Dearly Beloved

Disclaimer: Akiyosho Hongo,TOEI Animation,dan Bandai corp, tapi YamaChi milikku dan penggemarnya

WARNING : Sho-Ai / YAOI / BL / SUPER OOC

Beta Reader : Phoebe Yuu

Pengenalan tokoh :

- Ishida Hiroaki (Ayah Yamato)

- Kamiya Susumu (Ayah Taichi)

- Kamiya Yuuko (Ibu Taichi)

- Taiko dan Assam (Nenek & kakek Taichi, yang diambil dari serial manga "Prince Of Tea". Ada yang pernah baca?)


Taichi memandang hampa pintu apartemen bobrok yang ada dihadapannya. Taichi ingin membuka pintu itu, tapi dia sangat takut. Tapi kalau dia tidak membuka pintu itu… dia akan pulang kemana? Rumahnya hanya disini.

/"Yamato! Kau ini bodoh atau apa, sih? Kau mau-maunya mengurus anak sialan itu sampai tidak masuk sekolah!"/ Taichi kembali terngiang teriakan Takato yang didengarnya di rumah Matt tadi. Dia menggeleng lemah, mencoba melenyapkan suara itu, tapi tidak bisa, suara tersebut terus terdengar berulang-ulang di telinganya.

Taichi mengulurkan tangannya perlahan ke arah kenop pintu. Tapi belum sempat Taichi membukanya dari luar, pintu tersebut telah terbuka. Taichi dan Susumu yang berbarengan membuka pintu sama-sama terkejut.

"Anak sialan!" ringis Susumu. "Masih ingat untuk pulang kau, HAH!" teriak Susumu yang langsung menjambak rambut Taichi dengan keras dan menariknya dengan kasar masuk ke dalam rumah.

Taichi hanya bisa memejamkan matanya ketika Susumu menyeretnya masuk ke dalam dan dengan kasar mendorongnya jatuh ke lantai apartemennya. Kemudian beberapa kali tendangan mendarat di tubuh kurusnya.

"Yamato! Aku juga ada sahabat! Aku mengerti perasaanmu! Tapi kalau sahabat kita sendiri membuat kita sial, dia harus kita tinggalkan!"

"Dari mana saja kau, anak sialan? HAH! Jawab aku!" Susumu kembali menendang tubuh rapuh Taichi, kali ini ditambah dengan lecutan ikat pinggang yang baru dilepasnya.

"O… O-tou-san… aku-dari rumah Ya-mato…" jawab Taichi terbata-bata, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang diterimanya.

Mata Susumu membesar, kaget mendengar jawaban Taichi. "Kau! Kau masih berani-beraninya ke rumah Ishida itu! Dasar tidak tahu malu kau! Kau itu anak pembawa sial! Dasar tidak tahu diuntung! Apa kau masih suka dengan anaknya, HEH?" teriak Susumu, yang tidak dijawab apa-apa oleh Taichi.

Kalau boleh jujur, ya, Taichi amat sangat mencintai Matt. Tapi dia harus tahu diri. Taichi tahu kalau dia benar-benar tidak pantas berada disamping Matt, walaupun hanya sebagai sahabat. Apakah Matt juga setidaknya menganggapnya teman? Ataukah… Matt hanya merasa kasihan kepadanya?

"Tapi Yamato, Taichi itu sama sekali tidak pantas ada disampingmu! Kau tidak lihat orang tuanya sering mabuk-mabukkan?"

"Kalau aku sedang bicara, sebaiknya kau jawab, ANAK SIALAN!" Susumu kembali menendang dan mencambuki Tachi, kali ini diselingi dengan beberapa botol bir yang pecah karena dilempar ke tubuh anaknya. "Jawab aku!"

"O-tou-san… Sa-kit…" ringis Taichi pelan.

"Aku tidak minta kau untuk merengek! Aku minta Kau jawab pertanyaanku! APA KAU MASIH SUKA DENGAN ANAK ISHIDA, HEH, ANAK PEMBAWA SIAL?"

Taichi tidak mau berkata apa-apa, perlahan air matanya turun.

"Beraninya kau menangis! Aku tidak menyuruhmu untuk menangis!" Susumu menginjak-injak kepala Taichi dengan keras.

"Sa-kit…" lirih Taichi. "O-tou-san... maaf-kan... Tai-chi…" bisik Taichi pelan.

"Kau itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi! Dosamu terlalu besar! Kau tidak akan bisa mengembalikan nyawa yang hilang, kan? Kau tidak bisa mengembalikan nyawa istriku, kan! Anak pembawa Sial! Seharusnya yang Mati waktu itu! Bukan istriku, tapi kau!" Terakhir, dengan kuat Susumu mendang perut Taichi hingga Taichi memuntahkan darah.

"Bahkan tempat Taichi kerja sambilan sering mendapatkan masalah karena orang tuanya! Entah merasa kasihan atau memang terlampau baik, manager mini market itu masih membiarkan Taichi tetap bekerja disana! Bisa-bisa kau mendapat sial Yamato!"

Taichi sudah tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya serasa remuk dan mati rasa. Hatinya sekarang sudah benar-benar hancur mendengar ucapan Susumu.

"Oka-chan… maafkan Taichi membuat Oka-chan pergi dan membuat Otou-san sedih… membuat Hikari kehilangan Oka-chan… semuanya salah Taichi, Oka-chan. Taichi memang tidak pantas untuk hidup… Taichi anak pembawa sial" Taichi sudah tidak bisa merasakan rasa sakit yang diterima oleh tubuhnya. Pandangannya sekarang sudah sangat kosong.

"Yamato… Yamato dimana? Aku takut… Yamato… Yamato… apa memang Aku tidak boleh mencintai Yamato? Apa Aku tidak boleh dicintai…Yamato…"

Sementara itu Susumu masih terus menyiksa Taichi sambil tertawa terbahak.


Matt dan Hiroaki yang baru sampai didepan apartemen Taichi sedikit bingung melihat pintu apartemen itu setengah terbuka, dan kemudian mereka mendengar suara tertawa dan bunyi pukulan. Tanpa banyak pikir lagi, mereka langsung masuk.

Matt dan Hiroaki langsung terdiam di tempat melihat apa yang ada dihadapan mereka. Dengan tatapan marah Matt langsung mendorong Susumu menjauh dari Taichi dan langsung melihat keadaan temannya, sedangkan Hiroaki langsung menahan Susumu dan menelpon polisi juga ambulans.

"Tai… kau bisa dengar aku?" tanya Matt, sangat cemas melihat seluruh tubuh Taichi yang babak belur dan banyak darah yang keluar dari mana-mana. Tidak ada jawaban sama sekali dari Taichi, yang hanya memandangnya dengan tatapan mata yang kosong.

"Kalian memang bodoh. Khukhu… Kalian hebat masih bisa mengkhawatirkan anak pembawa sial itu," Susumu terkekeh saat dia melihat Matt dengan tatapan mengasihani.

"Kau itu yang pembawa sial!" teriak Hiroaki. Dia segera membungkam mulut Susumu dengan meninju keras perutnya hingga Susumu terbatuk-batuk.

"Tai… kumohon jawab aku…" Matt masih berusaha berbicara pada Taichi, tapi tetap saja tidak ada jawaban yang berarti dari Taichi, bahkan bola mata Taichi juga tidak bergerak sama sekali, sampai Taichi akhirnya tidak sadarkan diri.

"Chichi-hue, kapan ambulansnya akan datang?" tanya Matt panik ketika dia melihat Taichi tidak sadarkan diri.

"Sebentar lagi, Yamato."

"Kalian akan menyesal telah mengenal anak sialan itu," ujar Susumu terakhir kalinya sebelum terdengar bunyi sirine mobil polisi dan ambulans.


Hampir seharian Matt dan Hiroaki menunggui Taichi yang ada di dalam ruang operasi. Segera setelah ambulan sampai di rumah sakit, Taichi langung dilarikan ke ruang operasi. Dokter meminta izin untuk mengangkat serpihan tulang retak yang bersarang di tubuh Taichi. Matt sama sekali tidak bisa diam, dia terus mondar-mandir kesana-kemari.

"Yamato, tidak bisakah kau diam dan duduk dengan tenang? Chichi-Hue tahu kau cemas, tapi kalau kau terus seperti itu, malah hanya akan membuat orang tambah panik saja!" tegur Hiroaki sedikit risih. Matt hanya mendengus kencang sebelum akhirnya ikut duduk di sebelah Hiroaki.

"Apa chichi-hue telah memberitahukan sekolah?" tanya Matt ketika hari sudah beranjak siang.

"Sudah. Dan kau tahu, kepala sekolah langsung berteriak cemas (ya iyalah, kepala sekolah itu kan suami Tsunade-san, yang dimana mereka sudah menganggap Taichi itu cucu mereka sendiri) sebelum akhirnya telepon itu berpindah tangan kepada Tsunade-san. Tsunade-san bilang secepatnya dia akan kemari."

Matt menghela nafas berat. Ia menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya lampu ruang operasi mati. Dokter yang pertama keluar dari dalam ruangan dan kemudian disusul oleh ranjang Taichi yang didorong oleh beberapa suster.

Matt terhenyak melihat Taichi, banyak sekali selang yang tertanam di tubuhnya. Matt lama terdiam sebelum Hiroaki menyadarkannya, lalu mereka berdua langsung mengikuti Taichi ke ruang rawat inap.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Hiroaki.

Dokter itu terdiam sejenak sebelum berbicara. "Sebaiknya kita bicarakan diruangan saya. Mari," Dokter itu langsung keluar diikuti Hiroaki, sedangkan Matt tetap diam di sisi Taichi.

"Silahkan duduk, Ishida-san," Dokter itu mempersilahkan Hiroaki duduk saat dia melepas dan menggantung jas putihnya sebelum akhirnya duduk di hadapan Hiroaki.

"Jadi bagaimana, Dok?"

Pertama dokter itu menghela nafas berat. "Tadi kami melihat banyak sekali bekas luka yang diderita oleh Kamiya-kun, dan saya rasa… itu juga bukan luka kecil, melainkan luka yang cukup parah. Ada beberapa luka yang infeksi dan belum sembuh secara total, lalu ditambah dengan luka yang baru diterimanya kemarin. Dan belum lagi… luka dalam yang dideritanya."

"Maksud Dokter dengan luka dalam?"

Lagi-lagi dokter itu menghela nafas berat. "Maag kronis. Peradangan pada paru-paru."

Hiroaki menatap dokter itu seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

"Lalu, ada cukup banyak serpihan-serpihan tulang yang berada di dalam tubuhnya, bukan yang baru, tetapi sudah cukup lama bersarang di tubuh Kamiya-kun." Dokter itu terdiam sejenak. "Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, Ishida-san. kalau boleh dibilang, suatu keajaiban Kamiya-kun masih bisa bertahan seperti itu." Dokter itu memenjamkan matanya sebentar. "Tubuh anak itu sudah benar-benar rapuh. Aku hanya bisa menyarankan untuk tidak membiarkan Kamiya-kun melakukan hal-hal yang berat, karena itu bisa sangat berpengaruh buruk pada kondisi tubuh dan kesehatannya."

Hiroaki tertegun mendengar penjelasan dari dokter.

"Untuk sementara ini, kami akan terus memantau perkembangan Kamiya-kun."


Kini sudah hampir satu minggu lamanya Taichi tersadar setelah satu minggu pasca operasi terlewati dalam keadaan koma, dan itu membuat semuanya sangat senang. Waktu anak laki-laki itu pertama kali sadar, Tsunade langsung memeluk Taichi sambil menangis senang, tapi kesenangan itu perlahan pupus ketika mereka semua menyadari kalau Taichi tidak merespon mereka sama sekali.

Dan setelah diperiksa, Taichi memang bisa dikatakan telah sadar, tapi sebenarnya Taichi tidak tersadar secara utuh. Hanya tubuhnya saja yang sadar. sedangkan jiwanya… who knows?

Matt meminta pada Hiroaki untuk merawat Taichi di rumah mereka, yang sangat disetujui oleh Hiroaki. Sebenarnya Taichi ingin dibawa oleh Tsunade dan Jiraiya, suaminya, tapi karena Matt bersikeras, jadi apa boleh buat. Tsunade juga merasa kalau Taichi berada di dekat Matt, Taichi akan cepat pulih. Maka dengan terpaksa Tsunade menyetujuinya.

Sementara itu Susumu sekarang mendekam di penjara dengan tuduhan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Dan atas laporan yang diberikan Hiroaki, kemungkinan besar Susumu akan dihukum seberat-beratnya dan tidak akan pernah keluar dari dalam penjara, alias hukuman seumur hidup.

Matt juga tidak lupa memberikan kabar tentang Taichi kepada neneknya di Hokkaido. Dan hal itu sempat membuat gempar, ditambah lagi nenek Taichi pingsan setelah mendapat telepon dari Matt.

Esoknya, setelah Matt memberikan kabar, nenek Taichi dan Hikari langsung pergi ke Tokyo untuk melihat keadaan Taichi. Melihat keadaan Taichi yang seperti itu, Hikari menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakaknya, nenek Taichi memeluk kedua cucunya erat.

Jadilah malam itu mereka menginap dirumah Matt.


Seminggu kemudian, Nenek Taiko meminta waktu dari Hiroaki dan Matt untuk membicarakan sesuatu, sepertinya hal yang sangat penting. Mereka bertiga telah berkumpul diruang makan, sedangkan Taichi ada di kamar Matt ditemani oleh Hikari.

"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Hiroaki.

"Begini, saya ingin merawat Taichi di Hokkaido," ujar Nenek Taiko. Matt langsung terdiam mendengar ucapannya. Hati Matt sangat sakit, dia benar-benar tidak ingin berpisah dari Taichi.

Nenek Taiko mengetahui perubahan tersebut dari raut wajah Matt. "Dan juga saya ingin mengajak Yamato-kun," lanjut nenek Taiko. Mata Matt segera membulat dan belum sempat berkata apa-apa karena sudah keburu dipotong oleh Nenek Taiko. "Saya tahu kalau Taichi tidak akan bisa bertahan kalau tidak ada kau, Yama-kun, untuk itu saya harap Yama-kun mau ikut dengan kami, dan saya harap anda mengizinkannya, Ishida-san?"

Matt diam dan menatap Hiroaki. Dengan perlahan senyum dibibir Hiroaki merekah. "Silahkan saja, tidak ada masalah sama sekali."

"Baiklah kalau begitu, saya akan segera mengurus surat pemindahan Taichi dan Yama-kun."

"A-Tidak perlu, err…"

"Anda ini bagaimana, Ishida-kun, sudah saya bilang panggil saya Taiko saja. Begini-begini saya belum terlalu tua lho! Hohhoho…"

"Haha…" Hiroaki sedikit sweatdrop mendengar ucapan Nenek Taiko. "Tidak perlu, Taiko-san, biar saya saja yang mengurusnya beserta semua barang milik Taichi di apartemennya."

"Apa tidak merepotkan Ishida-kun?" tanya Nenek Taiko, merasa tidak enak.

"Tidak sama sekali, karena saya sudah menganggap Taichi sebagai anak saya sendiri." Obrolan mereka terhenti saat Hikari masuk dengan wajah yang pucat pasi.

"O-Onii-chan… Oni-chan…" ujar Hikari terbata-bata.

"Ada apa, Kari?" tanya Nenek Taiko. "Ada apa dengan Taichi?"

""O-Oni-chan menangis… entah kenapa…"

Semuanya terdiam sebelum akhirnya cepat-cepat menuju kamar Matt. Setelah masuk, Matt langsung mendekati Taichi yang sedang duduk bersandarkan dinding di atas ranjang Matt. Perlahan Matt duduk disebelah Taichi.

"Ada apa Tai…?" tanya Matt, tersenyum lembut saat dia menatap wajah Taichi dan menghapus air matanya. "Ssh… tidak apa-apa, Tai… sekarang tidak akan ada seorang pun yang akan menyakitimu… aku akan selalu menjagamu…" Matt menempelkan keningnya ke kening Taichi.

Air mata Taichi masih terus saja mengalir. "Shhh… kau itu bukan anak pembawa sial, Tai… hanya orang bodoh yang mengataimu seperti itu. Aku tahu kau melebihi siapa pun..." bisik Matt pelan.

Nenek Taiko ingin mendekati cucunya, tapi langsung ditahan oleh Hiroaki. Nenek Taiko memandang heran ke arah Hiroaki, yang hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya pelan.

"Dengar, aku sudah pernah bilang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu… tidak akan pernah, Tai. Sekarang penjamkan matamu… istirahatlah, Tai…aku akan terus bersamamu…"

Seakan mendengar ucapan Matt, dengan perlahan mata Taichi menutup, lalu tertidur didalam pelukan Matt. Dengan hati-hati Matt menidurkan Taichi dan membenahi selimut di sekitar tubuhnya.

Setelah itu mereka semua keluar dan membiarkan Taichi istirahat ditemani oleh Matt.

"Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi tadi, Ishida-kun?" tanya nenek Taiko masih bingung. Dia melihat sendiri tadi, Taichi bahkan tidak mengatakan apa-apa, tapi kenapa Matt berbicara seolah dia mengerti semua yang akan Taichi katakan?

Lagi-lagi Hiroaki hanya tersenyum. "Saya juga tidak terlalu mengerti, Taiko-san. Yang saya tahu hanyalah kenyataan kalau mereka saling mengerti tanpa perlu mereka bicara satu sama lainnya. Saya permisi tidur lebih dulu, Taiko-san. Oyasumi…" ujar Hiroaki sebelum menghilang menuju kemarnya.

Nenek taiko hanya membalas pelan ucapan selamat malam dari Hiroaki sebelum mengajak Hikari untuk tidur juga.


Akhirnya Matt dan Taichi pindah ke Hokkaido. Kepindahan itu disambut gembira oleh Kakek Assam, suami nenek Taiko.

"Selamat datang di rumahmu yang baru, Tai!" ucap nenek Taiko saat mereka masuk ke dalam rumah Nenek Taiko. Sebenarnya rumah itu bergabung dengan kedai minum teh. Kedai berada di lantai bawah dan rumah mereka berada di lantai 2. Nenek Taiko dan Kakek Assam sudah sangat lama mengurus Kedai itu.

"Yama-kun, kamar kalian diujung lorong ini. Kalau ada apa-apa, kau bisa panggil kami di bawah. Silahkan beristirahat, Yama-kun," ucap Nenek Taiko sambil tersenyum lembut. Dia lalu mendekati Taichi sebentar dan mencium keningnya sebelum kembali ke bawah.

Perlahan Matt menuntun Taichi menuju kamar baru mereka. Setelah masuk Matt menarik Taichi dan mendudukkannya di atas ranjang. Kamar mereka memang tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman, apalagi ada beranda yang menghubungkan mereka dengan pemandangan danau di belakang kedai.

"Tai…" Matt berjongkok di hadapan Taichi dan menggenggam erat tangan Taichi seraya tersenyum. "Kita akan memulai hidup baru disini, jadi aku mohon…" Matt menempelkan kedua tangan Taichi ke pipinya sendiri. "Lupakan semuanya… lupakan semua masa lalu yang menyakitimu, Tai…"

Perlahan air mata Taichi turun. Matt tahu itu bukanlah air mata sedih, itu adalah air mata kebahagian. Matt segera menarik Taichi kedalam pelukannya. "Semuanya telah berakhir, Tai… aku janji akan membuatmu bahagia… aku janji…" Matt perlahan menarik wajah Taichi dan menciumnya lembut.


"Yamato-kun, Taichi di mana?" tanya Nenek Taiko melihat Matt sendirian, setahunya tadi Taichi ada bersamanya.

"Ada di belakang bersama dengan Hikari, aku mau masuk sebentar mengambil mantel Taichi, Oba-san." Matt tersenyum sambil menunjukkan mantel Taichi. "Oba-san sendiri mau kemana malam-malam begini?" Matt bertanya melihat Nenek Taiko berdandan dengan sangat rapi.

"Tidak kemana-mana, hanya bertemu dengan teman lama saja. Mungkin aku akan pulang sedikit larut, jadi tidur duluan saja, tidak usah menungguku. Aku pergi dulu, Yamato-kun, Ittekimasu!"

Matt hanya membalas pelan ucapan Nenek Taiko, karena yang bersangkutan sudah keburu keluar. "Iterashai," ujar Matt tersenyum menatap pintu toko yang kini tertutup rapat sebelum berjalan menuju ke belakang.

"Kari," panggil Matt.

Hikari perlahan mendongak ke belakang dan saat melihat Matt, dia tersenyum lembut. Dia menyandarkan kepala Taichi ke pundaknya. Matt perlahan duduk dan mengangkat pelan kepala Taichi agar memudahkan Hikari berdiri. "Arigatou."

"Iie…" Hikari tersenyum lembut sebelum berjalan kembali ke dalam kedai.

Matt memindahkan posisi Taichi ke atas pangkuannya, lalu menyelimuti Taichi dengan mantel yang dibawanya tadi dan memeluknya erat dari belakang. Matt menenggelamkan wajahnya diatas kepala Taichi dan menghirup dalam-dalam aroma pemuda itu.

Tempat itu menjadi sunyi senyap. Matt masih tetap sibuk menghirup aroma Taichi, yang Matt sebut dengan aroma mentari, karena Taichi selalu sangat senang pergi keluar jika cuaca sedang cerah, membuat aroma tubuh Taichi seperti wangi matahari.

Tapi Matt sedikit terkejut saat dia merasakan basah ditangannya. Matt langsung mengangkat wajahnya, dan kaget dengan apa yang telah di hadapannya dan Taichi. Yuuko (dalam ingatan Matt tetap seperti 8 tahun yang lalu) sedang berlutut dihadapan Taichi dan mengelus pelan wajah Taichi, tersenyum memandang Matt sekilas. Matt sadar mengapa tangannya menjadi basah… itu air mata Taichi.

Matt memberanikan dirinya untuk berbicara. "Yuuko-san…" ujar Matt pelan.

Tbc~


*Sigh…, maaf lama updetnya ==". Sibuk Kuliah ^^

Sankyu buat yang udah mau baca Fic Rin ini, dan Sankyu juga atas reviewnya. n` mau review lagi? :3