternyata kalau untuk menulis, saya kurang ahli dalam bidang ini XD

Mohon reviewnya~

Balas review:

Sweet Lollipop:

Makasih banyak reviewnya X3~

Ratednya M ya? Tpi menuru saya kurang sadis :D saya kurang bisa menuliskan apa yang dipikiran saya. Tapi thx bgt atas sarannya Kaiba mati, tapi Jou nyusul XD

Messiah Hikari:

Makasih, tapi sepertinya ide sadis memang tidak berpihak pda saya T_T

Thx 4 d review, messiah-san~

Coolkid:

Wow…keeren…klo saya ketawa-ketawa tapi tetep ngeri ^^;

Wah…kenapa nggak buat?pasti keren dan sadis bgt! XD kiddin'

Kurang deskripsinya ya? Saya usahakan lagi! Makasih sarannya ^^

Jou jga mati hhe

Thx reviewnya lagi~

Sora Tsubameki:

Waw….saya cman nonton satu, belum semua ^^

Kaiba pasti mati! *d timpuk kaiba fans*

Hhe, makasih reviewnya, sora-san

Dika The Winged Kuriboh:

Hhe, Dika-san suka cerita begini? Saya jga lumayan suka :P

Thx reviewnya~

Nonohana Kizure:

Waduh…keren bgt XD, saya sih ga berani komentar begitu…segitu aja ngeri~

Apalagi pas saya nonton…yg nonton cman sedikit d dalam bioskop…rasanya ga nyampe 25 orang.

Hm….sadisnya msih kurang ya? saya belajar lagi deh(?) :D

Makasih banyak reviewnya~

Kyon-Kyon:

Fic yang lain masih jalan pastinya~ tapi ide meneruskan itu cukup sulit buat saya XD, masih dalam proses~

Makasih reviewnya

Din-Chan:

Aw….Ryou fans ya? XD

Sayangnya dia mati d Chapter pertama….Kurang sadis? O_O maafkan saya :'( kurang bisa menuliskan apa yang ada di otak nih~

Saya jga deg-degan nontonnya XD

Thx reviewnya~