Ouu minna-san! Masih ada yang inget fic ini? Kita ketemu lagi di hari ultahnya Sena-kun. Hahaha.

Mau say honest nih, sebenernya fic ini mau dipercepet plotnya (malah sempet kepikiran buat discontinue) tapi gak enak… Jadi kelihatan gak responsible banget jadi author. Akhirnya gak jadi deh, hahahaha.

Oke deh, yuk kita jump langsung ke story-nya ^^

.

.


" Nice Present "

An Eyeshield 21 Fanfic

.

Chapter 5—Awakening and Little Secret

Disclaimer

Eyeshield 21 Manga&Anime © Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Nice Present © Tamakii Mitsukuri

Warning

Ada OC, OOC, Semi-AU, Plot cerita yang labil, Penggunaan bahasa resmi yang tiba-tiba, Typo/Misstype, Dramatis, etc.

"blablabla" = berbicara

"blablabla" = suara hati

.garis

Mulai nggak 'sreg'? Silahkan klik tombol back! Saya gak paksain baca lho~ ;)


Previously:

Sesaat sebelum tubuhnya tumbang, ia sempat mendengar dan merasakan suara derapan langkah kaki mendekat.

"Suzu…naaa…!"

Mungkin senyum ini untuk terakhir kalinya bagi Suzuna.

"Se…na…?" lirih Suzuna pelan sebelum akhirnya…


.

.

.

[Deimon Hospital, 15.24.54 PM]

Normal P.O.V

.

Tik tok tik tok

"Waktu terus berjalan. Aku tak bisa disini terus," ujar Sena. Ia berusaha bangkit dari kasurnya. "Tunggulah aku Su… UHUK…UHUK!"

Rasa sakit yang begitu menusuk dadanya pilu amat terasa. Usahanya untuk bangun menjadi terhenti. Ia berjengit sambil menekan dadanya dengan keras, berusaha menghilangkan perasaan sakit itu. Namun hal itu tidak menahannya untuk tetap berdiam diri lebih lama.

"Su…suzuna menungguku… UHUK…UHUK!"

Sekujur tubuhnya menolak, namun hatinya melawan.

"Karena itu… a…aku harus…pergi!"

.

.


[In the same time, at a beautiful lake]

"Suzu…naaa…!" teriak Juumonji panik. Dilihatnya gadis biru itu yang tergeletak kedinginan diatas salju. Wajahnya terlihat amat pucat dan bibirnya membiru. Juumonji segera menghampirinya secepat mungkin hingga hampir tergelincir.

"SUZUNA! BANGUNLAH!" bentak Juumonji dengan perasaan kalut. Diselipkannya sebelah tangannya untuk menopang kepala Suzuna agar tidak sepenuhnya berbaring diatas salju. Disentuhnya pipi dingin Suzuna lalu diusapnya dengan cepat agar pipi tersebut menghangat. Namun hal tersebut tidak menimbulkan apapun. Suzuna tetap tidak bergeming.

"Onegai Suzuna… Aku tidak ingin ada bercanda lagi," ujarnya dengan suara bergetar. "Hountoni gomenasai, Suzuna… Dakara, bangunlah sekarang!"

Air matanya tidak bisa ditahan lagi. Dipeluknya Suzuna dengan erat. Bibirnya berulang-ulang membisikkan kata maaf ditelinga Suzuna. Dan untuk keberapa kalinya pun Suzuna tidak bergeming, membisu dalam diam.

Dan akhirnya Juumonji menyadari sesuatu yang fatal.

Embusan nafas Suzuna hampir tidak terasa.

"Su…suzuna?"

.

.


[In the same forest]

"Hei! Apa kau sudah menemukan keduanya di sebelah sana? Di sebelah sini tidak ada!" teriak Monta pada Hito dan yang lainnya.

"Tidak ada, Monta-san!" balas Hito. Lalu ia kembali mencari di bagian lain.

"Di bagian sini juga tidak ada!" ujar Toganou, keluar dari balik semak yang tertutup salju putih. "Ooi, Kuroki! Kau bagaimana? Ada jejak dari keduanya?"

"Kuso! Sangat sulit mencari mereka karena kita sudah sangat telat! Salju sudah menutupi jejak kaki mereka." Jawab Kuroki dengan aura depresi. "Lagipula darimana kau tahu kalau mereka ada di sini, Takahashi?!"

"Aku seratus persen yakin, Kuroki-san." Balas Mizuna dengan tegas. "Aku mengikuti kemana Suzuna-chan pergi dan memanggilnya. Namun aku kehilangan jejaknya." Ujarnya sedih.

"Lalu? Kenapa kau kembali ke ruang klub?" tanya Monta keheranan.

"Jadi sebenarnya begini…"

.

.

.


[Flashback, back to DHS's field; at Deimon House Club. 10:49:03]

Begitu Sena pingsan dengan darah yang mengalir dibibirnya, Monta dengan khawatir segera meminta Mizuna, Hito dan Komusubi untuk merawatnya dan segera berlari kedalam house club. Dengan buru-buru, Monta mencari handphonenya dan segera menelpon ambulans secepatnya. Lalu ia segera keluar dan membawa tandu dari house club.

Saat menghampiri Sena, ia melihat seseorang berkurang dari sana. Namun ia tidak begitu peduli dan memikirkannya lebih lanjut. Hito membuka percakapan lebih dulu.

"Monta-san, Mizuna pergi mengejar Suzuna-san." lapor Hito sambil berusaha membungkus tubuh Sena dengan jaket yang dipakainya.

'Oh, jadi Mizuna yang menghilang.' Pikir Monta. Ia hanya mengangguk dan mulai membantu Hito. Tiba-tiba Komusubi berjalan ke arah Juumonji yang tengah dijaga oleh Toganou dan Kuroki.

"Ma…masuk!" teriak Komosubi sambil menujuk house club Deimon. Toganou dan Kuroki yang mengerti sinyal yang diberikan Komusubi, segera menarik Juumonji berdiri.

"Kazu, ayo masuk." Ujar Kuroki.

Dengan kasar dan masih dipenuhi kekalutan dan amarah, Juumonji menepis kedua tangan sahabatnya itu dan berjalan sendiri ke house club. "Lepaskan! Aku tidak butuh bantuanmu!"

"Nani?!" Kuroki yang diperlakukan kasar seperti itu langsung marah. "Kau masih saja bersikap seperti orang bodoh, hah?!"

Toganou yang melihatnya berusaha menenangkan sahabatnya. "Mou ya da, Kuro. Chotto ochisuite yo ne?"

"Apanya yang tenang?! Kau bisa lihat sendiri 'kan, Toga? Dia bertingkah seperti orang brengsek!" ujar Kuroki sambil menunjuk Juumonji. Juumonji yang merasa ditunjuk menoleh kebelakang dengan alis mata naik sebelah, tersinggung dengan apa yang barusan dikatakan. "Harusnya kau sadar diri sedikit, bakayaro!"

"Haa? Kau ingin merasakan tinju diwajahmu, hah?" tensi Juumonji kembali naik. Ia menantang Kuroki berkelahi dengannya. "Kau mau tinju?! Akan kuberikan! Kemari kau!"

"YAMERO DA, AHO! APA YANG KALIAN PIKIR LAKUKAN SEKARANG HAH?! " teriak Monta amat marah melihat mereka bertengkar lagi. "Lebih baik kalian segera membantuku mengangkat Sena ke dalam daripada bertengkar seperti hewan!"

Sejujurnya, baik Kuroko maupun Juumonji merasa tersinggung mendengarnya. Namun begitu Monta menyebut-sebut nama Sena, mereka menjadi ingat kembali keadaan yang sebenarnya.

"Huh, menyebalkan." umpat Kuroki jengkel tapi ia berlari ke arah Monta untuk membantunya mengangkat Sena ke dalam dengan menggunakan tandu yang dibawa Monta. Sementara Toganou dan Komusubichi yang sedaritadi diam hanya bisa menggelengkan kepala dan kembali mengajak Juumonji ikut ke dalam house club.

"Kazu, ikuyo," ajak Toganou sambil tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak Juumonji. Juumonji hanya membuang wajah kesal.

"Huh."

.

.

[Meanwhile, At railway stasion]

"Suzuna-chan! Kimi no doko ka?!" teriak Mizuna berulang-ulang sambil mengedarkan pandangan di stasiun dekat Deimon. Mungkin sudah daritadi banyak orang yang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Tapi Mizuna tidak peduli. Ia yakin Suzuna ada di sekitar sini. Jadi dia harus menemukan gadis biru itu.

"Suzuna-chaaaaaan!"

Mizuna hampir putus asa di detik-detik terakhir seperti sekarang ini. Bagaimana tidak? Keadaan stasiun kereta yang selalu padat dengan tiap manusia setiap harinya membuat mencari seorang gadis biru yang tepat menjadi tugas yang amat sulit bagi Mizuna.

"Uhh, aku tidak akan menyerah begitu saja," bisik Mizuna sambil mengepalkan tangan. "Lagipula, untuk apa aku menjadi manager di club amefuto Deimon kalau seperti ini saja tidak bisa?"

Mizuna tersenyum kecil. Mana mungkin manager pilihan Anezaki Mamori dan Hiruma Yoichi tidak bisa melakukan hal sepele seperti ini. Pasti bisa kan?

"Ayolah," bisik Mizuna sambil menyipitkan mata, menyeleksi setiap orang dengan amat teliti. "Pasti salah satunya ada Suzuna-chan."

Diseleksinya tiap orang dengan teliti, terutama orang-orang yang terlihat sangat buru-buru ataupun sedang berlari. Ia yakin pasti Suzuna sedang berlari. Entah darimana firasat itu datang, tapi Mizuna yakin itu.

"Aoaoao…uhh…ao…AH! SORE WA SUZUNA-CHAN!" teriak Mizuna. "AHH, SUZUNA-CHAAAN! MATTE KUDASAAAIII!"

Benar saja, Suzuna terlihat sedang berlari dan saling menyusup di antara keramaian yang ada. Lalu ia berhenti di salah satu kerumunan yang tengah menunggu kereta berikutnya tiba. Mizuna segera mengejarnya dengan sisa tenaganya.

"Suzuna-chaaaann!" teriak Mizuna sambil berlari dan berusaha menyelip di antara orang-orang. "Ah, sumimasen! Tolong minggir sebentar!"

NGIIIIIIIIINGGGG!

"EH? Suara kereta?!"

Kereta dengan body berwarna merah terang segera bergerak maju dan Suzuna segera masuk kedalamnya bersama dengan kerumunan yang ada disekitarnya. Mizuna yang masih cukup jauh dari Suzuna sangat panik. Dilihatnya Suzuna yang segera berpindah ke arah kirinya dan selanjutnya ia tertutupi oleh orang-orang yang lainnya dari pandangan Mizuna.

'Oh Kami-sama, tolonglah! Semoga keretanya tidak berangkat lebih dulu!' pikir Mizuna dengan panik, sebenarnya amat sangat panik. 'Kami-sama, hontoni onegai!"

Begitu Mizuna menyelipkan kartu pass miliknya, ia segera di hadang dengan puluhan—atau mungkin ratusan—orang yang keluar dari kereta itu. Mizuna sempat shock sesaat.

"Oh my God," gumamnya tak sadar. Dengan nekat (atau mungkin ceroboh? Entahlah Mizuna sendiri tidak peduli) ia mencoba menerobos arus yang berlawanan arah dengannya sambil berlari.

"Uhh… SUZUNA-CHAAAAAAANNNNN!" Mizuna berteriak sekencang mungkin yang membuat dirinya mendapat tatapan tajam dari sekitarnya dan respon dari Suzuna. Suzuna menengok ke arahnya dan terlihat sekali kalau matanya terlihat amat sembab akibat menangis. Walaupun dia masih menangis, though.

Refleks, Mizuna kaget saat pintu dihadapannya tertutup otomatis dan tidak membiarkannya masuk.

"AH! NANI YATTERUNO?!" tanya Mizuna kaget sambil memukul pintu kereta itu. "CEPAT BUKA PINTUNYA! HAYAKU!"

"Ojou-san! Jangan merusak pintu kereta!" tegur seorang petugas yang ada di stasiun kereta itu sambil menarik Mizuna menjauh dari kereta. "Sebentar lagi kereta ini akan berangkat, Ojou-san. Jangan terlalu dekat atau kau akan terseret."

"Eh? Demoo atashi—"

JESSSSH! NGIIIIIIIING!

"Oh tidak," bisik Mizuna tidak percaya. Kereta merah itu berangkat sambil membawa Suzuna dan puluhan orang bersamanya. Dan Mizuna tidak sempat masuk kedalamnya.

"Dou suru no, ima?" ucapnya pasrah.

"Nah kalau Anda ingin naik kereta ini lagi, setidaknya paling tidak tunggulah selama 10 menit lagi. Kereta merah yang sama akan membawa Anda, Ojou-san." Saran petugas yang tadi menahan Mizuna.

"Wakatta yo ne, Oji-san," imbuh Mizuna kesal. "Tapi bukan itu yang jadi masalahnya."

"Ne? Memangnya ada apa? Apakah itu penting sekali?"

"Tentu saja penting sekali!" balas Mizuna yang hampir terdengar seperti berteriak. "Ada seseorang yang sedang kukejar, Oji-san! Dan aku tidak sempat mengikutinya masuk ke dalam kereta. Bagaimana kalau aku kehilangan jejaknya?!"

Mizuna bergidik memikirkan kemungkinan yang terjadi. 'Oh Kami-sama, jangan sampai itu terjadi!'

"Ano hito dare ka? Apa itu seorang penjahat?" tanya si petugas. "Apa perlu aku menelpon polisi?" lanjutnya serius.

'Telpon polisi?' pikir Mizuna. Apa tidak apa-apa kalau sampai melibatkan polisi? Masalahnya bisa dipastikan bertambah runyam kalau Mizuna sampai menelpon polisi. Kalau sampai polisi menanyakan apa yang terjadi dan menyusut ke masalah yang ada di Deimon—Sena dan Juumonji—pasti masalah ini bisa sampai ke meja hijau.

'Ya Tuhan! Aku tak 'kan membiarkan masalah ini sampai masuk pengadilan!'

"I…iie, Oji-san," balas Mizuna gugup. "Kurasa tidak perlu."

"He? Bukankah tadi Ojou-san bilang ini penting sekali? Lebih baik telpon polisi saja."

"Ti…tidak usah, sungguh." Ucap Mizuna sambil meyakinkan petugas itu. "Dia hanya…hanya…uhh…saudara kembarku…saja. Dia mau minggat dari rumah jadi aku harus mengejarnya."

"Minggat dari rumah?"

"Ha…haik, minggat dari rumah!" seru Mizuna. "Daijoubu Oji-san, aku pasti bisa membawanya kembali ke rumah. Jadi, jangan telpon polisi ya!"

"Memangnya kenapa, Ojou-san? Bukankah lebih mudah bila dibantu polisi?"

'Ju…justru sebaliknya.' Pikir Mizuna sweatdrop.

"Oji-san, daijoubu ne? Ini hanya masalah antara aku dan saudara kembarku saja. Ia marah padaku dan kabur dari rumah. Aku tidak ingin papa dan mama memarahiku. Ini hanya masalah sepele saja kok, jadi tidak perlu sampai menelpon polisi, Oji-san."

"Hontou?" kata petugas itu sedikit ragu.

"Mm! Hontou ni!" balas Mizuna sambil tersenyum meyakinkan. "Shinjite kudasai!"

Petugas itu membalas senyum Mizuna dan menggangguk mengerti.

"Ah, sou ka. Wakatta imasu. Baiklah Nona manis, saya bertugas kembali ya. Sayonara." Ucap petugas itu sambil melangkah pergi. Mizuna membalasnya dengan senyum.

"Haik. Itterashai Oji-san!" ujar Mizuna sambil melambaikan tangan. "Nah, sekarang tinggal tunggu kereta berikutnya."

Sebenarnya Mizuna ingin melihat papan peta tapi kalau ia beranjak dari tempatnya sekarang, ia bisa ketinggalan kereta lagi dan ia tidak mau hal itu terjadi. Mizuna melihat jam tangannya.

"Jam 10.57 ya?"

.

.

[Back to Deimon House Club]

Beberapa saat yang lalu petugas medis dari rumah sakit Deimon sudah datang dan membawa Sena secepatnya ke rumah sakit. Proses tersebut berjalan lancar dan dapat dipastikan Sena tidak perlu sampai di operasi. Begitu para petugas medis tersebut pergi, suasana di dalam house club menjadi sunyi. Sunyi yang memberatkan oksigen untuk dihirup.

Hito berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan memulai percakapan kecil.

"Untung saja petugas medis itu cepat datang dan bertindak dengan cepat. Yokatta na."

"Huh," ujar Juumonji sambil berdiri dari tempat yang ia duduki. "Aku mau pergi."

"Nanda yo suru no, Juumonji?!" tanya Monta dengan sangat marah. "Kau tidak boleh kemana-mana sampai kau jelaskan situasi yang terjadi disini!"

"URUSE! Kinishinai yo," elak Juumonji. Ia ingin segera pergi dari tempat ini dan menyendiri. "Minggir dari hadapanku, ima!"

"Duduk sekarang juga, Juumonji!" perintah Monta.

"URUSAI YO! MINGGIR!"

"Toganou, Kuroki, Komusubichi! Tahan dia!"

"HAIK/YOSH/FUGO!"

"Ah! Nanda yaterruno kimitachi ga?! Lepaskan! Jangan ganggu aku!"

"Ne… Juumonji-san…" ujar Hito tiba-tiba.

"Huh?" ucap semuanya sambil menoleh ke arah Hito.

"Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali pada Sena-san? Bahkan sampai pergi begitu saja?"

Toganou, Kuroki dan Komusubichi bisa merasakan perlawanan dan tegangan pada pundak Juumonji berkurang.

"Kinishinai…" bisik Juumonji pelan namun dengan nada yang berat. Seolah suaranya tidak satu dengan hatinya.

"Pada Suzuna-san sekalipun?"

DEG!

'Suzuna? Gadis menyebalkan itu?' pikir Juumonji kesal. Ia jadi ingat apa yang gadis itu bilang. Rahang Juumonji mengeras dan pundaknya kembali tegang.

"Kau pikir aku peduli padanya?! Biarkan saja wanita brengsek itu pergi!"

"Juumonji-san, ochisuite kudasai." Ujar Hito tenang. "Kendalikan amarahmu. Marah-marah saja tidak bisa menyelesaikan masalah. Tenangkan dirimu sejenak. Dan untuk yang lain, lebih baik beri ruang sedikit untuk Juumonji-san. Tidak baik juga kalau memaksanya seperti itu, hanya akan menambah tekanan pada Juumonji-san."

Mendengarnya, semua orang termasuk Kuroki dan Monta segera menyingkir dan memberi ruang untuk Juumonji. Juumonji segera menjauh dan duduk di sudut ruang tepat di depan pohon natal yang sudah dihias sedemikian rupa. Dengan perlahan, matanya menyusuri tiap kerlap-kerlip hiasan natal yang terpasang pada pohon itu. Indah dan berkilauan. Sangat jauh dengan kehidupannya yang ia rasa begitu gelap.

Walaupun ia merasa semenjak ia bergabung dengan DDB, kehidupannya terasa lebih berharga dibanding sebelumnya. Seberkas cahaya cerah kecil mulai menyinari kehidupannya. Ia menyayangi semua temannya yang ada di DDB, jujur di dalam lubuk hatinya. Namun, karena dari dasarnya sudah terpatri sifat keras di dalam dirinya, ia tidak mampu menunjukkan rasa sayangnya secara terang-terangan. Terutama pada gadis itu.

Ia iri sekali pada garis biru itu. Ceria, selalu riang, menyemangati sekitarnya terutama pada Sena. Sampai-sampai Juumonji merasa hidupnya seperti tanpa ada beban. Juumonji iri pada dua kenyataan yang tercermin di gadis itu. Kenyataan yang pertama adalah ketidakmampuan Juumonji bersikap ceria seperti Suzuna, dan yang kedua adalah kenyataan jika pancaran rasa riang gadis itu bukanlah terhadapnya. Tapi pada pria brunette itu.

Ya, seorang laki-laki naïf yang sekarang menjadi quarter-back sekaligus ketua klub Amefuto Deimon.

"Sekarang jelaskan apa yang kau tadi lakukan, baka! Kau mau membunuh Sena ya?!" bentak Kuroki dengan tegang mengagetkan Juumonji. Ia tak habis pikir pada temannya satu ini. Kerasukan setan apa dia?

"Aho! Mana kutahu kalau sampai seperti ini!" balas Juumonji dengan wajah yang sama tegangnya. Ia kembali tegang sampai keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia benar-benar kalap tadi.

"Memangnya apa yang kau pikirkan, Juumonji? Kau lupa dengan tujuan awal kita?" tanya Toganou dengan tidak percaya.

"Wanita brengsek itu—"

"Matte yo!" selak Hito. "Siapa yang kausebut wanita brengsek? Apa maksudmu Suzuna-san?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Juumonji hanya membuang wajah dengan kesal. Ia jadi ingat dengan apa yang gadis itu bilang.

ANAK TIDAK TAHU DIRI!

DEG!

Juumonji mengernyit. Ia langsung meremas jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak menyakitkan. 'Dasar gadis brengsek! Menyebalkan!' umpatnya dalam hati. Kau tahu bagaimana rasanya dimaki oleh orang yang kausukai? Rasanya hell. Ia merasa menyesal sempat pernah menyukainya. Mungkin bukan rasa suka, lebih tepatnya rasa kagum. Tapi tetap saja rasanya menyebalkan. Ia jadi benci dirinya sendiri.

"Astaga Kazu, memangnya apa yang terjadi?" tanya Toganou.

Tiba-tiba, pintu house club terbuka dengan keras akibat dari seseorang mendorongnya dengan keras.

"MINNAAAA! Suzuna-chan pergi dengan menggunakan shinkansen!" teriak Mizuna—orang yang tadi mendorong pintu—dengan keras dan panik. Kalau perlu diperjelas, sangat panik. "Aku sempat mengejarnya namun tidak berhasil menemukannya!"

"NANI?!" teriak semua orang di house club, kecuali Juumonji. Pupil matanya mengecil dan menatap Mizuna dengan pandangan sangat kaget dan tidak percaya.

'Apa yang gadis itu pikirkan!?' pikir Juumonji panik dan amat khawatir dalam hati. 'Apa ia mau menambah masalahku lagi?!'

Dengan cepat, Juumonji bangkit dari tempat duduknya dan menarik bahu Mizuna dengan kasar.

"Takahashi!" bentak Juumonji tepat di depan Mizuna. Dicengkramnya bahu Mizuna dengan keras. "Kemana gadis itu pergi?!"

"I…ittai!" rintih Mizuna kesakitan.

"Juumonji-san! Lepaskan Mizuna!" bentak Hito sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Juumonji.

"Kazu! Apa yang kau lakukan, baka! Lepaskan gadis itu sekarang!" kata Kuroki sambil ikut menghentikan Juumonji. Disusul dengan Toganou dan juga Monta yang juga ikut menghentikannya.

Melihat orang-orang disekitarnya mengganggu, amarah Juumonji kembali meledak.

"URUSEE! MENJAUHLAH DARIKU!" bentak Juumonji, mendorong temannya menjauh darinya hingga dibuatnya jatuh terduduk. Ia kembali mencengkram Mizuna dan menatap mata Mizuna dengan lurus. "Cepat katakan kemana Suzuna pergi!"

Sejujurnya saat ditatap langsung seperti itu—apalagi dengan nada suara yang membentak—Mizuna ingin menangis. Tapi saat ia memberanikan diri untuk menatap balik Juumonji, ada sesuatu yang membuatnya kaget. Ia bisa melihat dari pancaran mata laki-laki ini rasa amarah, sedikit ketakutan, panik dan pure kekhawatiran. Ia menyadari kebodohannya karena diam saja dan tidak langsung memberitahu secepatnya.

"Su…suzuna pergi dengan menggunakan shinkansen berwarna merah dengan rute line berwarna sama." Balas Mizuna gugup, sedikit ketakutan. "Tapi aku tidak tahu dia akan pergi kemana."

'Shinkansen?' Juumonji berpikir keras. Ia tidak punya petunjuk sama sekali gadis itu pergi kemana. 'Berpikir nanti saja! Aku harus mencari Suzuna sekarang!'

Dengan cepat Juumonji segera berlari keluar dari house club Deimon. Meninggalkan orang-orang dibelakangnya terkaget-kaget.

"Minna! Aku pergi dulu!" teriak Juumonji sambil berlari. Ia segera berlari menuju ke araah stasiun kereta Deimon.

"OI! MATTE YO, JUUMONJI!" teriak Monta. Namun Juumonji tidak menghiraukannya dan terus berlari walaupun udara diri mulai menyelinap melalui jaket yang dipakainya.

'Matte yo, Suzuna!' ujar Juumonji dalam hatinya. 'Aku akan minta maaf padamu, Suzu!'

.

.

"Minna! Ayo cepat susul Juumonji!" teriak Monta pada semuanya. Semua yang ada di house club mengangguk setuju. "Kita juga harus ikut mencari Suzuna! Takahashi, kau sebagai guide kami berangkat duluan. Kami akan mengikutimu dari belakang!"

"Haik!" balas Mizuna patuh.

"Ayo semuanya, keluar." Ujar Monta saat sudah berada di luar. "Takahashi, kau sudah mengunci pintu klub?"

"Sudah Monta-san. Ayo kita berangkat!"

"Baiklah semuanya, ayo kita pergi!"

"OUU!"

.

Di masing-masing hati tiap anggota klub Deimon, hati mereka menyerukan suara yang sama.

'Tunggu lah aku/kami, Suzuna.'

.

.

.

.

[Tsudzuku]


Ya! Chapter kali ini kembali dengan end yang menggantung~

Memang, di chapter kali ini penggunaan bahasa Jepang sedikit di perbanyak dan difokuskan pada kejadian yang sudah berlalu. Atashi harap ini semua tidak mengganggu anata-tachi ^^

Mungkin arti dari tiap kata dalam bahasa Jepang tidak perlu disisipkan ya? Kata-katanya kan tidak begitu berat dan atashi yakin, readers pasti mengerti artinya.

Dan sebagai penutup…

Maaf kalau banyak typo, misstype atapun penggunaan bahasa asing yang salah. Mohon koreksiannya dan sarannya.

SELAMAT TAHUN BARU 2013! Semoga di tahun 2013 kita bisa lebih baik dibanding di tahun 2012 :)

Jaa mata ne! ;)

Salam VocaVoca~ xD

Akii-chan—yang lagi kambuh Vocaloid—out!