"Awas kalau kau berniat curang di permainan ini!"

"Tak perlu cemas, kau ikut serta dalam rencanaku kali ini!"

Chapter 2:Love Game!

By:Himawari Ichinomiya

Disclaimer: Bleach©Tite Kubo

Gendre: Shonen-ai, Yaoi, Romance, Humor, Drama

Pairing: GrimmHitsu, IchiHitsu. (dan sewaktu-waktu yang muncul hanya salah satu pairing)

Rated: M

Summary:Hitsugaya sudah menjadi milik Ichigo dan Grimmjow. Mereka berdua kini akan memulai permainan mereka yang sesungguhnya untuk mendapatkan Hitsugaya, dari nge-date sampai belajar bareng. Bagaimana 'kah kehidupan Hitsugaya dengan kedua pemuda biang onar ini?

Warning!: Dalam fic ini akan terdapat banyak unsur OOC, YAOI, Typo(s) dan banyak hal GeJe lainnya. Bagi anak di bawah umur dan pembenci yaoi ataupun LEMON, tolong segera keluar dari fic ini, sebelum punya pikiran untuk nge-Flame saia. So, Dun like? Dun read!

Tetap nekad baca? Gak tanggung kalo nantinya jadi fujoshi atau fudanshi, ya~?

~Happy Reading!~

\(o_o\)~oo0oo~(/o_o)/

Matahari sudah tenggelam sedari tadi di kota Karakura, di sudut kota itu terdapat sebuah sebuah rumah yang berarsitektur sederhana, seorang remaja bernama Hitsugaya adalah salah satu anggota penghuni rumah tersebut, tubuhnya yang mungil terbaring lemas di atas tempat tidurnya yang berwarna cream. Mata pemuda itu tak lepas sedikit pun menatap langit-langit kamarnya, sedangkan pikirannya sedang melayang laying mengingat kejadian yang dialaminya saat di sekolah tadi.

"Kau sekarang milik kami! Jangan membantah dan turuti saja permainan ini!"

Diingatnya kembali kata-kata yang diucapkan oleh senpainya Kurosaki Ichigo kemarin. "Haaah…" Hitsugaya menghela nafas lalu mulai mengerjapkan mata emerald indahnya itu.

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamar Hitsugaya diketuk oleh seseorang, si pemilik kamar itu masih belum memberikan respon sama sekali. Karena kesal, orang itu pun segera masuk tanpa menunggu izin dari empunya kamar, dibukanya pintu kamar itu, kemudian berteriak,"Shiro-chan! Ayo makan malam!" Ujar Hinamori. Hinamori Momo adalah saudara sepupu Hitsugaya. Hinamori memiliki perawakan yang cukup mungil dan imut untuk ukuran perempuan, rambutnya yang berwarna hitam kelam dicepol sat, sedagkan matanya yang bulat dan besar memiliki warna yang sama dengan rambutnya. Pemuda berambut perak itu tinggal di kediman Hinamori karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun yang lalu, kemudian orangtua Hinamori menerima Hitsugaya di rumah mereka dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Oke, kembali pada cerita. Hinamori sudah mulai merasa kesal karena panggilannya sedari tadi 'tak digubris oleh sepupunya yang berrambut perak itu. Dengan langkah tidak sabar, gadis itu segera berjalan menuju tempat tidur Hitsugaya dan berteriak tepat di telinga cowok mungil itu,"Halo~! Shiro-chan! Kamu mau makan malam atau enggak?" Hitsugaya yang kaget karena teriakan oneesan-nya itu, jadi terjatuh dari kasur dengan cara tidak elitnya.

"Apa-apaan sih, nee-san? Teriak-teriak nggak jelas, bikin kaget aja!" ucap pemuda itu kesal sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit karena membentur lantai.

"Salah kamu sendiri, sudah aku panggil dari malah nggak ngegubris!" balas Hinamori sambil menjulurkan lidahnya.

"Oh… Gomen, ne.." ucap Hitsugaya lemas sambil menundukan kepalanya menatap lantai.

"Ada apa, sih? Sejak pulang sekolah kau jadi aneh begini, Shiro-chan…" Tanya Hinamori khawatir terhadap keadaan sepupunya yang sudah dianggap seperti adik kandung itu.

"E-enggak, kok!" Jawab Hitsugaya gugup sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tidak tega melibatkan onee-sannya terlibat dengan kedua senpai yang notabene terkenal tidak hanya seantreo sekolah, tapi juga seantreo kota Karakura.

"Ya, sudah kalau begitu…" Ucap Hinamori. Dia tidak ingin memaksa Hitsugaya berbicara tentang kehidupan pribadinya, biarlah Hitsugaya bercerita sendiri bila memang perlu. "Ayo kita makan, Shiro-chan! Nenek sudah menunggu di bawah, loh!" lanjutnya.

"Ok, onee-san!" Jawab Hitsugaya sambil bangun dari tempat tidurnya, kemudian remaja berambut perak itu terdiam sebentar dan mencerna kata-kata Hinamori."Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan embel-embel –chan!" Teriak Hitsugaya kesal sambil berlari mengejar Hinamori yang sudah berlari sambil tertawa meninggalkan kamar Hitsugaya.

.

.

.

.

Paginya….

"Jadi… kenapa kalian berdua ada di sini?" Tanya Hitsugaya dingin sambil menatap kedua pemuda yang berada di depannya lurus-lurus. Saat ini Hitsugaya hendak berangkat menuju ke sekolah. Tetapi, didapatinya dua orang senpai yang membuatnya gelisah sedari kemarin berada di pagar depan rumahnya.

"Tentu saja menjemputmu, Toushirou." Jawab pemuda berambut orange a.k.a Ichigo enteng sambil bersandar di motornya.

"Jangan sok akrab!" tungkas Hitsugaya kasar, karena mendengar nama depannya dipanggil seenaknya oleh Ichigo. "Lagi pula, siapa yang minta antar ke kalian?" lanjutnya masih dengan nada kasar dan dingin, tangannya meunjuk-nujuk muka Ichigo dan Grimmjow dengan tidak sopan.

"Aku dan Ichigo sudah sepakat akan mengantar dan menjemputmu setiap hari, mungil." Jawab pemuda di sebelah Ichigo a.k.a Grimmjow cuek. Hitsugaya cengo menatap kedua senpai yang ada di hadapannya sekarang. Bagaimana tidak kesal? Bila Ichigo dan Grimmjow dengan seenak jidat, mereka memutuskan sesuatu tentang Hitsugaya, tetapi orang yang bersangkutan malah tidak dilibatkan sama sekali!

"Lalu… bagaimana kalian bisa tahu letak rumahku?" Tanya Hitsugaya lagi dengan tatapan menuntut penjelasan pada keduanya.

"Jangan remehkan jaringan informasi kami, Toushirou! Kami bahkan sudah tahu nomor hand phonemu!" Hitsugaya menelan ludah dengan susah payah ketika mendengar perkataan Ichigo tadi. 'Sial!' batinnya kesal. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Grimmjow mengangkat tubuh mungil Hitsugaya a'la bridal style, Hitsugaya yang kaget segera meronta-ronta di atas gendongan Grimmjow.

"Apa yang mau kalian lakukan? Turunkan aku!" teriak Hitsugaya sambil berusaha melepaskan diri dari Grimmjow. Pemuda berambut biru muda ini sama sekali tidak menggubris kelakuan Hitsugaya dan langsung meletakan pemuda mungil itu di motor Ducati berwarna ocean blue miliknya.

"Hari ini giliranku untuk mengantarmu, mungil!" ucap Grimmjow sambil mulai mengenakan helm Arai miliknya dan memberikan helm berukuran lebih kecil kepada Hitsugaya, pemuda berambut perak itu menerimanya dengan ragu-ragu lalu akhirnya mengenakan helm itu, 'dari pada nggak selamat nanti.' Batinnya. Pemuda berambut biru muda itu menyalakan mesinnya hingga mengeluarkan suara yang begitu nyaring dari motor tersebut. Dipacunya motor Ducati biru itu cepat di jalanan dengan Ichigo yang tentu saja masih mengikuti keduanya dari belakang. Motor Ducati berwarna hitam (milik Ichigo) dan ocean blue itu dengan gesit melewati pengendara lainnya dengan cepat, mereka menyalip dua buah truk dengan melewati tengahnya dengan jarak yang begitu sempit, setelah melewati truk itu dengan dramatis, mereka kembali memacu motornya dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer perjam, membuat penumpangnya a.k.a Hitsugaya itu gemetaran.

"Senpai! Kau gila, ya? Turunkan kecepatan motormu!" seru Hitsugaya dengan keras, berusaha melawan deru suara motor sekaligus suara angin yang berhembus kencang di sekitarnya.

"Apa?" Tanya Grimmjow balik dengan suara yang juga cukup keras.

"Turunkan kecepatan motormu!" Hitsugaya kembali berteriak keras kepada senpainya itu.

"Kalau kau takut, pegang pinggangku!" jawab Grimmjow sekaligus menyuruh Hitsugaya berpegangan pada pinggangnya. Mendengar perintah itu dari senpainya, Hitsugaya bukan hanya memegang pingangnya. Tapi, bahkan langsung memeluk pinggang Grimmjow erat. Pemuda berambut dan berbola mata berwarna biru muda itu terbelalak kaget dengan tindakan Hitsugaya.

"Hei! Hei, mungil! Kenapa malah memelukku?" Tanya Grimmjow heran bencampur kaget.

"Aku takut, tahu!" teriak Hitsugaya ketakutan sambil membenamkan wajahnya yang imut di dalam punggung Grimmjow dengan tangan yang juga masih memeluk pinggang pemuda itu erat.

"Jangan-jangan…. Kau ingin ku 'sentuh' lagi, ya?" Tanya Grimmjow sambil menyeringai tajam di balik helmnya.

"E-enak saja!" bantah pemuda mungil itu kasar, wajahnya memerah karena malu, diurungkan niatnya untuk membantah lebih jauh, hal itu hanya membuatnya makin kelihatan gugup. Tidak sampai sepuluh menit kemudian kedua motor Ducati itu sudah sampai di sebuah gedung luas bertingkat tiga dengan gerbang bertuliskan 'Karakura Senior High School'. Kedua motor tersebut menurunkan kecepatannya begitu memasuki lingkungan sekolah dan berjalan menuju tempat parkir. Setelah kedua motor itu terparkir rapi, Hitsugaya cepat-cepat menyingkir dari kedua senpainya itu berusaha kabur dari mereka.

"Mau kemana kau, Toushirou?" Tanya Ichigo seraya menggenggam tangan Hitsugaya cepat, 'tak membiarkan pemuda bermata emerald dan bertubuh mungil itu kabur."Jangan kabur, mungil! Kami akan mengantarmu ke kelas!" lanjut Grimmjow. Dengan sangat terpaksa Hitsugaya berjalan masuk menyusuri koridor sekolah dengan Grimmjow disisi kanannya dan Ichigo disisi sebelah kirinya. Banyak pasag mata menatap Hitsugaya dengan pandangan penasaran, kaget, takut, bahkan ada juga yang berbisik-bisik ketika mereka bertiga lewat.

"Anak itu, tuh yang jadi sasarannya Kurosaki sama Jeagerjaques senpai!" ucap salah satu perempuan dengan agak berbisik kepada pemannya sambil menunjuk-nujuk Hitsugaya dengan jarinya. 'Bodoh! Kalau memang berniat ngomongin aku, seharusnya jangan terang-terangan begitu!' batinnya sebal yang mendengar dirinya jadi bahan gosip. Tak lama kemudian Toushirou sampai di depan kelas sepuluh satu yang adalah kelasnya, pemuda berambut perak dan bermata emerald itu segera melengos masuk ke dalam kelas.

"Toshirou! Kami ke sini lagi nanti!" teriaknya ke arah pemuda mungil itu. Lalu bersama rivalnya segera beranjak pergi.

"JANGAN PERNAH KEMBALI!" balas Hitsugaya berteriak kesal pada kedua pemuda yang sudah berjalan menjauh dari kelasnya. Dengan gontai, dilangkahkan kakinya menuju bangku yang berada di sebelah Rangiku Matsumoto. Lalu dilemparkan tasnya dengan keras ke atas meja.

"Pagi-pagi sudah kesal, nih Toushirou-kun?" goda seorang wanita yang memiliki dada berukuran 'WOW' dan memiliki rambut bergelombang itu sambil tersenyum mengejek.

"Jangan ganggu aku sekarang, Matsumoto!" ucapnya dengan sedikit membentak dan death glare tajam dari matanya yang berwarna emerald.

"Hi hi hi! Tak perlu marah-marah begitu, toushirou-kun. Lagi pula mereka itu keren,lho! Walaupun agak beringas, sih…" kata Matsumoto smbil tersenyum-senyum menggoda pemuda bertubuh mungil di sebelahnya. Hitsugaya hanya bisa pasrah dan menerima nasibnya saat ini.

"Sialan!" desis Hitsugaya pelan di tengah keputus asaannya.

.

.

.

.

Di kelas 11-IPA-1 (kelas Ichigo dan Grimmjow)

Saat ini adalah waktunya pergantian jam dari matematika yang diajar oleh Urahara sensei ke pelajaran kimia yang diajar oleh Unohana sensei. Jadi, keadaan kelas sebelas IPA satu benar-benar gaduh dan ramai seperti pasar. Ada keigo yang sibuk main kartu dengan Ikkaku dan Renji, Yumichika yang sibuk bergosip dengan Nel dan Chizuru, Shinji malah sibuk adu mulut dengan Hiyori, ada juga Risa yang sibuk membaca komik hentai. Da balik macam-macam keramaian di kelas itu, Grimmjow sedang menatap jendela yang menghadap ke lapangan olahraga dan pria berrambut orange di sebelahnya sedang serius membaca majalah otomotif. Pria berrambut orange a.k.a Ichigo itu mengalihkan pandangannya dari majalah otomotif menuju rivalnya yang menatap bosan ke luar jendela.

"Hei, apa yang kau lihat di luar sana?" Tanya Ichigo yang beranjak dari kursinya dan berdiri melihat pemandangan yang sedang dilihat oleh Grimmjow. "Patas kau begitu betah menatap lapangan." Lanjut Ichigo sambil tersenyum jahil. Ternyata, yang dilihat Grimmjow adalah Hitsugaya dan teman-teman sekelasnya yang sedang bermain volley di lapangan.

"Berisik." Tungkas pemuda berrambut biru muda itu kasar tanpa mengalihkan pandangannya dari pemuda mungil itu dan begitu pula Ichigo yang hanya tersenyum melihat tingkah Hitsugaya yang kewalahan mengejar bola yang keluar lapangan.

"Hei, aku ada ide bagus." Ucap Grimmjow dengan seringai jahil di wajahnya.

"Apa?" Tanya Ichigo, merespon ide Grimmjow dengan wajah penasaran.

"Nanti, kuceritakan padamu…" Ucap Grimmjow dengan senyuman yang tak bisa dibaca.

"Awas kalau kau berniat curang di permainan kali ini!" Ucap Ichigo dengan nada curiga.

"Tak perlu cemas, kau ikut serta dalam rencanaku kali ini." Balas pemuda berrmata biru muda itu dengan seringai penuh makna di wajahnya yang tampan. Sepertinya Hitsugaya akan kembali terlibat masalah dengan kedua pemuda biang onar ini…

.

.

.

.

Jam Istirahat

Kantin di SMA karakura terlihat ramai dan penuh sesak hampir semua siswa dan siswi sedang sibuk memesan makanan favoritnya masing-masing. Seorang pemuda bermata emerald dan berrambut perak sedang sibuk celingukan mencari meja yang kosong untuk diduduki. Tangan kanannya memegang kantung pelastik berisi roti strawberry cream dan roti pinnaple cream, sedangkan tangan kirinya menggenggam sekaleng minuman berisi watermelon juice. Ketika sudah cukup lama mencari meja kosong di tengah kerumunan siswa yang tentu saja masih melihatnya aneh. Tapi, sepertinya pemuda mungil itu sedah terbiasa dan bersikap cuek bebek. Dilangkahkan kakinya kea rah meja kosong yang berada tak jauh dari sana. Ketika sedang asyik membuka bungkus roti strawberry cream, tiba-tiba Hitsugaya dikagetkan dengan dua orang sosok yang dengan kasar merampas kedua roti cream yang hendak dilahapnya.

"Hei! Kembalikan makanaku!" bentaknya kasar kearah dua orang pemuda yang merampas makanannya.

"Kalau kau makan makanan seperti ini, nanti nggak bisa tumbuh lho, Toushirou." Ucap Ichigo sambil tersenyum jahil. Diangkatnya roti itu tinggi-tinggi sehingga Hitsugaya tak bisa menggapainya.

"Bukan urusanmu!" Bentaknya kasar, dengan kaki berjinjit dan tangan menggapai-nggapai roti yang dipegang Ichigo.

"Hei, Ichigo! Tak perlu main-main! Ayo kita lakukan sekarang!" Ucap Grimmjow mengingatkan rivalnya akan tujuan mereka yang sebenarnya.

"Ok!" balas Ichigo enteng. Tanpa basa-basi lagi, Ichigo langsung menngendong Hitsugaya dengan gaya bridal style, membuat semua orang yang berada di kantin memperhatikan dengan pandangan 'Gila! Pertunjukan live!' batin semua orang yang ada di sana, tak seorangpun yang berteriak histeris ataupun berseru-seru tentang kejadian ini , karena terlalu speechless menatap kedua biang onar yang tidak henti-hentinya membuat sensasi itu, sedangkan orangyang bersangkutan hanya cuek, except toushirou yang hanya bisa meruntuki nasib sialnya didalam hati.

Setelah sampai ke tempat parkir motor, Ichigo menurunkan tubuh Toushirou pelan-pelan.

"Ngapain kita ke sini?" Tanya Hitsugaya bingung menatap Ichigo.

"Ayo kita bolos, mungil!" ajak Grimmjow tanpa basa-basi sambil tersenyum licik menatap Hitsugaya.

Pemuda bermata emerald itu mengerutkan keningnya heran. "Kau gila, senpai? Nanti kalau dihukum, gimana?" maklum saja, Hitsugaya kan tipe-tipe murid yang taat pada peraturan! Buktinya, buku pelanggarannya masih kosong hingga saat ini! Tidak seperti Grimmjow dan Ichigo yang bahkan buku pelanggarannya sudah penuh padahal baru satu semester.

"Ck! Ck! Ck! Taat amat, sih sama yang namanya peraturan!" decak Ichigo heran melihat pemuda mungil yang ada di hadapannya ini. "Pokonya, mau nggak mau, kamu harus mau!" lanjut pemuda berrambut orange itu, kesal melihat sikap Hitsugaya yang patuh pada peraturan. Dengan terpaksa pemuda mungil satu ini menuruti ajakan kedua senpai-nya yang sebenarnya memang salah.

"Kurosaki! Jeagerjaques! Sedang apa kalian disini?" ternyata guru BP, Tetsuzaemon memergoki mereka bertiga di tempat parkir!

"Ayo, kabur!" teriak Ichigo pada Hitsugaya dan Grimmjow. Tanpa pikir panjang lagi, Ichigo mengangkat tubuh Hitsugaya dan menaruhnya di atas motor. Lalu, cepat-cepat dianaikinya motor Ducati hitam itu, Grimmjow pun menaiki motornya dengan sigap.

Brmmmm! Brmmmmm!

Bunyi motor yang menderu-deru itu langsung terdengar tatkala Ichigo dan Grimmjow menyalakan mesin motornya, kemudian mereka pergi meninggalkan Tetsuzaemon sensei yang sibuk mencak-mencak dan mengumpat karena gagal menangkap dua pentolan sekolah itu. Kedua motor Ducati itu melaju kencang melewati petugas keamanan sekolah yang sudah tak kuasa lagi menghadapi tingkah inal mereka berdua. Setelah mereka cukup jauh dari lingkungan sekolah, kedua motor itu berhenti di pinggir jalan. Megapa? Karena, mereka belum menentukan akan bolos kemana, ingat?

"Jadi kita akan pergi kemana, Grimm?" Tanya Ichigo bingung menatap pemuda yang masih duduk di motor berwarna ocean blue di sebelahnya."Ini idemu, kan?" menyeringai menatap dua orang yang terheran-heran di depannya. Hitsugaya menangkap seringaian Grimmjow itu dengan pandangan horror.

"Ja-jangan ke hotel!" ucap Hitsugaya gugup. Melihat tingkah adik kelasnya itu Grimmjow tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Kau kira aku akan mengajakmu ke sana?" Tanya Grimmjow di sela tawanya sambil menunduk menatap adik kelasnya itu. Hitsugaya salah tingkah karena pernyataan yang diucapkannya tadi hanya bisa mengangguk kecil. "Yah, walaupun itu adalah ide yang menggiurkan. Tapi, untuk kali ini tidak ke hotel!" lanjut Grimmjow sambil tersenyum jahil.

"Lalu kemana?" Tanya Ichigo yang merasa pertanyaannya masih belum terjawab.

"Kau mau kemana, mungil? Kali ini akan ku turuti keinginanmu!" ucap Grimmjow sambil menoleh menatap Hitsugaya.

Hitsugaya berpikir sejenak."Baiklah… aku memang ingin pergi ke suatu tempat."

.

.

.

"Mungil, aku memang memberimu kesempatan untuk pergi ke tempat yang kau sukai. Tapi, bukan ke tempat seperti ini !" Ucap Grimmjow geram menatap pemuda mungil yang duduk di sebelahnya.

"Lho? Bukannya Grimmjow senpai memperolehkan aku memilih tempat yang aku suka?" Tanya Hitsugaya heran, tanpa megalihkan perhatiannya sedikit pun menuju senpai berrambut biru muda itu.

"Iya, sih. Tapi, jangan ke perpustakaan!" amuknya sambil menghentak-hentakan kakinya kesal. Hitsugaya hanya menoleh singkat kea rah Grimmjow, lalu kembali memusatkan perhatiannya kea rah buku pelajaran yang di pegangnya.

Singkatnya, saat ini duo onar SMU Karakura dan Hitsugaya sedang berada di central library of Karakura city, yaitu perpustakaan terbesar di kota Karakura. Hitsugaya asyik tenggelam pada buku yang dibacanya, sedangkan Grimmjow super menyesal, karena memberikan kesempatan hang out kepada Hitsugaya. 'Harusnya aku bisa menebak hal ini.' Batin pemuda bermata biru muda itu kesal.

Ichigo menepuk pundak rivalnya itu."Hahaha. Kau kesal, ya?" ucapnya sambil terkikik. Grimmjow memberikan deathglare terbaiknya yang malah membuat Ichigo semakin terkikik geli.

"Sial kau!" umpat Grimmjow.

"Sudahlah. Sesekali tak apa 'kan? " ucap Ichigo, kali ini tanpa ejekan. "Lagipula, sepertinya Toushirou menikmatinya!" lanjutnya sambil menunjuk Hitsugaya yang sibuk membaca. Mau tak mau membuat Grimmjow sedikit senang melihatnya. Walaupun tanpa senyuman yang mengembang di wajahnya. Setelah menenangkan rivalnya itu, Ichigo melangkahkan kaki menuju Hitsugaya yang kini kesulitan menggapai-nggapai buku yang letaknya cukup tinggi.

Ichigo mengambil buku yang sedari tadi berusaha di ambil oleh pemuda berrambut perak itu. "Nih…" ucapnya sambil memberikan buku itu ke arah Hitsugaya.

"Arigatou…" balas Hitsugaya, menerima buku yang diambilakan oleh senpai berrambut orange itu.

"Hei, Toushirou… tidak kah kau merasa sudah membuat seseorang kecewa?" Tanya Ichigo. Hitsugaya mengerutkan dahinya bingung, Ichigo yang mengerti arti tatapan itu menunjuk Grimmjow yang sudah tertidur di atas meja. "Dia memberimu kesempatan, karena ingin kau bersenang-senang… bukan malah ke tempat seperti ini…" lanjutnya sambil menghela nafas. Hitsugya menoleh pada arah yag di tunjuk Ichigo. Seberapa pun benci dan sebalnya pada kedua orang ini, tetap saja tak bisa membuat Hitsugaya menjadi kejam kepada Ichigo dan Grimmjow. 'Yah, bagaimana pun aku memag tak tega melihatnya.' Bati Hitsugaya dalam hati. Setelah memantapkan hatinya, Hitsugaya melagkahkan kaki ke arah grimmjow yang tertidur pulas sedangkan Ichigo hanya terdiam menatap kejadian itu.

Hitsugaya menggucang-guncagkan bahu Grimmjow pelan. "Senpai, bangun…" Ucap Hitsugaya mencoba membangunkan pemuda berbola mata biru muda itu.

"Nggghh… apa?" Tanya Grimmjow yang masih setengah sadar.

"Apakah kau bosan?" Tanya Hitsugaya pelan. Grimmjow mendngus ketika mendengar pertanyaan dari adik kelasnya itu. "Ya…" jawab Grimmjow singkat.

"Gomen, aku malah mengajakmu ke tempat seperti ini…" ucapnya sambil tertunduk.

"Hn…" balas Grimmjow singkat sambil mengacak-acak rambut Hitsugaya. Entah kenapa kali ini pemuda bermata emerald itu tidak perotes atas perlakuan Grimmjow.

"Ngomong-ngomong… senpai ingin kemana?"

"Kau benar-benar mau menuruti permintaanku kali ini?" Tanya Grimmjow agak heran dengan kelakuan pemuda mungil di hadapannya. Hitsugaya meresponnya dengan anggukan kecil.

"ok… Ayo pergi ke rumahku!"

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit dari Perpustakaan sampailah mereka pada sebuah bangunan yang bertempatkan di perumahan elit untuk kalangan status sosial ke atas. Rumah itu berukuran sangat besar dengan cat berwarna cream dan arsitektur gaya Eropa klasik.

"Hei! Ini aku! Ayo buka gerbangnya!" teriak Grimmjow di depan pagar rumahnya. Tak lama kemudian muncullah seorang pria dengan seorang pria dengan pakaian texuedo hitam membukakan pagar rumah.

"Rupanya anda sudah pulang, Jeagerjaques-sama." Sapanya dengan nada formal dan kaku sambil membungkukan badannya.

"Ya, Shawlong! Apa ayahku sudah pulang?" tanyanya sambil memarkirkan motor di garasi, tentu saja Ichigo ikut memparkirkan motornya di sebelah motor milik Grimmjow.

"Tuan besar sedang ada di Hongkong untuk urusan perusahaan, Tuan muda." Jawab Shawlong.

Grimmjow terdiam dan berpikir sejenak, kemudian berkata,"Yah, cepat siapkan minum untuk teman-temanku, Shawlong!"

"Baik, Jeagerjaques-sama…" jawabnya singkat lalu pergi. Hitsugaya tebengong-bengong menatap Grimmjow. 'Nggak nyangka, preman-preman begini, Grimmjow senpai itu seorang tuan muda.' Batin Hitsugaya heran. Ichigo yang mengerti arti terbengong-bengongnya Hitsugaya hanya tertawa kecil, kemudian ia membungkukkan badannya dan berbisik tepat di telinga Hitsugaya, "Ayah Grimmjow adalah pemilik perusahaan tekstil yang memiliki cabang di seluruh Asia." Hitsugaya hanya manggut-manggut mengeti.

"Hei! Sedanga apa kalian? Ayo, masuk!" ajak Grimmjow kepada kedua orang di belakangnya. Mereka masuk ke dalam rumah Grimmjow. Sekali lagi Hitsugaya kembali terbelalak ketika masuk ke dalamnya. Dihadapan mereka ada sekitar dua puluh orang pelayan berbaris di hadapan mereka.

"Selamat datang Jeagerjaques-sama, Kurosaki-sama dan Hitsugaya-sama." Ucap kumpulan maid itu sambil membungkuk hormat. Hitsugaya membalas sapaan itu dengan ikut membungkuk sopan, sedangkan Ichigo dan Grimmjow langsung melengos pergi. 'Dasar nggak sopan!' batin Hitsugaya sambil menggeleng-geleng heran melihat tingkah angkuh kedua orang senpainya itu. ketiga orang itu kemudian pergi ke kamar Grimmjow, kamar itu memiliki sebuah kasur ukuran king size yang masih muat bila ada lima orang tidur di sana, tak jauh dari kasur itu, terdapat televisi plasma ukuran tiga puluh Sembilan inch lengkap dengan home teater, play stasion, DVD player dan di tengah kamar terdapat sebuah meja kecil besera sofa besar untuk bersantai, di atas meja itu sudah disiapkan tiga gelas lemon tea beserta cemilan. Mereka bertiga kemudian memasuki kamar bernuansa biru muda itu dan duduk di sofa.

"Jadi, ngapain kita kesini?" Tanya Ichigo sambil meminum lemon tea yang sudah disediakan di atas meja.

"Oke, kita akan mencoba suatu permainan. Dan tentu saja, kau yang jadi setannya." Ucap Grimmjow sambil menunjuk Hitsugaya dengan jari telunjuknya.

"A-apa? Aku? Apa maksudmu?" Tanya Hitsugaya heran, sepertinya Ichigo juga bingung dengan rencana rivalnya ini.

"Apa kau bisa membedakan antara aku dan Ichigo?" Tanya Grimmjow pada pemuda bermata emerald itu.

"Tentu saja aku bisa! Kalian 'kan berbeda jauh!"

"Kalau begitu, bisa 'kah kau membedakan antara aku dan Ichigo bila matamu tertutup?" Tanya Grimmjow lagi.

"Mu-mungkin, aku bisa…" jawab Hitsugaya ragu-ragu. Grimmjow menyeringai ketika mendengar jawaban dari adik kelasnya ini.

"Kalau begitu, ayo segera mulai permainan ini!" Ucap Grimmjow sambil menjilat bibir bawahnya yang terasa kering. 'Perasaanku mulai nggak enak lagi,nih…' batin Hitsugaya agak begidik melihat seringaian licik itu.

.

.

.

"Sial! Apa yag akan kalian lakukan padaku, HAH? Lepaskan!" ucap pemuda berrambut perak itu sambil tetap berada di kamar Grimmjow, saat ini posisi Hitsugaya sedang berada di atas kasur king size milik Grimmjow dengan tubuh polos, tangan terikat di tiang kasur dan mata tertutup dasi merah dari seragam sekolah mereka, hanya kaki pemuda mungil itu saja yang di perbolehkan bebas.

"Ini adalah hukuman karena kau telah membuatku bosan." Ucap Grimmjow sambil tersenyum jahil. Tubuh pemuda berrambut biru muda dan berrambut orange di sebelahnya juga sudah polos tanpa sehelai benang pun.

"Jadi peraturannya adalah, kau harus bisa menebak siapa yang menyentuhmu, membuatnya mendesah atau menyerah!"ucap Grimmjow menjelaskan. "Bila kau kalah, kami akan melakukan 'itu' kepadamu sebanyak yang kami mau. Tpi, bila kau menang, kami akan mengantarmu pulang setelah ini."

"Imbalan macam apa itu?" bentak Hitsugaya geram.

"Baiklah, ayo kita mulai Ichigo!" ucap Grimmjow tanda memulai permainan, tanpa peduli dengan teriakan perotes dari pemuda mungil itu.

Grimmjow menaiki kasur tanpa bersuara, dikecupnya bibir mungil Hitsugaya dengan lembut, kemudian mulai melumatnya dengan penuh nafsu. Dijilatnya bibir bawah Hitsugaya meminta pria mungil itu membuka mulutnya, tapi karena sifatnya yang keras kepala, Hitsugaya bersikeras tak membukakan pintu masuk mulutmya untuk Grimmjow. Ichigo yang melihat itu tak tinggal diam, pemuda orange itu ikut naik ke atas kasur, dia menduduki kaki Hitsugaya agar tak meronta-ronta disentuhnya ujung kejantanan pemuda bermata emerald itu membuat pemuda mungil itu mengerang dan membuka mulutnya untuk Grimmjow, pemuda berrambut biru muda itu menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Hitsugaya, d jilatnya seluruh rongga mulut Hitsugaya dan mengajak lidah Hitsugaya untuk bermain dengan lidahnya. Sedangkan pemuda yang berada untuk devisi bawah a.k.a Ichigo juga tidak tinggal diam, Ichigo meraba perut mulus Hitsugaya, membuat pemuda berrambut keperakkan itu berjengit geli.

"Umhhh…ummmmhhh…" Gumam Hitsugaya di sela ciumannya bersama Grimmjow. Ichigo mempermainkan kejantanan Hitsugaya dengan memijatnya dengan pelan dan lambat. Karena manusia masih membutuhkan oksigen, Grimmjow melepaskan ciuman panjangnya dengan Hitsugaya membuat sebuah benang siliva tipis di antara kedua bibir itu.

"Haaah… Haaah… haaah..! se-senpai! Jangan mempermainkan aku!" ucapnya kesal karena tingkah Ichigo yang memijit kejantanannya pelan. Mendengar itu Ichigo hanya tersenyum dan berusaha tak tertawa, karena bila dia mengeluarkan suaranya, maka permainan ini akan selesai. Ichigo mencium batang kejantanan Hitsugaya dengan lembut, dilihatnya kejantanan yang tidak lebih besar darinya itu. kejantanan itu menegak sempurna dengan ujung berwarna kemerahan dan cairan bening yang menghiasinya, membuat benda satu ini terlihat makin menarik di mata Ichigo. Dikecupnya kembali kejantanan itu tepat di ujungnya lalu dijilatnya perlahan tepat di lubang kecil kejantanan yang mengeluarkan pre-cum itu. "Unhhhh… Su-sudahlah senpai! Ce-cepat masukan saja!" ujar Hitsugaya sebal di tengah desahannya. Hitsugaya sendiri merasa kaget dengan perubahan sikapnya, karena begitu agresif saat making love. Tanpa menunggu perintah lagi, Ichigo memasukan kejantanan Hitsugaya ke dalam mulutnya, diemutnya kejantanan itu dengan lidahnya yang berpengalaman, tangan pemuda berrambut orange itu pun tidak tinggal diam, dipijatnya testis Hitsugaya lembut. Grimmjow yang juga tak mau kalah, kali ini melumat perpotongan anta pundak dan leher pemuda bermata emerald itu penuh nafsu, digigit, dihisap dan kemudian dijilatnya tempat itu, hingga terciptalah sebuah tanda kemerahan di tempat itu. puas dengan leher jenjang Hitsugaya, pemuda bermata biru muda itu memilin-milin titik sensitive di dada Hitsugaya dengan tangan kanannya, sedangkan bibirnya sibuk memanja titik sensitive lain di dada pemuda berrambut perak itu. Grimmjow menjilat nipple itu dengan lembut kemudian dimasukannya bulat bulat kedalam mulutnya, di dalam sana, dimainkan titik itu dengan lidahnya hingga titik itu mengeras sedari tadi. Hitsugaya merasa begitu tak kuasa menahan kenikamatan yang datang bertubi-tubi di tubuhnya hanya bisa mendesah keras-keras.

"Uwaaah! Uwaaaaaaahhhh~~~~!" lenguhnya nikmat sambil mengeluarkan bulir-bulir kepuasannya di dalam mulut Ichigo, yang tentu saja ditelan dengan senang hati oleh pemuda berrambut orange acak-acakan itu. "Haaahhh… hah…. Ka-kalian curang! Main keroyokan! Sekarang giliranku, cepat lepaskan ikatan ini!" ucap pemuda mungil itu masih terengah-engah sehabis ejakulasi tadi. Grimmjow terdiam dan berpikir sejenak, Ichigo hanya mengangkat bahu saja. Pria berrambut biru muda itu menyeringai licik, kepalanya berpikir tentang apa yang akan dilakukan Hitsugaya setelah ini. Akhirnya dia setuju dan melepaskan ikatan tangan hitsugaya, tapi tidak untuk ikatan matanya. Hitsugaya mendesah lega saat ikatan dari tangannya dilepas, dielus-elus permukaan tangannya yang sakit karena ikatan kencang itu.

"Cepat lakukan, mungil! Kami tidak bisa menunggu!" ucap Grimmjow jengkel. Hitsugaya meraba-raba tubuh di depannya tanpa mengetahui bila tubuh itu milik Grimmjow. Hitsugaya mengarahkan bibirnya tepat di kejantanan Grimmjow dan langsung melahap kejantanan pemuda bermata biru muda itu. Di tengah mouth job-nya Hitsugaya mengerang dan melepaskan kulumannya.

"Senpai yang satu lagi, cepat masukan milikmu." Ucap pemuda bermata emerald itu, kemudian melanjutkan mouth job-nya di kejantanan Grimmjow. Mengerti akan maksudnya, Ichigo langsung memasukan 'miliknya' tanpa melebarkan 'lorong' milik pemuda berrambut perak itu terlebih dahulu.

"Aggghhhhh! I-itttaaaiii baka senpai! Seharusnya kau lebarkan dulu!" ucap pemuda mungil itu kesal. Ichigo yang merasa bersalah hanya bisa membelai lembut rambut perak milik pemuda itu lalu mengelap air matanya dengan ibu jari. Setelah dirasa cukup lama, Ichigo menggerakan pinggulnya, membuat kejanan yang ukurannya termasuk besar itu keluar dan hanya tersisa kepalanya saja, kemudian di hentakkan kejantannan itu kembali dengan keras dan cepat.

"Hmmmppph…Hmmppphhh….mhhh…!" desah Hitsugaya yang tertahan karena kejantanan Grimmjow yang memenuhi mulutnya. Grimmjow ingin merasakan kenikmatan yang sama, sehingga memasukkan kejantannannya yang berukuran besar itu lebih dalam ke mulut Hitsugaya yang kecil dan merah. Membuat pemuda berrambut keperakan itu tersedak,"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Hitsugaya ingin mengumpat pada Grimmjow seandainya tubuh bagian bawahnya tak dimanjakan oleh Ichigo. Pemuda berrambut orange itu terus menusukan kejantanannya pada sweet spot Hitsugaya. Sampai pada akhirnya pemuda mungil itu merasa tubuhnya menegang sempurna dan terasa ada sesuatu yang mendesak keluar, pandangannya memburam dan tiba-tiba keluarlah cairan putih kental tanda kenikmatan dari kejantanannya. Ichigo yang merasakan dinding rectum Hitsugaya meremas kuat kejantanannya, membuat pemuda berrambut orange itu mengalami ejakulasi setelahnya.

"Hah…hahhh…hah… kau hebat, Toushirou." Ucap Ichigo tanpa sadar. Hitsugaya tersenyum mendengar perkataan Ichigo, sedangkan Grimmjow yang mengerti maksudnya hanya menepuk dahinya.

"Jadi, tadi yang memasuki aku adalah Ichigo-senpai 'kan?" ucap Hitsugaya sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Oke, oke! Kali ini kau yang menang!" balas Grimmjow kesal. Pemuda berrambut biru muda itu melepas ikatan dasi yang menutup mata indah Hitsugaya. Pemuda mungil itu menghela nafas begitu matanya tidak tertutup apa pun lagi.

"Sekarang, antar aku pulang!" Ucap Hitsugaya dengan nada memerintah.

"Jangan seenakmu sendiri, mungil! Aku bilang akan mengantarmu pulang bila permainan ini selesai kan?" jawabnya sambil menyeringai licik, kemudian menarik tangan pemuda berrambut perak itu dan kembali melakukan permainan Grimmjow hingga selesai.

'sepertinya aku tak 'kan menang melawan kedua orang ini!' batin Hitsugaya pasrah.

.

.

.

Esoknya…

Hari ini matahari bersinar dengan hangat, selayaknya musim semi pada bulan Maret di jepang. Siswa dan siswi di Karakura Senior High School sedang sibuk menekuni pelajaran. Sedikit siswa dan siswi yang berlalu-lalang di koridor sekolah. Mari kita lihat kelas sebelas IPA satu, yaitu kelas Ichigo dan Grimmjow…

"Hey, Ichigo! Nih, selebaran untukmu!" ucap Asano sambil menyerahkan selembar kertas di atas meja Ichigo."Dan… ini untukmu, Grimm!" lanjutnya, sambil memberikan kertas selebaran yang sama kepada pemuda berrambut biru muda itu.

"Apa ini?" Tanya Ichigo acuh sambil membolak-balik selebaran itu, tanpa membacanya.

"Dasar! Baca dong tulisannya! Itu selebaran pengumuman tentang study tour!" Balas Asano kesal sambil melipatkan tangan didadanya.

"Kemana?" Tanya Grimmjow singkat, setelah membaca selebaran di mejanya itu sekilas.

"Kalau maksudmu tujuan study tournya, kelas sebelas dan kelas sepuluh akan pergi ke Kyoto!" jawabnya heboh sambil mengacungkan jempol tepat di depan muka Grimmjow.

"Tunggu dulu… kau bilang kelas sepuluh dan sebelas?" Tanya Ichigo heran, sambil mengerutkan dahinya.

"Ya, kelas sepuluh dan sebelas akan sama-sama pergi ke Kyoto." Jawab Asano heran. "Memang, kenapa?" lanjutnya lagi sambil bertanya pada Ichigo. Sedangkan pemuda berrambut orange itu hanya tersenyum penuh arti.

"Bagaimana dengan penginapannya?" kali ini Grimmjow kembali bertanya. Tangan kanan pemuda berbola mata biru muda itu menggenggam selebaran study tour tersebut sambil membacanya cermat.

"Kelas sebelas ipa satu akan satu villa dengan sepuluh satu." Jawab Asano enteng.

"Bagaimana kau tau?" Tanya Ichigo sambil mengangkat sebelah alisnya, curiga.

Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu Asano langsung nyengir kuda."Aku mencuri satu selebaran lagi dari ruang guru." Ucapnya sambil mengacung-acungkan selebaran lain di depan muka Ichigo. Pemuda berrambut orange itu merebut selebaran di tangan Asano dan membacanya dengan cermat. Ichigo tersenyum penuh arti ketika membacanya, kemudian menyerahkan selebaran itu ke arah rival berrambut biru muda di sebelahnya. Grimmjow menerima selebaran tersebut dan mulai membacanya.

"Study tour kali ini sepertinya tak akan membosankan." Ucap Grimmjow sambil menyeringai licik.

~~~TBC~~~

Moshi-moshi minna –san! Ketemu lagi sama Hima!(^^)v

Lagi-lagi 3some! Hahahaha saia sedang ketagihan mencari pengalaman membuat 3some! Hahh… tapi saia gak terlalu yakin dengan chap kali ini…. Jadi, mungkin agak ancur,ya~?

Eniwei, rasanya saia membuat si Hitsu jadi OOC… kayaknya…(==")a

Ok~~! Sebelum itu saia akan membalas repiu dulu!

Vida tranquila: Hehehe makasihhhh!*nunduk dalem-dalem* ikutin terus ceritanya, ya~!(^^)

Anenchi ChukaCukhe: Chi-chan! Makasih udah repiu!*peluk-peluk chi-chan* ahahaha saia sedang coba2 bikin 3some! Apakah kali ini juga hot?

CUI: terimakasih! Ikuti terus kelanjutan fic ini, ya~!

Jeanne Jeagerjaques San: Jeanne-saaaannnn!*lari trus peluk" Jeanne* hima sudah berusaha bikin yang EYD-nya bener kali ini… apakah masih ada kesalahan EYD? Kalau bisa beri tau bagian mana aja, ya~! Biar hima bisa perbaiki diri…(^_^)

Michael Timo De Sexta: Wah, terima kasih! Saia berusaha terus agar menghilangkan typo(s)nya! Karena penggila rated M, jadi Hima langsung buat rate M, deh! Eniwei, apakah kali ini juga Hot? Hima usahakan agar selalu ap det setiap minggunya! Tetap ikuti dan repiu fic-nya, ya~!(/^o^)/

Sky Still Fujoshi: Saia usahakan Apdet cepet! Tapi, tetap repiu, lho!*getoked*

Hanabi Kaori: Hana-chaaaannnn! *hima inget, lho! Kalo hana-chan gak mau dipanggil 'kembang api'* hehehe. Apakah LEMON saia sebegitu hot? *hana: ge-er, nih hima!* terima kasih udah mau repiu! Tetap ikuti dan repiu ceritanya, ya!

Shirohana Yuki: terima kasih Yuki-chan! Menurut yuki-chan , enaknya si toshirou sama siapa? *kok malah Tanya?* oke! Ikuti terus, yaaaa!

Kuraishi cha22dhen: sekarang sudah ap det… terima kasih udah repiu! *nunduk*

Terima kasih untuk para readers dan reviewers yang sudah bersedia membaca dan merepiu fic saia! Hima akan berusaha membuat ceritanya jadi lebih baik kedepannya!

Sampai jumpa di chap berikutnya! Jaa neeeee~~~!(^^)/

Pada chap 3, berikutnya: "A-apa? Kenapa kalian juga ada di sini!" ucap hitsugaya kaget sambil menatap Grimmjow dan Ichigo di depan kamar penginapannya. "Ayo kita pergi berdua saja, mungil!" ucap Grimmjow seraya menggandeng tangan Hitsugaya dan meninggalkan Ichigo terdiam di depannya. Pada chapter ini perebutan Hitsugaya akan lebih panas! Study tour yang mendebarkan di Kyoto!

Mind give me review for my mistake in this chapter?