Tadaaaaaa...

Anenchi ChukaCukhe balik lagi dengan rated M.. *digampar*

Ini pelampiasan karena 2 minggu di guyur sama soal UTS yang susahnya setengah idup.. * bakar soal UTS*

Dan akhirnya jadilah fic gaje ini!

Gag tau deh gimana ceritanya? Masih kebayang sama hasil UTSnya entar.. *merinding*

.

Oh iya.. fic ini saya persembahkan untuk:

Rhie-chan Aoi Sora (Rhie-chan), imotouku yang sudah meminta fic ini dengan polosnya.

Uzumaki Uzumaki (Ipin), imotou gila bin gaje nan lebay yang suka membuat kepala saya mual.

Mechakucha No Aoi Neko (Mechan), satu lagi imotouku yang katanya pengen buat 10some *bussettt dah*

Hotaru Hatake (Taru-chan), imotou yang entah dari mana datangnya -?-

ElsNaru/Naruels, yang kebetulan juga pengen dibuatkan threesome.

Aoi Lawlight (Ao), my friend yang selalu memberi saya semangat. Ini DP nya dulu yakk.. hehe.

Dan untuk semua para Fujoshi dan Fudanshi di muka bumi ini -?- Ayo kita sebarkan virus Yaoi! *di hajar massal sama anti Yaoi*

Oke, sudah berbasa basi bisulnya! Silahkan membaca.. oh, jangan lupa lihat WARNINGnya dulu..

#

Disclaimer: Ayolah Om Masashi... Nikahkan para Seme dan Uke itu biar punya anak *di tampol*

Rated: M+

Pairing: SasuNaru, GaaNaru, SasuGaaNaru.

Warning: HARD LEMON, THREESOME, yaoi, shounen-ai, boyXboy, SemeUke, Sesame jenis. OOC. Typo. Alur berantakan. Dan sebagainya..

Silahkan membaca...

#

-U and U-

#

"Naruto.. cepat turun! Sasuke sudah menunggu dari tadi!" teriak seorang ibu-ibu cantik berambut merah yang bernama Uzumaki Kushina atau lebih tepatnya Namikaze Kushina.

"Iya Kaa-san..." terdengar suara seorang pemuda dari lantai atas. Dan bisa dipastikan itu adalah suara Namikaze Naruto, anak laki-laki dari Kushina.

Drap... drap... drap...

Seorang pemuda yang mempunyai rambut pirang dan mata sebiru batu Sapphire tengah berlari-lari menuju lantai bawah. Pakaiannya sangat berantakan. Bajunya keluar, dasinya tidak diikat dengan rapi, celana panjangnya menggulung di bagian kanan, dan rambut pirangnya terlihat acak-acakan. Oh, lupakan rambut pirang itu.

"Kaa-san... aku berangkat dulu ya. Jaa-ne", katanya sambil mengecup pipi ibunya itu. Naruto pun segera menuju pintu keluar.

"Naruto... hei, rapikan dulu bajumu," kata Kushina setengah berteriak. Tetapi teriakannya tidak diindahkan oleh Naruto yang sudah menuju pintu. "Ck, dasar anak nakal," gumamnya.

Naruto membuka pintu dan mendapati seorang laki-laki tengah membelakanginya. Penampilannya sungguh rapi, berbeda sekali dengan Naruto yang acak-acakan.

"Teme..." panggil Naruto.

Merasa dipanggil, pemuda yang sedari tadi menunggu di depan pintu rumah Naruto pun membalikkan badannya.

Tampan...

Itulah yang terlintas di pikiran setiap orang yang melihatnya. Kulit putih -berbeda dengan Naruto yang sedikit kecoklatan-, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah muda yang menggoda, mata berwarna seperti batu Onyx dengan alis yang terbentuk indah di atas matanya. Dan semua kesempurnaan itu di bingkai oleh rambut halus dengan model pantat ayam berwarna hitam yang berpendar kebiru-biruan jika terkena sinar matahari.

"Dobe?" Sasuke mengangkat satu alisnya.

"Hehehe..." Naruto lalu menghambur ke pelukan Sasuke dengan secepat kilat.

Tak usah bingung dengan kejadian ini. Toh mereka sudah menjadi sepasang kekasih selama 1 tahun. Lagipula, keluarga mereka sudah saling kenal sejak lama sehingga dapat dipastikan hubungan mereka berjalan mulus tanpa hambatan.

Rumah Sasuke dan Naruto saling berhadap-hadapan dan hanya di pisahkan oleh sebuah jalan kecil. Inilah alasan kenapa Sasuke selalu menjemput Naruto untuk berangkat ke sekolah. Itu sudah menjadi kebiasaan semenjak mereka jadi sepasang kekasih. Dan satu lagi kebiasaan mereka yang tidak boleh ditinggalkan...

"Ohayou Dobe," bisik Sasuke.

Naruto tersenyum dan memejamkan matanya. Sasuke pun mencium Naruto dengan lembut seperti biasanya. Naruto membalas ciuman Sasuke. Tidak ada nafsu sama sekali di ciuman ini. Hanya ciuman penuh kasih sayang dari keduanya.

Ya... Inilah satu lagi kebiasaan mereka. Ciuman hangat di pagi hari yang dingin...

Sasuke akhirnya melepas ciumannya. "Ohayou Teme," balasnya sambil memberikan cengiran lebar. Naruto melepaskan diri dari pelukan Sasuke. "Ayo kita berangkat," ajak Naruto.

"Tunggu Dobe," tahan Sasuke.

"Apalagi sih Teme..." Naruto melipat kedua tangannya di dada dan menggembungkan pipinya. Ekspresi yang selalu disukai oleh Sasuke.

Sasuke mendekat ke arah Naruto dan membuka kancing celananya. Naruto bergidik ngeri dengan perlakuan Sasuke.

"Ma-mau apa Teme?"

"Sudah... kau diam saja."

Setelah celana Naruto terbuka, Sasuke segera memeluk Naruto sambil memasukkan pakaian pemuda pirang itu. Naruto yang diperlakukan lembut seperti itu hanya bisa menahan wajahnya agar tidak memerah.

Setelah rapi, Sasuke menuju kaki Naruto dan melepaskan gulungan celana yang berada di kaki kanan Naruto. Sasuke berdiri dan kemudian membenarkan ikatan dasi yang berantakan itu.

"Kau ini... Selalu saja bangun kesiangan. Tapi paling tidak, jangan berpenampilan berantakan seperti ini, Dobe," kata Sasuke sambil mengikat dasi Naruto.

"Hehehe..." Naruto hanya bisa tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ah, aku jadi seperti ibumu saja. Nah, sudah selesai... Ayo kita berangkat," ajaknya sambil mengacak-acak rambut Naruto.

Naruto mengecup pipi Sasuke. "Terima kasih, Teme. Ayo," katanya sambil menggandeng tangan Sasuke. Sasuke hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuan kekasihnya ini.

#

"Ohayou.." sapa Naruto saat sampai di kelasnya.

"Ohayou Naruto," sapa Inuzuka Kiba, sahabat karib dari Naruto. "Hari ini kau berangkat bersama Sasuke Senpai ya?" tanya Kiba.

"Iya, memangnya kenapa?" tanya Naruto heran.

"Biasanya dia mengantarmu sampai pintu kelas? Kenapa hari ini tidak?"

"Oh... hehe. Teme sedang ada urusan OSIS, jadi dia langsung ke ruangan OSIS," jawab Naruto. Kiba hanya bisa ber-oh-ria.

"Hei semuanya! Kakashi Sensei datang dengan seorang lelaki tampan!" teriak seorang gadis pink.

"Eh? Yang benar Sakura? Mana?" tanya gadis berambut pirang bernama Ino dengan antusias.

Gadis pink yang diketahui bernama Sakura itu menunjukkan jempolnya dan mengedipkan satu matanya. "Tunggu saja sebentar lagi."

"Mereka bicara apa sih?" tanya Naruto pada Kiba.

"Paling-paling juga soal laki-laki," jawab Kiba sambil menaikkan bahunya.

"Haaah... dasar perempuan," gerutu Naruto sambil menuju bangkunya.

Naruto duduk dan melihat ke arah jendela. Pemuda pirang itu suka sekali duduk di dekat jendela. Dia bisa melihat pemandangan yang 'indah' seperti saat ini. Naruto tersenyum kecil melihat pemandangan 'indah' itu.

Uchiha Sasuke...

Ya, pemandangan 'indah' itu adalah Uchiha Sasuke. Kelas Sasuke kini tengah melakukan olahraga basket di lapangan sehingga Naruto bisa mengamati kekasihnya dengan puas. Dengan dagu yang ditopang tangan kanannya, Naruto terus melihat Sasuke tanpa menghiraukan yang ada di sekitarnya.

'Sasuke keren sekali...' batin Naruto.

Naruto terus memandangi Sasuke tanpa menyadari bahwa seorang lelaki berambut perak dan memakai masker tengah berdiri di depan kelas sambil membawa buku kecil berwarna oranye. Lelaki itu berdehem agak keras sehingga semua siswa diam dan duduk pada bangkunya masing-masing, kecuali Naruto yang masih menikmati pemandangan 'indah'nya.

"Selamat pagi semua."

"Selamat pagi Kakashi Sensei," jawab seluruh siswa.

"Hari ini kita kedatangan murid baru. Sensei harap kalian bisa bekerja sama."

"Laki-laki atau perempuan, Sensei?"

"Tampan tidak?"

"Cantik kah?"

Kakashi yang mendengar para siswanya bertanya seperti itu hanya bisa sweatdrop. Kakashi menggulung buku yang dibawanya kemudian mengetuk-ngetukkannya pada meja supaya para siswa itu terdiam. Kakashi menghela napas sebelum berkata.

"Kalian akan lihat sendiri. Masuklah," panggilnya kepada seseorang di luar kelas.

Seseorang yang dipanggil tersebut perlahan berjalan ke dalam kelas. Semuanya diam. Kagum, terpesona, benci, suka, penasaran... itulah yang ada di pikiran mereka masing-masing.

Bagaimana tidak? Seorang lelaki dengan rambut merah bata, tubuh proporsional sesuai dengan umurnya, wajah tampan dengan maskara hitam di sekeliling mata aquamarine yang membuatnya semakin keren, disertai dengan aksen tato 'Ai' di dahinya menambah sempurna kesan 'keren' itu.

Lelaki itu tengah berdiri di depan kelas. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, mengamati satu-satu para penghuni yang ada di sana. Matanya aquamarine itu terhenti ketika melihat sosok pirang yang tengah mengamati pemandangan di luar jendela.

Matanya terbelalak, tapi sedetik kemudian dia menyeringai kecil. 'Naruto..'

"Oke, sekarang perkenalkan dirimu," suruh Kakashi.

Pemuda itu mengangguk. "Sabaku no Gaara. Salam kenal," ucapnya singkat.

Para siswa berbisik-bisik ria sehingga Kakashi harus menenangkannya lagi. "Sudah-sudah. Gaara, kau bisa duduk di sebelah Naruto, pemuda yang berambut pirang itu," suruhnya lagi.

"Terima kasih Sensei," Gaara mengangguk dan berjalan menuju bangku di sebelah Naruto sambil menyeringai kecil.

Naruto masih asyik dengan dunianya sehingga tidak tahu jika ada seseorang tengah berjalan menuju bangkunya. Gaara duduk perlahan supaya tidak mengagetkan Naruto. Dia tersenyum melihat pemuda di sebelahnya itu.

"Boleh aku duduk disini?" tanya Gaara basa basi. Naruto hanya mengangguk tanpa memandang ke arah Gaara.

Seringaian Gaara bertambah lebar. Pemuda merah itu mendekat ke arah telinga Naruto dan menjilatnya perlahan. Naruto yang diperlakukan seperti itu tersentak dan menoleh ke arah pemuda di sampingnya sambil memegangi telinganya yang baru saja dijilat.

"Ap-," kata-kata Naruto terhenti ketika melihat sosok pemuda tampan di sebelahnya.

Gaara tersenyum manis. "Hai Naru... lama kita tidak berjumpa."

Mata sapphire itu terbelalak lebar. "Ga-Gaara?"

#

-Bersambung-

#

Nah... nah... bagaimana? Lanjut atau tidak? Masalahnya lemonnya belum keluar nih... nanggung kan? *digampar*

Saya ucapkan terima kasih banyak bagi yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca fic gaje saya ini. *bungkuk-bungkuk badan*

Yosh! Saya tunggu kritik dan sarannya..

Arigatou...