.

.

SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Moonlight in Onyx

.

.

.

.

.

"K-kamu..."

"Hai."

"I-ini bukan saatnya untuk mengatakan 'hai'. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Hinata dengan gugupnya.

Hinata sungguh tidak percaya dengan keberadaan seseorang yang sekarang ada di hadapannya ini. Tetapi orang yang dikhawatirkannya itu, sepertinya tidak merasakan hal yang sama dengannya.

Hal itu dapat terlihat karena dengan santainya orang itu menyapa dirinya. Apa dia tidak tahu dimana mereka sekarang berada? Hinata langsung mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru taman itu. Memastikan bahwa tidak ada yang mengetahui keberadaan orang itu di kediaman Hyuuga ini.

"Sudah aku bilang 'kan. Bahwa aku akan bertindak lebih cepat dari yang kau duga," jawab orang itu.

"I-iya aku tahu. Tetapi tidak secepat ini 'kan, Sasuke-kun," ucap Hinata.

Ternyata orang yang sekarang bersama dan berbicara dengan Hinata itu adalah Uchiha Sasuke. Pantas saja tadi Hinata langsung menghentikan ayunan tangannya sebelum mencapai wajah orang itu.

"Lalu, kamu kira kapan?" tanya Sasuke.

"Yaa, mu-mungkin satu minggu lagi," jawab Hinata.

"Satu minggu? Itu terlalu lama," sahut Sasuke.

"Me-menurutku sih tidak."

"Itu 'kan menurutmu. Satu minggu sudah banyak memberikan waktu bagi si Rambut Merah itu untuk merebutmu dariku."

"Rambut Merah?" Hinata terlihat sedang berpikir. "Ma-maksudmu Gaara-kun?" tanya Hinata.

"Hn."

"I-itu tidak mungkin. Dia itu kan sahabatku."

Ctak

"Aduh," erang Hinata sambil mengusap-usap dahinya yang baru saja disentil Sasuke.

"Kau itu ya. Selalu saja tidak peka dengan apa yang ada di sekitarmu," ucap Sasuke.

"Ma-maaf."

.

.

.

.

.

Sasuke menatap penampilan gadis Hyuuga yang sekarang ada di hadapannya. Untuk sesaat, dia dibuat terpukau oleh pesona gadis bersurai indigo itu. Karena ini adalah pertama kalinya Sasuke melihat Hinata berdandan seperti ini.

"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" Hinata bingung dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba saja diam seribu bahasa.

"Tidak apa-apa," dusta Sasuke. "Apa kau kedinginan?" tanya Sasuke setelah melihat bibir Hinata yang sedikit bergetar.

"Hm," jawab Hinata dengan mengagukkan kepalanya. "Kamu 'kan yang membuatku menunggu di luar seperti ini," lanjut Hinata.

"Sini, biar aku hangatkan," ucap Sasuke sambil menarik Hinata ke dalam pelukannya.

Hinata membalas pelukan Sasuke. Aroma khas pemuda Uchiha itu begitu merasuk ke dalam hidungnya. Hinata sangat menyukai itu, karena baginya ini seperti aroma relaksasi yang bisa membuatnya merasa sangat nyaman.

Sebuah senyuman hadir di wajah tampan pemuda Uchiha itu. Dia merasa senang karena sepertinya Hinata menikmati pelukan yang diberikan olehnya. Dan tentu saja hal ini tidak disia-siakan oleh Sasuke. Dia memanfaatkan keadaan ini untuk lebih menikmati aroma lavender yang begitu menenangkan, yang menguar dari tubuh gadis yang kini dipeluknya.

"Hinata," bisik Sasuke.

"Hm?"

"Lain kali jangan menyanggul rambutmu seperti ini," ucap -perintah- Sasuke.

"Kamu tidak suka?"

"Suka."

"Lalu?"

"Maka dari itu jangan menyanggul rambutmu ketika bertemu dengan orang selain aku."

"Ke-kenapa?"

"Jangan banyak tanya. Lakukan saja sesuai yang aku katakan tadi."

Hinata hanya bisa geleng-geleng kepala, merasakan betapa egois dan angkuhnya pemuda yang sekarang mendiami hatinya ini. Walaupun begitu, terbesit rasa senang dalam hatinya. Karena itu berarti bahwa Sasuke memang sangat menyayanginya.

'Hanya aku yang bisa memandang dan menikmati ini,' batin Sasuke sambil tetap menenggelamkan wajahnya pada leher Hinata.

.

.

.

.

.

Sasuke sungguh sangat menikmati saat-saat bersama dengan Hinata seperti sekarang ini. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, ketika dia merasakan ada aura negatif di sekitarnya.

Benar saja, ketika dia memandang ke depan. Nampaklah Hyuuga Neji yang menatap tajam ke arah mereka. Walaupun malam, Sasuke tetap dapat melihat sorot mata Neji yang memancarkan rasa benci padanya.

"Ekhm," dehem Neji.

Hal itu langsung membuat Hinata melepaskan pelukannya pada Sasuke. Dan berbalik ke arah sumber suara –deheman- tersebut.

"Neji-nii," ucap Hinata.

"Hn. Ini sudah saatnya kalian masuk ke dalam. Semua sudah menunggu," ucap Neji.

"Iya, baik," ucap Hinata.

Hinata menoleh dan menatap Sasuke. Lagi-lagi mereka berbicara dalam bahasa mata. Sasuke mengerti dan mulai melangkahkan kedua kakinya. Tidak ketinggalan, dia menarik dan menggenggam tangan Hinata untuk berjalan bersamanya.

Tentu saja Hinata menyambutnya dengan senang hati. Senyum bahagia nampak jelas di wajah manisnya. Neji yang melihatnya pun hampir tidak percaya. Hinata bisa tersenyum dengan begitu indahnya malam ini.

"Ayo, Neji-nii," ajak Hinata sambil mengulurkan tangannya pada Neji.

"Hn."

Neji menerima uluran tangan Hinata dan menggenggamnya. Neji mengira Sasuke pasti akan berwajah kesal dan cemberut, saat Hinata mengajaknya untuk berjalan bersama mereka berdua. Tetapi Neji malah menemukan ekspresi lain di wajah pemuda yang menyebalkan itu -menurutnya-. Walaupun tipis, Neji dapat melihat Sasuke telah tersenyum kepadanya.

'Apa arti senyumannya itu?' batin Neji.

"Malam ini aku bahagia sekali. Bisa berjalan bersama dengan orang-orang yang aku sayangi," ucap Hinata.

Hinata memeluk lengan dua pemuda yang ada di samping kanan dan kirinya ini. Senyuman senantiasa menghiasi wajahnya. Hal ini telah membuat dua pemuda yang ada di sampingnya juga ikut tersenyum bersamanya.

Ketika sama-sama menatap Hinata, tanpa sengaja pandangan Sasuke dan Neji bertemu. Dan anehnya lagi, Sasuke tetap tersenyum pada Neji. Neji sedikit terperangah karena melihat itu. Neji langsung memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan dan juga senyuman Sasuke itu.

Akhirnya malam itu, pertemuan kedua keluarga besar itu berjalan dengan baik. Hinata terlihat sangat cantik pada malam itu. Selain penampilannya, Hinata terlihat sangat cantik karena senyuman tidak pernah lepas dari wajah manisnya. Hal itu membuat siapapun yang melihatnya pasti juga ikut merasa bahagia.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, acara pertunangan Sasuke dan Hinata diadakan di kediaman Hyuuga. Acara itu diselenggarkan tidak secara meriah. Hanya dihadiri oleh kerabat-kerabat dekat keluarga Uchiha dan Hyuuga.

Hal itu dikarenakan mengingat Sasuke dan Hinata yang masih menyandang status pelajar. Tentu saja Konoha Gakuen mempunyai aturan selama menjadi siswanya, siapa pun dilarang untuk menikah. Jadi acara pertunangan ini berjalan secara tertutup.

Semua pasang mata tertuju pada satu titik pada seorang gadis manis ber-iris lavender yang tengah menuruni tangga kediaman Hyuuga itu. Malam ini dia mengenakan mini dress berwarna putih yang membuatnya terlihat semakin imut dan cantik.

Bagian roknya sepanjang 20 cm di atas lutut dengan model balon yang bergelombang 2 tingkat. Tepat di bawah dadanya ada seutas pita berwarna biru muda yang membelitnya. Sedangkan di bagian bahunya tertutupi dengan lengan pendek berbentuk kupu-kupu.

Karena Hinata teringat dengan perkataan Sasuke yang melarangnya untuk menyanggul rambutnya. Maka malam ini rambut Hinata dibuat terurai dengan sedikit perubahan model. Yaitu rambutnya dibentuk keriting menggantung.

Untuk lebih membuatnya tampil menawan, Hinata memasang ornamen berbentuk bunga anggrek berwarna biru muda di rambutnya. Kaki Hinata dibalut dengan sepatu pesta berwarna senada dengan ornamen yang terpasang di rambutnya. Sempurna sudah penampilan Hinata di acara pertunangannya ini.

Tanpa menghabiskan waktu lebih lama lagi, acara pertunangan pun dimulai. Dengan berbagai penyambutan oleh wakil dari pihak kedua keluarga. Beberapa menit kemudian prosesi pertukaran cincin pun dilaksanakan.

Gemuruh tepuk tangan menandai bahwa Sasuke dan Hinata telah selesai saling menyematkan cincin. Senyum bahagia nampak jelas di wajah mereka berdua. Setelah itu para tamu memberi ucapan selamat kepada Sasuke dan Hinata. Gaara memilih urutan paling akhir yang memberi ucapan selamat pada mereka berdua.

"Selamat atas pertunanganmu, Hinata," ucap Gaara sambil menjabat tangan Hinata.

"Iya. Terima kasih, Gaara-kun," balas Hinata.

"Bolehkah aku memberikan pelukan selamat kepada gadis yang tercantik malam ini," goda Gaara.

Hinata sedikit terkejut dengan permintaan Gaara. Kalau dia sendiri sih tantu saja merasa tidak keberatan. Tetapi bagaimana dengan pemuda ber-iris onyx di sampingnya, yang kini telah resmi menjadi tunangannya?

Maka dari itu, Hinata menoleh dan menatap Sasuke. Seolah meminta ijin pada Sasuke melalui tatapan memelasnya. Sasuke terlihat memutar bola matanya sambil menghela nafas.

"Jangan lama-lama," ucap Sasuke.

Hinata tersenyum puas mendengarnya. Akhirnya Gaara dan Hinata saling berpelukan. Dada Sasuke kempas kempis melihat adegan pelukan itu.

"Apa kau benar-benar bahagia malam ini, Hinata?" bisik Gaara di telinga Hinata.

"Hm. Sangat bahagia," jawab Hinata dengan senyum terkembang di wajah manisnya.

"Kalau pemuda sombong itu menyakitimu. Jangan segan-segan untuk memberitahuku. Biar aku tonjok mukanya yang menyebalkan itu," desis Gaara.

"Heheheee... Baik, Bos," gurau Hinata.

"Ekhm...ekhm! Sepertinya ini sudah memasuki kategori la-ma," ucap Sasuke dengan menekankan kata yang terakhir.

Mendengar itu, Hinata melepaskan pelukannya pada Gaara. Sedangkan Gaara melempar deathglare gratisnya pada Sasuke. Sasuke hanya nyengir saja membalas tatapan tajam Gaara. Setelah itu, Gaara menjabat tangan Sasuke dan membisikkan sesuatu pada pemuda Uchiha itu

"Kau harus membuatnya bahagia. Jangan pernah membuatnya bersedih lagi. Atau aku akan merebutnya dari sisimu," ancam Gaara.

"Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi," sahut Sasuke lirih.

Gaara menjauhkan kepalanya dari Sasuke. Dan seolah memberi peringatan lagi pada Sasuke melalui tatapan matanya yang tajam itu. Hinata harap-harap cemas melihat tunangan dan sahabatnya saling melempar deathglare.

"Maaf karena tidak bisa menikmati pesta pertunanganmu ini, Hinata. Karena aku harus pergi sekarang. Ada urusan yang harus aku selesaikan," pamit Gaara setelah mengakhiri perang deathglare-nya dengan Sasuke.

"Iya, tidak apa-apa. Kamu datang saja aku sudah senang," balas Hinata.

"Hn."

Setelah itu, Gaara pergi meninggalkan mereka berdua. Hinata tersenyum melihat kepergian Gaara. Sedangkan Sasuke hanya menatap datar ke arah menghilangnya sosok Gaara di pesta pertunangannya itu.

.

.

.

.

.

Karena Sasuke dan Hinata sama-sama tidak menyukai tempat yang ramai. Alhasil, mereka berdua menyingkir dari tempat pesta ke teras belakang kediaman Hyuuga. Tempat itu menghadap langsung ke taman yang ada di belakang rumah Hinata itu.

"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Sasuke.

Sasuke terlihat sedang mengeluarkan sesuatu di balik kemejanya. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung. Kemudian dia melepaskan kalung tersebut dari lehernya.

"I-itu..." gumam Hinata.

"Hn. Aku tahu kalung ini sangat berarti untukmu. Maka dari itu, aku akan mengembalikannya padamu," ucap Sasuke sambil mengalungkan kalung itu di leher Hinata.

"Ta-tapi..."

"Katamu kalung ini adalah pemberian almarhum kakekmu. Beliau pasti menginginkanmu yang memakai kalung ini, bukannya orang lain."

"Tapi kau kan bukan orang lain, kau-..."

"Iya aku tahu. Dulu kau mengatakan bahwa kalung ini adalah kalung keberuntungan. Sekarang aku sudah mendapatkan bintang keberuntunganku. Jadi, aku sudah tidak memerlukan ini lagi."

"Ka-kamu itu..."

"Kalau kau tetap protes, aku akan membungkam bibirmu, Hinata." Sasuke mengerling jahil pada Hinata.

Blush

Walaupun sudah sering kali Hinata menerima kejahilan dan godaan Sasuke, tetapi tetap saja dia merasa malu. Alhasil, wajah Hinata merona merah, hampir menyerupai buah kesukaan Sasuke.

"Kalau ekspresi wajahmu seperti itu, aku tidak akan tahan untuk tidak memakanmu, Hinata," goda Sasuke.

Hinata sedikit terperangah mendengar perkataan Sasuke itu. Sasuke malah tersenyum melihat Hinata yang seperti itu. Namun sesaat kemudian, Hinata juga ikut tersenyum.

"Silahkan saja kalau kamu berani, Sasuke-sama."

Cup

Hinata mencium pipi kiri Sasuke. Pemuda Uchiha itu sedikit terkejut karena gerakan Hinata yang tiba-tiba dan berani tersebut. Hinata tersenyum melihat ekspresi Sasuke yang terkejut itu.

"Kau telah melempar kailnya. Aku akan menangkapnya dengan senang hati, Hinata-sama."

Pandangan mereka saling terkunci satu sama lain. Situasi dan perasaan mereka saat ini sangat mendukung untuk melakukan ritual yang sangat berarti bagi sepasang kekasih.

Sasuke berinisiatif memulainya dengan mencondongkan wajahnya pada Hinata. Lavender itu nampak terhipnotis dengan cahaya yang ada di dalam onyx tersebut. Akhirnya Hinata hanya dapat mengikuti alur yang diciptakan oleh Sasuke.

Ketika wajah Sasuke sudah semakin dekat dengannya, Hinata mulai memejamkan matanya. Dia mulai merasakan hembusan nafas Sasuke yang menerpa wajahnya. Sasuke juga mulai memejamkan matanya, saat jaraknya dengan bibir Hinata kurang beberapa cm lagi.

Dan ketika kedua bibir itu akan saling bersentuhan, muncullah hal yang tidak terduga sebelumnya.

.

.

.

.

.

"Ekhm!...ekhm!"

Seketika itu juga, Sasuke dan Hinata saling membuka kedua matanya. Hinata menjauhkan wajahnya dari Sasuke. Sedangkan Sasuke langsung melempar deathglare andalannya ke arah sumber suara tersebut.

"Acaranya akan segera berakhir. Kalian diminta untuk masuk ke dalam."

"Ba-baik, Neji-nii," jawab Hinata.

Sebelum pergi, Neji tersenyum kemenangan ke arah Sasuke. Pada saat itu ingin rasanya, Sasuke mengajak berkelahi calon kakak iparnya itu. Namun situasi dan kondisi sekarang ini, tidak mengijinkan Sasuke berbuat hal itu. Akhirnya, Sasuke hanya bisa menghela nafas dan meredam emosi yang ada di hatinya.

"Kapan sih, kakak kesayanganmu itu bisa benar-benar merestui hubungan kita," gerutu Sasuke sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.

Hinata tersenyum geli melihatnya. "Sabar. Lambat laun Neji-nii pasti akan menerimamu sebagai calon pendamping adiknya," ucap Hinata sambil mengelus-elus kepala Sasuke.

Sasuke yang sedang cemberut itu terlihat sangat manis di mata Hinata. Seperti anak anjing peliharaannya dulu waktu kecil. Sehingga tanpa sadar dia melakukan hal yang sama pada Sasuke seperti pada hewan peliharaannya.

"Sekarang kau sudah semakin berani ya kepadaku," ucap Sasuke.

Setelah mendengar itu, Hinata segera menjauhkan tangannya dari kepala Sasuke. Hinata juga tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Baginya Sasuke yang tengah cemberut itu terlihat sangat manis seperti anak anjing. Alhasil tanpa sadar tangannya menjulur begitu saja untuk mengelus-elus kepala Sasuke.

"Ma-maaf. Karena wajahmu tadi sangat mirip dengan Shiro-chan," balas Hinata.

"Shiro-chan? Siapa itu?" tanya Sasuke.

"Anak anjing peliharaanku dulu," jawab Hinata.

"Apa? Jadi kau menyamakanku dengan anak anjing!"

"Ha-habis kamu lucu sih."

"Sama sekali tidak lucu."

Sasuke kesal dengan apa yang baru saja Hinata katakan padanya. Dengan wajah masam, Sasuke melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam ruangan. Namun baru dua langkah, Hinata sudah menghentikannya.

"Ja-jangan masuk dengan wajah seperti itu, Sasuke-kun," cegah Hinata sambil menarik tangan kanan Sasuke. "Nanti kamu akan menjadi tunangan pria terjelek di dunia," goda Hinata.

"Biar saja. Kau sendiri kan penyebabnya," sahut Sasuke.

"Maaf," ucap Hinata dengan memperlihatkan mata besarnya. "Kalau begitu aku akan memperbaikinya."

Hinata menarik wajah Sasuke untuk mendekat kepadanya. Dan...

Cup

Akhirnya kini kedua bibir itu sudah saling menyatu. Mengalirkan segala perasaan cinta yang ada di dalam hati melalui sebuah ciuman yang tulus dan lembut.

Pada awalnya Sasuke sedikit terperangah akan apa yang dilakukan Hinata padanya. Namun setelah itu, dia juga mulai memejamkan matanya. Menikmati sensasi yang telah diberikan oleh Hinata.

Beberapa detik kemudian, Hinata melepaskan ciumannya pada Sasuke. Hinata terlihat menghirup oksigen dalam-dalam, kentara sekali kalau sekarang paru-parunya kehilangan banyak oksigen. Tak lupa semburat merah menghiasi wajah manisnya.

Sasuke tersenyum melihat ekspresi Hinata itu. Sepertinya sekarang Hinata suka bertindak secara tiba-tiba. Tetapi itu bukan masalah baginya, karena pada akhirnya dia juga merasa senang akan hal itu.

Hinata tersenyum bahagia saat melihat Sasuke tidak cemberut lagi seperti tadi. Malahan sekarang senyuman terpatri jelas di wajah tampan pemuda Uchiha yang ada di hadapannya ini.

"Akhirnya kamu tersenyum juga. Dengan begini kamu terlihat jauh lebih tampan," puji Hinata. "Nah, ayo sekarang kita masuk ke dalam. Semua pasti sudah menunggu," ajak Hinata sambil menarik tangan Sasuke untuk ikut berjalan bersamanya.

"Hinata," panggil Sasuke.

"Hm?" balas Hinata sambil menoleh ke samping.

"Lagi," ucap Sasuke sambil menunjuk-nunjuk bibirnya.

"A-apa?"

"Hinata," rayu Sasuke dengan mengerling jahil pada Hinata.

"..."

"Hinataa..."

"..."

"Hi-..."

"I-iya iya. Nanti setelah ini."

"Janji?"

"I-iya janji."

Alhasil, Sasuke mengeluarkan evil smile-nya. Sepertinya gadis Hyuuga tersebut tidak tahu dampak dari janjinya itu. Kali ini Sasuke pasti tidak akan pernah melepaskannya.

Semoga Tuhan melindungimu, Hinata.

Amin...

.

.

.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

.

Thanks to read

.

.

.

Balasan review untuk chapter 8 :

Mizuki Kana : Betul, sepertinya Sasu koq berubah jadi romantis gini. Dah tau sendiri kan apa jawabannya? Low dipikir-pikir, emangnya ada yang berani berbuat gitu ma Hinata selain Sasu? Ga ada 'kan? Tetapi memang semuanya tergantung Author sih, heheheee...

Sasuhina-caem : Emang bukan Gaara kan? Permohonanmu terkabul. Selamat...

Keira Miyako : Betul bgtz, pelakunya Sasu-pyon. Ni dah update lebih cepat dari biasanya. Ga pa2...

Lavender Hime Chan : Masa'? Meiru senang bangets. Pairingnya kan emang SH. Jadi pada akhirnya Hina tetap ma Sasu,

Hyou Hyouichiffer : Iya, Meiru juga suka. Di chapter ini Sasu emang Meiru buat OOC, heheheee... update chapter ini lebih cepat dari chapter sebelumnya.

Ayuzawa Shia : Hay... Iya, keluarga Hyuuga kan budaya tradisionalnya emang masih kental. Maaf kalau mengecewakanmu. Bukan Gaara tapi Sasu-pyon.

N : Iya benar bgtzzz... Mudah ketebak yaw...T,T

Animea Lover Ya-ha : Benar, emang Sasu. Ni dah update kilat. Romancenya udah banyak kan di ending chapter ini? Sedikit lebih panjang sih...

Miya-hime Nakashinki : Ga telat koq, kamu mau review Meiru sudah senang bangetzz. Jujur ya, kata-kata Sasu yang itu tiba2 ja muncul di kepala Meiru pas nulis chapter 11. Tidak direncanakan sebelumnya. Syukurlah low kamu suka. Ya, harapanmu terkabul. Ini sudah update.

Uchihyuu Nagisa : Iya, mereka kan emang dibuat berjodoh ma Author, heheee... Maaf, ini pun Meiru sudah berusaha sebaik mungkin untuk buat interaksi SH-nya. Gomen...T,T

Uchiha Flynn : Akhirnya MIO selesai juga di chapter 12. Meiru emang membuat hubungan mereka lebih resmi pada akhirnya. Hina aneh gitu kan karena dia kaget karena ada Sasu-pyon di rumahnya.

Blue Night-chan : Iya, Sasu-pyon. Memang mudah untuk ditebak yaw...

Hizuka Meyuki : Meiru emang sengaja membuat Sasu yang nyatain perasaannya di chapter 11 ini. Ini sudah Meiru update.

Haruno Aoi : Dah tw kan? Soalnya Hinata kan lagi berpikir, jadinya ga fokus dengan apa yang ada di sekitarnya.

And thanks to review

.

.

.

.

.

Akhirnyaaa... MIO selesai juga...*sujud syukur*

Meiru mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para reader dan reviewer yang telah setia mengikuti fic ini dari awal chapter sampai akhir chapter

Meiru juga minta maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini Meiru mengecewakan kalian

Semoga di chapter akhir MIO ini dapat menghibur bagi yang membacanya

Kritik dan saran sangat Meiru harapkan

Untuk pembuatan fic lainnya

Arigatou gozaimasu...^v^

Mohon reviewnya...

R

E

V

I

E

W

Arigatou