Dearly Beloved

Disclaimer: Akiyosho Hongo,TOEI Animation,dan Bandai corp, tapi YamaChi milikku dan penggemarnya

WARNING : Sho-Ai / YAOI / BL / SUPER OOC

Beta Reader : Phoebe Yuu

Pengenalan tokoh :

- Ishida Hiroaki (Ayah Yamato)

- Kamiya Susumu (Ayah Taichi)

- Kamiya Yuuko (Ibu Taichi)

- Taiko dan Assam (Nenek & kakek Taichi, yang diambil dari serial manga "Prince Of Tea". Ada yang pernah baca?)


"Yuuko-san…" ujar Matt pelan.

Yuuko kembali menatap Matt, lalu dengan pelan berbicara. "Yamato-kun, terima kasih karena selama ini telah menjaga Taichi, mempercayai Taichi…" Yuuko tersenyum lembut.

Matt langsung tersenyum dan mendekap Taichi makin erat. "Tidak masalah sama sekali, Yuuko-san, saya ikhlas dan sangat senang melakukan hal itu karena… saya… mencintai Taichi…"

"Aku tahu itu, Yamato-kun," Yuuko kembali menatap wajah Taichi. "Tai, mulai sekarang kau akan bahagia. Oka-chan tahu itu. Ne, kalau kau ingin bertemu dengan Oka-chan, pangil saja, Oka-chan akan selalu ada untukmu." Yuuko mengecup kening Taichi pelan.

Lalu sebelum menghilang Yuuko terlihat seperti mengatakan sesuatu kepada Matt sambil tersenyum, dan saat menghilang Taichi langsung tidak sadarkan diri, tentu saja membuat Matt panik sekali.


Nenek Taiko hanya bisa terdiam melihat Matt yang tertidur dibawah ranjang di sebelah Taichi sambil terus menggenggam erat tangannya. Nenek Taiko sangat terkejut saat dirinya mendengar kalau semalam Taichi tidak sadarkan diri dari Hikari. Setelah membetulkan selimut Matt, Nenek Taiko perlahan keluar kamar Taichi.

Tidak lama kemudian Tangan Taichi yang digenggam Matt mulai bergerak –gerak. Dengan perlahan Taichi membuka matanya, dan kemudian mengerjap-ngerjap. Taichi terdiam sebentar setelah pendangannya normal sebelum akhirnya memanggil nama Matt dan mulai terisak.

"Yama~to… YamaTo~ Hiks... uhk... hiks… yamato…" Taichi makin terisak, dan hal tersebut membangunkan Matt. Matt yang sangat terkejut mendengar Taichi menangis lalu segera melihat keadaannya. Matt sangat senang Taichi sudah sadar, ditambah lagi kalau kesadaran Taichi sudah benar-benar pulih. Matt terus saja mengelus kepala Taichi lembut dan menciumi tangan yang masih ada didalam genggamannya.

"Aku disini Taichi… aku disini…"

"Jangan pergi…. Ya~mato… hiks… jangan mem-benciku…"

"Shhh… aku tidak akan pergi, Tai… aku tidak pernah akan membencimu… tenanglah…" Matt membantu Taichi duduk lalu menariknya ke dalam pelukannya, menyandarkan tubuh rapuh itu senyaman mungkin pada tubuhnya. "Aku mencintaimu, Tai… sangat-sangat mencintaimu…" Dengan perlahan Matt mengangakat wajah Taichi lalu mencium bibir ranum itu.


Esoknya, mengetahui kesadaran Taichi sudah pulih sepenuhnya, Nenek Taiko sangat senang dan segera mengadakan pesta untuk merayakannya, walaupun Taichi sudah bilang tidak perlu, tapi tetap saja sang nenek melakukannya.

Akhirnya pesta yang cukup meriah diadakan di belakang kedai tersebut, cukup banyak yang diundang, tetangga dekat di sekitar tempat itu, tidak lupa dengan , Tsunade dan Jiraiya beserta beberapa guru dari Tokyo.

Ketika bertemu dengan Taichi, dengan suka cita Tsunade langsung memeluk Taichi penuh kasih sayang, sambil marah-marah karena Taichi telah membuatnya sangat khawatir. Taichi hanya bisa tersenyum mendengar hal itu.

Seharian Taichi ditahan oleh orang-orang yang datang dari Tokyo. Sedangkan Matt membantu Nenek Taiko menyiapkan makan malam, karena pasti tidak mungkin mereka semuanya harus pulang malam itu, dan otomatis harus menginap. Namun tentu saja Matt tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari Taichi.

"Minna! Ayo masuk! Makan malamnya sudah siap!" teriak Nenek Taiko dari dalam rumah.

Ketika mereka semua sudah siap untuk makan, acara itu harus terhenti sejenak saat mereka mendengar bunyi bel kedai itu berbunyi.

"Siapa, sih, yang datang? Padahal sudah ditulis di depan kalau kedai tutup hari ini." Hikari beranjak berdiri untuk membuka pintunya, tapi langsung dicegah Matt.

"Biar aku saja yang bukakan," ujar Matt, langsung meninggalkan meja makan sendirian. Tidak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut dari arah depan. Nenek Taiko yang penasaran berdiri dan hendak menuju ke depan.

"Oba-chan, biar Taichi saja yang lihat ada apa," ujar Taichi, Nenek Taiko hanya menganguk dan kembali ke tempat duduknya.

"Yamato ada ap— wuaaahhh!" Taichi berteriak kaget saat tiba-tiba dua orang menubruk lalu memeluknya erat sambil menangis. Untung saja Matt bisa menahannya dari belakang sehingga Taichi tidak terjatuh.

"Tai! Maafkan kami... hiks…, kami tidak tahu, Tai… Hiks… sungguh, Tai…" isak seorang gadis berambut pink panjang. Tachikawa Mimi.

"Taichi no Baka! Kenapa kau tidak cerita sama sekali dengan kami apa yang terjadi! Kami kan bisa membantumu! Hikz…" Kali ini Seorang gadis berambut coklat pendek yang memeluk Taichi dari sebelah kanan. Takenouchi Sora.

Diikuti kemunculan seorang pemuda yang bertubuh sedikit pendek dan berambut coklat terang nyaris jingga. Koushiro Izumi, dengan tampang kesal memandang Taichi didampingi seorang pemuda berkacamata disampingnya, Kido Joe.

"Kau sangat membuat kami cemas, Tai!" rutuknya.

"Tenang, ne, Izzy…" Joe menahan Izzy pelan karena tubuhnya sedikit gemetaran entah menahan amarah ataukah menahan agar air matanya tidak tumpah.

Taichi hanya menunduk lalu meminta maaf "Go-Gomenasai… a-aku hanya tidak mau merepotkan kalian…" bisik Taichi lirih, walau begitu didalam hati Taichi sangat senang karena sahabat-sahabatnya sama sekali tidak melupakannya, malah sangat mengkhawatirkannya.

Dengan tatapan tajam Sora memandang Matt seakan ingin membunuh. "Kenapa kau tidak memberi tahu kami, Yamato?" tuntut Sora.

"Aku sibuk, tidak sempat menghubungi kalian," ujar Matt membela dirinya. Mana sempat dia memikirkan yang lain disaat yang ada dalam pikirannya hanyalah Taichi.

Tidak lama kemudian muncullah nenek Taiko. Akhirnya dengan paksaan nenek Taiko, semuanya masuk dan menginap.


"Jadi… kalian ini sahabat cucuku?" tanya Nenek Taiko saat dia mengajak Sora mengobrol ditemani dengan Matt dan Joe.

"Ya, Taiko-san."

"Lalu, kenapa kalian bisa tahu Taichi berada disini?"

"Haha… beberapa minggu ini kami semua sering menghubungi Taichi tapi tidak pernah bisa terhubung. Menelpon Yamato juga, kadang tidak diangkat dan saat diangkat juga Taichi sedang tidak bersamanya. Lalu semenjak dua minggu yang lalu kami semua benar-benar putus kontak dengan mereka berdua, dan kemarin kami sepakat untuk pulang ke Tokyo."

"Memangnya kalian dari mana?" tanya Nenek Taiko bingung.

"Saya dari Yokohama, lalu Mimi Joe dan Izzy di Amerika."

"Lalu, kalau begitu bagaimana bisa…"

"Oba-san, mereka semua pindah saat akan masuk SMP, Sora mendapat beasiswa karena permainan tenisnya, Mimi ikut bersama orang tuanya pindah tugas, Joe Kuliah kedokteran, sedangkan Izzy diminta untuk membantu sebuah perusaan program besar disana." jelas Matt.

"Ohh… begitu, lalu bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?"

"Ano, setelah kami ke Tokyo, kami segera menuju apartemen Taichi, tapi entah kenapa ditutup dan ada palang polisi. Disana kami bertemu dengan Hiroaki -san, akhirnya kami diajak ke rumahnya, dan beliau menceritakan semua hal yang beliau tahu." ujar Sora, yang kemudian langsung memandang Matt sangat tajam. Matt sama sekali tidak menggubrisnya dan segera beranjak menuju dapur.

"Lalu, rencananya akan berapa lama kalian disini?" tanya Nenek Taiko.

"Ya… rencananya, sih, sekitar satu minggu, Taiko-san, mumpung minggu depan ada hanabi. Ya, kalaupun itu tidak merepotkan Taiko-san," jawab Joe yang diikuti anggukan Sora.

"Hoho... Sama sekali tidak merepotkan. Tapi bagaimana dengan orang tua kalian?"

"Tenang saja, kalau tahu kami pergi mengunjungi Taichi, kami semua pasti diperbolehkan." Joe tersenyum lembut.

"Baiklah kalau memang begitu, kami semua sangat senang."

"Lalu apa Taiko-san mau membantu kami?" tanya Sora.

"Membantu apa?"

"Mencari Kimono buat Taichi. Khukhukhu… kami ingin membuat Yamato benar-benar terdiam melihat Taichi. Seperti saat festival saat Sekolah Dasar."

Nenek Taiko terdiam mengingat-ingat kembali masa lalu, lalu tersenyum mengerikan sama seperti Sora. "Baiklah kalau begitu akan saya bantu. lagipula… khukhukhu… sudah lama saya tidak melihat Taichi semanis itu."

Joe yang dari tadi disamping Sora hanya menghela napas saja, lalu beranjak berdiri untuk kemudian duduk di sebelah Izzy.


"Aku nggak mau memakai ini!" Taichi cemberut memandang dirinya di depan cermin. Kimononya, sih, tidak apa-apa, asal jangan ditambah dengan perhiasan yang dipasangkan oleh Sora, Mimi dan Nenek Taiko!

Taichi memakai kimono berwarna dark blue dengan pola bintang-bintang kecil berwarna emas, sama persis seperti pakaian yang dikenakannya waktu dulu (Ingat Digimon season 1?). Lalu dirambutnya dijepit dengan jepit rambut di sebelah kanan kepalanya. Yang jadi masalah adalah… jepit rambutnya berbentuk bunga.

"Ohhh… ayolah, Tai! Kami sudah susah payah meriasmu, toh hanya sekali dalam setahun!" ujar Mimi mulai jengkel karena dari tadi Taichi hanya menggerutu tidak setuju.

"Tapi…tapi… kenapa harus memakai jepit rambut ini, sih!" Taichi mulai cemberut melihat jepitan rambut yang bertengger dikepalanya di depan cermin.

"Kami hanya ingin membuat Yamato-kun senang, ne, Taichi," ujar Nenek Taiko, tersenyum lembut sambil mengusap-usap sayang kepala cucunya itu.

"Oba-chan juga kenapa jadi ikut-ikutan, sih!"

"Karena Oba-chan sangat senang melihat cucuku yang sangat manis ini. Sudah sana keluar duluan, kami juga mau berdandan. Tunggulah di depan bersama yang lainnya."

"Tapi-Oba-chan…."

"Sudah, sana!" Nenek Taiko segera mendorong Taichi keluar dari kamarnya. Taichi hanya bisa cemberut memandang pintu yang tertutup rapat dihadapannya. Lalu dengan langkah yang sedikit menghentak karena kesal, Taichi berjalan turun ke bawah.

Saat Taichi tiba dibawah, semuanya bengong melihat Taichi. Taichi merasa aneh dilihat seperti itu. "Ada apa?"

Manisnya… ucap semua orang dalam hati.

"Ada apa, sih?" tanya Taichi sekali lagi makin cemberut karena tidak ada yang menjawabnya.

Matt tersenyum dan menggeleng kepalanya sebentar. "Tidak ada apa-apa, Tai. Kemari." Dia menarik Taichi hingga yang bersangkutan duduk di atas pangkuannya. Dia memeluk Taichi erat dari belakang dan membenamkan wajahnya ke kepala berambut semaknya. Diam-diam dia tersenyum sangat senang, berterima kasih atas hasil kerja keras nenek Taiko dan yang lainnya.


"Aku nggak mau ikut acara-acara seperti itu," elak Taichi langsung menuju kebelakang Matt, yang hanya diam.

"Ayolah Tai, kau tidak mau kan membuat kami malu?" Mimi berkacang pinggang dihadapan Matt yang mengarah langsung tepat pada Taichi.

"Pokoknya nggak mau!" Taichi menggeleng-gelengkan kepalannya keras. "Ne, Yamato…" Taichi memandang Matt dengan puppy eyes, berharap agar Matt juga tidak menyetujuinya. Tapi ternyata tidak.

"Baiklah, ayo kita ke atas panggung!" ujar Matt sambil tersenyum dan langsung menarik tangan Taichi agar dia naik keatas panggung. Taichi hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Dan setelah naik keatas panggung, Matt dan Taichi segera dipisah oleh MC-nya ke bagian masing-masing. Lalu setelah semua peserta terkumpul, MC-nya membuka acara tersebut dan memulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh semua peserta sendiri-sendiri.

"Baiklah semuanya, saya akan membacakan jawaban dari pasangan Ishida Yamato dan Kamiya Taichi!" ujar MC itu, mulai membuka kertasnya.

Kenapa kalian bisa menyukai pasangan kalian ?

Matt : Karena dialah aku bisa hidup.

Taichi : Karena dialah aku bisa hidup.

"Wahhh... Kompak sekali kalian, ya!" Mendengar ucapan MC tersebut wajah Taichi memerah dengan sempurna. "Baiklah, kalau begitu kita lanjut kepertanyaan berikutnya!"

Kapan ciuman pertama?

Matt : Saat pertama kali kami bertemu di atas gedung sekolah dasar, saat dia tertidur.

Taichi : Dua minggu yang lalu.

Mendengar jawaban Matt, Taichi benar-benar tertegun mendengarnya. Wajahnya semakin memerah, tak pernah menyangka kalau Matt melakukan hal itu. Seingat Taichi pertama kali mereka bertemu memang di atas atap, saat Taichi bangun Matt ada disebelahnya, tertidur bersamanya.

Sora, Mimi dan yang lainnya hanya tertawa senang melihat wajah Taichi yang memerah dengan sempurna saat itu. Entah sudah berapa lama mereka tidak melihat Taichi yang seperti itu.

Apa yang paling kalian suka dengan pasangan kalian?

Matt : Apapun.

Taichi : Semuanya.

"Wah, wah… sepertinya kalian berdua ini sangat kompak, ya! Sayang jawaban kapan ciuman pertama tadi agak sedikit… ya, tahulah. Oke, sekarang… hukuman apa yang akan kita berikan terhadap pasangan kita yang satu ini?" ujar Mc tersebut kearah penonton. Peraturan acara tersebut memang membiarkan penonton memilih hukuman yang akan dijatuhkan pada pasangan yang mempunyai jawaban yang tidak sama.

"CIUM! CIUM!" Mimi dan Sora mulai berteriak. Mendengar teriakan mereka berdua semua penonton menjadi ikut berteriak semua sambil bertepuk tangan keras, "CIUM! CIUM! CIUM!"

Taichi langsung membatu ditempat dengan wajah yang merah padam, sedangkan Matt hanya sedikit menyeringai lalu langsung menarik Taichi dan dengan cepat langsung melumat pelan bibir Taichi, menjilat bibir bawahnya meminta izin untuk masuk.

Semua orang diam memandang pemandangan yang ada dihadapan mereka. Ciuman itu memakan waktu cukup lama, sekitar 5 menit, sebelum akhirnya Taichi sadar dan sekuat tenaga berontak karena kehabisan nafas, sedangkan para penonton yang terbawa suasana malah ikut-ikutan berciuman dengan pasangan mereka masing-masing. Sora dan Mimi terlihat asyik memotret pemandangan tadi.

"Yamato no Baka!" Teriak Taichi keras. Matt langsung menangkap kedua tangan Taichi agar jangan berontak, lalu memeluknya erat hingga Taichi tenang.

"Ba-baiklah kalau begitu! Mari kita lanjutkan acara kita, saya akan memberikan waktu kepada para dewan juri untuk menilai dan memberikan saya kertas yang dicantumkan nama pemenangnya! Silahkan untuk para dewan juri!"

5 menit kemudian, kertas telah berada ditangan MC. "Wah, wah… sesuai dengan perkiraan saya. Baiklah, akan saya umumkan pemenangnya sekarang…" MC itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya meneriakkan nama pemenangnya "Pasangan dengan Nomor…18!"

Semua penonton langusng berteriak dan bertepuk tangan heboh untuk Taichi dan Matt. Matt hanya tersenyum senang, sementara Taichi makin mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya yang tambah merah.

Dan setelah mendapatkan Hadiah , mereka semua mulai mencari tempat yang nyaman untuk menonton acara kembang api yang sebentar lagi akan dimulai. Mereka mendapatkannya di atas bukit yang sedikit jauh dari tempat perlombaan tadi.

"Ne, Yamato… besok kita akan makan disini, kan?" tunjuk Taichi dengan mata yang berbinar-binar melihat Vocer hadiah makan es gratis selama satu bulan di dekat kedainya, sesaat sebelum pertunjukkan kembang apinya dimulai.

"Hn… Bagaimana, ya…?" Matt makin memeluk erat Taichi dari belakang lalu membenamkan kepalanya ke pundak Taichi.

"Yama~to!" rengek Taichi meminta persetujuan Matt.

"Iya, iya… tapi tidak lebih dari satu mangkok," ujar Matt.

Taichi langsung cemberut. "Satu piring besar, kan?" ujar Taichi lagi, tapi langsung terdiam ketika melihat sinar-sinar yang sudah berkembang di langit tepat pada pukul 12 malam. Matt yang bingung Taichi bingung lalu mengangkat wajahnya tersenyum melihat indahnya malam itu.

Matt melihat keadaan sekitarnya, semuanya sedang sibuk sendiri-sendiri melihat kembang api itu. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat Matt menolehkan wajah Taichi ke samping dan kemudian mencium tepat di bibirnya.

"Tai…" Sora ingin memangil Taichi tapi langsung terhenti ketika melihat ke arah Taichi, yang lainnya juga langsung melihat ke arah yang sama. "Wajahmu kenapa, Tai?" Sora bingung melihat wajah Taichi yang merah padam tidak kalah dengan warna kembang api yang bersinar di langit.

Taichi yang terdiam akhirnya hanya membalas ucapan Sora dengan gelengan yang keras lalu langsung menutup wajahnya yang merah padam.

"Baiklah, kita turun duluan semuanya!" ujar Nenek Taiko dan Joe kompak, mengerti apa yang terjadi. "Ne, Yama-kun, jangan terlalu lama!" cengir Nenek Taiko menyusul yang lainnya turun bukit.

"Ne, Tai…" panggil Matt lembut, yang tentu saja tidak akan digubris sama sekali oleh Taichi yang masih berusaha menyembunyikan wajahnya. "Ne, tidak ada orang lagi disini... tidak perlu malu…" Matt dengan perlahan melepaskan tangan yang menutupi wajah Taichi.

"Aku tidak malu, tahu! Aku marah padamu!" ujar Taichi sedikit berteriak menepis tangan Matt yang mengenggam tangan Taichi, lalu kembali menutup wajahnya.

"Ma, ma… kalau begitu besok kau tidak boleh makan es-krim…"

"Biar saja! Aku akan mengajak Koushiro saja! Dia kan menjadi juara 2 tadi!" jawab Taichi cepat.

"Tidak akan aku biarkan!" Matt menarik Taichi dan makin mengeratkan pelukannya.

"Yamato jahat!" rutuk Taichi.

"Tidak jahat, bodoh. Kalau kau makan kebanyakan, itu akan mempengaruhi kesehatanmu. Tidak baik, tahu," bisik Matt lembut, yang kemudian dihentikan oleh suara bersin Taichi. "Dingin?" tanyanya kemudian.

"Ng…" Taichi menggeleng cepat sebelum kembali bersin.

"Kalau dingin bilang saja dingin," Matt mengecup pelan kepala Taichi sebelum berdiri bersama Taichi. Dia melepas kain Kimono terluar (tebal, dan berfungsi sebagai penghangat) lalu memakaikannya pada Taichi.

"Ti-tidak perlu, nanti kau kedi—ha-hatsyu!"

Matt terkekeh sebentar sebelum mengalungkan kedua tangan Taichi ke lehernya, lalu mengangkatnya ala bridal style.

"Yama! Turunkan aku—ha-hatsyu!" Taichi sedikit memberontak.

"Diam dan tidur saja, Tai, kau perlu istirahat…" Matt mengecup singkat kening Taichi. "Dan jangan lupa berpegangan yang erat padaku kalau kau tidak mau terjatuh," bisik Matt. Setelah itu Matt hanya bisa menahan tawanya begitu melihat wajah Taichi yang berubah menjadi sangat merah.

"Love You My Dearest."

~Fin~

Akhirnya fic ini selesai Rin Publish semua * menundukkan tubuh

So, Sankyu buat yang dah mau baca fic Rin sampai akhir n` review fic ini dari awal

Halca-san : hehe ntar Rin pertibangin lagi buat fic yang lain ^^, coz kalau pake yamato terus kepanjangan

^^, tapi tetep Rin usahain pake nama jepang semua. Sankyu atas review nya ya X3

Ghotic-san : waaahhh *nadahin ember dibawah

Fhaska-san : iyap. Emang Yamato ditakdirin buat perhatian sama Taichi *berapi-api

Yuuko Kamiya nama ibu Taichi :D

Kalau berkenan silahkan tekan tombol bertulisan review dibawah ini X3