"I love, you Dobe. Now and forever."

~ My Lovely, Dobe!~

Disclaimer: kalau Naruto punya saia, bakal saia suruh semua seme di manga Naruto buat nge-rape dia. Tapi sayangnya, Naruto punya Masashi Kishimoto sensei*monyong2 sebel*

Gendre: Romace, drama, humor, yaoi, ooc, typo(s).

Pairig:SasuNaru

Rate: M (iya, sodara-sodara! Ini ber-rate M! Gwahahahaha)

Summary: Sasuke kini sudah tahu jati diri Naruto yang sebenarnya! Tentangan kembali datang dari keluarga Namikaze yang menentang hubungan keduanya. Bagaimana kah nasib Naruto dan Sasuke?

WARNING!: dalam ffn ini terdapat banyak hal yg tidak pantas dibaca sama anak di bawah umur (walaupun author juga dibawah umur)! Mengandung unsur YAOI, LEMON, OOC dan unsur tidak jelas lainnya. Bila tidak suka, silahkan meninggalkan fic ini dari pada memberikan flame gak mutu lainnya.

Dun like? Dun read!

Nekad baca? Gak nanggung klo jadi fujoshi ato fudashi, nantinya lho~

Oke~ selamat membacaaa~

~ My lovely, Dobe!~

Chapter 3. I Want You Happy, Master.

BY: Himawari Ichinomiya

v(^u^)~oo0oo~(^u^)v

"Deidara, siapa remaja yang berada di bingkai fotomu itu?" Tanya Sasuke sambil menunjuk sebuah bingkai foto.

"Hm..?" gumam Deidara bingung dengan sikap Sasuke. Biasanya kan pemuda raven itu tidak pernah mau perduli dengan apa-apa yang bukan menjadi urusannya. "Bingkai yang mana?" Tanya Deidara bingung.

"Bingkai foto yang ada di sebelah komputermu itu!" ucapnya lagi sambil menujuk bingkai di sebelah computer atasannya. Deidara meraih bingkai foto yang ditunjuk Sasuke dan melihat fotonya.

"Oh, ini! Ini 'kan foto adikku! Apa kau tidak tau?" Tanya Deidara sambil menatap Sasuke dengan bingung.

"A-adikmu?" Tanya Sasuke gugup. Dilihatnya lagi foto itu cermat-cermat, disana terdapat Deidara yang sedang merangkul pundak seorang remaja berkulit tan dan bermata biru.

"Ya, itu adikku! Namikaze Naruto." Ucap Deidara. Sasuke terdiam mendengar perkataan direkturnya itu. Kaget, bingung, dan shock. Sasuke benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi. 'Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Deidara?' batinnya dalam hati.

"Memang kenapa? Kok tiba-tiba nanya?" ucap Deidara melihat sahabatnya yang akhir-akhir ini bertingkah aneh. Sasuke hanya menelan ludah paksa, sudah diputuskannya akan mengatakan yang sesungguhnya pada pemuda berrambut pirang dan bermata aquamarine itu apa pun resikonya.

"Apakah akhir-akhir ini adikmu yang bernama Naruto itu sering tidak pulang ke rumah?" Tanya Sasuke berbasa-basi sebelum mengatakan inti pembicaraan yang sebenarnya.

"Ya… tapi, Naruto mengatakan bahwa dia menginap di rumah temannya yang bernama Kiba." Balas Deidara sambil mengingat-ingat alasan yang diucapkan Naruto ke keluarganya. Deidara terdiam sesaat, disadarinya ada sesuatu hal yang eneh dengan pemuda raven di hadapannya ini. "Kenapa kau bisa tahu kalau adikku jarang pulang?" lanjut Deidara dengan dahi berkerut bingung. Sasuke terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan direktur sekaligus sahabatnya ini. Pemuda bermata onyx itu bingung mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada Deidara.

"Sebenarnya, adikmu selama ini ada di tempatku." Ucap pemuda tampan itu pada akhirnya. Deidara terbelalak kaget. Pemuda direktur Rasengan Corp itu berdiri dari tempat duduknya.

"Apa benar itu Uchiha?" ucap Deidara dengan emosi. Nama sahabatnya itu tidak dipanggil seperti biasanya, menekankan bahwa saat ini dia benar-benar hilang kendali. Sasuke masih memasang wajah stoic, wlaupun sebenarnya dalam hati bingung dan merasa bersalah atas kelakuannya selama ini pada Naruto. "Jadi benar kalau kau selama ini bersama Naruto dan kau menjadikan adikku sebagai peliharaanmu!" Bentak Deidara sambil menunjuk Sasuke.

"Bagaimana kau tau?" Tanya Sasuke heran. Bagaimana sahabatnya ini bisa tau sampai sedetil itu? sedangkan Sasuke tadi baru mengatakan bahwa adiknya tinggal di rumah pemuda raven itu selama ini. Deidara hanya tersenyum sinis melihat reaksi Sasuke.

"Aku mendapat laporan dari Sakura!" Ucap Deidara menjawab pertanyaan dari Sasuke. Sasuke kini tak bisa menutupi reaksi kagetnya dengan topeng stoic 'Uciha' lagi. Deidara kembali memasang wajah serius. "Sakura melihatmu bersama Naruto." Lanjutnya lagi. 'Sial, kau Sakura!' batin Sasuke dalam hati, sambil mengumpat marah pada fan girl-nya itu.

"Aku tak menyangka bahwa itu benar Sasuke. Aku kecewa padamu." Ucap direktur muda itu.

BUGH!

Deidara berranjak dari kursinya dan memukul wajah Sasuke dengan keras, membuat wajah yang seputih porselen itu memar dan menunjukan warna kemerahan. Sasuke tersungkur ke lantai, pria berrambut raven itu tidak sedikit pun berniat membalas, karena dia merasa bahwa dirinya memang salah.

"Pergi kau dari sini, Uciha! Kau ku pecat!" teriak Deidara, tangan kanannya menunjuk arah pintu keluar, agar pemuda raven itu segera pergi dari ruangannya, atau lebih tepatnya keluar dari Rasengan Corp. Sasuke berdiri sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah karena di pukul oleh Deidara tadi, lalu pergi ke ruangannya untuk membereskan barang barang kantornya dan pulang.

.

.

.

Pemuda berramut pirang dan bermata biru langit itu berjalan di antara kelap-kelip lampu jalanan,kedua tangannya dimasukkan pada saku celana, sedangkan matanya sibuk melihat kerlap-kerlip langit yang menurutnya lebih indah dari pada lampu dari bangunan-bangunan menjulang tinggi buatan manusia. Mata birunya menatap langit malam nan kelam yang begitu mengingatkannya pada sosok bermata onyx dan berrambut raven yang selama ini dicintainya. Pemuda yang akrab dipanggil Naruto itu memejamkan matanya sesaat dan kemudian kembali menatap langit. "Aku merindukanmu, Teme…" ucapnya lirih, dengan mata masih menatap langit malam.

Naruto saat ini dalam perjalanan menuju Rasengan Corp. Kaasan-nya, Kushina merasa khawatir pada anak sulungnya a.k.a Deidara itu. Bagaimana tidak? Bila sekarang sudah pukul sebelas malam. Tapi, anikinya itu belum pulang dan bahkan belum menelpon rumah. Kushina tau bila Deidara cukup dewasa untuk pulang malam, tapi tetap saja dia merasa khawatir. Alhasil, disuruhnya Naruto untuk menjemput Deidara ke Rasengan Corp.

'Ah, kaasan terlalu menghawatirkan aniki. Pasti aniki berniat lembur hari ini.' Batin Naruto dalam hati, pemuda pirang itu sudah tau kebiasaan anikinya yang doyan kerja sampai pagi. Tak lama kemudian, Naruto sudah memasuki kawasan Rasengan Corp, sebuah perusahaan besar milik keluarganya. Di sana terlihat masih banyak para pegawai yang berkeliaran di sana-sini. 'sepertinya mereka berkerja untuk sift malam.' Batin pemuda berkulit tan itu. Saat sedang berjalan menuju ruangan Deidara, pemuda pirang itu mendengar sekelompok wanita yang sedang bergosip dengan suara yang cukup keras.

"Tidak dapat disangka! Ternyata Deidara-sama dapat sekejam itu dengan sahabatnya sendiri!" ucap salah satu wanita berrambut merah dan berkacamata. Mendengar nama anikinya disebut-sebut, Naruto menghentikan langkahnya dan mendengarkan rangkaian gossip wanita-wanita centil itu. Naruto 'tak perlu menajamkan pendengarannya, karena sekumpulan wanita itu bergosip dengan suara yang cukup keras.

"Iya, kasihan sekali Sasuke-san! Aku tak percaya, pemuda sejenius dia dipecat oleh Deidara-sama yang bahkan sahabatnya sendiri!" timpal seorang wanita yang berrambut cokelat bercepol dua dengan kata-kata yang hiperbolis. Naruto yang mendengar percakapan itu terbelalak kaget, badannya membatu dan matanya terbelalak mendengar percakapan para wanita tukang gossip itu. 'Benarkah? Benarkah aniki memecat Sasuke?' batin Naruto galau. Dilangkahkan kakinya tergesa-gesa menuju ruangan yang bertulis 'President Direktur' di pintunya. Tanpa basa-basi lagi Naruto masuk dengan membanting pintu keras.

BRAK!

Deidara yang sedang meneliti berkas-berkas ekstansi perusahaan, langsung jatuh tersungkur karena kaget.

"Naruto bodoh! Apa tidak bisa kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" Ucap Deidara agak berteriak karena kesal. Tangannya mengelus-elus punggungnya yang sakit karena membentur lantai dengan tidak elitnya.

"Kenapa aniki memecat Sasuke?" ujar pemuda berrambut pirang acak-acakkan itu pada Deidara, to the point. Deidara menghela nafas dan menatap Naruto lembut.

"Aku tak suka otoutoku diperlakukan seperti bukan manusia." Ucap Deidara kali ini dengan wajah serius. Naruto kembali terkaget-kaget ketika mendengar kalimat yang diucapkan anikinya itu. 'Bagaimana aniki bisa tau?' batin Naruto dalam hati. Satu hal yang pasti, ini pasti karena Saskura! Ya! 'seharusnya dari awal aku tak usah perduli padanya.' Umpat Naruto dalam hati sambil menyumpah-serapahi gadis berrambut pink itu.

"Aku cinta pada Sasuke, aniki! Kumohon! Jangan pecat Sasuke!" Ucap Naruto dengan nada memohon sambil bersujud di hadapan Anikinya.

PLAK!

Deidara menampar wajah Naruto keras, membuat pipi kenyal pemuda berkulit tan itu menjadi merah. Naruto kaget dengan sikap Deidara yang berubah drastic padanya itu. Naruto menatap mata anikinya yang tak jauh berbeda dengannya. Mata aquamarine dan blue sky itu bertemu, saling menatap dengan tekad yang sama besarnya, hanya saja di mata aquamarine itu berkilat marah.

"Tidak kusangka, harga dirimu begitu murah sebagai keluarga Namikaze, otouto." Ucap Deidara dengan nada bergetar marah. Tangannya mengepal dan berdarah karena terlalu emosi. Naruto hanya menunduk dan diam. Ya, Naruto memang begitu murah harga dirinya untuk Sasuke, bahkan di depan pemuda onyx itu, tidak hanya harga diri, nyawa pun akan diberikan!

"Ya, aku memang murahan untuk Sasuke." Jawab Naruto. Mata biru langitnya itu mulai mengeluarkan cairan bening. "Karena, aku sangat mencintainya. Aku tak peduli bila dia berpikir aku seperti itu. asal Sasuke bahagia! Itu cukup!" ucap Naruto yang mulai berdiri dari tempatnya bersujud. Naruto berlari meninggalkan Deidara. Sedangkan aniki Naruto itu hanya terdiam di tempatnya, kemudian terduduk di lantai dan membenamkan wajahnya yang frustasi kedalam telapak tangannya.

"Apa yang sudah kulakukan?" ucapnya lirih.

.

.

.

Naruto berlari tak tentu arah, dilangkahkan kakinya kemana pun yang diingininya. Tanpa sadar Naruto dampai pada tempat pemuangan sampah yang tak jauh dari rumah Sasuke. Ya, tempat pemuda pirang dan onyx itu berbicara pertama kalinya. Naruto menatap tempat itu nanar. Memang bukan tempat yang romantis atau pun tempat yang indah untuk pertemuan seseorang yang dicintainya. Apalagi dengan cara bodohnya Naruto mengaku-ngaku sebagai anak terlantar. Sungguh cara yang tidak wajar. "Sasuke…" ucap pemuda itu lirih. Naruto terduduk di tempat itu, hari mulai hujan dan waktu sudah melewati tengah malam. Pemuda pirang itu tetap terduduk di sana, menanti sesuatu yang tak kunjung datang.

"Dobe, kalau kau begini, nanti masuk angin! Pulang, sana!" Naruto mendongak dan menemukan sosok pemuda berrambut raven sedang memegang paying di tangan kanannya dan memegang bungkusan pelastik di tangan lainnya.

"Sasuke…" ucap pemuda pirang itu lagi, mata biru itu berkaca-kaca. Naruto langsung memeluk Sasuke dan menangis di dada bidang pemuda raven itu. sedangkan Sasuke yang kaget menjatuhkan payungnya, membuat tubuh porselen itu ikut basah karena air hujan. "Aku mencintaimu Sasuke… aku mencintaimu…" ucap Naruto berulang-ulang seakan tak ingin Sasuke melupakan perasaannya selama ini.

"Ya, dobe… aku juga…"Ucap Sasuke membalas pelukan Naruto. Segala hal yang membuat Sasuke gundah, bingung dan gelisah hilang. Semua hal kini begitu ringan ketika Naruto mengatakan bahwa dia mencintai Sasuke. Semua keraguan kini berubah menjadi suatu harapan dan kepastian, walaupun masih lemah dan rapuh. Sasuke memeluk Naruto lebih erat, membenamkan wajahnya kedalam rambut pirang yang sudah baah karena hujan itu. "Jangan tinggalkan aku, Naruto… jangan pernah…."

.

.

.

"Jadi, kenapa kau kembali pergi dari rumah, dobe?" Tanya Sasuke bingung dengan pemuda yang ada di hadapannya. Kini Sasuke dan Naruto sedang berada di rumah pemuda raven itu. keduanya duduk di ruang makan dengan coklat panas yang sudah disiapkan Sasuke di atas meja, agar Naruto merasa lebih hangat.

"Sepertinya, aniki memang sudah tau yang sesungguhnya." Ucap naruto menjawab Sasuke. Pemuda pirang itu tertunduk, matanya menatap coklat panas yang sedari tadi tak diminumnya.

"Ya, aku sudah tau itu."Balas Sasuke tenang. Naruto mendongakkan kepalanya dari coklat panas dan menatap pemuda raven itu. "Kenapa kau merahasiakan hal ini, dobe? Kenapa kau merahasiakan identitasmu?" lanjut Sasuke sambil menatap remaja di depannya itu lurus-lurus.

"Aku… aku takut kau dipecat aniki bila kau berdekatan denganku, jadi aku merahasiakan identitasku padamu." Ucapnya sedikit sedih, mengingat saat ini Sasuke sudah dipecat oleh anikinya. Kepalanya kembali menunduk menatap segelas coklat panas di hadapannya, sedangkan tangan kanannya memainkan mulut gelas. "Maafkan aku Sasuke… aku membuatmu dipecat…."

Sasuke tersenyum melihat Naruto, "Itu bukan masalah, dobe. Aku bisa mencari pekerjaan lain…" Sasuke menundukkan wajahnya dan mulai meminum cokelat panas yang mulai dingin. Pemuda berwajah stoic itu kembali menatap Naruto dengan serius. "Ayo kita temui Deidara, dobe!" ucap Sasuke pada akhirnya.

"Hah? Maksudmu? Untuk apa?" Tanya Naruto bertubi-tubi. Tangannya berhenti memainkan gelas cokelatnya dan mendongak menatap Sasuke dengan bingung.

"Tentu saja untuk meminta restu, urusatonkachi!" ucapnya sambil menyeringai ke arah Naruto. Sedangkan pemuda pirang itu hanya bisa ber-blushing ria mendengar ucapan Sasuke.

"Bukan kah aniki akan langsung menolak?" Tanya Naruto bingung, rasanya mustahil lagi baginya kembali pulang ke rumah Namikaze saat ini, mengingat pertengkarannya dengan sang aniki. Melihat wajah ragu sosok yang dicintainya itu, Sasuke menggenggam tangan tan mungil di hadapannya, dan menatap mata biru Naruto dalam-dalam, "Ayo kita hadapi semua ini berdua, Naruto…" ucapnya serius, sambil mempererat genggaman tangannya. Sasuke telah bersumpah akan selalu melindungi Naruto, begitu pula sebaliknya, mereka berdua telah berjanji demikian di dalam lubuk hati paling dalam. Keduanya terdiam, tak ada yang berbicara lagi, mereka saling menatap, mencoba mengukur kesetiaan tekad masing-masing. Tidak ada kata cinta yang keluar lagi, karena mereka tau, bahwa perasaan mereka, kini lebih kuat bila di bandingkan hanya sekedar cinta.

.

.

.

.

Keesokan harinya…

Sebuah rumah berdiri megah diantara kawasan perumahan elite di daerah Tokyo. Rumah itu memiliki arsitektur rumit dengan ukiran bergaya eropa classic, dindingnya berwarna cream dan kuning cerah dengan aksen modern. Di gerbang besar rumah tersebut terukir sebuah tulisan 'Namikaze'. Ya, itulah kediaman keluarga Namikaze. Saat ini, Naruto dan Sasuke sedang berdiri di depan gerbang rumah keluarga pemuda bermata biru langit itu. Naruto sedari tadi sibuk menunduk, berusaha mengurangi rasa gugupnya, sedang Sasuke mulai menekan bel rumah pemuda pirang di sebelahnya itu.

TING TONG! TING TONG!

Sasuke menekan bel rumah itu dua kali, mata onyx itu melirik Naruto yang gemetaran di sebelahnya. Pemuda raven itu menggenggam tangan Naruto erat, mata biru langit pemuda tan itu membalas tatapan mata Sasuke sambil tersenyum mantap. "Ayo kita hadapi bersama, Sasuke… apa pun hasilnya." Ucap Naruto dengan keyakinan penuh, Sasuke mengangguk pelan. Tak lama kemudian, Seorang maid datang membukakan gerbang.

"Anda telah ditunggu, Naruto-sama…" ucap maid itu formal, Naruto mengangguk lalu mengantar Sasuke masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, sosok pria berambut pirang pajang dan bermata aquamarine sedang menunggu sambil terduduk di salah satu sofa besar yang terlihat nyaman. Suara langkah Naruto dan Sasuke membuat Deidara menoleh ke arah mereka berdua.

"Aku tau kau akan datang, Sasuke. Kau bukan tipe pria yang pengecut." Ucap Deidara mengawali pembicaraan kaku di antara mereka. Deidara mempersilahkan keduanya duduk. Mata aquamarine Deidara melirik sejenak kearah Naruto yang berdiri di sebelah Sasuke, kemudian menatap pemuda raven itu lagi. "Jujur saja, aku sama sekali tak berniat menghalangi kalian." Lanjutnya sambil mendengus pelan.

"Benarkah itu, aniki?" ucap Naruto gembira sambil menatap Deidara dengan berbinar-binar tidak percaya akan apa yang di ucapkan anikinya itu.

"Ya, tentu saja…" balas Deidara sambil tersenyum kecil, pemuda bermata aquamarine itu sudah melihat kesungguhan cinta keduanya kemarin. Bukankah itu sudah cukup?, sejenak semuanya terdiam Deidara menundukan kepalanya, kemudian menatap kedua pasangan itu lagi. "Tapi, sepertinya tousan dan kaasan tidak akan menyetujui hubungan kalian." Lanjutnya sambil menatap Sasuke dan Naruto serius. Raut wajah kecewa muncul di wajah manis pemuda bermata blue sky itu.

"Kenapa?" Tanya Sasuke singkat sambil menunjukan wajah serius menatap Deidara. Pemuda berambut pirang panjang itu menghela nafas, kemudian berfikir sejenak mencari sebuah kata yang tepat untuk diucapkan.

"Naruto, sudah dijodohkan dengan anak teman relasi tousan." Jawab Deidara serius, menatap Sasuke dan Naruto bergantian. Sasuke dan Naruto terkejut luar biasa, mereka bertiga kembali terbawa suasana diam. "Bahkan, sekarang tousan sedang berbicara dengan temannya itu di ruang keluarga." Lanjut Deidara ikut gusar. Sasuke yang melihat kakak-beradik yang putus asa itu hanya bisa terdiam sambil ikut berfikir.

"Dobe, ayo kita temui kaasan dan otusanmu juga." Ucap Sasuke pada akhirnya. Matanya yang onyx menatap Naruto dengan tekad yang bulat. Naruto yang melihatnya jadi merasa sedikit lega, walaupun masih belum sepenuhnya yakin dengan keputusan pemuda onyx itu, Naruto membalas tatapan itu dengan mengangguk pelan.

"Hei,hei! Apa kalian serius? Sekarang? Tepat dihadapan teman tousan juga?" Tanya Deidara tidak percaya, dia memang tau kalau Sasuke dan Naruto itu sudah yakin dengan kesungguhan mereka. Tapi, langsung maju ke hadapan Minato a.k.a tousan Naruto dan Deidara langsung tanpa persiapan, bukankah itu namanya nekad? Atau putus asa? Entahlah.

"Dei-chan, tousan menyuruhmu bergabung di dalam, tuh!" ucap seorang wanita berambut panjang berwarna merah sambil berjalan mendekat menuju ketiga pemuda yang ada di ruang tamu. Naruto menoleh ke arah sumber suara tersebut,

"Ka-Kaasan?" Naruto terpekik kaget dengan sosok di depannya. Kaasan Naruto a.k.a Kushina juga ikut kaget melihat Naruto.

"Kau kemana saja, sih Naru-chan? Dei-chan bilang kau menginap di rumah temanmu. Ternyata benar, ya?" Tanya kushina seraya mendekati Naruto dan memeluknya pelan. Pemuda berkulit tan itu menatap anikinya dan memberi tatapan 'Terimakasih-karena-telah-berbohong-untukku'. Deidara mengangguk pelan sambil tersenyum tulus. Beberapa saat kemudia, Kushina melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke dengan tatapan heran.

"Siapa kau? Apakah kau teman Naru-chan?" Tanya wanita itu terheran, seingatnya tak pernah sekali pun Kushina bertemu pemuda ini sebelumnya.

"Aku Sasuke, kekasih Naruto, nyonya Namikaze." Jawab Sasuke tenang sambil menjabat tangan Kushina. Wanita berambut merah itu terdiam.

"Gomen, tapi.. Naru-chan sudah kami tunangkan dengan orang lain." Ucap Kushina bingung, tidak tega juga rasanya memutuskan hubungan anaknya itu serta-merta. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini sudah di putuskan!

"Kaasan bisakah kami bertemu tousan? Kami ingin membicarakan hal ini! Aku tak mau dijodohkan!" ucap Naruto serius.

"Tousan masih di ruang keluarga…" belum sempat Kushina menyelesaikan perkataanya Naruto sudah menggandeng tangan Sasuke, mengajaknya ke ruang keluarga juga. Setelah sampai di ruang keluarga, Naruto membuka pintu ruangan itu begitu keras, membuat tousannya dan sepasang suami-istri teman dekat tousannya itu kaget.

"Naruto! Kemana saja kau? Dan kenapa kau datang sambil menggebrak pintu begitu?" Tanya Minato kesal melihat anaknya ini seenaknya masuk, apalagi di tengah pertemuan yang menurutnya penting.

"Tousan! Batalkanlah perjodohan ini!" ucap Naruto serius sambil menatap ayahnya. Kemudian menoleh menatap sepasang suami istri yang katanya adalah teman relasi yang anaknya akan dijodohkan oleh pemuda pirang itu. "maafkan aku, tuan dan nyonya, aku sudah punya kekasih. Aku tak bisa menikah dengan anak kalian." Lanjutnya sambil menunduk dalam dalam. Sasuke yang masih di luar ruangan, memasuki ruang keluarga itu. pemuda raven itu kaget melihat Naruto yang menunduk dalam-dalam kepada dua orang suami-istri yang sudah di kenalnya.

"kenapa kaasan dan tousan ada di sini?" Tanya Sasuke heran melihat sepasang-suami istri yang ternyata adalah ayah dan ibunya itu.

"Hah?" Naruto cengo mendengarnya. "JADI MEREKA AYAH DAN IBUMU, TEME?" teriak Naruto tak percaya. Fugaku dan Mikoto tersenyum melihat tingkah Naruto yang heboh itu.

"Ya, Naruto, kau akan di jodohkan dengan anak dari Fugaku-san dan Mikoto-san, yaitu Sasuke Uchiha, pemilik dari Sharingan Corp." Lanjut Minato berusaha menjelaskan pada anaknya itu.

"Te-teme! Kalau kau adalah pemilik dari Sharingan Corp, kenapa kau malah kerja di perusahaan kami dan tinggal di rumah yang sederhana?" ucap Naruto tidak percaya, dia yakin bahwa kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Namikaze dan keluarga Uchiha sama besarnya, bahkan lebih!

"Hn... aku hanya ingin menjadi mandiri, dobe." Ucapnya datar. Naruto geleng-geleng tak percaya dengan jawaban pemuda raven itu.

"Jadi? Apakah kau tetap ingin pertunangan ini dibatalkan, Naruto?" ucap Minato, menggoda anaknya itu.

"Jangan tousan! Aku tadi… emm, Cuma bercanda!" balas pemuda pirang itu sambil tertawa renyah. Semua orang di dalam ruangan itu ikut tertawa. Naruto memadang Sasuke lembut lalu menggandeng tangannya lebih erat. Sasuke pun membalasnya dan membungkukan badan, lalu berbisik di telinga Naruto, "Kau milikku, dobe. Benar-benar milikku." Pemuda raven itu memeluk Naruto erat, tak ada lagi yang kini akan menghalangi mereka, karena tanpa harus mengatakannya pun semua orang dapat tau, bahwa mereka memang di ciptakan untuk satu sama lainnya. Bukan lagi sebagai peliharaan dan majikannya. Tapi sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai.

~~~FIN~~~

Moshi-moshi minna-san!(^^)/

Ketemu lagi sama Hima!*peluk2 minna-san* akhirnya 'my lovely, dobe' tamat juga… setelah melalui rintangan dan hambatan yang membutuhkan kerja keras tinggi (dan berbungkus-bungkus kopi buat begadang) akhirnya selesai juga fic ini… ah, pasti minna-san bosen karena endingnya yang tanpa 'greget'! (-_-")a

Eniwei, hima mau bales dulu repiunya, ya(telat bgt):

Kiryuu arcafia kurozuki: Ah, maaf, ya~ hima-chan agak lama apdetnya… ahaha, kesel sama sakura? Hima sediri juga males banget tuh ama si pinky jidat lebar itu. *di gampar Sakura fc*

Anenchi ChukaChuke: Chi-chaaaann~*peluk2 chi-chan* makasih atas dukungannya, ya~(^^) makasih juga udah mengikuti terus, fic yang tidak jelas ini~!*nunduk dalem-dalem*

Fuuta: ahaha~ makasih udah nge-repiu! Semoga puas sama endingnya~!

Mechakucha no aoi neko: mecha-chan! Makasih dukungan-nya!(^^)v, semoga puas dengan endingnya~!

Kuraishi cha22dhen: hehehe, sekarang udah 'fin' 'kan? Makasih buat dukungannya selama ini, terima kasih juga udah mau baca fic pervert hima!*nunduk dalem2*

Lovelylawliet nama penname aq: makasih udah repiu! Semoga puas dengan endingnya~!

Kou Todoryu 'Kyuuketsuki': haha, hima tau kok, bagian awal-awal emang terlalu 'brutal'. Tapi bisa lihat perubahan di setiap chap-nya 'khan? Hima sendiri gak tega, lho mau bikin Naruto jadi doggy, tapi mau gimana lagi? Aturan naskah sih*digampar naru* eniwei, semoga puas sama endingnya, ya~!

KyouyaxCloud: makasih udah nge-repiu! Semoga puas sama endingnya~!*nunduk dalem2*

AJ: terima kasih dukugannya, ya! Hima jadi gak ragu lajutin fic ini meskipun banyak yg nge-flame! Semoga puas dengan endingnya!

Hotaru chan hatake: Makasih dukungannya!*hug* semoga puas dengan endingnya, ya~!

Narusakuloverzmania: makasih~*jadi geer, nih kalo di bilang keren*

Just ryu: makasih udah nge-repiu! Semoga puas sama endingnya~!

Orange Naru: makasih dukugannya~! Hima juga benci sama sakura! Rasanya sebel, gitu kalo liat rated M di isi sama SasuSaku! Padahal kan si sasu itu khan Cuma bole buat si naru!*upss jadi curhat*

Fi suki suki: Fi-chan!*hug* makasih udah mau ge-repiu selama ini, ya~! Semoga puas sama edingnya!

Hikarii Hana: salam kenal, rii-chan! Makasih udah mau repiu! Semoga suak ama endig dan cerita kali ini!

Akhir kata, hima terimakasih sebesar-besarnya uat para reviewers, dan readers yang telah menyemangati hima yang awalnya agak putus asa sama flamers yang merajalela di fic ini, berkat semagat dari kalian hima jadi bisa melanjutkan fic sampai tamat bgegini… terimakasih! Thanx juga buat flamers yang sudah menyemarakan suasana repiu fic! (^^)b, sampai jumpa di karya hima berikutnya~!

Jaa ne~ minna-san~!

Please give me review for the last chapter~!v(^^)v