Chapter 4

Thanks for: Namikaze YuYu-Kun, Rinzu15 the 4th Espada, Thia2rh, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, Masahiro 'Night' Seiran, Hero Comes Back, Bernatgokill ^^

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: AU, OOC, TYPO, SAD ENDING? BAD ENDING? HAPPY ENDING? I DON'T KNOW, DON'T LIKE DON'T READ

HAPPY READING^^

.

.

.

Naruto merenung menatap keluar jendela mobil, kini saatnya dia pergi meninggalkan desa Konoha menuju kota metrapolitan Tokyo. Ya pilihannya adalah Universitas Todai, Universitas ternama di Tokyo.

Ia tak percaya bahwa meninggalkan desa kelahirannya juga...Sakura, adalah beban yang sangat berat ah bukan sangat berat bahkan. Sejak semalam-tepatnya kemarin-ia terus menerus-menerus mengingatnya, kejadian yang harus membuat dia menampar dalam hati dirinya. Bagaimana ia tak kesal pada dirinya sendiri? Ia bahkan hanya bisa menatap bola mata itu.

'Bodoh' tentu hanya itu yang bisa ia umpat dalam hati. Dasar bodoh mengapa kau hanya bisa memeluknya hah?


"Maafkan aku Sakura-chan.."

Wanita berambut pink di pelukan Naruto masih terus menangis, kini bertambahlah masalahnya.

Ibu tak ada, nenek berubah lebih pesimis dan sekarang orang yang mulai ia sayangi meninggalkannya dan memberikan kenangan terakhir yang buruk.

"Sakura-chan.." Naruto bergeming kembali, mempererat pelukannya mencium aroma Sakura melalui ujung rambutnya. Tanpa sadar air matanya ikut mengalir, 'Berhentilah menangis Naruto baka!'

Sakura yang masih menangis merasakan tetesan air di kepalanya, apa Naruto menangis? Ia tak ingin sendiri, ia ingin Naruto ada disampingnya menemani di dermaga yang sepi ini.

"Na-ruto, jangan pergi,"

"…"

"Aku tak mau,"

Naruto merasa ingin melepaskan pelukannya sekarang dan berlari sekencang-kencangnya menuju rumah dan memutuskan urat nadinya agar kejadian seperti ini tak bisa ia ingat lagi, tapi apakah dirinya harus melakukannya?

Naruto mengusap pelan rambut Sakura. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan mengambil cincin berwarna shappire blue dari tangan Sakura, "Sakura-chan berikan tanganmu."

Sakura menatap bingung perlakuan Naruto, ia mengusap sisa air matanya dan memberikan tangan kananya pada Naruto.

"Aku ingin kau menjaganya." Ucap Naruto seraya memakaikannya di jari manis Sakura.

"Aku tak ingin benda kecil berkilauan ini hilang." Naruto menggenggam tangan Sakura, mempermainkan jari-jarinya yang lentik.

Sakura menatap pria dihadapannya. Walau saat ini ia yakin air matanya akan mengalir kembali, tetapi di baliknya ia merasakan kehangatan tubuh Naruto yang menjalar kedalam tubuhnya.

Sakura tersenyum, "Aku juga ingin kau menjaga ini," Sakura meletakkan cincin berwarna emerald di tangan besar Naruto. Ia mengakui walau cincin-cincin tersebut milik mereka masing-masing paling tidak ia bisa mengingat sesamanya saat melihat cincin tersebut, warnanya sama seperti apa yang mereka miliki sekarang.

Sakura menjauhkan badannya pada Naruto ia membalikkan badannya menghadap batu besar di tengah-tengah laut tersebut. Cahaya rembulan seaka-seakan membantu penglihatannya untuk melihat batu tersebut.

"Naruto..."

"Sakura-ch..."

"Aku mencintaimu."

~0~

Pukul 08.00

Matahari sudah terlihat sangat jelas saat cahayanya memaksa masuk kedalam kaca mobil Naruto. Ia hanya menatap keluar jendela, melihat orang-orang mulai mengerjakan aktivitasnya dipagi ini.

"Selalu macet disini!"

Naruto menatap ayahnya yang berdecak malas menatap kemacetan di hadapannya. "Untung kita berangkat pagi ya, Minato." Kushina menyodorkan segelas air putih pada Minato mengisyaratkan supaya lebih bersabar menghadapi banyaknya mobil yang berhenti.

'Ya untung...' Naruto meringis pelan, ibu benar sangat untung berangkat pagi buta sehingga membiarkan anak satu-satunya berangkat dengan kantung mata yang tebal. Ia kembali menatap keluar jendela, kini mobilnya melintas melewati pantai Konoha. Naruto melihat sekeliling berharap seseorang yang ia rindukan terlihat di kerumunan orang-orang itu.

"Naru-ch... hei mau kemana!"

Kushina berteriak kencang saat melihat Naruto keluar dari mobil dan berlari menuju pantai. Saat itu juga Kushina keluar membiarkan Minato memarkirkan mobilnya di parkiran pantai.

"Sakura-chan,"

Ia menggenggam tangan mungil itu dengan helaian rambut pink yang menerpa halus di wajahnya.

"Ternyata mataku benar,"


Sakura menatap kerumunan orang yang mulai memenuhi pantai Konoha. Angin menerpa pelan di wajahnya, membiarkan kakinya terendam dalam pasir putih halus. Sakura menghembusakan nafas pelan, ia harus menerima kepergian Naruto mau menangis sampai kapanpun tak akan membuatnya kembali menarik kata-katanya.

Ia sudah pergi mencari kehidupan baru di Tokyo. Seandainya ia di boelhkan kuliah dulu.

"Ternyata mataku benar,"

Sakura menengok cepat, suara itu? tangan ini.

Cengiran khas Naruto membuat Sakura mati kutu diam dengan meta melebar. Tunggu, matanya tak salahkan? I-ini Naruto. "Hai Sakura-chan."

Tanpa pikir panjang Sakura langsung menghambur kepelukan Naruto, marasakan hangatnya tubuh hangatnya. Betapa ia tak ingin pergi ditinggalkan laki-laki ini, sungguh demi Kami-sama ia tak ingin.

Naruto membalas pelukan hangat Sakura dengan erat, ia tak percaya harus keluar dari mobil secara tiba-tiba saat melihat Sakura di pinggir pantai. Ia tersenyum membelai rambut Sakura.

"Naru-chan,"

Naruto melepas pelukannya dan melihat Kushina dan Minato berdiri menatapnya. "Ibu a-ayah, aku tak ingin pergi."

"Tapi Naru-chan kesempatanmu untuk menjadi photographer akan..." Kushina menghentikan kata-katanya saat tangan besar memegang bahunya. Minato tersenyum mengisyaratkan Kushina untuk membiarkan dirinya ambil alih bicara.

"Naruto boleh kami tau siapa dia?"

Sakura yang sedari tadi menegang kini membungkukkan badannya, "saya Haruno Sakura."

"Sakura ya,"

Sakura membiarkan tangannya tetap berada di genggaman Naruto, hangat hanya itu yang ia rasakan. Minato nampak berfikir, "boleh kami tau dimana rumahmu?"

Sakura kembali menegang, ia menatap Minato dan Kushina secara bergantian sebelum akhirnya mengajak mereka kerumah kecilnya di pinggir dermaga. Apa yang ingin Minato dan Kushina lakukan? Keringat bercucuran di pelipis Naruto.

.

.

.

Tsunade mentap kedua orang tua Naruto secara bergantian, ia menghela nafas pelan menjelaskan apa yang terjadi antara Naruto dan Sakura. Ia sebenarnya tak benci pada Naruto, hanya saja kejadian yang menimpa ibu Sakura membuatnya shock dan harus berfikir keras untuk menjaga cucu satu-satunya.

"Aku mengerti, tapi anak kami tak seperti yang kau kira,"

Kushina menghela nafas berat. Sebenarnya ia tau apa alasan Minato mengajaknya kemari. Kushina memang lihat Sakura, mata itu sama seperti cincin Naruto mungkinkah mitos itu?

"Jadi Naruto akan pergi ke Tokyo?" Tsunade benar-benar merasa bersalah telah memisahkan kedua remaja yang sedang jatuh cinta itu, tapi ia juga tak bisa seenaknya aja.

Minato mengangguk matanya beralih pada Naruto dan Sakura yang sedang menunduk menyimpan kesedihan, "Aku tak tau harus berbuat apa, tapi biarkan..."

"Aku akan tetap membawa Naruto ke Tokyo." Minato bangkit memotong pembicaraan Tsunade. Naruto melebarkan matanya, tunggu ia berfikir akan membiarkan ia dan Sakura...

Kushina membungkukkan badannya dan mengikuti Minato keluar rumah Sakura diikuti Naruto yang berjalan gontai di belakangnya, "Sakura-chan aku akan tetap mencintaimu, tunggu aku kembali... aku berjanji,"

Air mengalir kembali di kedua mata Sakura, ia menutup mulutnya menahan isakan yang tertahan. Rasanya sakit ia mencengkram bajunya pelan melihat mobil Naruto yang melaju dengan cepat meninggalkan pantai.

Sakura terjatuh duduk. Air pantai dengan tenang mengenai sebagian kakinya yang terduduk lemas. Ia menunduk air matanya jatuh ke pasir, Sakura melihat untuk kedua kalinya cincin yang ia kenakkan.

'Ini terjadi lagi,'

Sampai jumpa Naruto.

OWARI? JUST TBC :D

Yap akhirnya update juga hanya kau chap 4, ini fic udah berapa tahun ya? Karena author lagi berbaik hati jadi Author akan tetap melanjutkan. Mind to comment? So would do you like, sad ending or happy ending?

Saya akan membuat ending dengan keputusan para readers^^ agar kalian puas dengan cerita buatan saya, tentu saya butuh inspirasi dari kalian juga.

Ok mau kah kalian beri imajinasi kalian atau mereview cerita ini? Kutunggu ya.

Salam: Lee Dong Jae

V

V

V