Tittle : Striptease

Subtittle : Nightmare

Rating : T for this chapter

Characters : Uchiha Sasuke (20), Uzumaki Naruto (16), Hyuuga Neji (20), Deidara (22) Sabaku no Gaara (18), Uchiha Itachi (24).

Warning : Yaoi, SasuNaru, NejiGaa, xxxSasu. Human trafficing in this chapter.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

Namikaze Deidara. Pemuda berumur 22 tahun, tampak mengarahkan matanya lurus ke depan dan memandang sesuatu dengan tatapan kosong. Semburat-semburat lelah begitu kental menghiasi wajahnya. Menjadi seorang pengelola klub malam yang buka mulai pukul 21.00 sampai 03.00, tentu harus sudah siap dengan kenyataan terenggutnya waktu istirahat yang bagi banyak orang sangat berharga. Dia memang tipe hard worker. Aku sangat mengagumimu Niisan.

"Kenapa kau melihatiku seperti itu?" satu suara cukup membuatku terkejut. Seorang yang tadi ku perhatikan balas memperhatikan aku. "Lekas berpakaian lengkap!"

Aku mengangguk sambil tersenyum. Yang berbuah wajah acuh tak acuh darinya. Ia memalingkan muka dan mulai menghitung lembar-lembar uang di hadapannya.

Aku merasakan udara malam menusuk pori-pori kulitku. Memang saat ini tidak ada selembar pakaianpun yang menutupi tubuhku. Tanganku lalu terjulur untuk meraih sebuah celana jeans panjang sembari memunguti sisa-sisa harga diri. Itupun kalau aku masih memiliki apa itu yang dinamakan harga diri. Bayangkan saya, di umurku yang masih sangat muda ini, aku harus menjadi seorang penari telanjang. Niisan sendiri yang menjerumuskan aku ke lembah nista ini.

Tiga tahun lalu, kebahagiaanku begitu lengkap. Sebuah keluarga kecil yang tidak kurang satu apapun.

Hingga suatu saat ketika pulang sekolah aku dikejutkan oleh sosok tak bernyawa dengan mulut penuh busa. Sosok itu adalah Tousan. Wajahnya yang selalu merona dan hangat saat itu aku lihat amat pucat dan dingin.

Melalui hasil penyelidikan polisi, didapat beberapa fakta di balik peristiwa bunuh diri Tousan. Kebangkrutan perusahaan atas rival bebuyutannya serta hutang-hutang Tousan yang lumayan mencekik leher. Sebotol pain-killer yang Tousan selalu gunakan untuk menahan rasa sakit jantungnya ternyata menjadi bahan pemutus nyawanya.

Kehidupanku pun mulai berubah. Kaasan terlihat sangat tertekan. Tidak mau makan jika tidak di paksa. Warna rambutnya yang merah itu semakin lusuh dari hari ke hari. Niisan sampai harus pulang ke Iwa untuk merawat Kaasan dan mengabaikan kuliahnya di Konoha. Tragis. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh anak berumur 13 tahun sepertiku. Karena Kaasan tak kunjung membaik, akhirnya Niisan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa supaya ditangani pihak medis.

Rumah mewahku dijual. Tiga mobil yang selalu bertengger di garasi pun ikut dijual. Semua Niisan lakukan untuk menutupi hutang dan tentu saja untuk membiayai pengobatan Kaasan. Entah di mana yang namanya saudara, kerabat dan sahabat. Mereka tidak muncul satu batang hidungnya pun.

Satu tahun setelah kematian Tousan, Niisan membawaku pindah ke Konoha. Tentu saja memindahkan Kaasan berobat pula. Aku bersekolah di Konoha dan Niisan mulai sibuk kesana kemari mencari pekerjaan.

Niisan terus berganti pekerjaan. Mulai dari penjaga toko buku, pelayan restaurant, penjaga kasir di supermarket pernah dilakoninya.

Lain dari biasanya, di satu hari Niisan pulang hampir pagi. Aku terkejut karena Niisan pulang dalam keadaan mabuk dan meracau kata-kata kotor. Pikiran-pikiran aneh mulai menggerayangi otakku. Mungkinkah Niisan bekerja sebagai...

Ternyata dugaanku salah. Niisan diterima kerja sebagai pengelola sebuah klub malam elite di Konoha. Meski berkesan negatif tapi aku bersyukur karena Niisan tidak harus menjual diri demi menghidupi aku dan Kaasan.

Sikap Niisan berubah amat keras. Tidak hangat seperti dulu. Tapi yang lebih membuat hatiku miris adalah melihat Niisan kerja tak memandang waktu. Pergi malam dan pulang pagi. Sedangkan siang lebih Niisan gunakan sebagai waktu mengejar ketertinggalan tugas kuliahnya. Aku bisa membayangkan bagaimana lelah dirinya. Ocehan orang yang mengatakan Niisan bukan figur baik-baik pun selalu membuat telingaku panas. Niisan bukan orang rendah seperti yang mereka kira.

Karena tidak ada yang banyak aku kerjakan, akhirnya aku menawarkan diri bekerja. Dengan syarat tidak mengganggu sekolahku. Beberapa hari setelah aku mengatakan itu, Niisan datang dengan frustasi dan melemparkan beberapa keping kaset DVD seraya berkata, "Pelajari semua itu, dalam waktu seminggu kau harus sudah mahir mempraktekkannya. Dan kau akan bekerja di klub malam yang aku kelola."

Mula-mula aku tidak mengerti apa yang dimaksud Niisan. Aku memungut kepingan itu dan menyetelnya. Aku lihat sekumpulan pemuda menari sambil melucuti pakaiannya masing-masing. Bergerak erotis. Menari liar. Karena takut Niisan salah memberi kaset, aku beranjak ke kaset kedua. Sama. Ke kaset ketiga, tetap sama. Intinya, semua kaset berisi adegan striptease. Apa-apaan ini? Aku harus berlaku seperti itu? Tapi aku sergah protes itu, aku akan melakukan apapun demi meringankan bebannya.

Hari pertama aku bekerja. Sebelumnya, aku minta identitasku dirahasiakan dan aku ingin memakai topeng dalam setiap pertunjukan. Tentu aku tidak mau ada yang mengenaliku. Dengan ragu, aku naik ke panggung yang disediakan untuk stripper. Melihat ke sekeliling hanyalah mata-mata lapar yang menatapku. Mereka tersenyum menggoda yang ku anggap sebagai pelecehan. Lima belas menit durasi musik terasa seabad bagiku.

Aku menangis di ruang ganti. Tanpa pakaian yang harusnya melekat di tubuhku. Aku benar-benar merasa seperti sampah. Tidak pernah ada yang melihatku telanjang, apalagi harus menari se-erotis mungkin. Begitu melihat Niisan datang, aku hapus air mataku. Di tangan kirinya terselip beberapa lembar uang. Hasil pekerjaan kotorku. Dan untuk pertama kakinya aku melihat Niisan kembali tersenyum manis. Ya, senyuman malaikat yang aku nanti terpoles juga di bibirnya. Segera ku tepis rasa sedih yang tadi menggerayangi hatiku. Aku bertekad akan tetap meneruskan pekerjaan ini. Demi Tuhan, aku akan rela melakukan apapun hanya untuk melihat senyumnya.

Dan ini adalah hari ke empat aku bekerja di Sapphire Gentlemen's Club. Berarti sudah sebulan aku bekerja karena aku hanya bertugas pada Sabtu malam saja. Kini aku sudah berpakaian lengkap. Kulihat Niisan kembali terlarut dalam lamunannya. Matanya bukan hanya tampak lelah, tapi juga menyiratkan sebuah beban berat yang tengah dipikulnya. Kau sedang memikirkan apa Nii-san? Bolehkah aku tahu? Oh, tidak. Aku tentu tidak akan lancang bertanya seperti itu. Aku masih bisa merasakan pukulan di dadaku yang kau layangkan kemarin. Aku tidak boleh mencampuri hal yang merupakan urusanmu. Seperti katamu.

"A-ano Niisan, pulang bersama?"

Dia tersentak. Rambut pirangnya bergoyang, "Tidak. Kau duluan saja. Ini kuncinya." Niisan merogoh saku. Dikeluarkannya dua buah kunci. Kunci sepeda motor dan kunci rumah.

"Niisan pulang naik apa?" Tanyaku ragu dan sedikit terdengar bergetar.

"Un. Aku bisa numpang pada yang lain. Hati-hati. Pastikan rumah dikunci kalau mau tidur."

Tidak seperti biasa, bahasa yang ia gunakan kini terasa lebih lembut. Tidak ada bentakkan. Tidak ada mata amarah. Dan yang paling penting, tidak ada pukulan.

.

"Naruto bangun!" seorang pemuda bishie tengah menggoyang-goyangkan tubuh seorang pemuda lainnya yang hampir identik dengannya, "NARUTO!"

Plakk ! !

Naruto terbangun. Tamparan keras itu terasa begitu pergi di pipinya. Ia berasumsi bahwa dirinya tadi sulit dibangunkan. Ia tahu betul kakaknya, Deidara, selalu menggunakan cara barusan kalau Naruto sulit dibangunkan.

Dengan kesadaran yang masih setengah, ia menolehkan kepala ke arah sang kakak. Baru setengah tujuh, padahal biasanya setiap weekend Deidara pulang lebih siang, atau malah tidak pulang sama sekali. "Niisan sudah pulang? Astaga Niisan, aku lupa mengunci pintu saat mau tidur. Maafkan aku."

"Aku tidak mau membahasnya," Deidara memperhatikan adiknya yang menguap lebar. "Aku sudah memutuskan untuk menjualmu pada seorang Uchiha."

Shock. Naruto yang tadi masih mengantuk, begitu mendengar perkataan barusan langsung terhenyak, "Menjual? Menjual aku? Apa maksudmu Niisan?"

Deidara melipat tangannya di atas dada, bertingkah acuh sambil memutar bola mata. "Kau pasti sudah bosan dengan profesimu sebagai penari telanjang kan?"

"Tidak." jawab Naruto cepat-cepat. "Aku sama sekali tidak keberatan dengan statusku sebagai stripper. Tapi aku tidak mau dijadikan pelacur."

Sejenak hening. Deidara mencoba memilah-milih kata, "Gaji sebagai stripper tidak akan cukup untuk membiayai aku, kau dan pengobatan Kaasan. Kau tahu sendiri gajiku sebulan hanya cukup untuk bayar cicilan rumah, listrik, telepon dan air. Mana untuk pengobatan Kaasan? Biaya Sekolahmu dan Kuliahku mana juga? Hari ini juga kau akan tinggal dengan Uchiha itu."

"Niisan, aku berubah fikiran. Aku bersedia dijadikan pelacur. Tapi tolong ijinkan aku tetap tinggal bersamamu Niisan!"

Melihat adik mengiba mungkin akan membuat siapapun tersentuh hatinya. Tapi entah mengapa Deidara tetap melenggang keluar sambil berkata, "Itu sudah keputusanku."

.

"Naruto, maafkan Niisan." bisikku amat sangat pelan sambil mengunci pintu kamarnya. Aku jatuhkan badanku dan kurasakan adik tercintaku itu memukul-mukul pintu.

"Niisan!" aku yakin dia mengira aku sudah jauh, terdengar dari kuatnya teriakan Naruto. "Jadikan aku gigolo, pelacur atau apapun itu. Mereka boleh memperlakukan aku seperti binatang. Tapi tolong biarkan aku tetap di sini!"

Tidak pernah ada dalam benakku untuk menjadikan kau makhluk berderajat rendah. Aku tidak tahan kau dilecehkan dengan cara menari seperti kemarin malam. Aku tidak sudi kau memuaskan mata-mata lapar mereka.

"Niisan! Aku harus ke gereja!" aku tahu kebiasaanmu setiap hari Minggu, tapi tolong jangan jadikan itu sebagai alasan untukmu lebih lama di sini. "Niisan! Aku ingin ke makan Tousan, aku juga harus menjenguk Kaasan. Aku juga..."

Mencoba menulikan telinga pun tidak ada gunanya. Teriakannya terlalu kuat seakan merobek selaput organ pendengaranku. Aku harus hentikan semua ini sebelum aku benar-benar akan menangis layaknya pecundang. Kuraih gagang pintu dengan ragu dan segera memutar kunci. Berniat masuk. Tapi apakah aku sanggup bertatap mata lagi dengannya?

Tubuh itu langsung memelukku ketika aku membuka pintu kamarnya, "Niisan, Niisan! Katakan kau berubah pikiran!"

Kucoba melepaskan pelukan erat itu. Namun sulit. Dan sebenarnya hatiku pun menginginkannya. Oh tidak. Aku, aku harus tatap melepasnya. "Dengar! Aku tetap akan menjualmu. Jangan berbuat macam-macam apalagi sampai membuat Uchiha itu kecewa padamu."

"Niisan, kumohon!"

Berhasil. Pelukan itu sudah ku lepas dan Naruto jatuh tersungkur mencium lantai. Kali ini ia memeluk kakiku. Naruto, permohonan bagaimana lagi yang akan kau lakukan? Aku tarik rambut pendeknya supaya wajahnya mengarah padaku. "Kau tidak berguna bagiku. Hanya benalu. Hanya menjadi beban pikiranku. Satu jam lagi orang suruhan Uchiha itu akan datang menjemputmu!"

Aku banting tubuhnya. Naruto sedikit mengerang sakit sambil memegang punggungnya. Aku keluar dan kembali mengunci pintu kamarnya.

Jantungku terasa dihujam bertubi-tubi saat kudengar isak tangis Naruto. Tidak ada teriakan seperti tadi. Naruto, jangan pernah menangis terisak seperti itu, hanya akan membuatmu terlihat lemah saja.

.

"Wah, sang stripper sexy yang membuat Sasuke tergila-gila itu ternyata masih sangat bocah ya?"

Entah pada siapa pertanyaan itu dilontarkan namun baik Deidara ataupun Naruto tidak tertarik untuk menanggapi pemuda kalem bernama Hyuuga Neji itu.

"Uangnya sudah ditransfer ke rekeningmu dan apa kau menjamin ia tak akan macam-macam?" Neji menambahkan.

Deidara mendengus, lalu melirik Naruto yang matanya masih sembab. "Aku akan mengembalikan uang si Uchiha itu seratus persen lalu dia macam-macam. Dan pastikan Uchiha itu memegang janjinya. Mengenai syarat kemarin?"

Hyuuga muda hanya mengangguk-angguk, "Itu sudah pasti. Sasuke kan sudah menyetujuinya. Dan bisakah kita pergi sekarang?"

"Niisan, Niisan! Tidak mau! Tolong katakan pada orang tak berpupil ini bahwa kau tak jadi menjualku."

"Tak berpupil, eh?"

Ehemm! !

Deheman keras Deidara membuat perhatian kedua orang itu tertuju padanya, "Semua sudah siap. Silakan bawa anak ini."

Naruto mencoba menganggap semuanya hanya mimpi. Tapi entah kenapa ia mau melangkahkan kaki ketika dipapah oleh Neji. Dalam hati ia merutuk dan mengutuk seorang yang disebut-sebut Uchiha itu.

"Tunggu Naruto!"

Sebuah panggilan yang menghadirkan bulir-bulir harapan di dada remaja berkumis kucing itu. Ia membiarkan kakaknya membisikkan sesuatu tepat di telinganya.

"Jangan pernah memakai nama Namikaze lagi!"

Enam kata yang cukup untuk menghancurkan setebal apapun itu dinding harapan. Naruto benar-benar merasa terbuang. Tapi entah kenapa tidak ada sedikitpun rasa ganjil macam benci di hatinya. Bukan ingin si stripper muda kalau saat ini ada air hangat yang keluar dari kedua bola mata safirnya.

"Jangan menangis. Tangisan tidak akan pernah merubah apapun."

Diiid Diiid !

"Mau sampai kapan acara mellow-mellownya?"

Deidara mendorong Naruto supaya menjauhinya.

"N-Niisan..." dengan langkah gontai, Naruto berjalan ke arah mobil silver mewah yang ia lihat seperti kereta menuju neraka dengan supir iblis bersosok malaikat tampan di dalamnya.

'Kalau ada surga di sana, tolong jangan pernah sekalipun kau tengokkan matamu ke neraka ini lagi. Segala apapun yang kau mau pasti akan aku penuhi, andai aku bisa. Sayang, bukan aku orangnya, tapi tak usah kawatir. Aku sudah menemukannya. Seorang Uchiha tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri. Percayalah!'

To be continued…

.

.

.

Hn hn hn. Entah sudah berapa batang coklat pasta yang masuk mulut untuk temani saya membuat fic. So, kalau ada yang ingin chapter depan di-update lebih cepat, silakan beli dan kirim coklat pasta sebanyak uang yang anda punya. Boleh saya sebutkan merk? Merknya Cho- mph *disumpel kaos kaki*

Saya tahu chap ini mengecewakan dan amat sangat jauh dari kata memuaskan. So, adakah yang bersedia review? Atau mungkin saking jeleknya ada yang ngotot ingin Flame? Silakan, fic saya memang buruk. Tapi maaf, saya tidak memperkenankan flame untuk YAOI ataupun PAIRING.

Oh ya, tahukah anda kalau tanggal 26 Juli itu adalah hari besar bagi saya? Tanggal ini adalah tanggal kelahiran seseorang yang hampir saya jadikan jantung hati. Dan di tanggal ini pula artis idola saya menghembuskan nafas terakhirnya. Rest in peace MJ, you're always in my heart…