Galerians, in.

Di penghabisan ini, hamba takkan banyak bicara. Hanya mau bilang, terima kasih atas segala feedback yang telah Anda semua berikan sampai akhir fic ini. My apology, akan tetapi, karena ini chapter penghabisan, maka takkan ada review reply.

Selamat membaca.

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

Epilogue

A New Love Story

Fajar di Konoha tak pernah semerah ini.

Ketika tubuh matahari pertama kali menembus batas cakrawala di ufuk timur, lapisan langit yang tak tertutup awan disiram oleh warna merah tua, yang semakin lama semakin berubah menjadi jingga. Fajar semacam ini sering diinterpretasikan sebagai awal dari sebuah hari yang cerah nan indah, namun bagi 3 orang yang berdiri di depan Gerbang Besar Konoha, hari ini adalah hari di mana mereka akan kehilangan seseorang yang sangat berharga.

"Naruto…" seorang gadis berambut merah muda yang berdiri paling depan dari kedua rekannya membuka suara. "Kau benar-benar yakin ingin melakukan ini…?"

"Sakura-chan, ayolah…" yang ditanya adalah seorang pemuda dengan rambut yang berantakan dan berwarna pirang menyala. "Berapa kali harus kujelaskan padamu sebelum kau mengerti?"

Dia memang mengerti. Tapi itu bukan berarti Sakura bisa menerimanya begitu saja. "Apakah memang benar-benar harus seperti ini…?"

"Harus seperti ini," jawab Naruto dengan tegas, walau penuh rasa menyesal. "Maafkan aku. Tapi memang hanya inilah satu-satunya cara."

"Tapi kenapa? Kenapa kalian harus pergi…?"

Mendengar itu, sang shinobi yang kini tak pernah lepas dari jubah merah tuanya itu cuma memandang sahabatnya itu dengan tatapan yang sungguh lembut. Kemudian, ia arahkan tatapannya lurus ke depan, melewati teman-temannya, ke arah desa yang menjadi tempat dia tumbuh besar. "…Karena sudah saatnya aku berhenti bersifat naïf."

"Awalnya, aku juga berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa waktu akan memperbaiki semuanya, dan menyembuhkan setiap luka dan dendam yang tersimpan. Tapi nyatanya, itu hanyalah impian, karena kebencian telah tertanam terlalu dalam di hati mereka…" Naruto tersenyum pahit. "Memang, kami mungkin masih bisa tinggal di sini selama identitas Kyuubi bisa tersembunyi. Tetapi, bukankah itu berarti kami harus terus berbohong? Yang kami inginkan adalah kebahagiaan, bukan sebuah kehidupan yang diselubungi rahasia dan kebohongan."

"Karena itu, walau aku tahu ini adalah pilihan yang egois, kuputuskan bahwa cara yang terbaik adalah dengan meninggalkan Konoha."

"T-tapi-"

"Sakura," sebuah suara lain tiba-tiba menyela Sakura yang sudah ingin mendebat lagi. Sang pemilik suara, meletakkan tangannya di bahu kanan Sakura sambil berdiri di sampingnya. "Sudah cukup."

"Tapi, Shikamaru…"

"Sakura, kau tentu tahu bahwa sekali Naruto memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa kita katakan untuk mengubahnya," seseorang yang lain ikut angkat bicara, datang dari seorang pria yang berpenutup muka dan berdiri di sebelah kiri Sakura. "Lagipula, bukankah selama ini Naruto sudah berkorban begitu banyak untuk kita? Paling tidak, biarkanlah dia bersikap egois untuk kali ini saja."

Sakura langsung terdiam, tahu bahwa dia telah kehabisan alasan dan dasar untuk berargumen. Sedangkan Naruto kini membalas tatapan mantan gurunya dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Kakashi-sensei."

"Biarpun aku mengatakan itu, sebenarnya aku juga punya satu pertanyaan untukmu, Naruto," si pria yang jauh lebih tua mendekat, sampai mereka berhadapan. "Apakah keputusan ini murni keputusanmu sendiri? Ataukah-"

"…Jika kau mau bertanya apakah Kyuubi yang memengaruhi keputusanku, maka jawabannya adalah tidak. Ini keputusanku sendiri," jawab Naruto secepatnya setelah sadar ke mana arah pertanyaan ini. "Dia bahkan awalnya menentang gagasanku ini. Tapi aku bersikeras, karena setelah peristiwa yang lalu, aku sekarang tahu jelas apa yang akan terjadi andai suatu saat identitas Kyuubi ketahuan," tanpa sadar tangan Naruto kembali terkepal saat mengingat hal itu. "Kebahagiaan Kyuubi tak ada di Konoha. Dan kebahagiaanku adalah Kyuubi. Karena itu, aku memutuskan untuk pergi."

"Baguslah kalau begitu," sahut Kakashi dengan puas. Walaupun wajahnya tertutup topeng, namun Naruto bisa mengetahui bahwa pria itu sedang tersenyum lebar. "Jadi, sampai kapan kau membuat dia menunggu?"

Naruto tersenyum tipis, sebelum mengangkat tangannya dan mulai melepas ikatan hitai-ate yang masih terpasang di kepalanya. Saat benda itu lepas, dia berjalan ke arah sang Copy Ninja dan menyodorkannya ke depan, "Aku bisa mempercayakan Konoha padamu kan?"

"Hn," Kakashi mengangguk sambil menerima hitai-ate itu. "Aku takkan mengecewakanmu."

"…" Naruto memberikan satu tepukan ringan di bahu pria berambut keperakan itu, kemudian berjalan mundur beberapa langkah. "Nah, aku pergi."

Naruto berbalik dan mulai menapakkan kakinya, perlahan-lahan meninggalkan kampung halaman yang menyimpan begitu banyak kenangan. Langkahnya ringan, membawanya berjalan menantang sinar matahari pagi yang menerpa sekujur raganya. Postur tubuhnya tegap, sama sekali tak menunjukkan gemuruh yang berkecamuk di dadanya. Tapi Naruto tak menoleh, karena dia tahu bahwa melakukan itu hanya akan membuat perpisahan ini semakin berat.

Akan tetapi, sesuatu membuat langkahnya terhenti sesaat.

"Narutoo! Kalau kau nanti sakit atau terluka, jangan sungkan kembali kemari yaa!"

"Benar! Walaupun merepotkan, tapi kau juga punya hutang padaku! Kau harus membayarnya kapan-kapan!"

Untuk membalas perkataan dua sahabatnya itu, Naruto hanya melambaikan tangan. Dia tidak berbalik ataupun menjawab, karena Naruto tak mau menunjukkan tetesan air mata di pipinya atau mungkin getar sesenggukan yang mungkin muncul dalam suaranya. Dia hanya terus berjalan, tak mengetahui bahwa di belakang, wajah kedua sahabatnya kini bersimbah air mata.

"…sampai jumpa…"

~•~

Di salah satu bagian hutan negara Hi yang sangat jarang dijamah tangan manusia, tergeletak sebuah padang rumput yang rupawan. Di hamparan hijau daun seluas mata memandang ini, yang dipagari oleh pepohonan lebat nan elok, bertiup arus angin yang seakan abadi, laksana tak tersentuh oleh perubahan waktu.

Di tengah-tengah padang rumput inilah, sebatang pohon yang kecil namun rindang daunnya, hidup seakan menjadi pusat alam di sekitarnya. Dekat pangkalnya, ada sebuah batu bundar namun permukaan atasnya datar, menjadikannya sebuah tempat sempurna untuk menikmati keindahan anugrah Tuhan ini, terutama bagi segelintir yang berhasil menemukannya.

Dan di atas batu inilah, duduk seorang gadis jelita, dengan rambut merah panjang yang seakan ikut menari dalam alunan angin. Namun walaupun telah dihadapkan dengan keindahan sedemikian rupa, wajah gadis itu justru menunjukkan ketidaktenangan. Berkali-kali ia membenarkan kimono yang melekat di tubuhnya yang lumayan kecil, tomesode berwarna putih bersih, seakan berusaha mencari sesuatu untuk dikerjakan. Dalam beberapa jam terakhir ini, dia terus bolak-balik antara berdiri dan duduk, bagaikan tak bisa menentukan mana yang mau ia lakukan.

Untuk kesekian kalinya, gadis berambut merah itu kembali berdiri dari posisi duduknya di atas batu besar di pinggir padang rumput itu. Seraya menumpukkan kedua tangannya, satu napas panjang terhela dari hidungnya, hanya untuk kembali bercampur dengan udara luar saat terhembus lewat celah di antara bibir merah mudanya.

Kyuubi benci menunggu, karena menunggu selalu membuat perasaannya gelisah. Dan Naruto sudah membuatnya melakukan hal itu sampai 3 jam.

Dia bukannya keberatan saat Naruto mengutarakan tujuan kepergiannya kali ini adalah Konoha. Tetapi walaupun cowok itu bilang kalau dia bisa jaga diri, tetap saja Kyuubi sudah terlanjur khawatir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Bagaimana kalau ada yang berusaha menghalanginya? Atau, bagaimana kalau dia berubah pikiran-

Pikiran Kyuubi sontak terhenti ketika merasakan dua tangan yang kekar muncul dari belakang dan melingkari tubuh kecilnya, menariknya hingga punggung dan belakang kepala Kyuubi menabrak sesuatu yang lembut. Seraya dekapan itu bertambah erat, aroma yang sangat familier menyerang indera penciuman Kyuubi, membuatnya merasa aman. Menyebabkan seluruh kekhawatirannya menghilang.

"…Kau lama sekali, Naruto."

"Ahaha, maaf, maaf. Rupanya urusannya sedikit lebih rumit dari yang kukira," Naruto menjawab dengan santai, sebelum menundukkan wajahnya sampai cukup untuk bersentuhan dengan wajah Kyuubi, hanya untuk disapa oleh wajah cantik yang cemberut. "Kau marah?"

"…Nggak kok," sahut Kyuubi pelan sambil memalingkan wajah. "Aku cuma khawatir…kalau-kalau kau…"

"Apa? Berubah pikiran?" tebak Naruto, yang sangat tepat sasaran. "Kenapa sepertinya susah sekali bagimu untuk lebih percaya padaku sih…?"

"A-aku bukannya tidak percaya…tapi kan…"

"Aku mencintaimu," perkataan Naruto yang tidak ia kira dengan sukses membuat wajah Kyuubi merona. "Dan seisi dunia sekalipun takkan bisa menghalangiku dari kembali kepadamu."

"…Dasar…" terdengar Kyuubi menggumam. "Baka."

Setelah itu mereka diam, puas hanya dengan kesunyian. Menikmati angin semilir yang menggoyang-goyangkan helai rambut mereka, membenamkan diri semakin dalam ke kesejukan yang dihadiahkan oleh alam dan kehangatan yang disimpan oleh tubuh pasangan mereka.

"Hei, Naruto…" Kyuubi memecah kesunyian. "Bisakah aku bertanya sesuatu…?"

"Apa?"

"Apakah…" Kyuubi terdengar ragu. "Apakah aku…memang sudah tak memiliki aura chakra lagi…?"

"…?" Naruto mengerutkan dahi, keheranan. "Ya. Kenapa?"

"Kalau begitu, saat kau menemukanku malam itu…apakah itu hanya kebetulan?"

"Aku tak tahu apa yang membuatmu bertanya begitu. Tapi aku bisa jamin apa yang terjadi malam itu, bukanlah kebetulan."

"T-tapi, bagaimana-"

"Aku memang merasakan aura chakra," Naruto melanjutkan seakan tak mendengar protes Kyuubi. "Tapi bukan milikmu. Aura chakra itu sangat lemah dan buram. Tapi aura chakra itu seakan memberitahuku tentang keberadaanmu. Dan saat aku menemukanmu, akhirnya aku sadar siapa pemiliknya."

"S-siapa…?" suara Kyuubi sekarang tak lebih nyaring dari bisikan.

Naruto tersenyum lembut, kemudian menurunkan tangan kanannya ke perut Kyuubi, sebelum mengelus-elusnya penuh kasih sayang. "Dia," katanya. "Bahkan sebelum lahir, dia telah menyatukan kita."

Wajah Kyuubi sekarang adalah potret shock dan keterkejutan. "K…k-kau tahu…?" dia bertanya, suaranya kecil seakan sedang ketakutan. "Kau benar-benar tahu…?"

"Tentu saja aku tahu," jawab Naruto yakin. "Yang aku tidak tahu, adalah kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku."

"A-aku…" Kyuubi yang benar-benar gugup hanya bisa memalingkan wajah, tak mampu membalas tatapan Naruto yang seakan bisa melihat jauh ke dalam hatinya. "Kau…tak marah…?"

"Apa? Marah? Dengar ini!"

Pekikan kecil terlepas dari bibir Kyuubi ketika Naruto melepaskannya. Gadis itu hanya bisa memperhatikan saat Naruto berjalan maju beberapa langkah, menghela napas kuat-kuat, dan berteriak, "AKU SEORANG AYAAHH!" yang menimbulkan gema di padang rumput itu.

Naruto berbalik, kemudian menangkap tubuh Kyuubi yang masih terpana dengan kedua tangannya. Detik berikutnya, Kyuubi sadar bahwa Naruto telah mengangkatnya ke udara, kemudian memutar-mutarnya sambil tertawa-tawa penuh riang gembira. "Marah? Marah?Aku justru sangat, sangat, SANGAT bahagia!"

"Aahh! N-Naruto, hentikan! Turunkan aku!"

"Ah, maaf, maaf. Kita tidak mau kalau si kecil sampai terluka kan?" kata Naruto sambil membiarkan Kyuubi kembali berdiri di atas kakinya sendiri, walau dia masih tidak mau melepaskan gadis itu dari dalam dekapannya. "Jadi? Kenapa kau nggak pernah bilang?"

"H-habisnya, aku takut kalau perasaanmu tentang hal ini tidak sama denganku. Mengingat kau adalah manusia, dan aku…"

"Hei, Kyuubi, lihat aku," Naruto menangkupkan tangannya di pipi Kyuubi, dan mendongakkan wajah Kyuubi agar mereka bertatap mata. "Aku sudah pernah bilang dulu, dan akan kukatakan sekali lagi. Aku tidak peduli kau ini siluman, setan, iblis atau apa, karena kau adalah Kyuubi, dan Kyuubi adalah satu-satunya gadis yang kucintai." Naruto berlutut, hingga wajahnya berhadapan dengan perut Kyuubi. "Biarpun dia adalah setengah siluman, itu tak mengubah fakta bahwa dia adalah anakku. Anak kita. Dan aku sangat menyayanginya."

Ketika Naruto mulai menggosok-gosokkan wajah di perut Kyuubi, tepat di ikatan obi kimononya, gadis itu tak kuasa mencegah rona merah padam yang kini menginvasi kedua pipinya. Semenjak peristiwa malam itu, Naruto menjadi seperti orang yang baru lepas dari kekang dan seakan tak pernah puas menunjukkan kasih sayangnya.

Tidak, bukannya Kyuubi keberatan dengan sifatnya yang itu. Dia hanya tidak suka bagaimana setiap perbuatan mesra Naruto selalu berhasil membuat dia tersipu malu macam anak gadis sekolahan yang baru tahu namanya jatuh cinta.

"S-sudah dong…" rengek Kyuubi pelan sambil berusaha menarik-narik rambut pirang Naruto, berusaha menjauhkan wajah sang pemuda yang menempel ke perutnya. "Malu nih…"

"Nggak mau. Aku kan harus memastikan kalau anak ini tahu siapa ayahnya." Naruto malah melingkarkan lengannya makin kuat di seputar pinggang Kyuubi. "Ahh, aku bisa membayangkan dia mewarisi matamu. Dia pasti akan jadi gadis yang sangat cantik."

Mendengar opini itu, terang saja Kyuubi jadi keberatan. "Jangan konyol, Naruto. Dia akan menjadi seorang anak laki-laki yang tampan, dengan mata biru langit sepertimu."

Kali ini, Naruto yang tidak terima. "Hahaha, kau bicara apa sih, Kyuubi? Jangan sebut anak gadis kita sebagai cowok dong."

"Dia memang cowok." Kyuubi bersikeras.

Naruto kini berdiri dengan mata bersinar menantang. "Cewek."

"Cowok."

"Cewek."

"Cowok!"

"Cewek!"

"Pokoknya COWOK!"

"Nggak bisa! Harus CEWEK!"

Begitulah. Suasana damai nan syahdu yang semula merupakan deskripsi padang rumput itu, kini rusak begitu saja ketika dua sejoli yang ada di dalamnya mulai bertikai dalam sebuah perang mulut yang sama sekali tidak memperhatikan volume suara.

"Jangan meremehkan insting seorang ayah ya! Aku yakin–nggak, aku tahu dia bakal lahir sebagai anak gadis! Bukan cowok!"

"Dan kau juga jangan meremehkan intuisi seorang ibu! Lagipula, bukankah yang sedang mengandung itu aku?"

Dan mereka terus bertengkar seperti itu, dalam durasi dan kenyaringan yang cukup untuk membuat bahkan pepohonan pun sweatdrop. Mereka baru berhenti setelah keduanya sama-sama tersengal-sengal kehabisan napas.

"Hah…hah…" karena staminanya jauh lebih inferior, Kyuubi butuh waktu yang lebih lama agar bisa mengembalikan kenormalan napasnya. Dan ketika saat itu tiba, dia mendapati kalau Naruto kini memandanginya sambil senyum-senyum. "Apa? Kalau kaukira kau sudah menang, maka lupakan. Aku masih kuat untuk berdebat lebih lama lagi-"

Dan dia dikejutkan oleh Naruto yang tiba-tiba menciumnya tanpa peringatan sedikitpun. "E-eh? K-k-kau…"

"Kau ini memang benar-benar keras kepala…" Naruto menarik gadis itu ke pelukannya, sambil mengecup ubun-ubunnya dengan penuh rasa cinta. "Tapi, kau tetap saja membuatku tergila-gila…"

"…Uuhh…" rona merah dan rasa malu yang kembali dengan kekuatan penuh memaksa Kyuubi untuk menyembunyikan wajahnya di dada Naruto yang bidang. "Biarpun kau bicara manis begitu, aku tetap takkan mengubah pendapatku tentang anak kita, Baka Naruto…"

"Hahaha, siapa juga yang bilang aku masih mempermasalahkan hal itu? Aku tak peduli mau dia jadi cowok atau cewek, aku akan tetap mencintainya! Lagipula, aku ingin sebuah keluarga yang besar!"

Lalu Naruto menyadari kalau Kyuubi sedang memandanginya dengan aneh, "…Ada apa?"

"A-ah, tidak. Hanya saja, entah bagaimana, keinginanmu itu sama persis dengan keinginanku…"

"Bukan kebetulan kok, kalau kita bisa memiliki keinginan yang sama," kata Naruto. "Kita berdua telah sebatang kara sejak terlahir ke dunia ini. Jadi bukan hal yang aneh kalau kita ingin punya banyak anak."

"Hehehe, kau benar sekali," Kyuubi tertawa kecil sambil menyandarkan wajahnya ke dada bidang Naruto. "Jadi, kau mau punya berapa?"

"Tenang saja, kita tidak perlu terburu-buru kok. Bukankah semuanya harus selalu berawal di angka satu?"

"Naruto…" Kyuubi tersenyum simpul. "Sayang sekali, tapi yang kau katakan itu keliru."

"Heh? Oh ayolah, apanya yang-" Naruto tiba-tiba berhenti bicara dengan mulut yang masih terbuka. Kemudian, lambat-lambat, dia menatap Kyuubi dengan mata yang melebar. "Tunggu, apakah…? Jangan-jangan…?"

"Ya," Kyuubi memandang ke bawah, mengindikasikan perutnya. "Mereka kembar."

Naruto terdiam di tempat untuk beberapa saat, dengan mata sebulat bola tenis dan rahang yang tampak seperti tergantung. Dan terus saja begitu untuk beberapa menit, seakan-akan waktu baru saja membeku baginya, membuat gadis di depannya mulai cemas. "Naruto…?" Tak ada jawaban. Kyuubi mendekat dan meletakkan telapak tangannya di pipi Naruto, namun tetap tak ada reaksi. "Hei, jangan buat aku takut begini dong…"

Di saat yang tak disangka-sangka, mata Naruto yang dari tadi kosong mendadak bersinar, dan detik berikutnya, Kyuubi sadar kalau dia sudah telentang di atas rumput. "N-Naruto-" Mulut Kyuubi langsung terhambat dari menciptakan kata setelah Naruto menabrakkan bibirnya.

"Mmnn…! Mnh…!" Kyuubi mengerang dengan sia-sia, karena ia telah terperangkap oleh tubuh Naruto yang jauh lebih besar darinya. "Nnh…" Mungkin karena Naruto sudah terlalu lama tak menciumnya seperti ini, atau mungkin juga karena dia memang lemah secara alamiah pada setiap ciuman Naruto. Yang manapun alasannya, pemberontakan Kyuubi mulai melonggar, yang bisa dilihat dari tangannya yang awalnya mendorong-dorong dada Naruto, kini berubah meremas-remas jaket pemuda itu.

"Hmh…Naru…to…" seakan bisa merasakan bahwa gadis itu mulai kehabisan oksigen, Naruto dengan cepat menjauhkan wajahnya. Namun seakan tak peduli pada fakta bahwa dia masih terengah, gadis yang tertindih tubuhnya itu malah meraih kepala Naruto dan berjuang menariknya kembali ke bawah. "Jangan berhenti…"

Naruto, sebagaimana seorang cowok yang sedang diperintah hormon, mematuhinya dengan senang hati. Setiap kecupan berlangsung lambat dan lama, menyerupai sebuah alunan musik klasik yang mendayu-dayu. Dan setiap kali ciuman mereka melibatkan rongga mulut yang terbuka, Naruto selalu mengambil kesempatan untuk melilitkan lidah mereka dalam sebuah dansa yang dibarengi indahnya musik rintihan Kyuubi.

Tidak perlu sampai 5 menit bagi Kyuubi untuk tenggelam dalam euforia, matanya tidak fokus dan seluruh tubuhnya lemas kehilangan tenaga. Akan tetapi, bukan Naruto namanya kalau tidak bisa membuat perhatian Kyuubi kembali terpusat padanya.

"Aku mencintaimu…" dia berbisik di telinga Kyuubi, napasnya yang hangat membuat sang gadis gemetaran. "Sangat, sangat, sangat mencintaimu…"

"Hei…" Kyuubi memutar-mutar jari telunjuknya di tempatnya merebahkan kepala: dada Naruto. "Yang tadi…kenapa kau tiba-tiba melakukan itu sih?"

"Hem?" Naruto menghentikan kegiatannya: mengelus kepala Kyuubi. "Yang mana?"

"Oh, ayolah, kau pikir yang mana lagi…!"

"Eh, serius. Yang mana?" nada suara Naruto tidak menyiratkan kebohongan. "Apa maksudmu saat aku menindihmu dengan tiba-tiba, menciumi kamu sampai kau tidak bisa bicara, atau saat aku melepaskan ikatan obimu setelah kau memintaku dengan penuh nafsu-"

"Baik, baik, BAIK…!" Kyuubi, yang kini wajahnya sudah merah padam, menyela sebelum Naruto sempat menceritakan segmen yang lebih memalukan lagi tentang aktivitas 'kecil' mereka. Sungguh, andai dia tidak tahu kalau Naruto memang menjawab dengan sungguh-sungguh, Kyuubi pasti sudah menonjok belahan jiwanya itu. "Maksudku, apa yang membuatmu melakukan semua itu?"

"…" Naruto hanya bangkit duduk, tidak menjawab satu kata pun.

"Naruto…?" Kyuubi ikut duduk, dahinya sedikit berkerut. Mengingat sifat sang pemuda yang tak pernah malu-malu mengungkapkan isi hati, Kyuubi tak bisa menganggap diamnya Naruto ini sebagai sebuah pertanda baik. "A-anu, kau tidak usah menjawab kalau kau tidak mau-"

Tapi Kyuubi terpaksa berhenti bicara karena bibirnya telah disegel oleh jari telunjuk Naruto. Dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, Naruto menepuk-nepuk pahanya. Kyuubi, walau bingung, menurut tanpa banyak tanya, beringsut maju dan naik ke pangkuan Naruto.

"…Aku hanya takjub," Naruto tiba-tiba berkata sehabis Kyuubi menyandarkan punggung padanya dengan nyaman. "Terlalu takjub."

"Tak…jub…?" Kyuubi mengulangi dengan ragu.

Naruto mengangguk mengiyakan. "Kau benar-benar seorang wanita yang mengagumkan, kau tahu itu?" Naruto meraih tubuh Kyuubi dan merengkuhnya dalam pelukan yang erat. "Ketika aku sudah mengira bahwa kebahagiaanku sudah mencapai puncaknya, kau malah membuktikan sebaliknya dengan membuatku lebih bahagia lagi."

"Kurasa itu wajar kan? Setelah semua yang kauberikan dan korbankan untukku, aku setidaknya bisa sedikit membalas budi…"

"Oh ho, tapi aku takkan mau kalah begitu saja," tukas Naruto. "Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa membuatmu jauh lebih bahagia lagi…" Naruto mendekatkan bibirnya ke telinga sang gadis. "…Uzumaki Kyuubi."

Kalimat itu cukup untuk membuat Kyuubi terdiam terpana. "…Uzumaki…?" Suaranya tenggelam dalam nada keterkejutan dan ketidakpercayaan. "Naruto, kau bicara apa…?"

"Bukankah itu sudah jelas?" dalam keterpanaannya, Kyuubi hampir tidak sadar bahwa tangan kirinya kini sudah ada di depan wajah, diangkat oleh Naruto, membuatnya sadar bahwa di jari manisnya sudah terpasang sebuah cincin bertatahkan sebuah permata merah yang identik dengan warna matanya sendiri. "Kyuubi, bersediakah kau menjadi istriku?"

Tapi jawaban Kyuubi hanyalah kesunyian, yang sebagian besar mungkin disebabkan karena gadis berambut merah itu masih terlalu sibuk mencerna peristiwa yang baru saja terjadi padanya. Naruto…menyelipkan cincin ini ke jari manisnya…dan melamarnya? Apakah ini mimpi? Mungkin semacam ilusi?

"N-Naruto…" bahkan saat dia berhasil mengeluarkan suara, Kyuubi terdengar seperti berkaok. "A-aku…"

"Asal kau tahu saja, aku takkan menerima kata 'tidak'," Naruto menukas cepat-cepat. "Kau hanya punya satu pilihan, dan itu adalah jadi istriku."

Andai ini hanya lelucon, maka Kyuubi pasti sudah mengomeli Naruto karena nadanya yang sangat memaksa itu. Tapi saat mereka bertemu pandang, Kyuubi jelas-jelas melihat bahwa setelah semua yang ia katakan, mata Naruto malah menyimpan kegugupan dan kecemasan yang luar biasa besar, memberitahunya bahwa pemuda itu tidak sedang bercanda.

Sangkaan bahwa dia sedang bermimpi langsung hancur ketika Kyuubi merasakan aliran air yang hangat melintasi pipinya.

"Eh…?" Kyuubi menjangkau pipinya. Dan benar, jari lentiknya langsung basah.

"Eh?" Naruto mengeluarkan kata yang sama, namun dengan reaksi yang 180 derajat berbeda. Kalau wajah Kyuubi masih terlihat seakan tidak sadar akan keadaannya, Naruto malah langsung panik dan mulai mengekspresikan kekhawatirannya dalam serentetan kata dan tindakan.

…yang langsung dibungkam oleh Kyuubi dengan sebuah gestur sederhana. Melingkarkan tangannya di leher Naruto dan memeluknya erat-erat.

"Ya…" dua hari lalu, Naruto telah membaca dua kata yang mampu membuat dunianya ambruk tertulis dalam selembar kertas. Tapi hari ini, dia mendengar dua kata yang membuat kehidupannya laksana berubah menjadi surga dunia. "Aku bersedia…"

~•~

"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Aku berpikir untuk meninggalkan negara ini, dan menetap di tempat lain," jawab Naruto sambil mengenakan kembali jubah merahnya. "Kita bisa mencoba negara Kaminari, atau mungkin kau lebih suka pulau Mikazuki? Atau…kita bisa bertualang dulu sambil mencari tempat yang cocok."

"Aku sebenarnya tidak terlalu peduli soal itu," Kyuubi, yang masih duduk di tanah, menjawab dengan jujur. "Di manapun tidak masalah bagiku, asalkan aku bisa bersamamu."

Naruto mengulurkan tangannya untuk menarik Kyuubi sampai berdiri. "Kita berpikiran sama, kalau begitu."

Namun sebelum pergi, mereka tak bisa menahan keinginan untuk menolehkan kepala, memberi satu tatapan terakhir ke belakang.

Pada masa lalu yang akan segera mereka tinggalkan.

Pada kenangan-kenangan penuh penderitaan yang akan segera mereka lupakan.

Ke arah salah satu chapter dari kisah kehidupan yang akan segera tamatkan.

Kyuubi menatap Naruto, "Apakah kau menyesalinya?"

Untuk selanjutnya, mereka siap menulisi lembar kehidupan dengan tinta madu.

Naruto membalas tatapan Kyuubi. Saat menjawab, suaranya gamblang, "Tidak. Takkan pernah."

Dan di dalamnya, akan tersulam sebuah kisah cinta yang baru.

Naruto mengeratkan genggaman tangannya. "Ayo."

Mereka menatap ke depan, dan menghilang dalam satu kilatan sinar keemasan.

The End

~0~

-A New Love Story-

A Work of Romance by The Wacky Author

January 2011

Hamba sangat berharap ending ini memuaskan Anda semua. Terima kasih karena sudah menemani dan membimbing hamba yang bego ini selama 7 bulan. Terima kasih atas reviewnya. Terima kasih atas segalanya.

I will see you all again. In another time. In another fic.

Galerians, out and over.