Saya kembali di chapter 3

Nah di chap ini udah kelihatan masalahnya….. tapi g terlalu bagus gpp ya *puppy eyes no jutsu* tapi baru kelihatan, disini ada humornya, tapi sedikit, sedikiiiiitttttt doang.

Segera siapkan ember atau plastic, karena kalian akan muntah2 membaca fic saya

Semakin saya mempublis fic, semakin pula kalian semua mual-mual *lebay.

Oh ya, sebelumnya terima kasih buat yg udah review. Aku senang kalian masih ingin membaca dan meriviewnya ^^

Thanks: Barbara123,NaruSaku LuffyNami IchiRaku, Sabaku Tema-chan, Masahiro 'night' Seiran, Rinzu15 The 4th Espada, Thia2rh, Namikaze Meily Chan, Uchiha Sakura97, Lavine-chan

Yosh selamat membaca...

Warning : AU, OOC, TYPO, ABAL, GAJE, ALAY, PLUS LEBAY.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

(DON'T LIKE DON'T READ)

HAPPY READING!

Sakura mendekatkan dirinya pada Naruto. Dia sama sekali tidak menggubris perkataan Naruto.

Sampai pada akhirnya…

"SAKURA-CHAN.."

Sebuah teriakan yang berasal dari pantai membuat Sakura dan Naruto menengok ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Sakura saat melihat neneknya meneriakinya, astaga kenapa Sakura tidak terasa kalau sekarang kapal yang dia naiki bersama Naruto sudah sampai di pinggiran pantai. Lalu kejadian tadi? Apa kejadian tadi, saat Sakura berniat ingin menempelkan bibirnya pada Naruto di ketahui oleh neneknya.

Sekarang bisa di lihat, wajah cantik Sakura kini terlihat pucat pasai. "Sakura-chan, siapa dia?" Naruto masih bingung dengan wanita tua yang tadi meneriaki Sakura.

"SAKURA APA YANG KAU LAKUKAN?" Tsunade lagi-lagi berteriak.

Sakura yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, langsung turun dari perahunya dan menghampiri neneknya. Di ikuti Naruto yang berada di belakangnya.

"Ne-nenek a-a-aku,"

PLAKK

Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi putih Sakura.

"Hei apa yang kau lakukan pada Sakura-"

"Naruto, kumohon diam" Sakura mulai terisak. Seandainya saja dia tidak menerima ajakan Naruto atau mendekatkan dirinya pada Naruto, semuanya tidak akan terjadi.

"Sekarang juga kau kembali ke rumah." Tsunade mulai geram. Dia tidak bisa menahan emosinya, tapi dia juga tidak bisa memarahi cucu satu-satunya yang dia miliki.

"Ba-baik… Sampai jumpa lagi Naruto" ucap Sakura lirih, dia tidak bisa menahan tangisannya. Dia berlari menuju rumahnya dan di rumahnya lah tangisannya pecah.

'kenapa? Kenapa sejak kepergian ibu semuanya berubah?' Sakura meringkuk di tempat tidurnya.

.

.

.

Kesunyian terjadi di antara Naruto dengan Tsunade.

"Apa yang kau lakukan pada Sakura?" Tsunade mulai membuka suara.

"A-aku tidak melakukan apa-apa padanya," Naruto sebenarnya bingung mengapa orang ini mengenal Sakura dan.. kenapa orang ini menyuruh Sakura untuk pulang tadi, sebenarnya siapa dia?

"Jangan pernah bohong padaku nak"

"tu-tunggu, sebenarnya kau siapa?"

Tsunade menghela nafas panjang, "aku nenek dari Sakura. Dan untuk terakhir kalinya aku memperingatkan kau agar tidak mendekatkan dirimu pada Sakura. Mengerti anak muda"

Naruto terkejut. Ternyata wanita yang memarahi Sakura tadi adalah nenek Sakura.

"Ta-tapi…"

"SEKARANG JUGA KAU PERGI DARI PANTAI INI," Tsunade berteriak sampai warga yang mengunjungi pantai tersebut, menengok kearah sumber suara.

Naruto tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Dia pergi dari pantai tersebut.

Tsunade hanya bisa melihat punggung anak mudah yang tadi dia marah-marahi.

"Sakura, aku tidak ingin kau seperti ibumu," bisik Tsunade lirih pada dirinya sendiri.

Tsunade berjalan gontai menuju rumahnya. Hari ini sungguh banyak sekali masalah yang bedatangan padanya.

"Sakura-chan?" Tsunade yang sudah tiba di rumah langsung memanggil Sakura.

"…"

"Sakura-chan?"

"Sakura buka pintunya,"

Sakura's POV

Aku bisa mendengar suara nenek yang sedari tadi memanggilku dari luar. Aku malas untuk membuka pintu, akan kubiarkan nenekku terus berteriak di luar sana. Aku tidak peduli, sungguh aku tidak ingin hidup seperti ini lagi.

JELEGEEERRRRR..

Hujan turun tiba-tiba membuat aku yang sedang meratapi kesedihanku, menjadi bertambah sedih. Apakah hujan menangis untukku? Aku tidak tahu, tapi ku yakin iya.

"Sakura, kumohon buka pintunya, atau ku rusakkan pintu kamarmu ini," nenekku sudah tidak tahan dengan perilaku ku. Gunung ego yang tadinya tidak aktif, sekarang malah sudah hampir meledak.

Aku tetap saja tidak menjawab, dan pada akhirnya ..

BRAAAKKKK..

Sudah kuduga pasti nenekku akan mengahancurkan pintuku untuk yang ke tiga ratus Sembilan puluh delapan kalinya.

Aku tidak peduli nenekku mau memarahiku atau tidak, aku ingin kehidupanku menjadi seperti dulu lagi.

"Sakura-chan kenapa kau tidak membukakan pintu untuk nenek?" nenek memarahiku, aku tetap tidak menggubris.

Suasana menjadi hening. Hanya hujan, kilat petir yang menggema di kamarku.

"…"

"…"

"Apa yang kau lakukan tadi diperahu tadi?"nenekku membuka suara.

Aku diam. Sebenarnya aku bingung ingin menjawab apa, karena aku terbawa suasana tadi. Aku seperti mati rasa sekarang, aku seperti orang bisu yang hanya bisa mendengar, tapi tak menjawabnya.

"JAWAB NENEK SAKURA-CHAN" nenek menggebrak meja belajarku yang terletak pas sebelah tempat tidurku.

"A-aku.." mulutku terasa terkunci.

"Aku.. Aku hanya-hanya.. Hanya ingin dekat dengannya," aku akhirnya menjawab dengan sedikit kebohongan. Aku tak berani menatap mata nenekku yang sudah memerah itu, karena menahan amarah.

"Alasan yang tidak masuk akal. Sudah nenek katakan jangan pernah berjalan dengan orang asing, tapi kau membantah kata-kata nenek."

"…"

"Kenapa? kenapa Sakura-chan?"

TEESSSS…

Air mata turun dari mata nenekku. Terkejutkah aku? Tentu saja, selama ini aku hidup bersama nenek, baru kali ini aku melihat nenek menangis lagi hanya karena aku. Terakhir aku melihat nenek menangis saat ibuku meninggal, tapi itu sudah lama sekali. Mungkin ada lima belas tahun yang lalu.

Aku semakin merasa bersalah pada nenek, tapi apa daya, aku ingin dekat dengan Naruto. Ia lah yang selama ini menemaniku di kesendirianku, ia yang menerangkan hidupku, ia laki-laki pertama yang pernah memelukku dan membuat jantungku berdetak kencang.

Kami-sama, kumohon kembalikan kehidupanku seperti dulu,

"Kau tak di ijinkan keluar rumah selama seminggu Sakura-chan, dan juga.. Kau tak boleh bertemu Narutomu itu." Nenek bergegas keluar dari kamarku.

Apa? Aku tak boleh keluar rumah? Dan tak boleh bertemu Naruto?

Sedih, bertambah sedihlah aku. Bagaimana bisa aku tidak boleh bertemu Naruto lagi, sedangakan sekarang aku membutuhkannya. Kumohon itu bukan salah Naruto, itu salahku.

"Hiikkss…"

Normal POV

Naruto yang baru saja sampai dirumah, langsung menuju kamarnya. Naruto melemparkan dirinya di tempat tidur yang berukuran besar itu.

Dia meremas bantal yang ada di sebelahnya. "Bodoh" ucapan Naruto menggema dikamarnya.

"Baka Naruto,"

"Kenapa? Kenapa Sakura-chan tidak pernah mengatakan soal neneknya?"

"Jika, Sakura-chan menceritakan soal neneknya, aku tidak akan mengantar dia pulang"

Naruto sebenarnya tidak tau harus menyalahkan siapa? Apa Sakura, dirinya, atau nenek Sakura yang telah membuat Sakura menangis.

Sebenarnya Naruto punya alasan mengapa dia ingin mengantarkan Sakura.

Tapi kenapa dia dan Sakura malah mendapatkan masalah?

Naruto bangkit dari tidurnya. Menatap keluar jendela yang berada dekat dengan tempat tidurnya. Diam-diam-diam. Sebuah ide keluar dari kepala Naruto.

"Aku akan ke pantai itu lagi untuk bertemu Sakura-chan nanti malam. Semoga dia ada disana."

Senyum manis dan pahit *?* keluar dari mulut Naruto. Dia tak menyangka jika ide itu akan muncul dari otaknya, tapi seorang Uzumaki Naruto tidak akan memakan omongannya sendiri.

.

.

Hari mulai semakin gelap. Sang surya sudah menyembunyikan dirinya di belahan bumi. Sekarang saatnya tiba, Naruto sudah siap-siap menuju pantai.

"Naru-chan, mau kemana?" suara lembut dari sang ibu membuat Naruto menoleh ke arah.

"Aku ingin mencari angin." Ucap Naruto santai.

"Oh ya sudah, tapi jangan lupa besok ya,"

"Iya kaa-san, aku pergi dulu."

Naruto keluar rumah dengan selamat, pembohongan terhadap ibu tersayangnya berjalan dengan sukses.

Naruto berlari menuju pantai, "Sakura-chan semoga kau ada disana." Senyum tipis tersungging di bibir Naruto.

SKIP TIME~

PANTAI

Naruto sudah sampai dipantai, tapi entah mengapa dia tidak berfikir ingin pergi ke batu besar itu. Angin membawa pikiran Naruto untuk segera menuju ke dermaga yang ada di depannya.

Ia mengikuti pikirannya. Saat sampai didermaga, dia melihat, melihat sosok gadis yang ia ingin temui sedang berdiri memandang laut di dermaga itu. Bagaimana bisa?

Naruto tidak ingin memikirkan bagaimana bisa ia bertemu Sakura, dia langsung menghambur ke Sakura dan memeluknya dari belakang. Sepertinya yang di peluk sudah mengetahui kalau itu Naruto. Sakura tersenyum sekilas saat Naruto memeluknya.

"Aku… merindukanmu.. Naruto,"

"Sakura-chan.." Naruto terus memeluk Sakura, tak ingin salah satu dari mereka untuk melepaskan atau di lepaskan pelukan itu.

Hangat, walau sekarang angin laut begitu kencang, tapi tak membuat mereka merasa kedinginan.

"Sakura-chan, ada yang ingin ku sampaikan padamu," Naruto melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Sakura.

Emerald Sakura langsung bertemu dengan shappire Naruto. "Ada apa?"

Naruto merogoh kantung celananya mengeluarkan sesuatu yang dia bicrakan dulu saat pertama kali bertemu Sakura.

"Na-Naruto, i-itu,"

"Ya Sakura-chan bisa kau lihat cincin ini," Naruto memberikan cincin itu pada Sakura. Yang diberi cincin itu melotot melihat warna cincin tersebut. "a-apa ini? Cincin ini sama dengan punyaku."

"Warnanya sama dengan matamu Sakura-chan" tatapan lembut Naruto membuat wajah Sakura merah padam.

"Jadi kau juga punya cincin sepertiku?"

"Ya, tapi milikmu berwarna seprti mataku kan Sakura-chan!"

Kami-sama apa benar mitos itu? Apa sekarang pendamping hidupku adalah seseorang yang berada di depanku ini?

"Apa kau akan, mengatakan kalau mitos ini konyol Sakura-chan?"

"A-aku.."

"Aku percaya akan hal ini Sakura-chan, karena orang tuaku juga mengatakan hal yang sama dengan ibumu Sakura-chan,"

Mata Sakura yang sedari tadi melebar, tambah lebar lah mata Sakura. Apa pendengaran dan penglihatan Sakura sedang terganggu untuk saat ini.

"…"

"Jika kau memang pendamping hidupku kelak. Apa kah kau mau Sakura-chan?" Naruto tegang. Bisa dilihat sekarang muka Naruto lebih merah di banding rambut ibunya, Uzumaki Kushina.

"Aku.. Apa mungkin Naruto. Maksudku, apa mitos itu benar?" Sakura mungkin sekarang senang, tapi kenapa dia sama sekali tidak bisa menjawab 'ya' saat Naruto mungkin ingin melamarnya (yang bener ntar boong lagi *plakkk)

"Mungkin aku kurang percaya Sakura-chan, tapi dulu sebelum ibumu dan orang tuaku yang mengatakannya."

"A-apa?" bagus sekarang rasa kaget Sakura bertambah.

"Dulu tou-san yang mengatakan akan hal ini, tapi aku tak percaya. Dan saat Sakura-chan bilang kalau ibumu mengatakan hal yang sama dengan tou-sanku. Malam harinya kaa-sanku mengatakannya lagi."

Naruto hanya tersenyum lembut. Lalu Naruto menggenggam tangan Sakura dan membelai rambut panjang yang berwarna pink itu.

"Walau mungkin mitos itu tidak ada, aku akan tetap menjadi pendamping hidupmu Sakura-chan"

Sakura hanya diam membisu, ku mohon Naruto kau membuatku semakin menginginkanmu. Iner Sakura mulai ikut-ikut berbicara.

"Aku.. mencintaimu Sakura-chan untuk terakhirnya aku mengatakan ini."

TEESSSS..

Air mata Sakura mulai menetes. Bahagiakah Sakura! Tentu saja, tapi ada yang mengganjal di kata-kata Naruto 'apa maksudnya? Untuk terakhirnya?'

"Naruto, apa maksudnya terakhir?"

Raut wajah Naruto berubah 360 derajat. Wajahnya berubah menjadi sedih, serius, hampa, nanar dan sebagainya.

"Sakura-chan." Naruto mendekatkan wajahnya pada Sakura. Memegang dagunya.

"Aa-pa yang kau lakukan,Naruto?" muka Sakura memerah. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Jantung berdegup cepat.

"Kumohon Sakura untuk yang terakhir,"

"Apa maksudnya yang terak- hmmp.." Belum Sakura melanjutkan kata-katanya, bibir Sakura sudah terkunci dengan bibir Naruto.

Naruto memeluk pinggang Sakura dengan erat, supaya Sakura lebih dekat dengannya. Sakura yang sekarang bibirnya di cumbu oleh Naruto dengan refleks melinkarkan tangannya di sekitar leher Naruto.

"Maaf Sakura-chan,"ucap Naruto di sela-sela ciumannya.

Naruto melepas ciumannya. Sekarang muka Naruto sudah lebih merah dari muka Sakura.

"Aku… harus pergi," ucap Naruto lirih.

"Maksudmu?" Sakura menatap heran ke Naruto. Apa yang terjadi?

"Aku harus melanjutkan kuliahku ke tokyo selama dua tahun."

"A-APA?"

Hanya kau

Kau datang dan pergi secara tiba-tiba

Kau telang mengisi kekosongan yang ada di hatiku

Dan sekarang kau pergi meninggalkan sejuta kenangan di hatiku

Fin (plakk, duk doweng*?*)

TBC

Maaf tambah gaje…

Tsunade OOC banget *lirik2. Dan maaf updatenya lama, karena kesenengan liat video naruto ova 6 ^^

Aku suka bngd… sekarang banyak hint tentang NS.

Oh ya aku lupa. Kenapa Sakura bisa keluar rumah? Karena otak Sakura encer jadi hanya aku dan sakura yang tau *ditimpuk*

Heheh….. kalo mau tau apa alasannya, dari message aja ya aku males ngmng disini wkwkwk -_-.

Oke sekarang saatnya

R

E

V

I

E

W