"Kenapa kamu kesini Neon..? apa kau sudah gila?"

"Tidak, aku hanya ingin memberitahumu, Kurapika! Perasaanku mengatakan, kita akan mati disini.."

CHAP! 10. MALAIKAT? ATAU PENYABUT NYAWA?

DECLAIMER: TOSHISHIRO TAGASHI

STORY BY: AULZ CHAN KURUTA (sekarang mah ganti nama..hehe)

Mohon maaf karena saia lama updet, lemot, garing, aneh, abal, gaje, dan sebagainya.

"Kenapa juga kita harus mati Neon..?" ucapku kesal, lalu mencengkram kuat kerah bajunya. Kulihat ia sesak nafas. Bagus! Aku senang sekali! Dasar sok tau, bisanya cuma mengada-ngada.

Ta..tapi tunggu dulu, kenapa juga aku harus seperti ini? Kenapa aku senang ketika ia tersiksa bagini? Bukankah ia temanmu Kurapika..?. ini seperti bukan diriku!

Perlahan tapi pasti, aku melepaskan cengkramanku. Semua orang terkesima. Menunggu. Menunggu aku terdiam. Disaat yang sama, Senritsu mengajak Neon untuk mundur beberapa langkah dari hadapanku. Hatiku hampa, seperti ditimpuk beberapa batu besar. Seharusnya aku disini sendiri..harusnya..ini kuselesaikan dengan mudah, tapi kenyataannya..?

Kakiku berbalik dari hadapan mereka semua, duduk terdiam bagaikan seonggak patung, diam dan termenung, apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisi ku?. Aku pun menutup mata dan bernafasan perlahan.

"Kurapika.." ada sebuah suara, hum..pastilah halusinasiku.

"Kurapika, sini.. bangunlah., kau pasti bingung apa yang akan kau lakukan sekarang, ya kan?".

Ah~ imajinasiku begitu aktif, sampai-sampai mengganggu pikiranku, akhirnya aku melirik ke arah suara, dan..kulihat di depan mataku , sebuah cermin besar, dimana kau bisa melihat dirimu sendiri sedang duduk termenung.

"Sudah bangun Kurapika?", pantulan cermin itu pun berbicara padaku sendiri,

"Haaah? Bi..bicara padaku..?" kataku polos sambil menunjuk diriku sendiri. Lalu aku melirik kesana-kemari, hey..mana teman-teman ku..?

"Yaiyalah… sama siapa lagi..? Cantik..cantik, telmi ternyata.." katanya geleng-geleng kepala, "Tenanglah..ini kan dimensi lain yang ada pada dirimu.. ya..teman-temanmu gak bakal ada disini.." pantulan cermin itu tersenyum, membuatku semakin takut.

"Jangan takut Kurapika, aku cuma pantulan cermin mu..".

Aku menelan ludah, "Ka..kau bisa mengetahui pikiranku..?", kataku konyol, ia tertawa garing,

"Hahahha… iyalah Kurapika..aku adalah kamu, dan kamu adalah aku.."

Aku diam sesaat, "….. Lalu, apa yang kau inginkan cermin..?"

"Membantumu keluar dari masalah ini…" ia tersenyum lagi, "Kemarilah mendekat, dekatkan tanganmu ke cermin ini.." . Kakiku bangun dan mendekati cermin besar itu, kulihat pantulan cerminku pun melakukan hal yang sama. Mataku dengan jelalatannya melihat semua arah di cermin itu. Ia benar-benar pantulan cerminku..pikirku, yang membedakan aku dan pantulanku ialah warna mata kami. Aku biru, sementara dia merah, kok bisa ya?. Kepalaku berputar lagi.

"Oi…sudah beres liat-liatnya..? cepat lakukan hal yang tadi kuperintahkan!"

Aku tersadar dari rasa penasaranku lalu menuruti semua perintahnya, "Eh, iya. Terus…? Apa jalan keluarnya..?" .

Kulihat ia menyeringai menyebalkan. "Kalau kata aku sih, cuma dua pilihannya, jadi Malaikat atau jadi Penyabut Nyawa..?"

"A..apa..? Apa maksudmu..? itu sih bukan jalan keluar namanya! Lagi pula aku bukan keduanya!" kataku dengan suara meninggi. Ku lihat pantulanku tertawa,

"Hahaha, kamu ini lucu. Kau memang bukan keduanya bodoh.. tapi kau mampu jadi keduanya.."

"Kalau begitu aku tidak mau!" kepalaku menggeleng.

"HARUS! Kau bilang ingin menyelesaikan masalah ini, huh? Diam dan menurutlah!. Kau tau? Kau bahkan mampu jadi penyabut nyawa..!" Ia mengetuk-ngetuk kaca.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU JALAN ITU..!"

"Oh… tak kusangka kembaranku keras kepala, dengar ya..kau ini cuma bisa menyusahkan orang lain! Tau! Bisanya cuma cari masalah, bikin khawatir orang, kalau kau memilih penyabut nyawa, masalahmu akan beres seketika..! Ngerti..? ", ia lalu mengusap-ngusap dadanya. Menunggu ku menganggukan kepala.

"Enggak." Kataku singkat, dengan suara yang cukup tegas. Semoga.

Ia mengigit bibir bawahnya. Gemas. "Aku ingin kau membunuh mereka semua Kurapika..Mau kan?"

Mataku melotot, "YA ENGGAK MAU LAH!" . Mataku menangkap ekspressinya yang hampir putus asa.

"Dasar keras kepala!, jadi ceritanya kamu mau jadi Malaikat gitu..?"

Mulutku diam. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya mau,

"Tuh kan diem lagi.. cepet jawab pertanyaanku! Mau jadi malaikat apa jadi penyabut nyawa, huh?"

Bibirku bergetar perlahan menjawab pertanyaannya dengan sepelan mungkin, "Err..iya", kuharap ia tak mendengarnya.

Sepertinya aku salah perhitungan, ia tersenyum puas. "Ya sudah, itu keputusan yang bijak sih, nah sekarang tatap mataku.."

"Mau apa..?" tanyaku sambil mengerutkan kening.

"Jangan banyak tanya! Cepat lakukan apa yang kuperintahkan!". Pantulan cermin itu menyuruhku terus, membuat ku kesal. Mau tak mau aku menurututinya. Lama-kelamaan mata yang ada di cermin itu menjadi biru dan diriku menjadi merah. Lho? Lho?

"Senangnya bisa keluaar~" katanya meregangkan badannya. "Aku pegal di dalam cermin terus..oh ya, halo Kurapi-chan.."

Hah? Logat ini..?

Aku tersadar bahwa sekarang aku yang terkurung didalam cermin, aku mengetuk-ngetuk kaca itu. Sial! Aku telah ditipu..!. "Ka..kamu!" kataku setengah teriak, "Apa yang kamu lakukan? Siapa kamu..? "

Sebelum terjawab pertanyaanku, Bayanganku yang tadi kukira itu aku ternyata membuka lapisan di wajahnya. Dan membuka bajunya. Ternyata ia.. Kuroro Lucifer..!

Mataku langsung membulat, "KAMU! BRENGSEK! Cepat keluarkan aku..!"

"Ckckck.. dibalik mulutmu yang manis itu, rupanya bayak kata yang kasar ya..?" Ia menundukan wajahnya dan mendekatkan kepalanya ke kaca, ia mencumbu bibirku..!

Matanya membuka sedikit, melihat wajahku yang merah padam. Ia jadi semakin senang. Lidahnya menjilat bekas ciuman tadi, "Ah..dingin, jadi tak terasa nih ciumannya..terhalang kaca sih.." telunjuknya mengetuk kaca, aku hanya menatapnya tajam. Jantungku berdetak cepat. Nafasku memburu.

"Ke..kenapa..? kenapa kau bisa disini…? Apa mau mu sih..!" kataku tak sabar, sambil terus memukul kaca. Tak kusangka, cermin ini begitu sempit. Aku sama sekali tak bisa menggerakan sikut-ku. Kuroro sialan!

"Kenapa katamu..? Apa kau pernah baca di suatu buku atau apalah..bahwa air liur kelelawar itu baik untuk menekan emosi dan juga baik untuk melabilkan pikiran? Dan yang lebih hebatnya..air liur kelelawar bisa berfungsi seperti ganja tau.. membuat orang yang memakannya mempunyai halusinasi hebat, selalu terbawa perasaan senang yang berlebihan atau sebaliknya…"

"Aku tak pernah tau..dan kapan juga aku memakan air liur kelelawar..?"

"Tunggu..aku belum selesai… ini alam pikiranku tau..hebatkan aku bisa membuat dimensi seperti ini..?" Ia membuka kedua tangannya. "Air liur kelelawar memang hebat..membuatmu percaya akan kata-kataku. Hahaha. Yang aku mau cuma kamu Kurapika., aku mau kamu jadi milikku. Dan akan kubunuh semua teman-temanmu agar tak ada yang menolongmu..fufufu..". Ia berdehem sebentar lalu melanjutkan perkataannya, "Aku kan pernah menggitmu..? air liurku pasti secara tak langsung masuk ke dalam aliran nadi-mu."

Tanganku kiriku langsung refleks menyentuh bekas gigitan itu. Aku merasakan ada yang berdenyut-denyut.

"Nah~ tunggu aku ya..aku akan memulai pertunjukanku..".Bagaikan seorang Drakula pemangsa darah ia membalikan badannya dari hadapanku.

"Tunggu..pertunjukan apa..?". Ia berbalik lagi dan tersenyum, membuatku semakin panas!

"Ckckck…kau dengar perkataanku tadi, tidak…? Kan sudah kau bilang sendiri..kau ingin menjadi Malaikat bukan?, ya sudah, diam saja yang tenang disini, tunggu aku kembali.." Ia mengedipkan sebelah matanya.

"…..Memangnya kamu..mau apa…?" tanyaku sambil menahan amarah.

Ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya. "kalau kamu enggak mau jadi penyabut nyawa, biar aku saja yang menggantikanmu…alias..aku yang membunuh mereka semua…hahaha, bagus kan? Di dunia ini cuma kita berdua"

"A..APA? keluarkan aku dari sini…!, " lalu aku tak sadar berkomat-kamit sendiri.. sseharusnya aku tadi sadar! Harusnya aku tadi tak terjebak, harusnya aku..harusnya aku…"

"Apa? Seharusnya aku apa? Memilih menjadi penyabut nyawa..? Boleh, kau bisa temani aku kalau begitu." Kuroro mengulurkan tangannya.

Aku tak menjawab perkataannya tadi, yang kulakukan ialah menyilangkan jari (memohon keberuntungan), dan mengumpulkan tenaga dikepalaku, lalu..

PRAAANG…!

Cermin yang mengurungku ini akhirnya pecah, dengan satu sundulanku (yang penuh dengan tenaga tentunya..). Alhasil, keningku berdarah-darah. Mataku melihat mata Kuroro yang terbelalak kaget,

"Kurapika… Dahimu…berdarah.." Ia menjilati bibirnya, cepat-cepat aku mengusap darahku yang mengalir deras dengan tanganku, lalu menjilatnya.

"Mau , Kuroro.?." ucapku sambil menjilat darahku sendiri, jijik sih, tapi apa boleh buat..

Kulihat matanya bergerak-gerak, melihat ke arah lain, kurasa ia tak mau tergoda.. "Tidak.." katanya singkat.

"Kau benar Kuro.. darahku manis…, kataku sambil menjilat darah itu pelan-pelan, oh tuhaan..kuatkan aku.. semoga aktingku berhasil...

"Baik..baik, aku tidak tahan… apa maumu..?". Katanya sambil bersedekap,

"Yang aku mau lepaskan teman-temanku , bunuh semua gerombolanmu.. dan jaminannya aku.." Kataku sambil terus berakting.

"Lalu teman-temanmu datang untuk menolongmu setelah aku tak punya siapa-siapa lagi.,.begitu..?"

"Bukan, setelah kau membunuh semua gerombolanmu , biarkan teman-temanku pergi..bilang saja pada mereka kalau aku sudah mati, dan mereka tak punya hak untuk terus disini bukan..?", lagi, aku menyilangkan jariku untuk mendapat keberuntungan.

"Aku…tidak terlalu mengerti.., kalau begitu mereka disuruh pergi dan setelah itu mereka akan membalaskan dendamnya padaku…"

"Kau pilih aku mati atau mereka yang mati…?"

Ia diam, memegang dagunya sendiri. Memikirkan semua hal yang aku ucapkan.

"Kuro…mungkin kau bilang aku bergurau, tidak lucu, tapi aku mau jadi milikmu.., dengan satu syarat, teman-temanku harus pergi dari sini..". kataku sambil bersimpuh, agar ia semakin percaya padaku, aku akan melakukan apapun demi teman-temanku..

Pria berambut hitam itu pun menurunkan alisnya, lalu menghampiriku lagi.

"Benarkah..? benarkah kau mau jadi milikku seorang..?"

Hening, yang kudengar hanyalah suara dentuman yang bertubi-tubi, sepertinya itu suara jantung Kuroro. Aku tak berani menatap wajahnya, lebih baik aku bersimpuh saja.

"Jawab aku, benarkah? Benarkah perkataanmu tadi..?" ia mengulang perkataannya.

Dengan berat aku menganggukan kepalaku, berharap ia tak terus memandangku. Tapi apa yang terjadi? Ia malah mendekat dan mengangkat daguku.

"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku, Kurapika..?" secara perlahan ia mendekatkan kepalanya ke kepalaku, sehingga jarak kepala kami tinggal beberapa sentimeter lagi.

Aku menutup mataku, tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, lalu kujawab perkataannya barusan, "Bukankah..aku telah menjawabmu..?".

Kuroro malah tersenyum lebar, "Aku tak butuh anggukanmu..tapi aku butuh jawaban yang keluar dari mulutmu ini.."

Sambil terus menutup mata aku ucapkan "..Aku milikmu, seorang..".

Ia tersenyum puas, "Sambil menatap mataku dong…"

Mataku membuka sebelah, dan menatap matanya. "Sudah ..puas..?"

"Hehehe, belum.. aku ingin bukti…" ia mengangkat daguku lebih tinggi. "Hm.. kalau begitu, cium aku sekarang.."

Mataku membuka semua, dan menatap wajahnya lekat, gak salah..?, "Di..di pipi ya..?" kataku sambil berharap,

"Ya disini lah.." ia menunjuk ke arah bibirnya. "Gampang saja Kurapika, kau tinggal sedikit menggerakan kepalamu,menutup matamu, dan sedikit memajukan bibirmu.."

Badanku gemetar, kalau aku melakukannya maka harga diriku akan jatuh, tapi kalau aku menolaknya..aku takut teman-temanku menjadi korban..baiklah..aku pilih yang pertama. Mau tak mau aku menutup rapat mataku, menggerakkan kepalaku, dan..memajukan bibirku.

Tak sampai satu menit, bibirku telah sampai, ingin ku melepasnya tapi tak bisa, tangannya melingkar di pinggangku, merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan membuatku tak bisa lepas darinya.

Tapi aku juga tak mau sepenuhnya menjadi milik Kuroro, tanganku mulai memegang punggung Kuroro, mungkin dia mengira aku berbalik memeluknya. Tapi dia salah. Rantai darah itu masih ada, perlahan dengan kekuatan Nen-ku , aku sambungkan rantai darahku dan Judgement chain yang ada di jantungnya. Agak susah juga mengetahui letak jantung Kuro..maklum, aku hanya bisa memegang punggungnya. Setelah memasangnya dengan pas, aku melepaskan kecupanku (yang akhirnya bisa kulepas) , dan membisikan sesuatu di telinganya.

"Terimakasih..dan selamat tinggal..Kuro.."

"Hei..hei..kurapika..apa maksudmu..?", Kuroro melepaskan aku dari pelukannya. Ia memegang erat pundakku.

"Aku bilang, selamat tinggal Kuroro.." kataku sambil mengepalkan tangan kananku di depan matanya.

Matanya terbuka lebar, mencerna semua kata-kataku. Dan sepertinya ia mendapat firasat buruk, setelah melihat pergelangan tanganku yang terhiasi oleh rantai kecil berwarna merah. Tangannya yang besar mencengkram kasar tangan kananku. Lalu tangannya yang satu lagi memegang bibirnya yang mulai mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Tanpa sadar aku tersenyum tipis.

"K..kau.." katanya pelan sambil terus mengusap mulutnya, tapi darahnya tak kunjung berhenti. "Apa yang kau lakukan padaku..?"

"Menghancurkan aliran darahmu.." tanganku memberontak dari cenkramannya, "Atau..yang lebih kerennya menghancurkan jantungmu.."

"A..APA..?" tangannya mulai memegang dadanya yang mulai basah oleh darah pekat. "Kau..masih bisa berbohong padaku saat-saat terakhir..? Kenapa? Bukankah kau bilang kau ini milikku!"

"Ya…tadi. Tapi tidak sekarang.."

"Arrrgh!" Tangannya lagi-lagi memegang pundakku dan membenturkannya ke lantai. "Kenapa..? Kenapa kau lakukan ini, Kurapika!"

Aku menarik nafas. Memikirkan apa yang akan selanjutnya terjadi padaku. "Karena..aku tak pernah mungkin mencintaimu Kuro.. Aku hanya bisa membencimu selamanya.."

Mataku menangkap bulir-bulir yang mengaliir di sela-sela mata Kuroro. "Aku.." katanya gemetar. "Bagaimana caranya agar kau mau mencintaiku Kurapika..?" ia melanjutkan kembali perkataannya, "Kalau aku membunuh teman-temanmu..dan membiarkan kita hidup di dunia fana ini, yang ada hanyalah kebencian yang tertinggal pada matamu.., Kukira perkataanmu ialah jalan keluar dari kegundahanku selama ini..tapi ternyata tidak!"

Ia mengambil beberapa nafas, "JAHATNYA KAU! KALAU KAU MEMANG TAK SUKA PADAKU, TAK USAH BERPURA-PURA MENCINTAIKU!,darah dari mulutnya mendarat pada wajahku." Itu hanya membuatku bertambah sakit.." sekarang air matanya yang mendarat di pipiku.

Ini pertama kalinya hatiku merasa sakit karena dia. Kuroro Lucifer, mataku juga berkaca-kaca. Aku menyesal. Tapi aku tak mau mengakuinya.

"Kurapika.." katanya pelan. "Boleh aku minta satu permintaan padamu sebelum aku mati?.." Ia tak membiarkanku menjawab, dan Ia melanjutkannya lagi, "Aku ingin merasakanmu untuk terakhir kalinya.."

"Merasa..?" kataku heran.

"Ini maksudnya.." Ia menunjukkan ke arah dahiku, oh ya..darah..

Aku mengangguk, Lalu Kuroro mulai menghisap darah yang masih menetes di dahiku.

"Terimakasih Kurapika.. aku akan ingat selalu rasa ini.., aku tau kita tak akan pernah bisa bersatu..karena kita berbeda.."

Hatiku semakin retak, saat Kuroro mulai menghirup nafas terakhirnya.

"Terimakasih..dan jangan lupakan aku ya.."

Kakinya mulai menghilang dan membentuk kekelawar lalu terbang. Terus begitu sampai ke arah kepala, tangisku pecah..aku tak tahan lagi,

"Kuroro….. ,aku menyesal..apa kau mendengarnya…?" ,

Kelelawar terakhir yang berasal dari rambutnya mulai terbang dan menghilang. Air mataku tak mau berhenti. Aku pun menutup pelan-pelan mataku.


"Kamu kenapa Kurapika…?" suara Gon membuatku membuka mata kembali, "Kenapa kau menangis..? dan ada apa dengan dahimu?"

Aku lalu melihat ke semua pernjuru arah. Lalu menyentuh dahiku sendiri. Ada cairan pekat yang menempel disana. Lho kok?

"E..eh Gon… a,,apa yang sebenarnya terjadi…?"

"Tidak ada..kau cuma duduk termenung sambil terisak-isak, ada apa?"

"Aku agak susah menjelaskannya Gon... ini..seperti mimpi..." Aku memegang kepalaku, mempercayai apa yang tadi terjadi. Oh tuhan, yang tadi itu mimpi atau apa ya?

"? mimpi? bagaimana kamu bisa bermimpi dengan posisi seperti itu..?"

"Eh... tidak tahu,,yang pasti aku...aku benar-benar bisa mengalahkan Kuroro.. tapi! sungguh aku merasakannya!"

"Mungkin..itu memang kenyataan.., tapi apa buktinya?"

"Darah ini...ya... aku telah membunuhnya Gon.."

membunuh hatinya lebih tepatnya..


Akhirnya kami semua keluar dari kastil ini, dengan rintik-rintik hujan yang semakin lama semakin cepat, mengingatkan begitu lama kami berjuang..dan aku telah menemukan sesuatu hal yang penting bagi diriku sendiri,

aku menyukainya.

dan aku tak bisa berbohong pada diriku sendiri..

aku membuang nafasku perlahan.

rembulan..

apa yang harus aku lakukan?

aku memang bodoh.

manusia sepertiku tak berhak hidup di daratan luas ini..

terkadang aku merasa bersalah, tapi juga aku rindu.

apa gunanya aku hidup dengan perasaan seperti ini.

apa dia akan mendengar kata hatiku, tuhan?

jika ya, tolong sampaikan aku minta maaf padanya.

katakan bahwa aku menyukainya.

katakan bahwa aku merindukannya.

katakan bahwa aku tak bisa hidup tanpanya.

tanpa terasa air mataku berlinang lagi, tanpa sepengetahuan Gon dan yang lainnya tentunya.


Tanpa sepengetahuanku, Burung hantu di balik daun-daun pohon yang rindang memperhatikan aku dan menunduk. Seraya berdo'a agar hujan ini cepat berhenti.

~END~


SPECIAL THANKS!

KuroPika X

CuraQnDC10

Nada Salsabila -Kuruta-

The Fallen Kuriboh

JNz aka Jane kuruta z

kurapika kuruta

Zip

no name

Angela Urahara Hirako

Shieru9999

Snowlady

Hanazono Hatsuhi

Gabriela Zaoldyeck

imappyon

Jane kuruta Z

Rara Lucifer

dan semuanya! (maap kalo ada yg g ke tulis)

terimaksih buat repiunya yang buat aul semanget buat ngelanjutin fic ini ampe tuntas yeaaaay!

akhirnya dengan hati yang senang, saya ucapkan Wabillahi taufik walhidayah..

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..