Tittle : Striptease

Subtittle : Turn Me On

Rating : M for this chapter

Characters : Uchiha Sasuke (20), Uzumaki Naruto (16), Hyuuga Neji (20), Deidara (22) Sabaku no Gaara (18), Uchiha Itachi (24).

Warning : Yaoi, SasuNaru, NejiGaa, xxxSasu. Striptease.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

Hingar bingar musik berdebam di telinga Uchiha Sasuke. Seakan beradu dengan detak jantungnya. Lampu warna-warni terus menusuk matanya. Pusing. Ia benar-benar asing dengan situasi ini. Sapphire Gentlemen's Club adalah tempat -yang menurutnya asing- pertama yang dikunjunginya. Ia tampak bosan dan tidak menemukan sisi menarik dari tempat yang direkomendasikan sahabat terbaiknya.

"Uchiha, bisakah kau tidak menampakkan wajah begitu?"

"Dan bisakah kau tidak mengoceh begitu, Hyuuga?"

Hyuuga. Neji Hyuuga hanya bisa tersenyum saat pertanyaanya dijawab dengan pertanyaan lain. Neji sendiri tahu apa yang ada di fikiran pemuda berambut raven itu, "Begini ya ekspresi seorang Uchiha yang patah hati?"

Entah menggoda atau menghina, namun penuturan pemilik bola mata selembut lavender barusan terasa kurang, mungkin sangat tidak menyenangkan bagi Sasuke, "You Jerk!"

"Eh bercanda! Tidak usah melotot begitu!" Sadar bahwa Sasuke tidak ingin diajak bercanda, Neji memilih berhenti. Dirinya tidak mau kena tinju lagi seperti tadi siang di Kampus. "Mau kupesankan minum?"

Sasuke mengangguk. Betapapun ia baru ke tempat seperti ini, namun hal-hal macam minum, bahkan seks, bukan merupakan hal yang tabu baginya.

Tanpa diberitahu dua kali, Neji segera menghilang dari hadapan Sasuke. Memesan minum barangkali.

"Nggh" lenguh Sasuke sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Tempat bising, orang banyak, senyum nakal para wanita yang memperhatikannya. Kombinasi lengkap yang menjadi alasannya tidak betah lama-lama di tempat ini.

Sejenak Sasuke teringat dengan kicauan Neji seharian tadi, yang memaksanya berakhir mati bosan di tempat ini. Masih terngiang ditelinganya celaan-celaan Hyuuga tampan itu, mengenai dirinya yang kuper, mengenai dirinya yang tidak tahu dunia malam metropolitan. Seraya menggembor-gemborkan indahnya club malam yang membebaskan kita melakukan segala macam cara demi kebebasan dan kepuasan. Yang tentunya hanya sesaat.

Tanpa disadari, pemuda berambut panjang itu sudah kembali duduk di tempat semula. Tidak sendiri. Neji merangkul seseorang kekasihnya. Pantas saja ia agak lama memesan minuman. "Ini minumanmu." Tangan putih susu itu menaruh sebuah gelas ke atas meja.
Tangan Sasuke yang sama putihnya meraih gelas yang disodorkan Neji. Meneguk cairan bening di dalamnya.

"Ini kenalkan pacar baruku. Namanya Gaara. Dan Gaara, ini sahabatku Sasuke."

Baik Gaara maupun Sasuke, hanya melirik sebentar. Tidak ada diantara keduanya yang mengajak berjabatan tangan. Terlihat dari sosok keduanya, tidak ada ketertarikan di diri masing-masing untuk berkenalan.

"Teori yang mengatakan bahwa orang yang mempunyai sifat atau hobi sama jika disatukan itu akan menyenangkan, ternyata salah." Gumam Neji.

Musik memang mengalun keras. Namun meja nomor 8 yang dipesan Neji itu terasa sunyi. Bungsu Uchiha maupun Bungsu Sabaku tidak mau buka suara.

"Aku terlihat seperti perempuan yang banyak bicara kalau berada diantara kalian."

"Yes, you are." Sasuke lah yang pertama menggetarkan pita suara.

Neji menaikkan alis. Ia merasa mirip dengan guru TK yang mencoba mendamaikan dua murid perempuan yang terlibat pertengkaran. "Terserah kalian saja. Yang penting, enjoy the night!"

"Neji!" Gaara bergeser menjauhi Neji saat dilihatnya pemuda tidak berpupil itu mendekatinya. Neji selalu gemas dengan mata gothic milik Gaara. Perasaan tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuh saat didapatinya pandangan Neji menusuk matanya.

"Kau manis kalau salah tingkah begitu." Neji mengecup-ngecup bibir ranum pemuda berambut merah didepannya. Wajah Gaara tentu akan terlihat sangat merona kalau cahaya lampu bersinar normal. Entah kapan Neji melakukannya, namun Gaara merasakan ada jemari yang menari di punggungnya. Tangan Gaara kini meraih kepala Neji, membuat kecupan-kecupan hangat menjadi ciuman panas.

"Kalian!" Sasuke menggertak. Ia tidak mau menjadi seekor nyamuk. Menyaksikan keduanya bercumbu, membuatnya semakin tidak betah berada di tempat ini.

Neji menghentikan aksinya. Namun menyempatkan diri untuk menjilat saliva yang mengalir di bibir Gaara. "Kenapa? Ayolah Sasuke, lupakan dia. Nikmati malam ini."

Dalam hati, Uchiha tampan itu menggerutu. Menikmati? Apa yang harus dinikmati? Dia datang sendirian, sedangkan Neji tidak lagi sendirian. Neji bisa melakukan apapun yang ia mau dengan bocah mirip panda yang terlihat sok cool itu. Perlahan tubuhnya memanas akibat efek Vodka berkadar alkohol 49% itu. Membuatnya semakin tersiksa.

"Sepertinya kau lebih suka diajak mendengarkan ceramah di gereja berjam-jam daripada bersenang-senang. Nee, Sasuke?"

Ingin Sasuke berteriak YA keras-keras tepat di depan wajah Neji. Namun ia rasa tidak ada waktu untuknya menjawab semua celotehan Neji. Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Menenggelamkan diri ditengah lautan manusia yang sedang melakukan gerakan-gerakan gila. Persetan dengan kebenciannya terhadap keramaian, karena Sasuke jauh lebih membenci menyaksikan percumbuan terang-terangan di depan matanya. Lagipula, tubuhnya panas, minta dibebaskan.

Perhatian Sasuke kini tertarik pada sosok yang berdiri di tengah manusia-manusia yang haus gerakan. Panggung berbentuk bulat yang setinggi semeter dan diameter semeter pula. Kurang lebih begitu. Serta sebatang tiang besi di tengah-tengah panggung.

Musik dihentikan. Semua mata tertuju pada sosok itu. Tampaknya seorang pemuda. Lampu putih menyinari tubuhnya. Jelas sekali terlihat oleh semuanya. Rambut pirang berkilaunya, kumis kucingnya, kulit karamelnya, tapi tidak matanya. Ia menggunakan topeng yang menyerupai kacamata.

"Striptease?" Sasuke menggumam sambil berjalan melesak ke dekat panggung mini. Dihiraukannya semua orang yang tersingkirkan olehnya. "Kita lihat, seberapa bagus kau menari."

"MINNA-SAN! I'M GONNA MAKE YOU HOTTER TONIGHT!" Teriak pemuda yang tampak begitu menarik dengan setelan khas anak muda itu. Suara riuh gemuruh dari penonton seakan siap menyaksikan si pemuda pirang itu. "NOW!"

Seorang DJ berambut nanas mulai memainkan musik. Lampu warna-warni kembali menyorot ke segala arah, kecuali pada sang stripper yang akan terus bermandikan cahaya lampu berwarna putih.

For the longest while we jaming in the party...
And you're winning on me...
Pushing everything...
Right back on top of me...

Stripper muda yang umurnya diperkirakan masih belasan tahun itu mulai menggerakkan tubuhnya. Membanting wajah ke kiri dan ke kanan. Tangannya menyentuh dada. Ia mengigit bibirnya. Sungguh terlihat sensual.

But if you think you're gonna get away from me...
You better change your mind...
You're going no home...
You're going home with me tonight...

Stripper berambut pirang itu membuka kancing kemejanya satu persatu. Setelah semua buah kancing terbuka, ia menanggalkan kemeja itu ke sembarang arah. Sedikit menggoyang-goyangkan pinggul. Membuat siapapun yang melihatnya semakin penasaran pada apa yang akan dilakukan selanjutnya.

So let me hold you...
Girl caress my body...
You got me going crazy...
You~ turn me on...
Turn me on...

Baik wanita maupun pria, mereka bersorak. Stripper mengacak-acak rambutnya. Sesekali menjambaknya. Bertingkah seolah ia sedang diliputi nafsu. Tangannya merayap dari dada ke perut. Memainkan kancing dan resleting celana jeans-nya.

Let me jam you...
Girl wine all around me...
You got me going crazy...
You~ turn me on...
Turn me on...

Jemarinya dengan cepat membuka celananya. Dan seperti yang dilakukannya tadi, membuang kain tebal penutup kakinya. Hampir telanjang. Hanya selembar celana dalam yang menutupi bagian pribadi miliknya. Gerak tariannya masih terkesan menggoda.

One hand on the ground and bumper cock skyhigh...
Winning hard on me...
Got the python...
Hollerin' for mercy...

Stripper yang diperkirakan masih belasan tahun itu menaiki tiang strip lalu turun dengan gerakan memutar. Sesekali melempar ciuman pada hadirin yang menyaksikan gerakannya. Ia menautkan sebelah kakinya. Mengajak tiang mati itu berdansa bersama.

Then I whisper in her ear so wine harder...
And theo rie said to me...
Boy just push that thing...
Push it harder back to me...

Stripper nakal menjulurkan lidahnya. Menjilati tiang dingin yang tengah dirabanya. Menarikan jemari, pinggulnya masih bergoyang. Ia mulai menggesek-gesekkan miliknya ke tiang tersebut.

So let me hold you...
Girl caress my body...
You got me going crazy...
You~ turn me on...
Turn me on...

Gerakkan mencumbu semakin ia semangat lakukan. Melingkarkan pelukan di tiang itu. Memaju mundurkan pinggulnya. Seakan tiang itu benar teman kencannya. Semua yang berada disana begitu terbelalak dengan ke-erotis-an sang stripper.

Let me jam you...
Girl wine all around me...
You got me going crazy...
You~ turn me on...
Turn me on...

Merasa kurang puas dengan sebatang tiang, stripper berkumis kucing itu menyusupkan tangannya ke dalam satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya. Mengocok benda yang membuatnya tidak nyaman sedari tadi. Ia membuka mulutnya tanda ia mendesah. Sedang tangan kirinya meraih dua tonjolan sekaligus di dadanya. Semakin kencang dengan semua kekuatan yang ia punya. Hingga ia terjatuh dalam kenikmatan seolah merasakan orgasme. Hadirin bertepuk tangan dan masih tetap bersorak.

Hug me, hug me...
Kiss me, squeeze me...
Hug me, kiss and caress me...
Hug me, hug me...
Kiss me squeeze me...
Hug me, kiss and caress me...

Stripper bertampang manis itu bangkit dengan senyum terkembang. Saat yang paling ia sukai. Ketika tadi ia membuka mata, lembaran uang sudah berhamburan di atas panggung mininya. Banyak pula yang mengacungkan uangnya. Ingin diambil sendiri oleh sang stripper. Ia mulai mengikuti irama kembali, "PUT YOUR OWN WHEREVER YOU WANT" teriaknya.

Tangan tangan beruang terjulur padanya. Stripper menari mengelilingi tiang. Memberikan tangannya yang dalam sekejap sudah terisi penuh oleh berlembar-lembar uang berbagai pecahan, yen maupun dollar.

Sasuke, yang sedari tadi mengikuti pertunjukkan segera merogoh saku. Hanya ada selembar uang. Seratus dollar. Adalah kecerobohannya meninggalkan dompet di sofa tadi. Ketidaksengajaan tentunya. Mudah-mudahan Neji bisa menemukannya.

"Hi, honey!" Stripper yang ternyata bermata biru -diintip dari luar topengnya- itu menyapa satu pemuda. Tidak mendapat jawaban, ia menyentuhkan telunjuknya pada bibir sang pemuda.

"Huh?" Sasuke tersadar dari lamunannya.

Stripper tersenyum nakal, "Something in your HAND must be mine!" Tangannya mencoba meraih uang kertas dari tangan Sasuke.

Dengan gesit Sasuke menarik tangannya. Ia menyeringai,"Naughty."

Menggeram kesal. Ia menjulurkan lidah tanda mengejek. Melirik nominal yang ada di tangan sang rambut raven. Seratus dollar, tentu sayang dilewatkan begitu saja. Dengan cepat ia meraih kepala Sasuke dan menciumnya. Lidahnya kembali terjulur. Bukan mengejek seperti tadi, kini ia gunakan lidah itu untuk menari di bibir Sasuke. Mengalihkan gerakan tangannya yang berhasil meraih uang dari Sasuke.

Berbalik Sasuke yang menggeram kesal.

.

.

"Seharusnya kau lihat betapa tampangmu terlihat begitu konyol saat kau berhasil dibodohi stripper baru itu!" Neji berujar. Kali ini ia sendirian. Dan itu tidak membuat Sasuke tertarik menanyakan kemana perginya kekasih Neji.

Sebutir perasaan senang menghampiri dadanya saat ia lihat dompetnya tersungkur di sudut sofa club. "Baru?"

Menyadari ketertarikan Sasuke, Neji tersenyum. Ia mendapat lampu hijau tentang cara menjauhkan fikiran Sasuke dari seseorang. "Aku pengunjung tetap club ini. Kalau tidak salah dia baru tiga atau empat kali menari striptease disini. Setiap malam minggu seperti sekarang."

Sasuke mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia harus jadi milikku!"

Pergi dari hadapan Sasuke. Neji tahu betul apa yang harus ia lakukan. Apa yang Uchiha itu katakan, maka harus dilaksanakan. Ia sendiri sudah berjanji pada Itachi, kakak Sasuke, akan menjaga anak itu. Sasuke tidak punya sahabat, bahkan teman selain Neji.

"Ini, kau bicara saja sendiri!" Neji datang dalam waktu singkat dan menggandeng seorang gadis berkuncir tinggi-tinggi. Dandanannya tampak tomboy.

"Aku Deidara. Pengelola club malam ini. Ada yang bisa ku bantu?"

Perkiraan Sasuke salah. Dia ternyata seorang pemuda, sama sepertinya. Bahkan suaranya terdengar lebih matang dari Sasuke sekalipun. "Aku berniat membeli stripper-mu!"

Mata saphire Deidara terbelalak, tidak jelas itu merupakan ekspresi senang atau tidak senang, "Apa yang membuatmu tertarik pada Naruto?"

"Naruto?" Bibir Sasuke menyeringai. "Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Aku akan melakukan apapun untuknya. Untuk mendapatkannya."

Deidara mengerutkan dahinya, "Benarkah?"

"Lima ratus ribu dollar." Ujar Sasuke datar. Neji dan Deidara kaget mendengarnya. "Bagaimana?"

"Entahlah."

Neji ikut masuk ke diskusi terlarang itu, "Apa uangnya kurang?"

"Tentu cukup." Deidara terlihat berfikir dari caranya mengerutkan dahi, "Tapi dia adikku."

"Haruskah aku berkata, mohon?"

Pemuda bermata lavender berfikir keras. Ia harus membantu Sasuke mendapatkan si stripper. Satu hal yang hampir tidak mungkin bagi seorang kakak menjual adiknya sendiri. Tapi ini club. Segala hal berbau moral, kemanusiaan, sara, tidak berlaku di tempat ini. "Kalau temanku begitu, berarti ia benar-benar ingin. Siapapun tidak akan bisa menolak keinginan Uchiha."

Mendengar kata UCHIHA, Deidara melemah. "Ada syaratnya!"

"Syarat?" Sasuke dan Neji bersamaan.

"Dia baru 16 tahun. Jangan melakukan hal itu sebelum ia berumur 17 tahun. Jangan perlakukan dia sebagai pelacur, budak, dan atau makhluk berderajat rendah lainnya."

Sasuke dan Neji saling berpandangan, "Aku setuju. Jadi kita deal?" Sasuke tampak amat semangat.

Deidara berdiri, "Akan aku fikirkan!"

.

Sasuke mengulat di atas kasur. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Ia baru bangun tidur. Kepalanya terasa pusing, tentu akibat minuman semalam. Satu gak yang membuatnya bangun adalah deringan kencang Handphone yang ditaruh di atas meja lampu samping kasurnya.

"Neji ada apa?" Suaranya terdengar malas.

Diseberang sana Neji menggerutu, "Kau tidur begitu mirip singa Macau. Mentang-mentang hari Minggu."

"Hn."

"Deidara menerima penawaran kita!"

To Be Continued…

.

.

.

Terima kasih untuk Minna-san yang menyempatkan diri membaca fic ini. Silakan sampaikan komentar di review. Flame untuk kesalahan dan kecacatan fic, diterima. Tapi tidak Flame untuk Yaoi.