Disclaimer: Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Warning: AU, OOC, Shounen-ai, TWOSHOOT, aneh, alurnya kecepetan mungkin, ada Tory cheese Cracker pairingnya(?), humornya gajebo, L pake nama Ryuuzaki. Ada OC gaje yang jadi piguran gak penting. err- saya juga ragu sama genrenya. Kencangkan sabuk pengaman anda sebelum lepas landas :)

Special request fic for: Namikaze RYuuKitsune

Enjoy this 8D


What the-?

.

.

"Sialaaan!" teriak Light frustasi sambil menendang CPU tercintanya yang entah kenapa sedari tadi mengeluarkan bunyi aneh dan tak bisa menyala. Namun sedetik kemudian pemuda itu tersungkur sambil memeluk CPUnya. "Ah! Maaf, Grell-chan. Aku terlalu emosi, jadi menendangmu. Aku tidak bermaksud, maaf," ujarnya dengan tatapan penuh kasih sayang pada CPUnya sambil mengelus-ngelus permukaannya yang berdebu.

Ya, Grell adalah nama yang dianugrahkan oleh Light pada komputernya. Akhir-akhir ini Light sering menonton anime berjudul Kuroshitsuji, dan ia jatuh cinta pada makhluk bergender tak jelas bernama Grell yang termasuk salah satu dalam karakter anime tersebut. Sudahlah, hal yang tak penting ini tak layak untuk dibahas.

Light kembali membaca deretan kata yang tertera di layar monitor berbackground hitam itu. "Please insert your hard disk bla bla blaaah~ Apaan lagi sih yang harus di insert-insert?" tanyanya entah pada siapa.

Pemuda pemilik rambut hazelnut itu membuat author ingin membeli Bengbeng hazelnut di warung untuk menemani author mengetik fanfic ini. Oke, maaf, abaikan saja perkataan tak jelas tadi. Pemuda pemilik rambut hazel itu bingung sendiri sambil menatap monitornya. Padahal daritadi ia sudah memikirkan apa yang terjadi pada komputernya sambil mondar-mandir, salto, jungkir balik, kayang, roll depan, roll belakang, sampai rolling stone, tapi ia tetap tak mengetahui apa yang menyerang komputernya. Yang ia yakini adalah kalau komputernya tak mungkin terkena virus. Jelas saja ia tak mengerti, toh ia bukan ahli komputer.

Setelah berfikir lama, akhirnya Light memutuskan untuk menelepon Kantor Jasa Per-becak-an yang ada di komplek perumahannya untuk memanggil becak ke rumahnya.

Dengan sabar, Light menunggu si abang becak di depan rumahnya sambil ngoceh-ngoceh tak jelas, mengutuk si abang yang tak kunjung tiba. Serta ngedangdut ria, menyanyikan lagu bang Toyib sampai-sampai ia dikira orang gila yang diusir dari rumah.

Satu jam bukan waktu yang sebentar untuk seorang Light yang sedang menunggu becak yang jarak tempat mangkalnya ke rumahnya tak sampai 1km. Akhirnya si abang keren datang dengan pakaian rapih sambil menggoes becaknya dengan susah payah. Dibelakangnya, ada dua buah mobil hitam berlogo yang sepertinya mengekori si abang becak.

"Oi bang! Lama amat!" bentak Light kesal pada si abang yang ngos-ngosan.

"Hehe, maklum saya baru," sahut si abang santai dengan wajah innocent sambil menggaruk pantatnya yang gatal karena jok yang didudukinya banyak kutunya.

"Ngapain juga itu pake baju bagus-bagus kaya orang mau ngantor?" tanya Light sewot sambil menunjuk-nunjuk pakaian si abang, setelan kemeja abu-abu kebiruan, lengkap dengan dasi pula.

"Oh ini. Nama saya Matsuda, saya sedang mengikuti program acara Tv, 'Bosan Jadi Pegawai', tahu kan mas?" kata si abang memeperkenalkan diri tanpa diminta.

"Oh! Saya tahu! I-ini, ada kamera dong?" tanya Light antusias.

Matsuda mengangguk semangat. "Disana kamera, disana juga, disana juga ada. Kalau menyerah lambaikan tangan saja, nanti tim kami akan datang," kata si abang ngawur sembari menunjuk-nunjuk ke arah kamera di sekitarnya. Light sweatdrop.

"Onii-san~! Mau kemana siang-siang panas begini?" teriak Sayu yang keluar tiba-tiba dari dalam rumah, setelah menyadari kakaknya tidak ada di kamar.

"Ah, Sayu berisik. Mau ke dokter!" jawab Light jutek sambil senyum-senyum plus dadah-dadah ala Aming ke arah kamera yang tadi ditunjukkan oleh Matsuda.

"Dokter? Siapa yang sakit?" tanya Sayu menyelidik.

"Grell-chan," sahut Light singkat, sekarang ia kissbye-kissbye ke arah kamera. Gantian, Matsuda sweatdrop.

"Siapa Grell-chan?"

"Mas, jadi gak nih naik becaknya?" tanya si abang yang udah keringetan nungguin Light. Kemudian ia dadah-dadah ke Sayu dengan gerakan slow motion. Sayu sweatdrop.

.

.

"Wah, pemirsa, penghasilan ketiga untuk hari ini nih. Lumayan," ujar Matsuda menatap kamera yang menyorot dirinya sambil memamerkan selembar uang lima ribuan.

"Oi bang, kameranya gak mau masuk?" tanya Light pada Matsuda.

"Buat apa? Kan saya cuma nganterin mas doang. Kamera kan mau ngeliput saya," ujar Matsuda santai.

"Oh iya, kirain mau liput saya. Yaudah, dadah mas-mas kameramen ganteng, nanti kita ketemu lagi ya kapan-kapan. Dadah~" ujar Light yang kemudian masuk ke dalam toko komputer yang ramai pengunjung itu.

"Ya pemirsa, barusan itu penumpang paling spektakuler di antara yang lainnya," ujar Matsuda pada kamera.

Sementara itu di dalam toko..

Suasana ramai pengunjung yang ingin memenuhi kebutuhan elektroniknya menambah panas suasana siang hari yang terik.

"Mas, langsung naik saja. Mau service kan?" sapa seorang wanita berambut pirang dengan poni panjang pendek.

"Oh, makasih ya," balas Light sambil tersenyum yang kemudian menaiki tangga yang tepat di sebelahnya.

Suasana di atas jauh lebih sepi. Hanya saja lebih banyak barang yang diletakkan disana. Seperti CPU yang akan diservice, kardus-kardus yang berisi seperangkat alat elektronik, dan lainnya. Ruangan itu terasa sempit. Walaupun disana hanya ada 3 orang yang bekerja.

Seorang pemuda berambut merah sedang sibuk meng-install program yang author tidak tahu di sudut kanan. Didekatnya ada seorang pemuda berambut blonde yang sedang duduk-duduk santai saja. Sementara itu, di sudut kiri, ada seorang lelaki berambut hitam dengan cara duduk aneh yang lebih terlihat seperti berjongkok.

Lelaki berambut hitam itu berdiri dan berbalik menghadap Light. Memperlihatkan wajah pucatnya yang sepertinya jarang terkena sinar matahari. kantung matanya yang tebal menggantung dimatanya. "Ada yang bisa kubantu?" tanya lelaki itu pada Light. Suara baritonnya terdengar seksih di telinga Light. Light memandang lelaki itu dengan pandangan berbinar dan background pink-pink, ditambah bunga sakura yang bermekaran dan pelangi yang menggantung di atas kepalanya dengan tak kontrasnya. Detik itu juga, Light menyatakan dirinya 'Fallin love at the first sight' pada lelaki itu.

"A-ano, komputerku tak bisa menyala," kata Light dengan wajah mupeng, tak sadar ilernya sudah hampir menetes.

Lelaki itu mengambil alih CPU Light dari tangan Light, sehingga tangannya secara tak sadar bersentuhan dengan tangan Light. Langsung saja liur Light menetes saat lelaki itu sdah berbalik untuk mengetes CPU nya.

Setelah dicoba dan akhirnya komputernya tak bisa menyala, lelaki itu akhirnya mencoba membongkar CPU Light.

"Ini motherboardnya yang rusak," ujar si lelaki setelah lama memeriksa.

"Mo-motherboard? Kerusakan fisik ya?" tanya Light yang sudah menghapus liurnya. Hatinya berdebar-debar menatap si lelaki manis yang sekarang tengah ebrbicara di depannya.

"Ya, harddisknya jadi tidak bisa dimasukkan," jawab lelaki itu.

"Err, biaya perbaikannya berapa?"

"Kalau pakai motherboard yang second, sekitar 230 ribu. Kalau mau bisa diambil nanti malam."

"Y-ya sudah, aku ambil nanti malam," sahut Light gugup yang langsung hendak turun tapi dihentikan oleh si lelaki tadi.

"Tungu," Light berbalik, "kau lupa notanya," ujar lelaki itu seraya menghampiri meja, membelakangi Light, lalu menuliskan beberapa kata disana. "Nama?"

"Eh? Namaku? Namaku Light, Light Yagami," jawab Light.

"Ryuuzaki-san!" si pemuda berambut blonde menghampiri lelaki itu seraya menggelayuti lehernya.

"Ada apa Mello?" tanya lelaki yang dipanggil Ryuuzaki itu.

Ah, apa-apaan sih si blonde gila itu, pergi sana dari pangeranku, jangan dekat-dekat, hus hus, batin Light tak senang.

"Aku sebal," sahut si blonde sambil melirik pemuda berambut merah yang sedang berkonsentrasi pada komputer di depannya.

"Bertengkar lagi dengan Matt-kun?"

"Iya, huhu." Mello mengeratkan pelukan pada leher Ryuuzaki yang membuat wajah Light memerah karena marah.

"Jaga kelakuanmu, Mello-kun," Ryuzaki meregangkan pelukan Mello seraya berbalik menghadap Light, "Nomor handphonemu berapa?"

"Nomor handphoneku?" ulang Light tak percaya. Gyaaa! Dia mnta nomor handphoneku! Emaak, ada cowo cakep minta nomor handphone aye! batin Light girang. Wajahnya memerah saat Ryuuzaki mengangguk. "Nomorku kosong delapan sembilan satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan."

"Nomor yang cantik," ujar si blonde sambil tersenyum, "Ryuuzaki-san, panas-panas begini, tubuhmu tetap dingin ya, nyaman sekali," lanjut pemuda itu yang semakin mengeratkan pelukannya dengan volume suara yang dikencangkan, membuat pemuda yang bernama Matt menoleh ke arah mereka.

"Mello-kun," desis Ryuuzaki tidak senang.

GYAAA! AKU MAU JADI SI BLONDE YANG BISA PELUK-PELUK DIA SEENAKNYA! EMAK, MAUU! jerit Light dalam hati.

Ryuzaki merobek nota dua rangkap itu lalu menyodorkannya selembar pada Light. "Ini, nanti kalau sudah bisa diambil akan kuhubungi."

Light menerimanya dengan gugup. "Te-terima kasih."

Dan Light pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga sambil menyanyikan syair tembang kenangan dengan nada yang kacau, ditambah dengan joget-joget tak jelas di sepanjang jalan. Membuat orang-orang yang melihatnya terpaksa menatapnya dengan pandangan sayang-banget-cakep-cakep-tapi-gila, atau ada-orang-gila-lagi-kasmaran.

Sesampainya dirumah, Light langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya agar Sayu bawel itu tak mengganggunya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya yang berkeringat di atas ranjangnya. Karena bajunya basah berkeringat, jadi ia lepas saja baju itu.

"Aaah! Ryuuzaki, menikahlah denganku!" seru Light pada bantal gulingnya yang sekarang di peluknya. "Kau mau menikah denganku? Ah, terima kasih! Muach muach!" Light lalu menciumi bantal guling itu dengan napsunya. Sepanjang siang hari yang panas itu, Light tak henti-hentinya memikirkan lelaki dewasa yang bernama Ryuuzaki itu sampai ia seperti orang gila. Ia juga memenuhi otaknya dengan pikiran yang aneh-aneh dan mesum tentang lelaki itu. Membuatnya nyengir-nyengir cekikikan sendiri dalam kamarnya.

"Onii-san! Makan malam!" seru Sayu yang sedari tadi tidak berhasil membujuk Light agar membantunya mengerjakan PR sambil menggedor pintu kamar Light.

Pemuda bermata coklat itu melirik jendela kamarnya yang masih terang benderang ditimpah cahaya matahari kemudian balas berteriak. "Jangan bodoh, Sayu! Ini masih siang!"

"Ah, Onii-san mah!" Sayu yang akhirnya menyerah turun ke ruang tamu.

Dan Light pun tertidur saking lelahnya membayangkan wajah imut, manis, lucu, cantik seperti panda milik Ryuuzaki itu.

.

.

I still hear your voice when you sleep next to me. I still feel your touch in my dreams. Forgive me my weakness, but I don't know why. Without you it's hard to survive.

Suara handphone Light yang sedang di dalam kantong berdering nyaring. Light yang sedang tertidur pun terbangun dengan wajah mesum dan langsung grepe-grepe pantatnya sendiri buat nyari handphonenya yang ternyata ada di pahanya. Sangat jelas kalau tadi ia memimpikan yang aneh-aneh tentang Ryuuzaki.

Light melihat nomor tak dikenal yang berkedip di layar handphone bobroknya. "Wah! Ini pasti Ryuuzaki!" teriaknya histeris, kemudian mengangkatnya dan berujar dengan nada antusias, "Halo?"

"Selamat malam, apa benar saya berbicara dengan bapak Light Yagami?" tanya suara wanita di seberang sana.

Lah, kok cewe? batin Light bingung. Ah, mungkin ini operatornya. "Ya, saya Light."

"Bisa minta waktunya sebentar? Saya Tuti Mastuti dari 3 costumer care, mau memberitahukan bahwa nomor bapak terpilih sebagai nomor yang beruntung dan mendapatkan gratis panggilan ke sesama operator selama seminggu," ujar si operator itu. Light langsung kecewa dan lesu.

"Ya, bisa," sahut Light ogah-ogahan. Kemudian ia menekan tombol loudspeaker, dan membiarkan si operator berbicara sepuas hatinya tanpa ia dengarkan.

Setelah beberapa saat, si operator akhirnya mengatakan, "Bagaimana bapak, apa sudah jelas?"

"Ya ya, terima kasih ya, malam, dadah, jangan nelpon lagi ya, muach muach, besok tanda tangannya dikirim," jawab Light ngaco kemudian langsung mematikan teleponnya.

Pemuda itu kemudian bangun dari tidurnya, meregangkan tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, roll depan, roll belakang, sit up, push up, berbagai ritual dan senam lantai lainnya sebelum akhirnya ia mengambil handuknya lalu menyampirkannya bahunya, bersiap-siap mandi. Tapi, baru saja ia membuka kunci kamarnya, handphonenya berdering lagi.

Lagi-lagi nomor tak dikenal. Yang ini pasti Ryuuzaki! Batin Light yakin.

"Hallo?" ujar Light dengan suara seksih yang dibuat-buat, ditambah dengan desahan merdunya yang membumbui suaranya sehingga menciptakan cita rasa yang sempurna.

"Hallo? Ini Yagami-san ya?" tanya suara di seberang sana, itu bukan suara bariton seksih milik Ryuuzaki. Light langsung kecewa, merasa menyia-nyiakan suara seksihnya yang merdu dan spesial ia keluarkan hanya untuk Ryuuzakinya.

"Iya, ini siapa ya?" tanya Light dengan suara biasa.

"Ini Mello dari Death Hardware, CPUnya sudah bisa diambil tuh," kata suara itu.

Ah, ini si blonde itu ya. "Oh, ya sudah saya kesana. Terima kasih."

Light mematikan teleponnya kemudian beranjak ke kamar mandi dengan ogah-ogahan.

Setelah mandi selama 45 menit, Light akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang wanginya semerbak. Tak tanggung-tanggung, setengah botol sabun dihabiskan agar tubuhnya wangi saat bertemu Ryuuzaki, dan Ryuuzaki jatuh cinta padanya.

Dengan hati dan perasaan yang berbunga-bunga, akhirnya Light melangkah keluar rumah menuju Death Hardware, toko komputer itu dengan jalan kaki. Sesekali ia tebar pesona pada gadis-gadis yang lewat, dan gadis-gadis itu dengan otomatis langsung berbisik-bisik dan cekikikan dengan temannya.

.

.

TBC


A/N: *lap keringet pake jaket* akhirnya selesai juga. gomen kalo ada typo, gomen kalo ngaco, gomen kalo aneh dan gajebo, dan- gomen deh pokonya atas ketidaksempurnaannya.

Ada yang tahu gak ringtonenya itu lagu apa? :3

YOSH! Pokoknya fic ini akan di apdet secepetnya. Makin banyak review, makin cepet apdet. Review?