Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei, judulnya itu lagunya TVXQ ^^. Ada yang tau?:3

Genre : Romace and Hurt/Comfort

Chara : Ita-chan *sok SKSD* dan Ino-chan

Last Chapter. YAAY!

Enjoy the story aja deh.


FLOWER LADY

~Last : Home~

Pria berambut pirang pucat yang diikat ponytail itu berjalan dalam langkah yang lambat. Tampak jelas kalau ia tidak begitu bersemangat. Tapi mau tidak mau, ia harus datang ke tempat ini, ke gedung Hokage. Bagaimanapun, ia tidak mungkin lagi mengabaikan panggilan Hokage yang sudah dengan sengaja mengirim beberapa ANBU ke rumahnya.

Begitu melihat sebuah pintu kayu berdiri kokoh di hadapannya, pria itu pun mendesah. Sebetulnya, ia merasa enggan untuk masuk. Sempat terbersit dalam benaknya untuk berbalik dan kembali ke rumahnya. Tapi dua ANBU di sampingnya terus saja memasang mata padanya hingga ia menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu. Kedua ANBU itu baru menghilang begitu ia membuka pintu di hadapannya dan masuk. Tentunya, setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan tersebut.

"Akhirnya kau menanggapi panggilanku, Inoichi-san," ujar seorang wanita yang dikuncir dua dengan tanda berbentuk prisma kebiruan di dahinya.

"Bukankah Anda yang mengatur agar aku tidak bisa lagi mengabaikan panggilan Anda, Hokage-sama?" jawab Inoichi datar. Tatapannya kini tidak lagi mengarah pada sang Hokage melainkan pada lantai dengan motif kotak sederhana.

Godaime Hokage itu sesaat mengamati pria di hadapannya sebelum ia berkata. "Langsung saja kukatakan. Aku, kami, membutuhkan bantuanmu untuk menjadi kepala divisi Intelligence!"

Seketika itu juga, Inoichi mengangkat kepalanya, menatap Hokage dengan pandangan nanar. Dengan dingin, Inoichi kemudian berkata, "Aku menolak. Sekarang izinkan aku untuk undur diri, Hokage-sama."

"Yamanaka Inoichi," seru Hokage sambil berdiri dari tempat duduknya dengan kedua telapak tangan yang menempel di meja kerjanya. "Ini sudah sebulan lebih, apa kau tidak bisa juga pulih dari rasa kehilanganmu?"

Inoichi yang sedari tadi sudah berbalik, siap meninggalkan ruangan Hokage, akhirnya hanya bisa berdiri di tempatnya, memunggungi sang petinggi Konohagakure no Sato tersebut. Hokage yang bernama Tsunade itu kemudian menghela napas sebelum ia memijat dahinya.

"Dengar, aku tahu, Ino adalah putrimu satu-satunya. Ia juga adalah salah satu kunoichi berbakat yang dimiliki Konoha. Karena itu, kami juga tidak tinggal diam dan membiarkannya menghilang begitu saja. Aku bahkan sudah memerintahkan beberapa ANBU untuk melacak keberadaannya…"

Inoichi bergeming.

"Memang, sampai sekarang ia belum juga ditemukan, tapi…" Hokage kembali duduk di kursinya dan mengaitkan jari-jarinya untuk ia letakkan di depan mulutnya, "itu tidak menjadi alasan bagimu untuk mengabaikan tugasmu sebagai Shinobi. Apalagi dengan kondisi dimana perang akan segera meledak. Tinggal menunggu waktu…"

"Aku.. tidak peduli," jawab Inoichi tanpa menghadap ke arah Hokage sama sekali.

"Tapi kau harus!" seru Hokage tegas, tangannya kini sudah terlipat di depan dadanya. "Kau tidak mungkin terus menghindar! Atau kau ingin Desa kita ini hancur sebelum Ino ditemukan?"

Inoichi menengok ke arah Tsunade dari sela bahunya.

"Kita harus memenangkan perang ini. Demi keutuhan Konoha, Demi semua Shinobi, demi semua penduduk Desa, juga demi… putrimu!"

Inoichi membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Tsunade kembali.

"Apa Anda berpikir bahwa Ino akan kembali seandainya perang ini bisa kita menangkan?"

Tsunade menatap tajam ke arah Inoichi. Wanita itu kemudian tersenyum sinis.

"Tidakkah kau mau mempertaruhkan kemungkinan tersebut?"

o-o-o-o-o

Di bawah pohon rindang itu, seorang gadis berambut pirang pendek terduduk. Matanya terpejam, tampak seperti tertidur. Wajahnya terlihat tenang dengan beberapa helai rambut terjatuh begitu saja menutupi sebelah matanya.

Beberapa saat telah berlalu, mata gadis itu terbuka secara mendadak. Ia kemudian langsung berdiri, merenggangkan tangannya ke atas, dan memutar pinggangnya sedikit. Setelah itu, ia memandang ke langit biru dimana seekor burung berwarna coklat keemasan tampak terbang berputar-putar sebelum akhirnya burung tersebut menghilang entah ke mana.

Gadis itu tersenyum tipis. Sementara tangannya diangkatnya ke dahi, mencoba melindungi matanya dari terik matahari di siang itu. Cuaca cerah, sangat cerah. Ditambah informasi yang baru saja didapatnya, perasaan gadis itu semakin ringan.

Diambilnya bunga-bunga yang sudah dipetiknya sebelum ia 'tertidur' dan dengan langkah kecil, ia segera bergerak, menghampiri sebuah rumah mungil yang ada di dekatnya. Begitu kakinya menjejak ke dalam rumah sederhana itu, sang gadis berambut pendek langsung menghampiri ruang makan dan meletakkan bunga-bunga di tangannya ke dalam vas di atas meja.

Setelah beberapa detik menata penampilan bunga dalam vas, gadis itu pun segera melangkahkan kakinya ke dalam suatu ruangan. Di ruangan tersebut, terdapat sebuah lemari kecil yang terletak menempel pada dinding berwarna tanah. Selain lemari, dalam ruangan itu hanya ada semacam ranjang kecil. Dan di atas ranjang kecil yang sama sekali tidak mewah itulah, sang gadis bisa menemukan seorang pemuda yang tampak berbaring dengan tenang.

Dengan senyuman, gadis itu melangkah mendekat, sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Setelah berada di dekat ranjang, gadis itu pun duduk bersimpuh. Matanya memandang penuh cinta pada sosok di hadapannya. Tanpa bisa menahan dorongannya lebih lama, gadis itu pun menggerakkan tangannya untuk membelai dahi pemuda di hadapannya. Disibakkannya poni pemuda itu dengan lembut.

Sesaat, ingatan gadis itu melayang, kembali ke sekitar dua bulan yang lalu.

~Flashback~

"Aku? Aku adalah teman kekasihmu. Salam kenal… Yamanaka Ino!"

Ino, gadis berpakaian serba ungu dengan rambut dikuncir kuda itu memandang curiga pada sosok bertopeng oranye di hadapannya. "Teman Itachi?"

Sosok bertopeng itu mengangkat bahunya.

"Aku bahkan bisa mengatakan bahwa kami memiliki hubungan darah."

Mata Ino semakin terbelalak.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ino dengan gestur tubuh yang defensif, berusaha melindungi Itachi yang terbaring tidak berdaya dalam pelukannya.

"Aku?" sosok itu tampak memegang dagunya. "Dalam Akatsuki, aku biasa dipanggil Tobi," jawabnya tegas dan jelas. "Tapi nama asliku adalah… Uchiha… Madara."

Ino menahan napasnya, terkejut. Itu tidak mungkin. Pengakuan pria bertopeng itu tidak seharusnya benar. Ia pasti hanya berbohong. Siapapun tahu, kalau Uchiha Madara sudah tewas dalam pertarungannya melawan Senju Hashirama. Sudah lama, entah kapan. Bahkan sebelum Ino lahir.

"Jangan bercanda! Kau…"

"Kau bisa menanyakannya nanti pada pemuda dalam pelukanmu itu!"

"Apa yang kau… Dia sudah…" Ino semakin mendekap Itachi dengan erat.

"Aku tahu. Dan kurasa kau juga tahu. Kau tidak perlu berusaha menyembunyikan fakta itu dariku."

Ino menggigit bibir bawahnya.

"Tenang saja. Aku di pihak kalian. Selama kalian bersedia melakukan apa yang kuperintahkan pada kalian."

Ino memandang pemuda dalam dekapannya lalu berganti menatap pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu sendiri tampak tengah memandangi Sasuke sebelum ia membalas tatapan Ino.

"Tidak ada waktu lagi. Tim pengejar dari Konoha akan segera sampai di sini."

"Apa maumu?"

"Sederhana," jawab Uchiha Madara sambil melipat tangannya di depan dada. "Aku mau kau dan dia menghilang!"

"Apa?"

"Menghilang, menjauh dari Konoha, menjauh dari Hi no Kuni. Menghilang dari hadapan semua orang yang mengenal kalian!"

Ino mengernyitkan alisnya dan menyipitkan matanya.

"Lalu untuk apa kami melakukan itu? Apa tujuanmu?"

"Kau sudah tahu bukan? Alasan Itachi membunuh semua keluarganya? Dan kurasa, kau juga sudah tahu, semua kebusukan yang ada dalam dunia Shinobi."

Ino tidak tahu harus menjawab apa. Tapi pria itu memang tidak membutuhkan jawaban Ino.

"Aku akan menghancurkan semua! Aku akan membangun dunia Shinobi yang baru di bawah kepemimpinanku!"

"Kau tidak mungkin…"

"Aku tidak butuh pendapatmu," potong Madara tegas. "Sekarang aku hanya butuh kepastian, apa kau akan bisa menuruti perintahku atau tidak!"

"… Kau… memberi kesempatan pada kami…?"

Madara tersenyum simpul di balik topengnya. Tentu saja Ino tidak bisa melihatnya. "Sudah kukatakan bukan? Aku dan Itachi masih mempunyai hubungan darah. Dengan Sasuke juga…" Hening sesaat. "Bedanya… Itachi itu pemuda yang terlalu baik. Tidak cocok untuk hidup dalam dunia Shinobi yang keras!"

"Ya…" lirih Ino sambil memandang Itachi. Jari lentik gadis itu kemudian mendarat di mata Itachi yang terpejam. "Kau benar."

"Jadi? Apa jawabanmu?"

Ino kemudian mengangkat kepalanya, memandang Madara dengan sebuah keputusan yang tergambar di matanya.

"Demi Itachi…"

Setelah itu, tubuh Ino maupun Itachi seolah tersedot ke dalam satu-satunya lubang di topeng yang dikenakan oleh Uchiha Madara. Sosok keduanya pun lenyap. Tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

~End of Flashback~

Keputusan yang dibuatnya saat itulah yang membawa gadis itu – Yamanaka Ino – berada dalam rumah mungil ini sekarang. Di sebuah desa terpencil yang tersembunyi, yang jumlah penduduknya tidak banyak, hanya sekitar 20 orang termasuk dirinya. Desa yang sangat jauh dari peradaban lainnya. Desa yang dipilihkan oleh Uchiha Madara dengan segenap kebaikan hatinya yang tersisa, untuk mereka.

Dan hari itu, sudah hampir dua bulan, ia dan Itachi – sang pemuda yang terbaring di atas ranjang tersebut – tinggal di desa ini. Hidup tenang dan damai sementara desa asal mereka dan beberapa desa Shinobi lainnya tengah berada dalam situasi perang. Perang Dunia Shinobi Keempat.

Meskipun terpisah jauh dari tempat terjadinya perang, Ino sedikit banyak tetap bisa mengintai situasi perang tersebut. Terima kasih kepada jutsu warisan klan-nya. Dan walaupun miris melihat banyak yang terluka akibat perang, Ino tidak dapat berbuat banyak. Ia sudah berjanji tidak akan ikut campur dalam perang tersebut. Janji adalah janji. Lagipula, berkat berpegang teguh pada janji itulah, Ino bisa hidup dalam ketenangan yang selalu diharapkannya.

Benar.

Semuanya karena janji.

Demi dirinya.

Demi Itachi.

Ia bahkan merahasiakan dari pemuda itu bahwa sang adik, Sasuke, sempat dimanfaatkan oleh Madara. Dengan kebohongannya yang mengatakan bahwa Itachi telah tewas, Madara kemudian menguak semua keburukan Konohagakure – termasuk takdir yang dipilihkan oleh desa ninja itu bagi Itachi – sehingga membuat Sasuke berbalik untuk menentang desa kelahirannya tersebut.

Tunggu.

Kebohongan?

Ya. Kebohongan.

Itachi belum tewas. Dia masih hidup, bahkan sampai sekarang.

Lihat?

Tangan putih yang kekar itu kini menggenggam pergelangan tangan Ino.

Senyum, Ino kemudian berkata, "Konnichiwa, Itachi-kun!"

"Ino-chan," jawab Itachi sambil terbangun dari posisi tidurnya. Ia kemudian melepaskan tangan Ino dan menutupi wajahnya sejenak dengan sebelah tangan. "Kau mengagetkanku…"

Ino masih tersenyum. Meskipun kini… senyumnya tidak dapat lagi dilihat oleh pemuda di hadapannya.

Ya, onyx itu telah hilang. Gantinya, kelabu pekat-lah yang mewarnai iris mata penyandang nama Uchiha tersebut. Ironisnya, hilangnya penglihatan Itachi justru menyelamatkan nyawanya. Tepatnya, hilangnya garis darah Sharingan yang selama ini berdiam dalam diri pemuda itulah yang telah mengembalikan kesadarannya ke dunia – di samping pengobatan pertama yang dilakukan tepat waktu oleh Ino.

Sharingan adalah salah satu dari garis darah yang memiliki kekuatan luar biasa. Namun, bagaikan pedang bermata dua, kemampuan bola mata itu juga perlahan-lahan akan menggerogoti tubuh penggunanya saat kemampuan tersebut tereksplor lebih jauh. Seandainya tidak ada dukungan dari Sharingan dengan garis darah yang sama, maka kebutaan adalah resiko yang paling mungkin muncul. Dalam kasus Itachi, karena ia berhasil mengaktifkan Sharingan-nya sampai level tertinggi, maka tubuhnya pun perlahan-lahan tidak kuat lagi menahan efek yang muncul. Organ dalamnya rusak sebagian.

Beruntung, belum sampai hal tersebut terlanjur merenggut nyawanya, Itachi menyerahkan kemampuan bola matanya itu untuk menyempurnakan Sharingan milik Sasuke – hal yang dilakukannya dengan tujuan untuk melindungi adiknya, tapi tanpa sadar, justru hal tersebut malah menyelamatkan nyawanya sendiri.

Lalu, seperti perkataan Madara dalam percakapan mereka sebelumnya, Ino langsung dapat merasakan bahwa daya penglihatan Itachi sudah menghilang. Tepat saat gadis itu berusaha membangunkan pemuda tersebut dengan memberikan pertolongan pertama menggunakan ninjutsu medisnya, ia langsung menyadari apa yang sudah menimpa sang pemuda. Dan walaupun Ino merasa sedih karena Itachi mengalami kebutaan yang tidak mungkin disembuhkan, setidaknya, pemuda yang dicintainya itu tidak sampai meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kelegaan pun seketika menyelimuti Ino. Yah, sebelum Madara datang dan mengkonfrontasi saat itu, tentu saja.

Sekarang, hidup Ino bagaikan di surga. Ia bahagia dengan Itachi. Meskipun sesekali Itachi menanyakan bagaimana keadaannya yang sebenarnya, kenapa mereka bisa berada di sini, bagaimana dengan Sasuke, dan pertanyaan vital lainnya, Ino berhasil membohongi pemuda itu. Tidak, sebetulnya Ino yakin bahwa Itachi tidak semudah itu dibohongi. Pemuda itu hanya berpura-pura bisa dibohongi. Dan itu semua karena jauh di lubuk hati keduanya, mereka memang mengharapkan kedamaian yang dapat mempertahankan kebersamaan mereka.

"Ng? Kau mau ke mana Itachi-kun?" tanya Ino saat ia melihat Itachi sudah turun dari tempat tidurnya, bertumpu dengan kedua kakinya.

Itachi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lembut. Hanya dengan itu, ya, cukup dengan itu, Ino langsung menangkap maksud Itachi.

Ino pun membantu Itachi berjalan meskipun ia tahu pemuda itu tidak terlalu membutuhkannya. Hei, memangnya Ino tidak tahu siapa dia? Dia itu Uchiha Itachi. Sekalipun pemuda itu sudah kehilangan penglihatannya, bukan berarti ia kehilangan kepekaannya bukan?

Bagi mereka yan mengenal Ino, tentu sudah hafal dengan sifat gadis yang satu itu. Semua tingkahnya itu sebenarnya hanyalah akal-akalannya saja supaya bisa memeluk lengan Itachi. Jangan salahkan Ino. Dia sudah terlalu lama memendam perasaannya. Begitu orang yang dikasihinya sudah berada begitu dekat dengan dirinya, tanpa ada penghalang sama sekali, keinginan untuk semakin dan semakin dekat itu tentu saja bertambah besar.

Tanpa terasa, keduanya sudah berada di bagian belakang rumah mungil mereka. Rumah yang menghadap ke arah terbing terjal, rumah dengan pekarangan luas yang ditumbuhi warna warni bunga, layaknya padang bunga di Konoha yang sangat disayangi Ino.

Siapa yang sangka, kini keduanya bisa berada di tempat senyaman ini? Berdua!

Demi Tuhan! Inilah mimpi yang menjadi nyata.

Itachi kemudian mendudukkan dirinya perlahan di lantai kayu dekat tangga yang dapat menghantarkannya ke padang bunga. Ino sendiri menuruni tangga tersebut hingga kakinya menyentuh tanah.

"Ne, Itachi? Kau tidak mau ke sini?"

Itachi tersenyum sambil memejamkan matanya. Ino sendiri sudah berjalan sedikit lebih jauh, memasuki jalan setapak di antara bunga-bunga. Meskipun Itachi tidak bisa melihat, ia bisa membayangkan.

Ino yang berada di padang bunga.

Cantik.

Gadisnya.

"Itachi? Ayolah! Jangan hanya duduk di situ!" ujar Ino sambil meletakkan kedua tangannya di dekat mulut, berusaha agar teriakannya mencapai telinga Itachi.

Itachi hanya menggeleng sambil mengangkat tangannya. Ia sedang tidak ingin ke manapun. Ia hanya ingin duduk di sini, menciumi harumnya semerbak bunga, merasakan angin semilir yang membelai hangat wajahnya, menikmati kedamaian yang selama ini dikhayalkannya.

Inilah yang selalu ia inginkan.

Kedamaian.

Bersama orang-orang yang dicintainya.

Bersama Flower Lady-nya.

Tapi… Itachi juga tidak bisa terus menerus tenggelam dalam mimpi semu ini. Ia tahu, sejak awal, bahwa Ino mati-matian menyembunyikan situasi luar darinya. Ia juga samar-samar mengetahui, siapa yang telah membantu mereka melarikan diri. Namun, yang sangat ingin diketahuinya adalah, bagaimana nasib adik kecilnya?

Ia memang tidak terlalu peduli dengan nasib yang lain. Tapi, adiknya? Adiknya tersayang?

Selain itu, dalam pikirannya, ia juga memikirkan Ino. Ia tahu bahwa Ino masih memiliki ayahnya di Konoha. Tidakkah gadis itu ingin menemui ayahnya barang sekejab?

Dan setelah beberapa waktu berselang, dalam kedamaian dan ketenangan ini, tidakkah ini waktunya bagi mereka untuk kembali dan melihat kenyataan?

Itachi menghela napas berat. Samar-samar, ia masih bisa mendengar teriakan Ino yang memanggil namanya. Dan teriakan itu mendadak berubah menjadi horor saat didengarnya nada melengking yang menandakan tengah terjadi sesuatu pada empunya suara.

"INO?" teriak Itachi yang langsung berdiri dari tempatnya duduk. Ia segera berlari menuju asal suara. Sudah dikatakan sebelumnya bukan? Meskipun kehilangan penglihatannya, Itachi tidaklah kehilangan kepekaannya. Ia juga tidak kehilangan kemampuan dan gerak refleksnya.

Begitu sampai di asal suara, mendadak tangan pria itu terasa ditarik oleh sesuatu hingga kedua lututnya menyentuh tanah yang lembut. Sebelah tangannya yang lain kemudian mati-matian menahan ke tanah. Ah, harusnya Itachi sudah dapat menebak betapa liciknya gadis ini.

Ia pun termakan umpan – karena kekhawatirannya yang berlebihan – hingga berakhir dengan dirinya yang kini tengah mencium gadis itu di tengah-tengah padang bunga. Ciuman yang manis, dengan bunga-bunga yang menjadi latarnya.

"Ino," ujar Itachi lirih setelah bibir mereka terpisah.

"Hmmm…" jawab Ino sambil mengalungkan tangannya ke leher Itachi dengan manja.

"Kau itu…" Itachi sekejab bangun dari posisinya, memaksa Ino yang tadi berbaring di tanah untuk ikut berdiri bersamanya. Andai Itachi bisa melihat, pasti senyum geli dan licik itu tidak luput dari perhatiannya. "Kau sudah membuatku kaget dua kali hari ini."

"Wah? Tapi aku tidak sampai membuatmu terkena serangan jantung kan?"

"Tidak," jawab Itachi sambil melepaskan tangan Ino dari lehernya dan kemudian mengacak-acak rambut Ino yang tidak lagi panjang, sama pendeknya seperti waktu kecilnya dahulu.

Ino terkekeh. "Jujur, kalau aku tidak berteriak seperti itu tadi, kau tidak akan mau ke sini, kan?" ujar Ino sambil memeluk Itachi dengan manja.

Itachi hanya tersenyum kecil. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan hari-harinya yang indah dengan Ino. Tapi…

Itachi memegang pundak Ino dan sedikit menjauhkan tubuh gadis itu. "Ino," panggil Itachi dengan keseriusan yang terdengar tidak mengenakkan bagi Ino. Gadis itu bahkan sampai mengernyitkan alisnya, berusaha menduga apa yang hendak dikatakan pemuda itu selanjutnya. "Aku rasa… ini sudah waktunya."

"Sudah waktunya?" jawab Ino sambil berjongkok dan kemudian menciumi harum bunga di dekatnya. Ia mendapat firasat yang kurang baik tapi ia juga tidak mau menghentikan Itachi dari kata-katanya. "Untuk menikah?" kelakar Ino sambil tertawa kecil.

Itachi menengadahkan kepalanya. "Salah satunya ya…"

Ino pun terkejut dan langsung mengalihkan kepalanya ke arah Itachi yang kini sudah tampak melihat ke arahnya. Walaupun, sekali lagi, Itachi tidak benar-benar bisa melihatnya.

"Aku sudah pasti… ya… tidak ada masalah untuk itu," jawab Itachi yang kini terdengar sangat kikuk. "Maksudku… tentu saja aku mau… menikahimu," tambahnya lagi, dengan suara yang lembut dan senyum yang oh-sangat-menawan!

Ino seketika itu langsung berdiri.

"Tapi," ujar Itachi lagi yang sudah merasakan bahwa kini gadis itu sudah tepat berada di depannya. Diulurkannya tangannya untuk menyentuh pipi gadis itu. "Sebelumnya aku ingin kau memberitahuku semuanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana Konoha? Sasuke? Ayahmu?"

Akhirnya hari ini datang juga. Saat-saat yang tidak mungkin lagi menggunakan kebohongan sebagai jalan untuk melarikan diri. Itachi sudah mengungkapkan kebohongannya selama ini. Tidak ada lagi kata-kata 'Semua akan baik-baik saja, Ita-kun. Tapi kau harus tetap di sini sampai status buronanmu dicabut. Sasuke sudah kembali ke Konoha dan sedang mengusahakan pemulihan nama baikmu. Bagaimanapun, kau melakukan pembantaian itu atas perintah bukan?'. Tidak, alasan non-sense macam itu sudah tidak akan berlaku lagi.

Ino menghela napas. Ia kemudian menyingkirkan tangan Itachi dari pipinya sebelum ia menggunakan tangan yang sama untuk menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.

"Kau akan memberitahuku yang sebenarnya bukan? Ino-chan?"

"… Kurasa." Ino menguatkan tekadnya. "Maksudku, ya! Akan kuceritakan semua!"

Ino pun memulai ceritanya. Itachi hanya mendengarkan dengan seksama. Tidak terlihat bahwa ia berniat menyela perkataan gadis itu. Lagipula, bukankah sa iamar-samar sudah bisa menduga apa yang terjadi? Tidak ada alasan untuk melancarkan protes ataupun menunjukkan keterkejutannya.

"Dan tadi, aku baru saja melihatnya," ujar Ino, nyaris mengakhiri ceritanya, "melalui tubuh dan mata elang, bahwa perang itu baru saja berakhir."

Itachi tetap terdiam. Ino memejamkan matanya dan kemudian tersenyum.

"Sasuke, Otouto-chan-mu, tentu ia baik-baik saja. Walaupun kurasa, ia akan mendapatkan hukuman-entah-apa dari Hokage akibat perbuatannya membelot pada Konoha. Dan kalaupun ada korban… Yah, kurasa kau bisa menduga siapa saja yang menjadi korban akibat perang ini, bukan?"

Akhirnya, kepala pemuda itu pun mengangguk perlahan.

"Konoha memang sedikit hancur, tapi… aku yakin, tidak butuh waktu lama bagi desa itu untuk segera pulih dari kekacauan…"

Itachi kemudian menangkap tangan Ino dan menggenggamnya. Ino memandang Itachi dengan tatapan seolah ia tidak mengerti apa yang hendak dilakukan pemuda itu. Dan memang, di luar dugaan Ino, Itachi malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Suara berat pemuda itu kemudian menyusup ke dalam telinga Ino, membuat gadis itu memejamkan mata karena sensasi aneh yang dirasakannya.

"Ayo… kita kembali? Pulang ke Konoha, menemui semua orang…"

Ino terkesiap.

"Tapi!" Ino mendorong tubuh Itachi. "Bagaimana kalau para petinggi Konoha itu malah…" Ino menelan ludahnya sejenak. "Malah memberikan hukuman berat padamu? Mereka…"

Senyum justru terlihat di wajah Itachi. "Mereka tidak sejahat itu, kau tahu?"

Ino ragu-ragu.

Itachi kemudian menelusupkan tangannya ke belakang kepala Ino, mendorongnya mendekat, dan kemudian mengecup dahi Ino.

"Apa yang kau khawatirkan, Ino-chan?"

"Huh?"

"Bukankah semua akan baik-baik saja?" Itachi mengatakan hal itu dengan mengarahkan Ino pada kebohongan yang selalu dikatakan oleh gadis itu.

"Y-yah…"

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ujar Itachi tenang sambil memejamkan matanya. Kepalanya kemudian diangkatnya sedikit, membiarkan wajahnya diterpa angin hangat yang membawa serta harum bunga bersamanya. "Selama kita bersama…"

Mendadak, Ino semakin mendekatkan dirinya ke arah Itachi. Ia pun menarik baju Itachi untuk membuat pemuda itu sedikit menunduk. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Ino berjinjit dan kemudian mengecup bibir Itachi sekilas.

"Kalau itu memang keputusanmu… Aku akan ikut." Ino tersenyum sambil membelai pipi Itachi. "Bukankah sudah kukatakan padamu, akan kuikuti kau ke mana pun kau pergi. Aku akan terus mengejar jejakmu, ke mana pun kau melangkah." Ino terdiam sesaat. "Aku akan selalu bersamamu."

Itachi terdiam.

Gadis di hadapannya…

Gadis yang selalu mengusik mimpinya dengan keindahan fisiknya. Gadis yang selalu meracuni pikirannya dengan wangi semerbak yang memancar dari kekuatan tekadnya.

Ya. Bukankah Ino bagaikan bunga?

Setidaknya, bagi Itachi, demikianlah ia melihat Ino.

Gadis itu bagaikan mahkota bunga yang terkembang dengan indahnya, memanjakan matanya, membuatnya tersenyum dengan tingkahnya yang riang dan apa adanya.

Gadis itu bagaikan daun. Daun hijau yang bermanfaat baginya, memberikan udara kehidupan baginya, membuatnya bisa berdiri di sini sekarang, masih di atas kedua kakinya.

Gadis itu adalah tangkainya, tangkai yang selalu menopangnya. Membuatnya ingin terus berdiri walaupun ia sudah hendak jatuh. Memberikannya alasan untuk tetap tegar agar suatu saat nanti, ia bisa berbalik untuk menopang gadis itu.

Dan tentu saja, gadis itu adalah akar. Sumber dari semua kekuatannya. Sumber dari semua kehidupannya – keinginannya untuk hidup.

Flower Lady.

Ya, tidak berlebihan bukan kalau Itachi menganggapnya demikian?

Dan kini, ia dan sang Gadis Bunga sudah bersiap-siap. Keduanya mempersiapkan fisik dan mental mereka untuk suatu perjalanan.

Perjalanan yang akan mengantarkan mereka kembali. Kembali ke desa yang baru saja mengakhiri perang mereka. Ke desa kelahiran mereka.

Konohagakure.

Baik Itachi maupun Ino tidak ada yang tahu, apakah kepulangan mereka akan memperpanjang mimpi indah atau malah membawa mimpi buruk.

Tapi, selama mereka bersama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?

Dan, ya… Ino telah berjanji. Ia akan mengikuti Itachi sampai ke manapun. Ia tidak akan membiarkan pemuda yang telah berhasil digenggamnya kembali lepas dari tangannya. Apapun atau siapapun, tidak akan menghalangi tekadnya untuk terus berada di dekat pemuda itu. Maut sekalipun.

Ino kemudian memberikan suatu pandangan yang tidak dapat dibalas oleh Itachi karena pemuda itu tengah menoleh ke arah rumah mungilnya untuk terakhir kali. Ino mengikuti arah pandang Itachi sebelum gadis itu kemudian menggenggam tangan Itachi.

"Baiklah kalau begitu…"

Itachi menggerakkan kepalanya ke arah Ino. Ino tersenyum dan semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Itachi.

"Ayo kita pulang!"

**FIN***


AN:

1. This is it. Last chapter of Flower Lady. I'm feeling so… relieved because I've finished this one. Yet, I feel a bit nervous too. To think that whether you all will like it or not. Hahaha.

2. I'd like to give you all, who have read this fic from the beginning, my appreciation. Really, this fic can't go well this far without you all. Thank you very much. Especially, for my nee-chan –el Cierto; for my imouto-chan – Cendy Hoseki, Shana-chan,and Anasasori29-chan; for vaneela-chan who has gimme support from the very beginning, for crazy friend of mine (:P) – Kara Couleurs a.k.a Mimi; for lavender magic and FYLIN who always remind me to update this fic soon, for Ryuka-chan, licob green-chan, Yuzumi Haruka a.k.a ruru-chan, Airi Princess'Darkness AngeL, Nanairo Zoacha, Kikyo Fujikazu who always gimme nice reviews so that i could feel the spirit to update this fic a.s.a.p, for all of you who have read (included silent readers, if there're any. Oh well, i find out one! Black Orchid, ne?XD), who have given me reviews, who have made this fic as your faves, who have alerted this fic, and everyone who always ask for the update of this fic. So sorry i can't mention you all, one by one. But, really, HONTOU NI, ARIGATOU GOZAIMASU! *shed tears and then wipe it soon. ^^v

3. Oh, yes! For your information, as I promised to some people, after finished this one, I'd like to finish 'Game Master' first. Then, I'll make the NejiTen of 'Time : The Reason' and an epilogue for that story. So, for all who have been waiting for those two, I hope you still have (okay, a lil bit more) patience until I updated those :P

4. Last, I hope you still mind to gimme review for this last chapter of 'Flower Lady'. And I really do hope that you're not going to be disappointed of the ending because I think I've done my best to make the best ending for this fic. But if you're not satisfied with the ending, well… I can only say that I'm sorry. Really. DX Well, too much talking. Bad habit of me. Please minna-san, go on and gimme review. Whatever your opinion is, I'll take it gratefully.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~