Haru: Mengendap-endap, tengok kanan kiri "Ano...HONTOUNI GOMENASAI MINNA-SAMAAA!" Sembah sujud di depan para reader.

Reader: Buang muka.

Haru: "Hwee...silakan bunuh saya karena baru update sekarang" Mbagiin katana ke para reader "Saya rela jadi bahan percobaannya Mayuri, jadi objek penelitiannya Szayel, atau jadi makanan para menos, asal reader sekalian bisa memaafkan kekhilafan author nista macam saya"

Ulqui: "Kemana aja sih lu sampe segitunya menelantarkan kami yang udah hampir klimaks gini?"

Haru: Nengok ke Ulqui "Huweeee...Ulqui...saya kangen sama kamu..." Nerjang Ulqui tanpa peringatan.

Grim: "Lho, ini siapa ya? Kayak pernah kenal?"

Haru: "Hweee...Grimmy..." Kali ini nemplok ke Grim.

Grim: "Heh, siape lu? Jangan peluk peluk! pergi sono! Syuh syuh!"

Haru: Pinjem tangannya Ulqui, ngarahin ke Grimmy "Ulqui, bilang cero!"

Ulqui: "Cero!"

Grim: "Gyaaaaa!" Gosong seketika.

Anggap saja dialog di atas itu nggak ada!

Gomenasai minna, rupanya saya keasyikan main di fandom Naru, jadi malah kehilangan inspirasi buat fic ini, sekali lagi silakan bunuh author laknat ini *mbagiin bom nuklir ke para reader*

Saya janji nggak akan mengulanginya untuk fic UlquiHime yang lain nantinya, semoga kalian masih berkenan untuk membaca dan mereview fic ini, meskipun udah agak jadul

Okay, sebelum kalian membunuh saya, biarkan saya bercerita dulu ya?

Enjoy please!

Disclaimer: Saya bukan yang punya Bleach, makannya saya nyempil di sini sebagai author yang bikin karangan ngawur tentang manga bikinan Om Tite Kubo ini.

Chapter 9

My Love And Four Leaf Clover

Orihime melangkah mantab menuju kelasnya, dia sudah sembuh dari sakitnya, mungkin karena beban pikirannya sudah berkurang karena telah menyelesaikan masalahnya dengan Ichigo.

"MY HIMEEEEEEEE!" Grimmjow datang dari arah belakang Orihime dan langsung memeluk gadis itu sebelum Orihime menoleh padanya.

"Kau sudah sembuh? Aku senang sekali..." Kata Grimmjow dengan manja, seperti anak kucing yang baru saja ketemu sama majikannya.

"Ano...sesak Grim..." Lirih Orihime, Grimmjow sadar akan perbuatannya yang memeluk Orihime dengan tenaga kingkongnya *dicakar Grim* (Gua kucing bukan kingkong!) *Lha? Malah ngaku?* LANJUT! Grimmjou pun melepaskan pelukannya.

"Maaf, aku terlalu senang saat melihatmu dari kejauhan tadi" Grimmjow menggaruk belakang kepalanya yang gatal karena nggak keramas selama setahun(?)

"Memangnya kau lihat aku dari mana?" Orihime mulai berjalan beriringan dengan Grimmjow menuju kelas mereka.

"Dari pintu gerbang" Kata Grimmjow santai, Orihime cengo.

Dari pintu gerbang bisa lihat orang yang berada di lantai dua, dan bisa sangat yakin bahwa orang itu benar-benar Orihime? Padahal pastinya Grimmjow melihat Orihime hanya dari celah pintu kelas yang kebetulan terbuka, dan tentunya hanya sekilas saja kan? Ck ck ck ck cinta memang mengerikan.

Sreeek!

Pintu kelas 1-3 terbuka, dan menampakkan dua makhluk berbeda warna rambut, yang satu orange, satu lagi biru ngejreng, keberadaan mereka menarik perhatian Ichigo dan Rukia yang berada di dalam kelas.

"Kau sudah sembuh Orihime?" Ichigo menghampiri Orihime, sedangkan Grimmjow mulai memasang muka masam dan siap menghadang kedatangan Ichigo.

"Mau apa kau?" Desis Grimmjow saat dirinya sudah berada di depan Ichigo.

"Grim, yang kemarin itu hanya salah paham saja kok, aku juga sudah memaafkan Ichigo, kau juga jangan memusuhinya lagi ya!" Orihime menengahi kedua pemuda itu, Grimmjow masih melemparkan tatapan tajam ke arah Ichigo, sedangkan Ichigo hanya menunduk prihatin akan sikap teman masa kecilnya itu.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi selama aku tak ada?" Tanya Rukia yang telah berada di dekat ketiga orang temannya itu, ketiganya menoleh pada Rukia.

"Errrr tidak ada apa-apa kok Rukia, hanya masalah kecil" Sangkal Orihime dengan senyum yang dipaksakan.

"Aku tidak percaya, pasti ada sesuatu sampai Grimmjow dan bahkan Ulquiorra marah besar pada Ichigo, atau jangan-jangan semua ini karena kau Orihime?" Tuding Rukia, Orihime tersentak mendengar perkataan Rukia, Grimmjow kini menoleh geram pada gadis bermata violet itu.

"Hei, kau jangan sembarangan menuduh ya! Kau tidak tahu apa-apa tidak usah ikut campur!" Bentakan Grimmjow barusan membuat Rukia terdiam, hatinya bagaikan dirobek-robek begitu kasar dengan kata-kata Grimmjow barusan.

"Kau tidak perlu berkata seperti itu kan Grim?" Orihime menarik lengan Grimmjow, menjauhkannya dari hadapan Rukia yang terlihat shock.

"Tolong jangan bertengkar, kita ini teman kan? Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian" Lirih Orihime, ketiga temannya terdiam.

"Grimmjow, Ichigo, kalian sudah berteman sejak kecil, aku tidak ingin melihat kalian bertengkar, apa lagi karena aku, aku tak ingin menghancurkan persahabatan kalian yang sudah kalian jalani sejak kecil..." Orihime menunduk dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang akan keluar dari kedua mata kelabunya.

"Hime, aku... "

"Tolong, Grim, aku sudah memaafkan Ichigo, kau juga...tolong maafkanlah dia, aku ingin kita kembali seperti dulu, jadi tolong...jangan ada yang bertengkar lagi" Orihime mendongakkan kepalanya, menatap mata biru Grimmjow yang masih terpaku padanya.

"Hi...Hime?" Grimmjow tak sanggup menatap sorot mata memohon dari Orihime, dia tidak tega melihat Orihime yang seperti itu, dan akhirnya dia pun menyerah pada tatapan mata kelabu Orihime yang sedikit berkaca karena air mata yang mengambang di sana, kemudian mengangguk pelan, mengiyakan permintaan Orihime untuk memaafkan Ichigo.

"Baiklah..." Lirih Grimmjow, Rukia tersentak tak percaya, mata violetnya menatap penuh kekecewaan pada Orihime, kenapa? Karena dia merasa Orihime telah benar-benar mengambil Grimmjow darinya.

Di tengah kegembiraan dimana Grimmjow dan Ichigo kembali berbaikan, di sana terdapat kebencian baru yang muncul dari kecemburuan Rukia.

*Four Leaf Clover*

Istirahat siang kali ini GrimIchiHimeRuki tidak pergi ke atap seperti biasa, tentu saja, karena saat ini hujan sedang turun, mereka tentu tak mau jatuh sakit untuk kedua kalinya, hanya orang yang bodoh yang akan mengunjungi tempat itu di saat hujan turun dengan cukup lebat, keempatnya hanya berdiam di dalam kelas (Tunggu! Mereka nggak bisa dibilang diam juga sih, karena keempat orang itu sedang melakukan ritual mereka, ya itu mengundi siapa yang akan pergi ke kantin untuk membeli makanan siang ini)

"Jan Ken Pon!" Seru mereka sambil mengibas-ngibaskan tangan mereka di udara.

"Aku lagi...?" Lirih Orihime lemas.

"Biar kuantar! Kau kan baru sembuh Hime!" Tawar Ichigo, Orihime menatap Ichigo dengan puppyeyesnya yang sarat akan rasa terima kasih.

"Tidak, biar aku saja yang antar!" Grimmjow mengerucutkan bibirnya tanda kesal, Rukia menyipitkan matanya menatap kelakuan Grimmjow.

"Aku saja yang pergi dengan Orihime!" Sela Rukia dengan nada datar tak seperti biasanya, membuat ketiga temannya menatap aneh ke arah Rukia.

"Dari pada dengan kalian, akan lebih aman jika dia bersamaku! Ayo pergi Hime!" Kata Rukia sambil berlalu meninggalkan kelas lebih dulu, dan disusul Orihime yang mengekor di belakangnya.

"Kalian tunggu di sini saja ya! Jangan berantem!" Pesan Orihime sebelum menghilang di balik pintu.

=oooooo=

Orihime dan Rukia berjalan beriringan di koridor sekolah, tak ada percakapan di antara mereka, Orihime sedikit merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, karena tidak biasanya Rukia sama sekali tidak mengajaknya bicara.

"Um...Rukia? Kau tidak apa-apa? Kenapa kau diam saja dari tadi?" Tanya Orihime dengan hati-hati, Rukia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, Orihime pun menghentikan langkanya di depan Rukia, dan menatap temannya itu dengan tatapan bingung.

"Orihime, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu!" Kata Rukia dengan nada datar seperti tadi, Orihime menautkan alisnya.

"Membicarakan apa Rukia?" Tanya Orihime tak mengerti dengan sikap temannya yang berubah hari ini.

"Ikut aku!" Rukia berjalan melewati Orihime, dan Orihime mengikuti langkah Rukia yang lebih cepat dari biasanya.

Di dalam kelas

"Uuugh~ Hime sama Rukia kok lama sekali si~h...aku kan sudah lapar sekali..." Keluh Grimmjow sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.

"Jangan-jangan mereka terjebak di tengah medan perang?" Pikir Ichigo, kedua pemuda itu langsung bertatapan dengan ekspresi horor.

"Tidak mungkin!" Meskipun keduanya berkata seperti itu, tapi keduanya langsung keluar kelas menyusul Orihime dan Rukia, berharap apa yang mereka pikirkan tidak sama dengan kenyataan yang akan mereka temui nanti.

Dan tentu saja apa yang mereka pikirkan memang tak sama dengan yang terjadi sesungguhnya, kedua pemuda berambut mencolok itu sama sekali tak menemukan Orihime maupun Rukia di kantin.

"Kemana mereka?" Gumam Grimmjow sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, namun tak juga menemukan keberadaan kedua gadis berbeda warna rambut itu.

"Kita berpencar saja untuk mencari mereka!" Usul Ichigo.

"Baiklah, kau kesana, aku ke sana!" Grimmjow menunjuk arah berlawanan untuk rute mereka mencari kedua teman gadis mereka itu.

Di tangga menuju atap.

"Apa yang ingin kau bicarakan Rukia? Apa tidak bisa nanti saja? Grimmjow dan Ichigo pasti menunggu kita" Orihime terlihat gelisah, firasatnya mengatakan kalau apa yang akan dibicarakan adalah hal yang tidak baik.

"Orihime..." Lirih Rukia, Orihime mengonsentrasikan perhatiannya pada teman lamanya itu.

"Tolong...jauhi Grimmjow!" Orihime terkesiap saat mendengar permintaan Rukia.

"A...apa maksudmu Rukia? Grimmjow itu kan teman kita, mana mungkin aku bisa menjauhinya?" Protes Orihime.

"Aku suka Grimjow!" Seru Rukia, kepalanya ditundukkan dalam-dalam, menutupi semburat merah yang memenuhi wajahnya, Orihime tersentak saat mendengar pengakuan Rukia, gadis berambut orange itu tak tahu harus berkata apa, dia hanya mampu terdiam menatap teman lamanya yang tengah dipenuhi emosi itu.

"Ru...ki..."

"Tolong Orihime, jauhi Grimmjow, kumohon!" Rukia mencengkram kedua lengan Orihime dan mengguncang tubuh gadis itu dengan kasar.

"Hanya karena kau mencintai Grimmjow, tidak perlu sampai menyuruhku untuk menjauhinya kan?" Tolak Orihime dengan menepiskan tangan Rukia yang mencengkram lengannya, Rukia tersentak mendengar penolakan Orihime.

"Orihime...jangan-jangan kau...juga suka Grimmjow ya?" Pikiran Rukia yang kalut hanya bisa mengucapkan kata-kata tuduhan saja.

"Rasa sukaku tidak seperti yang kau pikirkan! Aku menyukainya sebagai teman, harusnya kau mengerti itu Rukia!" Kali ini Orihime yang mencengkram lengan Rukia.

"Kau bohong! Kau pasti juga mengincar Grimmjow, iya kan? Kalau tidak kenapa kau menolak permintaanku? Bukankah dulu yang kau suka itu Ichigo hah?" Rukia menepiskan cengkraman Orihime dan menantangnya.

"Kenapa Ichigo juga ikut dibawa dalam masalah ini?" Protes Orihime.

"Benar kan? Kau suka Ichigo? Apa sekarang kau masih mencintai Ichigo? Kalau begitu tunggu apa lagi Orihime? Harusnya kau jadian saja sama Ichigo, aku tidak butuh dia, YANG KUBUTUHKAN HANYA GRIMMJOW! ICHIGO UNTUKMU SAJA KAU SENANGKAN ORIHI..."

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Rukia sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

Orihime menatap tajam ke arah Rukia, sedangkan Rukia menatap tak percaya pada Orihime sambil memegangi pipi kirinya yang masih berdenyut akibat tamparan Orihime.

"Dinginkan kepalamu Rukia! Tak seharusnya kau berkata seperti itu mengenai temanmu sendiri! PERASAAN ITU TIDAK SESEDERHANA SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!" Seru Orihime yang kemudian berlari meninggalkan Rukia yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya, tak lama kemudian air mata gadis itu mengalir dari mata violetnya, Rukia berjongkok memeluk lutut, dan menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya yang bertumpu pada lututnya.

=oooooo=

Orihime berlari menyusuri koridor dengan air mata yang mengalir deras melewati kedua pipinya, gadis itu tidak habis pikir, kenapa Rukia bisa mengatakan hal kejam seperti tadi? Kenapa Rukia jadi temperamental seperti itu? Dia sungguh tak mengerti, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran teman lamanya itu.

Orihime masih berlari tak tentu arah, entah kenapa disaat seperti ini yang dia pikirkan hanyalah ingin segera bertemu dengan Ulquiorra, kenapa? Kenapa harus Ulquiorra? Memangnya pemuda itu siapanya sampai dia harus bergantung pada keberadaan pemuda pucat itu?

Orihime sendiri tidak tahu pasti, kenapa dia sungguh sangat ingin bertemu dengan Ulquiorra dan menumpahkan semua keluh kesahnya pada pemuda itu, yang dia tahu hanya di sana lah tempat ternyaman baginya untuk berkeluh kesah dan menumpahkan segalanya tanpa beban, tapi...dimana pemuda itu sekarang? Bukankah dia selalu ada setiap Orihime membutuhkan seseorang di sampingnya? Bukankah dia selalu muncul setiap kali Orihime tengah bersedih? Lalu kemana perginya sosok itu sekarang? Di saat Orihime tengah butuh sandaran untuk menangis, dimana sang pemuda pucat itu?

"Ulqui...Ulqui...hiks..." Orihime menyebut-nyebut nama Ulquiorra di sela isak tangisnya, berharap pemuda itu akan datang saat dia memanggilnya.

Orihime melebarkan matanya saat melihat sosok pemuda berambut hitam yang tengah berjalan membelakanginya di depan sana.

"Ulqui?" Lirih Orihime.

Gadis itu kemudian mempercepat langkahnya untuk mendekati pemuda itu, tangannya terulur seolah berusaha meraih sosok yang dia kenali sebagai Ulquiorra.

Bruk!

Orihime menabrak seseorang di persimpangan jalan, padahal jaraknya dengan Ulquiorra hanya tinggal beberapa meter saja, Orihime mendongak menatap pemuda yang dia tabrak barusan.

"Ichi?"

"Orihime, kau kenapa?" Tanya Ichigo khawatir.

Ulquiorra membalikkan badannya saat mendengar nama Orihime, mata emeraldnya melebar saat melihat Ichigo mendekap Orihime yang tengah menangis, dia tahu karena mata kelabu Orihime terlihat dari sela bahu Ichigo, mata kelabu yang basah itu menatapnya, tapi dia tak sanggup meraih pemiliknya yang kini dalam dekapan seseorang yang dia tahu sejak awal, adalah orang yang dicintai Orihime sampai gadis itu rela kehujanan hanya untuk mencari four leaf clover sebagai lucky item untuk menyatakan cintanya pada pemuda berambut orange itu.

Orihime menatap mata emerald Ulquiorra yang masih terpaku padanya, terlihat ekspresi kekecewaan di wajah pemuda itu, namun entah kenapa saat ini lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu, tubuhnya seolah sulit untuk digerakkan, padahal dia ingin berteriak menyebut nama pemuda pucat di hadapannya, dia ingin berlari meraih sosok itu, tapi kenapa? Kenapa hanya air matanya saja yang bisa bergerak dengan bebas membasahi pipinya yang merah, bahkan sampai sosok itu berbalik meninggalkannya pun Orihime tak mampu mengucapkan apapun untuk menahannya pergi, padahal batinnya sudah meronta ingin menahan kepergian pemuda yang sangat dia butuhkan itu, padahal jelas-jelas dia sudah mendapatkan sandaran untuk menangis, kenapa dia masih menginginkan Ulquiorra?

"Ulqui..." Lirihnya sebelum tubuhnya terjatuh lemas dalam dekapan Ichigo.

"Hime? Orihime? Kau kenapa?" Ichigo mengguncangkan tubuh Orihime, berusaha untuk menyadarkan gadis itu, namun usahanya sia-sia, dia pun menggendong Orihime dengan bridal style menuju ruang kesehatan.

*Four Leaf Clover*

Orihime menatap keychain kelelawar miliknya, benda yang secara tidak langsung adalah pemberian Ulquiorra, entah kenapa akhir-akhir ini dia sering memikirkan pemuda bermata emerald itu, dan setiap kali dia memikirkannya selalu saja jantungnya berdegup lebih kencang dari keadaan normal, dia pernah merasakan keadaan ini saat dia menyimpan perasaan kepada Ichigo, tapi sepertinya ini jauh lebih parah dari keadaannya dulu.

Tok! Tok!

Orihime kembali ke alam sadarnya saat mendengar suara ketukan pintu.

"Apa kau di dalam Hime-chan?" Suara seorang wanita muda terdengar dari balik pintu.

"Iya Nee-chan, ada apa?" Orihime berjalan menghampiri pintu kamarnya, kemudian membuka pintu bercat putih itu dan menampakkan seorang wanita muda berambut hijau toska sedang berdiri di depan pintu.

"Rukia datang mencarimu" Orihime terkesiap.

"Ru...Rukia?" Tanya Orihime tak yakin.

"Iya, dia menunggumu di teras"

"Terima kasih Nee-chan!" Kata Orihime yang kemudian berlalu meninggalkan Nel.

"Ada apa malam-malam begini?" Sepasang lengan kekar melingkari pinggang Nel dari belakang.

"Entahlah, masalah anak muda mungkin" Nel tersenyum lembut pada suaminya.

Di teras

"Rukia? Ada apa malam-malam begini?"

Greb!

Orihime melebarkan matanya saat Rukia memeluknya dengan tiba-tiba.

"Ru...ki...?"

"Maafkan aku Orihime...maafkan atas perkataanku siang tadi!" Lirih Rukia, Orihime tertegun mendengar permintaan maaf Rukia.

"Rukia, kau...kenapa?" Tanya Orihime yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu, Rukia melepaskan pelukannya.

"Tadi siang...aku sudah bicara dengan Grimmjow," Rukia menundukkan kepalanya, Orihime terdiam, namun dia berusaha tetap fokus pada pendengarannya untuk menyimak kelanjutan ucapan Rukia.

"Aku sudah menyatakan perasaanku padanya," Lanjut Rukia, Orihime masih diam.

"Aku...sebenarnya aku sudah tahu apa jawabannya, tapi...aku hanya ingin dia tahu kalau aku disini menyimpan perasaan khusus padanya," Kali ini Rukia mendongak menatap mata kelabu Orihime.

"Kau tahu apa yang dia katakan padaku?" Tanya Rukia, Orihime menggeleng pelan.

"Dia bilang..."

"Rukia!" Seseorang memanggil Rukia sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, perhatian Orihime dan Rukia pun teralih ke sumber suara, keduanya melebarkan matanya saat mendapati pemuda yang sedang mereka bicarakan kini tengah berdiri di depan mereka.

"Grimm...jow?" Gumam Rukia.

"Biar aku sendiri yang mengatakannya!" Pinta Grimmjow, pemuda itu melangkah mendekati Orihime dan Rukia, namun tatapan mata birunya tak teralih sedikitpun dari sosok gadis berambut orange panjang yang juga tengah menatapnya dengan iris kelabunya.

"Rukia...bisakah...kau meninggalkan kami sebentar?" Lirih Grimmjow yang tak mengalihkan perhatiannya sedikitpun ke arah gadis mungil itu.

"Aku...mengerti..." Kata Rukia yang kemudian meninggalkan Orihime dan Grimmjow ke samping rumah Orihime, kini dia bersandar di dinding bercat putih tak jauh dari tempat kedua temannya yang sedang bicara.

"Orihime, kau tahu? Sejak pertemuan pertama kita di SMP dulu, aku sama sekali tak bisa melupakanmu," Orihime menunduk, tak berani menatap mata biru Grimmjow, Rukia yang berada di balik tembok memegangi dadanya yang terasa amat sakit, dia masih bisa mendengar pembicaraan kedua sahabatnya itu dari tempatnya berdiri.

"Entah kenapa...aku tak bisa menghapus dirimu dari ingatanku," Grimmjow menyibakkan poni Orihime yang menutupi wajah cantiknya.

"Karena insiden di hari pertama kau datang itu, aku jadi menghindarimu, padahal aku ingin lebih dekat denganmu, aku bahkan tidak pernah merasa minder dengan perempuan sebelum aku bertemu denganmu," Kata Grimmjow sambil tersenyum mengingat kebodohannya saat pertama bertemu dengan Orihime.

"Aku menemukan kembali keberanianku saat kita bertemu lagi di hari pertama masuk SMU, meskipun awalnya kau melupakanku, sebenarnya aku sedikit kecewa, tapi juga lega karena kau melupakan kebodohanku saat pertama kita bertemu,"

"Tolong hentikan!" Pinta Orihime, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke mata biru Grimmjow, tangan mungilnya menutup bibir pemuda itu, menahan apapun yang akan keluar dari sana.

Grimmjow tersenyum lembut, kemudian menurunkan tangan Orihime dari bibirnya.

"Tidak, biarkan aku bicara Hime, tolong dengarkan aku!" Pintanya.

Rukia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mengalir deras di pipinya, dadanya benar-benar sakit saat ini, dia ingin lari, tapi tak sanggup, rasanya seluruh tubuhnya kaku dan tak dapat digerakkan.

"Aku senang sekali bisa menjadi teman dekatmu Hime, aku senang bisa bicara banyak denganmu, aku juga senang bisa berada di sisimu dan bercanda denganmu," Grimmjow menggigit bibir bawahnya, dadanya tersa sesak saat mengatakan hal tadi.

"Sampai sekarang aku...masih mencintaimu...Orihime..." Kata Grimmjow kemudian, Rukia merosot terduduk ketika mendengar langsung pernyataan cinta Grimmjow pada Orihime, sedangkan Orihime sendiri tak sanggup menatap wajah Grimmjow, dia tak sanggup melihat ekspresi pemuda itu sekarang.

"Lihat aku Hime!" Grimmjow mengangkat dagu Orihime dengan ibu jari dan telunjuknya, mempertemukan mata birunya dengan mata kelabu Orihime.

"Aku tak ingin memaksamu, aku tahu kau mencintai orang lain, dan aku tahu pasti siapa orang itu, aku hanya ingin...kau tahu perasaanku padamu, aku tak ingin membebanimu Hime, aku hanya ingin kau bahagia, aku ingin kau bahagia dengan orang yang kau cintai," Air mata Orihime pecah mencengar perkataan Grimmjow, dia tak menyangka bahwa pemuda di depannya ini sanggup mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Orihime.

"Tapi aku akan tetap menjaga perasaanku padamu, hingga aku menemukan orang yang akan menjadi takdirku, kau tenang saja! Aku akan mendukungmu!" Grimmjow mengacak rambut Orihime dengan gemas, sedangkan Orihime sendiri masih menangis sesengukan.

"Raihlah dia Hime! Atau kau akan kehilangannya" Lirih Grimmjow, Orihime mendongak menatap Grimmjow.

"Terima kasih Grimm...terima kasih..." Ucapnya, Grimmjow mendekap Orihime yang masih menangis, mencoba menenangkan gadis itu, Rukia yang berada di balik tembok merasa lega, karena persahabatan mereka tidak hancur karena permasalahan cinta diantara mereka.

*Four Leaf Clover*

Hari ini Orihime sama sekali tak menemukan Ulquiorra di mana pun, tak biasanya pemuda itu tak menampakkan diri, dan tak biasanya pula pemuda itu tidak masuk sekolah.

Apakah dia sakit?

Ulquiorra? Sakit?

Sungguh sulit dipercaya, tapi ada orang yang bilang, orang bodoh tak akan bisa kena flu, tapi Ulquiorra bukanlah orang yang termasuk dalam golongan bodoh, bahkan bisa dibilang dia itu termasuk golongan genius, jadi wajar kalau dia bisa sakit juga.

Orihime menggelengkan kepalanya.

"Hal bodoh apa yang baru saja kupikirkan?" Gumam Orihime sambil berjalan keluar gerbang sekolah.

"Tapi kalau dia benar-benar sakit...aku kan tidak tahu di mana rumahnya, bagai mana aku bisa menjenguknya?" Lirih Orihime, saat ini dia merasa sangat tidak berguna karena tak bisa berbuat apa-apa saat Ulquiorra sedang sakit.

"Kau kanapa Hime? Kulihat kau berbicara sendiri sejak tadi?" Orihime menoleh ke sumber suara yang menyapanya.

"Ah, Ichigo? A...aku...tidak apa-apa kok, hanya saja...ada yang sedang kupikirkan." Kata Orihime kaku.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Ichigo yang kini berjalan beriringan dengan Orihime.

"Um...itu...masalah pribadi, jadi maaf...tidak bisa kuceritakan" Orihime tersenyum lembut pada Ichigo, kini dia bisa bersikap biasa pada pemuda itu, mungkin karena saat ini dia sudah mempunyai tambatan hati yang lain.

"Ah ti...tidak apa-apa kok, kau tidak perlu menceritakannya kalau memang kau tidak mau" Kata Ichigo salah tingkah.

"Ano...aku duluan ya Ichigo, aku ada urusan yang perlu kuselesaikan, ja ne!" Orihime melambaikan tangannya pada Ichigo dan berlalu meninggalkan pemuda itu yang terdiam menatap kepergiannya.

Tep!

Ichigo tersentak saat merasakan seseorang menepuk bahunya, dia pun menoleh ke belakang dan mendapati Grimmjow berdiri di belakangnya.

"Jangan memulai cinta yang bertepuk sebelah tangan untuk kedua kalinya Ichigo!" Lirih Grimmjow, Ichigo kembali menatap ke arah menghilangnya Orihime.

"Aku tahu" Ucapnya.

=oooooo=

Orihime berlari menyusuri pinggiran sungai, untuk kesekian kalinya Orihime mengunjungi tempat itu dengan tujuan sama, ya itu menemukan four leaf clover, Orihime menghentikan langkahnya di tempat yang berbeda dari biasanya, tak ada rumpun clover yang tumbuh di sana, lalu kenapa dia berhenti di sana?

Orihime memejamkan matanya, menajamkan insting dan nalurinya.

"Ku mohon Kami-sama, kali ini kumohon, ijinkan aku untuk menemukannya, aku benar-benar sangat membutuhkannya saat ini" Gumam Orihime, kedua tangannya ditangkupkan di depan dadanya.

"Ku mohon Yotsuba no kuroba, tunjukkan dirimu padaku!"

Orihime membuka kedua mata kelabunya perlahan, kemudian merendahkan tubuhnya dan duduk bersimpuh di depan rerumputan di depannya, tangannya terulur dan menyibakkan rerumputan itu perlahan.

Deg!

Jantungnya seolah berhenti untuk sesaat, mata kelabunya menatap lekat-lekat setangkai clover di depannya, dihitungnya berkali-kali daun clover itu.

"Ini...sungguhan kan?" Gumamnya, dengan sedikit bergetar, tangannya mengarah pada setangkai clover itu.

"Ini benar-benar four leaf clover?" Gumamnya lagi, kali ini dia memetik tangkai mungil itu, dan mengangkatnya sejajar dengan wajahnya, dan kembali mengamati jumlah daun clover itu.

"Yokatta..." Gumamnya lega sambil menggenggam tangkai mungil itu dengan hati-hati agar tidak rusak, bibirnya menyunggingkan senyuman lembut dan penuh ketulusan saat mengatakannya, kedua mata kelabunya tertutup seolah menghayati setiap detak perasaan hangat yang menjalar di dadanya.

Dan kini saatnya dia kembali ke tujuan awalnya, Orihime membuka matanya dan melangkah mantab meninggalkan sungai, menuju tempat yang mungkin bisa mempertemukannya dengan sang pujaan hati.

"Semoga...dia ada di sana..." Lirihnya di sela langkahnya.

Di taman kota

Orihime menjejakkan kakinya di tempat yang mungkin dikunjungi Ulquiorra, mata kelabunya mengamati setiap sudut taman, berharap dapat menemukan sosok yang dia cari, Orihime mulai berjalan mengelilingi taman itu, perasaannya semakin kalut tatkala dia tak juga menemukan pria bermata emerald yang selama beberapa hari ini rajin berkunjung ke dalam mimpinya.

Orihime menghentikan langkahnya saat melihat sosok seorang pria berambut hitam yang tengah duduk di pinggir air mancur kecil sambil mencorat-coret sesuatu, Orihime tersenyum lega, karena akhirnya dia menemukan orang yang dia cari, gadis itu pun berjalan perlahan menghampiri pemuda pucat itu sambil mengontrol nafasnya yang tak tertur setelah berlari-lari tadi.

Ulquiorra mengalihkan pandangannya dari sketchbooknya saat merasakan seseorang mendekat ke arahnya, mata emeraldnya menatap seseorang yang kini berdiri di dekatnya.

"Kenapa kau tidak masuk hari ini Ulqui?" Tanya Orihime ketika dia telah mencapai di tempat Ulquiorra duduk.

"Aku sedikit tidak enak badan pagi tadi" Ulquiorra menutup sketchbooknya kemudian berdiri di depan Orihime.

"Hari sudah sore, kenapa kau malah datang kesini?" Tanya Ulquiorra kemudian.

"Aku...sengaja mencarimu" Orihime menundukkan kepalanya, menutupi semburat merah di wajahnya.

"Mencariku?" Tanya Ulquiorra tak yakin, Orihime mengangguk pelan, Ulquiorra melebarkan mata emeraldnya.

"Kau ini bodoh sekali!" Orihime tersentak mendengar bentakan Ulquiorra, dia pun langsung mendongakkan kepalanya, dan melihat ekspresi Ulquiorra yang terlihat...

Khawatir?

"Bagai mana kalau ternyata aku sedang tak ada di sini? Bagai mana kalau kau diganggu orang lagi? Lalu kenapa kau bisa sangat yakin aku ada di sini?" Tanya Ulquiorra, Orihime melebarkan matanya.

Ulquiora...khawatir padanya?

"Ha...habisnya...aku tidak tahu di mana rumahmu, yang aku tahu...hanya di sini lah tempat di mana aku bisa menemukanmu Ulqui" Lirih Orihime yang kembali menundukkan kepalanya.

"Untuk apa kau mencariku?" Tanya Ulquiorra yang kemudian berbalik membelakangi Orihime.

Orihime kembali mengangkat kepalanya, dia teringat akan tujuannya datang kemari.

"Kau tahu Ulqui? Akhirnya aku menemukan four leaf clover, lihat ini!" Orihime mengeluarkan four leaf clover yang baru saja dia temukan dari kantong bajunya, dan menunjukkannya peda Ulquiorra.

Ulquiorra menatap tangkai mungil yang berada di antara ibu jari dan telunjuk Orihime.

"Aku baru saja menemukannya di sungai!" Kata Orihime yang terlihat begitu gembira.

"Begitu? Lalu...apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Kurosaki Ichigo?" Pertanyaan Ulquiorra barusan membuat senyum Orihime memudar, dan menatap Ulquiorra dengan pandangan tak percaya.

"Bukankah kau mencari benda ini sebagai lucky item untuk menyatakan perasaanmu padanya?" Tanya Ulquiorra lagi, Orihime menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyangkal perkataan Ulquiorra.

"Bukan! Bukan! Dulu memang aku mencarinya untuk itu, tapi kali ini lain, bukan Ichigo yang kusukai saat ini!" Orihime memegang lengan Ulquiorra dengan kedua tangan mungilnya.

"Oh...jadi ada orang lain ya?" Tanya Ulquiorra kemudian.

"Ulqui-kun!" Sentak Orihime, dia mengguncangkan lengan Ulquiorra, berusaha mendapatkan perhatian dari pemuda itu.

"Aku...aku..." Orihime terlihat bingung ingin mengucapkan sesuatu.

"Ada apa?"

Orihime melepas keychain kelelawar yang dia gantungkan di bagian pinggang roknya, kemudian menunjukkannya tepat di depan wajah Ulquiorra, membuat pemuda pucat itu menatap bingung pada gadis di depannya.

"Kau ingat benda ini kan Ulquiorra?" Tanya Orihime.

"Tentu saja, kenapa dengan benda ini?" Tanya Ulquiorra semakin bingung.

"To...tolong...dengarkan apa yang dia katakan!" Kata Orihime dengan wajah memerah, sebelah alis Ulquiorra terangkat, menandakan bahwa dia benar-benar bingung saat ini.

"I Love You!" Tiga kata itu keluar dari benda mungil di tangan Orihime setelah gadis itu memencet benda itu sekali, Ulquiorra mengedipkan matanya.

"A...apa maksudnya ini?" Tanya Ulquiorra, telah muncul semburat merah samar di kedua pipinya.

"Ka...kau sudah...mendengarnya kan? I...i...itu..."

Plak!

Ulquiorra menepiskan keychain di tangan Orihime, dan membiarkannya jatuh di tanah, Orihime melebarkan matanya menatap Ulquiorra.

"Ke...kenapa?" Tanya Orihime sambil menahan air matanya yang akan keluar.

"Aku tidak suka!" Kata Ulquiorra dingin, Orihime tersentak, air matanya pun menetes begitu saja, tapi dia kembali dikejutkan dengan tindakan Ulquiorra yang tiba-tiba mendekapnya.

"Aku tidak suka mendengar hal itu selain dari mulutmu sendiri," Air mata Orihime pun terhenti, digantikan dengan ekspresi keterkejutannya.

"Katakan! Katakanlah hal yang sama dengan mulutmu sendiri Orihime!" Pinta Ulquiorra, Jantung Orihime berdetak semakin kencang saat merasakan nafas Ulquiorra menyapu telinganya.

"A...aku...men...cintaimu..."

"Katakan sekali lagi!"

"Aku mencintaimu!"

"Lebih keras Hime!"

"WATASHI WA AISHITERU!" Seru Orihime yang kemudian memeluk Ulquiorra dengan kedua lengan mungilnya, merapatkan jarak di antara mereka.

"Aishiteru mo Hime" Lirih Ulquiorra, membuat dada Orihime terasa hangat saat mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Ulquiorra.

Ulquiorra mengurai pelukannya dan menatap mata kelabu Orihime lekat-lekat.

"Setelah ini...jangan harap kau bisa lepas dariku!" Kata Ulquiorra s\dengan seringai yang tak biasa dia perlihatkan, membuat Orihime merasa sedikit ngeri dengan ekspresi itu.

"A...apa maksudmu Ulqui..."

Orihime tak mampu melanjutkan ucapannya karena Ulquiorra telah membungkamnya dengan ciuman lembut, awalnya Orihime terkejut dengan tindakan kekasihnya itu, namun kemudian memejamkan matanya menikmati sentukan dari pria yang dia cintai itu.

Akhirnya Orihime mendapatkannya...

Four Leaf Clover...

Dan Cinta sejatinya

5 tahun kemudian.

Setelah lulus SMU Ulquiorra melanjutkan studynya ke Universitas Tokyo, dan menyelesaikan kuliahnya dalam waktu singkat, kemudian langsung diberi tanggung jawab untuk mengelola perusahaan cabang milik ayahnya di Tokyo, dan saat itu juga Ulquiorra melamar Orihime agar bisa tinggal bersamanya di Tokyo.

Di sebuah rumah mewah di pinggir kota Tokyo.

Seorang pria muda tengah sibuk menenangkan tangisan bayi mungil dalam gendongannya.

"Ume menangis lagi sayang, bagai mana ini? Dia kenapa?" Seru pria itu dari dalam kamar, tak berapa lama kemudian muncul seorang wanita muda berambut orange dari balik pintu dan mengambil alih bayi mungil itu dari tangan sang pria.

"Sayang belajarlah untuk mengenali bahasa tubuh Ume, kau ini kan ayahnya!" Kata wanita muda itu pada suaminya sambil memeriksa keadaan bayi dalam gendongannya.

"Aku sudah berusaha, tapi tak begitu mengerti" Kata ayah bayi itu sambil mengikuti gerakan istrinya merebahkan bayi mungil itu di ranjang.

"Ah popoknya sudah penuh rupanya, tolong ambilkan popok ganti di dalam koper ya!" Pinta wanita itu pada suaminya, dan pasangan suami istri itu pun sibuk mengganti popok putri mereka yang basah.

Kalian tentu tahu siapa kedua orang yang tengah berbahagia itu,

Ya

Mereka adalah Ulquiorra dan Orihime.

Setelah lulus SMA Ulquiorra melanjutkan ke Universitas Tokyo dan menyelesaikannya dalam waktu singkat, dia langsung dihadiahi sebuah perusahaan oleh ayahnya, dan diapun melamar Orihime, hingga sekarang mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik dengan rambut orange seperti ibunya dan bermata emerald seperti ayahnya, sungguh perpaduan yang sempurna.

"Ume-chaaaan!"

BRAK!

Pintu kamar terbuka dengan kasar dan menampakkan seorang anak laki-laki berumur sekitar 10 tahun, anak itu langsung menuju ranjang tempat pasangan UlquiHime mengurus bayi mereka.

"Jangan berisik Noe, nanti Ume menangis lagi!" Pinta Orihime pada anak kecil itu.

"Ups!" Noe menutup mulutnya sendiri dengan tangan kecilnya, seolah merasa alau dirinya memang salah telah membuat keributan di rumah orang.

"Habis aku kangen sama Ume-chan, pokoknya kali ini aku tak akan melepaskan Ume-chan, tidak seorang pun yang boleh mendekati Ume-chanku!" Kata Noe dengan melipat kedua lengannya di depan dada.

"Iya iya...Ume-chan untukmu" Kata Orihime sambil terkikik pelan.

Ulquiorra menepuk kepala Noe dan mengusapnya pelan.

"Berusahalah!" Katanya singkat, Noe mengerucutkan bibirnya kemudian menyingkirkan tangan Ulquiorra dari kepalanya.

"Huh, kau dulu juga bilang begitu, tapi nyatanya? Hime-chan malah kau ambil sendiri!" Protes Noe, Orihime tertawa pelan.

"Ulquiorra tidak mungkin menikahi putrinya sendiri kan Noe?" Tanya Orihime, yang juga untuk meyakinkan Noe bahwa Ulquiorra tidak akan melakukan hal yang sama seperti dulu.

"He? Benar juga ya? Berarti Ume-chan sudah dipastikan akan menjadi milikku!" Seru Noe senang.

"Ah, tapi pastinya kau akan dapat banyak saingan lho Noe, Ume-chan kan cantik sekali" Kata Orihime bermaksud menggoda keponakannya itu.

"Takkan kubiarkan orang lain mendekatinya!" Seru Noe penuh semangat, Orihime dan Ulquiorra hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Noe yang tidak berubah sejak dulu.

Kamar besar itu terlihat sangat nyaman dengan pemandangan damai itu, kamar Ulquiorra dan Orihime, di mana mereka menyimpan kenangan-kenangan yang indah di sana, tempat mereka menyimpan barang-barang lama, foto-foto para sahabat mereka, semua terpajang rapi di mading yang mereka buat bersama.

Di mading itu terdapat foto-foto lama dari foto kelulusan SMA, hingga foto baru mereka.

Di bagian tengah mading terdapat selembar foto kiriman dari Grimmjow, di foto itu terlihat Grimmjow sedang merangkul pundak seorang gadis berambut pirang, di samping foto itu terdapat sebuah kartu pos penuh tulisan tangan Grimmjow.

Hime, akhirnya aku menemukannya

Orang yang menjadi takdirku

Namanya Tia Harribel

Bagaimana? Dia cantik kan?

Rencananya kami akan menikah tahun depan

Doakan kami ya! Hehehe

Grimmjow J.

Itu adalah isi pos card dari Grimmjow yang dia kirim beberapa bulan yang lalu.

Di bawahnya terpasang foto berukuran 4r yang menampilkan refleksi seorang gadis berperawakan mungil bersama dengan seorang pria berambut merah di sampingnya, di bawah foto itu juga tertempel kartu pos kiriman dari Rukia.

Hai Orihime, Ulquiorra!

Kudengar bayi kalian sudah lahir ya?

Selamat ya! Dia pasti lucu sekali ^_^

Ah iya, yang di sampingku ini Renji Abarai

Kau pasti sudah menganalnya kan Hime?

Dulu dia satu SMP denganmu lho

Ternyata dia juga teman dekatnya Grimmjow

Sifatnya juga nggak jauh beda sama cowok biru itu hehehe

Ah iya, bulan depan kami akan bertunangan,

Kalian datang ya!

Rukia K.

Di bawah foto barusan terdapat foto Ichigo di sebuah kebun jeruk, dia melanjutkan kuliahnya di bidang pertanian, dan dia ingin menciptakan jenis jeruk baru, persilangan antara lemon dan mikan, sungguh persilangan yang aneh, tapi ternyata banyak peminatnya di luar negri, sekarang Ichigo tengah sibuk dengan usaha kebun jeruknya.

Lalu di sekitar foto-foto itu terlihat lukisan-lukisan buatan tangan Ulquiorra, lukisan dari masa sekolah dulu, dimana Orihime begitu menginginkan lukisan dari Ulquiorra, dan kini kamar itu telah dipenuhi dengan lukisan refleksi dirinya yang khusus dibuatkan oleh suaminya tercinta.

Owari

Haru: Nangis gaje "Finaly...finaly...I did it!"

Ulqui: Nepok-nepok bahu Haru "Akhirnya selesai juga ya? Aku seneng akhirnya nikah sama onnaku juga" Ngelap air mata pake tisu bekas.

Grimm: "Jadi gue sama Harribel? Yah nggak apa-apa sih, lagian dia nggak kalah seksi sama Hime"

Rukia: "Gue sama Renji? Nggak nyangka gue, tapi boleh lah, si Renji juga nggak jelek kok hehehe"

Ichi: "Kok cuma gue yang nggak dapet pacar?"

Haru: "Kamu kan sibuk ngurusin jeruk-jeruk kamu itu, lagian gue bingung sendiri elu mau dipasangin sama siapa, soalnya stok cewe-nya udah habis hehehe"

Ichi: Nangis gaje sambil nyakar-nyakar tembok.

All: "Terima kasih sudah bersenia mengikuti cerita ini hingga akhir, semoga kalian nggak kecewa dengan akhir ceritanya, silakan sampaikan kesan dan pesan anda sekalian lewat review"

*Salam Cute*